Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau disingkat dengan Munasprok adalah gedung yang dibangun sebagai monumen peristiwa proses perumusan naskah proklamasi kemerdekaan di Indonesia. Lahan yang ditempati oleh Museum Perumusan Naskah Proklamasi seluas 3.914 m2 dengan bangunan seluas 1.138 m2. Bangunan yag dijadikan lokasi pendirian Museum Perumusan Naskah Proklamasi telah dibangun sejak tahun 1920. Gaya arsitekutrnya adalah arsitektur Eropa. Di dalam gedung tersebut terdapat ruangan, mebel kuno, dan aksesoris yang menggambarkan suasana serupa peristiwa perumusan naskah proklamasi. Saat ini, Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada dalam naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Koordinat: 6°12′1.296″S 106°49′52.140″E / 6.20036000°S 106.83115000°E / -6.20036000; 106.83115000Lihat peta diperbesar Koordinat: 6°12′1.296″S 106°49′52.140″E / 6.20036000°S 106.83115000°E / -6.20036000; 106.83115000Lihat peta diperkecil | |
| Didirikan | 1992 |
|---|---|
| Lokasi | Jl. Imam Bonjol No.1, RT.9/RW.4, Menteng, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat.[1] |
| Jenis | Museum |
| Situs web | https://museum.kemdikbud.go.id/museum/profile/museum+perumusan+naskah+proklamasi |

Museum Perumusan Naskah Proklamasi atau disingkat dengan Munasprok adalah gedung yang dibangun sebagai monumen peristiwa proses perumusan naskah proklamasi kemerdekaan di Indonesia.[2] Lahan yang ditempati oleh Museum Perumusan Naskah Proklamasi seluas 3.914 m2 dengan bangunan seluas 1.138 m2.[3] Bangunan yag dijadikan lokasi pendirian Museum Perumusan Naskah Proklamasi telah dibangun sejak tahun 1920.[4] Gaya arsitekutrnya adalah arsitektur Eropa.[5] Di dalam gedung tersebut terdapat ruangan, mebel kuno, dan aksesoris yang menggambarkan suasana serupa peristiwa perumusan naskah proklamasi.[6] Saat ini, Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada dalam naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.[7]

Sebelum diaklamasi sebagai museum, gedung Munasprok pertama kali dikelola oleh perusahaan asuransi bernama PT Asuransi Jiwasraya.[2] Selanjutnya gedung itu diambil alih oleh British Consul General pada Perang Pasifik hingga masuk Jepang mengambil alih.[2] Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat.[5] Setelah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945.[5] Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris.[6] Setelah masa peperangan berakhir, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan tahun 1981.[6] Selanjutnya gedung ini diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 Desember 1981. Tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.[5] Karena makna historis yang dikandung museum tersebut, Menteri Penedidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto memerintahkan DIrektorat Permuseuman untuk menjadikan gedung tersebut menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamas dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0476/1992 tanggal 24 November 1992.[5]
Ruang ini merupakan tempat peristiwa bersejarah yang pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi. Ruangan tersebut adalah ruang tamu yang juga digunakan sebagai kantor oleh Maeda.[8] Selain itu, di ruang ini juga digambarkan suasana menjelang proklamasi seperti pembentukan PPKI dan BPUPKI, bom Hiroshima-Nagasaki dan peristiwa lainnya.[6]
Dalam ruang ini Soekarno-Hatta mengadakan rapat bersama di meja bundar dengan pengurus lain seperti Soediro dan B.M Diah pada pukul 3 subuh.[8] Di ruang ini juga lah Soekarno membuat draft pertama naskah proklamasi dengan judul “Proklamasi” yang ditulis dengan tangannya sendiri.[8] Selain itu, dalam ruangan ini juga tergambarkan suasana saat Soekarno mengumandangkan proklamasi di Jl. Pegangsaan timur.[6]
Di ruang ketiga terdapat piano di bawah tangga yang merupakan tempat di mana Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi.[8] Di ruangan ini pulalah Soekarno memutuskan untuk membaca naskah proklamasi di halaman depan rumahnya.[8] Selain itu, di ruangan yang ke-3 terdapat gambar dengan suasana pergolakan saat mempertahankan kemerdekaan.[6]
Ruang ke-4 adalah ruang pameran benda-benda yang dikenakan para tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi.[8] Benda-benda tersebut meliputi jam tangan, pulpen hingga baju-baju.[6] Di samping itu, ruang keempat adalah ruangan di mana Sayuti Melik ditemani dengan B.M. Diah mengetikkan naskah proklamasi setelah melakukan proses pengeditan secara bermusyawarah.[8] Mesin tik untuk mengetik naskah tersebut dipamerkan di sini.[9]

Tarif masuk museum adalah sebesar Rp3.000 (untuk anak), Rp5.000 (dewasa) dan Rp25 ribu (warga negara asing anak dan dewasa).[11]