Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kesultanan Gowa

Kesultanan Gowa, terkadang disebut sebagai Gowa–Tallo atau Kesultanan Makassar adalah sebuah kesultanan Islam yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia. Kesultanan ini didirikan sebagai Kerajaan Gowa pada abad ke-12, sebelum akhirnya mengubah nama menjadi kesultanan pada akhir abad ke-14 dan berkembang menjadi kekuatan besar sampai akhirnya mengalami kemunduran pada abad ke-16 dan menjadi protektorat Hindia Belanda. Gowa kemudian dibubarkan pada tahun 1957 dan Sultan terakhir memerintah sebagai Bupati Gowa, sebelum akhirnya didirikan kembali tanpa pengaruh politik pada tahun 2016.

kerajaan di Asia Tenggara
Diperbarui 14 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kesultanan Gowa
Gowa-Tallo

ᨀᨀᨑᨕᨙᨂ ᨆᨀᨔᨑ
ca 1300–1957
Bendera Kesultanan Gowa
Bendera
Kesultanan Gowa pada puncak kejayaannya, ca 1658.
Kesultanan Gowa pada puncak kejayaannya, ca 1658.
Ibu kota
Daftar
  • Tamalate (1320–1548)
  • Somba Opu (1548–1670)
  • Kalegowa (1670–1680)
  • Ujung Tanah (1680–1684)
  • Mangallekana (1684–1692)
  • Kalegowa (1692–1702)
  • Balla Kiria (1702–1720)
  • Katangka (1720–1722)
  • Pabineang (1722–1727)
  • Mallengkeri (1727–1753)
  • Kalegowa (1753–1895)
  • Jongaya (1895–1906)
  • Sungguminasa (1936–sekarang)
Bahasa resmiMakassar
Agama
Islam Sunni (pada 1607)
PemerintahanMonarki absolut
Sultan 
• ±1320
Tumanurung Bainea (somba pertama)
• 1593–1639
Alauddin I dari Gowa (sultan pertama)
• 1653–1669
Hasanuddin dari Gowa
• 1956–1978
Abdul Kadir II dari Gowa (berdaulat terakhir)
• 2024–sekarang
Muhammad IV dari Gowa
Digantikan oleh
Hindia Belanda
Republik Indonesia
Sekarang bagian dari Indonesia
 Filipina
 Malaysia
 Timor-Leste
 Australia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Kesultanan Gowa (bahasa Makassar: ᨀᨙᨔᨘᨒᨘᨈᨊ ᨁᨚᨓ), terkadang disebut sebagai Gowa–Tallo atau Kesultanan Makassar adalah sebuah kesultanan Islam yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi, yang saat ini menjadi bagian dari Indonesia. Kesultanan ini didirikan sebagai Kerajaan Gowa pada abad ke-12, sebelum akhirnya mengubah nama menjadi kesultanan pada akhir abad ke-14 dan berkembang menjadi kekuatan besar sampai akhirnya mengalami kemunduran pada abad ke-16 dan menjadi protektorat Hindia Belanda. Gowa kemudian dibubarkan pada tahun 1957 dan Sultan terakhir memerintah sebagai Bupati Gowa, sebelum akhirnya didirikan kembali tanpa pengaruh politik pada tahun 2016.

Berawal dari chiefdom yang didirikan pada awal abad ke-14 (1320). Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya bersama Kerajaan Tallo sekitar tahun 1511 hingga 1669, ketika kerajaan ini memegang hegemoni militer dan perdagangan atas wilayah timur Nusantara, termasuk di antaranya sebagian besar Sulawesi, beberapa bagian dari Maluku dan Nusa Tenggara, pesisir timur Kalimantan hingga Wilayah Utara. Dalam prosesnya menjadi kekaisaran maritim, Kerajaan Gowa mengembangkan berbagai inovasi dalam bidang pemerintahan, ekonomi dan militer. Perubahan sosial budaya yang drastis juga terjadi seiring mengeratnya hubungan antara Kerajaan Gowa dan dunia luar, terutama setelah Kerajaan Gowa mengadopsi Islam sebagai agama resmi pada awal 1607.

Kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar yang terjadi pada tahun 1669 mengakibatkan lepasnya wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa di luar Sulawesi Selatan, sementara sebagian kecil wilayahnya diberikan kepada VOC. Meski begitu, Kerajaan Gowa tetap bertahan sebagai negeri merdeka hingga awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mengalahkan Gowa dalam Ekspedisi Sulawesi Selatan dan menjadikannya daerah koloni mereka.

Sejarah

Sejarah awal

Artikel utama: Sejarah awal Gowa dan Tallo
Catatan sejarah Gowa yang ditulis dalam bahasa dan aksara Makassar

Naskah Lontara Patturioloang Gowa menyebutkan bahwa keturunan penguasa Kerajaan/Kesultanan Gowa berawal dari perkawinan Tumanurung yang secara harfiah dapat diartikan orang tidak diketahui asal muasalnya secara pasti dengan seorang bangsawan yang hanya dikenali dengan Karaeng Bayo",[1][2] sebagai perkawinan antara wanita bangsawan setempat dan penguasa.[3][4] Bangsawan-bangsawan Bate Salapanga di Gowa pun bersepakat membentuk negeri dan mengangkat mereka berdua suami-istri sebagai penguasa.[5] Bukti genealogis dan arkeologis mengisyaratkan bahwa pembentukan negeri Gowa terjadi pada sekitar tahun 1320 Masehi.[6][7] Para ahli mengaitkan kemunculan Kerajaan Gowa dan negeri-negeri di Sulawesi Selatan lainnya dengan intensifikasi pertanian dan pemusatan pemerintahan besar-besaran pada abad ke-14, yang dipicu oleh naiknya permintaan luar bagi beras Sulawesi Selatan.[8][9][10] Kepadatan penduduk turut meningkat seiring dengan pergantian dari budaya meladang kepada budi daya padi lahan basah secara intensif. Hutan-hutan di pedalaman semenanjung pun dibuka untuk memberi tempat bagi pemukiman-pemukiman agraris baru,[11] termasuk Gowa yang awalnya juga merupakan chiefdom pedalaman yang berbasiskan budi daya padi.[7]

Dalam perang takhta antara dua putra "Sombaya ri Gowa" atau Raja di Kerajaan Gowa yang ke-enam bernama tunatakalopi atau Harya tarunaba[12] [13]yang masih putra brawijaya V menikahi putri gowa sehingga memiliki putra bergelar Bhatara Gowa. pada akhir abad ke-15, Batara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna mengalahkan saudaranya Karaeng Loe ri Sero'. Karaeng Loe ri Sero' kemudian menuju ke muara Sungai Tallo dan mendirikan negeri baru yang dikemudian hari dinamakan Tallo,[14][15] yang kemudian berkembang menjadi negara maritim berbasis niaga.[16][17] Hingga abad ke-16, bagian barat Sulawesi Selatan terdiri dari negeri-negeri sama kuat yang saling bersekutu dan bersaing satu sama lain, tanpa ada satu pun yang mampu menguasai keseluruhannya.[18] Putra Batara Gowa, Karaeng Tumapaʼrisiʼ Kallonna (berkuasa sekitar 1511–1546), memecahkan keadaan status quo ini dengan menaklukkan pesisir Garassi' serta menyerang setidaknya tiga belas negeri bersuku Makassar lainnya.[19][20][21] Pada akhir 1530-an atau awal 1540-an, Kerajaan Gowa memenangkan perang melawan Kerajaan Tallo dan sekutu-sekutunya.[22][23] Kerajaan Gowa pun menjadi negeri paling dominan di tanah suku Makassar dan diakui sebagai saudara tua oleh Kerajaan Tallo.[24][25] Sombaya Tumapaʼrisiʼ Kallonna mengembangkan birokrasi kerajaan dengan menunjuk Daeng Pamatteʼ sebagai sabannaraʼ (syahbandar) pertama.[26] Penyusunan catatan sejarah serta hukum tertulis kerajaan juga dimulai pada masa pemerintahannya.[27][19] Ia juga kemungkinan merupakan penguasa Kerajaan Gowa yang pertama kali membangun benteng Somba Opu.[28][29]

Penguasa Kerajaan Gowa berikutnya, Karaeng Tunipalangga (memerintah sekitar 1546–1565) memperluas pengaruh Kerajaan Gowa melalui serangkaian agresi militer. Ia juga melakukan inovasi dalam bidang teknologi persenjataan dan pertahanan.[30][31][29] Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Gowa mengalahkan seluruh pesaingnya di pesisir barat dan memperluas pengaruhnya hingga ke wilayah Sulawesi Tengah.[32][33] Sombaya Tunipalangga juga menerima orang-orang Melayu dan Nusantara Barat lainnya untuk bermukim dan sekaligus berniaga di negerinya.[34] Ia bahkan mengadakan perjanjian dengan salah satu pemimpin mereka dan memperbolehkan mereka untuk tinggal secara permanen di dalam wilayah Kerajaan Gowa tanpa harus mengikuti hukum adat setempat.[35][36][37] Para pedagang ini kemungkinan juga turut terlibat dalam reformasi ekonomi yang berkontribusi pada kemajuan pesat Kerajaan Gowa sebagai bandar persinggahan utama di Nusantara bagian timur kala itu.[38] Sombaya Tunipalangga juga mengembangkan birokrasi Keraiaan Gowa lebih lanjut dengan menciptakan jabatan Tumilalang atau Tumailalang yang artinya "orang di dalam" (menteri dalam negeri???[39]) untuk mengambil alih tugas-tugas nondagang sabannaraʼ,[40][41] serta mengangkat Tumakkajannangngang atau kepala perajin yang bertugas mengawasi pekerjaan ??? (Dari versi lain, jabatan "Tumakkajannangngang" atau lengkapnya "Anrongguru Lompona Tukkajannangnganga" adalah jabatan Panglima Angkatan perang Kerajaan/Kesultanan Gowa yang pada masa pemerintahan Raja (Sultan) atau Sombaya ri Gowa ke 15, jabatan tersebut diduduki oleh putra Beliau yaitu I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla'pangkana yang dijuluki oleh admiral VOC Cornelius Spellman dengan julukan De Haantjes van Het Osten atau Ayam Jantan dari Timur, dalam bahasa Makassarnya; Jangang Pallakina Butta Irayayya, dan juga pada masa akhir Kesultanan Gowa para masa pemerintahan Sombaya ri Gowa XXXVI Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin Tumenanga ri Jongaya yang dijabat oleh salah satu kerabatnya yang bernama Andi Laoddanriu Karaeng Bontonompo) serikat-serikat perajin di Makassar.[42][43]

Perluasan pengaruh Kerajaan Gowa di pesisir barat memicu respons agresif dari Kerajaan Bone di sebelah timur. Perang meletus pada awal 1560-an, dan baru berakhir pada 1565 dengan kekalahan Gowa. Karaeng Tunibatta, saudara dan penerus Sombaya Tunipalangga, mati dipenggal (Nibatta) oleh musuh.[44][45][46] Selepas kematian Tunibatta, penguasa Kerajaan Tallo I Mappatakangkang Tana Daeng Padulung Tumenanga ri Makkoayang naik sebagai Tuma'bicara butta atau juru bicara negeri (perdana menteri???) pertama Gowa??? dan mengangkat Karaeng Tunijalloʼ, putra Karaeng Tunibatta, sebagai penguasa Gowa.[47][48] Sejak saat itu, penguasa Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo berbagi posisi dalam memimpin keseluruhan negeri Gowa dan negeri Tallo secara bersama-sama.[49][50] Karaeng Tunijalloʼ mengakhiri peperangan dengan menandatangani Perjanjian Caleppa atau "Ulu Kanaya ri Caleppa" antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone,[45][46] yang mempertahankan kedamaian di semenanjung selama kurang lebih enam belas tahun berikutnya.[51] Selama itu pula, Sombaya Tunijalloʼ dan Karaeng Tumenanga ri Makkoayang melanjutkan kebijakan-kebijakan pro-perniagaan penguasa sebelumnya dan mengikat persahabatan dengan negeri-negeri lain di Nusantara.[52][53][54]

Masa kesultanan

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.
Gambar Sultan Hasanuddin dalam perangko yang diterbitkan tahun 2006.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di Sulawesi, tetapi belum berhasil menundukkan Kesultanan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan VOC (Kompeni).

Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perjanjian Bungaya di Bungaya. Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan lagi. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia. Pertempuran kembali pecah di berbagai tempat. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar menambah kekuatan pasukan VOC, hingga akhirnya Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat milik Kesultanan Gowa yaitu Benteng Somba Opu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Kesultanan Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa ke-1, Tumanurung, hingga mencapai puncak keemasannya pada abad ke-17, hingga kemudian mengalami masa penjajahan di bawah kekuasaan Belanda. Dalam pada itu, sistem pemerintahan mengalami transisi pada masa Raja Gowa ke-36, Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin, menyatakan Kesultanan Gowa bergabung menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, dan berubah bentuk dari kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Kabupaten Gowa pertama.

Budaya dan masyarakat

Deretan kapal Pinisi di Pelabuhan Paotere.

Sebagai negara maritim, maka sebagian besar masyarakat Gowa adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun masyarakat Gowa memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut Pangadakkang. Dan masyarakat Gowa sangat percaya dan taat terhadap norma-norma tersebut.

Di samping norma tersebut, masyarakat Gowa juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan Anakarung atau Karaeng, sedangkan rakyat kebanyakan disebut to Maradeka dan masyarakat lapisan bawah disebut dengan golongan Ata.[55]

Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Gowa banyak menghasilkan benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Gowa dikenal dengan nama Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan dan terkenal hingga mancanegara.

Hirearki sosial

Lihat pula: Daftar penguasa Gowa
  • Somba dan Sultan: adalah gelar yg hanya di peruntukkan untuk raja Gowa yg memerintah.
  • Karaeng, Kare, Andi: adalah gelar bangsawan tinggi yg menguasai suatu daerah tertentu yg berada di dalam kerajaan, dan juga di gunakan oleh orang orang yg berada di dalam garis keturunan raja. Dalam praktiknya, Gelar ini sama dengan duke yg di gunakan oleh bangsawan Inggris, atau adipati dalam konteks kebangsawanan Jawa.
  • Daeng: adalah gelar bangsawan yang di gunakan oleh bangsawan yg tidak mengendalikan suatu wilayah tapi mempunyai garis keturunan yg dekat dengan raja, belakangan gelar ini di gunakan oleh orang Makassar sebagai penanda jati diri.
  • To maradeka: adalah rakyat jelata kebanyakan yang tidak memiliki gelar dan bukan seorang bangsawan.
  • Ata: adalah hamba sahaya atau budak.

Pemberian gelar merupakan metode penting untuk menetapkan dan mengakui kedudukan seseorang/sekelompok orang dan komunitas tertentu dalam masyarakat. Idealnya, tetapi tidak selalu demikian, hierarki gelar ini sesuai dengan hierarki alami darah putih yang dimiliki para bangsawan. Yang membedakan bangsawan dari rakyat jelata, misalnya, adalah hak untuk memiliki nama kerajaan atau daeng serta nama pribadi. Yang membedakan bangsawan berpangkat rendah seperti anaq ceraq dari bangsawan berpangkat tinggi seperti anaq tiqno adalah hak bangsawan tersebut atas gelar karaeng. Gelar karaeng yang diberikan oleh penguasa Gowa tidak hanya menandakan status tinggi yang diterima oleh pemegangnya, tetapi juga sering kali merupakan toponim yang memberi pemegangnya hak untuk menuntut upeti dan kerja dari masyarakat dengan nama tersebut.[56]: 113 

Jabatan-jabatan menjadi domain para bangsawan dengan gelar karaeng. Yang terpenting di antara mereka adalah Tumabicarabutta, yang bertugas membantu penguasa Gowa sebagai bupati dan penasihat utama. Pola penguasa Tallo yang menasihati penguasa Gowa ini menjadi norma pada paruh pertama abad ke-17.[56]: 112 

Jabatan penting lainnya adalah Tumailalang (secara harfiah berarti "orang dalam"), yaitu tiga menteri. Dari namanya tampak bahwa Tumailalang bertugas mengelola urusan sehari-hari di Gowa, ada kantor gabungan tumailalang-sabannaraq pada masa pemerintahan Tumapa'risi' Kallonna. Pada masa pemerintahan berikutnya, Tunipalangga memisahkan jabatan-jabatan ini dan pada masa pemerintahan Tunijallo, terdapat 2 Tumailalang, yang kemudian dikenal sebagai tumailalang toa yang lebih tua dan tumailalang lolo yang lebih muda. Semua pemegang jabatan Tumailalang adalah karaeng berpangkat tinggi.[56]: 112 

Ekonomi

[icon]
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.

Kerajaan Makassar adalah kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di wilayah Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor yaitu : letak yang strategis, mempunyai pelabuhan yang baik jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang yang pindah ke Indonesia Timur.

Sebagai pusat perdagangan. Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional yang banyak disinggahi pedagang asing seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di Makassar.

Lihat pula

  • Suku Makassar
  • Kesultanan Aceh
  • Kesultanan Banten
  • Kesultanan Bolango
  • Kesultanan Gorontalo
  • Kesultanan Kutai
  • Kesultanan Tidore
  • Kesultanan Ternate
  • Kesultanan Lingga

Rujukan

Sitiran

  1. ↑ Cummings (2002), hlm. 25, 149–153.
  2. ↑ Abidin (1983).
  3. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 32–34.
  4. ↑ Bulbeck (2006), hlm. 287.
  5. ↑ Cummings (2002), hlm. 25.
  6. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 34, 231, 473, 475, antara lain.
  7. 1 2 Bulbeck (1993).
  8. ↑ Bulbeck & Caldwell (2000), hlm. 107.
  9. ↑ Druce (2009), hlm. 34–36.
  10. ↑ Pelras (1996), hlm. 100–103.
  11. ↑ Pelras (1996), hlm. 98–100.
  12. ↑ "PARA KETURUNAN PRABU BRAWIJAYA V (MAJAPAHIT) MENJADI PARA PENGUASA NUSANTARA, DAN MENURUNKAN PARA RAJA JAWA SELANJUTNYA (DEMAK, PAJANG, MATARAM, DAN SETERUSNYA)". Global Cyber News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2020-07-13. Diakses tanggal 2023-07-06.
  13. ↑ Kebumen, Pemerintah Kabupaten. "SILSILAH RAJA MAJAPAHIT: INILAH DAFTAR 117 ANAK PRABU BRAWIJAYA V | Diantaranya Mungkin Leluhur Anda". Website Resmi Desa Tepakyang Kecamatan ADIMULYO Kabupaten Kebumen. Diakses tanggal 2023-07-06.
  14. ↑ Cummings (2007b), hlm. 100–105.
  15. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 430–432.
  16. ↑ Reid (1983).
  17. ↑ Cummings (2007a), hlm. 2–5, 83–85.
  18. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 123–125.
  19. 1 2 Cummings (2007a), hlm. 32–33.
  20. ↑ Druce (2009), hlm. 241–242.
  21. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 125.
  22. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 117–118.
  23. ↑ Cummings (2000), hlm. 29.
  24. ↑ Cummings (2014), hlm. 215–218.
  25. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 127–131.
  26. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 105–107.
  27. ↑ Cummings (2002), hlm. 216.
  28. ↑ Cummings (2007a), hlm. 57.
  29. 1 2 Bulbeck (1992), hlm. 126.
  30. ↑ Cummings (2007a), hlm. 33–36, 56–59.
  31. ↑ Andaya (1981), hlm. 25–26.
  32. ↑ Druce (2009), hlm. 232–235, 244.
  33. ↑ Bougas (1998), hlm. 92.
  34. ↑ Sutherland (2004), hlm. 79.
  35. ↑ Cummings (2007a), hlm. 34.
  36. ↑ Andaya (1981), hlm. 27.
  37. ↑ Cummings (2014), hlm. 219–221.
  38. ↑ Andaya (2011), hlm. 114–115.
  39. ↑ Gibson (2007), hlm. 45.
  40. ↑ Cummings (2002), hlm. 112.
  41. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 107.
  42. ↑ Gibson (2005), hlm. 45.
  43. ↑ Bulbeck (2006), hlm. 292.
  44. ↑ Cummings (2007a), hlm. 36.
  45. 1 2 Pelras (1996), hlm. 131–132.
  46. 1 2 Andaya (1981), hlm. 29.
  47. ↑ Reid (1981).
  48. ↑ Bulbeck (1992), hlm. 102.
  49. ↑ Cummings (1999), hlm. 109–110.
  50. ↑ Cummings (2007a), hlm. 86.
  51. ↑ Druce (2014), hlm. 152.
  52. ↑ Cummings (2007a), hlm. 41.
  53. ↑ Cummings (2002), hlm. 22.
  54. ↑ Pelras (1994), hlm. 139.
  55. ↑ "Kerajaan Gowa-Tallo / Kesultanan Makassar (Lengkap)". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-06-10. Diakses tanggal 2015-08-10.
  56. 1 2 3 Cummings, William (2002). Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar. University of Hawaiʻi Press. hlm. 257. ISBN 978-0-8248-2513-3.

Daftar pustaka

Abidin, Andi' Zainal (1983). "The Emergence of Early Kingdoms in South Sulawesi: A Preliminary Remark on Governmental Contracts from the Thirteenth to the Fifteenth Century". Southeast Asian Studies. 20 (4): 1–39. doi:10.14724/jh.v2i1.14. ISSN 2302-1683.
Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. Ann Arbor: University of Michigan. ISBN 9789024724635.
——— (2011). "Chapter 6: Eastern Indonesia: A Study of the Intersection of Global, Regional, and Local Networks in the 'Extended' Indian Ocean". Dalam Halikowski Smith, Stephan C. A. (ed.). Reinterpreting Indian Ocean Worlds: Essays in Honour of Kirti N. Chaudhuri. Cambridge Scholars Publishing. hlm. 107–141. ISBN 9781443830447.
Bougas, Wayne A. (1998). "Bantayan: An Early Makassarese Kingdom, 1200–1600 A.D.". Archipel. 55 (1): 83–123. doi:10.3406/arch.1998.3444.
Bulbeck, Francis David (992). A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia (Ph.D.). Australian National University.
——— (1993). "New Perspectives on early South Sulawesi History". Baruga: Sulawesi Research Bulletin. 9: 10–18.
———; Caldwell, Ian (2000). Land of iron: the Historical Archaeology of Luwu and the Cenrana valley : Results of the Origin of Complex Society in South Sulawesi Project (OXIS). University of Hull Centre for South-East Asian Studies. ISBN 9780903122115.
——— (2006). "Chapter 13: The Politics of Marriage and the Marriage of Polities in Gowa, South Sulawesi, During the 16th and 17th Centuries". Dalam Fox, James J. (ed.). Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: ANU Press. hlm. 283–319. ISBN 9781920942878.
Cummings, William P. (2000). "Reading the Histories of a Maros Chronicle". Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 156 (1): 1–31. doi:10.1163/22134379-90003851. JSTOR 27865583.
——— (2002). Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824825133.
——— (2007a). A Chain of Kings: The Makassarese Chronicles of Gowa and Talloq. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067182874.
——— (2007b). "Islam, Empire and Makassarese Historiography in the Reign of Sultan Ala'uddin (1593–1639)". Journal of Southeast Asian Studies. 38 (2): 197–214. doi:10.1017/S002246340700001X. JSTOR 20071830.
——— (2014). "Chapter 10: Re-evaluating state, society, and the dynamics of expansion in precolonial Gowa". Dalam Wade, Geoff (ed.). Asian Expansions: The Historical Experiences of Polity Expansion in Asia. Routledge. hlm. 214–232. ISBN 9781135043537.
Druce, Stephen C. (2009). The Lands West of the Lakes: A History of the Ajattappareng Kingdoms of South Sulawesi, 1200 to 1600 CE. Leiden: Brill. ISBN 9789004253827.
——— (2014). "Dating the tributary and domain lists of the South Sulawesi kingdoms". Dalam Ampuan Haji Brahim bin Ampuan Haji Tengah (ed.). Cetusan minda sarjana: Sastera dan budaya. Bandar Seri Begawan: Dewan Bahasa dan Pustaka. hlm. 145–156. ISBN 9789991709604.
Gibson, Thomas (2005). And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 9780824828653.
——— (2007). Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia: From the 16th to the 21st century. New York: Springer Publishing. ISBN 9780230605084.
Pelras, Christian (1994). "Religion, Tradition and the Dynamics of Islamization in South-Sulawesi". Indonesia. 57 (1): 133–154.
——— (1996). The Bugis. Oxford: Blackwell Publishers. ISBN 9780631172314.
Reid, Anthony (1981). "A Great Seventeenth-Century Indonesian Family: Matoaya and Pattingalloang of Makassar". Masyarakat Indonesia. 8 (1): 1–28.
Sutherland, Heather (2004). "The Makassar Malays: Adaptation and Identity, c.1660–1790". Dalam Barnard, Timothy (ed.). Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries. NUS Press. hlm. 76–106. ISBN 9789971692797.

[1]

  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sulawesi
Gorontalo
Atinggola · Boalemo · Bolango · Gorontalo · Kwandang · Limboto · Suwawa · Tolinggula
Sulawesi Utara
Bintauna · Bolaang Mongondow · Bolangitang · Kaidipang · Manado · Manganitu · Siau · Tabukan · Tagulandang
Sulawesi Tengah
Balinggi · Banawa · Banggai · Bungku · Buol · Dolo · Kulawi · Lore · Mori · Moutong · Palu · Pamona · Parigi · Poso · Raba · Sigi · Tawaeli · Tojo · Toli-Toli · Una-Una
Sulawesi Barat
Aralle · Baras · Balanipa · Binuang · Mambi · Mamuju · Passokkorang · Rantebulahan · Sarudu · Sendana · Tabulahan · Talotu
Sulawesi Selatan
Alitta · Bangkala · Berru · Binamu · Bone · Bontoa · Bulo-Bulo · Gantarang · Gowa · Lamatti · Lau · Luwu · Marusu · Nepo · Putabangun · Raya · Sidenreng · Simbang · Soppeng · Soppeng Riaja · Suppa · Tallo · Tanete · Tanralili · Tondong · Turikale · Wajo
Sulawesi Tenggara
Bungku · Buton · Mekongga · Konawe · Muna
  1. ↑ (Indonesia) Kerajaan Islam di Pulau Sulawesi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Sejarah awal
  3. Masa kesultanan
  4. Budaya dan masyarakat
  5. Hirearki sosial
  6. Ekonomi
  7. Lihat pula
  8. Rujukan
  9. Sitiran
  10. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Asia Tenggara

bagian tenggara benua Asia

Pesta Olahraga Asia Tenggara

Kompetisi multi-olahraga negara-negara di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026