Pada 18 Agustus 2025, delapan pemimpin Eropa mengadakan sebuah konferensi tingkat tinggi yang diatur dengan tergesa-gesa di Gedung Putih untuk mendiskusikan hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi Amerika Serikat–Rusia 2025. Jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina yang sesuai dengan Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menjadi topik utama dalam agenda ini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| August 2025 White House Multilateral Meeting on Ukraine European-White House summit | |
|---|---|
| Tuan rumah | |
| Tanggal | 18 Agustus 2025 (2025-08-18) |
| Peserta | |
| ||
|---|---|---|
Kampanye presiden Kontroversi Rusia Bisnis dan pribadi |
||
Pada 18 Agustus 2025, delapan pemimpin Eropa mengadakan sebuah konferensi tingkat tinggi yang diatur dengan tergesa-gesa di Gedung Putih[1] untuk mendiskusikan hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi Amerika Serikat–Rusia 2025. Jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina yang sesuai dengan Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menjadi topik utama dalam agenda ini.[2][3][4]
Tiga hari sebelumnya, KTT Amerika Serikat-Rusia diselenggarakan antara Donald Trump dan Vladimir Putin.[5] Topik utama yang dirundingkan dalam KTT ini adalah Perang Rusia–Ukraina yang ingin diakhiri oleh Trump.[6][7]
Trump kemudian bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelum bertemu dengan pemimpin Eropa lainnya. Saat konferensi pers yang berkaitan dengan pertemuan bilateral tersebut, Zelenskyy secara pribadi menyerahkan sebuah surat dari istrinya, Olena Zelenska kepada Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump yang berisi ucapan terima kasih kepadanya dalam mengamankan perjanjian untuk mengembalikan anak-anak Ukraina kembali pulang dari tahanan Rusia.[8]
Trump ditanya tentang klaimnya sebelumnya bahwa Zelenskyy dapat mengakhiri perang "segera". Trump menjawab bahwa ia masih meyakini hal itu, dan bahwa ada peluang besar untuk menghasilkan penyelesaian dalam pertemuan tiga pihak di masa mendatang dengan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat.[9] Zelenskyy juga menyatakan bahwa ia ingin pertemuan tersebut segera diwujudkan.[10] Trump juga menyatakan bahwa ia akan menawarkan keamanan kepada Ukraina, tetapi tidak diketahui apakah keamanan ini akan dilakukan oleh NATO atau hanya Amerika Serikat.[8]
Trump menegaskan kembali bahwa ia merasa bahwa gencatan senjata bukan syarat untuk perjanjian damai.[3][4] Hal ini menandai perubahan signifikan dari sikap Trump sebelum pertemuannya dengan Putin minggu sebelumnya. Sebelum KTT Rusia-Amerika Serikat, ia menyatakan keinginannya untuk mencapai gencatan senjata "segera" dan mengancam Rusia dengan sanksi ekonomi jika tidak tercapai kesepakatan.[10]
Zelenskyy kemudian menegaskan bahwa Ukraina bisa membeli alutsista Amerika Serikat dengan dukungan Eropa dan program pendanaan lainnya. Ia menegaskan bahwa meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Ukraina adalah hal yang penting.[10]
Trump menyalahkan mantan Presiden Amerika Serikat Joe Biden karena gagal mencegah Invasi Ukraina oleh Rusia,[10][11] dan tetap mengomel bahwa hasil pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2020 adalah hasil "curian". Ia juga membahas mengenai rencana untuk melarang pemungutan suara melalui pos, atlet transgender, dan menekan angka kriminalitas di Washington, D.C.[11]
Menurut BBC, pertemuan ini "belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern ini di mana begitu banyak pemimpin dunia berada [di Gedung Putih] pada saat yang sama."[12] Beberapa pemimpin Eropa termasuk Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen usulan jaminan keamanan untuk Ukraina sesuai dengan klausul pertahanan kolektif NATO, yang mana serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap semua negara.[13]
Pertemuan tersebut sempat dijeda untuk sementara karena Donald Trump sedang menghubungi Vladimir Putin selama 40 menit melalui telefon.[14] Alasan jeda karena hubungan telefon langsung adalah karena Trump ingin menghubungi Putin tanpa mengurangi rasa hormat kepadanya dibandingkan menelponnya langsung kepada pemimpin Eropa yang hadir.[15]
Setelah pertemuan, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa jaminan keamanan Ukraina melibatkan jaminan keamanan untuk seluruh Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz berkata kepada awak media bahwa "Tuntutan Rusia untuk Kiev agar menyerahkan sebagian daerah Donbas secara bebas sesuai, terus terang saja, dengan proposal untuk Amerika Serikat untuk melepaskan Florida".[2] Presiden Finlandia Alexander Stubb menyatakan kepada wartawan asal Finlandia bahwa Putin tidak bisa dipercaya untuk diajak berunding.[16]