Bahasa Hakka atau di Indonesia umumnya dipanggil Khek adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka, yakni suku Han yang tersebar di kawasan pegunungan provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Republik Rakyat Tiongkok. Masing-masing daerah ini juga memiliki khas dialek Hakka yang agak berbeda tergantung provinsi dan juga bagian mana mereka tinggal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Hakka (Hanzi: 客家話; Pha̍k-fa-sṳ: Hak-kâ-fa, Pinyin: Kèjiāhuà; secara harfiah berarti "bahasa keluarga tamu")[6] atau di Indonesia umumnya dipanggil Khek adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka,[7] yakni suku Han yang tersebar di kawasan pegunungan provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Republik Rakyat Tiongkok. Masing-masing daerah ini juga memiliki khas dialek Hakka yang agak berbeda tergantung provinsi dan juga bagian mana mereka tinggal.
Menurut ahli bahasa Hakka di awal abad ke-20 Donald Maciver, Bahasa Hakka di satu sisi masih berkerabat dengan Bahasa Kanton dan di satu sisi dengan Bahasa Mandarin.[6] Bahasa Hakka diwariskan dari bahasa rakyat Tiongkok Utara yang mengungsi ke selatan Tiongkok sejak periode Dinasti Song dan Dinasti Yuan.[6] Bahasa ini mendapatkan namanya dari penyebutan kelompok penuturnya oleh orang Kanton di Provinsi Guangdong "Hakka".[6] Di daerah lain seperti di Jiangxi atau Fujian, umummnya tidak mengenal istilah Hakka, melainkan "Thú-fa" yang berarti "Bahasa Lokal" untuk membedakan mereka dengan penutur bahasa lain.[6] Meixian, dahulu dinamakan Jiayingzhou (Hakka: Ka-yin-chu) adalah konsentrasi Hakka terbesar di Guangdong, maka bahasa Hakka standar adalah Bahasa Hakka dialek Meixian.[6]
Terdapat dua letupan dan gesekan dalam Bahasa Hakka: tipis /p t ts k/ dan berhembus /pʰ tʰ tsʰ kʰ/.
| Bibir | Gigi | Langit-langit | Velar | Celah-suara | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sengauan | /m/ ⟨m⟩ | /n/ ⟨n⟩ | [ɲ] ⟨ng(i)⟩ ~ /ŋ/ ⟨ng⟩* | |||
| Letupan | tipis | /p/ ⟨b⟩ | /t/ ⟨d⟩ | /k/ ⟨g⟩ | (ʔ) | |
| berhembus | /pʰ/ ⟨p⟩ | /tʰ/ ⟨t⟩ | /kʰ/ ⟨k⟩ | |||
| Gesekan | tipis | /ts/ ⟨z⟩ ~ [tɕ] ⟨j(i)⟩* | ||||
| berhembus | /tsʰ/ ⟨c⟩ ~ [tɕʰ] ⟨q(i)⟩* | |||||
| Geseran | /f/ ⟨f⟩ | /s/ ⟨s⟩ ~ [ɕ] ⟨x(i)⟩* | /h/ ⟨h⟩ | |||
| Hampiran | /ʋ/ ⟨v⟩ | /l/ ⟨l⟩ | /j/ ⟨y⟩ | |||
| Nomor nada | Nama nada | Hanzi | Huruf nada | Nomor | Bahasa Indonesia |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | yin ping | 陰平 | ˦ | 44 | tinggi |
| 2 | yang ping | 陽平 | ˩ | 11 | rendah |
| 3 | shang | 上 | ˧˩ | 31 | rendah-jatuh-naik |
| 4 | qu | 去 | ˥˧ | 53 | tinggi turun |
| 5 | yin ru | 陰入 | ˩ʔ | 1 | rendah plosif |
| 6 | yang ru | 陽入 | ˥ʔ | 5 | tinggi plosif |
Penutur bahasa Hakka di Indonesia terbanyak terdapat di Kalimantan Barat, Bangka-Belitung, Pulau Jawa dan berbagai daerah lainnya. Terdapat dua dialek Bahasa Hakka yang besar jumlah penuturnya di Indonesia yakni Dialek Meixian dan Dialek Lufeng.[8] Penutur Dialek Meixian tersebar di Jakarta,[8] Aceh, Belitung,[9] Pontianak,[9] sedangkan penutur Dialek Lufeng dapat ditemukan di Pulau Bangka,[9] dan sebagian besar Kalimantan Barat.[8]
Penelitian tentang Bahasa Hakka awalnya banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti dari Belanda, terutama di Hindia Belanda di mana banyak orang Hakka tinggal.[10] Het Loeh-Foeng-Dialect disusun pada tahun 1897 oleh Simon Hartwich Schaank (1861-1935), seorang pegawai Belanda yang bertugas di Kalimantan Barat. Buku ini berisi tentang Bahasa Hakka yang Dialek Lufeng (Liuk-fung) asal Provinsi Guangdong yang dituturkan orang Hakka di Kalimantan Barat.[10] Hakka-woordenboek (tahun 1912) adalah kamus Hakka-Belanda yang ditulis oleh pegawai sipil Peter Adrian van de Stadt (1876-1940) berisi tentang Bahasa Hakka yang dituturkan di Bangka Belitung.[11] Kamus tersebut ia tulis untuk tujuan praktis yang hanya berfokus pada bahasa lisan.