Tōru Hashimoto adalah seorang politikus dan pengacara Jepang. Ia adalah mantan wali kota Osaka dan, bersama dengan Shintaro Ishihara, adalah wakil ketua Partai Restorasi Jepang. Ia juga pendiri partai Nippon Ishin no Kai dan Asosiasi Restorasi Osaka. Ia adalah salah satu politikus konservatif sayap kanan terkemuka di Jepang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tōru Hashimoto 橋下徹 | |
|---|---|
| Wali kota Osaka | |
| Masa jabatan 25 November 2011 – 18 Desember 2015 | |
| Presiden Ikatan Restorasi Osaka | |
| Masa jabatan 19 April 2010 – Desember 2015 | |
| Gubernur Prefektur Osaka | |
| Masa jabatan 6 Februari 2008 – 31 Oktober 2011 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 29 Juni 1969 Tokyo, Jepang |
| Partai politik | Nippon Ishin no Kai (Nasional) Ikatan Restorasi Osaka (Lokal) |
| Suami/istri | Noriko |
| Anak | Tiga putra dan empat putri |
| Almamater | Universitas Waseda |
|
| |
Tōru Hashimoto (橋下 徹code: ja is deprecated , Hashimoto Tōru, kelahiran 29 Juni 1969) adalah seorang politikus dan pengacara Jepang. Ia adalah mantan wali kota Osaka dan, bersama dengan Shintaro Ishihara, adalah wakil ketua Partai Restorasi Jepang. Ia juga pendiri partai Nippon Ishin no Kai dan Asosiasi Restorasi Osaka. Ia adalah salah satu politikus konservatif sayap kanan terkemuka di Jepang.[1][2][3][4]
Tōru Hashishita lahir di Hatagaya, Shibuya, Tokyo, pada 29 Juni 1969. Ayahnya, yang merupakan yakuza Jepang, wafat ketika ia kelas 2 SD. Segera setelah itu, ibunya mengubah pembacaan nama mereka menjadi Hashimoto.[5] Keluarganya pindah ke Suita, Osaka saat Hashimoto menempuh kelas 5 SD,[6] dan kemudian ke Higashiyodogawa-ku, Osaka tahun berikutnya.
| Artikel ini adalah bagian dari seri tentang |
| Konservatisme di Jepang |
|---|
Hashimoto mendukung pendekatan disiplin yang ketat dan hukuman fisik untuk siswa. Namun, ia juga pernah melontarkan komentar-komentar yang sangat kritis terhadap tindakan-tindakan yang mengakibatkan cedera serius dengan kedok hukuman fisik. Namun, ketika ia tampil di televisi, ia justru berbicara tentang "hukuman fisik" yang ia gunakan terhadap anak-anaknya sendiri, yang menunjukkan bahwa niatnya yang sebenarnya berbeda.
Ia mengkritik gaya mengajar yang seragam untuk 35 anak dalam satu kelas, dengan mengatakan bahwa itu adalah "sistem pendidikan yang tidak memungkinkan anak-anak berpotensi untuk berkembang," karena anak-anak tersebut tidak semuanya berada pada tingkat yang sama. Ia merekomendasikan peralihan dari "sistem akreditasi," yang mengikuti kurikulum dan jadwal yang sama sepanjang tahun, ke "sistem penguasaan," yang mengajarkan kelas-kelas dengan program individual yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kemampuan setiap individu.[7]
Hashimoto dikenal menolak usulan untuk mengaktivasi kembali pembangkit listrik tenaga nuklir setelah bencana nuklir Fukushima Daiichi. Menurut The New York Times, penolakan ini membuatnya menjadi politikus terpopuler di Jepang pada awal 2012.[8] Pada akhirnya, ia dan beberapa tokoh lainnya menyetujui pengaktivasi kembali PLTN Ōi secara terbatas pada 2012.[9]
Sebelum menjadi gubernur Osaka pada 2008, Hashimoto di beberapa stasiun televisi nasional berargumen bahwa Jepang harus memiliki senjata nuklir, namun setelah itu berkata bahwa pandangan tersebut hanya pandangan pribadinya.[10]
Hashimoto mendukung Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), memandang bahwa Jepang tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan bangsa lain.[11] Ia bahkan melawan Ichirō Ozawa yang berseberangan karena TPP.[12] Namun ia menyatakan oposisi jika TPP melawan kepentingan nasional Jepang.[13]
Pada September 2012, Hashimoto melontarkan pernyataan bahwa Jepang dan Korea Selatan harus mengelola Karang Liancourt secara bersama.[14] Hal ini mendapat beragam reaksi. Ia juga menyatakan bahwa "ini bukan pengabaian kedaulatan. Ini tentang penetapan aturan bersama untuk pemanfaatan (seperti wilayah penangkapan ikan)" dan bahwa "ini bukan pengabaian atau penarikan klaim atas 'wilayah inheren'."[15] Pernyataan yang sama juga dikeluarkan dalam konteks Kepulauan Pinnacle yang disengketakan dengan Tiongkok dan Taiwan.[15]
Pada 28 April 2017 saat di Seoul, Hashimoto mengeluarkan cuitan "Kehidupan normal di Seoul. Daripada mengorbankan nyawa warga biasa untuk rudal Korea Utara, bukankah lebih baik membiarkan Korea Utara memiliki senjata nuklir?" Menanggapi hal tersebut, selain beberapa dukungan, mayoritas unggahan daring menyatakan penolakan dan keraguan. Menanggapi hal tersebut, Hashimoto menyatakan pendapatnya dalam sebuah unggahan blog tertanggal 2 Mei, dengan mengatakan, "Sekalipun Korea Utara memiliki senjata nuklir, hal itu akan baik-baik saja selama keseimbangan kekuatan di Asia Timur tetap terjaga," dan "Kepemilikan senjata nuklir Korea Utara saja tidak akan serta merta menghancurkan nyawa warga Jepang atau Korea Selatan."[16]
... which then merged with the Japan Restoration Party founded by a conservative populist politician Hashimoto Toru, ...