Kazoku (華族, "Keturunan Agung/Luhur", IPA: [ka̠zo̞kɯ̟])IPA: [ka̠zo̞kɯ̟]) adalah sistem bangsawan turun-temurun Kekaisaran Jepang, yang berlaku dari tahun 1869 hingga 1947. Sistem ini dibentuk dengan menggabungkan bangsawan feodal (daimyō) dan bangsawan istana (kuge) menjadi satu sistem yang terinspirasi dari sistem bangsawan Inggris. Perwira militer terkenal, politisi, dan cendekiawan kadang-kadang dianugerahi gelar bangsawan sebagai, hingga kekalahan negara tersebut dalam Perang Dunia II pada tahun 1945. Sistem ini dihapuskan dengan Konstitusi 1947, yang melarang segala bentuk aristokrasi, tetapi keturunan kazoku tetap menjadi inti dari kelas sosial tradisional dalam masyarakat negara tersebut, berbeda dengan kaum kaya baru.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Kazoku (華族, "Keturunan Agung/Luhur", IPA: [ka̠zo̞kɯ̟])IPA: [ka̠zo̞kɯ̟]) [1] adalah sistem bangsawan turun-temurun Kekaisaran Jepang, yang berlaku dari tahun 1869 hingga 1947. Sistem ini dibentuk dengan menggabungkan bangsawan feodal (daimyō) dan bangsawan istana (kuge) menjadi satu sistem yang terinspirasi dari sistem bangsawan Inggris. Perwira militer terkenal, politisi, dan cendekiawan kadang-kadang dianugerahi gelar bangsawan sebagai (新華族, shin kazoku, ‘bangsawan baru’), hingga kekalahan negara tersebut dalam Perang Dunia II pada tahun 1945. Sistem ini dihapuskan dengan Konstitusi 1947, yang melarang segala bentuk aristokrasi, tetapi keturunan kazoku tetap menjadi inti dari kelas sosial tradisional dalam masyarakat negara tersebut, berbeda dengan kaum kaya baru.
Kazoku (華族code: ja is deprecated )tidak boleh disamakan dengan kazoku (家族code: ja is deprecated ), meski pengucapannya dalam bahasa jepang sama, tetapi karakter pertamanya berbeda, kazoku (家族) berarti 'keluarga' (seperti dalam film Kazoku).

Setelah Restorasi Meiji tahun 1868, kaum bangsawan lama Kyoto, kuge (公家code: ja is deprecated ) , memperoleh kembali sebagian statusnya yang hilang. Beberapa anggota kuge, seperti Iwakura Tomomi dan Nakayama Tadayasu, berperan penting dalam penggulingan Keshogunan Tokugawa,[1] dan pemerintah Meiji awal menunjuk kuge untuk memimpin tujuh departemen administrasi yang baru dibentuk tersebut.Oligarki Meiji, sebagai wujud dari upaya Westernisasi, mereka menggabungkan kuge dengan mantan daimyō (大名, tuan tanah) menjadi kelas aristokrat. Pada tanggal 25 Juli 1869, untuk mengakui bahwa kuge dan mantan daimyō adalah kelas sosial yang berbeda dari kelas sosial lain yang ditetapkan yaitu shizoku (士族, mantan samurai) dan heimin (平民, rakyat jelata). Mereka kehilangan hak istimewa teritorial/wilayah mereka.[2] Itō Hirobumi, salah satu penulis utama konstitusi Meiji, bermaksud agar bangsawan kazoku yang baru bertujuan sebagai benteng politik dan sosial bagi kaisar yang "dipulihkan" dan lembaga kekaisaran Jepang. Pada saat itu, Kazoku terdiri dari kuge (142 keluarga) dan mantan daimyō (285 keluarga) dengan total 427 keluarga.
Semua anggota kazoku yang tidak memiliki jabatan resmi untuk memerintah di provinsi-provinsi awalnya diwajibkan untuk tinggal di Tokyo . Pada akhir tahun 1869, sistem pensiun diadopsi, yang secara bertahap menggantikan kazoku dari jabatan mereka sebagai gubernur provinsi dan sebagai pemimpin pemerintahan. Tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah akhirnya digantikan oleh obligasi pemerintah .

.
Pada tahun 1884 kazoku reorganisasi ulang dan gelar feodal lama digantikan dengan gelar baru, yang mengadopsi gelar-gelar bangsawan eropa, yaitu :[2]
Terdapat beberapa kategori dalam kazoku . Distribusi peringkat pada masa awal untuk keluarga kazoku keturunan kuge bergantung pada jabatan tertinggi yang disandang leluhur mereka di istana kekaisaran. Dengan demikian, para ahli waris dari lima keluarga bangsawan (go-sekke) dinasti Fujiwara ( Konoe, Takatsukasa, Kujō, Ichijō, dan Nijō ) semuanya menjadi adipati/pangeran, setara dengan duke Eropa, setelah reorganisasi kazoku pada tahun 1884.Kepala dari delapan keluarga lainnya ( Daigo, Hirohata, Kikutei, Koga, Saionji, Tokudaiji, Ōinomikado, dan Kasannoin ), semuanya dengan pangkat seiga, pangkat tertinggi kedua dalam kuge, menjadi marquess pada waktu yang bersamaan. Kepala keluarga di tingkat ketiga kuge dan dengan pangkat daijin menjadi count. Kepala keluarga di tiga tingkat terendah (mereka yang berada di pangkat urin, mei, dan han ) biasanya menjadi viscount, tetapi juga dapat diangkat menjadi count.
Pengangkatan lain ke dua peringkat tertinggi dalam kazoku adipati dan marquess dari kalangan kuge juga dilakukan untuk memberi penghargaan kepada keluarga kuge tertentu atas peran mereka dalam Restorasi Meiji, atas peran penting mereka dalam urusan nasional, atau karena kedekatan hubungan dengan keluarga Kekaisaran. Dengan demikian, kepala keluarga berpangkat seiga dari keluarga Sanjo menjadi adipati pada tahun 1884. Kepala keluarga Tokudaiji dan Saionji diangkat ke pangkat adipati/pangeran dari pangkat marquess masing-masing pada tahun 1911 dan 1920.
Sebagai pengakuan atas peran ayahnya dalam Restorasi Meiji, Iwakura Tomosada, pewaris dari bangsawan terkenal Iwakura Tomomi dan yang keluarganya berada di tingkat keempat bangsawan kuge, dengan pangkat urin, dianugerahi gelar adipati pada tahun 1884. Nakayama Tadayasu, kakek dari pihak ibu Kaisar Meiji dan juga berasal dari keluarga berpangkat urin, dianugerahi gelar marquess. Kepala keluarga Shō, keluarga kerajaan Kerajaan Ryūkyū ( Okinawa ) terdahulu, diberi gelar marquess. Ketika Kekaisaran Korea dianeksasi pada tahun 1910, Wangsa Yi dimediasi sebagai kerajaan yang tergabung dan menjadi kerajaan vasal (王code: ja is deprecated ). Beberapa pangeran Korea juga diangkat menjadi pangeran (公code: ja is deprecated ) Jepang.



Tidak termasuk keluarga Tokugawa, distribusi peringkat kazoku masa awal untuk para penguasa daimyō tergantung pada pendapatan beras (pengaruh zaman sengoku di mana beras dijadikan alat tukar) mereka yang memiliki 150.000 koku atau lebih menjadi marquess, mereka yang memiliki 50.000 koku atau lebih menjadi count, dan mereka yang memiliki kepemilikan di bawah 50.000 koku menjadi viscount. Kepala klan Tokugawa, Tokugawa Iesato, menjadi adipati, kepala cabang utama keluarga Tokugawa ( shinpan daimyō ) menjadi marquess, kepala cabang sekunder menjadi count, dan kepala cabang yang lebih jauh menjadi viscount. Kepala cabang Matsudaira ( Domain Fukui ) diangkat ke pangkat marquess dari pangkat count pada tahun 1888. Pada tahun 1902, mantan shōgun Tokugawa Yoshinobu diangkat menjadi adipati, dan kepala keluarga shinpan Mito diangkat ke pangkat yang sama, adipati/pangeran, pada tahun 1929.
Dari klan-klan daimyō sebelumnya, kepala klan Mōri ( Domain Chōshū ) dan Shimazu ( Domain Satsuma ) sama-sama dianugerahi gelar adipati pada tahun 1884 atas peran mereka dalam Restorasi Meiji; klan Yamauchi ( Domain Tosa ) diberi pangkat marquess. Kepala klan utama Asano ( Domain Hiroshima ), Ikeda (Domain Okayama dan Tottori ), Kuroda ( Domain Fukuoka ), Satake ( Domain Kubota ), Nabeshima ( Domain Saga ), Hachisuka ( Domain Tokushima ), Hosokawa ( Domain Kumamoto ) dan Maeda ( Domain Kaga ) menjadi marquess pada tahun 1884.

Yang perlu diperhatikan, kepala garis keturunan utama klan Date, yang sebelumnya memerintah Domain Sendai yang luas, hanya dianugerahi gelar bangsawan sebagai count sehingga tidak mendapat kursi turun-temurun (count dan peringkat dibawahnya melakukan pemilihan di antara mereka sendiri) di Dewan Bangsawan ; hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh pengaruh penting domain tersebut sebagai pemimpin koalisi melawan pasukan Kekaisaran selama Perang Boshin . Pada tahun 1891, kepala keluarga Date-Uwajima ( Domain Uwajima ), cabang kadet klan yang tetap setia kepada Kaisar selama konflik, diangkat ke pangkat marquess, setelah dianugerahi gelar bangsawan sebagai count pada tahun 1884.
Banyak dari mereka yang memiliki peran penting dalam Restorasi Meiji, atau ahli waris mereka, dianugerahi gelar bangsawan. Ito Hirobumi dan Yamagata Aritomo dianugerahi gelar bangsawan sebagai count pada tahun 1884, dipromosikan menjadi marquess pada tahun 1895 dan akhirnya menjadi adipati pada tahun 1907. Ahli waris Okubo Toshimichi dan Kido Takayoshi, dua dari tiga bangsawan besar Restorasi Meiji, dianugerahi gelar bangsawan sebagai marquess pada tahun 1884, diikuti oleh ahli waris dari jenderal sekaligus politisi samurai Saigō Takamori(dikenal sebagai samurai terakhir) pada tahun 1902.

Seperti halnya dalam sistem bangsawan Inggris, hanya pemegang gelar yang sebenarnya dan pasangannya yang dianggap sebagai anggota kazoku . Pemegang dua peringkat teratas, adipati dan marquess, secara otomatis menjadi anggota Dewan Bangsawan di Parlemen Jepang setelah mewarisi gelar atau setelah mencapai usia dewasa. Count, viscount, dan baron memilih hingga 150 perwakilan dari kalangan mereka untuk duduk di Dewan Bangsawan.
Tidak seperti sistem bangsawan Eropa, adat tradisional Jepang mengizinkan anak laki-laki yang lahir di luar nikah mewarisi gelar dan harta benda. Untuk mencegah garis keturunan mereka punah, kepala keluarga kazoku dapat mengadopsi anak laki-laki dari cabang keluarga mereka sendiri, baik dari garis laki-laki maupun perempuan, dan dari keluarga kazoku lain, baik yang memiliki hubungan keluarga maupun tidak.
Berbeda dengan kebiasaan Eropa, ahli waris angkat seorang bangsawan dapat mewarisi gelar lebih dulu daripada ahli waris yang lebih senior berdasarkan hukum primogenitur. Amendemen tahun 1904 terhadap Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran tahun 1889 memungkinkan pangeran-pangeran kecil (keluarga laki-laki jauh dari kaisar/keluarga cabang) ( ō ) dari keluarga kekaisaran untuk melepaskan status kekaisaran mereka dan menjadi bangsawan (atas hak mereka sendiri) atau ahli waris dari bangsawan yang tidak memiliki anak.
Awalnya terdapat 11 pangeran non-kekaisaran/adipati/duke, 24 marquess, 76 count, 324 viscount dan 74 baron, dengan total 509 bangsawan. : 391 Pada tahun 1928, melalui promosi dan pengangkatan, terdapat total 954 bangsawan: 18 adipati, 40 marquess, 108 count, 379 viscount dan 409 baron. kazoku mencapai puncaknya dengan total 1016 keluarga pada tahun 1944. : 1194
Konstitusi Jepang tahun 1947 menghapus kazoku dan mengakhiri penggunaan semua gelar bangsawan atau pangkat di luar Keluarga Kekaisaran. Sejak berakhirnya perang, banyak keturunan keluarga kazoku terus menduduki peran penting dalam masyarakat dan industri Jepang.[2]
Kazoku Kaikan (華族会館code: ja is deprecated ) , atau Klub Bangsawan, adalah perkumpulan bangsawan tinggi. Dengan pusatnya di gedung Rokumeikan . Setelah tahun 1947 kazoku kaikan berganti nama menjadi Kasumi Kaikan (霞会館code: ja is deprecated ) , dan sekarang kantor pusatnya terletak di lantai 34 Gedung Kasumigaseki di Kasumigaseki.[1]

Meskipun keluarga kazoku seharusnya hidup dengan gaya yang sesuai dengan status mereka, standar hidup mereka sangat bervariasi setiap keluarga. Keluarga kuge, dengan kekuatan yang telah habis sejak naiknya kelas samurai menjadi kelas penguasa de facto pada abad ke-11, cenderung lebih miskin dibanding keluarga daimyo. Nara kazoku (奈良華族code: ja is deprecated ) , yang terdiri dari 26 keluarga biksu dari Kofukuji, yang merupakan keturunan keluarga kuge (22 di antaranya milik klan Fujiwara), semuanya diangkat menjadi baron di bawah sistem kazoku . Mereka dianggap sebagai keluarga termiskin dan menerima tunjangan tambahan untuk menopang kehidupan mereka. Sebuah survei tahun 1915 menemukan bahwa sebuah keluarga kazoku rata-rata memiliki sekitar 13 pelayan, sedangkan keluarga-keluarga terbesar memiliki ratusan pelayan.


Hampir semua ahli waris kazoku di Jepang bersekolah di Gakushuin untuk pendidikan dasar dan menengah. Untuk pendidikan tinggi, institusi yang paling disukai adalah Universitas Tokyo (disebut Universitas Kekaisaran Tokyo 1897-1947) (misalnya, Adipati Iemasa Tokugawa, Adipati Yoriyasu Arima ) dan akademi angkatan laut dan angkatan darat (misalnya, Viscount Naganari Ogasawara, Marquess Toshinari Maeda ). Beberapa memilih untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, seperti di Eton College (misalnya, Adipati Iesato Tokugawa ) dan Universitas Cambridge (misalnya, Marquess Masauji Hachisuka, Baron Koayata Iwasaki ). Setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka mengejar berbagai karir seperti negarawan di House of Peers (digantikan oleh Dewan penasihat), diplomat (misalnya, Adipati Iemasa Tokugawa, Marquess Naohiro Nabeshima ), dan sarjana (misalnya, Marquess Yoshichika Tokugawa, Adipati Tomohide Iwakura ). Mereka yang menempuh jalur karier yang agak tidak biasa antara lain Marquess Hijikata Yoshi, yang menjadi seorang komunis dan melarikan diri ke Uni Soviet, dan Meiho Ogasawara, seorang pewaris gelar viscount yang mengejar hasratnya terhadap film dan akhirnya dicabut hak warisnya pada tahun 1935.
Kazoku biasanya menikah dalam kelas mereka sendiri. Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran tahun 1889 melarang Pangeran Kekaisaran menikahi rakyat biasa, sehingga pilihan mereka terbatas pada Putri dan anak perempuan dari keluarga kazoku . Anak perempuan kazoku yang menikah dengan keluarga Kekaisaran antara lain Kikuko, Putri Takamatsu (née Tokugawa ), Yuriko, Putri Mikasa (née Takagi ), dan Setsuko, Putri Chichibu (née Matsudaira ).