Shinjirō Koizumi adalah seorang politikus Jepang yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Jepang sejak Oktober 2025. Ia sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertanian dari Mei 2025 sampai Oktober 2025, Menteri Lingkungan dari September 2019 sampai Oktober 2021. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Partai Demokratik Liberal. Ia adalah putra kedua dari Perdana Menteri Jepang ke-87 Junichirō Koizumi dan adik dari pemeran Kotaro Koizumi. Ia meraih ketenaran dari masyarakat Jepang para pakar hukum PDL muda, dan sering dipandang sebagai kandidat masa depan dari Perdana Menteri Jepang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Shinjirō Koizumi | |
|---|---|
小泉 進次郎 | |
Foto resmi, 2025 | |
| Menteri Pertahanan Jepang | |
| Mulai menjabat 21 Oktober 2025 | |
| Perdana Menteri | Sanae Takaichi |
| Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan | |
| Masa jabatan 21 Mei 2025 – 21 Oktober 2025 | |
| Perdana Menteri | Shigeru Ishiba |
| Menteri Lingkungan | |
| Anggota Parlemen dapil Distrik ke-11 Kanagawa | |
| Masa jabatan 11 September 2019 – 4 Oktober 2021 | |
| Perdana Menteri | Shinzo Abe Yoshihide Suga |
| Mulai menjabat 31 Agustus 2009 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 14 April 1981 Yokosuka, Kanagawa, Jepang |
| Partai politik | Partai Demokratik Liberal |
| Suami/istri | |
| Anak | 2 |
| Almamater | Universitas Kanto Gakuin Columbia University |
| |
Shinjirō Koizumi (小泉 進次郎code: ja is deprecated , Koizumi Shinjirō, lahir 14 April 1981 ) adalah seorang politikus Jepang yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Jepang sejak Oktober 2025. Ia sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertanian dari Mei 2025 sampai Oktober 2025, Menteri Lingkungan dari September 2019 sampai Oktober 2021. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Partai Demokratik Liberal. Ia adalah putra kedua dari Perdana Menteri Jepang ke-87 Junichirō Koizumi dan adik dari pemeran Kotaro Koizumi. Ia meraih ketenaran dari masyarakat Jepang para pakar hukum PDL muda, dan sering dipandang sebagai kandidat masa depan dari Perdana Menteri Jepang.
Setelah lulus kuliah, Koizumi bekerja sebagai peneliti di lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies yang berbasis di Washington, dan aktif di dunia politik sebagai Pemimpin Muda Pacific Forum (CSIS). Ia juga sempat bekerja sebagai sekretaris politik untuk ayahnya pada tahun-tahun terakhir masa jabatan keduanya sebagai perdana menteri. Pada pemilu 2009, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengisi kursi yang telah diduduki ayahnya selama lebih dari 35 tahun.
Setelah terpilihnya Pemerintahan Abe pada tahun 2012, Koizumi diangkat sebagai Wakil Menteri Rekonstruksi, dengan fokus pada wilayah timur laut Jepang yang hancur akibat tsunami Maret 2011 dan bencana nuklir berikutnya. Ia secara terbuka menentang seruan ayahnya agar Jepang segera meninggalkan energi nuklir. Pada tahun 2019, Perdana Menteri Shinzo Abe menunjuk Koizumi ke dalam Kabinet sebagai Menteri Lingkungan Hidup, sebuah peran yang tetap dipegangnya ketika Yoshihide Suga menggantikan Abe sebagai perdana menteri pada September 2020. Koizumi mendukung Taro Kono dalam pemilihan pimpinan LDP 2021, yang menghasilkan Fumio Kishida menjadi perdana menteri. Ia kemudian meninggalkan kabinet dan kembali ke politik sebagai anggota parlemen. Koizumi mencalonkan diri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal September 2024 untuk menggantikan Kishida dan menjadi kandidat ketiga dengan suara terbanyak di negara tersebut, kalah di putaran pertama dari Sanae Takaichi dan Shigeru Ishiba, dengan Ishiba memimpin putaran final. LDP kehilangan mayoritasnya dalam pemilihan umum 2024, setelah itu Koizumi mengundurkan diri sebagai ketua komite Strategi Pemilu partai. Setelah bekerja di kantor pusat reformasi politik LDP, Koizumi diangkat menjadi Menteri Pertanian oleh Ishiba pada Mei 2025.
Shinjiro adalah seorang politikus generasi keempat dari keluarga Koizumi. Ayahnya merupakan Junichirō Koizumi yang pernah menjadi Perdana Menteri Jepang dari 2001 sampai 2006. Kakeknya, Jun'ya Koizumi merupakan direktur jenderal Agensi Pertahanan Jepang (sekarang Menteri Pertahanan) dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jepang dari Dapil distrik ke-2 Kanagawa, dapil yang juga dipegang ayahnya. Kakek buyutnya, Koizumi Matajirō merupakan Menteri Komunikasi Jepang, wali kota Yokosuka dan anggota Kizokuin.[1]
Orang tua Koizumi bercerai saat ia masih balita. Ayahnya mendapatkan hak asuh penuh atas dirinya dan kakak laki-lakinya, Kōtarō. Mereka dibesarkan oleh salah satu saudara perempuan Junichiro, Michiko. Pada saat itu, hak asuh bersama tidak diizinkan di Jepang. Setelah perceraian, Shinjirō terasing dari ibunya, Kayoko, dan tidak bertemu lagi dengan ibunya maupun adik laki-lakinya, Yoshinaga, hingga ia dewasa.[2] Yoshinaga belum lahir ketika orang tua mereka bercerai, dan berada di bawah hak asuh tunggal Kayoko sepanjang masa kecilnya.[3]
Koizumi lahir dan dibesarkan di Yokosuka, distrik rumah ayahnya. Saat ia masih duduk di bangku SMP dan SMA, ia asyik bermain olahraga, terutama baseball.[4] Ia kuliah di Universitas Kanto Gakuin di Yokohama, memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada tahun 2004. Ia menerima gelar master dalam ilmu politik dari Universitas Columbia.[5][6] Ia menghabiskan satu tahun sebagai peneliti paruh waktu di Pusat Studi Strategis dan Internasional dan sebagai Pemimpin Muda Forum Pasifik CSIS sebelum kembali ke Jepang pada tahun 2007.[7] Kemudian ia bekerja sebagai sekretaris pribadi untuk ayahnya.

Setelah Junichirō Koizumi mengumumkan pensiun pada 2008, Shinjiro mencalonkan diri untuk menggantikan ayahnya di kursi dapilnya yakni distrik ke-11 Kanagawa pada pemilihan legislatif Agustus 2009, ia berhasil memenangkan kursi ayahnya di mana banyak anggota Partai Demokrat Liberal kalah pemilu. Shinjiro dikritik bahwa karier politiknya merupakan warisan dari ayahnya tetapi ia juga didukung secara kuat oleh loyalis ayahnya.[8] Selama berkampanye, ia menyewa sebuah Toyota Prius dengan seorang staf sukarelawan.[9]
Karena usianya yang relatif muda, Shinjiro diangkat menjadi ketua fraksi pemuda LDP pada Oktober 2011, sebuah jabatan yang sebelumnya pernah dipegang oleh Noboru Takeshita, Sōsuke Uno, Toshiki Kaifu, Shinzō Abe dan Taro Aso. Pada Februari 2012, ia memprakasai sebuah proyek bernama "Team 11", di mana ia beserta anggota divisi dikirimkan menuju daerah yang terdampak oleh gempa bumi dan tsunami Tōhoku 2011 pada tanggal 11 setiap bulan untuk berbicara dengan warga setempat dan melaporkan kembali kepada negara mengenai upaya rekonstruksi. Kelompok ini terdiri dari 85 anggota, banyak yang berusia dibawah 45 per Maret 2013. Beberapa pengamat membandingkan kelompok tersebut dengan "faksi Machimura" yang kuat yang dipimpin oleh Nobutaka Machimura dalam hal bobot politiknya.[10]
Ia mengkritik LDP di bawah kepemimpinan presiden partai Sadakazu Tanigaki. Dalam pertemuan pertamanya sebagai pengurus partai, ia menyatakan bahwa "citra partai ini adalah tidak mendengarkan pendapat anak muda, memiliki pemikiran lama, dan keras kepala. Itulah sebabnya kepercayaan tidak akan pulih."[11] Ia berargumen dalam pidatonya yang dibuat pada November 2011 mengenai sikap partai terhadap Kemitraan Trans-Pasifik harus diklarifikasi.[12] Ia kemudian menganjurkan pembubaran perjanjian LDP dengan Partai Demokrat Jepang dan Komeito untuk meloloskan perombakan sistem jaminan sosial dan pajak, secara langsung berargumen kepada Tanigaki bahwa misi partai tersebut adalah untuk menjatuhkan pemerintahan DPJ dan mengembalikan kendali LDP, dan membandingkannya dengan reputasi ayahnya yang tidak konvensional.[13]
Koizumi membelot dari LDP pada Agustus 2012 sebagai salah satu dari tujuh legislator LDP yang menolak untuk keluar dari mosi tidak percaya yang digagas Ichiro Ozawa terhadap Perdana Menteri Yoshihiko Noda, di mana LDP dan NK sepakat untuk membatalkan suara mereka. Meskipun Koizumi mendukung resolusi tidak percaya tersebut, resolusi tersebut akhirnya ditolak dengan suara 246-86.[14] Ia memilih Shigeru Ishiba melawan Shinzō Abe di pemilihan ketua LDP pada September 2012, tetapi ia tidak membeberkan pilihannya secara terbuka sampai pasca pemilu untuk menghindari memengaruhi pilihan kader lain.[15]
Koizumi terpilih kembali di dapilnya pada pemilu Desember 2012, di mana LDP berhasil merebut pemerintahan kembali dibawah Shinzō Abe. Pada pemilihan Dewan Penasihat Juli 2013 berikutnya, Shinjiro aktif berkampanye di wilayah terdampak bencana alam, pulau terluar, dan wilayah yang mengalami penurunan penduduk secara pesat, memberikan pidato untuk mendukung kandidat setempat yang diusung LDP. Kenichi Tokoi, seorang penulis nonfiksi yang menulis buku tentang Koizumi, mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk menjabat tangan sebanyak mungkin orang dan meninggalkan kesan bahwa ia cukup baik untuk mengunjungi mereka, sesuatu yang tidak dapat ia capai dengan berkampanye di kota-kota besar.[16]
Pada Oktober 2013, ia diangkat sebagai Sekretaris Parlemen yang bertanggung jawab atas Pemulihan Tohoku, dan dalam kapasitas tersebut ia akan mengawasi upaya rekonstruksi pascabencana di Prefektur Iwate dan Prefektur Miyagi. Ishiba, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris jenderal LDP, menyatakan bahwa Koizumi "menyampaikan argumen yang sangat kuat" kepada para korban bencana setempat "tentang apa yang ingin ia lakukan dan alasannya."[17] Tokoi mengkarakterisasikan penunjukkan ini kepada Shinjiro sebagai sebuah ujian terhadap kemampuan tata negaranya.[16]
Koizumi dilaporkan mempertimbangkan untuk menduduki jabatan kabinet formal di bawah pemerintahan Abe dalam perombakan kabinet pada Oktober 2015 dan Juli 2017.[18][19] Pada 11 September 2019, Abe menunjuk Koizumi sebagai Menteri Lingkungan Hidup.[20][21] Ia menganjurkan kebijakan lingkungan hidup, termasuk mengakhiri penggunaan tenaga nuklir dan batu bara di Jepang, meskipun ia menjabat di pemerintahan yang dianggap masih ragu terhadap kebijakan tersebut.[22][23][24][25]
Namun, ia mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru di Jepang, terlepas dari emisi partikulat dan gas rumah kaca yang dihasilkan. Dukungannya terhadap pembangunan dua pembangkit listrik tenaga batu bara di Yokosuka telah membuatnya menjadi "sasaran kemarahan para aktivis".[26]
Pada akhir Agustus 2020, Shinzō Abe mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Shinjiro Koizumi dianggap sebagai salah satu calon kuat yang dapat menggantikan Abe.[27] Sebuah survei yang dibuat oleh Kyodo News memprojeksikan bahwa hampir 9% jawaban responden survei mendukung Koizumi sebagai perdana menteri,[27] tetapi sumber internal partai menyatakan bahwa Koizumi masih belum layak menjadi perdana menteri karena usianya yang masih muda.[28] Koizumi memutuskan tidak maju sebagai calon dan mendukung percalonan Menteri Pertahanan Tarō Kōno.[29] Namun, Kono memutuskan untuk juga tidak mencalonkan diri maka Koizumi beserta Kono mendukung percalonan Yoshihide Suga, Sekretaris Kabinet dan juga politikus dari Kanagawa.[30] Suga akhirnya memenangkan pemilihan presiden LDP dan menjadi perdana menteri.[31] Suga memutuskan untuk tetap membiarkan Koizumi di posisi kementeriannya.[32] Tingkat kepercayaan yang buruk dan kritik terhadap penanganan pemerintah terhadap pandemi COVID-19 menyebabkan Suga mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan September 2021.[33] Pada pemilihan ketua umum partai, Koizumi sekali lagi mendukung Tarō Kōno walaupun pada akhirnya Kono kalah melawan Fumio Kishida.[34][35] Pada pembentukan Kabinet Kishida, Shinjiro digantikan posisinya oleh Tsuyoshi Yamaguchi.[36]
Dari tahun 2021 hingga 2024, Koizumi tetap menjadi anggota parlemen biasa tanpa dilantik sebagai menteri. Ia terpilih menjadi ketua komite tetap keamanan nasional Dewan Perwakilan Rakyat pada Januari 2024 setelah ketua sebelumnya mengundurkan diri terkait skandal dana gelap Jepang 2023–2024.[37]

Masa jabatan Fumio Kishida sebagai ketua umum LDP akan berakhir pada September 2024. Sebelum 2 Juli, 2 politikus sentris Shigeru Ishiba dan Tarō Kōno mempertimbangkan untuk maju sebagai calon ketua umum.[38][39] Pada 2 Juli, Shinjiro dilaporkan oleh Yukan Fuji sedang mempersiapkan diri untuk maju sebagai calon ketua umum dengan tujuan setidaknya mencapai putaran kedua pemilihan.[40] Ketika mengunjungi Prefektur Fukushima untuk mengikuti sebuah kompetisi berselancar, Koizumi menyatakan bahwa ia "mempertimbangkan dengan saksama" untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepemimpinan.[41] Pada 14 Agustus, Kishida mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan pemilihan kembali sebagai ketua umum, membuat pemilihan tersebut menjadi pemilihan terbuka.[42][43] Pada akhir Agustus, Ishiba dan Kono sudah mencalonkan diri.[44][45]
Pada 6 September, Koizumi mencalonkan diri sebagai ketua umum.[46][47] Dalam konferensi pers, ia berjanji untuk memperkenalkan undang-undang yang akan melegalkan nama keluarga terpisah untuk pasangan yang sudah menikah dan mengusulkan untuk mengadakan referendum nasional untuk menentukan apakah Pasal 9 Konstitusi harus diamendemen atau tidak.[48][49] Koizumi juga berjanji untuk membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat Jepang dan menyelenggarakan pemilihan umum baru secara secepat mungkin jika ia dipilih sebagai ketua umum dan kemudian Perdana Menteri.[50][51] Ia menerima dukungan kuat dari mantan perdana menteri Yoshihide Suga.[52] Koizumi kemudian memberikan orasi pertamanya di Ginza, Tokyo pada hari berikutnya.[53] Dalam pemilihan tersebut, Koizumi beserta Ishiba diberikan label politikus sentris oleh media Jepang.[38][39][54]
Koizumi kalah dalam pemilu tersebut, menempati posisi ketiga dibelakang politikus sayap kanan Sanae Takaichi dan Shigeru Ishiba. Koizumi kemudian memberikan dukungannya kepada Ishiba yang pada akhirnya memenangkan pemilihan ketua umum tersebut melawan Takaichi. Sebagai presiden LDP, Ishiba menunjuk Koizumi sebagai ketua Komite Strategi Pemilu, sebuah kantor senior partai.[55] Pada pemilu Oktober 2024, Koizumi berkeliling negeri untuk menggalang dukungan bagi kandidat LDP, tetapi hasilnya tidak menguntungkan, dengan koalisi yang berkuasa kehilangan mayoritas. Koizumi mengundurkan diri sebagai ketua strategi pemilu untuk bertanggung jawab.[56] Jabatannya kemudian digantikan oleh Seiji Kihara.[57] Koizumi kemudian diangkat sebagai sekretaris eksekutif di markas besar reformasi politik LDP.[58]

Saat ditanyakan pada Februari 2025 mengenai kemungkinan ia mencalonkan dirinya lagi sebagai calon ketua umum LDP, Koizumi tidak mengurung kemungkinan untuknya mencalonkan diri kembali, berkata "Saya akan bekerja secara baik untuk menjadi seorang politikus yang rakyat inginkan".[59] Pada akhir bulan kemudian, Koizumi menyarankan agar partai Nippon Ishin no Kai yang berbasis di Kansai untuk bergabung ke dalam koalisi LDP-Komeito saat pemerintah dibuntuti oleh negosiasi anggaran di DPR.[60] Ia secara lantang menyuarakan dukungan untuk berkoalisi dengan Ishin pada Maret. Koizumi juga mengkritik usulan koalisi besar dengan Partai Demokrat Konstitusional Jepang, partai oposisi utama.[61]
Saya merasa bahwa Tuan Koizumi memiliki pengalaman, wawasan dan gairah untuk reformasi industri pertanian dan perikanan
Penjelasan pelantikan Koizumi sebagai Menteri Pertanian oleh Shigeru Ishiba.[62]
Shigeru Ishiba explaining why he appointed Koizumi Agriculture Minister.Pada 21 Mei 2025, Menteri Pertanian, Perikanan dan Perhutanan Taku Eto mengundurkan diri dari kabinet setelah menyatakan pada tanggal 18 Mei bahwa ia tidak pernah membeli beras, dan malah diberi pasokan beras gratis dari konstituen lokalnya; komentar tersebut dianggap tidak sopan di tengah kekurangan beras nasional, dan dilaporkan membuat Ishiba kesal.[63][64] Koizumi, yang menjabat sebagai ketua Divisi Pertanian & Kehutanan LDP dan Dewan Penelitian Kebijakan Perikanan Komprehensif, langsung dipandang sebagai calon penerus Etō yang dipermalukan, yang telah dipecat oleh Ishiba.[65][66] Ia menyatakan bahwa tujuan utama Koizumi dalam peran barunya adalah menstabilkan harga beras.[67] Etō dan Koizumi memiliki hubungan yang kurang harmonis sejak 10 tahun yang lalu ketika Etō dilaporkan mengatakan kepada Koizumi, yang 20 tahun lebih muda darinya, "Aku benci kamu". Namun, keduanya dilaporkan menjadi teman setelah Koizumi mengundang Etō untuk makan malam.[68]
Tindakan resmi pertama Koizumi sebagai Menteri Pertanian adalah menangguhkan sementara lelang beras yang ditimbun.[69] Ia juga mengonfirmasikan kepada wartawan bahwa ia sendiri membeli beras untuk kebutuhan keluarga.[70] Saat menduduki jabatan barunya, Koizumi menjuluki dirinya sebagai “Menteri yang Bertanggung Jawab atas Beras.”[71] Dalam pidato yang disampaikan di Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sehari setelah pengangkatannya, Koizumi menekankan pentingnya menurunkan harga beras, dengan mengatakan bahwa ia merasakan "rasa krisis" dan akan berusaha memulihkan kepercayaan publik terhadap kementerian tersebut.[72] Koizumi berupaya menerapkan reformasi cepat di kementerian setelah pengangkatannya. Dalam konferensi pers pelantikannya sehari sebelumnya, ia menyampaikan kepada para wartawan bahwa pemerintah akan membatalkan sementara proses lelang keempat untuk beras stok yang semula dijadwalkan akhir Mei, dan mengatakan sedang mempertimbangkan untuk membatalkan lelang kompetitif beras tersebut dan lebih memilih menjualnya langsung ke supermarket dan industri jasa makanan melalui kontrak diskresioner.[73][74] Koizumi menyatakan bahwa tujuan kementerian adalah menurunkan harga beras menjadi ¥2.000 per 5 kilogram pada bulan Juni.[75][76]
Setelah Shigeru Ishiba menyatakan pengunduran dirinya, Koizumi mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri sebagai ketua umum pada 20 September 2025.[77] Pengunduran Ishiba diduga disarankan oleh Koizumi untuk menghindari perpecahan internal partai.[78] Menurut Nikkei Asia, Koizumi merupakan kandidat terkuat selaian Sanae Takaichi untuk menjadi perdana menteri baru[79] dan Ishiba bahkan menyatakan bahwa ia menganggap Koizumi sebagai pengganti idealnya karena persamaan ideologi.[80] Percalonan Koizumi didukung oleh tiga menteri Tarō Kōno,[81] Katsunobu Katō[82] dan Seiko Noda.[83]
Dalam konferensi pers, Koizumi menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali LDP untuk menjadi partai yang mengedepankan ketenangan pikiran dan keselamatan yang disuarakan dari publik,[84] berjanji bahwa ia akan menghapus pajak bensin dan akan mempersiapkan APBN setidaknya pada musim gugur. Seperti calon lain, Koizumi juga terbuka dengan ide memperluas koalisi,[85] dengan Koizumi sendiri sedang membangun hubungan dengan Nippon Ishin no Kai dan Partai Demokrat untuk Rakyat dalam upaya mengait mereka ke dalam koalisi pemerintahan.[86] Koizumi mengatakan ia akan “membangun kembali” LDP setelah ‘gagal menanggapi kekhawatiran publik dan kurang imajinasi untuk mendukung mereka yang menderita akibat kenaikan harga.’[87] Platform kebijakan Koizumi mencakup peningkatan investasi asing, peningkatan upah sebesar ¥1 juta selama lima tahun, reformasi pajak penghasilan, perbaikan kondisi kerja, memastikan target 2% PDB untuk pertahanan akan terpenuhi, revitalisasi regional, dan reformasi internal partai.[88][89] Mengenai isu marga selektif, Koizumi kali ini memilih untuk tidak berkomentar, memercayai bahwa persatuan partai harus diutamakan.[90] Sankei Shimbun melaporkan bahwa keputusan Koizumi untuk mengurung kebijakan ini dan beberapa kebijakan lainnya akan merusak citra Koizumi sebagai seorang reformis.[91]
Pada 21 September, Koizumi mulai melakukan kampanye di media sosial dengan membuka akun TikTok, tetapi kolom komentarnya diisi oleh kritikan netizen.[92] Kolom komentarnya di post Twitter yang bertulis "Kita akan membangun kembali dengan suara rakyat" juga ditutup, menyebabkan netizen Twitter memberi kritik kepadanya termasuk "apakah ini beneran suara rakyat?" dan banyak yang memberi komplain terhadap media sosialnya. Secara kontras, halaman media sosial Toshimitsu Motegi, Takayuki Kobayashi, Yoshimasa Hayashi dan rival terberatnya, Sanae Takaichi terbuka untuk umum.[93]
Pada 24 September, Shūkan Bunshun melaporkan bahwa Koizumi telah menggunakan buzzer untuk melancarkan kampanyenya. Bunshun mengutip dari sebuah email yang dikirim dari manajer kampanyenya, Karen Makishima kepada para relawan kampanye untuk melakukan spam yang berisi komentar yang menjelekkan Sanae Takaichi serta memuji Koizumi sendiri.[94][95][96] Koizumi mengakui faktanya dan pada 26 September melayangkan permintaan maaf tetapi ia menyatakan bahwa ia tidak menyadari tindakan tersebut sementara Makishima mengundurkan diri dari kampanyenya.[97] Lalu pada 30 September, Shukan Bunshun kembali melaporkan bahwa Koizumi telah memerintahkan sebanyak 826 kader LDP yang bekerja di dapilnya di Kanagawa dipecat tanpa alasan karena 90% di antara mereka memilih Takaichi pada pemilihan ketua umum 2024. Koizumi sekali lagi memberikan keterangan bahwa ia tidak menyadari tindakan tersebut dan menuduh Bunshun atas hoaks.[98] Kontroversi ini membuat Koizumi menerima ancaman pembunuhan dan bahkan ancaman bom terhadap rumahnya, tetapi Koizumi bersikeras tetap berkampanye.[99]
Pada hari pemilihan yang jatuh pada 4 Oktober 2025, Koizumi berada di posisi kedua dengan 80 suara anggota Parlemen Jepang dan 84 suara anggota partai prefektur, dengan total 164 suara, dan maju ke pemilihan putaran kedua melawan Sanae Takaichi, yang berada di posisi pertama dengan 64 suara anggota Parlemen dan 119 suara anggota partai, dengan total 183 suara.[100] Di putaran kedua, Takaichi menerima 149 suara anggota Parlemen dan 36 suara prefektur, dengan total 185 suara, sementara Koizumi hanya menerima 145 suara anggota Parlemen dan 11 suara prefektur, dengan total 156 suara, dan Takaichi terpilih sebagai Presiden LDP ke-29.[101]



Pada 21 Oktober 2025, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melantik Koizumi sebagai Menteri Pertahanan.[102] Koizumi menanggapi dengan berkata, "Yokosuka, tempat kelahiran saya, adalah kota pertahanan dan saya dibesarkan di sebuah lingkungan dengan hubungan erat dengan Pasukan Bela Diri. Saya mau menunaikan tugas saya".[103]
Pada konferensi pers pertamanya, Koizumi menyatakan bahwa ia akan melonggarkan undang-undang ekspor alutsista pertahanan dan mempercepat revisi tiga kebijakan pertahanan pemerintah dan dokumen keamanan nasional.[104]
Pada 29 Oktober 2025, Koizumi mengadakan pertemuan dengan Sekretaris Perang Amerika Serikat Pete Hegseth di Tokyo.[105]
| Artikel ini adalah bagian dari seri tentang |
| Konservatisme di Jepang |
|---|
Seperti ayahnya, Shinjiro kerap mengunjungi Kuil Yasukuni setiap 15 Agustus, hari peringatan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Ia mengunjungi kuil tersebut pada 2011, 2012, dan 2022.[106][107][108] Pada 2024, ia mengunjungi kuil tersebut menjelang pemilihan ketua umum Partai Demokrat Liberal.[109] Pada peringatan 80 tahun akhir Perang Dunia II, Koizumi kembali mengunjungi kuil tersebut.[110]
Berdasarkan website resmi Shinjiro Koizumi,[111] Koizumi memaparkan kebijakannya sebagai berikut:
Koizumi menentang larangan sumbangan perusahaan untuk kampanye dan partai politik, dengan alasan bahwa politik tidak boleh "didanai sepenuhnya oleh uang pajak."[112]
Berbicara tentang budaya LDP pada bulan Maret 2025, Koizumi menyatakan bahwa "satu hal yang perlu diubah dalam budaya LDP adalah bahwa segera setelah tingkat persetujuan turun, kami segera mencoba untuk menjatuhkan pemimpinnya." Komentar itu muncul ketika beberapa orang di dalam partai telah menyerukan agar Perdana Menteri Ishiba mengundurkan diri setelah berita skandal.[113]
Koizumi memiliki paham neoliberalisme terhadap ekonomi.[114][115] Ia sangat proaktif dalam menyuarakan mencabut regulasi ketenagakerjaan, termasuk layanan berbagi tumpangan dan mobilitas tenaga kerja, serta meninjau kembali peraturan pemecatan.
Senada dengan ayahnya, Shinjiro berpendapat bahwa energi nuklir tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.[116] Ia dikenal karena mempromosikan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya raksasa, dan saat menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, ia mengusulkan amendemen undang-undang untuk melonggarkan pembatasan pemasangannya di kawasan taman nasional. Shinjiro kembali menegaskan bahwa ketergantungan energi nuklir di Jepang harus dikurangi dalam sebuah survei dari NHK pada 2021.[117]
Mengenai pernikahan sesama jenis, Koizumi awalnya tidak menjawab sebuah survei dari Asahi Shimbun pada 2017,[118] tetapi pada 2021 di survei dari NHK, Koizumi menjawab ia akan mendukungnya.[117] Saat ditanyakan kembali pada Agustus 2024, Koizumi kembali tidak menjawab[119] dan kemudian pada survei NHK di 2024 menjelang pemilu, Koizumi kembali menegaskan dukungannya terhadap legalisasi pernikahan sesama jenis.[120]
Koizumi mendukung hak istri untuk tetap menggunakan marga mereka sebelum menikah. Dalam survei NHK pada 2021, Koizumi menjawab ia mendukung kebijakan ini.[121] Selama pemilihan pimpinan LDP tahun 2024, Koizumi mengklaim akan mengajukan rancangan undang-undang ke Parlemen yang akan melegalkan sistem semacam itu. Ia kemudian menyatakan bahwa anggota LDP di Parlemen seharusnya bebas memberikan suara pada undang-undang apa pun yang terkait dengan masalah tersebut berdasarkan pandangan mereka sendiri, alih-alih dibatasi oleh konsensus partai.[122]
Menurut halaman resminya, Koizumi meminta untuk merencanakan reformasi pendidikan seperti menciptakan beberapa jenjang jalur pendidikan untuk menghadapi revolusi AI.[111]
Mengenai masalah pelunasan pinjaman mahasiswa oleh mahasiswa, dalam debat LDP 2024, seorang pria dari divisi urusan kemahasiswaan partai bertanya, "Ada kekhawatiran bahwa orang-orang tidak akan bisa menikah dan memiliki anak jika mereka terus membayar pinjaman hingga usia 40 tahun." Koizumi menjawab, "Pergi ke universitas bukanlah segalanya," "Akan ada banyak hal yang dibutuhkan di masa depan," dan "Jika Anda menguasai keterampilan, Anda sekarang dapat membangun karier yang memungkinkan Anda memperoleh penghasilan yang sebanding dengan lulusan universitas."[123]
Koizumi ingin mewujudkan wilayah Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Ia juga mendukung langkah untuk memperkuat hubungan sekutu dengan Amerika Serikat dan negara lain yang berpemikiran serupa.[111]
Dalam wawancara dengan Sankei Shimbun pada Mei 2013, ia menolak mengomentari pernyataan kontroversial Wali Kota Osaka, Toru Hashimoto, tentang perempuan penghibur. Ia menganggap isu tersebut seharusnya dibahas di antara para ahli dan sejarawan, alih-alih politisi. Ia menggambarkan pergeseran nasionalis yang dirasakan dalam politik Jepang sebagai "propaganda Tiongkok" dan menyatakan bahwa pemerintah perlu melancarkan kampanye hubungan masyarakat yang lebih baik untuk melawannya, sambil berfokus pada keberhasilan implementasi Abenomics.[124]
Namun Koizumi tidak banyak berpendapat soal beberapa isu diplomatik Jepang, seperti Pernyataan Murayama, Pernyataan Kono,[125] dan isu bersejarah dengan Korea Selatan.[126]
Koizumi menyatakan bahwa amendemen terhadap Konstitusi Jepang memang diperlukan tetapi belum penting karena masih banyak masalah yang harus diselesaikan di lapangan. Ia menyatakan, "Saya selalu ke wilayah dampak bencana di Tohoku setiap bulan, dan isu amandemen konstitusi tidak pernah menjadi isu masyarakat saat saya berjalan disana".[124]
Pada 2021, ia menyatakan bahwa ia mendukung amendemen konstitusi dan "agak" mendukung amendemen terhadap Pasal 9 Konstitusi Jepang.[117]
Koizumi memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi sebesar 75.6% saat ia menjadi sekretaris parlemen untuk rekonstruksi Tohoku.[127] Pada sebuah jajakan pendapat yang diselenggarakan oleh JNN, namanya mencapai peringkat kedua dibelakang Shinzō Abe sebagai kandidat favorit untuk menjadi Perdana Menteri Jepang, walaupun 57% total responden menyatakan bahwa mereka tidak memiliki preferensi.[128] Pada bulan April 2017, setelah skandal Moritomo Gakuen seputar Perdana Menteri Abe, jajak pendapat yang dilakukan oleh Yomiuri[129] dan NTV[130] menunjukkan Koizumi sebagai pemimpin LDP yang paling disukai (dan calon perdana menteri), melampaui Abe dan penantangnya Shigeru Ishiba.[131]
Setelah pemilu Desember 2012, toko suvenir Gedung Parlemen Jepang mulai menjual "Gulungan Shinji" (進次ろうる), kue gulung rasa teh hijau suvenir bergambar Koizumi. Shinji-Rolls menjadi barang terpopuler kedua di toko suvenir tersebut pada tahun 2013, mengalahkan suvenir bergambar pemimpin LDP Shigeru Ishiba dan Taro Aso, dan hanya kalah laris dari manju bergambar Shinzo Abe.[132]
Nihon Keizai Shimbun pada 2025 menulis bahwa Shinjiro Koizumi memiliki gaya komunikasi yang terbaik di dunia politik Jepang.[133]

Pada 7 Agustus 2019, Penyiar televisi dan presenter berita Christel Takigawa mengumumkan pernikahannya dengan Shinjiro Koizumi. Ia melahirkan seorang putra pada 17 Januari 2020.[134] Dia melahirkan seorang anak perempuan pada tanggal 20 November 2023.[135] Koizumi mendapatkan perhatian internasional pada saat ia mengumumkan bahwa ia akan mengambil cuti ayah saat putra pertamanya lahir pada 2020.[136][137]
Selain bahasa Jepang, Koizumi mahir berbahasa Inggris.[138][139] Tokoh politik yang ia kagumi adalah John F. Kennedy.
Ia juga merupakan sekretaris jenderal Liga Peselancar Partai Demokrat Liberal.[140] Pada September 2023, ia berselancar di perpantaian Prefektur Fukushima untuk meyakinkan masyarakat bahwa bahaya yang disebabkan oleh sisa sampah radioaktif Fukushima Dai-ichi sudah aman.[141] Ia kemudian kembali ke Fukushima pada Juli 2024 untuk berselancar dan ia berselancar bersama Duta Besar Amerika Serikat kepada Jepang Rahm Emanuel saat berlibur.[40] Selain berselancar, ia juga gemar bermain bisbol, nonton film, Bunraku dan Rakugo.[111]
Koizumi juga dikenal sering mengunjungi "kafe kucing" dan mengunggah foto-foto interaksinya dengan kucing-kucing di media sosial, yang menurutnya "sangat populer". Ia juga penggemar Mrs. Green Apple karena lagu-lagunya yang hits di musim panas.[142]
若者の意見を聞かない、考えは古い、頭は固いというのが党のイメージだ。だから信頼が回復しない。
The name of Shinjiro Koizumi, 39, now environment minister and the son of charismatic former Prime Minister Junichiro Koizumi, is often floated as a future prime minister, but many consider him too young.
| Dewan Perwakilan Jepang | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Junichiro Koizumi |
Representative for Kanagawa 11th District 2009–present |
Petahana |
| Didahului oleh: Kazuo Yana |
Chairman of the Committee on National Security 2024 |
Diteruskan oleh: Kenji Wakamiya |
| Jabatan politik | ||
| Didahului oleh: Yoshiaki Harada |
Minister of the Environment 2019–2021 |
Diteruskan oleh: Tsuyoshi Yamaguchi |
| Didahului oleh: Taku Etō |
Minister of Agriculture 2025–present |
Petahana |
| Jabatan partai politik | ||
| Didahului oleh: Yoshihisa Furukawa |
Director of the Youth Division, Liberal Democratic Party 2011–2013 |
Diteruskan oleh: Yohei Matsumoto |
| Didahului oleh: Yuko Obuchi |
Chairman of the Election Strategy Committee, Liberal Democratic Party 2024 |
Diteruskan oleh: Seiji Kihara |