Klemens Wenzel Nepomuk Lothar, Pangeran von Metternich-Winneburg zu Beilstein, KOGF, dikenal sebagai Klemens von Metternich atau Pangeran Metternich adalah seorang diplomat Austria yang menjadi salah satu tokoh utama di panggung perpolitikan Eropa sebagai menteri luar negeri Kekaisaran Austria dari tahun 1809 serta sebagai kanselir dari tahun 1821 hingga ia terpaksa mengundurkan diri akibat meletusnya Revolusi 1848.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pangeran Metternich-Winneburg | |
|---|---|
Lukisan Pangeran Metternich (1815) karya Sir Thomas Lawrence | |
| Kanselir Kekaisaran Austria 1 | |
| Masa jabatan 25 Mei 1821 – 13 Maret 1848 | |
| Penguasa monarki | Franz I Ferdinand I |
Pendahulu jabatan dibentuk | |
| Menteri Luar Negeri Kekaisaran Austria | |
| Masa jabatan 8 Oktober 1809 – 13 Maret 1848 | |
| Penguasa monarki | Franz I Ferdinand I |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Tanggal tidak terbaca. Angka tahun harus memiliki 4 digit (gunakan awalan nol untuk tahun < 1000). Koblenz, Elektorat Trier |
| Meninggal | 11 Juni 1859 (2026-06-11UTC10:00) (umur 86) Wina, Kekaisaran Austria |
| Suami/istri | Putri Eleonore von Kaunitz
(m. 1795–1825)Freiin Antoinette Leykam
(m. 1827–1829)Gräfin Melanie Zichy-Ferraris
(m. 1831–1854) |
| Anak | Lihat daftar |
| Orang tua | Franz Georg Karl, Graf von Metternich-Winneburg Gräfin Beatrix von Kageneck |
| Pendidikan | Universitas Strasbourg, Universitas Mainz |
| Dikenal karena | Kongres Wina, Konser Eropa, konservatisme |
| Penghargaan
| |
Klemens Wenzel Nepomuk Lothar, Pangeran von Metternich-Winneburg zu Beilstein, KOGF (Jerman: [ˈmɛtɐnɪç]; 15 Mei 1773 – 11 Juni 1859),[1] dikenal sebagai Klemens von Metternich atau Pangeran Metternich adalah seorang diplomat Austria yang menjadi salah satu tokoh utama di panggung perpolitikan Eropa sebagai menteri luar negeri Kekaisaran Austria dari tahun 1809 serta sebagai kanselir dari tahun 1821 hingga ia terpaksa mengundurkan diri akibat meletusnya Revolusi 1848.
Ia terlahir pada tahun 1773 sebagai putra seorang diplomat dari Wangsa Metternich. Ia memperoleh pendidikan yang baik di Universitas Strasbourg dan Mainz. Sebelum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ia pernah ditugaskan sebagai duta besar di Kerajaan Sachsen, Prusia, serta Prancis pada zaman Napoleon. Salah satu tugas pertamanya sebagai Menteri Luar Negeri adalah untuk merukunkan kembali Austria dengan Prancis, termasuk dengan menjodohkan Adipatni Utama Austria Marie Louise dengan Napoleon. Tidak lama sesudahnya, ia berhasil memuluskan keterlibatan Austria dalam Perang Koalisi Keenam di pihak Sekutu, dan ia juga menandatangani Perjanjian Fontainebleau yang mengasingkan Napoleon. Selain itu, ia memimpin delegasi Austria selama Kongres Wina yang menciptakan tatanan baru di Eropa pasca kekalahan Napoleon. Berkat jasa-jasanya, ia diberi gelar "pangeran" pada Oktober 1813. "Sistem Metternich" yang menyeimbangkan kekuatan negara-negara Eropa kemudian berlaku selama satu dasawarsa, dan Austria mendekatkan dirinya dengan Rusia dan juga Prusia. Masa tersebut merupakan puncak kejayaan Austria di bidang diplomasi, tetapi setelah itu peran Metternich mulai tersingkirkan. Sementara itu, di adlam negeri, Metternich menjabat sebagai Kanselir Negara dari tahun 1821 hingga 1848 pada masa pemerintahan Kaisar Franz I dan putranya, Ferdinand I. Setelah meletusnya Revolusi 1848, ia pergi ke pengasingan di London, Brighton, dan Brussel hingga tahun 1851. Ia kemudian kembali ke Wina sebagai penasihat Kaisar Franz Josef. Metternich akhirnya menjemput ajalnya pada tahun 1859 pada usia 86 tahun.
Sebagai sosok yang berhaluan konservatif tradisional, Metternich sangat ingin menjaga keseimbangan kekuatan di Eropa, khususnya dengan membendung ambisi Rusia di Eropa Tengah dan Kesultanan Utsmaniyah. Ia tidak menyukai liberalisme dan berjuang agar Kekaisaran Austria tidak terpecah belah, contohnya dengan memadamkan pemberontakan-pemberontakan nasionalis di Italia utara. Di dalam negeri, ia melakukan penyensoran dan membentuk jaringan mata-mata untuk membungkam para pembangkang. Metternich sendiri telah menuai pujian sekaligus cercaan. Para pendukungnya menegaskan bahwa ia telah merintis "Zaman Metternich" yang berhasil memelihara perdamaian di Eropa. Kemampuannya dalam berdiplomasi juga telah disanjung, terutama mengingat bahwa posisi tawarnya cenderung lemah. Namun, para pengkritiknya menyatakan bahwa ia masih dapat mengambil lebih banyak tindakan untuk memajukan Austria, dan ia dianggap sebagai penghalang reformasi di negara tersebut. Metternich juga mendukung perkembangan seni, dan ia banyak bergaul dengan beberapa musisi terhebat di Eropa pada masanya, Hadyn, Beethoven, Rossini, Paganini dan Liszt.
Kembali ke Austria dari jabatan duta besar di Paris, Metternich menyaksikan secara langsung seberapa parah kekalahan Austria di Pertempuran Wagram pada 1809. Stadion mengundurkan diri sebagai Menteri Luar Negeri Austria akibat pertempuran tersebut dan sang kaisar dengan segera menawarkan posisi tersebut kepada Metternich. Metternich, khawatir bahwa Napoleon akan menggunakan kemenangannya di Wagram untuk meminta perdamaian yang lebih kasar terhadap Austria, meminta kaisar untuk menunjuknya sebagai menteri negara (yang disetujui pada 8 Juli) dan memimpin delegasi untuk bernegosiasi dengan Napoleon dengan kesepahaman bahwa ia akan menggantikan Stadion pada tanggal kemudian.[2] Di perundingan perdamaian di Altenburg, Metternich memberikan sebuah proposal yang menguntungkan Prancis dengan tujuan menyelamatkan posisi Wangsa Habsburg. Namun, Napoleon tidak setuju dengan Metternich atas isu masa depan Polandia dan Metternich perlahan-lahan digantikan oleh Johann I Joseph, Pangeran Liechtenstein dalam memimpin delegasi Austria. Ia kemudian mendapatkan pengaruh setelah dilantik sebagai Menteri Luar Negeri dan Rumah Tangga Kekaisaran pada 8 Oktober.[2] Pada awal 1810, skandal perselingkuhan Metternich dengan Junot menjadi publik, namun karena dilakukan atas pengertian dari Eleonore, skandal tersebut berlangsung minim.[3]
Salah satu tugas pertama Metternich adalah meminta Kaisar Franz I untuk menikahkan putrinya, Adipati Agung Marie Louise kepada Napoleon ketimbang adik perempuan Tsar Aleksandr I dari Rusia, Anna Pavlovna. Metternich kemudian menjauhi ide tersebut dan berdalih bahwa Napoleon sendiri ingin melamar Marie Louise. Namun hal ini tidak mungkin; bagaimanapun juga, dia dengan senang hati mengaku bertanggung jawab pada saat itu.[3] Pada tanggal 7 Februari, Napoleon telah menyetujui dan pasangan itu menikah secara perwakilan pada tanggal 11 Maret. Marie Louise segera berangkat ke Prancis setelah itu dan Metternich menyusul melalui rute yang berbeda dan secara tidak resmi. Perjalanan itu dirancang, jelas Metternich, untuk membawa keluarganya (yang terjebak di Prancis karena pecahnya perang) pulang dan untuk melaporkan kepada Kaisar Austria tentang kegiatan Marie Louise.[3]
Sebaliknya, Metternich tinggal selama enam bulan, mempercayakan jabatannya di Wina kepada ayahnya. Ia mulai menggunakan pernikahan dan sanjungan untuk menegosiasikan kembali ketentuan yang tercantum dalam Perjanjian Schönbrunn. Namun, konsesi yang ia peroleh sangat kecil: beberapa hak perdagangan, penundaan pembayaran ganti rugi perang, pengembalian beberapa tanah milik warga Jerman yang bertugas di Austria, termasuk milik keluarga Metternich, dan pencabutan batasan 150.000 orang untuk tentara Austria. Yang terakhir ini sangat disambut baik sebagai tanda peningkatan kemerdekaan Austria, meskipun Austria tidak lagi mampu membiayai tentara yang lebih besar dari batas yang ditentukan.[4]
Ketika Metternich kembali ke Wina pada Oktober 1810, popularitasnya sudah tidak lagi seperti dulu. Pengaruhnya terbatas pada urusan luar negeri, dan upayanya untuk memperkenalkan kembali Dewan Negara secara penuh telah gagal.[3] Karena yakin bahwa Austria yang sudah sangat melemah harus menghindari invasi lain oleh Prancis, ia menolak tawaran Tsar Alexander dan malah menjalin aliansi dengan Napoleon pada 14 Maret 1812. Ia juga mendukung periode sensor moderat, yang bertujuan untuk mencegah provokasi terhadap Prancis.[5] Dengan persyaratan bahwa hanya 30.000 pasukan Austria yang bertempur bersama Prancis,[6] perjanjian aliansi tersebut lebih menguntungkan daripada perjanjian yang ditandatangani Prusia sebulan sebelumnya; hal ini memungkinkan Metternich untuk memberikan jaminan kepada Inggris dan Rusia bahwa Austria tetap berkomitmen untuk mengekang ambisi Napoleon. Ia menemani rajanya untuk pertemuan terakhir dengan Napoleon di Dresden pada Mei 1812 sebelum Napoleon memulai invasi Prancis ke Rusia.[5]
Pertemuan di Dresden mengungkapkan bahwa pengaruh Austria di Eropa telah mencapai titik terendah, dan Metternich kini bertekad untuk membangun kembali pengaruh tersebut dengan menggunakan apa yang dianggapnya sebagai hubungan yang kuat dengan semua pihak dalam perang, dengan mengusulkan perundingan perdamaian umum yang dipimpin oleh Austria. Selama tiga bulan berikutnya, ia secara perlahan akan menjauhkan Austria dari pihak Prancis, sambil menghindari aliansi dengan Prusia atau Rusia[7] dan terbuka mengenai proposal apapun yang mempertahankan keluarga besar Wangsa Bonaparte-Habsburg.[7] Hal ini didorong oleh kekhawatiran bahwa jika Napoleon dikalahkan, Rusia dan Prusia akan memperoleh keuntungan yang terlalu besar.[8] Namun, Napoleon bersikap keras kepala, dan pertempuran (yang sekarang secara resmi disebut Perang Koalisi Keenam) terus berlanjut. Aliansi Austria dengan Prancis berakhir pada Februari 1813, dan Austria kemudian beralih ke posisi netralitas bersenjata.[7]
Metternich jauh kurang bersemangat untuk berbalik melawan Prancis dibandingkan banyak tokoh sezamannya (meskipun tidak dengan Kaisar), dan ia lebih menyukai rencananya sendiri untuk penyelesaian umum. Pada November 1813, ia menawarkan Tawaran Frankfurt kepada Napoleon, yang akan memungkinkan Napoleon untuk tetap menjadi Kaisar tetapi akan mengurangi Prancis ke "perbatasan alaminya" dan membatalkan kendalinya atas sebagian besar Italia, Jerman, dan Belanda. Napoleon, yang menang dalam Pertempuran Lützen dan Bautzen, terlalu lama menunda dan kehilangan kesempatan ini; pada bulan Desember ia telah dikalahkan dalam Pertempuran Leipzig dan Sekutu telah menarik tawaran tersebut. Pada awal tahun 1814, ketika mereka hampir mencapai Paris, Napoleon menyetujui usulan Frankfurt, tetapi sudah terlambat, dan dia menolak persyaratan baru yang lebih keras yang diajukan saat itu.[9][10]
Meskipun demikian, Sekutu tidak berkinerja baik, dan meskipun pernyataan tujuan perang umum yang mencakup banyak dukungan kepada Austria diperoleh dari Rusia, Inggris tetap tidak percaya dan umumnya tidak mau melepaskan inisiatif militer yang telah diperjuangkannya selama 20 tahun. Terlepas dari itu, Paus Fransiskus mengangkat Menteri Luar Negeri Austria sebagai Kanselir Agung Ordo Maria Theresa, sebuah jabatan yang telah kosong sejak zaman Kaunitz.[11] Metternich semakin khawatir bahwa mundurnya Napoleon akan membawa kekacauan yang akan merugikan Wangsa Habsburg.[8][11] Ia percaya bahwa perdamaian harus segera diselesaikan. Karena Inggris tidak dapat dipaksa, ia hanya mengirimkan proposal kepada Prancis dan Rusia. Namun, proposal tersebut ditolak, dan setelah pertempuran Lützen (2 Mei) dan Pertempuran Bautzen (20–21 Mei), gencatan senjata yang diprakarsai Prancis pun diumumkan. Mulai April, Metternich mulai "perlahan dan dengan enggan" mempersiapkan Austria untuk perang dengan Prancis; gencatan senjata memberi Austria waktu untuk mobilisasi penuh.[11]

Austria mendeklarasikan perang melawan Prancis pada 12 Agustus 1813. Pihak Koalisi melihat bahwa upaya diplomasi Austria sudah gagal namun Metternich memandang kegagalan tersebut sebagai sebuah awal dari kampanye diplomatiknya yang sangat panjang. Pada sisa Perang Napoleon, Metternich memutuskan untuk memegang erat hubungan Austria dengan pihak Koalisi serta mengikis momentum Rusia di Eropa. Mencapai tujuan ini, ia berhasil membuat pihak koalisi untuk menunjuk Karl Philipp, Pangeran Schwarzenberg sebagai panglima pasukan Koalisi ketimbang Aleksandr I dari Rusia.[a] Ia juga berhasil membuat ketiga penguasa Eropa (Kaisar Franz I dari Austria, Tsar Aleksandr I dari Rusia, dan Raja Friedrich Wilhelm III dari Prusia) untuk berperang dibawah komando Pangeran Schwarzenberg. Namun, Metternich masih dibatasi oleh pengaruh Inggris yang memberikan subsidi perang kepada Rusia dan Prusia (Austria juga meminta subsidi pada September 1813).[12] Pada 18 Oktober 1813, Metternich menyaksikan Pertempuran Leipzig yang dimenangkan pihak Koalisi dan dua hari kemudian, Franz I memberikan gelar Pangeran kepada Metternich atas "keputusan bijak" yang dibuat Metternich.[13] Metternich tergirang bahagia ketika mendengar laporan militer bahwa Frankfurt am Main telah direbut kembali pada awal November dan secara khusus, Tsar Aleksandr memberikan sebuah persembahan kepada Kaisar Franz di sebuah upacara yang diselenggarakan oleh Metternich.
Selama Kongres Wina berlangsung, Metternich banyak bertengkar dengan Aleksandr I terutama dalam isu Polandia. Aleksandr I meminta keseluruhan Polandia untuk diberikan kepada Rusia sebagai pencapaian perang, dan Metternich menolak dan menyatakan bahwa Austria akan berperang melawan Rusia dan mengancam bahwa pasukan Austria bisa menyamai pasukan Rusia. Marah, Aleksandr I meminta Franz I untuk memecat Metternich namun Kaisar Franz I menolak, menciptakan krisis geopolitik. Bahkan, Aleksandr I menantang Metternich untuk beradu tembak dengannya.[14] Secara pribadi, Metternich menulis kepada Kaisar Franz, mengeluh tentang kelakuan Aleksandr I selama Kongres Wina dan memanggil Tsar Aleksandr sebagai "bayi terbesar di bumi".[15]