Kuomintang, atau Partai Nasionalis Tiongkok adalah partai politik tertua dalam sejarah modern Tiongkok. Partai ini didirikan oleh Sun Yat-sen, dengan tujuan revolusi melawan Kekaisaran Qing dan mendirikan Republik Tiongkok demi adanya pembaruan di Tiongkok. Saat ini, partai ini menjadi oposisi dengan jumlah anggota parlemen terbanyak di Taiwan, bahkan jumlahnya melebihi anggota parlemen dari partai pengusung pemerintah DPP.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kuomintang 中國國民黨code: zh is deprecated Zhōngguó Guómíndǎngcode: zh is deprecated Chungkuo Kuomintangcode: zh is deprecated | |
|---|---|
| Singkatan | KMT |
| Pemimpin | Sun Yat-sen (Premier / Pemimpin Abadi Kuomintang) |
| Direktur Jenderal | Chiang Kai-shek (Direktur Jenderal Abadi Kuomintang)[1] |
| Ketua | Eric Chu |
| Sekretaris Jenderal | Justin Huang |
| Dibentuk |
|
| Didahului oleh |
|
| Kantor pusat | No. 232–234, Sec. 2, Bade Rd., Distrik Zhongshan, Kota Taipei 104, Taiwan[2] |
| Surat kabar | Berita Harian Pusat |
| Wadah pemikir | National Policy Foundation |
| Sayap pemuda | Liga Pemuda Kuomintang |
| Sayap Pelajar | Institut Praktik Revolusioner |
| Sayap Militer | Tentara Revolusioner Nasional (1925–1947) |
| Sayap Paramiliter | Kelompok Baju Biru (1932–1938) |
| Keanggotaan (2020) | |
| Ideologi | |
| Posisi politik |
|
| Afiliasi nasional | Koalisi Pan-Biru |
| Afiliasi regional | Persatuan Demokrat Asia Pasifik |
| Afiliasi internasional | |
| Warna | Biru |
| Himne | "Tiga Prinsip Rakyat" |
| Yuan Legislatif | 52 / 113 |
| Wali Kotamadya | 4 / 6 |
| Hakim/wali kota | 10 / 16 |
| Anggota dewan | 367 / 910 |
| Wali Kotapraja/Kota | 83 / 204 |
| Bendera | |
| Situs web | |
| kmt.org.tw | |
^ A: Pada saat ini, posisi politik arus utama Kuomintang adalah kanan tengah, tetapi juga ada anggota yang berposisi sayap kanan.[8][9][10] | |
| Kuomintang | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nama Tionghoa | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 中國國民黨code: zh is deprecated | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 中国国民党code: zh is deprecated | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Makna harfiah: | Partai "Nasional" Tiongkok | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Singkatan | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 國民黨code: zh is deprecated | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 国民党code: zh is deprecated | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Makna literal: | Partai Nasional | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama Manchu | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Manchu: | ᠵᡠᠩᡬᠣ ᡳ ᡬᠣᠮᡳᠨᡩᠠᠩ | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama Mongolia | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Mongolia: | Дундадын (Хятадын) Гоминдан (Хувьсгалт Нам) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama Uighur | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Uighur: | جۇڭگو گومىنداڭ | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama Zhuang | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Zhuang: | Cunghgoz Gozminzdangj | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nama Tibet | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tibet: | ཀྲུང་གོའི་གོ་མིན་ཏངcode: bo is deprecated | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| - Wylie: | krung go'i go min tang | ||||||||||||||||||||||||||||||||||

Kuomintang, atau Partai Nasionalis Tiongkok (disingkat KMT) (aksara Tionghoa tradisional: 中國國民黨; Hanyu Pinyin: Zhōngguó Guómíndǎng) adalah partai politik tertua dalam sejarah modern Tiongkok. Partai ini didirikan oleh Sun Yat-sen, dengan tujuan revolusi melawan Kekaisaran Qing dan mendirikan Republik Tiongkok demi adanya pembaruan di Tiongkok. Saat ini, partai ini menjadi oposisi dengan jumlah anggota parlemen terbanyak di Taiwan, bahkan jumlahnya melebihi anggota parlemen dari partai pengusung pemerintah DPP.
Kuomintang dapat ditelusuri dari akar aktivitas revolusioner Tiongkok pada masa akhir Dinasti Qing. Sun Yat-sen, seorang proponen nasionalisme Tiongkok dan demokrasi yang mendirikan Xingzhonghui di Honolulu, Republik Hawaii pada 24 November 1894.[11] Pada 20 Agustus 1905, Xingzhonghui bersama kelompok anti-monarki lain di Tokyo, Kekaisaran Jepang bergabung untuk mendirikan Tongmenghui, sebuah koalisi dengan tujuan untuk menggulingkan Dinasti Qing dan mendirikan sebuah republik di Tiongkok.
Tongmenghui mendukung Revolusi Xinhai 1911 dan pendirian Republik Tiongkok pada 1 Januari 1912. Walaupun Sun dan Tongmenghui kerap digambarkan sebagai penyelenggara utama revolusi tersebut, pandangan ini dibantah oleh sejarawan yang berargumen bahwa Revolusi Xinhai terjadi tanpa pimpinan pusat dan Sun hanya menerima posisi presiden di pemerintahan provisioner di republik Tiongkok baru ini.[12][13] Namun, Sun tidak memiliki kekuatan militer dan ia harus menyerahkan posisinya kepada Yuan Shikai, yang mengatur turun takhta bagi Puyi, kaisar terakhir, pada 12 Februari.
Pada 25 Agustus 1912, Tongmenghui dan lima partai kecil lainnya bergabung untuk membentuk Partai Nasionalis di Aula Persekutuan Huguang di Beijing untuk mengikuti pemilu.[14] Sun dipilih sebagai ketua umum dan Huang Xing menjadi wakil ketua umum. Anggota terkemuka lainnya selain Sun dan Huang adalah Song Jiaoren, tokoh nomor tiga di partai. Song dapat memobilisasi dukungan dari kalangan bangsawan dan pedagang untuk mengadvokasi pemerintahan demokrasi parlementer konstitusional. Mereka melawan politikus pendukung monarki konstitusional dan ingin mengendalikan kekuatan presiden. Pada pemilu yang diselenggarakan pada Desember 1912, Partai Nasionalis memenangkan mayoritas kursi di Dewan Nasional.
KMT memiliki sayap kiri dan kanannya, kaum kiri menjadi lebih radikal dalam kebijakan pro-Sovietnya, tetapi kedua sayap dengan kata lain pedagang yang dipersekusi, menuduh mereka karena menjadi kontrarevolusioner dan reaksioner. Sayap kanan di bawah Chiang Kai-shek menang, dan melanjutkan kebijakan radikalnya terhadap pedagang swasta dan industrialis, sewaktu meninggalkan komunismenya.[15]
Salah satu dari Tiga Prinsip Rakyat-nya KMT, Mínshēng, didefinisikan sebagai sosialisme oleh Dr. Sun Yat-sen. Beliau menafsirkan prinsip ujarannya ini "sosialisme ini dan komunisme ini". Konsepnya juga dipahami sebagai kesejahteraan sosial. Sun memahaminya sebagai ekonomi industri dan kesetaraan kepemilikan lahan bagi kaum petani Tiongkok. Di sini ia dipengaruhi oleh pemikir Amerika Henry George (lihat Georgisme) dan pemikir Jerman Karl Marx; pajak bumi dan bangunan adalah warisan darinya. Ia membagi mata pencaharian menjadi empat bidang: makanan, pakaian, perumahan, dan transportasi; dan merencanakan bagaimana pemerintahan (Tiongkok) ideal dapat mengurusi hal ini untuk rakyatnya.[15]
Kepemimpinan Kuomintang berganti nama jabatan dari Perdana Menteri pada zaman Sun Yat-sen, Presiden pada zaman Chiang Kai-shek tahun 1938 dan akhirnya Ketua Partai pada zaman Chiang Ching-kuo. Untuk pertama kalinya, partai yang hampir berumur 100 tahun ini menyelenggarakan pemilihan langsung Ketua Partai pada tanggal 16 Juli 2005 dengan 2 kandidat Ma Ying-jeou dan Wang Jin-pyng. Ma kemudian memenangkan pemilihan ini dengan 70% suara pemilih dan akan memimpin KMT untuk masa jabatan 4 tahun. Ketua Partai dibatasi masa jabatannya maksimum 2 kali masa jabatan.
Setelah Ma menerima jabatan ketua partai, ketua partai sebelumnya Lien Chan diangkat menjadi Ketua Kehormatan Kuomintang.
Kuomintang Indonesia saat ini dipimpin oleh Chandra Wirawan (Sun Kwang Seng), bermukim di Sunter, Jakarta Utara. Chandra Wirawan merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia langsung dari Sun Yat Sen, yang berimigrasi ke indonesia di awal tahun 1920-an.
Kuomintang Indonesia baru aktif membuka cabang sejak tahun 2008, untuk saling menghubungkan keturunan Tionghoa yang berimigrasi ke Indonesia sejak Partai Komunis menguasai Tiongkok daratan.

Persatuan Tionghoa Malaysia (MCA) pada awalnya mendukung pihak Chiang Kai-shek dan kebanyakan terdiri dari anggota Kuomintang Malaysia. Mereka menawarkan partai alternatif untuk Tionghoa-Malaysia dan melawan kehadiran Partai Komunis Malaya yang lebih cenderung mendukung Partai Komunis Tiongkok. Mereka mendukung Kuomintang melalui saluran dana supaya pemerintah Kuomintang di Taiwan dapat membebaskan Tiongkok Daratan dari pemerintahan komunis.[16]
Kuomintang memberikan bantuan kepada Việt Nam Quốc Dân Đảng (VNQDD) yang jika diterjemahkan ke bahasa Tionghoa secara harafiah disebut sebagai Kuomintang Vietnam.[17] Quoc Dan Dang membentuk partai mereka berdasarkan model Kuomintang Tiongkok dan mereka juga pro-Tiongkok.[18][19] Kuomintang juga banyak membantu VNQDD, seperti mendirikan kantor VNQDD di Guangzhou dan Yunnan untuk melawan penjajahan Prancis di Indochina dan juga melawan Partai Komunis Vietnam besutan Ho Chi Minh. VNQDD merupakan partai nasionalis pertama di Vietnam sebelum kehadiran komunisme. Kuomintang membantu VNQDD melalui bantuan dana dan pelatihan militer.
Yihewani (Ikhwan al-Muslimun) adalah salah satu tarekat Islam di Tiongkok yang mendukung Kuomintang secara politik. Tarekat Islam lainnya seperti Xidaotang juga didukung oleh Kuomintang. Yihewani menjadi organisasi nasionalis dan mereka mendukung Kuomintang. Ulama Yihewani seperti Hu Songshan menganjurkan umat Islam Tiongkok untuk berdoa untuk pemerintahan pusat Kuomintang, memberi hormat kepada bendera Kuomintang selama sholat, dan mendengarkan ceramah nasionalis.
The problems for the centre-right KMT in retaining the presidency over the centre-left DPP...
Furthermore, the studies also suggest that the DPP, as a centre-left party opposed to the centre-right KMT, has been the leading force in addressing Taiwan's various social justice issues.
Instead of reshaping its priorities to fit the expectations of a changing society, the KMT (at least for the moment) seems to be doubling down on its self-marginalizing approach. The new party chair is Hung Hsiu-chu, the erstwhile presidential candidate whose far-right views made it necessary to replace her.
These supporters, called 'Han maniacs,' elevated Han to presidential nominee. Ultimately, though, they were a minority, possibly some twenty percent of the overall electorate, and Han's political position, friendly to Beijing and inclined to right-wing populism, started to erode his support.
Instead of reshaping its priorities to fit the expectations of a changing society, the KMT (at least for the moment) seems to be doubling down on its self-marginalizing approach. The new party chair is Hung Hsiu-chu, the erstwhile presidential candidate whose far-right views made it necessary to replace her.
These supporters, called 'Han maniacs,' elevated Han to presidential nominee. Ultimately, though, they were a minority, possibly some twenty percent of the overall electorate, and Han's political position, friendly to Beijing and inclined to right-wing populism, started to erode his support.