Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Jalan Raya Cililitan–Tanjung Priok

Jalan Raya Cililitan–Tanjung Priok, juga dikenal sebagai Jakarta Bypass atau sederhananya Bypass, adalah jalan bypass sepanjang 27 km di Jakarta, Indonesia yang menghubungkan Jalan Dewi Sartika dan Jalan Raya Bogor di Cililitan, Jakarta Timur dengan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara. Jalan ini dibagi menjadi empat bagian: Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan D.I. Panjaitan, Jalan Jend. Ahmad Yani, dan Jalan Laksamana Yos Sudarso. Jalan bypass ini diresmikan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada tanggal 21 Oktober 1963. Salah satu bagian dari Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta dibangun di atas jalan ini.

jalan raya di Indonesia
Diperbarui 17 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jalan Raya Cililitan–Tanjung Priok
Artikel ini bukan mengenai Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono.
Jalan Raya Cililitan–Tanjung Priok
Cililitan-Tanjung Priok Road
Jakarta Bypass
Jalan Layang Ahmad Yani Pramuka Pemuda Jakarta.jpg
Persimpangan Jalan Pemuda dan Jalan Pramuka, salah satu persimpangan Jalan Bypass Jakarta
Informasi rute
Panjang17 mi (27 km)
BerdiriSejak 21 Oktober 1963
Persimpangan besar
Persimpangan besar
  • Cililitan
  • Cawang
  • Kalimalang
  • Kampung Melayu/Basuki Rahmat
  • Flyover Jatinegara
  • Utan Kayu
  • Pemuda/ Pramuka
  • Kayu Putih
  • Cempaka Putih
  • Kelapa Gading
Lokasi
NegaraIndonesia
KotaJakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara
Sistem jalan
  • Transportasi di Indonesia

Jalan Raya Cililitan–Tanjung Priok, juga dikenal sebagai Jakarta Bypass (ejaan lama: Djakarta Bypass) atau sederhananya Bypass, adalah jalan bypass sepanjang 27 km di Jakarta, Indonesia yang menghubungkan Jalan Dewi Sartika dan Jalan Raya Bogor (salah satu bagian dari Jalan Raya Pos) di Cililitan, Jakarta Timur dengan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta Utara. Jalan ini dibagi menjadi empat bagian: Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan D.I. Panjaitan, Jalan Jend. Ahmad Yani, dan Jalan Laksamana Yos Sudarso. Jalan bypass ini diresmikan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada tanggal 21 Oktober 1963.[1] Salah satu bagian dari Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta dibangun di atas jalan ini.

Tujuan pembangunan jalan ini adalah untuk mempercepat perjalanan dari Tanjung Priok ke pusat Jakarta. Jalan ini menjadi tolok ukur perkembangan kota di bagian timur. Jalan ini memiliki peran penting dalam membentuk jaringan jalan timur–barat kota yang sebelumnya didominasi oleh jaringan jalan utara–selatan.[2]

Sejarah

Latar Belakang

Proyek Mercusuar Soekarno dan Persiapan Pesta Olahraga Asia 1962

Pembangunan Jalan Djakarta Bypass merupakan salah satu rancangan Soekarno untuk menjadikan Jakarta sebagai "Politik mercusuar'' bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang baru dan kuat.[3][4] Rancangan tersebut juga merupakan salah satu bagian dari persiapan Jakarta sebagai tuan rumah Pesta Olahraga Asia (Asian Games) 1962.[4]

Persiapan Asian Games 1962 melibatkan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet dan Jepang, dimana pihak Uni Soviet turun tangan dalam pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno dan pihak Jepang turun tangan dalam pembangunan Hotel Indonesia sebagai tempat penginapan tamu-tamu negara selama Asian Games berlangsung. Setelah Uni Soviet dan Jepang, pemerintah Indonesia pernah meminta (atau lebih tepatnya menantang) Amerika Serikat untuk turut membangun infrastruktur penunjang Asian Games.[5]

Ketegangan Hubungan Indonesia-AS

Penangkapan dan persidangan pilot AS, Allen Pope, karena telah menembaki rakyat Indonesia di Maluku pada tahun 1958. Pembangunan Djakarta Bypass merupakan hasil negosiasi pembebasan Allen Pope.[6]

Pada saat itu hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Amerika Serikat dinilai kurang harmonis, hal itu disebabkan oleh adanya tudingan terhadap AS yang membantu pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tudingan tersebut berdasarkan penangkapan Allen Lawrence Pope, seorang pilot pesawat B-26 berkebangsaan Amerika Serikat yang menembaki rakyat Indonesia di Maluku pada tahun 1958.[6]

Namun pada akhirnya, Pemerintah Indonesia sepakat untuk mebebaskan Allen Pope setelah bernegosiasi dengan pihak Amerika Serikat. Dalam negosiasi tersebut, pemerintah AS menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk membangun sebuah Jalan Raya sepanjang 18,08 km yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok menuju ke daerah Cawang dan Cililitan yang sekaligus menjadi akses dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Jalan raya tersebut mejadi cikal bakal dari Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok (Djakarta Bypass).[6]

Pembangunan

Status Pinjaman Bantuan Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) per 30 Juni 1968. Pinjaman biaya pembangunan Djakarta Bypass ditandai dengan kotak dan anak panah

Pembangunan dimulai sekitar tahun 1960 hingga akhir 1963.[7] Biaya Pembangunan Djakarta Bypass berasal dari bantuan Amerika Serikat melalui Pinjaman Jangka Panjang oleh Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Pembangunannya dikerjakan oleh para tenaga ahli dari AS.[6] Selama pembangunan, Jalan Djakarta Bypass pernah digunakan sebagai jalur kendaraan pengangkut kebutuhan pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno yang datang dari pelabuhan Tanjung Priok. Pada tahun 1962, saat Asian Games berlangsung, jalan ini pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaran marathon dan balap sepeda pada Asian Games 1962.[5][7]

Peresmian

Peresminan Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok (Djakarta Bypass) dilakukan pada tanggal 21 Oktober 1963. Diperkirakan lokasi peresmian berada di kawasan Kalimalang. Peresmian tersebut dihadri oleh Presiden Soekarno, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia; Howard P. Jones, Gubernur Jakarta; Soemarno Sosroatmodjo, perwakilan negara-negara sahabat, dan warga Jakarta yang tumpah ruah. Pada saat itu, Soekarno memberikan pidato sebelum peresmian. Setelah itu, beliau langsung mengunting pita peresmian Jalan Djakarta Bypass dan langsung menginspeksi jalan raya baru tersebut.[6] Jalan Djakarta Bypass merupakan sambungan jalan baru di Jakarta memungkinkan truk untuk "melewati seluruh Jakarta saat bepergian dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok", sehingga dinamai demikian.[8]

Pembangunan Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono

Artikel utama: Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono

Seiring dengan cepatnya laju Urbanisasi di Jakarta pada awal tahun 1980-an, jalan Djakarta Bypass menjadi salah satu ruas jalan termacet di Jakarta. Oleh karenanya, pemerintah orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto merencanakan pembangunan sebuah jalan layang yang sudah direncanakan sejak April 1979.[9] Jalan layang tersebut adalah Jalan Tol Layang Cawang–Tanjung Priok (Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono) yang merupakan bagian dari rencana Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta yang mengambil contoh dari Djakarta Bypass sebagai prototipe jalan bebas hambatan di Indonesia sebelum dibangunnya Tol Jagorawi.[7] Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono merupakan Jalan Tol Layang pertama di Indonesia yang memiliki panjang 15 km yang menjadi terusan dari Jalan Tol Jagorawi menuju ke pelabuhan Tanjung Priok.

Kemacetan parah di ruas jalan Djakarta Bypass yang kerap terjadi setiap hari menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono, karena pembangunan tiang jalur layang dapat mengganggu arus lalu lintas. Walaupun demikian, sebuah terobosan dalam dunia teknik konstruksi lahir, yakni Teknik Sosrobahu. Teknik ini digunakan untuk memutar bahu lengan beton dari Jalan layang. Keunggulannya adalah dapat mengurangi gangguan terhadap arus lalu lintas yang padat. Teknik ini pertama kali ditemukan pada tahun 1988 oleh seorang insinyur asal Bali, Tjokorda Raka Sukawati.[10]

Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono mulai dibangun sekitar tahun 1987 dan diresmikan pada 9 Maret 1990, dan diharapkan dapat mengurangi kemacetan parah yang kerap terjadi di Djakarta Bypass yang terletak di bawah jalan tol tersebut.[9][10]

Bagian

Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok (Djakarta Bypass) terbagi menjadi empat ruas jalan, tiga diantaranya dinamakan setelah Pahlawan Revolusi Indonesia yang menjadi korban dalam peristiwa G30S PKI. Bagian ruas jalan tersebut yakni;

  • Jl. Mayjen Sutoyo, mulai dari simpang Cililitan hingga simpang Cawang.
  • Jl. DI Panjaitan, mulai dari simpang Cawang hingga Flyover Jatinegara.
  • Jl. Jenderal Ahmad Yani, mulai dari Flyover Jatinegara hingga simpang Kelapa Gading.
  • Jl. Yos Sudarso, mulai dari simpang Kelapa Gading hingga Pelabuhan Tanjung Priok.

Secara administratif, jalan raya ini melewati wilayah:

  • Kota Administrasi Jakarta Timur
    • Kecamatan Kramat Jati
      • Kelurahan Cililitan
      • Kelurahan Cawang
    • Kecamatan Jatinegara
      • Kelurahan Bidara Cina
      • Kelurahan Cipinang Cempedak
      • Kelurahan Rawa Bunga
      • Kelurahan Bali Mester
    • Kecamatan Matraman
      • Kelurahan Pisangan Baru
      • Kelurahan Kayu Manis
      • Kelurahan Utan Kayu Selatan
      • Kelurahan Utan Kayu Utara
    • Kecamatan Pulo Gadung
      • Kelurahan Pisangan Timur
      • Kelurahan Rawamangun
      • Kelurahan Kayu Putih
  • Kota Administrasi Jakarta Pusat
    • Kecamatan Cempaka Putih
      • Kelurahan Rawasari
      • Kelurahan Cempaka Putih Timur
    • Kecamatan Kemayoran
      • Kelurahan Sumur Batu
  • Kota Administrasi Jakarta Utara
    • Kecamatan Kelapa Gading
      • Kelurahan Kelapa Gading Barat
    • Kecamatan Koja
      • Kelurahan Rawa Badak Selatan
      • Kelurahan Rawa Badak Utara
    • Kecamatan Tanjung Priok
      • Kelurahan Sunter Jaya
      • Kelurahan Sungai Bambu
      • Kelurahan Kebon Bawang

Diurutkan dari arah Cililitan ke Tanjung Priok

Persimpangan

Simpang Cililitan di wilayah Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur adalah salah satu persimpangan besar dan titik awal/akhir jalur jalan raya ini di sebelah selatan

Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok memiliki banyak persimpangan besar maupun kecil. Persimpangan besar pada jalur jalan raya ini adalah:

  • Simpang Cililitan (menuju Jalan Raya Bogor/Jalan Dewi Sartika)
  • Simpang Cawang (menuju Jalan MT Haryono/Bandara Internasional Halim Perdanakusuma)
  • SImpang Kalimalang (menuju Jalan Laksamana Hayati (Jalan Raya Kalimalang))
  • Simpang Pasar Gembrong (menuju Kampung Melayu/Jalan Basuki Rachmat/Jalan Tol Bekasi–Cawang–Kampung Melayu)
  • Flyover Jatinegara (menuju Stasiun Jatinegara/Jalan I Gusti Ngurahrai)
  • Simpang Jalan Pramuka/Jalan Pemuda
  • Simpang Cempaka Putih (menuju Jalan Letjen Suprapto/Jalan Perintis Kemerdekaan)
  • Simpang Jalan Enggano
  • Simpang Pelabuhan Tanjung Priok

Diurutkan dari arah Cililitan ke Tanjung Priok

Transportasi

Salah satu rute bus yang melewati Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok adalah Transjakarta Koridor 10 (PGC-Tanjung Priok) (April 2016).

Jalur Bus

Jalur Jalan Raya Cawang-Tanjung Priok dilewati oleh Transjakarta Koridor 10 yang terus menelusuri jalan raya ini hingga simpang Jalan Enggano. Jalan ini juga dilewati oleh trayek bus APTB, Mayasari Bakti, MetroMini, dan PPD. Berikut adalah rute bus yang melewati Jalur Jalan Raya ini:

  • Transjakarta Koridor PGC 2 - Tanjung Priok
  • Transjakarta Koridor Kampung Rambutan - Tanjung Priok
  • Transjakarta Koridor PGC 1 - Harmoni Sentral
  • Transjakarta Koridor PGC 1 - Ancol
  • Transjakarta Koridor Kampung Rambutan - Ancol via Pramuka
  • Transjakarta Koridor Kampung Rambutan - Kampung Melayu
  • Transjakarta Koridor 7D Kampung Rambutan - Pancoran Tugu
  • Transjakarta Koridor Kampung Rambutan - Harmoni Sentral via Cempaka Putih
  • Transjakarta Koridor Kampung Rambutan - Pulo Gadung 2
  • Transjakarta Koridor Pinang Ranti - Pluit
  • Transjakarta Koridor PGC 2 - Grogol 2 - Pluit
  • Transjakarta Koridor Pinang Ranti - Kota
  • Transjakarta Koridor Pinang Ranti - Bundaran Senayan

Jalan Tol

Artikel utama: Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono dan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu
Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono merupakan Jalan Tol layang pertama di Indonesia yang dibangun di atas Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok.

Disepanjang jalan raya ini juga dilewati Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono yang dibangun di atas Jalan Raya ini. Jalan Tol tersebut memiliki panjang 15 km dari Tol Jagorawi hingga pelabuhan Tanjung Priok. Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono merupakan salah satu bagian dari jaringan Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta.

Selain Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono, Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok juga dilewati oleh Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang berawal dari Simpang Susun Pasar Gembrong (menuju Kampung Melayu/Basuki Rachmat) hingga ke Kota Bekasi, Jawa Barat.

Jalur Kereta Api

KRL Commuter Line

Stasiun Jatinegara merupakan satu satunya stasiun pemberhentian KRL Commuter Line yang terletak dekat dengan Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok.

Di dekat jalur jalan raya ini, terdapat satu stasiun KRL Commuter Line yang melayani Lin Lingkar Cikarang . Stasiun tersebut adalah:

  • Stasiun Jatinegara yang terletak di Jalan Raya Bekasi Barat, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur.

LRT Jabodebek

Stasiun LRT Cawang merupakan satu satunya stasiun pemberhentian LRT Jabodebek yang terletak dekat dengan Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok.

Selain KRL Commuter Line, terdapat satu stasiun LRT Jabodebek yang melayani Lin Cibubur dan Lin Bekasi yang terletak dekat dengan Jalur Jalan Raya Cililitan-Tanjung Priok. Stasiun tersebut adalah:

  • Stasiun LRT Cawang yang terletak di Jalan MT Haryono, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Lihat juga

  • Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur
  • Jalan Mayor Jenderal Sutoyo (Jakarta)
  • Jalan Mayor Jenderal DI Panjaitan (Jakarta)
  • Jalan Jenderal Ahmad Yani (Jakarta)
  • Jalan Laksamana Yos Sudarso (Jakarta)
  • Tanjung Priok, Jakarta Utara
  • Pelabuhan Tanjung Priok
  • Koridor 10 Transjakarta
  • Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono

Keterangan

Referensi

  1. ↑ Djakarta Bypass (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2022-06-13
  2. ↑ Gelora Bung Karno: Asian Games 2018 (dalam bahasa Bahasa Indonesia and Inggris). Jakarta, Indonesia: IMAJI Books. 2018. hlm. 67. ISBN 978-602-9260-53-3.
  3. ↑ Post, The Jakarta. "Sukarno's vision of a modern capital". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-23.
  4. 1 2 Architecture, Failed. "How Sukarno's Games of the New Emerging Forces Briefly Modeled a Vision for a Postcolonial World". Failed Architecture (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-23.
  5. 1 2 Gelora Bung Karno: Asian Games 2018. Jakarta: IMAJI Books. 2018. hlm. 67. ISBN 978-602-9260-53-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 3 4 5 Djakarta Bypass, diakses tanggal 2022-06-04
  7. 1 2 3 Groho, Ardhiyanto Wisnu (2018-12-01). "JAGORAWI: Gagalnya Mahakarya Soekarno - Urban - www.indonesiana.id". indonesiana.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-31.
  8. ↑ Merrillees, Scott (2015). Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980. Jakarta: Equinox Publishing. hlm. 23. ISBN 9786028397308. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. 1 2 "Cerita Pembangunan Jalan Tol Layang Pertama di Indonesia, Cawang-Priok..." Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-02-20. Diakses tanggal 2022-08-23.
  10. 1 2 https://bpjt.pu.go.id/berita/tempo-dulu-sejak-1987-teknologi-seribu-pundak-sosrobahu-pada-pembangunan-tol-wiyoto-wiyono

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Latar Belakang
  3. Pembangunan
  4. Peresmian
  5. Pembangunan Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono
  6. Bagian
  7. Persimpangan
  8. Transportasi
  9. Jalur Bus
  10. Jalan Tol
  11. Jalur Kereta Api
  12. Lihat juga
  13. Keterangan
  14. Referensi

Artikel Terkait

Indonesia Raya

lagu kebangsaan Indonesia

Jalan Raya Pos

jalan raya di Indonesia

Jalan nasional

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026