Konferensi Tingkat Tinggi Amerika Serikat–Rusia 2025 adalah sebuah konferensi tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. KTT ini diselenggarakan pada 15 Agustus 2025 di Pangkalan Gabungan Elmendorf–Richardson di Anchorage, Alaska. Topik utama yang dibahas adalah Perang Rusia–Ukraina yang masih berlanjut dengan Trump ingin mengakhiri perang. KTT ini berakhir tanpa kesepakatan yang akan diumumkan, tetapi Trump kemudian mengisyaratkan bahwa menurut pandangannya, tanggung jawab sekarang ada di tangan Ukraina untuk menyerahkan wilayahnya agar perang berakhir.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Konferensi Tingkat Tinggi Amerika Serikat–Rusia 2025 2025 Russia–United States Summit Саммит Россия — США на Аляске | |
|---|---|
Vladimir Putin dan Donald Trump selama KTT | |
| Tuan rumah | |
| Tanggal | 15 Agustus 2025 |
| Tempat | Pangkalan Gabungan Elmendorf–Richardson |
| Kota | Anchorage, Alaska |
| Peserta | |
| Sebelumnya | 2021 |
| ||
|---|---|---|
Kampanye presiden Kontroversi Rusia Bisnis dan pribadi |
||
| ||
|---|---|---|
|
Personal Kebijakan Pemilu |
||
Konferensi Tingkat Tinggi Amerika Serikat–Rusia 2025 (juga dikenal sebagai Alaska 2025 atau Konferensi Tingkat Tinggi Trump–Putin) adalah sebuah konferensi tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. KTT ini diselenggarakan pada 15 Agustus 2025 di Pangkalan Gabungan Elmendorf–Richardson di Anchorage, Alaska.[1] Topik utama yang dibahas adalah Perang Rusia–Ukraina yang masih berlanjut dengan Trump ingin mengakhiri perang.[2][3] KTT ini berakhir tanpa kesepakatan yang akan diumumkan, tetapi Trump kemudian mengisyaratkan bahwa menurut pandangannya, tanggung jawab sekarang ada di tangan Ukraina untuk menyerahkan wilayahnya agar perang berakhir.[4]
Ini adalah pertama kalinya Putin diundang ke negara barat sejak ia memerintahkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Putin menghadapi surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (di mana Amerika Serikat tidak lagi menjadi anggota aktif)[5] karena diduga[6] melakukan kejahatan perang. Ini juga pertama kalinya kunjungan presiden Rusia ke Amerika Serikat dilakukan di pangkalan militer AS.[7] Ini adalah pertemuan pertama antara Trump dan Putin sejak Trump terpilih kembali pada tahun 2024, yang pertama di antara mereka sebagai presiden yang sedang menjabat sejak pertemuan terakhir mereka pada tahun 2019 di Osaka, pertemuan puncak pertama mereka sejak KTT Helsinki 2018, dan pertemuan pertama antara presiden kedua negara sejak invasi Rusia ke Ukraina, yang terjadi delapan bulan setelah KTT Rusia–Amerika Serikat 2021 antara Joe Biden dan Putin.[8] Ini adalah kunjungan pertama Putin ke Amerika Serikat sejak tahun 2015 ketika ia menghadiri sidang ke-70 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York City.[7] Ini juga merupakan pertemuan pertama yang diselenggarakan AS antara presiden Rusia dan Amerika Serikat sejak tahun 2007, ketika Putin bertemu dengan George W. Bush di Maine.[9][10][11]

Pada Februari 2022, Putin memerintahkan invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, yang memicu perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Selama pemilihan presiden 2024, Donald Trump, yang saat itu masih menjadi calon presiden, berkampanye dengan janji untuk mengakhiri perang di hari pertamanya menjabat. Trump bahkan berjanji bahwa ia akan mencoba mencari perdamaian sebelum dipilih kembali atau disumpah kembali menjadi presiden.[12] Trump menjadi presiden pada Januari 2025. Pada 12 Februari 2025, ia melakukan panggilan telepon mendadak dengan Putin yang menghasilkan negosiasi antara Rusia dan AS untuk pertama kalinya sejak invasi.[13] Akhir bulan itu, Sekretaris Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mulai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Arab Saudi.[14] Selama beberapa bulan berikutnya, Trump terus berkomunikasi dengan Putin melalui panggilan telepon dan postingan Truth Social.[15][16]
Trump berulang kali mengancam Putin bahwa ia akan menangguhkan sanksi ekonomi yang sudah diterapkan terhadap Rusia jika Rusia tidak berhenti menyerang Ukraina. Putin berulang kali menghiraukan ancaman tersebut dan Trump tidak menindaklanjutinya.[17][18]
Pada 8 Mei, Trump mengancam bahwa Amerika Serikat akan menerapkan sanksi lanjutan terhadap Rusia jika mereka tidak memberlakukan gencatan senjata selama 30 hari tanpa syarat.[19] Rusia menolak untuk memberlakukan gencatan senjata dan melanjutkan serangan ke Ukraina.[20]
Presiden Putin dan Volodymyr Zelenskyy direncanakan akan bertemu untuk melakukan negosiasi di Istanbul pada 15 Mei 2025, dan Trump menyatakan bahwa dirinya akan kemungkinan hadir. Namun, Putin tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Trump kemudian memberi alasan mengenai ketidakhadiran Putin, berkata bahwa satu-satu alasan mengapa Putin tidak hadir adalah karena Trump tidak hadir, dan perundingan perdamaian dapat terwujud jika Putin dan Trump bertemu.[18]
Pada tanggal 28 Mei, Trump mengatakan dia akan tahu dalam waktu dua minggu apakah Putin serius ingin mengakhiri perang atau hanya "menuntun kita".[2][21] Pada bulan Mei, Juni dan Juli, serangan rudal dan pesawat tak berawak Rusia terhadap Ukraina meningkat drastis.[22] Trump berkata kepada wartawan "Saya pulang, saya berkata kepada ibu negara: 'Kamu tau, saya sedang berbicara dengan Vladimir hari ini. Kita memiliki percakapan yang indah.' Dan ia berkata: 'Oh ya? Satu kota [Ukraina] barusan saja diserang.'"[23] Setelah Trump mengancam akan mengeluarkan sanksi dan mengkritik Putin di Truth Social, termasuk ungkapan "Vladimir, STOP!",[24][25] Kremlin Moskow mendeskripsikan ancaman dan kritikan Trump di Truth Social sebagai "emosional".[26]
Pada 14 Juli 2025, Trump setelah bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menerapkan penambahan sanksi ekonomi kepada Rusia dan menetapkan tarif 100% terhadap produk buatan negara-negara yang membeli minyak bumi Rusia jika Putin tidak menghentikan perang dalam waktu 50 hari.[27] Kemudian pada 28 Juli saat bertemu dengan Perdana Menteri Britania Raya Keir Starmer, Trump mengumumkan bahwa batas waktu tersebut akan dimajukan menjadi 10 sampai 12 hari dengan alasan kurangnya perkembangan.[28][29] Dua hari sebelum jatuh tempo, utusan khusus Steve Witkoff bertemu dengan Putin di Moskow pada 6 Agustus.[30] Setelah pertemuan Putin dan Witkoff, Trump menyatakan bahwa ada "kesempatan baik" bahwa pertemuan dengan Putin akan dilakukan "segera mungkin".[31] Pada hari jatuh tempo yang tertanggal 8 Agustus, Trump tidak menerapkan sanksi dan malah mengumumkan bahwa ia akan menjamu Putin di Alaska pada 15 Agustus.[32]

Tidak lama sebelum pertemuan di Alaska, Trump mengancam bahwa ada "konsekuensi berat" untuk Rusia jika Putin tidak menyetujui mosi gencatan senjata.[33]
Sejak September 2022, Rusia telah menguasai empat oblast dari Ukraina ditambah Krimea pada 2014. Sebelum KTT ini diselenggarakan, Rusia memiliki 88% wilayah Donbas (75% wilayah Donetsk dan 100% wilayah Luhansk) dan 74% wilayah Kherson dan Zaporizhzhia dan beberapa kantong wilayah di oblast lain seperti di Kharkiv dan Sumy.[34] Rusia juga mendapatkan wilayah yang kecil dari serangan Pokrovsk di wilayah Donbas.[35]
Pada 31 Juli 2025, mantan Presiden Rusia dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia Dmitry Medvedev membuat sebuah postingan Telegram yang memeringati Donald Trump mengenai ancaman "Tangan Maut", merujuk pada mekanisme peluncuran nuklir otomatis Soviet. Medvedev awalnya mengecam ultimatum Trump mengenai sanksi dalam waktu 50 hari yang kemudian dimajukan menjadi 10-12 hari, memanggilnya sebagai ancaman perang dan mengingatkan bahwa "Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran dan setiap ultimatum baru adalah ancaman perang" serta memeringati Trump bahwa "janganlah bersikap seperti Sleepy Joe".[36] Pada 1 Agustus, Trump mengumumkan bahwa ia telah menempatkan dua kapal selam nuklir dekat perairan Rusia sebagai bentuk tanggapan ancaman dan membalikkan ancaman kepada Medvedev dengan berkata "Kata-kata sangat penting, dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini bukan salah satu contohnya".[37] Berdasarkan protokol militer, Trump tidak memberitahukan apakah kedua kapal selam tersebut disenjatai secara nuklir.[37]
Pada 4 Agustus, Rusia mengumumkan bahwa mereka tidak lagi terikat dengan Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (Trakat INF) yang Amerika sendiri telah menarik diri pada 2019.[38] Pada hari berikutnya, sebuah pesawat "pengendus nuklir" Boeing WC-135R Constant Phoenix terbang dekat Semenanjung Kola. Para analis mengatakan penerbangan itu dapat mengindikasikan uji coba mendatang rudal jelajah bertenaga nuklir 9M730 Burevestnik, yang sebelumnya diuji di Oblast Arkhangelsk.[39]
Presiden Donald Trump menyatakan pada 7 Agustus 2025 bahwa Vladimir Putin tidak harus bertemu dengan Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.[40] Trump juga berkata bahwa kedua pihak harus mengalah dan membuat konsesi. Sumber dari Kremlin Moskow menyatakan bahwa perang bisa dihentikan jika Ukraina Timur diberikan kepada Rusia.[41]
Pada 8 Agustus di Truth Social, Trump mengumumkan bahwa ia berencana untuk bertemu Putin di Alaska.[2] Ajudan Kremlin Yuri Ushakov kemudian mengonfirmasi pembicaraan tersebut, sambil merenungkan bahwa Alaska "cukup logis" untuk sebuah tempat.[42] Alaska mungkin dipilih karena lokasinya di antara kedua ibu kota, kurangnya partisipasi AS dalam Statuta Roma untuk melaksanakan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional terhadap Putin, serta karena signifikansi historisnya, termasuk bekas kolonisasi Rusia, komunitas Ortodoks Rusia modern, dan penggunaan militer saat Perang Dingin.[43]
Pada 14 Agustus, Ushakov mengumumkan bahwa delegasi Rusia akan terdiri dari dirinya, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, Menteri Pertahanan Andrey Belousov, Menteri Keuangan Anton Siluanov dan Utusan Khusus Presiden untuk Investasi Asing dan Kerja Sama Ekonomi Kirill Dmitriev.[44]
Menjelang pertemuan puncak tersebut, Putin menyarankan negosiasi dapat mencakup perjanjian senjata nuklir, seperti pembaruan New START yang berakhir pada Februari 2026.[45][46]
Beberapa ratusan orang menyelenggarakan unjuk rasa pro-Ukraina.[47][48] Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov datang ke penginapan delegasi Rusia mengenakan kaus yang bertulis CCCP (USSR) di bawah rompi cuaca dinginnya. The Guardian melaporkan bahwa kaus yang dipakai Lavrov adalah bentuk "tindakan hastuan yang tidak begitu halus".[49][50] Lavrov menyatakan bahwa Rusia akan memberikan pesan yang jelas untuk negara Barat dan mereka akan memberikan pondasi argumen yang jelas atas tindakan mereka.[51]
Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengunjungi Moskow untuk bertemu dengan Vladimir Putin pada 6 Agustus dan kedua pihak memiliki pertemuan yang "sangat produktif".[52] Karena pertemuan ini, kedua pemimpin sepakat untuk bertemu dengan Trump mengumumkan pada 8 Agustus bahwa akan ada konferensi tingkat tinggi antar keduanya pada 15 Agustus 2025, menyebabkan kedua pihak hanya memiliki seminggu untuk menyelesaikan masalah diplomatik dan logistik.[53] Kedua pihak memutuskan untuk memilih Alaska sebagai tempat pertemuan karena alasan yang praktis secara logistik dan wilayah tersebut memiliki signifikasi simbolis dengan memiliki sejarah yang melibatkan kedua negara (Alaska merupakan koloni Rusia sampai 1867). Ajudan presiden Yuri Ushakov menyetujui keputusan ini sebagai keputusan logis, menyebut bahwa Amerika Serikat dan Rusia merupakan tetangga yang dekat dan mengharapkan bahwa pertemuan berikutnya dapat dilakukan di wilayah Rusia.[54] Gubernur Alaska Mike Dunleavy menyatakan bahwa Alaska adalah tempat yang strategis sebagai penjaga perbatasan Amerika Serikat dan bertetangga langsung dengan Rusia sebagai satu-satunya negara bagian AS yang dekat di Lingkar Arktik, maka layak dijadikan tempat pertemuan antar kedua pemimpin.[55] Kedua pihak memutuskan untuk mengadakan pertemuan puncak di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson dekat Anchorage.[1] Pangkalan ini, yang dibentuk pada tahun 2010 dengan menggabungkan Pangkalan Angkatan Udara Elmendorf dan Fort Richardson, belum pernah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin Rusia sebelumnya, yang menekankan keunikan dari acara tersebut.[56][57]
Selain alasan logistik dan diplomatik, masalah keamanan juga menjadi tantangan dalam konferensi ini. United States Secret Service yang bertugas untuk mengamankan presiden dan tokoh pemerintah lainnya dihadapi masalah sumber daya manusia. Saat Trump mengumumkan tempat pertemuannya, hanya ada 1 agen yang ditugaskan ke Alaska.[53] Selain itu, masalah akomodasi penginapan bagi kedua delegasi juga dipermasalahkan karena kekurangan ruangan penginapan. Beberapa jurnalis dan anggota delegasi ditempatkan dalam sebuah asrama milik Universitas Alaska Anchorage.[58][59] Selain itu, USSS juga harus melakukan pengamanan menjelang Sidang Umum PBB di New York dan kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance di Britania Raya.[53]
Kemudian, menit-menit pertemuan antar kedua pemimpin juga disusun. Direncanakan bahwa pertemuan ini akan dimulai pada jam 11:30 Waktu Standar Alaska dengan percakapan empat mata antar presiden dengan hanya hadir penerjemah. Kemudian, pembicaraan lima lawan lima dan sarapan pagi dalam format yang diperluas direncanakan.[53][59][60] Pertemuan itu akan diakhiri dengan konferensi pers bersama, meski Trump belum mengonfirmasi partisipasinya sebelumnya.[57] Tercatat bahwa rencana latihan militer AS di pangkalan tersebut telah dibatalkan selama KTT berlangsung, dan personel telah dikirim untuk memastikan keamanan acara tersebut.[60]

Di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, sebuah karpet merah yang disusun secara huruf L disiapkan untuk kedua pemimpin untuk berjalan ke platform yang diberi label "ALASKA 2025" dengan empat jet tempur F-22 Raptor berbaris di sampingnya.[61][62] Keempat F-22 Raptor tersebut diparkirkan untuk menunjukkan kekuatan militer Amerika Serikat.[62] Presiden Trump tiba di Elmendorf menumpangi Air Force One pada pukul 10:22 pagi AKDT.[63] Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengumumkan bahwa pertemuan tatap muka antara Trump dan Putin telah ditiadakan dan akan diganti dengan pertemuan enam orang dengan Steve Witkoff dan Marco Rubio di sisi Trump sementara Putin ditemani oleh Sergey Lavrov dan Yuri Ushakov.[61] Atas permintaan Rusia, Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Ukraina Keith Kellogg tidak disertakan dalam pertemuan ini karena Moskow memandang Kellogg "terlalu pro-Ukraina".[64] Presiden Trump kemudian bertemu dengan Gubernur Alaska Mike Dunleavy dan beberapa Senator Amerika Serikat.[61]


Presiden Putin terbang ke Alaska dari Magadan menumpangi sebuah Ilyushin Il-96. Putin sebelumnya memiliki agenda pertemuan dengan pemerintahan daerah untuk menelusuri perkembangan wilayah Timur Jauh Rusia.[65] Pesawatnya mendarat di Alaska pada jam 10:55 pagi waktu setempat.[61][66] Upacara penyambutan diselenggarakan dengan memperhatikan protokol secara ketat. Kedua pemimpin keluar dari pesawat mereka pada sekitar jam 11:08 pagi dan berjalan diatas karpet yang disiapkan, dengan Trump menepuk tangan untuk Putin saat keduanya mulai mendekat.[67] Kedua pemimpin kemudian berjabat tangan di karpet merah dan berpose di panggung ALASKA 2025 untuk fotografer pers sebelum berjabat tangan lagi. Mereka kemudian menaiki mobil kepresidenan untuk perjalanan menuju tempat pertemuan.[61] Putin kemudian mengungkapkan bahwa kalimat pertamanya kepada Trump adalah, "Selamat siang, wahai tetangga, sangat senang melihat anda sehat dan melihat anda masih hidup" dalam referensi bahwa Trump selamat dalam upaya pembunuhannya selama kampanye presiden 2024.[67] Saat kedua pemimpin mengambil tempat, keduanya menyaksikan sebuah aksi flypast oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, yang terdiri dari sebuah pesawat pengebom Northrop Grumman B-2 Spirit ditemani empat pesawat Lockheed Martin F-35 Lightning II.[68] Trump kemudian menunjukkan pesawat-pesawat tersebut kepada Putin dan berkata, "Ini untuk anda".[67]
Setelah itu, dua jurnalis mulai membombardir pertanyaan kepada Presiden Putin saat kedua pemimpin akan turun panggung. Kedua jurnalis menanyakan "Presiden Putin, apakah anda akan menyetujui gencatan senjata?", "Pak Putin, apakah anda meremehkan Ukraina?", "Bapak Presiden, apa pesan anda untuk Vladimir Putin?" dan "Presiden Putin, bagaimana Amerika Serikat bisa memercayai anda?". Saat jurnalis tersebut menanyakan kepada Putin apakah ia akan berhenti membunuh warga sipil, Putin mengayunkan tangan membuat gestur yang mengisyaratkan bahwa ia tidak mendengarkannya.[69]
Keduanya berangkat menuju ke lokasi konferensi tingkat tinggi bersama dengan Rossiya-24 meliputi bahwa Trump mengundang Putin untuk menumpangi mobil kepresidenannya, The Beast, menolak iringan mobil terpisah.[70] Putin setuju, meninggalkan mobil limosin Aurus Senat yang disiapkan sebelumnya.[66] Perjalanan ini berlangsung selama 10 menit tanpa penerjemah karena kemampuan bahasa Inggris Presiden Putin dan kedua pemimpin tertampak saling senyum.[67] Tindakan Trump dinilai sebagai bentuk kepercayaan yang simbolis; Pada 2018, penasihatnya menyarankan Trump untuk tidak memberikan keistimewaan ini kepada Kim Jong-un.[61]
Pertemuan bilateral dimulai pada perkiraan jam 11:32 waktu setempat dan berakhir pada jam 14:18.[61] Sebuah konferensi pers diadakan pada pukul sekitar 14:58.[61] Pertemuan ini dilakukan dalam sebuah fasilitas sementara di Bandar Udara Internasional Ted Stevens Anchorage.[71] Sebelum pertemuan dimulai, kedua pemimpin berfoto di panggung yang disediakan. Pertemuan ini mengangkat tema Pursuing Peace (Indonesia: Mengejar perdamaian) yang ditulis di spanduk dibelakang kedua pemimpin.[72] Seorang jurnalis kemudian bertanya kepada Presiden Putin dengan bahasa Rusia, menanyakan apakah Putin bersedia untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Putin hanya memberi jawaban setengah.[73]
Topik utama yang diangkat adalah Invasi Ukraina oleh Rusia. Putin mengulangi tesisnya bahwa invasi tersebut ada hubungannya dengan “ancaman mendasar” terhadap keamanan Rusia dan bahwa untuk menyelesaikan konflik tersebut, perlu “menghilangkan akar penyebab krisis”.[74] Trump fokus pada masalah “jaminan keamanan untuk Ukraina” dan menegaskan bahwa ia telah berdiskusi dengan Putin tentang parameter kemungkinan “kesepakatan” antara Moskow dan Kiev. Menurutnya, ia merekomendasikan agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyetujuinya, karena “Rusia adalah negara yang sangat kuat, sedangkan Ukraina bukan”.[74][75] Walaupun Trump sendiri menyatakan bahwa pembicaraan berlangsung hangat dan produktif, dan berkemungkinan besar dapat menghasilkan sebuah kesepakatan, tidak ada kesepakatan gencatan senjata dibuat selama pertemuan ini.[72] Putin juga menyatakan bahwa ia bersedia untuk berbicara dengan Zelenskyy tetapi maklumat Presiden Ukraina pada 2022 yang menutup segala bentuk negosiasi menjadi alasan kenapa Putin tidak menghubungi Zelenskyy.[76]
Saat bersamaan, Putin setuju bahwa hasil pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2020 telah dimanipulasi untuk menguntungkan Joe Biden dan kecurangan ini terkait dengan pemungutan suara melalui pos.[67] Putin memuji Trump sebagai orang yang "pintar dan pragmatis" dan keduanya memiliki pemikiran bisnis, pragmatis tetapi saling percaya. Ia menyayangkan bahwa rasa kepercayaan tersebut dihancurkan karena kecurangan Partai Demokrat dan mengaku bahwa bila Trump masih presiden, ia tidak akan melakukan invasi.[76]
Dalam konferensi pers pertemuan bilateral mereka, Trump mengatakan pembicaraan itu "sangat konstruktif" dan kedua belah pihak telah mencapai "konsensus awal" mengenai beberapa isu, tetapi tidak mengungkapkan detail spesifiknya. Ia menekankan bahwa ia "berharap melihat gencatan senjata hari ini" dan memperingatkan bahwa "jika gencatan senjata tidak tercapai dalam jangka pendek, Amerika Serikat akan mengevaluasi kembali pilihan kebijakannya."[77][78] Sementara Putin menekankan bahwa Rusia "bersedia melanjutkan dialog", tetapi pada saat yang sama menuduh sanksi Barat sebagai hambatan utama yang "merusak upaya perdamaian". Ia mengatakan bahwa komunikasinya dengan Trump "terus terang dan langsung" dan memuji pihak AS karena menunjukkan kesediaannya untuk mendorong negosiasi.[79][80] KTT tersebut tidak menghasilkan gencatan senjata atau perjanjian damai, dan perang di Ukraina terus berlanjut. Amerika Serikat dan Rusia hanya sepakat untuk tetap membuka jalur diplomatik dan mendorong keterlibatan militer untuk menghindari salah perhitungan. KTT tersebut dipandang oleh dunia luar sebagai pertemuan perundingan yang "lebih bersifat simbolis daripada substansial."[81][82]
Di hadapan jurnalis yang sedang membombardir pertanyaan kepada kedua pemimpin, Vladimir Putin tertangkap kamera sedang melakukan beberapa ekspresi wajah, termasuk serangkaian ekspresi bingung. Momen ini diabadikan sebagai meme internet yang viral yang menggambarkan kebingungan dalam menghadapi situasi yang sangat "membagongkan".[83][84][85]
Dalam pertemuan tersebut, Trump memberikan hadiah cendera mata berupa sebuah patung elang botak, simbol nasional Amerika Serikat, kepada Putin.[86] Trump menyebut pembicaraan tersebut “sangat produktif” dan hubungannya dengan Putin “luar biasa”, dan menilai hasil pertemuan tersebut “10 dari 10”.[64] Sebuah acara makan siang bersama juga dibatalkan.[86] Rincian mengenai rencana makan siang tersebut dibocorkan kepada National Public Radio setelah dokumen yang diduga berasal dari Kepala Protokoler Amerika Serikat ditemukan di sebuah mesin cetak hotel oleh seorang pengunjung.[86]


Setelah pertemuan tersebut, kedua pemimpin memberikan keterangan dalam konferensi pers bersama. Konferensi pers ini berlangsung selama 12 menit tanpa sesi pertanyaan dari para jurnalis.[61][87]
Putin memulai sesi konferensi pers dengan mengakui bahwa hubungan Amerika Serikat dengan Rusia telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir dan pertemuan antara kedua negara sudah lama tertunda.[61] Menurutnya, negosiasi dengan kedua pihak berlangsung "secara terhormat, konstruktif dan saling menghormati". Sebagian besar ia katakan dalam konferensi pers tersebut adalah mengenai sejarah hubungan kedua negara, apalagi pada saat Perang Dunia II di mana keduanya bersekutu, sebelum meratapi konflik Rusia dengan "negara saudara" dan mengakui bahwa konflik tersebut adalah "sebuah tragedi bagi kami, sebuah luka yang mengerikan".[88] Secara insidental, Putin menyatakan bahwa sejak Trump dipilih kembali, hubungan perdagangan antar kedua negara mulai terjalin kembali walaupun secara simbolis.[89] Putin menyatakan bahwa ia dan Trump memiliki hubungan kerja yang baik, dan juga antar pejabat masing-masing. Putin juga mengakui perlunya, pandangan yang dianut oleh Presiden Trump, untuk menjamin keamanan Ukraina serta menyatakan bahwa invasi tersebut tidak akan terjadi apabila Trump dipilih kembali menjadi presiden.[90] Namun, ia berharap untuk “menghilangkan” akar penyebab konflik tersebut[91] dan berharap bahwa "Eropa tidak akan mencoba merusak kemajuan yang diharapkan melalui provokasi atau intrik di balik layar.”[92] Ia menutup dengan memberi amanat bahwa pada kontak terakhir dengan pemerintahan Biden, situasinya tidak boleh dibawa ke titik yang tidak bisa kembali lagi, ketika sudah terjadi permusuhan dan menerimanya secara langsung pada saat itu, dan memandang bahwa tindakan Biden merupakan kesalahan besar.[89]
Trump kemudian berbicara di konferensi pers.[89] Ia menyatakan bahwa ia memang memiliki konferensi yang baik dengan Putin dan ada banyak poin yang mereka sepakati dengan sebagian besar dari poin tersebut, menurutnya, adalah beberapa poin besar yang belum mereka capai, tetapi mereka telah mencapai beberapa kemajuan tetapi belum ada kesepakatan yang konkret.[89] Ia menambahkan bahwa hasil pertemuan ini akan disampaikan ke NATO dan juga Volodymyr Zelenskyy dan ia berkata bahwa "alhasil itu terserah mereka".[89] Trump memamerkan bahwa ia sebenarnya punya hubungan kerja yang luar biasa dengan Putin tetapi Partai Demokrat menghancurkan itu dengan menebarkan hoaks Rusia.[61] Lalu, ia menyatakan bahwa masih banyak masalah yang perlu diatasi namun optimis bahwa dalam suatu saat sebuah kesepakatan dapat terbentuk.[89] Kemudian, Trump berterima kasih kepada Putin dan jajaran delegasinya dan berharap bahwa mereka dapat bertemu kembali secara lebih produktif.[89] Putin kemudian membalikkan terima kasih tersebut dengan tawaran pertemuan di Moskow secara bahasa Inggris.[93] Trump bercanda kepada Putin bahwa ia akan kena masalah di dalam negeri jika menerima itu tetapi ia menyatakan pertemuan tersebut kemungkinan bisa terwujud.[89]
Setelah pertemuan dengan Trump, Putin kemudian mengunjungi Kuburan Nasional Fort Richardson yang terletak di sekitar pangkalan militer tersebut. Di antara mereka yang dikubur ada beberapa jasad pilot Uni Soviet yang gugur dalam Perang Dunia II saat mengantarkan pesawat dan persediaan militer Amerika Serikat menuju ke Rusia dibawah program Lend-Lease.[94][95] Putin mengungkapkan bahwa ia mengunjungi monumen yang serupa di Magadan sebelum terbang ke Alaska.[96] Putin juga berbincang dengan uskup agung Keuskupan Alaska dari Gereja Ortodoks Amerika.[97]

Reuters melaporkan bahwa tuntutan Rusia adalah sebagai berikut:[98]

Setelah pertemuan tersebut, Trump dan Rubio menyangkal kemungkinan peningkatan sanksi terhadap Rusia.[99] Pada 17 Agustus 2025, Trump berkata bahwa tanggung jawab perdamaian di Ukraina berada di tangan Volodymyr Zelenskyy sembari menyatakan bahwa Ukraina tidak boleh masuk ke Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau mencoba merebut Krimea kembali.[100] Ini kemudian disusul oleh pertemuan Trump dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Perdana Menteri Britania Raya Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Finlandia Alexander Stubb, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dan Presiden Zelenskyy pada 18 Agustus, di mana BBC menggambarkan pertemuan ini seperti rapat perang.[101]
Steve Witkoff menyatakan bahwa Putin menyetujui bahwa AS dapat memberikan perlindungan ala NATO kepada Ukraina. Presiden Ukraina Zelenskyy menyambut baik janji Amerika Serikat untuk memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina.[102] Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuntut agar Rusia dimasukkan dalam jaminan keamanan pada masa depan, yang menurut Financial Times akan memberikan hak veto yang efektif atas pertahanan Ukraina.[103] Saat pertemuan tersebut, Putin berulang kali menyatakan bahwa perang tersebut dapat diselesaikan bila Donbas diserahkan kepada Rusia, tetapi Ukraina menolak ajakan tersebut.[102]
Hubungan Amerika Serikat dengan Rusia setelah pertemuan ini menunjukkan tanda-tanda pembaruan setelah Trump dan Putin bertemu di Alaska dan menyatakan ketertarikan untuk kembali menjalin hubungan kerja sama. Menurut sebuah laporan liputan The Wall Street Journal, ExxonMobil dan Rosneft mengadakan "pertemuan rahasia" untuk memulai kembali operasi bersama di Sakhalin-1, terikat dengan perjanjian perdamaian di Ukraina. CEO ExxonMobil Darren Woods telah mengadakan pertemuan langsung dengan Trump di Gedung Putih dan menerima sebuah "pengarahan simpatis" mengenai kembalinya ExxonMobil di Rusia.[104]

Pada 18 Agustus 2025, Trump dan Zelensky melakukan pertemuan bilateral sebelum pertemuan dengan pemimpin Eropa lainnya. Sebelum itu, pemimpin Eropa berkumpul di Kedutaan Besar Ukraina untuk bertemu dengan Zelenskyy.[105] Tidak seperti pertemuan sebelumnya yang berakhir buruk bagi Zelenskyy, pertemuan berlangsung lebih hangat dengan reporter yang sebelumnya mencemoohnya karena pakaian perangnya berbalik memuji jas Zelenskyy dan Zelenskyy memberikan terima kasih kepada Trump atas upaya pendekatan pribadinya dalam mengakhiri perang.[106]

Setelah pertemuan dengan Zelenskyy, rombongan delegasi pemimpin Eropa mendatangi Gedung Putih dan bertemu dengan Donald Trump untuk membahas mengenai jaminan keamanan bagi Ukraina.[107][108] Pemimpin Eropa meminta agar jaminan keamanan di Ukraina dipersamakan dengan klausul Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara.[109] Dalam pertemuan tersebut, Trump menjeda pertemuan itu untuk sementara untuk menghubungi Vladimir Putin[110] dan Trump mengakui pentingnya jaminan keamanan bagi Ukraina, memberikan indikasi bahwa Amerika Serikat akan terlibat dalam proses perdamaian.[111][112]
Trump pada awalnya memberikan indikasi bahwa gencatan senjata tidak begitu diperlukan untuk mencapai sebuah kesepakatan damai namun hal ini dibantah secara keras oleh Friedrich Merz yang merasa bahwa pertemuan berikutnya tidak bisa dilakukan tanpa gencatan senjata.[112] Namun, Trump juga merasa bahwa Putin tidak mau membuat kesepakatan dan meminta agar kedua sisi yang berperang untuk mengalah.[113]
BBC melaporkan bahwa pertemuan tersebut diakhiri dengan lebih banyak pertanyaan dibandingkan jawaban dan mengamati bahwa pertemuan tersebut tidak menghasilkan keputusan apapun.[114] Dalam pidato terakhirnya kepada pers internasional, Putin tidak membuat “janji, tidak ada konsesi, dan tidak ada kompromi”.[114] Dalam konferensi pers tersebut, kedua kepala negara tidak menjawab pertanyaan wartawan dan USA Today mencatat mengenai Trump bahwa "untuk seorang presiden yang sangat aktif di televisi dan secara rutin menjawab pertanyaan wartawan, keluarnya Trump yang tergesa-gesa setelah pertemuan tersebut merupakan hal yang tidak biasa."[115][116] Presiden Amerika juga mengakui situasi tersebut dengan mengelak setelah intervensi Putin bahwa para pihak telah "menyepakati banyak poin" tanpa merinci poin mana saja atau mengumumkan langkah konkret apa pun. Ia akhirnya harus mengakui bahwa tidak ada kesepakatan: "Kita belum sampai di sana. Tapi kita punya peluang yang sangat besar untuk sampai di sana."[114]
Sebaliknya, Putin, pada bagiannya, menyiratkan bahwa sudah ada kesepakatan, menyatakan kepada pers bahwa "keamanan Ukraina harus dijamin" dan bahwa ia ingin "berharap bahwa kesepakatan yang telah kita capai bersama akan membantu kita bergerak lebih dekat ke tujuan ini dan membuka jalan menuju perdamaian di Ukraina", tetapi tidak menjelaskan pernyataannya.[115]
Keesokan harinya, 16 Agustus, Trump mengumumkan di media sosial bahwa "telah diputuskan dengan suara bulat bahwa cara terbaik untuk mengakhiri perang mengerikan antara Rusia dan Ukraina adalah melalui perjanjian damai langsung, yang akan mengakhiri perang, bukan sekadar perjanjian gencatan senjata, yang seringkali tidak berlaku," yang oleh CNN disebut sebagai "akhir yang tidak meyakinkan dari sebuah pertemuan puncak yang spektakuler."[116]
Pertemuan ini mengembalikan perawakan Vladimir Putin di tatanan dunia[117][118] dengan The Guardian menggambarkan KTT ini sebagai sebuah hadiah bagi Putin.[119] BBC mengamati sambutan Trump "merupakan momen luar biasa bagi Putin, seorang pemimpin yang ditolak oleh sebagian besar negara Barat sejak Moskow melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada tahun 2022. Sejak saat itu, perjalanan internasionalnya sebagian besar terbatas pada negara-negara yang bersahabat dengan Federasi Rusia, seperti Korea Utara dan Belarus. Fakta bahwa KTT Alaska berlangsung saja sudah merupakan kemenangan bagi Putin. Namun, sambutan ini pasti telah melampaui impian terliar Kremlin. Hanya dalam enam bulan, Putin telah berubah dari seorang paria di Barat menjadi tamu terhormat di tanah Amerika, disambut sebagai mitra dan sahabat."[120]
Menurut The Atlantic: "Keberhasilan pertemuan puncak itu dianggap oleh banyak orang sebagai kemenangan bagi Putin, yang, setelah bertahun-tahun menjadi paria internasional, akhirnya diizinkan berfoto dengan seorang presiden AS di tanah Amerika ... Dan ia disambut dengan sambutan yang berlebihan dan diatur sedemikian rupa, termasuk karpet merah sungguhan untuk seorang pria yang dituduh melakukan kejahatan perang."[121] Bagi CNN, pertemuan puncak tersebut menunjukkan "kembalinya Putin ke kancah diplomatik dengan cara yang menentukan." Media Amerika tersebut menunjukkan bahwa "senyum Putin saat ia melihat keluar jendela limusin Trump menunjukkan segalanya: setelah bertahun-tahun terisolasi di Barat, ia kembali ke negara paling kuat di dunia" dan menyimpulkan bahwa Trump, dengan memutuskan "untuk menyambutnya, lebih berperan dalam mengikis upaya pengucilan diplomatik daripada yang dapat dilakukan oleh pemimpin mana pun."[116]
Bagi New York Times, KTT tersebut merupakan "kemenangan besar" bagi Putin. Pertemuan tersebut membawanya "keluar dari isolasi diplomatiknya dari Barat, dan para pemimpin Ukraina dan Eropa khawatir hal itu akan memberinya kesempatan untuk memengaruhi presiden Amerika."[122] Situasi ini juga mendorong pemerintahan Trump untuk membela diri dari rasa puas diri terhadap Putin, pada hari-hari setelah pertemuan puncak, sementara diplomat Eropa percaya bahwa telah terjadi "perubahan total Donald Trump oleh Vladimir Putin".[123]
Delegasi Rusia termasuk kepala Dana Investasi Langsung Rusia, Kirill Dmitriev, yang telah bertemu dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, di Washington pada bulan April. Putin memanfaatkan konferensi pers tersebut untuk menyatakan bahwa "terdapat potensi yang sangat besar untuk investasi dan kerja sama bisnis AS-Rusia" dan bahwa kedua negara "memiliki banyak hal untuk ditawarkan satu sama lain dalam hal perdagangan, digital, teknologi tinggi, dan eksplorasi ruang angkasa. Kami melihat bahwa kerja sama di Arktik juga sangat memungkinkan." Trump menanggapi dengan menyebut "perwakilan dagang Rusia yang hebat" dan menyatakan bahwa "semua orang ingin berbisnis dengan kami."[115]
John Bolton, seorang mantan penasihat keamanan nasional Trump, berkata kepada The Atlantic bahwa "Trump tidak kalah, namun Putin sudah jelas menang. Putin mendapatkan apapun yang ia bisa harapkan, tetapi ia masih belum bebas secara penuh".[121]
Analis geopolitik Tiongkok menyatakan bahwa Tiongkok dan tidak secara langsung, Xi Jinping, akan berkemungkinan menghadapi tekanan geopolitik yang lebih besar jika Amerika Serikat dan Uni Eropa memberikan jaminan keamanan ke Ukraina ala Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara.[124]
Respon dari kedua belah pihak beragam di Amerika Serikat, dengan politikus Partai Republik Amerika Serikat memberikan pujian kepada Trump atas sikap tegasnya dan upayanya dalam mencapai perdamaian, bahkan 1 politikus Republik, anggota DPR Andy Ogles (R-TN) menyatakan bahwa pertemuan tersebut layak diberikan Penghargaan Nobel Perdamaian. Sementara itu, Partai Demokrat Amerika Serikat mengkritik Trump karena konferensi tingkat tinggi tersebut terlalu bersahabat bagi Putin.[125]
Reaksi antar anggota DPR dan Senat AS beraneka ragam dalam mengomentari konferensi antar Trump dan Putin ini. Anggota DPR Brian Fitzpatrick (R-PA) dan Senator Lindsey Graham (R-SC) menyatakan bahwa pertemuan antar Trump, Putin dan Zelenskyy mungkin dapat terwujud tetapi perang harus diakhiri dengan hasil yang terhormat bagi rakyat Ukraina.[126] Senator Jack Reed (D-RI) menyatakan bahwa ia mendukung langkah diplomasi aktif tetapi memberi nasihat bahwa Trump harus bijak dan bertanggung jawab dalam merundingkan perdamaian atau kesalahannya akan mengancam keamanan Amerika, Eropa dan Ukraina.[126] Anggota DPR Brian Mast (R-FL) menyatakan bahwa aksi flypast pesawat pembom B-2 Spirit adalah manifestasi Trump sedang memojokkan Putin dan memberi tekanan, sementara anggota DPR Eric Swalwell (D-CA) mengejek KTT tersebut sebagai "sesi Trump mencium bokong Putin".[125] Senator Ted Cruz (R-TX) menyatakan bahwa Trump bekerja nyata dibandingkan Joe Biden yang menghamburkan hadiah kepada Putin dan memberi kesempatan kepada Putin untuk menyerang,[125] sementara Senator Mark Warner (D-VA) menyatakan kekecewaannya bahwa apa yang terjadi di Alaska merupakan sebuah krisis kepercayaan bagi Ukraina dan Eropa dan mereka tidak akan memercayai Amerika Serikat.[127]
Gubernur Alaska Mike Dunleavy (R) menyatakan bahwa konferensi kedua pemimpin tersebut merupakan "sebuah hari bersejarah untuk Alaska".[128] Dunleavy juga menyangkal laporan dari sebuah tabloid Britania Raya bahwa sumber daya mineral Alaska akan dijual ke Rusia sebagai sebuah berita bohong.[129] Dunleavy mendeskripsikan harapannya bahwa suatu saat perang di Ukraina akan berakhir, mendoakan bahwa kedua presiden dapat mencapai titik temu. Namun, Dunleavy juga menegaskan bahwa Presiden Zelenskyy juga harus dilibatkan.[130] Senator Dan Sullivan (R-AK) menyatakan bahwa pertemuan di Alaska adalah sebuah pengingat bagi Rusia bahwa Amerika Serikat juga bisa menjadi negosiator handal.[129] Senator Lisa Murkowski (R-AK) memandang bahwa perjalanan perdamaian di Ukraina masih berlanjut dan ia hanya merasa optimis secara hati-hati dan meminta Trump agar Ukraina dilibatkan.[128][129] Anggota DPR Nick Begich III (R-AK) memberi ucapan terima kasih kepada tindakan tegas Trump untuk mengejar perdamaian di Ukraina serta memilih Alaska sebagai tempat pertemuan antar kedua pemimpin.[128]
Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa pertemuan tersebut sangat sebagai "tepat waktu", "bermanfaat", "tulus", dan "bernilai".[131] Pejabat Direktur ISCRAN Natalia Tsvetkova mengambarkan persamaan KTT tersebut dengan pertemuan yang diselenggarakan di Reykjavík pada 1986 antara Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev, menggaris besarkan bahwa hubungan pribadi kedua pemimpin dan kemungkinan peran pertemuan ini dalam mempersiapkan perjanjian pengendalian senjata pada masa depan (sehubungan dengan berakhirnya New START pada tahun 2026), serta dalam mengembangkan kerja sama ekonomi.[132] Mantan Presiden Dmitry Medvedev menulis di Telegram menyatakan bahwa KTT tersebut adalah kesuksesan bagi Rusia dan membuktikan bahwa negosiasi bisa dilakukan tanpa prasyarat.[133]
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa "media Barat hampir kehilangan akal sehatnya" beberapa lama saat Putin mendarat di Alaska. Zakharova menambahkan bahwa "selama tiga tahun mereka memberi tahu semua orang bahwa Rusia terisolasi dan hari ini mereka melihat karpet merah yang indah digelar untuk presiden Rusia di AS".[133]
Setelah menerima percakapan telefon dengan Donald Trump mengenai KTT tersebut, Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa ia akan terbang ke Washington, D.C. pada hari senin untuk mendiskusikan posisi Ukraina dan bahwa ia "bersyukur atas undangan tersebut", sembari menekankan perlunya pertemuan bilateral dengan presiden Rusia, sebelum menegaskan kembali bahwa "penting bagi Eropa untuk terlibat di setiap tahap guna memberikan jaminan keamanan yang andal, bersama Amerika Serikat". Ia menambahkan bahwa "penting bagi kekuatan Amerika untuk memengaruhi perkembangan situasi."[134]
Pada 11 Agustus, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Kaja Kallas menyatakan keprihatinan terhadap KTT tersebut, menggarisbesarkan bahwa setiap perjanjian perdamaian harus dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan Ukraina dan Eropa.[54] Kallas juga menyatakan bahwa Putin telah mendapatkan apa yang ia rencanakan dalam KTT tersebut, yakni sanksi ekonomi baru dan kehadiran Putin yang dipuji.[135] Kallas juga menyatakan bahwa Eropa menyambut baik upaya Presiden Trump dalam mencari solusi damai tetapi ia juga menyatakan bahwa Putin "sedang ketawa, tidak menghentikan pembunuhan, malah menambahnya", memeringati bahwa Putin bukan tipe yang akan memegang janjinya.[136]
Pada 16 Agustus, Dewan Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan bahwa mereka akan siap bekerja sama dengan Presiden Trump untuk mewujudkan sebuah KTT trilateral antara Trump, Putin, dan Zelenskyy, tetapi menegaskan bahwa pergantian wilayah adalah urusan Ukraina sendiri.[137] Pernyataan ini dikeluarkan oleh Presiden Dewan Eropa António Costa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Britania Raya Keir Starmer, Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk.[137] Tidak lama kemudian, Kaja Kallas mengingat bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk “mengakhiri perangnya dalam waktu dekat” dan bahwa hanya Amerika Serikat “yang memiliki kekuatan untuk memaksa Rusia bernegosiasi secara serius”.[138]