Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hewan

Hewan adalah organisme eukariota multiseluler yang tergabung dalam kerajaan biologi Animalia. Dengan sedikit pengecualian, hewan mengonsumsi bahan organik, menghirup oksigen, memiliki miosit dan mampu bergerak, dapat bereproduksi secara seksual, dan tumbuh dari bola sel berongga, blastula, selama perkembangan embrio. Hewan membentuk sebuah klade, yang berarti mereka berevolusi dari satu nenek moyang bersama. Lebih dari 1,5 jutaspesies hewan yang masih hidup telah dideskripsikan, di mana sekitar 1,05 juta di antaranya adalah serangga, lebih dari 85.000 adalah moluska, dan sekitar 65.000 adalah vertebrata. Diperkirakan terdapat sebanyak 7,77 juta spesies hewan di Bumi. Panjang tubuh hewan berkisar dari 85 μm (0,0033 in) hingga 336 m (1.102 ft). Mereka memiliki ekologi dan interaksi yang kompleks satu sama lain dan dengan lingkungannya, membentuk jaring-jaring makanan yang rumit. Studi ilmiah tentang hewan dikenal sebagai zoologi, dan studi tentang perilaku hewan dikenal sebagai etologi.Kerajaan hewan dibagi menjadi lima klade utama, yaitu Porifera, Ctenophora, Placozoa, Cnidaria, dan Bilateria. Sebagian besar spesies hewan yang masih hidup termasuk dalam klade Bilateria, sebuah klade yang sangat proliferatif yang anggota-anggotanya memiliki simetri bilateral dan rancangan tubuh yang secara signifikan mengalami sefalisasi, dan sebagian besar bilaterian termasuk dalam dua klade besar: protostoma, yang mencakup organisme seperti arthropoda, moluska, cacing pipih, annelida, dan nematoda; serta deuterostoma, yang mencakup echinodermata, hemichordata, dan chordata, yang mana kelompok terakhir ini mencakup vertebrata. Filum basal yang jauh lebih kecil, Xenacoelomorpha, memiliki posisi yang belum pasti di dalam Bilateria.

kerajaan dari organisme eukariota multiseluler
Diperbarui 21 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hewan

Hewan
Rentang waktu: Kriogenium – sekarang, 665–0 Ma
Fa.
Proterozoikum
Arkaikum
Had.
Spons
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Domain: Eukaryota
Klad: Podiata
Klad: Amorphea
Klad: Obazoa
Klad: Opisthokonta
Klad: Holozoa
Klad: Filozoa
Klad: Choanozoa
Kerajaan: Animalia
Linnaeus, 1758
Kelompok utama
  • Bilateria (~30 filum)
  • Cnidaria
  • Ctenophora
  • Placozoa
  • Porifera
Sinonim
  • Metazoa Haeckel, 1874[1]
  • Choanoblastaea Nielsen, 2008[2]
  • Gastrobionta Rothm., 1948[3]
  • Zooaea Barkley, 1939[3]
  • Euanimalia Barkley, 1939[3]
Artikel takson sembarang

Hewan adalah organisme eukariota multiseluler yang tergabung dalam kerajaan biologi Animalia (/ˌænɪˈmeɪliə/[4]). Dengan sedikit pengecualian, hewan mengonsumsi bahan organik, menghirup oksigen, memiliki miosit dan mampu bergerak, dapat bereproduksi secara seksual, dan tumbuh dari bola sel berongga, blastula, selama perkembangan embrio. Hewan membentuk sebuah klade, yang berarti mereka berevolusi dari satu nenek moyang bersama. Lebih dari 1,5 jutaspesies hewan yang masih hidup telah dideskripsikan, di mana sekitar 1,05 juta di antaranya adalah serangga, lebih dari 85.000 adalah moluska, dan sekitar 65.000 adalah vertebrata. Diperkirakan terdapat sebanyak 7,77 juta spesies hewan di Bumi. Panjang tubuh hewan berkisar dari 85 μm (0,0033 in) hingga 336 m (1.102 ft). Mereka memiliki ekologi dan interaksi yang kompleks satu sama lain dan dengan lingkungannya, membentuk jaring-jaring makanan yang rumit. Studi ilmiah tentang hewan dikenal sebagai zoologi, dan studi tentang perilaku hewan dikenal sebagai etologi.Kerajaan hewan dibagi menjadi lima klade utama, yaitu Porifera, Ctenophora, Placozoa, Cnidaria, dan Bilateria. Sebagian besar spesies hewan yang masih hidup termasuk dalam klade Bilateria, sebuah klade yang sangat proliferatif yang anggota-anggotanya memiliki simetri bilateral dan rancangan tubuh yang secara signifikan mengalami sefalisasi, dan sebagian besar bilaterian termasuk dalam dua klade besar: protostoma, yang mencakup organisme seperti arthropoda, moluska, cacing pipih, annelida, dan nematoda; serta deuterostoma, yang mencakup echinodermata, hemichordata, dan chordata, yang mana kelompok terakhir ini mencakup vertebrata. Filum basal yang jauh lebih kecil, Xenacoelomorpha, memiliki posisi yang belum pasti di dalam Bilateria.

Hewan pertama kali muncul dalam catatan fosil pada akhir periode Kriogenium dan berdiversifikasi pada periode Ediakarium berikutnya dalam peristiwa yang dikenal sebagai Ledakan Avalon. Hampir semua filum hewan modern pertama kali muncul dalam catatan fosil sebagai spesies laut selama Ledakan Kambrium, yang dimulai sekitar 539 juta tahun lalu (jtl), dan sebagian besar kelas muncul selama Radiasi Ordovisium 485,4 jtl. Pada semua hewan yang hidup, telah diidentifikasi 6.331 kelompok gen yang mungkin berasal dari satu nenek moyang bersama yang hidup sekitar 650 jtl selama periode Kriogenium.

Secara historis, Aristoteles membagi hewan menjadi hewan yang berdarah dan yang tidak berdarah. Carl Linnaeus menciptakan klasifikasi biologis hierarkis pertama untuk hewan pada tahun 1758 dengan Systema Naturae miliknya, yang kemudian diperluas oleh Jean-Baptiste Lamarck menjadi 14 filum pada tahun 1809. Pada tahun 1874, Ernst Haeckel membagi kerajaan hewan menjadi Metazoa multiseluler (sekarang bersinonim dengan Animalia) dan Protozoa, organisme bersel tunggal yang tidak lagi dianggap sebagai hewan. Di era modern, klasifikasi biologi hewan bergantung pada teknik-teknik lanjutan, seperti filogenetik molekuler, yang efektif dalam menunjukkan hubungan evolusi antar-taksa.

Manusia memanfaatkan banyak spesies hewan lain untuk makanan (termasuk daging, telur, dan produk susu), untuk bahan baku (seperti kulit, bulu, dan wol), sebagai hewan peliharaan, dan sebagai hewan pekerja untuk transportasi, serta layanan. Anjing, hewan pertama yang didomestikasi, telah digunakan dalam perburuan, dalam keamanan, dan dalam peperangan, begitu pula dengan kuda, burung merpati, dan burung pemangsa; sementara hewan darat dan hewan air lainnya diburu untuk olahraga, trofi, atau keuntungan. Hewan nonmanusia juga merupakan elemen budaya yang penting dalam evolusi manusia, telah muncul dalam lukisan gua dan totem sejak zaman paling awal, dan sering kali ditampilkan dalam mitologi, agama, seni, sastra, heraldik, politik, dan olahraga.

Etimologi

Dalam bahasa Indonesia, kata hewan merupakan kata serapan dari bahasa Arab حَيَوَانcode: ar is deprecated (ḥayawān), yang berarti 'makhluk hidup' atau 'binatang', yang berakar dari kata حَيَّcode: ar is deprecated (ḥayya) yang bermakna 'hidup'.[5][6]

Sementara itu, padanannya dalam bahasa Inggris, yakni animal, berasal dari kata benda bahasa Latin animal yang bermakna sama, yang berakar dari bahasa Latin animalis yang berarti 'memiliki napas atau jiwa'.[7] Definisi biologisnya mencakup semua anggota dari kerajaan Animalia.[8] Dalam penggunaan sehari-hari, istilah hewan sering kali digunakan untuk merujuk hanya pada hewan nonmanusia.[9][10][11][12] Istilah metazoa berasal dari bahasa Yunani Kuno μεταcode: grc is deprecated meta 'setelah' (dalam biologi, awalan meta- berarti 'kemudian') dan ζῷᾰcode: grc is deprecated zōia 'hewan-hewan', bentuk jamak dari ζῷονcode: grc is deprecated zōion 'hewan'.[13] Sebuah metazoa adalah setiap anggota dari kelompok Metazoa.[14]

Karakteristik

Hewan itu unik karena memiliki bola sel pada masa embrio awal (1) yang berkembang menjadi bola berongga atau blastula (2).

Hewan memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan makhluk hidup lainnya. Hewan adalah eukariota, multiseluler, dan aerobik, sama seperti tumbuhan dan jamur.[15] Tidak seperti tumbuhan dan alga, yang memproduksi makanannya sendiri,[16] hewan tidak dapat memproduksi makanannya sendiri,[17][18] sebuah ciri yang juga dimiliki oleh jamur. Hewan menelan bahan organik dan mencernanya secara internal.[19]

Ciri-ciri struktural

Hewan memiliki karakteristik struktural yang membedakan mereka dari semua makhluk hidup lainnya:

  • sel-sel yang dikelilingi oleh matriks ekstraseluler[20] yang tersusun dari
    • kolagen[21] dan
    • glikoprotein elastis[20][21]
  • motilitas[22] yaitu mampu menggerakkan tubuh mereka secara spontan setidaknya pada sebagian dari siklus hidupnya.
  • tahap blastula selama perkembangan embrio[23]

Biasanya, terdapat ruang pencernaan internal dengan satu bukaan (pada Ctenophora, Cnidaria, dan cacing pipih) atau dua bukaan (pada sebagian besar bilaterian).[24]

Perkembangan

Perkembangan hewan dikendalikan oleh Gen Hox, yang memberikan sinyal mengenai waktu dan tempat untuk mengembangkan struktur seperti segmen tubuh dan anggota gerak.[25][26]

Selama perkembangan, matriks ekstraseluler hewan membentuk kerangka kerja yang relatif fleksibel di mana sel-sel dapat bergerak dan direorganisasi menjadi jaringan dan organ khusus, sehingga memungkinkan pembentukan struktur yang kompleks, dan memungkinkan terjadinya diferensiasi sel.[23] Matriks ekstraseluler dapat mengalami kalsifikasi, membentuk struktur seperti cangkang, tulang, dan spikula.[27] Sebaliknya, sel-sel organisme multiseluler lainnya (terutama alga, tumbuhan, dan jamur) ditahan di tempatnya oleh dinding sel, sehingga berkembang melalui pertumbuhan progresif.[28]

Reproduksi

Lihat pula: Reproduksi seksual § Hewan, dan Reproduksi aseksual § Contoh pada hewan
Reproduksi seksual hampir bersifat universal pada hewan, seperti pada capung ini.

Hampir semua hewan memanfaatkan beberapa bentuk reproduksi seksual.[29] Mereka menghasilkan gamet haploid melalui meiosis; gamet motil yang lebih kecil adalah spermatozoa dan gamet nonmotil yang lebih besar adalah ovum.[30] Keduanya melebur untuk membentuk zigot,[31] yang berkembang melalui mitosis menjadi bola berongga, yang disebut blastula. Pada spons, larva blastula berenang ke lokasi baru, menempel di dasar laut, dan berkembang menjadi spons baru.[32] Pada sebagian besar kelompok lain, blastula mengalami penataan ulang yang lebih rumit.[33] Mula-mula blastula mengalami invaginasi untuk membentuk gastrula dengan ruang pencernaan dan dua lapisan nutfah yang terpisah, yakni ektoderm luar dan endoderm dalam.[34] Pada sebagian besar kasus, lapisan nutfah ketiga, yakni mesoderm, juga berkembang di antara keduanya.[35] Lapisan-lapisan nutfah ini kemudian berdiferensiasi untuk membentuk jaringan dan organ.[36]

Terjadinya perkawinan dengan kerabat dekat secara berulang selama reproduksi seksual umumnya menyebabkan depresi perkawinan sekerabat di dalam suatu populasi karena peningkatan prevalensi sifat resesif yang berbahaya.[37][38] Hewan telah mengevolusikan berbagai mekanisme untuk menghindari perkawinan kerabat dekat.[39]

Beberapa hewan mampu melakukan reproduksi aseksual, yang sering kali menghasilkan klon genetik dari induknya. Hal ini dapat terjadi melalui fragmentasi; tunas, seperti pada Hydra dan cnidaria lainnya; atau partenogenesis, di mana telur fertil dihasilkan tanpa melalui perkawinan, seperti pada kutu daun.[40][41]

Ekologi

Predator, seperti sikatan biru laut (Ficedula superciliaris) ini, memakan hewan lain.

Hewan dikategorikan ke dalam kelompok-kelompok ekologis bergantung pada tingkat trofik mereka dan bagaimana mereka mengonsumsi bahan organik. Pengelompokan tersebut meliputi karnivor (dibagi lebih lanjut menjadi subkategori seperti piskivor, insektivor, ovivor, dan lain-lain), herbivor (disubkategorikan menjadi folivor, graminivor, frugivor, granivor, nektarivor, algivor, dan lain-lain), omnivor, fungivor, pemakan bangkai/detritivor,[42] dan parasit.[43] Interaksi antarhewan di setiap bioma membentuk jaring-jaring makanan yang kompleks di dalam ekosistem tersebut. Pada spesies karnivor atau omnivor, pemangsaan adalah sebuah interaksi konsumen–sumber daya di mana predator memakan organisme lain, yakni mangsanya,[44] yang sering kali berevolusi mengembangkan adaptasi antipredator untuk menghindari agar tidak dimakan. Tekanan selektif yang dikenakan pada satu sama lain mengarah pada sebuah perlombaan senjata evolusioner antara predator dan mangsa, yang menghasilkan berbagai koevolusi yang bersifat antagonis/kompetitif.[45][46] Hampir semua predator multiseluler adalah hewan.[47] Beberapa konsumen menggunakan berbagai metode; misalnya, pada tawon parasitoid, larvanya memakan jaringan hidup inangnya, yang pada akhirnya membunuh inang tersebut,[48] tetapi ketika dewasa mereka utamanya mengonsumsi nektar dari bunga.[49] Hewan lain mungkin memiliki perilaku makan yang sangat spesifik, seperti penyu sisik yang utamanya memakan spons.[50]

Kerang dan udang ventilasi hidrotermal

Sebagian besar hewan bergantung pada biomassa dan bioenergi yang dihasilkan oleh tumbuhan dan fitoplankton (secara kolektif disebut produsen) melalui fotosintesis. Herbivor, sebagai konsumen tingkat pertama, memakan materi tumbuhan secara langsung untuk mencerna dan menyerap nutrisinya, sementara karnivor dan hewan lain di tingkat trofik yang lebih tinggi secara tidak langsung memperoleh nutrisi tersebut dengan memakan herbivor atau hewan lain yang telah memakan herbivor tersebut. Hewan mengoksidasi karbohidrat, lipid, protein, dan biomolekul lainnya dalam respirasi seluler, yang memungkinkan hewan untuk tumbuh dan mempertahankan metabolisme basal serta menjadi bahan bakar untuk proses biologis lainnya seperti lokomosi.[51][52] Beberapa hewan bentos yang hidup di dekat ventilasi hidrotermal dan rembesan dingin di dasar laut yang gelap mengonsumsi materi organik yang dihasilkan melalui kemosintesis (melalui pengoksidasian senyawa anorganik seperti hidrogen sulfida) oleh arkea dan bakteri.[53]

Hewan bermula di lautan; semua filum hewan yang masih ada, kecuali Micrognathozoa dan Onychophora, setidaknya memiliki beberapa spesies laut. Namun, beberapa garis keturunan arthropoda mulai mengolonisasi daratan sekitar waktu yang bersamaan dengan tumbuhan darat, kemungkinan antara 510 hingga 471 juta tahun lalu, selama masa Kambrium Akhir atau Ordovisium Awal.[54] Vertebrata seperti ikan bersirip lobus Tiktaalik mulai berpindah ke darat pada akhir masa Devon, sekitar 375 juta tahun lalu.[55][56] Kelompok hewan penting lainnya yang mengolonisasi lingkungan darat adalah Moluska, Platyhelminthes, Annelida, Tardigrada, Onychophora, Rotifera, dan Nematoda.

Hewan menempati hampir seluruh habitat dan mikrohabitat di bumi, dengan berbagai fauna yang beradaptasi dengan air asin, ventilasi hidrotermal, air tawar, mata air panas, rawa, hutan, padang rumput, gurun, udara, dan di bagian dalam organisme lain.[57] Meskipun demikian, hewan tidak secara khusus toleran terhadap panas; sangat sedikit dari mereka yang dapat bertahan hidup pada suhu konstan di atas 50 °C (122 °F)[58] atau di gurun dingin yang paling ekstrem di benua Antarktika.[59]

Pengaruh geomorfik kolektif global dari hewan terhadap proses-proses yang membentuk permukaan Bumi sebagian besar masih belum banyak diteliti, dengan mayoritas penelitian hanya terbatas pada spesies individu dan contoh-contoh yang sudah dikenal dengan baik.[60]

Keanekaragaman

Ukuran

Informasi lebih lanjut: Organisme terbesar dan Organisme terkecil

Paus biru (Balaenoptera musculus) adalah hewan terbesar yang pernah hidup, dengan berat hingga 190 ton dan panjang mencapai 336 meter (1.102 ft).[61][62] Hewan darat terbesar yang masih hidup adalah gajah semak afrika (Loxodonta africana), dengan berat hingga 12,25 ton[61] dan panjang mencapai 1.067 meter (3.501 ft).[61] Hewan darat terbesar yang pernah hidup adalah dinosaurus sauropoda titanosauria seperti Argentinosaurus, yang mungkin memiliki berat hingga 73 ton, dan Supersaurus yang mungkin mencapai panjang 39 meter.[63][64] Beberapa hewan berukuran mikroskopis; sebagian Myxozoa (parasit obligat di dalam Cnidaria) tidak pernah tumbuh lebih besar dari 20 μm,[65] dan salah satu spesies terkecil (Myxobolus shekel) berukuran tidak lebih dari 8,5 μm saat tumbuh sepenuhnya.[66]

  • Paus biru adalah hewan terbesar yang pernah hidup; panjangnya dapat mencapai hingga 336 meter (1.102 ft).
    Paus biru adalah hewan terbesar yang pernah hidup; panjangnya dapat mencapai hingga 336 meter (1.102 ft).
  • Myxozoa seperti Myxobolus cerebralis adalah parasit bersel tunggal, dengan ukuran yang tidak pernah lebih dari 20 μm.
    Myxozoa seperti Myxobolus cerebralis adalah parasit bersel tunggal, dengan ukuran yang tidak pernah lebih dari 20 μm.

Jumlah dan habitat filum utama

Tabel berikut menyenaraikan perkiraan jumlah spesies yang masih ada dan telah dideskripsikan untuk filum-filum hewan utama,[67] beserta habitat utamanya (darat, air tawar,[68] dan laut),[69] serta cara hidup bebas atau parasit.[70] Perkiraan spesies yang ditampilkan di sini didasarkan pada jumlah yang telah dideskripsikan secara ilmiah; perkiraan yang jauh lebih besar telah dihitung berdasarkan berbagai metode prediksi, dan angka-angka ini dapat sangat bervariasi. Misalnya, sekitar 25.000–27.000 spesies nematoda telah dideskripsikan, sementara perkiraan jumlah total spesies nematoda yang dipublikasikan mencakup 10.000–20.000; 500.000; 10 juta; dan 100 juta.[71] Dengan menggunakan pola-pola di dalam hierarki taksonomi, jumlah total spesies hewan—termasuk yang belum dideskripsikan—dihitung berjumlah sekitar 7,77 juta pada tahun 2011.[72][73][a]

Filum Contoh Spesies Darat Laut Air tawar Hidup bebas Parasit
Arthropoda tawon 1.257.000[67] Ya 1.000.000
(serangga)[75]
Ya >40.000
(Malak-
ostraka
)[76]
Ya 94.000[68] Ya[69] Ya >45.000[b][70]
Mollusca siput 85.000[67]
107.000[77]
35.000[77] 60.000[77] 5.000[68]
12.000[77]
Ya[69] >5.600[70]
Chordata katak tutul hijau menghadap kanan >70.000[67][78] 23.000[79] 13.000[79] 18.000[68]
9.000[79]
Ya 40
(ikan lele)[80][70]
Platyhelminthes 29.500[67] Ya[81] Ya[69] 1.300[68] Ya[69]

3.000–6.500[82]

>40.000[70]

4.000–25.000[82]

Nematoda 25.000[67] Ya (tanah)[69] 4.000[71] 2.000[68] 11.000[71] 14.000[71]
Annelida 17.000[67] Ya (tanah)[69] Ya[69] 1.750[68] Ya 400[70]
Cnidaria Table coral 16.000[67] Ya[69] Sedikit[69] Ya[69] >1.350
(Myxozoa)[70]
Porifera 10.800[67] Ya[69] 200–300[68] Ya Ya[83]
Echinodermata 7.500[67] 7.500[67] Ya[69]
Bryozoa 6.000[67] Ya[69] 60–80[68] Ya
Rotifera 2.000[67] >400[84] 2.000[68] Ya Ya[85]
Nemertea 1.350[86][87] Ya Ya Ya
Tardigrada 1.335[67] Ya[88]
(tumbuhan lembap)
Ya Ya Ya

Asal usul evolusi

Informasi lebih lanjut: Urmetazoa

Bukti keberadaan hewan telah ditemukan sejak periode Kriogenium. 24-Isopropilkolestana (24-ipc) telah ditemukan di bebatuan yang berasal dari sekitar 650 juta tahun yang lalu; senyawa ini hanya diproduksi oleh spons dan alga pelagofit. Kemungkinan besar senyawa ini berasal dari spons berdasarkan perkiraan jam molekuler untuk asal mula produksi 24-ipc pada kedua kelompok tersebut. Analisis terhadap alga pelagofit secara konsisten menunjukkan asal-usul pada masa Fanerozoikum, sedangkan analisis terhadap spons menunjukkan asal-usul pada masa Neoproterozoikum, konsisten dengan kemunculan 24-ipc dalam catatan fosil.[89][90]

Fosil tubuh hewan pertama muncul pada masa Ediakarium, diwakili oleh bentuk-bentuk seperti Charnia dan Spriggina. Telah lama diragukan apakah fosil-fosil ini benar-benar mewakili hewan,[91][92][93] tetapi penemuan lipid hewani berupa kolesterol pada fosil Dickinsonia membuktikan sifat alami mereka.[94] Hewan diperkirakan berasal dari kondisi rendah oksigen, yang menunjukkan bahwa mereka awalnya mampu hidup sepenuhnya melalui respirasi anaerobik. Namun, seiring dengan spesialisasi mereka terhadap metabolisme aerobik, mereka menjadi sepenuhnya bergantung pada oksigen di lingkungan mereka.[95]


Banyak filum hewan yang pertama kali muncul dalam catatan fosil selama ledakan Kambrium, yang dimulai sekitar 539 juta tahun yang lalu, di lapisan batuan seperti Serpih Burgess.[96] Filum yang masih ada di bebatuan ini meliputi moluska, brachiopoda, onychophora, tardigrada, arthropoda, echinodermata, dan hemichordata, bersama dengan berbagai bentuk yang kini telah punah seperti predator Anomalocaris. Namun, kejadian yang tampaknya tiba-tiba ini mungkin merupakan artefak dari catatan fosil, alih-alih menunjukkan bahwa semua hewan ini muncul secara bersamaan.[97][98][99][100][101] Pandangan tersebut didukung oleh penemuan Auroralumina attenboroughii, cnidaria kelompok mahkota Ediakarium paling awal yang diketahui (557–562 juta tahun lalu, sekitar 20 juta tahun sebelum ledakan Kambrium) dari Hutan Charnwood, Inggris. Organisme ini diyakini sebagai salah satu predator paling awal, yang menangkap mangsa kecil dengan nematosistanya seperti yang dilakukan cnidaria modern.[102]

Beberapa ahli paleontologi berpendapat bahwa hewan muncul jauh lebih awal daripada ledakan Kambrium, mungkin sejak 1 miliar tahun yang lalu.[103] Fosil-fosil awal yang mungkin mewakili hewan muncul, misalnya, di bebatuan berusia 665 juta tahun di Formasi Trezona, Australia Selatan. Fosil-fosil ini ditafsirkan kemungkinan besar sebagai spons awal.[104] Fosil jejak seperti jejak kaki dan liang yang ditemukan pada periode Tonium (dari 1 miliar tahun lalu) mungkin mengindikasikan kehadiran hewan mirip cacing triploblastik, dengan ukuran dan kompleksitas yang kira-kira sebesar cacing tanah (lebar sekitar 5 mm).[105] Akan tetapi, jejak serupa juga dihasilkan oleh protista bersel tunggal raksasa Gromia sphaerica, sehingga fosil jejak Tonium mungkin tidak mengindikasikan evolusi awal hewan.[106][107] Sekitar waktu yang bersamaan, lapisan tikar mikroorganisme yang disebut stromatolit mengalami penurunan keanekaragaman, mungkin akibat dimakan oleh hewan yang baru berevolusi.[108] Objek-objek seperti tabung berisi sedimen yang menyerupai fosil jejak dari liang hewan mirip cacing telah ditemukan di bebatuan berusia 1,2 miliar tahun lalu di Amerika Utara, 1,5 miliar tahun lalu di Australia dan Amerika Utara, serta 1,7 miliar tahun lalu di Australia. Penafsiran bahwa objek-objek tersebut berasal dari hewan masih diperdebatkan, karena objek tersebut mungkin merupakan struktur pelolosan air atau struktur geologi lainnya.[109][110]

  • Dickinsonia costata dari biota Ediakarium (sekitar 635–542 juta tahun lalu) adalah salah satu spesies hewan paling awal yang diketahui.
    Dickinsonia costata dari biota Ediakarium (sekitar 635–542 juta tahun lalu) adalah salah satu spesies hewan paling awal yang diketahui.[94]
  • Auroralumina attenboroughii, sebuah predator dari masa Ediakarium (sekitar 560 juta tahun lalu)
    Auroralumina attenboroughii, sebuah predator dari masa Ediakarium (sekitar 560 juta tahun lalu)[102]
  • Anomalocaris canadensis adalah salah satu dari sekian banyak spesies hewan yang muncul pada saat ledakan Kambrium, yang dimulai sekitar 539 juta tahun lalu, dan ditemukan di lapisan fosil Serpih Burgess.
    Anomalocaris canadensis adalah salah satu dari sekian banyak spesies hewan yang muncul pada saat ledakan Kambrium, yang dimulai sekitar 539 juta tahun lalu, dan ditemukan di lapisan fosil Serpih Burgess.

Filogeni

Informasi lebih lanjut: Daftar hewan

Filogeni eksternal


Hewan bersifat monofiletik, yang berarti mereka berasal dari satu nenek moyang bersama. Hewan adalah kelompok saudari dari koanoflagelata, dan bersama-sama membentuk Choanozoa.[111] Ros-Rocher dan rekan-rekannya (2021) menelusuri asal usul hewan ke nenek moyang uniseluler, dengan memberikan filogeni eksternal seperti yang ditunjukkan dalam kladogram. Ketidakpastian mengenai hubungan kekerabatan ditunjukkan dengan garis putus-putus. Klade hewan dipastikan telah bermula pada 650 jtl (juta tahun lalu), dan mungkin telah terbentuk sejak 800 jtl, berdasarkan bukti jam molekuler untuk berbagai filum.[112]

Opisthokonta

Holomycota (termasuk fungi)

Holozoa

Ichthyosporea

Pluriformea

Filozoa

Filasterea

Choanozoa
Koanoflagelata

Animalia

lebih dari 650 jtl

Filogeni internal


Hubungan kekerabatan di dasar pohon hewan telah lama diperdebatkan.[113][114] Selain Ctenophora, Bilateria dan Cnidaria adalah satu-satunya kelompok yang memiliki simetri, dan bukti lain menunjukkan bahwa mereka berkerabat dekat.[115] Selain spons, Placozoa tidak memiliki simetri dan sering kali dianggap sebagai "mata rantai yang hilang" antara protista dan hewan multiseluler. Kehadiran gen Hox pada Placozoa menunjukkan bahwa dulunya mereka lebih kompleks.[116]

Porifera (spons) telah lama diasumsikan sebagai kelompok saudari dari semua hewan lainnya, tetapi terdapat bukti bahwa Ctenophora mungkin berada dalam posisi tersebut. Filogenetik molekuler telah mendukung baik hipotesis bersaudara dengan spons maupun bersaudara dengan ctenophora. Pada tahun 2017, Roberto Feuda dan rekan-rekannya, menggunakan perbedaan asam amino, menyajikan keduanya, dengan kladogram berikut untuk pandangan bersaudara dengan spons yang mereka dukung (pohon bersaudara dengan ctenophora mereka cukup menukar tempat ctenophora dan spons):[117]

Animalia

Porifera

Eumetazoa

Ctenophora

ParaHoxozoa

Placozoa

Cnidaria

Bilateria

simetri
gen Hox
multiseluler

Sebaliknya, sebuah studi pada tahun 2023 oleh Darrin Schultz dan rekan-rekannya menggunakan tautan gen purba untuk menyusun filogeni bersaudara dengan ctenophora berikut ini:[118]

Animalia

Ctenophora

Myriazoa

Porifera

ParaHoxozoa

Placozoa

Cnidaria

Bilateria

simetri
gen Hox
multiseluler

Non-bilateria

Non-bilateria mencakup spons (tengah) dan karang (latar belakang).

Spons secara fisik sangat berbeda dari hewan lain, dan telah lama diperkirakan sebagai kelompok yang terpisah paling awal, mewakili filum hewan tertua dan membentuk klade saudari bagi semua hewan lainnya.[119] Terlepas dari ketidakmiripan morfologis mereka dengan semua hewan lainnya, bukti genetik menunjukkan bahwa spons mungkin berkerabat lebih dekat dengan hewan lain daripada ubur-ubur sisir (Ctenophora).[120][121] Spons tidak memiliki organisasi kompleks yang ditemukan pada sebagian besar filum hewan lainnya;[122] sel-sel mereka berdiferensiasi, tetapi dalam banyak kasus tidak terorganisasi menjadi jaringan yang berbeda, tidak seperti semua hewan lainnya.[123] Mereka umumnya makan dengan menarik air masuk melalui pori-pori, lalu menyaring partikel makanan kecil.[124]

Ctenophora dan Cnidaria memiliki simetri radial dan bilik pencernaan dengan satu bukaan, yang berfungsi ganda sebagai mulut dan anus.[125] Hewan di kedua filum ini memiliki jaringan yang berbeda, tetapi tidak terorganisasi menjadi organ yang terpisah.[126] Mereka bersifat diploblastik, yaitu hanya memiliki dua lapisan nutfah utama, ektoderm dan endoderm.[127]

Placozoa kecil tidak memiliki bilik pencernaan permanen dan tidak memiliki simetri; secara sekilas penampilannya menyerupai ameba.[128][129] Filogeni mereka tidak terdefinisikan dengan baik, dan masih dalam penelitian aktif.[120][130]

Bilateria

Artikel utama: Bilateria dan Simetri (biologi) § Simetri bilateral

Hewan-hewan yang tersisa, yang merupakan mayoritas besar—terdiri atas sekitar 29 filum dan lebih dari satu juta spesies—membentuk klade Bilateria, yang memiliki rancangan tubuh simetri bilateral. Bilateria bersifat triploblastik, dengan tiga lapisan nutfah yang berkembang dengan baik, dan jaringan mereka membentuk organ-organ yang berbeda. Bilik pencernaannya memiliki dua bukaan, mulut dan anus, dan pada Nephrozoa terdapat rongga tubuh internal, sebuah selom atau pseudoselom. Hewan-hewan ini memiliki ujung kepala (anterior) dan ujung ekor (posterior), permukaan punggung (dorsal) dan permukaan perut (ventral), serta sisi kiri dan kanan.[131][132] Pohon filogenetik konsensus modern untuk Bilateriaditunjukkan di bawah ini.[133]

Bilateria

Xenacoelomorpha

Nephrozoa
Deuterostomia

Ambulacraria

Chordata

Protostomia

Ecdysozoa

Spiralia

610 jtl
650 jtl
Rancangan tubuh nephrozoa yang diidealkan.[c] Dengan tubuh yang memanjang dan arah pergerakan yang pasti, hewan ini memiliki ujung kepala dan ekor. Organ indra dan mulut membentuk dasar dari kepala tersebut. Otot sirkuler dan longitudinal yang saling berlawanan memungkinkan gerak peristaltik.

Memiliki ujung depan berarti bahwa bagian tubuh ini lebih dahulu menemui rangsangan, seperti makanan, yang mendukung proses sefalisasi, yaitu perkembangan kepala dengan organ indra dan mulut. Banyak bilaterian memiliki kombinasi otot sirkuler yang menyempitkan tubuh sehingga menjadi lebih panjang, dan sekumpulan otot longitudinal berlawanan yang memendekkan tubuh;[132] ini memungkinkan hewan bertubuh lunak dengan rangka hidrostatik untuk bergerak dengan peristalsis.[134] Mereka juga memiliki saluran pencernaan yang memanjang di sepanjang tubuhnya yang pada dasarnya berbentuk silinder, dari mulut hingga anus. Banyak filum bilaterian memiliki larva primer yang berenang menggunakan silia dan memiliki organ apikal yang mengandung sel-sel sensorik. Namun, seiring waktu evolusi, spesies-spesies keturunan telah berevolusi dan kehilangan satu atau beberapa karakteristik tersebut. Misalnya, echinodermata dewasa memiliki simetri radial (berbeda dengan larvanya), sementara beberapa cacing parasit memiliki struktur tubuh yang sangat disederhanakan.[131][132]

Studi-studi genetika telah banyak mengubah pemahaman ahli zoologi mengenai hubungan di dalam Bilateria. Sebagian besar tampaknya termasuk dalam dua garis keturunan utama, yakni protostoma dan deuterostoma.[135] Sering kali dikemukakan bahwa bilaterian paling basal adalah Xenacoelomorpha, sedangkan semua bilaterian lainnya termasuk dalam subklade Nephrozoa.[136][137][138] Namun, pendapat ini telah diperdebatkan, dengan beberapa studi lain yang menemukan bahwa xenacoelomorpha berkerabat lebih dekat dengan Ambulacraria dibandingkan dengan bilaterian lainnya.[139]

Non-bilateria

Non-bilateria mencakup spons (tengah) dan karang (latar belakang).

Spons secara fisik sangat berbeda dari hewan lain, dan telah lama diperkirakan sebagai kelompok yang terpisah paling awal, mewakili filum hewan tertua dan membentuk klade saudari bagi semua hewan lainnya.[140] Terlepas dari ketidakmiripan morfologis mereka dengan semua hewan lainnya, bukti genetik menunjukkan bahwa spons mungkin berkerabat lebih dekat dengan hewan lain daripada ubur-ubur sisir (Ctenophora).[120][141] Spons tidak memiliki organisasi kompleks yang ditemukan pada sebagian besar filum hewan lainnya;[142] sel-sel mereka berdiferensiasi, tetapi dalam banyak kasus tidak terorganisasi menjadi jaringan yang berbeda, tidak seperti semua hewan lainnya.[143] Mereka umumnya makan dengan menarik air masuk melalui pori-pori, lalu menyaring partikel makanan kecil.[144]

Ctenophora dan Cnidaria memiliki simetri radial dan bilik pencernaan dengan satu bukaan, yang berfungsi ganda sebagai mulut dan anus.[145] Hewan di kedua filum ini memiliki jaringan yang berbeda, tetapi tidak terorganisasi menjadi organ yang terpisah.[146] Mereka bersifat diploblastik, yaitu hanya memiliki dua lapisan nutfah utama, ektoderm dan endoderm.[147]

Placozoa kecil tidak memiliki bilik pencernaan permanen dan tidak memiliki simetri; secara sekilas penampilannya menyerupai ameba.[148][149] Filogeni mereka tidak terdefinisikan dengan baik, dan masih dalam penelitian aktif.[120][150]

Bilateria

Artikel utama: Bilateria dan Simetri (biologi) § Simetri bilateral

Hewan-hewan yang tersisa, yang merupakan mayoritas besar—terdiri atas sekitar 29 filum dan lebih dari satu juta spesies—membentuk klade Bilateria, yang memiliki rancangan tubuh simetri bilateral. Bilateria bersifat triploblastik, dengan tiga lapisan nutfah yang berkembang dengan baik, dan jaringan mereka membentuk organ-organ yang berbeda. Bilik pencernaannya memiliki dua bukaan, mulut dan anus, dan pada Nephrozoa terdapat rongga tubuh internal, sebuah selom atau pseudoselom. Hewan-hewan ini memiliki ujung kepala (anterior) dan ujung ekor (posterior), permukaan punggung (dorsal) dan permukaan perut (ventral), serta sisi kiri dan kanan.[131][132] Pohon filogenetik konsensus modern untuk Bilateriaditunjukkan di bawah ini.[133]

Bilateria

Xenacoelomorpha

Nephrozoa
Deuterostomia

Ambulacraria

Chordata

Protostomia

Ecdysozoa

Spiralia

610 jtl
650 jtl
Rancangan tubuh nephrozoa yang diidealkan.[d] Dengan tubuh yang memanjang dan arah pergerakan yang pasti, hewan ini memiliki ujung kepala dan ekor. Organ indra dan mulut membentuk dasar dari kepala tersebut. Otot sirkuler dan longitudinal yang saling berlawanan memungkinkan gerak peristaltik.

Memiliki ujung depan berarti bahwa bagian tubuh ini lebih dahulu menemui rangsangan, seperti makanan, yang mendukung proses sefalisasi, yaitu perkembangan kepala dengan organ indra dan mulut. Banyak bilaterian memiliki kombinasi otot sirkuler yang menyempitkan tubuh sehingga menjadi lebih panjang, dan sekumpulan otot longitudinal berlawanan yang memendekkan tubuh;[132] ini memungkinkan hewan bertubuh lunak dengan rangka hidrostatik untuk bergerak dengan peristalsis.[134] Mereka juga memiliki saluran pencernaan yang memanjang di sepanjang tubuhnya yang pada dasarnya berbentuk silinder, dari mulut hingga anus. Banyak filum bilaterian memiliki larva primer yang berenang menggunakan silia dan memiliki organ apikal yang mengandung sel-sel sensorik. Namun, seiring waktu evolusi, spesies-spesies keturunan telah berevolusi dan kehilangan satu atau beberapa karakteristik tersebut. Misalnya, echinodermata dewasa memiliki simetri radial (berbeda dengan larvanya), sementara beberapa cacing parasit memiliki struktur tubuh yang sangat disederhanakan.[131][132]

Studi-studi genetika telah banyak mengubah pemahaman ahli zoologi mengenai hubungan di dalam Bilateria. Sebagian besar tampaknya termasuk dalam dua garis keturunan utama, yakni protostoma dan deuterostoma.[135] Sering kali dikemukakan bahwa bilaterian paling basal adalah Xenacoelomorpha, sedangkan semua bilaterian lainnya termasuk dalam subklade Nephrozoa.[136][137][138] Namun, pendapat ini telah diperdebatkan, dengan beberapa studi lain yang menemukan bahwa xenacoelomorpha berkerabat lebih dekat dengan Ambulacraria dibandingkan dengan bilaterian lainnya.[139]

Protostoma dan deuterostoma

Informasi lebih lanjut: Asal usul embriologis mulut dan anus
Artikel utama: Protostoma dan Deuterostoma
Usus bilateria berkembang dalam dua cara. Pada banyak protostoma, blastopori berkembang menjadi mulut, sedangkan pada deuterostoma menjadi anus.

Protostoma dan deuterostoma berbeda dalam beberapa hal. Pada awal perkembangannya, embrio deuterostoma mengalami pembelahan radial selama pembelahan sel, sedangkan banyak protostoma (Spiralia) mengalami pembelahan spiral.[151] Hewan dari kedua kelompok tersebut memiliki saluran pencernaan yang lengkap, tetapi pada protostoma bukaan pertama dari usus embrionik berkembang menjadi mulut, dan anus terbentuk belakangan. Pada deuterostoma, anus terbentuk lebih dulu sedangkan mulut berkembang belakangan.[152][153] Sebagian besar protostoma mengalami perkembangan skizoselomik, di mana sel-sel hanya mengisi bagian dalam gastrula untuk membentuk mesoderm. Pada deuterostoma, mesoderm terbentuk oleh kantung enteroselomik, melalui invaginasi endoderm.[154]

Taksa utama deuterostoma adalah Ambulacraria dan Chordata.[155] Ambulacraria secara eksklusif hidup di laut dan mencakup cacing biji ek, bintang laut, bulu babi, dan teripang.[156] Chordata didominasi oleh vertebrata (hewan dengan tulang belakang),[157] yang terdiri dari ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia.[158][159][160]

Spiralia berkembang dengan pembelahan spiral pada embrio, seperti pada siput laut ini.

Protostoma mencakup Ecdysozoa, dinamai berdasarkan sifat bersama mereka yaitu ekdisis, pertumbuhan dengan cara berganti kulit,[161] Di antara filum ecdysozoa terbesar adalah artropoda dan nematoda.[162] Sisa protostoma lainnya berada di dalam Spiralia, dinamai berdasarkan pola perkembangan mereka melalui pembelahan spiral pada awal embrio. Filum spiralian utama meliputi anelida dan moluska.[163]

Sejarah klasifikasi

Informasi lebih lanjut: Taksonomi (biologi), Sejarah zoologi hingga 1859, dan Sejarah zoologi sejak 1859
Jean-Baptiste de Lamarck memelopori penciptaan klasifikasi modern untuk invertebrata, memecah "Vermes" usulan Linnaeus menjadi sembilan filum pada tahun 1809.[164]

Pada era klasik, Aristoteles membagi hewan,[e] berdasarkan pengamatannya sendiri, menjadi hewan yang berdarah (kurang lebih, vertebrata) dan yang tidak berdarah. Hewan-hewan tersebut kemudian disusun pada sebuah skala mulai dari manusia (berdarah, berkaki dua, berjiwa rasional) turun ke tetrapoda yang melahirkan (berdarah, berkaki empat, berjiwa sensitif) dan kelompok lain seperti krustasea (tidak berdarah, berkaki banyak, berjiwa sensitif) hingga makhluk yang muncul secara spontan seperti spons (tidak berdarah, tidak berkaki, berjiwa nabati). Aristoteles tidak yakin apakah spons termasuk hewan, yang dalam sistemnya seharusnya memiliki indera perasa, nafsu makan, dan kemampuan bergerak, atau tumbuhan, yang tidak memilikinya: ia tahu bahwa spons dapat merasakan sentuhan dan akan menyusut jika ditarik dari bebatuan mereka, tetapi mereka berakar seperti tumbuhan dan tidak pernah berpindah-pindah.[165]

Pada tahun 1758, Carl Linnaeus menciptakan klasifikasi hierarkis pertama dalam karyanya Systema Naturae.[166] Dalam skema aslinya, hewan merupakan salah satu dari tiga kerajaan, yang dibagi menjadi kelas Vermes, Insecta, Pisces, Amphibia, Aves, dan Mammalia. Sejak saat itu, empat kelas terakhir semuanya telah digabungkan menjadi satu filum tunggal, yaitu Chordata, sementara kelas Insecta (yang mencakup krustasea dan araknida) serta Vermes miliknya telah diganti nama atau dipecah. Proses ini dimulai pada tahun 1793 oleh Jean-Baptiste de Lamarck, yang menyebut Vermes sebagai une espèce de chaoscode: fr is deprecated ('kekacauan yang berantakan')[f] dan membagi kelompok tersebut menjadi tiga filum baru: cacing, ekinodermata, dan polip (yang mencakup karang dan ubur-ubur). Menjelang tahun 1809, dalam karyanya Philosophie Zoologique, Lamarck telah menciptakan sembilan filum di luar vertebrata (di mana ia masih memiliki empat filum: mamalia, burung, reptil, dan ikan) dan moluska, yaitu teritip, anelida, krustasea, araknida, serangga, cacing, radiata, polip, dan infusoria.[164]

Dalam karyanya tahun 1817 Le Règne Animalcode: fr is deprecated , Georges Cuvier menggunakan anatomi perbandingan untuk mengelompokkan hewan menjadi empat embranchementscode: fr is deprecated ('cabang' dengan rancangan tubuh yang berbeda, kurang lebih setara dengan filum), yaitu vertebrata, moluska, hewan beruas (artropoda dan anelida), dan zoofit (radiata) (ekinodermata, cnidaria, dan bentuk lainnya).[168] Pembagian menjadi empat kelompok ini diikuti oleh ahli embriologi Karl Ernst von Baer pada tahun 1828, ahli zoologi Louis Agassiz pada tahun 1857, dan ahli anatomi perbandingan Richard Owen pada tahun 1860.[169]

Pada tahun 1874, Ernst Haeckel membagi kerajaan hewan menjadi dua subkerajaan: Metazoa (hewan multiseluler, dengan lima filum: coelenterata, ekinodermata, hewan beruas, moluska, dan vertebrata) dan Protozoa (hewan bersel tunggal), termasuk filum hewan keenam, yaitu spons.[170][169] Protozoa kemudian dipindahkan ke kerajaan terdahulu Protista, menyisakan hanya Metazoa sebagai sinonim dari Animalia.[171]

Dalam budaya manusia

Penggunaan praktis

Artikel utama: Penggunaan hewan oleh manusia
Potongan karkas daging sapi di sebuah rumah potong hewan

Populasi manusia memanfaatkan sejumlah besar spesies hewan lain sebagai sumber makanan, baik dari spesies ternak yang didomestikasi dalam bidang peternakan dan, utamanya di laut, melalui perburuan spesies liar.[172][173] Banyak spesies ikan laut yang ditangkap secara komersial untuk dijadikan makanan. Sejumlah kecil spesies dibudidayakan secara komersial.[172][174][175] Manusia beserta hewan ternak mereka mencakup lebih dari 90% biomassa seluruh vertebrata darat, dan hampir sama dengan gabungan seluruh serangga.[176]

Invertebrata termasuk sefalopoda, krustasea, serangga—terutama lebah madu dan ulat sutra—serta moluska bivalvia atau gastropoda diburu atau dibudidayakan untuk dijadikan makanan dan serat.[177][178] Ayam, sapi, domba, babi, dan hewan lainnya dipelihara sebagai ternak untuk diambil dagingnya di seluruh dunia.[173][179][180] Serat hewani seperti wol dan sutra digunakan untuk membuat tekstil, sementara urat hewan telah digunakan sebagai tali dan pengikat, serta kulit secara luas digunakan untuk membuat sepatu dan barang-barang lainnya. Hewan telah diburu dan diternakkan untuk diambil bulunya guna membuat barang-barang seperti mantel dan topi.[181] Zat pewarna termasuk karmin (koksineal),[182][183] sirlak,[184][185] dan kermes[186][187] telah dibuat dari tubuh serangga. Hewan pekerja termasuk sapi dan kuda telah digunakan untuk pekerjaan dan transportasi sejak masa awal pertanian.[188]

Hewan seperti lalat buah Drosophila melanogaster memiliki peran penting dalam sains sebagai model eksperimen.[189][190][191][192] Hewan telah digunakan untuk menciptakan vaksin sejak penemuannya pada abad ke-18.[193] Beberapa obat-obatan seperti obat kanker trabectedin dibuat berdasarkan toksin atau molekul lain yang berasal dari hewan.[194]

Seekor anjing pemburu mengambil bebek saat perburuan

Orang-orang telah menggunakan anjing pemburu untuk membantu mengejar dan mengambil buruan,[195] dan burung pemangsa untuk menangkap burung serta mamalia,[196] sementara kormoran yang diikat telah digunakan untuk menangkap ikan.[197] Katak panah beracun telah digunakan untuk meracuni ujung anak sumpit.[198][199] Berbagai macam hewan dipelihara sebagai hewan peliharaan, mulai dari invertebrata seperti tarantula, gurita, dan belalang sentadu,[200] reptil seperti ular dan bunglon,[201] serta burung termasuk burung kenari, parkit, dan burung beo[202] semuanya mendapat tempat. Namun, spesies hewan peliharaan yang paling banyak dipelihara adalah mamalia, yaitu anjing, kucing, dan kelinci.[203][204][205] Terdapat ketegangan antara peran hewan sebagai pendamping manusia, dan keberadaan mereka sebagai individu yang memiliki haknya sendiri.[206]

Berbagai macam hewan darat dan air diburu sebagai olahraga.[207]

Penggunaan simbolis

Tanda-tanda zodiak Barat dan zodiak Tionghoa didasarkan pada hewan.[208][209] Di Tiongkok dan Jepang, kupu-kupu telah dipandang sebagai personifikasi dari jiwa seseorang,[210] dan dalam representasi klasik kupu-kupu juga merupakan simbol dari jiwa.[211][212]

Visi artistik: Alam Benda dengan Lobster dan Tiram karya Alexander Coosemans, ca 1660

Hewan telah menjadi subjek seni sejak zaman paling awal, baik pada masa sejarah, seperti di Mesir kuno, maupun prasejarah, seperti pada lukisan gua di Lascaux. Lukisan hewan yang utama meliputi The Rhinoceros karya Albrecht Dürer tahun 1515, dan potret kuda Whistlejacket karya George Stubbs dari ca 1762.[213] Serangga, burung, dan mamalia memainkan peran dalam sastra dan film,[214] seperti dalam film serangga raksasa.[215][216][217]

Hewan termasuk serangga[210] dan mamalia[218] tampil dalam mitologi dan agama. Kumbang scarab dianggap suci di Mesir kuno,[219] dan sapi dianggap suci dalam agama Hindu.[220] Di antara mamalia lainnya, rusa,[218] kuda,[221] singa,[222] kelelawar,[223] beruang,[224] dan serigala[225] menjadi subjek mitos dan pemujaan.

Lihat pula

  • Pewarnaan hewan
  • Etologi – suatu cabang ilmu zoologi yang mempelajari perilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme serta faktor-faktor penyebabnya
  • Daftar organisme berdasarkan populasi
  • Hari Hewan Sedunia – Diperingati pada 4 Oktober

Catatan

  1. ↑ Penerapan pengkodean batang DNA pada taksonomi semakin memperumit hal ini; sebuah analisis pengkodean batang pada tahun 2016 memperkirakan jumlah total hampir 100.000 spesies serangga untuk Kanada saja, dan mengekstrapolasikan bahwa fauna serangga global pasti berjumlah lebih dari 10 juta spesies, yang mana hampir 2 juta di antaranya berada dalam satu famili lalat yang dikenal sebagai lalat puru (Cecidomyiidae).[74]
  2. ↑ Tidak termasuk parasitoid.[70]
  3. ↑ Bandingkan File:Annelid redone w white background.svg untuk model yang lebih spesifik dan mendetail dari filum tertentu dengan rancangan tubuh umum ini.
  4. ↑ Bandingkan File:Annelid redone w white background.svg untuk model yang lebih spesifik dan mendetail dari filum tertentu dengan rancangan tubuh umum ini.
  5. ↑ Dalam bukunya Sejarah Hewan dan Bagian-Bagian Hewan.
  6. ↑ Awalan bahasa Prancis une espèce decode: fr is deprecated bersifat peyoratif.[167]

Referensi

  1. ↑ de Queiroz, Kevin; Cantino, Philip; Gauthier, Jacques, ed. (2020). "Metazoa E. Haeckel 1874 [J. R. Garey and K. M. Halanych], converted clade name". Phylonyms: A Companion to the PhyloCode (Edisi 1st). CRC Press. hlm. 1352. doi:10.1201/9780429446276. ISBN 978-0-429-44627-6. S2CID 242704712.
  2. ↑ Nielsen, Claus (2008). "Six major steps in animal evolution: are we derived sponge larvae?". Evolution & Development. 10 (2): 241–257. Bibcode:2008EvDev..10..241N. doi:10.1111/j.1525-142X.2008.00231.x. ISSN 1520-541X. PMID 18315817. S2CID 8531859.
  3. 1 2 3 Rothmaler, Werner (1951). "Die Abteilungen und Klassen der Pflanzen". Feddes Repertorium. 54 (2–3): 256–266. doi:10.1002/fedr.19510540208.
  4. ↑ "Animalia". Merriam-Webster Dictionary. Diakses tanggal 12 May 2024.
  5. ↑ Jones, Russell (2007). Loan-Words in Indonesian and Malay. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-701-4.
  6. ↑ "hewan". Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
  7. ↑ Cresswell, Julia (2010). "Animal". The Oxford Dictionary of Word Origins (Edisi 2nd). New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954793-7. 'having the breath of life', from anima 'air, breath, life'.
  8. ↑ "Animal". The American Heritage Dictionary (Edisi 4th). Houghton Mifflin. 2006.
  9. ↑ "Animal". English Oxford Living Dictionaries. Diarsipkan dari asli tanggal 26 July 2018. Diakses tanggal 26 July 2018.
  10. ↑ Boly, Melanie; Seth, Anil K.; Wilke, Melanie; Ingmundson, Paul; Baars, Bernard; et al. (2013). "Consciousness in humans and non-human animals: recent advances and future directions". Frontiers in Psychology. 4: 625. doi:10.3389/fpsyg.2013.00625. PMC 3814086. PMID 24198791.
  11. ↑ "The use of non-human animals in research". Royal Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2018. Diakses tanggal 7 June 2018.
  12. ↑ "Nonhuman". Collins English Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 June 2018. Diakses tanggal 7 June 2018.
  13. ↑ "Metazoa". Collins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 6 July 2022. and further meta- (sense 1) Diarsipkan 30 July 2022 di Wayback Machine. and -zoa Diarsipkan 30 July 2022 di Wayback Machine..
  14. ↑ "Metazoan". Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 July 2022. Diakses tanggal 6 July 2022.
  15. ↑ Avila, Vernon L. (1995). Biology: Investigating Life on Earth. Jones & Bartlett. hlm. 767. ISBN 978-0-86720-942-6.
  16. ↑ Davidson, Michael W. "Animal Cell Structure". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2007. Diakses tanggal 20 September 2007.
  17. ↑ "Palaeos:Metazoa". Palaeos. Diarsipkan dari asli tanggal 28 February 2018. Diakses tanggal 25 February 2018.
  18. ↑ Bergman, Jennifer. "Heterotrophs". Diarsipkan dari asli tanggal 29 August 2007. Diakses tanggal 30 September 2007.
  19. ↑ Douglas, Angela E.; Raven, John A. (January 2003). "Genomes at the interface between bacteria and organelles". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 358 (1429): 5–17. doi:10.1098/rstb.2002.1188. PMC 1693093. PMID 12594915.
  20. 1 2 Heino, Jyrki; Huhtala, Mikko; Käpylä, Jarmo; Johnson, Mark S. (February 2009). "Evolution of collagen-based adhesion systems". The International Journal of Biochemistry & Cell Biology. 41 (2): 341–348. doi:10.1016/j.biocel.2008.08.021. PMID 18790075.
  21. 1 2 Alberts, Bruce; Johnson, Alexander; Lewis, Julian; Raff, Martin; Roberts, Keith; Walter, Peter (2002). Molecular Biology of the Cell (Edisi 4th). Garland Science. ISBN 978-0-8153-3218-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 December 2016. Diakses tanggal 29 August 2017.
  22. ↑ Saupe, S. G. "Concepts of Biology". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 November 2007. Diakses tanggal 30 September 2007.
  23. 1 2 Minkoff, Eli C. (2008). Barron's EZ-101 Study Keys Series: Biology (Edisi 2nd, revised). Barron's Educational Series. hlm. 48. ISBN 978-0-7641-3920-8.
  24. ↑ Hillmer, Gero; Lehmann, Ulrich (1983). Fossil Invertebrates. Diterjemahkan oleh Lettau, J. Cambridge University Press Archive. hlm. 54. ISBN 978-0-521-27028-1. Diakses tanggal 8 January 2016.
  25. ↑ Ryan, Joseph F.; Mazza, Maureen E.; Pang, Kevin; Matus, David Q.; Baxevanis, Andreas D.; Martindale, Mark Q.; Finnerty, John R. (24 January 2007). "Pre-Bilaterian Origins of the Hox Cluster and the Hox Code: Evidence from the Sea Anemone, Nematostella vectensis". PLOS ONE. 2 (1) e153. Bibcode:2007PLoSO...2..153R. doi:10.1371/journal.pone.0000153. PMC 1779807. PMID 17252055.
  26. ↑ de Rosa, Renaud; Grenier, Jennifer K.; Andreeva, Tatiana; Cook, Charles E.; Adoutte, André; Akam, Michael; Carroll, Sean B.; Balavoine, Guillaume (1999). "Hox genes in brachiopods and priapulids and protostome evolution". Nature. 399 (6738): 772–776. Bibcode:1999Natur.399..772D. doi:10.1038/21631. ISSN 0028-0836. PMID 10391241.
  27. ↑ Sangwal, Keshra (2007). Additives and crystallization processes: from fundamentals to applications. John Wiley & Sons. hlm. 212. ISBN 978-0-470-06153-4.
  28. ↑ Becker, Wayne M. (1991). The world of the cell. Benjamin Cummings. ISBN 978-0-8053-0870-9.
  29. ↑ Knobil, Ernst (1998). Encyclopedia of reproduction. Vol. 1. Academic. hlm. 315. ISBN 978-0-12-227020-8.
  30. ↑ Schwartz, Jill (2010). Master the GED 2011. Peterson's. hlm. 371. ISBN 978-0-7689-2885-3.
  31. ↑ Hamilton, Matthew B. (2009). Population genetics. Wiley-Blackwell. hlm. 55. ISBN 978-1-4051-3277-0.
  32. ↑ Ville, Claude Alvin; Walker, Warren Franklin; Barnes, Robert D. (1984). General zoology. Saunders College. hlm. 467. ISBN 978-0-03-062451-3.
  33. ↑ Hamilton, William James; Boyd, James Dixon; Mossman, Harland Winfield (1945). Human embryology: (prenatal development of form and function). Williams & Wilkins. hlm. 330.
  34. ↑ Philips, Joy B. (1975). Development of vertebrate anatomy. Mosby. hlm. 176. ISBN 978-0-8016-3927-2.
  35. ↑ The Encyclopedia Americana. Vol. 10. 1918. hlm. 281.
  36. ↑ Romoser, William S.; Stoffolano, J. G. (1998). The science of entomology. WCB McGraw-Hill. hlm. 156. ISBN 978-0-697-22848-2.
  37. ↑ Charlesworth, D.; Willis, J. H. (2009). "The genetics of inbreeding depression". Nature Reviews Genetics. 10 (11): 783–796. doi:10.1038/nrg2664. PMID 19834483. S2CID 771357.
  38. ↑ Bernstein, H.; Hopf, F. A.; Michod, R. E. (1987). "The Molecular Basis of the Evolution of Sex". Molecular Genetics of Development. Advances in Genetics. Vol. 24. hlm. 323–370. doi:10.1016/s0065-2660(08)60012-7. ISBN 978-0-12-017624-3. PMID 3324702.
  39. ↑ Pusey, Anne; Wolf, Marisa (1996). "Inbreeding avoidance in animals". Trends Ecol. Evol. 11 (5): 201–206. Bibcode:1996TEcoE..11..201P. doi:10.1016/0169-5347(96)10028-8. PMID 21237809.
  40. ↑ Adiyodi, K. G.; Hughes, Roger N.; Adiyodi, Rita G. (July 2002). Reproductive Biology of Invertebrates. Vol. 11, Progress in Asexual Reproduction. Wiley. hlm. 116. ISBN 978-0-471-48968-9.
  41. ↑ Schatz, Phil. "Concepts of Biology: How Animals Reproduce". OpenStax College. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 March 2018. Diakses tanggal 5 March 2018.
  42. ↑ Marchetti, Mauro; Rivas, Victoria (2001). Geomorphology and environmental impact assessment. Taylor & Francis. hlm. 84. ISBN 978-90-5809-344-8.
  43. ↑ Levy, Charles K. (1973). Elements of Biology. Appleton-Century-Crofts. hlm. 108. ISBN 978-0-390-55627-1.
  44. ↑ Begon, M.; Townsend, C.; Harper, J. (1996). Ecology: Individuals, populations and communities (Edisi 3rd). Blackwell. ISBN 978-0-86542-845-4.
  45. ↑ Allen, Larry Glen; Pondella, Daniel J.; Horn, Michael H. (2006). Ecology of marine fishes: California and adjacent waters. University of California Press. hlm. 428. ISBN 978-0-520-24653-9.
  46. ↑ Caro, Tim (2005). Antipredator Defenses in Birds and Mammals. University of Chicago Press. hlm. 1–6 and passim.
  47. ↑ Simpson, Alastair G. B.; Roger, Andrew J. (2004). "The real 'kingdoms' of eukaryotes". Current Biology. 14 (17): R693 – R696. Bibcode:2004CBio...14.R693S. doi:10.1016/j.cub.2004.08.038. PMID 15341755. S2CID 207051421.
  48. ↑ Stevens, Alison N. P. (2010). "Predation, Herbivory, and Parasitism". Nature Education Knowledge. 3 (10): 36. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 September 2017. Diakses tanggal 12 February 2018.
  49. ↑ Jervis, M. A.; Kidd, N. A. C. (November 1986). "Host-Feeding Strategies in Hymenopteran Parasitoids". Biological Reviews. 61 (4): 395–434. doi:10.1111/j.1469-185x.1986.tb00660.x. S2CID 84430254.
  50. ↑ Meylan, Anne (22 January 1988). "Spongivory in Hawksbill Turtles: A Diet of Glass". Science. 239 (4838): 393–395. Bibcode:1988Sci...239..393M. doi:10.1126/science.239.4838.393. JSTOR 1700236. PMID 17836872. S2CID 22971831.
  51. ↑ Clutterbuck, Peter (2000). Understanding Science: Upper Primary. Blake. hlm. 9. ISBN 978-1-86509-170-9.
  52. ↑ Garrett, Reginald; Grisham, Charles M. (2010). Biochemistry. Cengage. hlm. 535. ISBN 978-0-495-10935-8.
  53. ↑ Castro, Peter; Huber, Michael E. (2007). Marine Biology (Edisi 7th). McGraw Hill. hlm. 376. ISBN 978-0-07-722124-9.
  54. ↑ Rota-Stabelli, Omar; Daley, Allison C.; Pisani, Davide (2013). "Molecular Timetrees Reveal a Cambrian Colonization of Land and a New Scenario for Ecdysozoan Evolution". Current Biology. 23 (5): 392–398. Bibcode:2013CBio...23..392R. doi:10.1016/j.cub.2013.01.026. PMID 23375891.
  55. ↑ Daeschler, Edward B.; Shubin, Neil H.; Jenkins, Farish A. Jr. (6 April 2006). "A Devonian tetrapod-like fish and the evolution of the tetrapod body plan". Nature. 440 (7085): 757–763. Bibcode:2006Natur.440..757D. doi:10.1038/nature04639. PMID 16598249.
  56. ↑ Clack, Jennifer A. (21 November 2005). "Getting a Leg Up on Land". Scientific American. 293 (6): 100–107. Bibcode:2005SciAm.293f.100C. doi:10.1038/scientificamerican1205-100. PMID 16323697.
  57. ↑ Margulis, Lynn; Schwartz, Karlene V.; Dolan, Michael (1999). Diversity of Life: The Illustrated Guide to the Five Kingdoms. Jones & Bartlett. hlm. 115–116. ISBN 978-0-7637-0862-7.
  58. ↑ Clarke, Andrew (2014). "The thermal limits to life on Earth" (PDF). International Journal of Astrobiology. 13 (2): 141–154. Bibcode:2014IJAsB..13..141C. doi:10.1017/S1473550413000438. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 April 2019.
  59. ↑ "Land animals". British Antarctic Survey. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 November 2018. Diakses tanggal 7 March 2018.
  60. ↑ Harvey, Gemma L.; Khan, Zareena; Albertson, Lindsey K.; Coombes, Martin; Johnson, Matthew F.; Rice, Stephen P.; Viles, Heather A. (2025-02-25). "Global diversity and energy of animals shaping the Earth's surface". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 122 (8) e2415104122. Bibcode:2025PNAS..12215104H. doi:10.1073/pnas.2415104122. ISSN 1091-6490. PMC 11874378. PMID 39964729.
  61. 1 2 3 Wood, Gerald (1983). The Guinness Book of Animal Facts and Feats. Enfield, Middlesex: Guinness Superlatives. ISBN 978-0-85112-235-9.
  62. ↑ Davies, Ella (20 April 2016). "The longest animal alive may be one you never thought of". BBC Earth. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2018. Diakses tanggal 1 March 2018.
  63. ↑ Mazzetta, Gerardo V.; Christiansen, Per; Fariña, Richard A. (2004). "Giants and Bizarres: Body Size of Some Southern South American Cretaceous Dinosaurs". Historical Biology. 16 (2–4): 71–83. Bibcode:2004HBio...16...71M. CiteSeerX 10.1.1.694.1650. doi:10.1080/08912960410001715132. S2CID 56028251.
  64. ↑ Curtice, Brian (2020). Dinosaur Systematics, Diversity, & Biology (PDF). Society of Vertebrate Paleontology. hlm. 92. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 19 October 2021. Diakses tanggal 30 December 2022.
  65. ↑ Fiala, Ivan (10 July 2008). "Myxozoa". Tree of Life Web Project. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 March 2018. Diakses tanggal 4 March 2018.
  66. ↑ Kaur, H.; Singh, R. (2011). "Two new species of Myxobolus (Myxozoa: Myxosporea: Bivalvulida) infecting an Indian major carp and a cat fish in wetlands of Punjab, India". Journal of Parasitic Diseases. 35 (2): 169–176. doi:10.1007/s12639-011-0061-4. PMC 3235390. PMID 23024499.
  67. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Zhang, Zhi-Qiang (30 August 2013). "Animal biodiversity: An update of classification and diversity in 2013". Zootaxa. 3703 (1). Magnolia Press: 5. doi:10.11646/zootaxa.3703.1.3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2019. Diakses tanggal 2 March 2018.
  68. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Balian, E. V.; Lévêque, C.; Segers, H.; Martens, K. (2008). Freshwater Animal Diversity Assessment. Springer. hlm. 628. ISBN 978-1-4020-8259-7.
  69. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Hogenboom, Melissa. "There are only 35 kinds of animal and most are really weird". BBC Earth. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2018. Diakses tanggal 2 March 2018.
  70. 1 2 3 4 5 6 7 8 Poulin, Robert (2007). Evolutionary Ecology of Parasites. Princeton University Press. hlm. 6. ISBN 978-0-691-12085-0.
  71. 1 2 3 4 Felder, Darryl L.; Camp, David K. (2009). Gulf of Mexico Origin, Waters, and Biota: Biodiversity. Texas A&M University Press. hlm. 1111. ISBN 978-1-60344-269-5.
  72. ↑ "How many species on Earth? About 8.7 million, new estimate says". 24 August 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 July 2018. Diakses tanggal 2 March 2018.
  73. ↑ Mora, Camilo; Tittensor, Derek P.; Adl, Sina; Simpson, Alastair G. B.; Worm, Boris (23 August 2011). Mace, Georgina M. (ed.). "How Many Species Are There on Earth and in the Ocean?". PLOS Biology. 9 (8) e1001127. doi:10.1371/journal.pbio.1001127. PMC 3160336. PMID 21886479.
  74. ↑ Hebert, Paul D. N.; Ratnasingham, Sujeevan; Zakharov, Evgeny V.; Telfer, Angela C.; Levesque-Beaudin, Valerie; et al. (1 August 2016). "Counting animal species with DNA barcodes: Canadian insects". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 371 (1702) 20150333. doi:10.1098/rstb.2015.0333. PMC 4971185. PMID 27481785.
  75. ↑ Stork, Nigel E. (January 2018). "How Many Species of Insects and Other Terrestrial Arthropods Are There on Earth?". Annual Review of Entomology. 63 (1): 31–45. doi:10.1146/annurev-ento-020117-043348. PMID 28938083. S2CID 23755007. Stork notes that 1m insects have been named, making much larger predicted estimates.
  76. ↑ Poore, Hugh F. (2002). "Introduction". Crustacea: Malacostraca. Zoological catalogue of Australia. Vol. 19.2A. CSIRO Publishing. hlm. 1–7. ISBN 978-0-643-06901-5.
  77. 1 2 3 4 Nicol, David (June 1969). "The Number of Living Species of Molluscs". Systematic Zoology. 18 (2): 251–254. doi:10.2307/2412618. JSTOR 2412618.
  78. ↑ Uetz, P. "A Quarter Century of Reptile and Amphibian Databases". Herpetological Review. 52: 246–255. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 February 2022. Diakses tanggal 2 October 2021 – via ResearchGate.
  79. 1 2 3 Reaka-Kudla, Marjorie L.; Wilson, Don E.; Wilson, Edward O. (1996). Biodiversity II: Understanding and Protecting Our Biological Resources. Joseph Henry. hlm. 90. ISBN 978-0-309-52075-1.
  80. ↑ Burton, Derek; Burton, Margaret (2017). Essential Fish Biology: Diversity, Structure and Function. Oxford University Press. hlm. 281–282. ISBN 978-0-19-878555-2. Trichomycteridae ... includes obligate parasitic fish. Thus 17 genera from 2 subfamilies, Vandelliinae; 4 genera, 9spp. and Stegophilinae; 13 genera, 31 spp. are parasites on gills (Vandelliinae) or skin (stegophilines) of fish.
  81. ↑ Sluys, R. (1999). "Global diversity of land planarians (Platyhelminthes, Tricladida, Terricola): a new indicator-taxon in biodiversity and conservation studies". Biodiversity and Conservation. 8 (12): 1663–1681. Bibcode:1999BiCon...8.1663S. doi:10.1023/A:1008994925673. S2CID 38784755.
  82. 1 2 Pandian, T. J. (2020). Reproduction and Development in Platyhelminthes. CRC Press. hlm. 13–14. ISBN 978-1-000-05490-3. Diakses tanggal 19 May 2020.
  83. ↑ Morand, Serge; Krasnov, Boris R.; Littlewood, D. Timothy J. (2015). Parasite Diversity and Diversification. Cambridge University Press. hlm. 44. ISBN 978-1-107-03765-6. Diakses tanggal 2 March 2018.
  84. ↑ Fontaneto, Diego. "Marine Rotifers: An Unexplored World of Richness" (PDF). JMBA Global Marine Environment. hlm. 4–5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 March 2018. Diakses tanggal 2 March 2018.
  85. ↑ May, Linda (1989). Epizoic and parasitic rotifers. Rotifer Symposium V: Proceedings of the Fifth Rotifer Symposium, held in Gargnano, Italy, September 11–18, 1988. Springer.
  86. ↑ Chernyshev, A. V. (September 2021). "An updated classification of the phylum Nemertea". Invertebrate Zoology. 18 (3): 188–196. doi:10.15298/invertzool.18.3.01. S2CID 239872311. Diakses tanggal 18 January 2023.
  87. ↑ Hookabe, Natsumi; Kajihara, Hiroshi; Chernyshev, Alexei V.; Jimi, Naoto; Hasegawa, Naohiro; Kohtsuka, Hisanori; Okanishi, Masanori; Tani, Kenichiro; Fujiwara, Yoshihiro; Tsuchida, Shinji; Ueshima, Rei (2022). "Molecular Phylogeny of the Genus Nipponnemertes (Nemertea: Monostilifera: Cratenemertidae) and Descriptions of 10 New Species, With Notes on Small Body Size in a Newly Discovered Clade". Frontiers in Marine Science. 9 906383. Bibcode:2022FrMaS...906383H. doi:10.3389/fmars.2022.906383. Diakses tanggal 18 January 2023.
  88. ↑ Hickman, Cleveland P.; Keen, Susan L.; Larson, Allan; Eisenhour, David J. (2018). Animal Diversity (Edisi 8th). McGraw Hill. ISBN 978-1-260-08427-6.
  89. ↑ Gold, David; et al. (22 February 2016). "Sterol and genomic analyses validate the sponge biomarker hypothesis". PNAS. 113 (10): 2684–2689. Bibcode:2016PNAS..113.2684G. doi:10.1073/pnas.1512614113. PMC 4790988. PMID 26903629.
  90. ↑ Love, Gordon; et al. (5 February 2009). "Fossil steroids record the appearance of Demospongiae during the Cryogenian period". Nature. 457 (7230): 718–721. Bibcode:2009Natur.457..718L. doi:10.1038/nature07673. PMID 19194449.
  91. ↑ Shen, Bing; Dong, Lin; Xiao, Shuhai; Kowalewski, Michał (2008). "The Avalon Explosion: Evolution of Ediacara Morphospace". Science. 319 (5859): 81–84. Bibcode:2008Sci...319...81S. doi:10.1126/science.1150279. PMID 18174439. S2CID 206509488.
  92. ↑ Chen, Zhe; Chen, Xiang; Zhou, Chuanming; Yuan, Xunlai; Xiao, Shuhai (1 June 2018). "Late Ediacaran trackways produced by bilaterian animals with paired appendages". Science Advances. 4 (6) eaao6691. Bibcode:2018SciA....4.6691C. doi:10.1126/sciadv.aao6691. PMC 5990303. PMID 29881773.
  93. ↑ Schopf, J. William (1999). Evolution!: facts and fallacies. Academic Press. hlm. 7. ISBN 978-0-12-628860-5.
  94. 1 2 Bobrovskiy, Ilya; Hope, Janet M.; Ivantsov, Andrey; Nettersheim, Benjamin J.; Hallmann, Christian; Brocks, Jochen J. (20 September 2018). "Ancient steroids establish the Ediacaran fossil Dickinsonia as one of the earliest animals". Science. 361 (6408): 1246–1249. Bibcode:2018Sci...361.1246B. doi:10.1126/science.aat7228. PMID 30237355.
  95. ↑ Zimorski, Verena; Mentel, Marek; Tielens, Aloysius G. M.; Martin, William F. (2019). "Energy metabolism in anaerobic eukaryotes and Earth's late oxygenation". Free Radical Biology and Medicine. 140: 279–294. doi:10.1016/j.freeradbiomed.2019.03.030. PMC 6856725. PMID 30935869.
  96. ↑ "Stratigraphic Chart 2022" (PDF). International Stratigraphic Commission. February 2022. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 April 2022. Diakses tanggal 25 April 2022.
  97. ↑ Maloof, A. C.; Porter, S. M.; Moore, J. L.; Dudas, F. O.; Bowring, S. A.; Higgins, J. A.; Fike, D. A.; Eddy, M. P. (2010). "The earliest Cambrian record of animals and ocean geochemical change". Geological Society of America Bulletin. 122 (11–12): 1731–1774. Bibcode:2010GSAB..122.1731M. doi:10.1130/B30346.1. S2CID 6694681.
  98. ↑ "New Timeline for Appearances of Skeletal Animals in Fossil Record Developed by UCSB Researchers". The Regents of the University of California. 10 November 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2014. Diakses tanggal 1 September 2014.
  99. ↑ Conway-Morris, Simon (2003). "The Cambrian "explosion" of metazoans and molecular biology: would Darwin be satisfied?". The International Journal of Developmental Biology. 47 (7–8): 505–515. doi:10.1387/ijdb.14756326. PMID 14756326. Diarsipkan dari asli tanggal 2 December 2024. Diakses tanggal 28 September 2024.
  100. ↑ Morris, Simon Conway (29 June 2006). "Darwin's dilemma: the realities of the Cambrian 'explosion'". Philosophical Transactions of the Royal Society of London. Series B, Biological Sciences. 361 (1470): 1069–83. doi:10.1098/rstb.2006.1846. PMC 1578734. PMID 16754615.
  101. ↑ "The Tree of Life". The Burgess Shale. Royal Ontario Museum. 10 June 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 16 February 2018. Diakses tanggal 28 February 2018.
  102. 1 2 Dunn, F. S.; Kenchington, C. G.; Parry, L. A.; Clark, J. W.; Kendall, R. S.; Wilby, P. R. (25 July 2022). "A crown-group cnidarian from the Ediacaran of Charnwood Forest, UK". Nature Ecology & Evolution. 6 (8): 1095–1104. Bibcode:2022NatEE...6.1095D. doi:10.1038/s41559-022-01807-x. PMC 9349040. PMID 35879540.
  103. ↑ Campbell, Neil A.; Reece, Jane B. (2005). Biology (Edisi 7th). Pearson, Benjamin Cummings. hlm. 526. ISBN 978-0-8053-7171-0.
  104. ↑ Maloof, Adam C.; Rose, Catherine V.; Beach, Robert; Samuels, Bradley M.; Calmet, Claire C.; Erwin, Douglas H.; Poirier, Gerald R.; Yao, Nan; Simons, Frederik J. (17 August 2010). "Possible animal-body fossils in pre-Marinoan limestones from South Australia". Nature Geoscience. 3 (9): 653–659. Bibcode:2010NatGe...3..653M. doi:10.1038/ngeo934.
  105. ↑ Seilacher, Adolf; Bose, Pradip K.; Pfluger, Friedrich (2 October 1998). "Triploblastic animals more than 1 billion years ago: trace fossil evidence from india". Science. 282 (5386): 80–83. Bibcode:1998Sci...282...80S. doi:10.1126/science.282.5386.80. PMID 9756480.
  106. ↑ Matz, Mikhail V.; Frank, Tamara M.; Marshall, N. Justin; Widder, Edith A.; Johnsen, Sönke (9 December 2008). "Giant Deep-Sea Protist Produces Bilaterian-like Traces". Current Biology. 18 (23): 1849–54. Bibcode:2008CBio...18.1849M. doi:10.1016/j.cub.2008.10.028. PMID 19026540. S2CID 8819675.
  107. ↑ Reilly, Michael (20 November 2008). "Single-celled giant upends early evolution". NBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2013. Diakses tanggal 5 December 2008.
  108. ↑ Bengtson, S. (2002). "Origins and early evolution of predation" (PDF). Dalam Kowalewski, M.; Kelley, P. H. (ed.). The fossil record of predation. The Paleontological Society Papers. Vol. 8. The Paleontological Society. hlm. 289–317. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 October 2019. Diakses tanggal 3 March 2018.
  109. ↑ Seilacher, Adolf (2007). Trace fossil analysis. Berlin: Springer. hlm. 176–177. ISBN 978-3-540-47226-1. OCLC 191467085.
  110. ↑ 2.3.CO;2"},"bibcode":{"wt":"1995Geo....23..269B"}},"i":0}}]}' id="mwD5I"/>Breyer, J. A. (1995). "Possible new evidence for the origin of metazoans prior to 1 Ga: Sediment-filled tubes from the Mesoproterozoic Allamoore Formation, Trans-Pecos Texas". Geology. 23 (3): 269–272. Bibcode:1995Geo....23..269B. doi:10.1130/0091-7613(1995)023<0269:PNEFTO>2.3.CO;2.
  111. ↑ Budd, Graham E.; Jensen, Sören (2017). "The origin of the animals and a 'Savannah' hypothesis for early bilaterian evolution". Biological Reviews. 92 (1): 446–473. doi:10.1111/brv.12239. hdl:10662/8091. PMID 26588818.
  112. ↑ Ros-Rocher, Núria; Pérez-Posada, Alberto; Leger, Michelle M.; Ruiz-Trillo, Iñaki (2021). "The origin of animals: an ancestral reconstruction of the unicellular-to-multicellular transition". Open Biology. 11 (2) 200359. The Royal Society. doi:10.1098/rsob.200359. PMC 8061703. PMID 33622103.
  113. ↑ Erives, Albert; Fritzsch, Bernd (2020). "A Screen for Gene Paralogies Delineating Evolutionary Branching Order of Early Metazoa". G3: Genes, Genomes, Genetics. 10 (2): 811–826. bioRxiv 10.1101/704551. doi:10.1534/g3.119.400951. PMC 7003098. PMID 31879283.
  114. ↑ Kapli, Paschalia; Telford, Maximilian J. (11 December 2020). "Topology-dependent asymmetry in systematic errors affects phylogenetic placement of Ctenophora and Xenacoelomorpha". Science Advances. 6 (10) eabc5162. Bibcode:2020SciA....6.5162K. doi:10.1126/sciadv.abc5162. PMC 7732190. PMID 33310849.
  115. ↑ Giribet, G.; Edgecombe, G.D. (2020). The Invertebrate Tree of Life. Princeton University Press. hlm. 21. ISBN 978-0-6911-7025-1. Diakses tanggal 27 May 2023.
  116. ↑ Wanninger, Andreas (2024). "Hox, homology, and parsimony: An organismal perspective". Seminars in Cell & Developmental Biology. 152–153: 16–23. doi:10.1016/j.semcdb.2023.01.007. PMID 36670036.
  117. ↑ Feuda, Roberto; Dohrmann, Martin; Pett, Walker; Philippe, Hervé; Rota-Stabelli, Omar; et al. (2017). "Improved Modeling of Compositional Heterogeneity Supports Sponges as Sister to All Other Animals". Current Biology. 27 (24): 3864–3870.e4. Bibcode:2017CBio...27E3864F. doi:10.1016/j.cub.2017.11.008. hdl:10449/43929. PMID 29199080.
  118. ↑ Schultz, Darrin T.; Haddock, Steven H. D.; Bredeson, Jessen V.; Green, Richard E.; Simakov, Oleg; Rokhsar, Daniel S. (2023-05-17). "Ancient gene linkages support ctenophores as sister to other animals". Nature. 618 (7963): 110–117. Bibcode:2023Natur.618..110S. doi:10.1038/s41586-023-05936-6. PMC 10232365. PMID 37198475.
  119. ↑ Bhamrah, H. S.; Juneja, Kavita (2003). An Introduction to Porifera. Anmol Publications. hlm. 58. ISBN 978-81-261-0675-2.
  120. 1 2 3 4 Schultz, Darrin T.; Haddock, Steven H. D.; Bredeson, Jessen V.; Green, Richard E.; Simakov, Oleg; Rokhsar, Daniel S. (17 May 2023). "Ancient gene linkages support ctenophores as sister to other animals". Nature. 618 (7963): 110–117. Bibcode:2023Natur.618..110S. doi:10.1038/s41586-023-05936-6. PMC 10232365. PMID 37198475. S2CID 258765122.
  121. ↑ Whelan, Nathan V.; Kocot, Kevin M.; Moroz, Tatiana P.; Mukherjee, Krishanu; Williams, Peter; et al. (9 October 2017). "Ctenophore relationships and their placement as the sister group to all other animals". Nature Ecology & Evolution. 1 (11): 1737–1746. Bibcode:2017NatEE...1.1737W. doi:10.1038/s41559-017-0331-3. PMC 5664179. PMID 28993654.
  122. ↑ Sumich, James L. (2008). Laboratory and Field Investigations in Marine Life. Jones & Bartlett Learning. hlm. 67. ISBN 978-0-7637-5730-4.
  123. ↑ Jessop, Nancy Meyer (1970). Biosphere; a study of life. Prentice-Hall. hlm. 428.
  124. ↑ Sharma, N. S. (2005). Continuity And Evolution Of Animals. Mittal Publications. hlm. 106. ISBN 978-81-8293-018-6.
  125. ↑ Langstroth, Lovell; Langstroth, Libby (2000). Newberry, Todd (ed.). A Living Bay: The Underwater World of Monterey Bay. University of California Press. hlm. 244. ISBN 978-0-520-22149-9.
  126. ↑ Safra, Jacob E. (2003). The New Encyclopædia Britannica. Vol. 16. Encyclopædia Britannica. hlm. 523. ISBN 978-0-85229-961-6.
  127. ↑ Kotpal, R.L. (2012). Modern Text Book of Zoology: Invertebrates. Rastogi Publications. hlm. 184. ISBN 978-81-7133-903-7.
  128. ↑ Barnes, Robert D. (1982). Invertebrate Zoology. Holt-Saunders International. hlm. 84–85. ISBN 978-0-03-056747-6.
  129. ↑ "Introduction to Placozoa". UCMP Berkeley. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2018. Diakses tanggal 10 March 2018.
  130. ↑ Srivastava, Mansi; Begovic, Emina; Chapman, Jarrod; Putnam, Nicholas H.; Hellsten, Uffe; et al. (1 August 2008). "The Trichoplax genome and the nature of placozoans". Nature. 454 (7207): 955–960. Bibcode:2008Natur.454..955S. doi:10.1038/nature07191. PMID 18719581. S2CID 4415492.
  131. 1 2 3 4 Minelli, Alessandro (2009). Perspectives in Animal Phylogeny and Evolution. Oxford University Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-856620-5.
  132. 1 2 3 4 5 6 Brusca, Richard C. (2016). "Introduction to the Bilateria and the Phylum Xenacoelomorpha | Triploblasty and Bilateral Symmetry Provide New Avenues for Animal Radiation". Invertebrates (PDF). Sinauer Associates. hlm. 345–372. ISBN 978-1-60535-375-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 April 2019. Diakses tanggal 4 March 2018.
  133. 1 2 Dunn, Casey W.; Giribet, Gonzalo; Edgecombe, Gregory D.; Hejnol, Andreas (23 November 2014). "Animal Phylogeny and Its Evolutionary Implications". Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics. 45 (1): 371–395. doi:10.1146/annurev-ecolsys-120213-091627.
  134. 1 2 Quillin, K. J. (May 1998). "Ontogenetic scaling of hydrostatic skeletons: geometric, static stress and dynamic stress scaling of the earthworm lumbricus terrestris". Journal of Experimental Biology. 201 (12): 1871–1883. Bibcode:1998JExpB.201.1871Q. doi:10.1242/jeb.201.12.1871. PMID 9600869. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 June 2020. Diakses tanggal 4 March 2018.
  135. 1 2 Telford, Maximilian J. (2008). "Resolving Animal Phylogeny: A Sledgehammer for a Tough Nut?". Developmental Cell. 14 (4): 457–459. doi:10.1016/j.devcel.2008.03.016. PMID 18410719.
  136. 1 2 Philippe, H.; Brinkmann, H.; Copley, R. R.; Moroz, L. L.; Nakano, H.; Poustka, A. J.; Wallberg, A.; Peterson, K. J.; Telford, M. J. (2011). "Acoelomorph flatworms are deuterostomes related to Xenoturbella". Nature. 470 (7333): 255–258. Bibcode:2011Natur.470..255P. doi:10.1038/nature09676. PMC 4025995. PMID 21307940.
  137. 1 2 Perseke, M.; Hankeln, T.; Weich, B.; Fritzsch, G.; Stadler, P. F.; Israelsson, O.; Bernhard, D.; Schlegel, M. (August 2007). "The mitochondrial DNA of Xenoturbella bocki: genomic architecture and phylogenetic analysis" (PDF). Theory Biosci. 126 (1): 35–42. Bibcode:2007ThBio.126...35P. CiteSeerX 10.1.1.177.8060. doi:10.1007/s12064-007-0007-7. PMID 18087755. S2CID 17065867. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 April 2019. Diakses tanggal 4 March 2018.
  138. 1 2 Cannon, Johanna T.; Vellutini, Bruno C.; Smith III, Julian.; Ronquist, Frederik; Jondelius, Ulf; Hejnol, Andreas (3 February 2016). "Xenacoelomorpha is the sister group to Nephrozoa". Nature. 530 (7588): 89–93. Bibcode:2016Natur.530...89C. doi:10.1038/nature16520. PMID 26842059. S2CID 205247296. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 21 February 2022.
  139. 1 2 Kapli, Paschalia; Natsidis, Paschalis; Leite, Daniel J.; Fursman, Maximilian; Jeffrie, Nadia; Rahman, Imran A.; Philippe, Hervé; Copley, Richard R.; Telford, Maximilian J. (19 March 2021). "Lack of support for Deuterostomia prompts reinterpretation of the first Bilateria". Science Advances. 7 (12) eabe2741. Bibcode:2021SciA....7.2741K. doi:10.1126/sciadv.abe2741. PMC 7978419. PMID 33741592.
  140. ↑ Bhamrah, H. S.; Juneja, Kavita (2003). An Introduction to Porifera. Anmol Publications. hlm. 58. ISBN 978-81-261-0675-2.
  141. ↑ Whelan, Nathan V.; Kocot, Kevin M.; Moroz, Tatiana P.; Mukherjee, Krishanu; Williams, Peter; et al. (9 October 2017). "Ctenophore relationships and their placement as the sister group to all other animals". Nature Ecology & Evolution. 1 (11): 1737–1746. Bibcode:2017NatEE...1.1737W. doi:10.1038/s41559-017-0331-3. PMC 5664179. PMID 28993654.
  142. ↑ Sumich, James L. (2008). Laboratory and Field Investigations in Marine Life. Jones & Bartlett Learning. hlm. 67. ISBN 978-0-7637-5730-4.
  143. ↑ Jessop, Nancy Meyer (1970). Biosphere; a study of life. Prentice-Hall. hlm. 428.
  144. ↑ Sharma, N. S. (2005). Continuity And Evolution Of Animals. Mittal Publications. hlm. 106. ISBN 978-81-8293-018-6.
  145. ↑ Langstroth, Lovell; Langstroth, Libby (2000). Newberry, Todd (ed.). A Living Bay: The Underwater World of Monterey Bay. University of California Press. hlm. 244. ISBN 978-0-520-22149-9.
  146. ↑ Safra, Jacob E. (2003). The New Encyclopædia Britannica. Vol. 16. Encyclopædia Britannica. hlm. 523. ISBN 978-0-85229-961-6.
  147. ↑ Kotpal, R.L. (2012). Modern Text Book of Zoology: Invertebrates. Rastogi Publications. hlm. 184. ISBN 978-81-7133-903-7.
  148. ↑ Barnes, Robert D. (1982). Invertebrate Zoology. Holt-Saunders International. hlm. 84–85. ISBN 978-0-03-056747-6.
  149. ↑ "Introduction to Placozoa". UCMP Berkeley. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2018. Diakses tanggal 10 March 2018.
  150. ↑ Srivastava, Mansi; Begovic, Emina; Chapman, Jarrod; Putnam, Nicholas H.; Hellsten, Uffe; et al. (1 August 2008). "The Trichoplax genome and the nature of placozoans". Nature. 454 (7207): 955–960. Bibcode:2008Natur.454..955S. doi:10.1038/nature07191. PMID 18719581. S2CID 4415492.
  151. ↑ Valentine, James W. (July 1997). "Cleavage patterns and the topology of the metazoan tree of life". PNAS. 94 (15): 8001–8005. Bibcode:1997PNAS...94.8001V. doi:10.1073/pnas.94.15.8001. PMC 21545. PMID 9223303.
  152. ↑ Peters, Kenneth E.; Walters, Clifford C.; Moldowan, J. Michael (2005). The Biomarker Guide: Biomarkers and isotopes in petroleum systems and Earth history. Vol. 2. Cambridge University Press. hlm. 717. ISBN 978-0-521-83762-0.
  153. ↑ Hejnol, A.; Martindale, M. Q. (2009). "The mouth, the anus, and the blastopore – open questions about questionable openings". Dalam Telford, M. J.; Littlewood, D. J. (ed.). Animal Evolution – Genomes, Fossils, and Trees. Oxford University Press. hlm. 33–40. ISBN 978-0-19-957030-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 October 2018. Diakses tanggal 1 March 2018.
  154. ↑ Safra, Jacob E. (2003). The New Encyclopædia Britannica, Volume 1; Volume 3. Encyclopædia Britannica. hlm. 767. ISBN 978-0-85229-961-6.
  155. ↑ Hyde, Kenneth (2004). Zoology: An Inside View of Animals. Kendall Hunt. hlm. 345. ISBN 978-0-7575-0997-1.
  156. ↑ Alcamo, Edward (1998). Biology Coloring Workbook. The Princeton Review. hlm. 220. ISBN 978-0-679-77884-4.
  157. ↑ Holmes, Thom (2008). The First Vertebrates. Infobase. hlm. 64. ISBN 978-0-8160-5958-4.
  158. ↑ Rice, Stanley A. (2007). Encyclopedia of evolution. Infobase. hlm. 75. ISBN 978-0-8160-5515-9.
  159. ↑ Tobin, Allan J.; Dusheck, Jennie (2005). Asking about life. Cengage. hlm. 497. ISBN 978-0-534-40653-0.
  160. ↑ Simakov, Oleg; Kawashima, Takeshi; Marlétaz, Ferdinand; Jenkins, Jerry; Koyanagi, Ryo; et al. (26 November 2015). "Hemichordate genomes and deuterostome origins". Nature. 527 (7579): 459–465. Bibcode:2015Natur.527..459S. doi:10.1038/nature16150. PMC 4729200. PMID 26580012.
  161. ↑ Dawkins, Richard (2005). The Ancestor's Tale: A Pilgrimage to the Dawn of Evolution. Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 381. ISBN 978-0-618-61916-0.
  162. ↑ Prewitt, Nancy L.; Underwood, Larry S.; Surver, William (2003). BioInquiry: making connections in biology. John Wiley. hlm. 289. ISBN 978-0-471-20228-8.
  163. ↑ Shankland, M.; Seaver, E.C. (2000). "Evolution of the bilaterian body plan: What have we learned from annelids?". Proceedings of the National Academy of Sciences. 97 (9): 4434–4437. Bibcode:2000PNAS...97.4434S. doi:10.1073/pnas.97.9.4434. JSTOR 122407. PMC 34316. PMID 10781038.
  164. 1 2 Gould, Stephen Jay (2011). The Lying Stones of Marrakech. Harvard University Press. hlm. 130–134. ISBN 978-0-674-06167-5.
  165. ↑ Leroi, Armand Marie (2014). The Lagoon: How Aristotle Invented Science. Bloomsbury. hlm. 111–119, 270–271. ISBN 978-1-4088-3622-4.
  166. ↑ Linnaeus, Carl (1758). Systema naturae per regna tria naturae: secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis [The System of Nature Through the Three Kingdoms of Nature] (dalam bahasa Latin) (Edisi 10th). Holmiae (Laurentii Salvii). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 October 2008. Diakses tanggal 22 September 2008.
  167. ↑ "Espèce de". Reverso dictionnnaire (dalam bahasa Prancis and Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 July 2013. Diakses tanggal 1 March 2018.
  168. ↑ de Wit, Hendrik C. D. (1994). Histoire du développement de la biologie (dalam bahasa Prancis). Vol. III. Presses polytechniques et universitaires Romandes. hlm. 94–96. ISBN 978-2-88074-264-5.
  169. 1 2 Valentine, James W. (2004). On the Origin of Phyla. University of Chicago Press. hlm. 7–8. ISBN 978-0-226-84548-7.
  170. ↑ Haeckel, Ernst (1874). Anthropogenie oder Entwickelungsgeschichte des menschen [Anthropogeny or the Development story of Humans] (dalam bahasa Jerman). W. Engelmann. hlm. 202.
  171. ↑ Hutchins, Michael (2003). Grzimek's Animal Life Encyclopedia (Edisi 2nd). Gale. hlm. 3. ISBN 978-0-7876-5777-2.
  172. 1 2 "Fisheries and Aquaculture". Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2009. Diakses tanggal 8 July 2016.
  173. 1 2 "Graphic detail Charts, maps and infographics. Counting chickens". The Economist. 27 July 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2016. Diakses tanggal 23 June 2016.
  174. ↑ Helfman, Gene S. (2007). Fish Conservation: A Guide to Understanding and Restoring Global Aquatic Biodiversity and Fishery Resources. Island. hlm. 11. ISBN 978-1-59726-760-1.
  175. ↑ "World Review of Fisheries and Aquaculture" (PDF). FAO. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 August 2015. Diakses tanggal 13 August 2015.
  176. ↑ Eggleton, Paul (17 October 2020). "The State of the World's Insects". Annual Review of Environment and Resources. 45 (1): 61–82. Bibcode:2020ARER...45...61E. doi:10.1146/annurev-environ-012420-050035.
  177. ↑ "Shellfish climbs up the popularity ladder". Seafood Business. January 2002. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2012. Diakses tanggal 8 July 2016.
  178. ↑ "Western honeybee". Encyclopædia Britannica. 2024-09-17. Diakses tanggal 2024-10-20.
  179. ↑ "Breeds of Cattle at Cattle Today". Cattle-today.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 July 2011. Diakses tanggal 15 October 2013.
  180. ↑ Lukefahr, S. D.; Cheeke, P. R. "Rabbit project development strategies in subsistence farming systems". Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2016. Diakses tanggal 23 June 2016.
  181. ↑ "Ancient fabrics, high-tech geotextiles". Natural Fibres. Diarsipkan dari asli tanggal 20 July 2016. Diakses tanggal 8 July 2016.
  182. ↑ "Cochineal and Carmine". Major colourants and dyestuffs, mainly produced in horticultural systems. FAO. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 March 2018. Diakses tanggal 16 June 2015.
  183. ↑ "Guidance for Industry: Cochineal Extract and Carmine". FDA. Diarsipkan dari asli tanggal 13 July 2016. Diakses tanggal 6 July 2016.
  184. ↑ "How Shellac Is Manufactured". The Mail. Adelaide. 18 December 1937. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2022. Diakses tanggal 17 July 2015.
  185. ↑ Pearnchob, N.; Siepmann, J.; Bodmeier, R. (2003). "Pharmaceutical applications of shellac: moisture-protective and taste-masking coatings and extended-release matrix tablets". Drug Development and Industrial Pharmacy. 29 (8): 925–938. doi:10.1081/ddc-120024188. PMID 14570313. S2CID 13150932.
  186. ↑ Barber, E. J. W. (1991). Prehistoric Textiles. Princeton University Press. hlm. 230–231. ISBN 978-0-691-00224-8.
  187. ↑ Munro, John H. (2003). "Medieval Woollens: Textiles, Technology, and Organisation". Dalam Jenkins, David (ed.). The Cambridge History of Western Textiles. Cambridge University Press. hlm. 214–215. ISBN 978-0-521-34107-3.
  188. ↑ Pond, Wilson G. (2004). Encyclopedia of Animal Science. CRC Press. hlm. 248–250. ISBN 978-0-8247-5496-9. Diakses tanggal 22 February 2018.
  189. ↑ "Genetics Research". Animal Health Trust. Diarsipkan dari asli tanggal 12 December 2017. Diakses tanggal 24 June 2016.
  190. ↑ "Drug Development". Animal Research.info. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 June 2016. Diakses tanggal 24 June 2016.
  191. ↑ "Animal Experimentation". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 July 2016. Diakses tanggal 8 July 2016.
  192. ↑ "EU statistics show decline in animal research numbers". Speaking of Research. 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 October 2017. Diakses tanggal 24 January 2016.
  193. ↑ "Vaccines and animal cell technology". Animal Cell Technology Industrial Platform. 10 June 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 July 2016. Diakses tanggal 9 July 2016.
  194. ↑ "Medicines by Design". National Institute of Health. Diarsipkan dari asli tanggal 4 June 2016. Diakses tanggal 9 July 2016.
  195. ↑ Fergus, Charles (2002). Gun Dog Breeds, A Guide to Spaniels, Retrievers, and Pointing Dogs. The Lyons Press. ISBN 978-1-58574-618-7.
  196. ↑ "History of Falconry". The Falconry Centre. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 May 2016. Diakses tanggal 22 April 2016.
  197. ↑ King, Richard J. (2013). The Devil's Cormorant: A Natural History. University of New Hampshire Press. hlm. 9. ISBN 978-1-61168-225-0.
  198. ↑ "Dendrobatidae". AmphibiaWeb. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2011. Diakses tanggal 10 October 2008.
  199. ↑ Heying, H. (2003). "Dendrobatidae". Animal Diversity Web. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2011. Diakses tanggal 9 July 2016.
  200. ↑ "Other bugs". Keeping Insects. 18 February 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 July 2016. Diakses tanggal 8 July 2016.
  201. ↑ Kaplan, Melissa. "So, you think you want a reptile?". Anapsid.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 July 2016. Diakses tanggal 8 July 2016.
  202. ↑ "Pet Birds". PDSA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 July 2016. Diakses tanggal 8 July 2016.
  203. ↑ "Animals in Healthcare Facilities" (PDF). 2012. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 March 2016.
  204. ↑ The Humane Society of the United States. "U.S. Pet Ownership Statistics". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 April 2012. Diakses tanggal 27 April 2012.
  205. ↑ "U.S. Rabbit Industry profile" (PDF). United States Department of Agriculture. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 October 2013. Diakses tanggal 10 July 2013.
  206. ↑ Plous, S. (1993). "The Role of Animals in Human Society". Journal of Social Issues. 49 (1): 1–9. doi:10.1111/j.1540-4560.1993.tb00906.x.
  207. ↑ Hummel, Richard (1994). Hunting and Fishing for Sport: Commerce, Controversy, Popular Culture. Popular Press. ISBN 978-0-87972-646-1.
  208. ↑ Lau, Theodora (2005). The Handbook of Chinese Horoscopes. Souvenir. hlm. 2–8, 30–35, 60–64, 88–94, 118–124, 148–153, 178–184, 208–213, 238–244, 270–278, 306–312, 338–344.
  209. ↑ Tester, S. Jim (1987). A History of Western Astrology. Boydell & Brewer. hlm. 31–33 and passim. ISBN 978-0-85115-446-6.
  210. 1 2 Hearn, Lafcadio (1904). Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things. Dover. ISBN 978-0-486-21901-1.
  211. ↑ De Jaucourt, Louis (January 2011). "Butterfly". Encyclopedia of Diderot and d'Alembert. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2016. Diakses tanggal 16 December 2023.
  212. ↑ Hutchins, M., Arthur V. Evans, Rosser W. Garrison and Neil Schlager (Eds) (2003), Grzimek's Animal Life Encyclopedia, 2nd edition. Volume 3, Insects. Gale, 2003.
  213. ↑ Jones, Jonathan (27 June 2014). "The top 10 animal portraits in art". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 May 2016. Diakses tanggal 24 June 2016.
  214. ↑ Paterson, Jennifer (29 October 2013). "Animals in Film and Media". Oxford Bibliographies. doi:10.1093/obo/9780199791286-0044. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 June 2016. Diakses tanggal 24 June 2016.
  215. ↑ Gregersdotter, Katarina; Höglund, Johan; Hållén, Nicklas (2016). Animal Horror Cinema: Genre, History and Criticism. Springer. hlm. 147. ISBN 978-1-137-49639-3.
  216. ↑ Warren, Bill; Thomas, Bill (2009). Keep Watching the Skies!: American Science Fiction Movies of the Fifties, The 21st Century Edition. McFarland & Company. hlm. 32. ISBN 978-1-4766-2505-8.
  217. ↑ Crouse, Richard (2008). Son of the 100 Best Movies You've Never Seen. ECW Press. hlm. 200. ISBN 978-1-55490-330-6.
  218. 1 2 "Deer". Trees for Life. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 June 2016. Diakses tanggal 23 June 2016.
  219. ↑ Ben-Tor, Daphna (1989). Scarabs, A Reflection of Ancient Egypt. Jerusalem: Israel Museum. hlm. 8. ISBN 978-965-278-083-6.
  220. ↑ Biswas, Soutik (15 October 2015). "Why the humble cow is India's most polarising animal". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 November 2016. Diakses tanggal 9 July 2016.
  221. ↑ van Gulik, Robert Hans. Hayagrīva: The Mantrayānic Aspect of Horse-cult in China and Japan. Brill Archive. hlm. 9.
  222. ↑ Grainger, Richard (24 June 2012). "Lion Depiction across Ancient and Modern Religions". Alert. Diarsipkan dari asli tanggal 23 September 2016. Diakses tanggal 6 July 2016.
  223. ↑ Read, Kay Almere; Gonzalez, Jason J. (2000). Mesoamerican Mythology. Oxford University Press. hlm. 132–134.
  224. ↑ Wunn, Ina (January 2000). "Beginning of Religion". Numen. 47 (4): 417–452. doi:10.1163/156852700511612. S2CID 53595088.
  225. ↑ McCone, Kim R. (1987). "Hund, Wolf, und Krieger bei den Indogermanen". Dalam Meid, W. (ed.). Studien zum indogermanischen Wortschatz (dalam bahasa Jerman). Innsbruck: Institut für Sprachwissenschaft der Universität Innsbruck. hlm. 101–154.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Animalia.
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Hewan.
  • Tree of Life Project. Diarsipkan 12 June 2011 di Wayback Machine..
  • Animal Diversity Web – University of Michigan's database of animals
  • l
  • b
  • s
Unsur alam
Alam semesta
  • Ruang
  • Waktu
  • Energi
  • Materi
    • partikel
    • unsur kimia
Bumi
  • Ilmu kebumian
  • Sejarah
    • geologi
  • Struktur
  • Geologi
  • Tektonika lempeng
  • Samudra
  • Hipotesis Gaia
  • Masa depan
Cuaca
  • Meteorologi
  • Angin
    • tornado
    • siklon tropis
  • Atmosfer (Bumi)
  • Awan
  • Hujan
  • Iklim
  • Pasang laut
  • Salju
  • Sinar matahari
Lingkungan hidup
  • Ekologi
  • Ekosistem
  • Medan
  • Radiasi
  • Zona liar
  • Kebakaran liar
Kehidupan
  • Asal-usul (abiogenesis)
  • Sejarah evolusi
  • Biosfer
  • Hierarki
  • Biologi
    • astrobiologi
  • Keanekaragaman hayati
  • Makhluk hidup
  • Eukariota
    • flora
      • tumbuhan
    • fauna
      • hewan
    • Fungi
    • protista
  • Prokariota
    • arkea
    • bakteri
  • Virus
  • Category Kategori
  • l
  • b
  • s
Klasifikasi Eukariota
Domain
Arkea
Bakteria
Eukaryota
(Kerajaan
Tumbuhan
Hacrobia
Heterokontophyta
Alveolata
Rhizaria
Excavata
Amoebozoa
Hewan
Fungi)
Amorphea
Amoebozoa
  • Discosea
  • Tubulinea
  • Eumycetozoa
  • Variosea
  • Archamoebea
  • Cutosea
   Obazoa   
  • Apusomonadida
  • Breviatea
Opisthokonta
Holomycota
  • Rotosphaerida
  • Fungi¹
   Holozoa   
  • Tunicaraptor
  • †Bicellum
  • Ichthyosporea
  • Pluriformea
Filozoa
  • Filasterea
Choanozoa
  • Choanoflagellata
  • Animalia¹
Diaphoretickes
  • Provora
Haptista
  • Centroplasthelida
  • Haptophyta
    TSAR    
  • Telonemia
     SAR     
Rhizaria
  • Cercozoa
  • Endomyxa
  • Foraminifera
  • Radiolaria
Alveolata
  • Colponemida*
  • Ciliophora
Myzozoa
  • Apicomplexa
  • Colpodellida
  • Dinoflagellata
  • Perkinsozoa
Stramenopila
  • Platysulcus
Bigyra
  • Bicosoecida
  • Placidozoa
  • Sagenista
Gyrista
  • Developea
  • Pirsoniales
  • Hyphochytriomycetes
  • Ochrophyta
  • Oomycetes
  • Actinophryida
     CAM     
Pan-Cryptista
  • Microheliella
Cryptista
  • Palpitomonas
  • Katablepharida
  • Cryptophyta
Archaeplastida
  • Glaucophyta
  • Picozoa
  • Rhodelphidia
  • Rhodophyta
Viridiplantae
(tumbuhan sensu lato)
  • Prasinodermophyta
  • Chlorophyta
Streptophyta
  • Chlorokybus
  • Mesostigma
  • Klebsormidiophyceae
  • Charophyceae
  • Coleochaetophyceae
  • Zygnematophyceae
  • Embryophyta¹
Excavates*
Discoba
  • Jakobida
  • Tsukubamonas
Discicristata
  • Heterolobosea
  • Euglenozoa
Metamonada
  • Barthelona
  • Anaeramoebae
  • Anaeromonada
  • Fornicata
  • Parabasalia
Malawimonada
  • Malawimonadidae
  • Imasidae
Incertae sedis
  • †Acritarchs
  • †Grypania
  • †Mikrobiota Gunflint
  • †Chitinozoa
  • Meteora sporadica
Hemimastigophora
  • Spironemidae
  • Spironematellidae
Ancyromonadida
  • Ancyromonadidae
  • Planomonadidae
CRuMs
  • Collodictyonidae
  • Mantamonadida
  • Rigifilida
  • ¹Kingdom tradisional dikecualikan dari protista
  • *kelompok parafiletik
  • tebal menandai kelompok dengan lebih dari 1000 spesies
  • l
  • b
  • s
Filum yang masih hidup dalam kerajaan Animalia
Domain
Arkea
Bakteria
Eukaryota
(Kerajaan
Tumbuhan
Hacrobia
Heterokontophyta
Alveolata
Rhizaria
Excavata
Amoebozoa
Hewan
Fungi)
A
n
i
m
a
l
i
a
  • Porifera (spons)
Diploblast
(Eumetazoa)
  • Ctenophora (ubur-ubur sisir)
ParaHoxozoa
  • Placozoa (Trichoplax)
Planulozoa
  • Cnidaria (ubur-ubur dan kerabatnya)
Bilateria
(Triploblast)
  • (lihat di bawah↓)
Bilateria
Xenacoelomorpha
  • Xenoturbellida (Xenoturbella)
  • Acoelomorpha
    • Acoela
    • Nemertodermatida
N
e
p
h
r
o
z
o
a
Deuterostomia
  • Chordata
    • Cephalochordata
    • Tunicata
    • Craniata / Vertebrata
Ambulacraria
  • Echinodermata (bintang laut dan kerabatnya)
  • Hemichordata
    • cacing acorn
    • Pterobranchia
P
r
o
t
o
s
t
o
m
i
a
Ecdysozoa
Scalidophora
  • Kinorhyncha (naga lumpur)
  • Priapulida (cacing penis)
N+L+P
Nematoida
  • Nematoda (cacing gilig)
  • Nematomorpha (cacing rambut kuda)
L+P
  • Loricifera
Panarthropoda
  • Onychophora (cacing beludru)
Tactopoda
  • Arthropoda (artropoda)
  • Tardigrada (beruang air)
S
p
i
r
a
l
i
a
Gnathifera¹
  • Chaetognatha (cacing panah)
  • Gnathostomulida (jaw worms)
  • Micrognathozoa (Limnognathia)
  • Syndermata
    • Rotifera
    • Acanthocephala
Platytrochozoa
R+M
Mesozoa
  • Orthonectida
  • Dicyemida atau Rhombozoa
Rouphozoa¹
  • Platyhelminthes (cacing pipih)
  • Gastrotricha (hairyback)
Lophotrochozoa
  • Cycliophora (Symbion)
  • Mollusca (moluska)
A+N
  • Annelida (cacing beruas)
  • Nemertea (cacing probosis)
Lophophorata
Bryozoa
  • Entoprocta atau Kamptozoa
  • Ectoprocta (hewan lumut)
Brachiozoa
  • Brachiopoda (kerang lentera)
  • Phoronida (cacing tapal kuda)
----
Kelompok utama
dalam filum
  • Porifera
    • Calcarea
    • Hexactinellida
    • Demospongiae
    • Homoscleromorpha
  • Cnidaria
    • Anthozoa mencakup koral
    • Medusozoa mencakup ubur-ubur
    • Myxozoa
  • Vertebrata
    • Ikan tak berahang
    • Ikan bertulang rawan
    • Ikan bertulang sejati
    • Amfibia
    • Reptilia/Burung
    • Mamalia
  • Echinodermata
    • Lili laut
    • Asterozoa mencakup bintang laut
    • Echinozoa
  • Nematoda
    • Chromadorea
    • Enoplea
    • Secernentea
  • Artropoda
    • Chelicerata/Araknida
    • Myriapoda
    • Krustasea
    • Hexapoda/Serangga
  • Platyhelminthes
    • Turbellaria
    • Trematoda
    • Monogenea
    • Cestoda
  • Bryozoa
    • Phylactolaemata
    • Stenolaemata
    • Gymnolaemata
  • Annelida
    • Polychaeta
    • Clitellata
    • Echiura
  • Moluska
    • Gastropoda
    • Sefalopoda
    • Bivalvia
    • Polyplacophora
    • Scaphopoda
Filum dengan ≥5000 spesies yang masih hidup dicetak tebal
Lihat pula
Diploblast
Monoblastozoa (nomen dubium)
  • ¹Platyzoa
Pengidentifikasi takson
Animalia
  • Wikidata: Q729
  • Wikispecies: Animalia
  • ADW: Animalia
  • AFD: Animalia
  • CoL: N
  • EoL: 1
  • EPPO: 1ANIMK
  • Fauna Europaea: 1
  • Fauna Europaea (new): dada6f44-b7b5-4c0a-9f32-980f54b02c36
  • GBIF: 1
  • iNaturalist: 1
  • ITIS: 202423
  • Lygaeoidea Species File (new): 936783
  • MilliBase: 2
  • NBN: NBNSYS0100001342
  • NZOR: f38e12bf-0be7-4f13-b739-e2bc1b763ae0
  • Paleobiology Database: 325038
  • WoRMS: 2
  • ZooBank: 0EA9A33B-6B31-4551-B4E2-A772AAF96231
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Jepang
  • Republik Ceko
    • 2
  • Israel
Lain-lain
  • NARA
  • İslâm Ansiklopedisi
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Karakteristik
  3. Ciri-ciri struktural
  4. Perkembangan
  5. Reproduksi
  6. Ekologi
  7. Keanekaragaman
  8. Ukuran
  9. Jumlah dan habitat filum utama
  10. Asal usul evolusi
  11. Filogeni
  12. Filogeni eksternal
  13. Filogeni internal
  14. Non-bilateria
  15. Bilateria
  16. Non-bilateria

Artikel Terkait

Makhluk hidup

setiap maujud jasmani hidup yang berdekatan; maujud atau makhluk yang hidup; makhluk hidup individu, seperti satu hewan, tumbuhan, jamur, atau bakteri

Kehidupan

bentuk materi yang dapat mengambil energi dari lingkungan untuk replikasi

Mikroorganisme

organisme berukuran mikroskopik

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026