Kabupaten Sragen adalah kabupaten di wilayah metropolitan Solo Raya, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kotanya adalah kecamatan Sragen, sekitar 30 km sebelah Timur Laut Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di Utara, Kabupaten Ngawi di Timur, Kabupaten Karanganyar di Selatan, serta Kabupaten Boyolali di Barat. Penduduk kabupaten Sragen berjumlah 1.021.435 jiwa pada tahun 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kabupaten Sragen | |
|---|---|
| Transkripsi bahasa daerah | |
| • Hanacaraka | ꦯꦿꦒꦺꦤ꧀ |
| • Pegon | سراڬن |
| • Alfabet Jawa | Ṡragèn |
Julukan:
| |
| Motto: THE LAND OF JAVA MAN | |
![]() Peta | |
| Koordinat: 7°24′46″S 110°56′06″E / 7.41278°S 110.935°E / -7.41278; 110.935 | |
| Negara | |
| Provinsi | Jawa Tengah |
| Dasar hukum | UU No. 13/1950 |
| Hari jadi | 27 Mei 1746 |
| Ibu kota | Sragen |
| Jumlah satuan pemerintahan | Daftar
|
| Pemerintahan | |
| • Jenis | Pemerintah Daerah Kabupaten |
| • Bupati | Sigit Pamungkas |
| • Wakil Bupati | Suroto |
| • Sekretaris Daerah | Hargiyanto |
| • Ketua DPRD | Suparno |
| Luas | |
| • Total | 941,55 km2 (363,53 sq mi) |
| Populasi | |
| • Total | 1.021.435 |
| • Kepadatan | 1,100/km2 (2,800/sq mi) |
| Demografi | |
| • Agama | |
| • Bahasa | Indonesia, Jawa (dominan) |
| • IPM | tinggi [3] |
| Zona waktu | UTC+07:00 (WIB) |
| Kode pos | |
| Kode BPS | |
| Kode area telepon | 0271 |
| Kode ISO 3166 | ID-JT |
| Pelat kendaraan | AD xxxx **E/*N/*Y |
| Kode Kemendagri | 33.14 |
| APBD | Rp 2.403.010.000.000,- (2024)[4] |
| PAD | Rp 439.370.000.000,- (2024)[4] |
| DAU | Rp 1.071.083.438.000,- (2024)[5] |
| DAK | Rp 407.339.048.000,- (2024)[6] |
| Semboyan daerah | Sragen ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah) |
| Flora resmi | Salam |
| Fauna resmi | Branjangan |
| Situs web | www |
Kabupaten Sragen (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦯꦿꦒꦺꦤ꧀, Pegon: سراڬنcode: jv is deprecated translit. Ṡragèn) adalah kabupaten di wilayah metropolitan Solo Raya, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Ibu kotanya adalah kecamatan Sragen, sekitar 30 km sebelah Timur Laut Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di Utara, Kabupaten Ngawi di Timur, Kabupaten Karanganyar di Selatan, serta Kabupaten Boyolali di Barat. Penduduk kabupaten Sragen berjumlah 1.021.435 jiwa pada tahun 2024.[1][7]
Kabupaten ini dikenal dengan sebutan "Kabupaten Fosil" dan juga dikenal sebagai "Bumi Sukowati",[8] nama yang digunakan sejak masa kekuasaan Kerajaan (Kasunanan) Surakarta. Nama Sragen dipakai karena pusat pemerintahan berada di Sragen. Kawasan Sangiran merupakan tempat ditemukannya fosil manusia purba dan binatang purba.[butuh rujukan] Fosil-fosil tersebut kemudin menjadi koleksi Museum Fosil Sangiran.[9]
Secara geografis, Kabupaten Sragen terletak di 7°15' – 7°30' Lintang Selatan dan 110°45' – 111°10' Bujur Timur. Wilayahnya berada di lembah daerah aliran Sungai Bengawan Solo yang mengalir ke arah timur. Sebagian besar merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 70-480 meter di atas permukaan air laut. Sebelah utara berupa perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng. Sedangkan sebagian kecil wilayah selatan berupa perbukitan kaki Gunung Lawu.
Batas wilayah kabupaten Sragen adalah sebagai berikut:[10]
| Utara | Kabupaten Grobogan |
| Timur | Kabupaten Ngawi |
| Selatan | Kabupaten Karanganyar |
| Barat | Kabupaten Boyolali |
Hari Jadi Kabupaten Sragen[pranala nonaktif permanen] ditetapkan dengan Perda Nomor: 4 Tahun 1987, yaitu pada hari Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1746. tanggal dan waktu tersebut adalah dari hasil penelitian serta kajian pada fakta sejarah, ketika Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono yang ke- I menancapkan tonggak pertama melakukan perlawanan terhadap Belanda menuju bangsa yang berdaulat dengan membentuk suatu Pemerintahan lokal di Desa Pandak, Karangnongko masuk tlatah Sukowati sebelah timur.
Pangeran Mangkubumi adik dari Sunan Pakubuwono II di Mataram sangat membenci Kolonialis Belanda. Apalagi setelah Belanda banyak mengintervensi Mataram sebagai Pemerintahan yang berdaulat. Oleh karena itu dengan tekad yang menyala bangsawan muda tersebut lolos dari istana dan menyatakan perang dengan Belanda. Dalam sejarah peperangan tersebut, disebut dengan Perang Mangkubumen ( 1746–1757 ). Dalam perjalanan perangnya Pangeran Muda dengan pasukannya dari Keraton bergerak melewati Desa-desa Cemara, Tingkir, Wonosari, Karangsari, Ngerang, Butuh, Guyang. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Pandak, Karangnongko masuk tlatah Sukowati.
Di Desa ini Pangeran Mangkubumi membentuk Pemerintahan Pemberontak. Desa Pandak, Karangnongko di jadikan pusat Pemerintahan Projo Sukowati, dan dia meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati serta mengangkat pula beberapa pejabat pemerintahan.
Karena secara geografis terletak di tepi Jalan Lintas Tentara Kompeni Surakarta – Madiun, pusat Pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, maka kemudian sejak tahun 1746 dipindahkan ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara Desa Pandak Karangnongko.
Sejak itu Pangeran Sukowati memperluas daerah kekuasaannya meliputi Desa Krikilan, Pakis, Jati, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grompol, Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari dan beberapa desa Lain.
Dengan daerah kekuasaan serta pasukan yang semakin besar Pangeran Sukowati terus menerus melakukan perlawanaan kepada Kompeni Belanda bahu membahu dengan saudaranya Raden Mas Said, yang berakhir dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang terkenal dengan Perjanjian Palihan Negari, yaitu kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, di mana Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono ke-1 dan perjanjian Salatiga tahun 1757, di mana Raden Mas Said ditetapkan menjadi Mangkunegara I dengan mendapatkan separuh wilayah Kasunanan Surakarta.
Selanjutnya sejak tanggal 12 Oktober 1840 dengan Surat Keputusan Sunan Paku Buwono VII yaitu serat Angger – angger Gunung, daerah yang lokasinya strategis ditunjuk menjadi Pos Tundan, yaitu tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan Lalu Lintas Barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan, termasuk salah satunya adalah Pos Tundan Sragen.
Perkembangan selanjutnya sejak tanggal 5 juni 1847 oleh Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Residen Surakarta Baron de Geer ditambah kekuasaan yaitu melakukan tugas kepolisian dan karenanya disebut Kabupaten Gunung Pulisi Sragen. Kemudian berdasarkan Staatsblaad No 32 Tahun 1854, maka disetiap Kabupaten Gunung Pulisi dibentuk Pengadilan Kabupaten, di mana Bupati Pulisi menjadi Ketua dan dibantu oleh Kliwon, Panewu, Rangga dan Kaum.
Sejak tahun 1869, daerah Kabupaten Pulisi Sragen memiliki 4 ( empat ) Distrik, yaitu Distrik Sragen, Distrik Grompol, Distrik Sambungmacan dan Distrik Majenang.
Selanjutnya sejak Sunan Paku Buwono VIII dan seterusnya diadakan reformasi terus menerus dibidang Pemerintahan, di mana pada akhirnya Kabupaten Gunung Pulisi Sragen disempurnakan menjadi Kabupaten Pangreh Praja. Perubahan ini ditetapkan pada zaman Pemerintahan Paku Buwono X, Rijkblaad No. 23 Tahun 1918, di mana Kabupaten Pangreh Praja sebagai Daerah Otonom yang melaksanakan kekuasaan hukum dan Pemerintahan.
Dan Akhirnya memasuki Zaman Kemerdekaan Pemerintah Republik Indonesia, Kabupaten Pangreh Praja Sragen menjadi Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen.
| No | Foto | Bupati | Mulai Jabatan | Akhir Jabatan | Wakil Bupati |
|---|---|---|---|---|---|
| 18. | Sigit Pamungkas, S.IP, M.A. | 20 Februari 2025 | Petahana | Suroto |
Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Sragen dalam empat periode terakhir.
| Partai Politik | Jumlah Kursi dalam Periode | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 2009–2014[11] | 2014–2019[12] | 2019–2024[13] | 2024–2029[14] | ||
| PKB | 5 | ||||
| Gerindra | (baru) 1 | ||||
| PDI-P | 17 | ||||
| Golkar | 6 | ||||
| NasDem | (baru) 0 | ||||
| PKS | 4 | ||||
| Hanura | (baru) 0 | ||||
| PAN | 3 | ||||
| Demokrat | 7 | ||||
| PPP | 1 | ||||
| PPRN | (baru) 1 | ||||
| Jumlah Anggota | 45 | ||||
| Jumlah Partai | 9 | ||||
Kabupaten Sragen terdiri dari 20 kecamatan, 12 kelurahan, dan 196 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 981.416 jiwa dengan luas wilayah 941,54 km² dan sebaran penduduk 1.042 jiwa/km².[15][16]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Sragen, adalah sebagai berikut:
| Kode Kemendagri | Kecamatan | Jumlah Kelurahan | Jumlah Desa | Kodepos[17] | Status | Daftar Desa/Kelurahan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 33.14.13 | Gemolong
ꦒꦼꦩꦺꦴꦭꦺꦴꦁ (gĕmoloŋ) |
4 | 10 | 57274 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.14.18 | Gesi
ꦒꦼꦱꦶ (gĕsi) |
7 | 57262 | Desa | ||
| 33.14.06 | Gondang
ꦒꦺꦴꦤ꧀ꦝꦁ (gonḍaŋ) |
9 | 57254 | Desa | ||
| 33.14.20 | Jenar
ꦗꦼꦤꦂ (jĕnar) |
7 | 57256 | Desa | ||
| 33.14.01 | Kalijambe
ꦏꦭꦶꦗꦩ꧀ꦧꦺ (kalijambé) |
14 | 57275 | Desa | ||
| 33.14.09 | Karangmalang
ꦏꦫꦁꦩꦭꦁ (karaŋmalaŋ) |
2 | 8 | 57291 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.14.04 | Kedawung
ꦏꦼꦢꦮꦸꦁ (kedawuŋ) |
10 | 57292 | Desa | ||
| 33.14.03 | Masaran
ꦩꦱꦂꦫꦤ꧀ (masaran) |
13 | 57282 | Desa | ||
| 33.14.14 | Miri
ꦩꦶꦫꦶ (miri) |
10 | 57276 | Desa | ||
| 33.14.16 | Mondokan
ꦩꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦴꦏ꧀ꦏꦤ꧀ (monḍokan) |
9 | 57271 | Desa | ||
| 33.14.08 | Ngrampal
ꦔꦿꦩ꧀ꦥꦭ꧀ (ŋrampal) |
8 | 57252 | Desa | ||
| 33.14.02 | Plupuh
ꦥ꧀ꦭꦸꦥꦸꦃ (plupuh) |
16 | 57283 | Desa | ||
| 33.14.05 | Sambirejo
ꦱꦩ꧀ꦧꦶꦉꦗ (sambirĕjå) |
9 | 57293 | Desa | ||
| 33.14.07 | Sambungmacanꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁꦩꦕꦤ꧀
(sambuŋmacan) |
9 | 57253 | Desa | ||
| 33.14.11 | Sidoharjo
ꦱꦶꦢꦲꦂꦗ (sidåhårjå) |
12 | 57281 | Desa | ||
| 33.14.10 | Sragen
ꦱꦿꦒꦺꦤ꧀ (sragèn) |
6 | 2 | 57211-57218 | Desa | |
| Kelurahan | ||||||
| 33.14.17 | Sukodono
ꦱꦸꦏꦢꦤ (sukådånå) |
9 | 57263 | Desa | ||
| 33.14.15 | Sumberlawang
ꦱꦸꦩ꧀ꦧꦼꦂꦭꦮꦁ (sumbĕrlawaŋ) |
11 | 57272 | Desa | ||
| 33.14.19 | Tangen
ꦠꦔꦺꦤ꧀ (tangèn) |
7 | 57261 | Desa | ||
| 33.14.12 | Tanon
ꦠꦤꦺꦴꦤ꧀ (tanon) |
16 | 57277 | Desa | ||
| TOTAL | 12 | 196 |
Sragen terletak di poros Jalan Nasional
. Kabupaten ini merupakan gerbang utama jalur tengah Provinsi Jawa Tengah, berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.
Selain itu, Sragen juga dilintasi Jalan Tol Trans Jawa Ruas Solo–Ngawi dan memiliki 2 Gerbang Tol, yakni Gerbang Tol Sragen Barat yang berada di Pungkruk dan Gerbang Tol Sragen Timur yang berada di Sambungmacan. Gerbang Tol Sragen Timur juga melayani arus kendaraan dari dan menuju Ngawi bagian barat.
Sragen memiliki terminal tipe B, yakni Terminal Pilangsari. Terminal ini melayani bus antarkota menuju seluruh wilayah Pulau Jawa hingga Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat. Selain itu juga terdapat Terminal Tipe C Gemolong yang melayani Trans Jateng koridor S1 Tirtonadi–Sangiran–Sumberlawang dan bus antarkota, letaknya tidak begitu jauh dari Stasiun Salem.
Selain itu Sragen juga memiliki transportasi antar desa yang berupa bus kecil/minibus dan angkot, yang menghubungkan desa-desa di pelosok Sragen.

Sragen dilintasi jalur kereta api Solo Balapan–Wonokromo di lintas selatan Jawa dan jalur kereta api Semarang–Vorstenlanden cabang Gundih–Solo Balapan di lintas utara Jawa serta memiliki 6 stasiun aktif, yakni Masaran, Sragen, Kebonromo, Kedungbanteng, Sumberlawang, dan Salem. Namun hanya 2 stasiun yang melayani naik turun penumpang, yaitu Stasiun Sragen yang melayani kereta api antarkota serta kereta api Bandara Adi Soemarmo dan Stasiun Salem di Kecamatan Gemolong yang hanya melayani layanan kereta api aglomerasi.
Museum Fosil Sangiran berlokasi di Situs Purbakala Sangiran yang menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.[18] Di dalam museum ini terdapat fosil manusia purba.[19] Letak Museum Fosil Sangiran sebagian dalam wilayah di Kecamatan Kalijambe dan Kecamatan Plupuh dalam wilayah Kabupaten Srage, dan sebagian dalam wilayah Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.[20] Contoh dari fosil purbakala di Museum Sangiran adalah rahang dari Homo erectus, salah satu manusia jawa purba yang berada di Pulau Jawa.
Sragen memiliki beberapa makanan khas, yaitu: