Ma Ning adalah seorang wasit sepak bola asal Tiongkok. Ia merupakan wasit berlisensi FIFA sejak 2011. Ma juga merupakan salah satu dosen pada Institut Olahraga Nanjing.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

|
Ma Ning pada November 2022 | |||
| Lahir |
20 Juni 1979 Fuxin, Liaoning, Tiongkok | ||
|---|---|---|---|
| Pekerjaan lain | Dosen | ||
| Domestik | |||
| Tahun | Liga | Peranan | |
| 2010– |
| Wasit | |
| Internasional | |||
| Tahun | Liga | Peranan | |
| 2011– | Lisensi FIFA | Wasit | |
| Ma Ning | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi sederhana: | 马宁code: zh is deprecated | ||||||
| Hanzi tradisional: | 馬寧code: zh is deprecated | ||||||
| |||||||
Ma Ning (lahir 14 Juni 1979) adalah seorang wasit sepak bola asal Tiongkok. Ia merupakan wasit berlisensi FIFA sejak 2011.[1][2] Ma juga merupakan salah satu dosen pada Institut Olahraga Nanjing.
Pada 19 Mei 2022, Ma dipilih sebagai salah satu dari 36 wasit yang bertugas pada Piala Dunia FIFA 2022, menjadikannya wasit asal Tiongkok kedua yang bertugas pada kompetisi tersebut setelah Lu Jun pada 2002.[3]
Pada 8 Februari 2024, Ma dipilih untuk memimpin pertandingan Final Piala Asia AFC 2023 antara Yordania dan Qatar di Doha pada 10 Februari 2024.[4]
Performa dan integritas Ma dipertanyakan oleh komunitas sepak bola Indonesia dan para pemain, menyusul beberapa keputusan yang bias dan kontroversial saat memimpin pertandingan sebagai wasit utama pada babak keempat lanjutan Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia, antara Irak dan Indonesia pada 11 Oktober 2025, di Stadion Kota Olahraga Raja Abdullah. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Irak 1-0, mengeliminasi Indonesia dari kualifikasi dan mengakhiri perjalanan dua tahun mereka menuju kompetisi sepak bola tertinggi tingkat internasional.
Kontroversi dimulai di babak kedua, pada menit ke-67, ketika pemain Irak Zaid Tahseen diberikan kartu kuning setelah melakukan pelanggaran terhadap Ole Romeny, yang sedang menembus lini pertahanan Irak, menggunakan peluang itu untuk mencetak gol. Banyak pihak yang percaya bahwa ini seharusnya diberikan kartu merah karena menghalangi peluang mencetak gol yang jelas (DOGSO). Para pemain Indonesia langsung melakukan protes, meminta Ma untuk memeriksa VAR (Video Assistant Referee), tetapi ia menolak dan melanjutkan permainan setelah memberikan kartu dan memberi hadiah tendangan bebas untuk Indonesia.[5]
Sekitar menit ke-77, pemain Irak Zidane Iqbal mencetak gol ke gawang Indonesia, mengubah skor menjadi 1-0. Beberapa saat kemudian, Kevin Diks terlihat memenangkan bola lebih dulu sementara Merchas Doski gagal melakukan sapuan dan menendang Diks. Namun, Ma memutuskan bahwa Diks yang melakukan pelanggaran, memberikan tendangan bebas untuk Irak.[5] Saat pertandingan memasuki menit ke-85, Romeny melakukan pelanggaran karena gagal melakukan sapuan dan menendang Tahseen. Frustrasi meningkat dan diperparah oleh taktik mengulur waktu yang dilakukan Irak, saat mereka melindungi keunggulan 1-0 mereka. Situasi semakin memanas, memicu insiden di mana suporter Indonesia melempar botol air ke lapangan, dengan kapten Jay Idzes bertindak sebagai penengah, berusaha menenangkan situasi. Romeny diberikan kartu kuning atas tindakannya.[6] Pertandingan sempat terhenti sementara menyusul insiden tersebut, sebelum dilanjutkan kembali.
Pada waktu tambahan menit ke-9 (90+9'), Tahseen melakukan pelanggaran kedua yang melibatkan Diks di dalam kotak penalti, mengakibatkan dirinya harus menelan kartu kuning keduanya dan pengusirannya dari lapangan, mengurangi Irak menjadi sepuluh pemain. Namun, Ma tidak memberikan penalti untuk Indonesia, memutuskan bahwa pelanggaran terjadi di luar kotak penalti. Sekali lagi, Ma menolak untuk berkonsultasi dengan VAR meskipun ada protes keras dari para pemain Indonesia. Permainan berlanjut dan skor 1-0 bertahan hingga peluit akhir.[5][6][7]
Setelah pertandingan berakhir, protes dan konfrontasi dari pihak Indonesia terus meletus. Gelandang Thom Haye, yang sangat keras memprotes Ma atas keputusan-keputusannya yang bias dan kontroversial, dan pemain cadangan Shayne Pattynama, dalam sebuah dialog, diduga terlibat dalam perselisihan dan keributan dengan pelatih kepala Irak, Graham Arnold, diberikan kartu merah atas perilaku mereka. Ofisial tim dan manajer Indonesia, Sumardji, kemudian dengan marah mendorong Ma dari belakang saat memberikan kartu merah kepada Pattynama, juga langsung menerima kartu merah karena melakukan kekerasan terhadap ofisial pertandingan, sehingga total tiga kartu merah diberikan kepada tim Indonesia. Pasca-pertandingan, para ofisial pertandingan, termasuk Ma, dikawal menuju pintu keluar lapangan dengan aman.[6][8][9]