Tim nasional sepak bola Indonesia adalah tim nasional yang mewakili Indonesia di ajang sepak bola internasional senior pria. Mereka adalah tim Asia pertama yang berpartisipasi pada Piala Dunia FIFA tahun 1938 saat masih bernama Hindia Belanda. Pada babak pertama, Tim nasional Hindia Belanda mencatat kekalahan 6-0 dari Hungaria, dan menjadi satu-satunya penampilan di Piala Dunia FIFA. Dengan hanya satu pertandingan yang dimainkan dan tanpa mencetak gol, Indonesia memegang rekor Piala Dunia sebagai tim dengan jumlah pertandingan paling sedikit (1) dan salah satu tim dengan jumlah gol paling sedikit yang dicetak (0).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Julukan |
| ||
|---|---|---|---|
| Asosiasi | PSSI | ||
| Konfederasi | AFC (Asia) | ||
| Sub-konfederasi | AFF (Asia Tenggara) | ||
| Pelatih | John Herdman | ||
| Kapten | Jay Idzes | ||
| Penampilan terbanyak | Abdul Kadir (111)[1][2] | ||
| Pencetak gol terbanyak | Abdul Kadir (70)[2] | ||
| Stadion kandang | Stadion Utama Gelora Bung Karno | ||
| Kode FIFA | IDN | ||
| Peringkat FIFA | |||
| Terkini | |||
| Tertinggi | 76 (September 1998) | ||
| Terendah | 191 (Juli 2016) | ||
| |||
| Pertandingan internasional pertama | |||
| Pra-kemerdekaan (Manila, Filipina; 13 Mei 1934)[3] Pasca kemerdekaan (New Delhi, India; 5 Maret 1951) | |||
| Kemenangan terbesar | |||
(Jakarta, Indonesia; 23 Desember 2002) | |||
| Kekalahan terbesar | |||
(Riffa, Bahrain; 29 Februari 2012) | |||
| Piala Dunia | |||
| Penampilan | 1 (Pertama kali pada 1938) | ||
| Hasil terbaik | Babak 16 besar (1938; sebagai Hindia Belanda) | ||
| Olimpiade Musim Panas | |||
| Penampilan | 1 (Pertama kali pada 1956) | ||
| Hasil terbaik | Perempat final (1956) | ||
| Piala Asia | |||
| Penampilan | 5 (Pertama kali pada 1996) | ||
| Hasil terbaik | Babak 16 besar (2023) | ||
| Kejuaraan Perbara | |||
| Penampilan | 13 (Pertama kali pada 1996) | ||
| Hasil terbaik | Juara kedua (2000, 2002, 2004, 2010, 2016 dan 2020) | ||
Rekam medali | |||
| Situs web | PSSI.org | ||
Tim nasional sepak bola Indonesia adalah tim nasional yang mewakili Indonesia di ajang sepak bola internasional senior pria. Mereka adalah tim Asia pertama yang berpartisipasi pada Piala Dunia FIFA tahun 1938 saat masih bernama Hindia Belanda.[4][5] Pada babak pertama, Tim nasional Hindia Belanda mencatat kekalahan 6-0 dari Hungaria, dan menjadi satu-satunya penampilan di Piala Dunia FIFA. Dengan hanya satu pertandingan yang dimainkan dan tanpa mencetak gol, Indonesia memegang rekor Piala Dunia sebagai tim dengan jumlah pertandingan paling sedikit (1) dan salah satu tim dengan jumlah gol paling sedikit yang dicetak (0).[5]
Satu-satunya penampilan tim di Olimpiade setelah merdeka adalah pada tahun 1956.[6] Indonesia telah lima kali lolos ke Piala Asia AFC, dan penampilan terbaiknya adalah lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya pada edisi 2023. Indonesia meraih medali perunggu pada Asian Games 1958 di Tokyo.[6] Tim ini juga telah mencapai pertandingan final dalam Kejuaraan Perbara sebanyak enam kali, tetapi belum pernah menjadi juara. Mereka berbagi persaingan regional dengan negara-negara ASEAN, terutama pada persaingan sepak bola Indonesia melawan Malaysia, karena adanya ketegangan politik dan budaya antarkeduanya.
Pertandingan yang melibatkan tim-tim dari Hindia Belanda diselenggarakan oleh Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang kemudian digantikan oleh Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1935. Keduanya merupakan federasi sepak bola Hindia Belanda. Pertandingan yang diselenggarakan sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak diakui oleh PSSI sebagai pertandingan resmi tim nasional Indonesia.[6]
Pertandingan tercatat pertama yang melibatkan tim dari Hindia Belanda adalah ketika melawan tim nasional Singapura pada tanggal 28 Maret 1921. Pertandingan tersebut dimainkan di Batavia dan berakhir dengan kemenangan Hindia Belanda dengan skor akhir 1-0. Kemudian diikuti dengan pertandingan melawan tim Australia XI pada Agustus 1928 (kemenangan 2-1) dan tim dari Shanghai dua tahun kemudian (hasil imbang 4-4).[6]
Pada tahun 1934, tim nasional sepak bola Hindia Belanda berlaga di Pertandingan Kejuaraan Timur Jauh ke-10 yang dimainkan di Manila, Filipina. Setelah mengalahkan Jepang 7-1 pada pertandingan pertama,[7] dua pertandingan berikutnya berakhir dengan kekalahan (2-0 dari Tiongkok dan 3-2 dari tuan rumah) yang mengakibatkan Timnas Hindia Belanda hanya menempati posisi kedua di turnamen tersebut. Meskipun tidak diakui oleh PSSI, pertandingan-pertandingan tersebut diakui oleh peringkat Elo Sepak Bola Dunia sebagai pertandingan pertama yang melibatkan tim nasional Indonesia.[8]
Setelah menjadi anggota FIFA pada Mei 1936, N.I.V.U. mendaftarkan Hindia Belanda untuk Piala Dunia 1938. Jepang, yang saat itu terlibat dalam perang agresi di China, mengundurkan diri dari babak kualifikasi. FIFA kemudian memerintahkan pertandingan tambahan antara Hindia Belanda dan Amerika Serikat seminggu sebelum turnamen di Prancis, yang dijadwalkan pada Hari Raya Kenaikan Tuhan 1938 di Rotterdam. Namun, Amerika Serikat mundur karena masalah keuangan. Federasi Sepakbola Amerika Serikat berharap membiayai perjalanan ke Prancis dari keuntungan pertandingan ulang tahun perak federasi mereka melawan Inggris, akan tetapi pertandingan itu batal karena Inggris menolak bermain pada hari Minggu, sehingga federasi Amerika tidak dapat membayar biaya perjalanan ke Eropa.[9]
Dengan demikian, Hindia Belanda (kini Indonesia) menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA 1938 di Prancis. Kekalahan 6-0 dari Hongaria, di babak penyisihan grup di Reims, tetap menjadi satu-satunya penampilan tim ini di Piala Dunia.
Setelah Perang Dunia II, yang diikuti dengan Revolusi Indonesia, puncak sejarah sepak bola Indonesia terjadi pada Olimpiade Musim Panas 1956 di Melbourne. Indonesia bermain imbang Uni Soviet, kemudian kalah 0–4 dalam pertandingan ulangan[6] Penampilan ini menjadi satu-satunya penampilan Indonesia di ajang Olimpiade.
Pada Piala Dunia 1958 Indonesia untuk pertama kalinya membukukan penampilan pada babak kualifikasi sebagai tim nasional merdeka. Indonesia mengalahkan Tiongkok pada babak pertama, kemudian menolak bertanding melawan, Israel, pada babak berikutnya dengan alasan politik.[6]
Di Pesta Olahraga Asia 1958, Indonesia meraih medali perunggu cabang sepak bola mengalahkan India dengan skor 4–1 pada laga perebutan tempat ketiga. Indonesia juga bermain imbang 2–2 dengan Jerman Timur dalam laga uji coba.[6]
Tim nasional Indonesia berhasil menjuarai Turnamen Merdeka sebanyak tiga kali (1961, 1962 dan 1969). Indonesia juga menjadi juara Piala Raja 1968.[6]
Indonesia kembali berlaga pada babak kualifikasi Piala Dunia 1974. Namun, tim nasional Indonesia tereliminasi di babak pertama dengan hanya meraih satu kemenangan dari enam pertandingan melawan Selandia Baru. Pada babak kualifikasi Piala Dunia 1978, Indonesia hanya mampu memenangkan satu dari empat pertandingan melawan tuan rumah Singapura. Empat tahun kemudian pada kualifikasi Piala Dunia 1982, Indonesia mencatatkan dua kemenangan atas Tionghoa Taipei dan Australia.[6]
Pada babak kualifikasi Piala Dunia FIFA 1986, Indonesia lolos dari babak pertama dengan meraih empat kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan, sebelum akhirnya berada di puncak grup. Korea Selatan menjadi pemenang atas Indonesia di putaran kedua.[6]
Indonesia kemudian mencapai semifinal Asian Games 1986 setelah mengalahkan Uni Emirat Arab di perempat final. Namun, timnas Indonesia pada akhirnya gagal meraih medali setelah kalah dari tuan rumah Korea Selatan di semifinal, dan dikalahkan Kuwait dalam perebutan medali perunggu.[10]
Tonggak sejarah pada masa ini adalah keberhasilan Indonesia meraih medali emas di Pesta Olahraga Asia Tenggara (Sea Games) pada tahun 1987 setelah mengalahkan Malaysia 1-0 di final dan dan pada tahun 1991 saat mengalahkan Thailand dalam adu penalti untuk meraih gelar juara.[6]
Pada kualifikasi Piala Dunia 1990, timnas Indonesia tidak lolos dari babak pertama dengan catatan hanya meraih satu kemenangan atas Hong Kong, tiga hasil imbang, dan dua kekalahan.[6] Pada kualifikasi Piala Dunia 1994, Indonesia juga hanya meraih satu kemenangan atas Vietnam.[6]
Indonesia mencatatkan penampilan pertamanya di Piala Asia AFC saat melawan Uni Emirat Arab pada gelaran Piala Asia AFC 1996. Sepanjang turnamen, Indonesia hanya meraih satu poin, hasil dari laga imbang 2–2 melawan Kuwait pada babak pertama.[11]
Piala Tiger 1998 mencatat pertandingan fase grup yang kontroversial antara Thailand dan Indonesia. Kedua tim telah memastikan tempat di semifinal, tetapi menyadari bahwa kemenangan akan mempertemukan mereka dengan tuan rumah Vietnam di babak berikutnya. Dalam pertandingan tersebut, pemain Indonesia Mursyid Effendi secara sengaja mencetak gol bunuh diri, menendang bola ke gawang sendiri saat seorang penyerang Thailand tengah berlari mengejar bola, dalam upaya untuk menghindari kemenangan.[12] FIFA menjatuhkan denda sebesar US$40.000 kepada kedua tim karena dianggap "melanggar semangat permainan", sementara Mursyid Effendi dikenai sanksi larangan bermain di level internasional seumur hidup. Setelah insiden tersebut, Indonesia melaju ke semifinal tetapi dikalahkan oleh Singapura.[13]
Penampilan kedua Indonesia di Piala Asia AFC berlangsung di Lebanon pada Piala Asia AFC 2000. Sama seperti edisi sebelumnya, Indonesia hanya meraih satu poin dari tiga pertandingan, yang diperoleh melalui hasil imbang tanpa gol melawan Kuwait. Dua laga lainnya berakhir dengan kekalahan, sehingga Indonesia kembali gagal lolos dari fase grup.
Pada edisi Piala Asia AFC 2004, Indonesia tergabung di Grup A bersama tuan rumah Tiongkok, Qatar, dan Bahrain. Indonesia mencatat sejarah dengan meraih kemenangan pertamanya di ajang Piala Asia, saat mengalahkan Qatar 2–1 pada pertandingan pembuka. Namun, kekalahan 0–5 dari Tiongkok dan 1–3 dari Bahrain membuat Indonesia hanya mengumpulkan tiga poin dan kembali gagal melaju ke babak gugur.
Pada gelaran Piala Asia AFC 2007, Indonesia bertindak sebagai salah satu tuan rumah bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam, menandai pertama kalinya turnamen ini diselenggarakan oleh empat negara secara bersamaan. Indonesia tergabung di Grup D bersama Bahrain, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

Dalam laga pembuka yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia meraih kemenangan 2–1 atas Bahrain lewat gol dari Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas. Namun, harapan untuk lolos ke babak gugur pupus setelah mengalami kekalahan 1–2 dari Arab Saudi dan 0–1 dari Korea Selatan, sehingga Indonesia kembali tersingkir di babak grup untuk keempat kalinya.
Indonesia telah mencapai final Kejuaraan AFF sebanyak enam kali, yakni pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Namun belum pernah berhasil meraih gelar juara dalam turnamen tersebut. Gelar regional yang pernah diraih Indonesia datang dari ajang SEA Games, di mana mereka meraih medali emas pada tahun 1987 dan 1991.[14][15]
Setelah era Peter Withe, ketidakmampuan memenuhi target di tingkat ASEAN kerap disebut sebagai alasan di balik siklus cepat pergantian pelatih tim nasional Indonesia. Dalam rentang dua tahun, posisi pelatih kepala berganti dari Ivan Kolev ke pelatih lokal Benny Dollo, yang kemudian diberhentikan pada tahun 2010.
Jabatan tersebut kemudian diisi oleh Alfred Riedl, yang gagal mempersembahkan trofi meskipun membawa Indonesia ke final Kejuaraan AFF 2010. Ia lalu digantikan oleh Wim Rijsbergen pada Juli 2011.[16][17]
Pada Maret 2012, PSSI mendapat teguran atas kondisi sepak bola nasional yang terpecah akibat keberadaan dua liga yang berjalan secara paralel: Liga Super Indonesia (ISL), yang saat itu berstatus liga pemberontak dan tidak diakui oleh PSSI maupun FIFA, serta Liga Prima Indonesia (IPL) yang diselenggarakan secara resmi di bawah PSSI.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) mendorong PSSI untuk bekerja sama dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) guna menyelesaikan krisis dualisme liga dan kepengurusan. Ketua KONI, Tono Suratman, bahkan menyatakan bahwa pihaknya siap mengambil alih pengelolaan PSSI jika situasi tidak segera diselesaikan.[18]
FIFA tidak secara eksplisit menyatakan apakah Indonesia akan menghadapi skorsing, tetapi mereka menetapkan batas waktu hingga 20 Maret 2012 bagi PSSI untuk menyelesaikan konflik internal dan dualisme liga. Menjelang tenggat tersebut, PSSI berupaya mencari solusi melalui kongres tahunan, yang diharapkan dapat menjadi forum penyelesaian akhir dari krisis sepak bola nasional.[19] PSSI diberi waktu hingga 15 Juni 2012 untuk menyelesaikan masalah yang dipertaruhkan, terutama penguasaan liga yang memisahkan diri; jika gagal, kasus tersebut akan dirujuk ke Komite Darurat FIFA untuk proses penangguhan.[20] FIFA kemudian menetapkan tenggat waktu baru hingga 1 Desember 2012 untuk menyelesaikan konflik internal dalam tubuh sepak bola Indonesia. Namun, menjelang batas waktu tersebut, tiga dari empat perwakilan PSSI mengundurkan diri dari panitia bersama, dengan alasan frustrasi dalam menjalin kerja sama dengan perwakilan KPSI. Meski demikian, FIFA menyatakan bahwa keputusan mengenai sanksi terhadap Indonesia baru akan diambil setelah tim nasional menyelesaikan partisipasinya di Kejuaraan AFF 2012.[21]
Pada tahun 2013, Presiden PSSI, Djohar Arifin Husin, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan La Nyalla Mattalitti dari pihak KPSI–PSSI. Kesepakatan ini diprakarsai oleh FIFA dan AFC melalui satuan tugas AFC guna mengakhiri dualisme kepengurusan sepak bola nasional. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pengelolaan Liga Super Indonesia diserahkan kepada Panitia Bersama, tetapi tetap dijalankan oleh "PT Liga Indonesia" untuk sementara, hingga terbentuknya kompetisi profesional baru yang diatur oleh komite hasil rekonsiliasi.[22]
Artinya, para pemain Indonesia dari ISL bisa bermain dan bergabung dengan timnas. PSSI memanggil pemain dari kedua liga sepak bola, ISL dan IPL untuk membentengi timnas menuju kualifikasi Piala Asia 2015. Pada 7 Januari 2013, PSSI mengumumkan daftar 51 pemain dari kedua belah pihak liga. Namun, klub-klub ISL diduga enggan melepas para pemainnya karena meragukan legitimasi kepemimpinan Djohar.[23]
Pada 18 Maret 2013, PSSI menggelar kongres di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam kongres tersebut, PSSI dan KPSI menyepakati penyelesaian atas perbedaan di antara mereka melalui empat poin utama, yaitu: 1) reunifikasi dua liga (ISL dan IPL); 2) revisi Statuta PSSI; 3) pengembalian empat anggota Komite Eksekutif PSSI yang sebelumnya dipecat, yakni La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw, Erwin Dwi Budiawan, dan Toni Apriliani; dan 4) kesepakatan semua pihak atas Nota Kesepahaman (MoU) tertanggal 7 Juni 2012 mengenai daftar delegasi Kongres PSSI berdasarkan daftar peserta Kongres Solo Juli 2011.
Sebagai tindak lanjut dari penyatuan kompetisi, PSSI memanggil 58 pemain dari kedua liga (Indonesia Super League dan Indonesia Premier League) untuk mengikuti pemusatan latihan tim nasional. Rahmad Darmawan ditunjuk kembali sebagai pelatih sementara tim senior, dengan Jacksen F. Tiago sebagai asisten pelatih. Keduanya kemudian memangkas jumlah pemain menjadi 28 orang, sebelum akhirnya menetapkan 23 pemain untuk menghadapi Arab Saudi. Tiga pemain naturalisasi, yakni Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, dan Sergio van Dijk, turut masuk dalam skuad final tersebut.[24] Pada 23 Maret 2013, Indonesia menelan kekalahan 1–2 dari Arab Saudi di kandang sendiri dalam lanjutan kualifikasi Piala Asia 2015. Boaz Solossa membuka keunggulan bagi Indonesia melalui gol pada menit keenam, yang sekaligus menjadi gol pertama Indonesia di babak kualifikasi. Namun, Arab Saudi membalas lewat gol penyama dari Yahya Al-Shehri pada menit ke-14, sebelum Yousef Al-Salem mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-56.[25]
Pada 30 Mei 2015 PSSI ditangguhkan oleh FIFA akibat campur tangan pemerintah dalam pengelolaan liga domestik. Penangguhan tersebut berlaku segera, yang berarti Indonesia tidak dapat mengikuti Kualifikasi Piala Dunia 2018 maupun Kualifikasi Piala Asia 2019, yang akan dimulai kurang dari dua minggu kemudian. Meski demikian, FIFA masih mengizinkan Indonesia menyelesaikan partisipasinya di SEA Games 2015, karena turnamen tersebut telah dimulai. Sanksi dijatuhkan menyusul perselisihan antara pemerintah dan federasi sepak bola nasional yang menyebabkan pembatalan kompetisi domestik. [26] Penangguhan tersebut akhirnya dicabut pada saat Kongres FIFA ke-66 di Meksiko pada tahun 2016.[27] Saat itu, langkah cepat diambil agar Indonesia dapat berpartisipasi dalam Kejuaraan AFF 2016, yang akan segera digelar. Indonesia akhirnya berhasil mencapai partai final, tetapi kembali gagal meraih gelar juara setelah dikalahkan oleh Thailand.[28]
Beberapa minggu setelah finis sebagai juara kedua pada Kejuaraan AFF 2016, PSSI menggelar kongres pada 8 Januari 2017 dan mengumumkan penunjukan Luis Milla sebagai pelatih tim nasional senior sekaligus tim U-22 Indonesia. Namun, menjelang Kejuaraan AFF 2018, Milla meninggalkan jabatannya tanpa pernyataan resmi, yang memicu kekecewaan di kalangan pendukung tim nasional.[29] Bima Sakti menjabat sebagai pelatih kepala pada Kejuaraan AFF 2018, tetapi gagal membawa Indonesia lolos dari fase grup. Setelah turnamen, ia tidak lagi melanjutkan tugasnya sebagai pelatih tim nasional.[30]
Untuk menghadapi Kualifikasi Piala Dunia 2022, PSSI menunjuk Simon McMenemy sebagai pelatih kepala, dengan harapan pengalaman suksesnya bersama Filipina dapat membawa dampak positif bagi tim nasional. Indonesia tergabung dalam grup yang diisi oleh tiga rival Asia Tenggara—Malaysia, Thailand, dan Vietnam—serta Uni Emirat Arab.[31] Indonesia menelan kekalahan dalam empat pertandingan awal kualifikasi, termasuk kekalahan kandang 2–3 dari Malaysia dan kekalahan kandang 1–3 dari Vietnam; yang merupakan kekalahan pertama Indonesia dari Vietnam di kandang dalam ajang kompetitif.
Pada 6 November 2019, PSSI memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan Simon McMenemy menyusul hasil buruk yang dialami Indonesia.[32] Indonesia kemudian menjalani laga tandang melawan Malaysia dan kalah dengan skor 0–2, hasil yang membuat mereka secara matematis tersingkir dari kualifikasi Piala Dunia.[33]

Pada 28 Desember 2019, menyusul kegagalan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2022, PSSI memperkenalkan pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, sebagai juru taktik baru tim nasional. Penunjukan ini dilakukan dengan harapan dapat membangkitkan kembali performa Indonesia, khususnya menjelang Kualifikasi Piala Asia AFC 2023, dengan mempertimbangkan keberhasilan kompatriotnya, Park Hang-seo, yang membawa kemajuan pesat bagi timnas Vietnam.[34]
Di bawah kepelatihan Shin Tae-yong, susunan pemain tim nasional Indonesia mengalami perombakan besar. Mayoritas skuad diisi oleh pemain muda, dengan banyak di antaranya merupakan anggota tim nasional U-23. Pada Kejuaraan AFF 2020, Indonesia berhasil mencapai partai final dan kembali finis sebagai juara kedua, dengan rata-rata usia pemain hanya 23 tahun.

Performa impresif berlanjut pada babak ketiga Kualifikasi Piala Asia AFC 2023. Indonesia mencatat kemenangan bersejarah atas tuan rumah Kuwait dengan skor 2–1. Kemenangan ini merupakan yang pertama bagi Indonesia atas Kuwait dalam 42 tahun, sekaligus menjadi kejutan besar di babak kualifikasi. Selain itu, kemenangan ini menjadi kemenangan resmi pertama tim Asia Tenggara atas tuan rumah dari kawasan Asia Barat sejak Thailand menaklukkan Yaman 3–0 di Sana'a pada 2004 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2006. Secara historis, ini juga merupakan kali pertama tim Asia Tenggara meraih kemenangan tandang atas tim dari kawasan Teluk Persia.
Pada pertandingan terakhir babak kualifikasi melawan Nepal, Indonesia meraih kemenangan telak 7–0 di Stadion Internasional Jabir Al-Ahmad. Hasil ini memastikan Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia AFC 2023 untuk pertama kalinya sejak 2007, sekaligus mengakhiri penantian selama 16 tahun.
Sebagai bagian dari persiapan menuju Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026, Indonesia menjamu juara Piala Dunia FIFA 2022, Argentina, pada 19 Juni 2023. Dalam pertandingan uji coba yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, skuad Garuda sempat memberikan perlawanan solid sebelum kebobolan melalui gol jarak jauh Leandro Paredes menjelang akhir babak pertama. Argentina menambah keunggulan di babak kedua lewat sundulan Cristian Romero, dan pertandingan berakhir dengan skor 2–0 untuk kemenangan tim tamu.
Indonesia memulai perjalanan pada babak pertama Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 dengan menghadapi Brunei Darussalam. Dalam dua pertandingan, Indonesia tampil dominan dan meraih kemenangan meyakinkan dengan agregat 12–0, yang memastikan langkah mereka ke babak kedua.[35]
Di babak kedua, Indonesia tergabung dalam Grup F bersama Irak, serta dua negara Asia Tenggara lainnya, yakni Vietnam dan Filipina. Indonesia mengawali babak ini dengan hasil yang kurang menguntungkan, setelah menelan kekalahan telak 1–5 dari Irak di Basra, kemudian hanya mampu bermain imbang melawan Filipina di Manila pada pertandingan kedua.
Indonesia mengawali tahun 2024 dengan memainkan dua pertandingan persahabatan melawan Libya di Mardan Sports Complex di Turki, sebelum bertolak ke Qatar untuk menjalani laga uji coba terakhir melawan Iran sebagai persiapan akhir menuju Piala Asia AFC 2023. Indonesia mengalami kekalahan dalam ketiga pertandingan tersebut.
Pada pertandingan pertama fase grup Piala Asia AFC 2023, Indonesia kembali menghadapi Irak, lawan yang juga mereka hadapi dua bulan sebelumnya di kualifikasi Piala Dunia. Indonesia kalah dengan skor 1–3, dengan gol dicetak oleh Marselino Ferdinan setelah menerima umpan dari Yakob Sayuri.
Pada laga kedua, Indonesia berjumpa dengan rival Asia Tenggara, Vietnam. Kapten tim, Asnawi Mangkualam, mencetak satu-satunya gol melalui titik penalti, yang sekaligus mengakhiri puasa kemenangan atas Vietnam selama tujuh tahun dan memberikan tiga poin pertama bagi skuad Garuda.
Pada pertandingan terakhir grup, Indonesia menghadapi tim peringkat tertinggi AFC, Jepang, dan kembali menelan kekalahan dengan skor 1–3. Sandy Walsh mencetak gol debutnya di menit-menit akhir pertandingan, memanfaatkan lemparan ke dalam jarak jauh dari Pratama Arhan, untuk memperkecil ketertinggalan.
Meskipun menelan dua kekalahan di babak penyisihan grup, Indonesia tetap lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu dari empat tim peringkat ketiga terbaik. Kepastian tersebut diperoleh setelah pertandingan terakhir di Grup F antara Kirgizstan dan Oman berakhir imbang.[36][37] Untuk pertama kalinya, Indonesia lolos ke babak gugur Piala Asia AFC sejak penampilan pertama mereka di Piala Asia 1996.[37] Untuk pertama kalinya sejak penampilan perdananya pada 1996, Indonesia berhasil lolos ke babak gugur Piala Asia. Di babak 16 besar, Indonesia menghadapi Australia. Meskipun tampil cukup positif, Indonesia kalah 0–4 akibat sejumlah kesalahan di lini pertahanan.

Pada lanjutan babak kedua Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026, Indonesia meraih dua kemenangan atas Vietnam pada 21 dan 26 Maret, masing-masing dengan skor 1–0 di Jakarta dan 3–0 di Hanoi. Kemenangan di Hanoi menjadi kemenangan tandang pertama Indonesia atas Vietnam sejak 2004. Hasil tersebut membawa Indonesia naik ke peringkat kedua klasemen grup dengan raihan 7 poin, serta melampaui Malaysia dan Filipina dalam pemeringkatan FIFA. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Indonesia berada di atas Malaysia dalam peringkat FIFA.[38][39]
Pada 25 April 2024, Presiden PSSI Erick Thohir mengumumkan bahwa kontrak Shin resmi diperpanjang hingga 2027.[40]

Pada Juni 2024, Indonesia melanjutkan dua laga terakhir babak kedua kualifikasi di kandang sendiri. Indonesia kalah 0–2 dari Irak, tetapi berhasil mengakhiri babak kedua dengan kemenangan 2–0 atas Filipina. Hasil tersebut menempatkan Indonesia sebagai peringkat kedua Grup F, yang memastikan mereka lolos ke Piala Asia AFC 2027 sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah melaju ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia FIFA.[41] Di babak ketiga, Indonesia tergabung ke dalam Grup C yang beranggotakan tim-tim kuat, seperti Jepang, Australia, Arab Saudi, Tiongkok, dan Bahrain.[42] Indonesia memulai perjalanan di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 pada September 2024, dengan hasil imbang 1–1 melawan Arab Saudi di Jeddah, dan imbang 0–0 melawan Australia di Jakarta.[43][44] Pada Oktober 2024, Indonesia bermain imbang 2–2 melawan Bahrain di Riffa, tetapi kemudian menelan kekalahan 1–2 dari Tiongkok di Qingdao.[45][46] Pada bulan November 2024, Indonesia menderita kekalahan telak 0–4 dari Jepang di kandang sendiri.[47] Namun pada pertandingan selanjutnya, Indonesia mengejutkan seluruh dunia setelah memperoleh kemenangan atas Arab Saudi dengan skor 2–0 melalui dua gol dari Marselino Ferdinan, sekaligus memecahkan rekor negara Asia Tenggara yang belum pernah mengalahkan Arab Saudi.[48]
Pada ajang Kejuaraan Perbara 2024, Indonesia tidak menurunkan skuad utama seperti pada Kualifikasi Piala Dunia, melainkan mayoritas pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan berasal dari skuad U-16 dan U-20, dengan tambahan beberapa pemain senior yang sebelumnya tampil di Piala Asia AFC 2023 dan kualifikasi Piala Dunia.[49] Indonesia tergabung di Grup B yang berisikan Vietnam, Filipina, Myanmar, dan Laos.[50] Indonesia menurunkan skuad dengan rata-rata usia 20,4 tahun dan tersingkir di babak grup setelah hanya meraih satu kemenangan dari tiga pertandingan.
Pada 6 Januari 2025, PSSI mengumumkan pemutusan kontrak Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala tim nasional senior dan U-23 Indonesia.[51] Muncul spekulasi bahwa keputusan pengakhiran kontrak dipengaruhi oleh masalah komunikasi dan taktik, serta kekalahan dari Tiongkok yang secara matematis dapat dikalahkan, dan kegagalan di Kejuaraan Perbara 2024 yang disebut-sebut menjadi faktor penentu.
Menyusul pemecatan Shin Tae-yong, pada 8 Januari 2025, PSSI resmi menunjuk Patrick Kluivert sebagai pelatih kepala, dengan dibantu oleh Alex Pastoor dan Denny Landzaat sebagai asisten pelatih.[52]
Pada 20 Maret 2025, staf kepelatihan baru melakukan debut mereka pada lanjutan babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia saat melawan Australia di Sydney. Pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan 5–1, dengan satu-satunya gol dicetak oleh Ole Romeny yang juga mencatatkan debutnya di pertandingan tersebut.[53] Lima hari kemudian, pada 25 Maret 2025, Indonesia kembali berjumpa dengan Bahrain. Dalam laga yang digelar di Jakarta tersebut, Indonesia meraih kemenangan 1–0 melalui gol tunggal yang kembali dicetak oleh Romeny.
Pada 5 Juni 2025, Indonesia meraih kemenangan 1–0 atas Tiongkok di kandang, lagi-lagi melalui gol tunggal Romeny yang dicetak melalui titik putih. Kemenangan tersebut menjadi yang pertama bagi Indonesia atas Tiongkok dalam 38 tahun terakhir, sekaligus memastikan satu tempat bagi Indonesia di babak keempat. Meskipun, pada pertandingan terakhir babak ketiga, Indonesia harus takluk oleh Jepang dengan skor telak 6–0 di Osaka.
Indonesia kembali gagal melaju ke putaran final Piala Dunia FIFA setelah menelan dua kekalahan di babak keempat, masing-masing dari Arab Saudi dengan skor 2–3 dan Irak dengan skor 0–1, yang secara praktis membuat Indonesia tersingkir dari Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026. Kegagalan tersebut memicu kekecewaan luas di kalangan suporter, yang kemudian menyerukan agar Kluivert segera diberhentikan dari kursi kepelatihan.[54] Kemarahan publik semakin meningkat setelah Kluivert dan para asistennya kembali ke Belanda tanpa menyampaikan permintaan maaf atau mengambil tanggung jawab atas kekalahan tersebut.[55] Manajer tim nasional, Sumardji, menyatakan bahwa rapat Komite Eksekutif (Exco) akan digelar untuk mengevaluasi kinerja Kluivert dan para asistennya.[56]
Pada 16 Oktober 2025, PSSI mengumumkan bahwa mereka telah berpisah dengan Kluivert dan seluruh staf pelatih melalui kesepakatan bersama.[57]

Selama era kolonial Belanda, tim ini berkompetisi dengan nama Hindia Belanda dalam pertandingan internasional. Mereka mengenakan seragam berwarna oranye, yang merupakan warna kebanggaan Belanda. Tidak ada dokumen resmi mengenai seragam tim, hanya beberapa foto hitam-putih dari pertandingan melawan Hongaria di Piala Dunia FIFA 1938. Namun, beberapa sumber tidak resmi menyebutkan bahwa seragam mereka terdiri atas jersey oranye, celana pendek putih, dan kaus kaki biru muda.[58] Sejak Indonesia merdeka, seragam tim nasional Indonesia menggunakan warna merah dan putih sesuai warna bendera negara. Kombinasi warna hijau dan putih juga sempat digunakan sebagai seragam tandang, yaitu pada penampilan tim nasional di Olimpiade Musim Panas 1956 di Melbourne, Australia, hingga pertengahan dekade 1980-an.[59]
Seragam kandang pada tahun 2010–2012 pernah menimbulkan masalah saat bertanding melawan lawan yang mengenakan seragam berwarna putih, karena kaus kaki tim nasional Indonesia berwarna putih alih-alih merah seperti biasanya. Masalah ini diselesaikan dengan menggunakan kombinasi merah-hijau-hijau (untuk pertandingan tandang) dengan mengambil celana pendek dan kaus kaki hijau dari seragam tandang, atau tetap menggunakan seragam kandang merah (untuk pertandingan kandang). Setelah kekalahan kandang pada babak Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2014 melawan Bahrain pada 6 September 2011, celana pendek merah (dengan garis warna hijau) tidak pernah digunakan lagi. Sebagai pengganti, beberapa kali digunakan kombinasi merah-putih-merah sebagai seragam kandang alternatif, seperti pada pertandingan kandang berikutnya di babak kualifikasi melawan Qatar dan Iran pada tahun yang sama.
Pada 12 November 2012, seminggu menjelang dimulainya Kejuaraan AFF 2012, Federasi Sepak Bola Indonesia merilis desain seragam kandang dan tandang baru hasil rancangan Nike. Seragam kandang kembali menggunakan perpaduan warna merah-putih-merah seperti tahun 2008, sementara seragam tandang mengusung kombinasi putih-hijau-putih. Menurut Nino Priyambodo selaku manajer pemasaran Nike Indonesia, pilihan warna hijau dimaksudkan untuk mengenang sejarah timnas Indonesia pada dekade 1950-an yang pernah tampil dengan seragam hijau. Ia berharap hal tersebut dapat menginspirasi tim untuk tampil lebih baik ke depannya.[60] PSSI juga menyiapkan celana pendek alternatif berwarna merah sebagai opsi lain untuk seragam kandang. Sementara itu, untuk seragam tandang disediakan celana pendek alternatif berupa celana pendek putih dengan nomor merah yang diambil dari desain celana pendek seragam kandang.
Pada 31 Oktober 2014, Nike merilis desain seragam kandang dan tandang baru untuk tim nasional Indonesia menjelang Kejuaraan AFF 2014. Jersey kandang didominasi warna merah dengan logo Nike berwarna putih dan garis-garis, serta aksen warna hijau pada bahu dan ujung lengan yang dibatasi garis putih. Seragam kandang mengusung perpaduan warna merah-putih-merah. Sementara itu, kostum tandang berwarna putih dengan kerah berwarna hijau, ujung lengan, dan logo Nike dalam format putih-hijau-putih.[61] Akibat sanksi FIFA pada 2015, seragam ini terpaksa digunakan lagi pada Kejuaraan AFF 2016 hingga 2018 dengan mengganti font punggung selain font tahun 2014 yang di pakai Nike sebelumnya.
Pada 31 Mei 2018, Nike kembali merilis seragam baru kandang dan tandang untuk timnas Indonesia. Jersey kandang tetap merah tetapi logo Nike-nya berwarna emas, terinspirasi dari lambang Garuda Pancasila, dalam format warna merah-putih-merah. Sementara seragam tandang putih menggunakan logo Nike warna hijau, dengan padu padan warna putih-hijau-putih.[62]
Sejak 2020, tim nasional Indonesia beralih menggunakan seragam anyar buatan merek lokal, Mills. Seragam kandang tetap merah-putih-merah, tetapi bertambah ilustrasi siluet di bagian depan. Sementara kostum tandang putih-hijau-putih dilengkapi garis horisontal warna hijau di bagian depan disertai garis putih lebih kecil. Selain itu terdapat pula kostum ketiga warna hitam dengan strip emas dan siluet serupa.[63]
Untuk kejuaraan olahraga multi-cabang internasional seperti Pesta Olahraga Asia dan Pesta Olahraga Asia Tenggara, tim nasional tetap memakai perlengkapan merek Li-Ning, karena seluruh kontingen Indonesia berada di bawah naungan Komite Olimpiade Nasional Indonesia.[64]
Mulai 2024 (setelah gelaran Piala Asia AFC 2023 di Qatar), timnas Indonesia menggunakan seragam baru dari merek lokal Erigo dibawah nama "Erspo".
| Merek | Periode | Ref. | |
|---|---|---|---|
| 1970–1995 1998–2000 2004–2006 | |||
| 1996 | |||
| 1996–1997 | |||
| 1997 | |||
| 1997 | |||
| 2000–2003 2007–2019 | |||
| 2020–2024 | [65] | ||
| 2024–2026 | [66] | ||
| 2026–2030 | |||
Saingan utama Indonesia adalah Malaysia. Ini adalah salah satu persaingan sepak bola paling terkenal di Asia Tenggara dan Asia.[67][68] Kedua negara telah bertanding satu sama lain sebanyak 99 kali, di mana Indonesia menang 40 kali, seri 21 kali, dan kalah 38 kali. Konflik politik yang memanas antara kedua negara pada tahun 1960-an turut menular ke lapangan sepak bola. Pernyataan terkenal "Ganyang Malaysia!" yang dikemukakan oleh presiden pertama Indonesia, Sukarno, dalam pidato politiknya di Jakarta pada tahun 1963 dianggap sebagai penyemangat bagi tim Indonesia sebelum pertandingan melawan Malaysia.[69]
Pertandingan kompetitif pertama antara kedua negara adalah saat Indonesia menang 4–2 di babak kedua Turnamen Merdeka 1957 di Kuala Lumpur. Sejak saat itu, pertandingan antara keduanya, baik di Jakarta maupun di Kuala Lumpur, selalu dipenuhi penonton dan kerap kali menimbulkan insiden kontroversial. Pada tahun 2011, dua orang penggemar meninggal dunia akibat berdesak-desakan selama pertandingan final SEA Games antara tim U-23 Indonesia dan Malaysia di Jakarta.[67] Pertemuan terakhir kedua tim berakhir dengan kemenangan Indonesia 4–1 pada Kejuaraan AFF 2020.
Persaingan Indonesia lainnya adalah berdasarkan kedekatan geografisnya dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Tim nasional sepak bola Indonesia telah banyak memanfaatkan stadion utama di Kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sebagai kandang utama. Stadion dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 77.193 penonton ini lebih sering dipakai untuk pertandingan sepak bola, meski mampu menampung jumlah yang lebih banyak lagi pada pertandingan tertentu. Stadion kebanggaan warga ibu kota ini sempat menjadi lokasi penyelenggaraan Final Piala Asia AFC 2007 dan saat ini menempati peringkat ke-28 sebagai stadion sepak bola terbesar di dunia.
Selain itu, Stadion Internasional Jakarta, yang telah berdiri di Tanjung Priok, Jakarta Utara sejak 2023 turut disepakati menjadi kandang alternatif bagi timnas Indonesia. Berdasarkan kesepakatan antara PSSI dan PT JAKPRO selaku pengembang,[70] stadion bertaraf internasional dengan kapasitas 82.000 penonton ini menjadi stadion terbesar di Indonesia dan ke-15 di dunia [71][72]
Pertandingan dalam 12 bulan terakhir, dan jadwal pertandingan mendatang
Menang Seri Kalah
| 5 Juni Kualifikasi Piala Dunia 2026 – B3 | Indonesia |
1–0 | Jakarta, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.45 UTC+7 | Romeny |
Laporan | Stadion: Stadion Utama Gelora Bung Karno Penonton: 69.661 Wasit: Rustam Lutfullin (Uzbekistan) |
|
| 10 Juni Kualifikasi Piala Dunia 2026 – B3 | Jepang |
6–0 | Suita, Jepang | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 19.35 UTC+9 | Laporan | Stadion: Stadion Kota Suita Penonton: 33.661 Wasit: Kim Jong-hyeok (Korea Selatan) |
|
| 5 September Pertandingan persahabatan[a] | Indonesia |
6–0 | Surabaya, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.30 UTC+7 | Laporan | Stadion: Gelora Bung Tomo Wasit: Ryo Tanimoto (Jepang) |
|
| 8 September Pertandingan persahabatan | Indonesia |
0–0 | Surabaya, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.30 UTC+7 | Laporan | Stadion: Gelora Bung Tomo Wasit: Ko Hyung-jin (Korea Selatan) |
|
| 8 Oktober Kualifikasi Piala Dunia 2026 – B4 | Indonesia |
2–3 | Jeddah, Arab Saudi | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.15 UTC+3 | Laporan |
|
Stadion: Kota Olahraga Raja Abdullah Penonton: 40.634 Wasit: Ahmed Al-Ali (Kuwait) |
|
| 11 Oktober Kualifikasi Piala Dunia 2026 – B4 | Irak |
1–0 | Jeddah, Arab Saudi | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 22.30 UTC+3 |
|
Laporan | Stadion: Kota Olahraga Raja Abdullah Penonton: 14.687 Wasit: Ma Ning (Tiongkok) |
|
Catatan:
| 27 Maret FIFA Series 2026 | Indonesia |
4–0 | Jakarta, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.00 UTC+7 | Laporan | Stadion: Gelora Bung Karno Penonton: 26.703 Wasit: Muhammad Taqi (Singapura) |
|
| 30 Maret FIFA Series 2026 | Indonesia |
0–1 | Jakarta, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| 20.00 UTC+7 | Laporan | Stadion: Gelora Bung Karno Penonton: 24.174 Wasit: Nazmi Nasaruddin (Malaysia) |
|
| 27 Juli Kejuaraan Perbara 2026 | Indonesia |
vs. | Jakarta, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| --:-- UTC+7 | Stadion: Gelora Bung Karno |
|
| 31 Juli Kejuaraan Perbara 2026 | Brunei |
vs. | |||
| --:-- |
|
| 3 Agustus Kejuaraan Perbara 2026 | Indonesia |
vs. | Jakarta, Indonesia | ||
|---|---|---|---|---|---|
| --:-- UTC+7 | Stadion: Gelora Bung Karno |
|
| 7 Agustus Kejuaraan Perbara 2026 | Singapura |
vs. | Kallang, Singapura | ||
|---|---|---|---|---|---|
| --:-- UTC+8 | Stadion: Jalan Besar |
|
| Posisi | Nama |
|---|---|
| Direktur teknis | |
| Penasehat teknis | |
| Kepala pencari bakat | |
| Kepala bidang pendidikan | |
| Pelatih kepala | |
| Asisten pelatih & dukungan teknis | |
| Asisten pelatih penyerang | |
| Asisten pelatih bertahan | |
| Pelatih kiper & set piece | |
| Asisten pelatih kiper | |
| Pelatih kinerja | |
| Pelatih fisik | |
| Video analis | |
| Sport scientist | |
| Dokter | |
| Fisioterapis | |
| Ahli gizi & nutrisionis | |
| Administrator | |
| Manajer operasi | |
| Kitman | |
Berikut 23 pemain yang masuk dalam skuad akhir untuk FIFA Series bulan Maret 2026.[75][76] Pada 25 Maret 2026, Dean James dinyatakan sedang dalam kondisi tidak fit dan dicoret dari skuad.[77] Pada 29 Maret 2026, Mauro Zijlstra keluar dari skuad karena cedera setelah pertandingan melawan Saint Kitts dan Nevis, posisinya kemudian digantikan Jens Raven.[78]
Penampilan dan gol akurat per 30 Maret 2026, setelah pertandingan melawan Bulgaria.
| 0#0 | Pos. | Nama Pemain | Tanggal lahir (umur) | Tampil | Gol | Klub |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 1GK | Emil Audero | (1997-01-18) 18 Januari 1997 | 5 | 0 | |
| 12 | 1GK | Maarten Paes | (1998-05-14) 14 Mei 1998 | 11 | 0 | |
| 24 | 1GK | Cahya Supriadi | (2003-02-11) 11 Februari 2003 | 3 | 0 | |
| 25 | 1GK | Nadeo Argawinata | (1997-03-09) 9 Maret 1997 | 24 | 0 | |
| 2 | 2DF | Kevin Diks | (1996-10-06) 6 Oktober 1996 | 10 | 2 | |
| 3 | 2DF | Jay Idzes |
(2000-06-02) 2 Juni 2000 | 18 | 1 | |
| 4 | 2DF | Jordi Amat | (1992-03-21) 21 Maret 1992 | 23 | 2 | |
| 5 | 2DF | Rizky Ridho (wakil kapten) | (2001-11-21) 21 November 2001 | 52 | 4 | |
| 6 | 2DF | Sandy Walsh | (1995-03-14) 14 Maret 1995 | 23 | 3 | |
| 16 | 2DF | Dony Tri Pamungkas | (2005-01-11) 11 Januari 2005 | 6 | 0 | |
| 17 | 2DF | Calvin Verdonk | (1997-04-26) 26 April 1997 | 14 | 0 | |
| 20 | 2DF | Elkan Baggott | (2002-10-23) 23 Oktober 2002 | 26 | 2 | |
| 23 | 2DF | Justin Hubner | (2003-09-14) 14 September 2003 | 20 | 0 | |
| 7 | 3MF | Beckham Putra | (2001-10-29) 29 Oktober 2001 | 6 | 2 | |
| 8 | 3MF | Yakob Sayuri | (1997-09-22) 22 September 1997 | 34 | 3 | |
| 14 | 3MF | Joey Pelupessy | (1993-05-15) 15 Mei 1993 | 8 | 0 | |
| 15 | 3MF | Eliano Reijnders | (2000-10-23) 23 Oktober 2000 | 9 | 1 | |
| 18 | 3MF | Ivar Jenner | (2004-01-10) 10 Januari 2004 | 23 | 0 | |
| 22 | 3MF | Nathan Tjoe-A-On | (2001-12-22) 22 Desember 2001 | 15 | 0 | |
| 9 | 4FW | Ramadhan Sananta | (2002-11-27) 27 November 2002 | 20 | 6 | |
| 10 | 4FW | Ole Romeny | (2000-06-20) 20 Juni 2000 | 8 | 4 | |
| 11 | 4FW | Ragnar Oratmangoen | (1998-01-21) 21 Januari 1998 | 15 | 2 | |
| 13 | 4FW | Jens Raven | 12 Oktober 2005 | 0 | 0 | |
Para pemain berikut juga telah dipanggil ke dalam skuad dalam 12 bulan terakhir.
| Pos. | Nama pemain | Tanggal lahir (usia) | Tampil | Gol | Klub | Panggilan terakhir |
|---|---|---|---|---|---|---|
| GK | Ernando Ari | (2002-02-27) 27 Februari 2002 | 15 | 0 | vs. | |
| GK | Reza Arya Pratama | (2000-05-18) 18 Mei 2000 | 0 | 0 | vs. | |
| DF | Dean James | (2000-04-30) 30 April 2000 | 5 | 0 | vs. | |
| DF | Muhammad Ferarri | (2003-06-21) 21 Juni 2003 | 8 | 2 | vs. | |
| DF | Yance Sayuri | (1997-09-22) 22 September 1997 | 4 | 0 | vs. | |
| DF | Fajar Fathur Rahman | (2002-05-29) 29 Mei 2002 | 0 | 0 | vs. | |
| DF | Shayne Pattynama | (1998-08-11) 11 Agustus 1998 | 13 | 1 | vs. | |
| DF | Mees Hilgers | (2001-05-13) 13 Mei 2001 | 4 | 0 | vs. | |
| DF | Pratama Arhan | (2001-12-21) 21 Desember 2001 | 54 | 3 | vs. | |
| DF | Asnawi Mangkualam | (1999-10-04) 4 Oktober 1999 | 50 | 2 | vs. | |
| MF | Witan Sulaeman | (2001-10-08) 8 Oktober 2001 | 49 | 9 | vs. | |
| MF | Ricky Kambuaya | (1996-05-05) 5 Mei 1996 | 46 | 5 | vs. | |
| MF | Marc Klok | (1993-04-20) 20 April 1993 | 23 | 5 | vs. | |
| MF | Arkhan Fikri | (2004-12-28) 28 Desember 2004 | 8 | 0 | vs. | |
| MF | Victor Dethan | (2004-07-11) 11 Juli 2004 | 4 | 0 | vs. | |
| MF | Tim Geypens | (2005-06-21) 21 Juni 2005 | 0 | 0 | vs. | |
| MF | Thom Haye | (1995-02-09) 9 Februari 1995 | 18 | 2 | vs. | |
| MF | Marselino Ferdinan | (2004-09-09) 9 September 2004 | 40 | 5 | vs. | |
| FW | Mauro Zijlstra | (2004-11-09) 9 November 2004 | 4 | 1 | vs. | |
| FW | Stefano Lilipaly | (1990-01-10) 10 Januari 1990 | 34 | 3 | vs. | |
| FW | Egy Maulana Vikri | (2000-07-07) 7 Juli 2000 | 33 | 9 | vs. | |
| FW | Hokky Caraka | (2004-08-21) 21 Agustus 2004 | 11 | 2 | vs. | |
| FW | Ezra Walian | (1997-10-22) 22 Oktober 1997 | 9 | 3 | vs. | |
| FW | Miliano Jonathans | (2004-04-05) 5 April 2004 | 4 | 0 | vs. | |
| FW | Adrian Wibowo | (2006-01-17) 17 Januari 2006 | 1 | 0 | vs. | |
| FW | Jens Raven | (2005-10-12) 12 Oktober 2005 | 0 | 0 | vs. | |
| FW | Rafael Struick | (2003-03-10) 10 Maret 2003 | 26 | 1 | vs. | |
| FW | Septian Bagaskara | (1997-09-26) 26 September 1997 | 0 | 0 | vs. | |
| ||||||

| Prk. | Pemain | Tampil | Gol | Karier |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Abdul Kadir | 111 | 70 | 1965–1979 |
| 2 | Iswadi Idris | 97 | 55 | 1968–1980 |
| 3 | Bambang Pamungkas | 86 | 38 | 1999–2012 |
| 4 | Kainun Waskito | 80 | 31 | 1967–1977 |
| 5 | Jacob Sihasale | 70 | 23 | 1966–1974 |
| 6 | Firman Utina | 66 | 5 | 2001–2014 |
| 7 | Ponaryo Astaman | 61 | 2 | 2003–2013 |
| Soetjipto Soentoro | 61 | 37 | 1965–1970 | |
| 9 | Hendro Kartiko | 60 | 0 | 1996–2011 |
| 10 | Kurniawan Dwi Yulianto | 59 | 33 | 1995–2005 |
| Risdianto | 59 | 27 | 1971–1981 |
| Prk. | Pemain | Gol | Tampil | Rasio | Karier |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Abdul Kadir (daftar) | 70 | 111 | 0.63 | 1965–1979 |
| 2 | Iswadi Idris (daftar) | 55 | 97 | 0.57 | 1968–1980 |
| 3 | Bambang Pamungkas | 38 | 86 | 0.44 | 1999–2012 |
| 4 | Soetjipto Soentoro | 37 | 61 | 0.61 | 1965–1970 |
| 5 | Kurniawan Dwi Yulianto | 33 | 59 | 0.56 | 1995–2005 |
| 6 | Kainun Waskito | 31 | 80 | 0.39 | 1967–1977 |
| 7 | Risdianto | 27 | 59 | 0.45 | 1971–1981 |
| 8 | Henky Timisela | 23 | 55 | 0.42 | 1958–1962 |
| Jacob Sihasale | 23 | 70 | 0.33 | 1966–1974 | |
| 10 | Omo Suratmo | 19 | 31 | 0.61 | 1957–1962 |

|
|
| Rekor Piala Dunia FIFA | Rekor kualifikasi | ||||||||||||||||
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG | Skuad | Mn. | M | S | K | MG | KG | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| sebagai | |||||||||||||||||
| Tidak masuk | Undangan ditolak | ||||||||||||||||
| Tidak masuk | |||||||||||||||||
| Babak 16 besar | Ke-15 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 6 | Skuad | Lolos otomatis | ||||||||
| sebagai | |||||||||||||||||
| Mengundurkan diri | Mengundurkan diri | ||||||||||||||||
| Tidak masuk | Tidak masuk | ||||||||||||||||
| Mengundurkan diri selama kualifikasi | 3 | 1 | 1 | 1 | 5 | 4 | |||||||||||
| Mengundurkan diri | Mengundurkan diri | ||||||||||||||||
| Tidak masuk | Tidak masuk | ||||||||||||||||
| Tidak lolos | 6 | 1 | 2 | 3 | 6 | 13 | |||||||||||
| 4 | 1 | 1 | 2 | 7 | 7 | ||||||||||||
| 8 | 2 | 2 | 4 | 5 | 14 | ||||||||||||
| 8 | 4 | 1 | 3 | 9 | 10 | ||||||||||||
| 6 | 1 | 3 | 2 | 5 | 10 | ||||||||||||
| 8 | 1 | 0 | 7 | 6 | 19 | ||||||||||||
| 6 | 1 | 4 | 1 | 11 | 6 | ||||||||||||
| 6 | 4 | 0 | 2 | 16 | 7 | ||||||||||||
| 6 | 2 | 1 | 3 | 8 | 12 | ||||||||||||
| 2 | 0 | 0 | 2 | 1 | 11 | ||||||||||||
| 8 | 1 | 1 | 6 | 8 | 30 | ||||||||||||
| Didiskualifikasi dari babak kualifikasi | Didiskualifikasi akibat penangguhan FIFA | ||||||||||||||||
| Tidak lolos | 8 | 0 | 1 | 7 | 5 | 27 | |||||||||||
| 20 | 8 | 4 | 8 | 31 | 32 | ||||||||||||
| Akan ditentukan | Akan ditentukan | ||||||||||||||||
| Total | Babak 16 besar | 1/22 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 6 | — | 99 | 27 | 21 | 50 | 123 | 202 | ||
| Catatan Piala Dunia FIFA | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (5 Juni 1938; Reims, Prancis) | ||||
| Kemenangan terbesar | — | ||||
| Kekalahan terbesar | (5 Juni 1938; Reims, Prancis) | ||||
| Hasil terbaik | Babak 16 besar (1938) | ||||
| Hasil terburuk | — | ||||
| Rekor Piala Asia AFC | Rekor kualifikasi | |||||||||||||||
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG | Skuad | Mn. | M | S | K | MG | KG | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Mengundurkan diri | Mengundurkan diri sebelum memainkan pertandingan satupun | |||||||||||||||
| Tidak lolos | 4 | 1 | 1 | 2 | 10 | 6 | ||||||||||
| 5 | 3 | 0 | 2 | 12 | 6 | |||||||||||
| 4 | 1 | 1 | 2 | 3 | 5 | |||||||||||
| 3 | 0 | 0 | 3 | 3 | 10 | |||||||||||
| 5 | 3 | 0 | 2 | 6 | 5 | |||||||||||
| 3 | 1 | 1 | 1 | 1 | 4 | |||||||||||
| 3 | 1 | 1 | 1 | 3 | 4 | |||||||||||
| Babak grup | Ke-11 | 3 | 0 | 1 | 2 | 4 | 8 | Skuad | 2 | 1 | 1 | 0 | 7 | 1 | ||
| Ke-11 | 3 | 0 | 1 | 2 | 0 | 7 | Skuad | 4 | 3 | 1 | 0 | 18 | 5 | |||
| Ke-11 | 3 | 1 | 0 | 2 | 3 | 9 | Skuad | 6 | 3 | 1 | 2 | 9 | 13 | |||
| Ke-11 | 3 | 1 | 0 | 2 | 3 | 4 | Skuad | Lolos sebagai tuan rumah bersama | ||||||||
| Tidak lolos | 6 | 0 | 3 | 3 | 3 | 6 | ||||||||||
| 6 | 0 | 1 | 5 | 2 | 8 | |||||||||||
| Didiskualifikasi dari babak kualifikasi | 'Didiskualifikasi karena penangguhan FIFA | |||||||||||||||
| Babak 16 besar | Ke-16 | 4 | 1 | 0 | 3 | 3 | 10 | Skuad | 13 | 4 | 1 | 8 | 19 | 30 | ||
| Lolos | 8 | 5 | 1 | 2 | 20 | 8 | ||||||||||
| Total | Babak 16 besar | 6/19 | 16 | 3 | 2 | 11 | 13 | 38 | — | 72 | 26 | 13 | 33 | 116 | 111 | |
| Catatan Piala Asia AFC | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (4 Desember 1996; Abu Dhabi, Uni Emirat Arab) | ||||
| Kemenangan terbesar | (18 Juli 2004; Beijing, Tiongkok) (10 Juli 2007; Jakarta, Indonesia) (19 Januari 2024; Doha, Qatar) | ||||
| Kekalahan terbesar | (21 Juli 2004; Beijing, Tiongkok) | ||||
| Hasil terbaik | Babak 16 besar (2023) | ||||
| Hasil terburuk | Babak gugur (1996, 2000, 2004, 2007) | ||||
| Rekor Kejuaraan Perbara | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG |
| Tempat keempat | Ke-4 | 6 | 3 | 1 | 2 | 18 | 9 | |
| Tempat ketiga | Ke-3 | 5 | 2 | 1 | 2 | 15 | 10 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 5 | 3 | 0 | 2 | 13 | 10 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 6 | 3 | 3 | 0 | 22 | 7 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 8 | 4 | 1 | 3 | 24 | 8 | |
| Babak grup | Ke-5 | 3 | 1 | 2 | 0 | 6 | 4 | |
| Semifinal | Ke-4 | 5 | 2 | 0 | 3 | 8 | 5 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 7 | 6 | 0 | 1 | 17 | 6 | |
| Babak grup | Ke-5 | 3 | 1 | 1 | 1 | 3 | 4 | |
| Babak grup | Ke-5 | 3 | 1 | 1 | 1 | 7 | 7 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 7 | 3 | 2 | 2 | 12 | 13 | |
| Babak grup | Ke-7 | 4 | 1 | 1 | 2 | 5 | 6 | |
| Juara kedua | Ke-2 | 8 | 4 | 3 | 1 | 20 | 13 | |
| Semifinal | Ke-4 | 6 | 3 | 2 | 1 | 12 | 5 | |
| Babak grup | Ke-7 | 4 | 1 | 1 | 2 | 4 | 5 | |
| Total | Juara kedua | 15/15 | 80 | 38 | 19 | 23 | 186 | 112 |
| Catatan Kejuaraan ASEAN | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (2 September 1996; Jurong, Singapura) | ||||
| Kemenangan terbesar | (23 Desember 2002; Jakarta, Indonesia) | ||||
| Kekalahan terbesar | (25 November 2014; Hanoi, Vietnam) (29 Desember 2021; Kallang, Singapura) | ||||
| Hasil terbaik | Juara kedua (2000, 2002, 2004, 2010, 2016, 2020) | ||||
| Hasil terburuk | Babak grup (2007, 2012, 2014, 2018, 2024) | ||||
| Rekor Olimpiade | Rekor kualifikasi | ||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG | Skuad | Mn. | M | S | K | MG | KG | ||
| 1900 hingga 1952 | Tidak ikut | Tidak Ikut | |||||||||||||||
| Perempat final | Ke-7 | 2 | 0 | 1 | 1 | 0 | 4 | Skuad | Lolos Otomatis | ||||||||
| Tidak lolos Kualifikasi | 2 | 0 | 0 | 2 | 2 | 6 | |||||||||||
| Mengundurkan diri | Mengundurkan diri | ||||||||||||||||
| Tidak lolos kualifikasi | 4 | 1 | 1 | 2 | 4 | 5 | |||||||||||
| 4 | 2 | 0 | 2 | 8 | 6 | ||||||||||||
| 4 | 2 | 1 | 1 | 11 | 5 | ||||||||||||
| 5 | 1 | 0 | 4 | 7 | 12 | ||||||||||||
| 8 | 0 | 3 | 5 | 3 | 14 | ||||||||||||
| 4 | 1 | 0 | 3 | 3 | 8 | ||||||||||||
| Sejak 1992 | Lihat Tim nasional sepak bola U-23 Indonesia | ||||||||||||||||
| Total | Perempat final | 1/19 | 2 | 0 | 1 | 1 | 0 | 4 | — | 31 | 7 | 5 | 19 | 38 | 56 | ||
| Catatan Olimpiade | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (29 November 1956; Melbourne, Australia) | ||||
| Pertandingan terakhir | (1 Desember 1956; Melbourne, Australia) | ||||
| Kemenangan terbesar | — | ||||
| Kekalahan terbesar | (1 Desember 1956; Melbourne, Australia) | ||||
| Hasil terbaik | Tempat ketujuh (1956) | ||||
| Hasil terburuk | — | ||||
| Rekor Asian Games | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG |
| Perempat final | Ke-6 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 3 | |
| Tempat keempat | Ke-4 | 4 | 2 | 0 | 2 | 15 | 12 | |
| Medali Perunggu | Ke-3 | 5 | 4 | 0 | 1 | 15 | 7 | |
| Babak grup | Ke-5 | 3 | 2 | 0 | 1 | 9 | 3 | |
| Perempat final | Ke-5 | 5 | 2 | 2 | 1 | 8 | 4 | |
| Perempat final | Ke-5 | 5 | 1 | 2 | 2 | 4 | 7 | |
| Tidak berpartisipasi | ||||||||
| Tempat keempat | Ke-4 | 6 | 1 | 2 | 3 | 4 | 14 | |
| Tidak berpartisipasi | ||||||||
| Sejak 2002 | Lihat tim nasional U-23 | |||||||
| Total | 1 Medali Perunggu | 7/13 | 29 | 12 | 6 | 11 | 55 | 50 |
| Catatan Asian Games | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (5 Maret 1951; New Delhi, India) | ||||
| Pertandingan terakhir | (4 Oktober 1986; Seoul, Korea Selatan) | ||||
| Kemenangan terbesar | (27 Agustus 1962; Jakarta, Indonesia) | ||||
| Kekalahan terbesar | (4 Oktober 1986; Seoul, Korea Selatan) | ||||
| Hasil terbaik | Medali perunggu (1958) | ||||
| Hasil terburuk | Tempat keenam (1951) | ||||
| Rekor SEA Games | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahun | Hasil | Posisi | Mn. | M | S | K | MG | KG |
| 1959 - 1975 | Tidak berpartisipasi | |||||||
| Tempat keempat | Ke-4 | 4 | 2 | 2 | 0 | 8 | 3 | |
| Medali perak | Ke-2 | 6 | 2 | 2 | 2 | 6 | 5 | |
| Medali perunggu | Ke-3 | 4 | 3 | 0 | 1 | 5 | 2 | |
| Babak grup | 5th | 3 | 1 | 1 | 1 | 3 | 7 | |
| Tempat keempat | Ke-4 | 4 | 0 | 1 | 3 | 1 | 10 | |
| Medali emas | Ke-1 | 4 | 3 | 1 | 0 | 7 | 1 | |
| Medali perunggu | Ke-3 | 5 | 2 | 1 | 2 | 12 | 5 | |
| Medali emas | Ke-1 | 5 | 3 | 2 | 0 | 5 | 1 | |
| Tempat keempat | Ke-4 | 5 | 2 | 1 | 2 | 6 | 6 | |
| Babak grup | Ke-6 | 4 | 2 | 0 | 2 | 14 | 3 | |
| Medali perak | Ke-2 | 6 | 4 | 2 | 0 | 16 | 6 | |
| Medali perunggu | Ke-3 | 6 | 3 | 2 | 1 | 11 | 2 | |
| Sejak 2001 | Lihat tim nasional U-23 | |||||||
| Total | 2 Medali Emas | Ke-1 | 56 | 27 | 15 | 14 | 94 | 51 |
| Catatan SEA Games | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Pertandingan pertama | (19 November 1977; Kuala Lumpur, Malaysia) | ||||
| Pertandingan terakhir | (14 Agustus 1999; Bandar Seri Begawan, Brunei) | ||||
| Kemenangan terbesar | (6 Desember 1995; Thailand) | ||||
| Biggest defeat | (15 December 1985; Bangkok, Thailand) | ||||
| Hasil terbaik | Medali emas (1987, 1991) | ||||
| Hasil terburuk | Babak grup (1983, 1995) | ||||
Lebih banyak menang Imbang Lebih banyak kalah
| Rekor pertemuan satu lawan satu tim nasional sepak bola Indonesia | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lawan | Pertama | Terakhir | Mn. | M | S | K | MG | KG | SG | % Menang | Konfederasi |
| 2021 | 2 | 0 | 0 | 2 | 2 | 4 | −2 | 0% | AFC | ||
| 1986 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | −1 | 0% | CAF | ||
| 1956 | 1983 | 2 | 1 | 1 | 0 | 9 | 7 | 2 | 75% | CONCACAF | |
| 2014 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 100% | UEFA | ||
| 1983 | 2024 | 16 | 1 | 4 | 11 | 10 | 37 | −27 | 18.75% | AFC | |
| 2023 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 2 | −2 | 0% | CONMEBOL | ||
| 1967 | 2025 | 18 | 1 | 4 | 13 | 7 | 39 | −32 | 16.67% | AFC | |
| 1980 | 2025 | 9 | 3 | 3 | 3 | 10 | 19 | −9 | 50% | AFC | |
| 1975 | 2022 | 6 | 4 | 1 | 1 | 11 | 3 | 8 | 75% | AFC | |
| 1938 | 2013 | 2 | 0 | 0 | 2 | 2 | 12 | −12 | 0% | UEFA | |
| 2003 | 2 | 2 | 0 | 0 | 4 | 0 | 4 | 100% | AFC | ||
| 1997 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 2 | −2 | 0% | UEFA | ||
| 1971 | 2023 | 13 | 9 | 2 | 2 | 52 | 6 | 46 | 76.92% | AFC | |
| 1973 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 4 | −4 | 0% | UEFA | ||
| 2023 | 2 | 1 | 1 | 0 | 5 | 3 | 2 | 75% | CAF | ||
| 1974 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 1 | 0 | 50% | UEFA | ||
| 2022 | 2 | 2 | 0 | 0 | 5 | 3 | 2 | 100% | CONCACAF | ||
| 1974 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 9 | −9 | 0% | UEFA | ||
| 1996 | 1999 | 2 | 0 | 1 | 1 | 0 | 3 | −3 | 25% | UEFA | |
| 1981 | 2017 | 3 | 0 | 3 | 0 | 3 | 3 | 0 | 50% | OFC | |
| 1934 | 2024 | 31 | 23 | 5 | 3 | 100 | 21 | 79 | 82.26% | AFC | |
| 1966 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 3 | −2 | 0% | CAF | ||
| 2017 | 1 | 1 | 0 | 0 | 2 | 1 | 1 | 100% | CONCACAF | ||
| 1957 | 2018 | 19 | 10 | 4 | 5 | 36 | 27 | 9 | 63.16% | AFC | |
| 1938 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 6 | −6 | 0% | UEFA | ||
| 1951 | 2004 | 21 | 10 | 2 | 9 | 41 | 36 | 5 | 54.76% | AFC | |
| 1968 | 2024 | 13 | 2 | 3 | 8 | 11 | 27 | −16 | 26.92% | AFC | |
| 1956 | 2024 | 6 | 0 | 1 | 5 | 3 | 16 | −13 | 8.33% | AFC | |
| 2018 | 2 | 0 | 0 | 2 | 1 | 10 | −9 | 0% | UEFA | ||
| 1971 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | −1 | 0% | UEFA | ||
| 2007 | 2007 | 1 | 1 | 0 | 0 | 2 | 1 | 1 | 100% | CONCACAF | |
| 1934 | 2025 | 19 | 4 | 2 | 13 | 24 | 48 | −24 | 26.32% | AFC | |
| 1956 | 1959 | 2 | 0 | 1 | 1 | 3 | 5 | −2 | 25% | UEFA | |
| 1966 | 2022 | 24 | 19 | 3 | 2 | 91 | 17 | 74 | 89.58% | AFC | |
| 2012 | 2015 | 2 | 0 | 1 | 1 | 0 | 1 | −1 | 25% | CAF | |
| 2013 | 1 | 1 | 0 | 0 | 4 | 0 | 4 | 100% | AFC | ||
| 1953 | 2007 | 37 | 3 | 5 | 29 | 22 | 87 | −65 | 14.86% | AFC | |
| 1963 | 2012 | 11 | 0 | 2 | 9 | 5 | 25 | −20 | 9.09% | AFC | |
| 1956 | 1 | 0 | 0 | 1 | 2 | 5 | −3 | 0% | UEFA | ||
| 2014 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | −1 | 0% | CONCACAF | ||
| 1980 | 2022 | 7 | 2 | 3 | 2 | 8 | 12 | −4 | 50% | AFC | |
| 1969 | 2024 | 11 | 9 | 2 | 0 | 48 | 12 | 36 | 90.91% | AFC | |
| 2025 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 100% | AFC | ||
| 1984 | 2007 | 2 | 1 | 0 | 1 | 3 | 3 | 0 | 50% | CAF | |
| 2024 | 2 | 0 | 0 | 2 | 1 | 6 | −5 | 0% | CAF | ||
| 1996 | 1999 | 2 | 0 | 1 | 1 | 2 | 6 | −4 | 25% | UEFA | |
| 2001 | 2010 | 3 | 3 | 0 | 0 | 10 | 0 | 10 | 100% | AFC | |
| 1957 | 2021 | 79 | 36 | 18 | 25 | 132 | 103 | 29 | 56.96% | AFC | |
| 1963 | 1 | 1 | 0 | 0 | 3 | 2 | 1 | 100% | CAF | ||
| 2012 | 1 | 1 | 0 | 0 | 2 | 0 | 2 | 100% | CAF | ||
| 2018 | 1 | 1 | 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 100% | CAF | ||
| 1963 | 2 | 0 | 1 | 1 | 3 | 5 | −2 | 25% | CAF | ||
| 1996 | 2003 | 2 | 1 | 0 | 1 | 5 | 2 | −1 | 50% | UEFA | |
| 2017 | 1 | 1 | 0 | 0 | 3 | 2 | 1 | 100% | AFC | ||
| 1951 | 2024 | 47 | 21 | 9 | 17 | 86 | 63 | 23 | 54.26% | AFC | |
| 2014 | 2022 | 2 | 2 | 0 | 0 | 9 | 0 | 9 | 100% | AFC | |
| 1983 | 1 | 0 | 0 | 1 | 1 | 2 | −1 | 0% | CAF | ||
| 2007 | 2021 | 4 | 0 | 1 | 3 | 2 | 6 | −4 | 12.5% | AFC | |
| 1960 | 2014 | 5 | 4 | 1 | 0 | 15 | 3 | 12 | 90% | AFC | |
| 2011 | 2023 | 3 | 1 | 1 | 1 | 5 | 3 | 2 | 50% | AFC | |
| 1975 | 1984 | 2 | 1 | 0 | 1 | 8 | 3 | 5 | 50% | OFC | |
| 1986 | 1 | 0 | 0 | 1 | 2 | 3 | −1 | 0% | CONMEBOL | ||
| 2017 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 50% | CONCACAF | ||
| 2014 | 1 | 0 | 1 | 0 | 1 | 1 | 0 | 50% | CONCACAF | ||
| 1986 | 2014 | 7 | 1 | 2 | 4 | 9 | 18 | −9 | 28.57% | AFC | |
| 1956 | 1976 | 3 | 0 | 2 | 1 | 0 | 4 | −4 | 33.33% | UEFA | |
| 1972 | 1997 | 9 | 2 | 5 | 2 | 8 | 9 | −1 | 50% | OFC | |
| 1982 | 1 | 0 | 1 | 0 | 2 | 2 | 0 | 50% | CAF | ||
| 1956 | 2 | 0 | 0 | 2 | 3 | 9 | −6 | 0% | UEFA | ||
| 1958 | 2021 | 61 | 33 | 11 | 17 | 117 | 71 | 46 | 63.11% | AFC | |
| 1964 | 2004 | 6 | 5 | 1 | 0 | 29 | 6 | 23 | 91.67% | AFC | |
| 1978 | 2014 | 5 | 1 | 0 | 4 | 3 | 15 | −12 | 20% | AFC | |
| 1997 | 2024 | 2 | 1 | 1 | 0 | 3 | 1 | 2 | 75% | CAF | |
| 1957 | 2022 | 97 | 32 | 18 | 47 | 121 | 167 | −46 | 42.27% | AFC | |
| 2010 | 2022 | 6 | 6 | 0 | 0 | 21 | 2 | 19 | 100% | AFC | |
| 1954 | 2025 | 15 | 11 | 0 | 4 | 37 | 14 | 23 | 73.33% | AFC | |
| 1934 | 2025 | 18 | 2 | 3 | 13 | 13 | 38 | −25 | 19.44% | AFC | |
| 2004 | 2023 | 5 | 3 | 1 | 1 | 11 | 8 | 3 | 70% | AFC | |
| 1981 | 2021 | 5 | 1 | 1 | 3 | 8 | 16 | −8 | 25% | AFC | |
| 1974 | 2010 | 3 | 1 | 0 | 2 | 5 | 11 | −6 | 33.33% | CONMEBOL | |
| 1997 | 2 | 0 | 1 | 1 | 1 | 4 | −3 | 25% | AFC | ||
| 2019 | 1 | 1 | 0 | 0 | 6 | 0 | 6 | 100% | OFC | ||
| 1957 | 2024 | 48 | 21 | 12 | 15 | 73 | 61 | 12 | 56.25% | AFC | |
| 1987 | 2014 | 7 | 3 | 4 | 0 | 8 | 3 | 5 | 71.43% | AFC | |
| 2004 | 2022 | 5 | 0 | 0 | 5 | 2 | 13 | −11 | 0% | AFC | |
| 1997 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 50% | CAF | ||
| 85 Negara | 1934 | 2025 | 862 | 329 | 165 | 368 | 1397 | 1416 | –19 | 38.21% | FIFA |
| Pertemuan terakhir melawan negara-negara Asia Tenggara | ||||
|---|---|---|---|---|
| Lawan | Tanggal | Skor | Hasil | Jenis pertandingan |
| 17 Oktober 2023 | 0−6 | Menang | Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 | |
| 21 Desember 2024 | 0−1 | Kalah | Kejuaraan Perbara 2024 | |
| 23 Desember 2022 | 2−1 | Menang | Kejuaraan AFF 2022 | |
| 12 Desember 2024 | 3−3 | Seri | Kejuaraan Perbara 2024 | |
| 19 Desember 2021 | 1−4 | Menang | Kejuaraan AFF 2020 | |
| 9 Desember 2024 | 0−1 | Menang | Kejuaraan Perbara 2024 | |
| 25 Desember 2021 | 4−2 (p.w.) | Menang | Kejuaraan AFF 2020 | |
| 29 Desember 2022 | 1−1 | Seri | Kejuaraan AFF 2022 | |
| 30 Januari 2022 | 0−3 | Menang | Persahabatan | |
| 15 Desember 2024 | 1−0 | Kalah | Kejuaraan Perbara 2024 | |