Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Ludwig Ingwer Nommensen

Dr. (H.C.) Ludwig Ingwer Nommensen adalah seorang misionaris Lutheran asal Jerman yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) ke Tapanuli. Nommensen menghabiskan 56 tahun hidupnya sebagai penginjil di Tapanuli. Dalam masa penginjilannya itu, terbentuk sebuah gereja Protestan, yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Oleh HKBP, Nommensen dihitung sebagai Ephorus HKBP pertama.

misionaris Jerman, Ephorus Huria Kristen Batak Protestan ke-1
Diperbarui 17 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ludwig Ingwer Nommensen
Untuk kegunaan lain, lihat Nommensen (disambiguasi).
Ompu i
Dr. (H.C.)
Ludwig Ingwer Nommensen
Ephorus HKBP ke-1
Masa jabatan
1881–1918
Sebelum
Pendahulu
tidak ada, jabatan baru
Pengganti
  • Valentin Kessel
    (Penjabat Ephorus)
  • Johannes Warneck
Informasi pribadi
Lahir(1834-02-06)6 Februari 1834
Nordstrand, Kadipaten Schleswig, Denmark
(sekarang Jerman)
Meninggal23 Mei 1918(1918-05-23) (umur 84)
Sigumpar, Bataklanden, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda
MakamMakam Misionaris Dr. I.L. Nommensen, Sigumpar, Toba, Sumatera Utara
2°23′42.93″N 99°9′21.37″E / 2.3952583°N 99.1559361°E / 2.3952583; 99.1559361
Suami/istri
  • Caroline Gutbrod
    ​
    ​
    (m. 1866⁠–⁠1887)​
  • Christine Harder
    ​
    ​
    (m. 1892⁠–⁠1909)​
Anak5
Orang tua
  • Peter Nommensen (ayah)
  • Antje Karstensen (ibu)
PekerjaanPendeta
Dikenal karenaMisionaris RMG di Tanah Batak
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Dr. (H.C.) Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen, disingkat sebagai I.L. Nommensen; 6 Februari 1834 – 23 Mei 1918) adalah seorang misionaris Lutheran asal Jerman yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) ke Tapanuli.[1] Nommensen menghabiskan 56 tahun hidupnya sebagai penginjil di Tapanuli. Dalam masa penginjilannya itu, terbentuk sebuah gereja Protestan, yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Oleh HKBP, Nommensen dihitung sebagai Ephorus HKBP pertama.

Kisah hidup

Masa kecil

Kartu Pegawai Nommensen
Kartu Pegawai Nommensen

Nommensen berasal dari Pulau Nordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark (sekarang Jerman).[1] Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil, Nommensen terbiasa hidup dalam kondisi yang demikian.[1][2][3] Ketika berusia 7 tahun, Nommensen memilih menggembalakan angsa daripada duduk di bangku sekolah.[4] Pada usia 8 tahun, ia mulai mencari nafkah untuk membantu orang tuanya dengan cara menggembalakan domba.[1][4] Pada usia 9 tahun, ia belajar menjadi tukang atap.[1][4] Lalu, pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani kaya sambil belajar mengerjakan tanah.[3] Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut.[3]

Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan.[1][3] Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia tertabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah. Kecelakaan itu membuatnya harus berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya.[1] Saat itu, Nommensen berdoa meminta kesembuhan dan berjanji akan memberitakan Injil kepada orang kafir jika ia sembuh.[1][5] Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.[6]

Pendidikan dan misi

Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil.[1][5] Selama empat tahun, ia belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG).[1][5] Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861.[1] Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang.[1] Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba.[5] Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan.[7] Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yaitu Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda.[7] Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga upaya penginjilan berjalan lambat.[7] Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris tersebut, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.

Kunjungan pertama Nommensen ke Tarutung adalah pada 11 November 1863. Pada kunjungan pertama itu, Nommensen diterima oleh Ompu Pasang (Ompu Tunggul) untuk tinggal di rumahnya. Wilayah kediaman Ompu Pasang masuk dalam wilayah kekuasaan Raja Pontas Lumbantobing. Dari sini, Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.

Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 7 Mei 1864. Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi ia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nommensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (bahasa Batak: Hariara) untuk memikirkan apa yang akan ia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke desa milik Raja Amandari Sabungan Lumban Tobing. Nommensen berharap Raja Amandari dapat mengizinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi, pada saat itu Raja Amandari sedang pergi ke desa lain membawa isterinya yang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya kepada Raja Amandari, tetapi Raja Amandari menolak. Nommensen meminta utusan itu untuk kembali menemui Raja Amandari kedua kalinya dengan pesan bahwa penyakit istri Raja Amandari akan hilang sekembalinya ia ke desanya. Raja Amandari setuju untuk mengizinkan Nommensen tinggal di desanya bila perkataan Nommensen terbukti benar. Penyakit istri Raja Amandari akhirnya sembuh. Raja Amandari kemudian mengizinkan Nommensen tinggal di rumahnya.

Keputusan Raja Amandari Sabungan Lumban Tobing untuk menerima Nommensen tinggal di rumahnya mendapat penolakan dari Raja Pontas Lumbantobing. Raja Pontas berusaha memengaruhi raja-raja di Silindung supaya menolak Nommensen. Sebaliknya, Raja Amandari berusaha memengaruhi raja-raja di Silindung untuk menerima Nommensen. Masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal menerima Nommensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nommensen), Nommensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.

Satu tahun kemudian, 27 Agustus 1865, Nommensen melakukan pembaptisan pertama kepada satu orang Batak. Di kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, juga meminta supaya ia dan keluarganya dibaptis. Pada saat itu, Raja Pontas meminta supaya Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya menjadi Kristen, masyarakat Silindung semakin banyak yang menjadi Kristen.

Sejalan dengan pertumbuhan gereja di Silindung, Nommensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan sebagai guru Injil dan guru sekolah. Di kemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipoholon. Kemudian, Nommensen membuka pos penginjilan baru di Sigumpar. Dari Sigumparlah, ia menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.

Gereja HKBP Dame Saitnihuta yang dibangun Nommensen.

Ketika diberi izin oleh pemerintah kolonial, maka RMG menunjuk Nommensen untuk membuka pos zending baru di Silindung.[7] Kehadiran zending ditantang oleh sebagian raja dan juga oleh sebagian besar penduduk karena mereka takut akan terkena bencana jika menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat.[5] Selain itu, sikap menolak para raja disebabkan pula oleh kekhawatiran bahwa dengan kedatangan orang-orang kulit putih ini menjadi perintis jalan bagi pemerintahan Belanda yang berkuasa pada waktu itu.[5] Sekalipun demikian, Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem - Kampung Damai).[1] Pada tahun 1873, ia mendirikan gedung gereja, sekolah, dan rumahnya di Pearaja dan hingga kini, Pearaja tetap menjadi pusat Gereja HKBP.[1]

Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja, maka pada bulan Januari 1878, Si Singamangaraja XII sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung.[4] Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka.[4] Pada awal tahun 1878, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevell menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari Sibolga. Februari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Sisingamangaraja XII dimulai.[8] Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I.[8] Keduanya menjadi penunjuk jalan dan penerjemah, serta malah dianggap ikut berperan dalam menentukan kampung-kampung mana yang akan dibakar. Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Sisingamangaraja XII di Bangkara dibumihanguskan. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 gulden.[4]

Setelah Silindung dan Toba ditaklukkan dalam Perang Toba I, Batakmission (zending Batak) mengalami kemajuan dengan pesat, khususnya di daerah Utara.[4] Nommensen berhasil meyakinkan ratusan raja untuk berhenti mengadakan perlawanan.[4] Tentunya, hal ini dapat terjadi setelah Nomensen meyakinkan kembali masyarakat bahwa ia bukan kaki tangan Belanda dan kedatangannya untuk membawa kebaikan.[7] Hal ini tampak dalam tindakan keseharian Nommensen bagi orang-orang Batak waktu itu.[7] Contoh beberapa raja yang akhirnya bersikap positif ialah Raja Pontas Lumban Tobing, Ompu Hatobung di Pansur Napitu, Kali Bonar di Pahae, Ompu Batu Tahan di Balige, dan lainnya.[7] Pada tahun 1881, Nommensen memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, dan ia tinggal di sana sampai akhir hayatnya.[9] Pada tahun kematiannya, Batakmission (cikal bakal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mencatat jumlah orang Batak yang dibaptis telah mencapai 180.000 orang.[4]

Gereja HKBP DR. I.L. Nommensen Sigumpar.

Untuk menjaga tatanan hidup dari ribuan orang yang baru masuk menjadi Kristen, Nommensen menyediakan bagi mereka suatu tatanan yang baru.[5] Pada tahun 1866, ditetapkanlah sebuah Aturan Jemaat.[5] Aturan itu meliputi kehidupan orang Kristen di dalam jemaat maupun dalam lingkungan keluarga menyangkut ibadah, perkawinan, hukum, dan pejabat gerejawi.[5] Di samping itu, Nommensen menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak Toba.[1] Ia menerbitkan cerita-cerita Batak dan menerbitkan cerita-cerita PL.[1][9] Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya.[1] Jasa Nommensen juga dikenang oleh orang Batak antara lain karena usahanya di bidang pendidikan dengan membuka sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi.[1] Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah, RMG bersama Nommensen membuka pendidikan guru.[1]

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG, pada tahun 1881,mengangkat Nommensen sebagai Ephorus.[5] Jabatan ini diembannya sampai akhir hidupnya.[1][5] Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Nommensen mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn.[1][4] Pada tahun 1911, ia memperoleh penghargaan Kerajaan Belanda dengan diangkat sebagai Officier in de Orde van Oranje-Nassau.[4] Ia pun akhirnya mendapat gelar sebagai Rasul Orang Batak.[1]

Kematian

Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada usia 84 tahun.[1] Hingga saat kematiannya, ia telah bekerja sebagai pendeta di tengah-tengah orang Batak selama 57 tahun. Nommensen dimakamkan di Sigumpar, Toba.[1] Makamnya menjadi tempat wisata rohani di Kabupaten Toba.

Strategi penginjilan

Strategi misi yang dikembangkan oleh Nommensen adalah mengubah strategi penginjilan, yang awalnya menekankan konversi perorangan menjadi konversi kelompok.[2] Untuk mewujudkan hal itu, Nommensen membuka pos-pos penginjilan baru, termasuk sekolah, dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan raja-raja setempat.[7] Keputusan para raja ini sangat menentukan berhasil atau tidaknya upaya penginjilan karena mereka merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya.[7]

Galeri

  • Patung I.L. Nommensen di kompleks Gereja HKBP Dame Saitnihuta
    Patung I.L. Nommensen di kompleks Gereja HKBP Dame Saitnihuta
  • Lukisan I.L. Nommensen di Gereja HKBP Balige
    Lukisan I.L. Nommensen di Gereja HKBP Balige
  • Foto I.L. Nommensen di Gereja HKBP Dame Saitnihuta
    Foto I.L. Nommensen di Gereja HKBP Dame Saitnihuta
  • Gapura Gereja HKBP DR. I.L. Nommensen Sigumpar
    Gapura Gereja HKBP DR. I.L. Nommensen Sigumpar
  • Gereja HKBP Dame Saitnihuta
    Gereja HKBP Dame Saitnihuta
  • Altar Gereja HKBP Dame Saitnihuta
    Altar Gereja HKBP Dame Saitnihuta
  • Gereja GKPI Dame Dr. I.L. Nommensen yang dibangun oleh GKPI pasca berpisah dari HKBP
    Gereja GKPI Dame Dr. I.L. Nommensen yang dibangun oleh GKPI pasca berpisah dari HKBP

Lihat pula

  • Salib Kasih
  • Daftar misionaris Kristen di Tanah Batak

Bibliografi

  • 1877, The Gospel according to Saint John: Translated out of the Original Greek into Batta (Toba), the Language of the Batta in the Island of Sumatra. Elberfeld: Friderichs & Comp.
  • 1877, Tobasch Spelboekje, Batavia: 's Landsdrukkerij.
  • 1878, The New Testament of our Lord and Saviour Jesus Christ: Translated out of the original Greek into Batta (Toba), the language of the Batta in the island of Sumatra. Elberfeld: R. L. Friderichs & Comp,
  • 1885, Tobasch Spelboekje, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.
  • 1886, Djamita sian Hata ni Debata na di Padan na Robi, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.
  • 1908, Jamita sian hata ni Debata na di padan na robi, Elberfeld: R.L. Friderichs & Comp.

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 (Indonesia)F.D. Willem. 1987. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 198, 199.
  2. 1 2 (Inggris)Jan Sihar Aritonang, Karel Steenbrink. 2008. A History of Christianity in Indonesia. Leiden: Koninklijke Brill. Hlm. 535.
  3. 1 2 3 4 (Indonesia)J.T. Nommensen. 1974. Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 9.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 (Indonesia)Uli Kozok. 2010. Utusan Damai di Kemelut Perang: Perang Zending dalam Perang Toba. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hlm. 35,38,92,123.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 (Indonesia)Th. van den End. 1993. Ragi Carita 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 175,177.
  6. ↑ Schreiner, Lothar "Nommensen in Selbstzeugnissen: unveröffentlichte Aufsätze, Entwürfe, und Dokumente eingeleitet, erklärt, und herausgegeben von Lothar Schreiner". Verlag an der Lottbek in Ammersbek. 1996. ISBN 3-86130-041-9
  7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 (Indonesia)Jan S. Aritonang. 1988. Sejarah Pendidikan Kristen Di Tanah Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 148,149,150, 157.
  8. 1 2 http://ulikozok.wordpress.com/peran-zending-dalam-perang-toba/. Diakses pada Jumat 15 April 2011. Pk. 19.55 WIB
  9. 1 2 (Indonesia)Muller Kruger. Sejarah Gereja di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 218.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ingwer Ludwig Nommensen.
  • (Indonesia) Hubungan Nommensen, Singamangaraja, dan Belanda.
  • (Inggris) Ludwig Nommensen Missionary to Sumatra
  • l
  • b
  • s
Ephorus HKBP
  1. Pdt. Dr. I. L. Nommensen
  2. Pdt. Dr. Johannes Warneck
  3. Pdt. P. Landgrebe
  4. Pdt. Dr. E. Verwiebe
  5. Pdt. K. Sirait
  6. Pdt. Dr. (H.C.) Justin Sihombing
  7. Pdt. Dr. (H.C.) T.S. Sihombing
  8. Pdt. G.H.M. Siahaan
  9. Pdt. Dr. S.A.E. Nababan
  10. Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak
  11. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk
  12. Pdt. Dr. Bonar Napitupulu
  13. Pdt. WTP Simarmata, MA
  14. Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing
  15. Pdt. Dr. Robinson Butarbutar
Lainnya: Pdt. Valentin Kessel (Pejabat sementara Ephorus) · Pdt. Dr. S.M. Siahaan (Pejabat Ephorus)
  • l
  • b
  • s
Huria Kristen Batak Protestan
Sejarah HKBP
(garis waktu)
  • Rheinische Missionsgesellschaft
  • Misi Kristen untuk orang Batak
  • Huta Dame
  • Krisis HKBP 1992-1998
Ephorus
  • I.L. Nommensen (1881 – 1918)
  • V. Kessel (1918 – 1920)
  • J. Warneck (1920 – 1932)
  • P. Landgrebe (1932 – 1936)
  • E. Verwiebe (1936 – 1940)
  • K. Sirait (1940 – 1942)
  • J. Sihombing (1942 – 1962)
  • T.S. Sihombing (1962 – 1974)
  • G.H.M. Siahaan (1974 – 1986)
  • S.A.E. Nababan (1986 – 1998)
  • S.M. Siahaan (1992 – 1993)
  • P.W.T. Simanjuntak (1993 – 1998)
  • J.R. Hutauruk (1998 – 2004)
  • B. Napitulu (2004 – 2012)
  • W.P.T. Simarmata (2012 – 2016)
  • D. Lumbantobing (2016 – 2020)
  • R. Butarbutar (2020 – 2024)
  • V. Tinambunan (2024 – sekarang)
HKBP ( Huria Kristen Batak Protestan )
Doktrin dan
Dokumen
  • Konfessi
  • Agenda HKBP
  • Buku Ende HKBP
  • Buku Nyanyian HKBP
  • Buku Logu
Organisasi
  • Pimpinan HKBP
  • Sinode Godang
  • Rapat Pendeta HKBP
Wilayah pelayanan
Distrik
  • Tapanuli bagian Selatan-Sumatera Barat
  • Silindung
  • Humbang
  • Toba
  • Sumatera Timur
  • Dairi
  • Samosir
  • DKI Jakarta
  • Sibolga-Tapanuli Tengah-Nias
  • Medan-Aceh
  • Toba Hasundutan
  • Tanah Alas
  • Asahan-Labuhanbatu
  • Tebing Tinggi-Deli
  • Sumatera Bagian Selatan
  • Humbang Habinsaran
  • Indonesia Bagian Timur
  • Jawa Barat-Jawa Tengah-DI Yogyakarta
  • Bekasi
  • Kepulauan Riau
  • Banten
  • Riau
  • Binjai-Langkat
  • Tanah Jawa
  • XXV Jambi
  • Labuhanbatu
  • Borneo
  • Depok-Bogor-Sukabumi-Kalimantan Barat
  • Deli Serdang
  • Riau Pesisir
  • Medan Utara
  • Lampung
  • Barus Raya (Persiapan)
  • Kalimantan Barat (Persiapan)
Misionaris
Daftar
Jemaat luar negeri
  • Malaysia
  • HKBP California Redlands
  • HKBP Montclair Lutheran Colorado
  • HKBP New York
  • HKBP Fontana California
Lembaga terkait
Pendidikan
  • Universitas HKBP Nommensen
  • AKPER HKBP Balige
  • STT HKBP Pematangsiantar
  • Sekolah Pendeta HKBP
  • STGH HKBP
  • STB HKBP Laguboti
  • STD HKBP Balige
Kesehatan
  • Rumah Sakit HKBP Balige
  • Rumah Sakit HKBP Nainggolan
  • HKBP AIDS Ministry
Panti
  • Panti Asuhan Elim
  • Panti Karya Hephata
Lainnya
  • Auditorium Seminarium Sipoholon
  • Nommensen Christian Centre (NCC) Sipoholon
  • Perkampungan Bibelvrouw Pensiun Ebeneser Sinaksak
  • Perkampungan Pemuda Jetun Silangit
  • Sopo Marpingkir Jakarta
Media Informasi
dan Komunikasi
Percetakan HKBP  • Radio Bonapasogit FM  • Suara HKBP  • SP Ina HKBP  • SP Pemuda HKBP
Portal:Kristen
  • l
  • b
  • s
Gereja Kristen Protestan Simalungun
Sejarah
  • Comite Na Ra Marpodah Simalungun
  • Kongsi Laita
Distrik
  • Distrik I
  • Distrik II
  • Distrik III
  • Distrik IV
  • Distrik V
  • Distrik VI
  • Distrik VII
  • Distrik VIII
  • Distrik IX
  • Distrik X
  • Distrik XI
  • Distrik XII
Tokoh penting
  • Djaulung Wismar Saragih Sumbayak
  • August Theis
  • Ludwig Ingwer Nommensen
Organisasi
  • Ephorus GKPS
  • Sekjend GKPS
  • l
  • b
  • s
Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa Indonesia dan Melayu
Sejarah Alkitab bahasa Indonesia
Terjemahan
Bahasa Melayu
Ruyl (1612, 1629, 1638) Van Hasel & Heurnius (1646, 1651, 1652, 1677) · Brouwerius (1662, 1668) · Valentyn (1677) · Leydekker (1731, 1733, 1758, 1818) · Werndly (1735) · Thomsen (1831) · Emde, Melayu Surabaya (1835) · Veth (1846) · Keasberry (1853, 1862) · Klinkert, Melayu Rendah (1863) · Klinkert, Melayu Tinggi (1870, 1879) · Roskott, Melayu Ambon (1877) · Shellabear (1912) · Shellabear, Melayu Baba (1913)
Bahasa Indonesia
dan Melayu modern
Bode (1938) · Terjemahan Lama (1958) · Alkitab Ende (1968) · Terjemahan Baru (1974) · Perjanjian Baharu Berita Baik (1974) · BIS (1985) · Today´s Malay Version (Alkitab Berita Baik)(1987) · Firman Allah Yang Hidup (1989) · Kitab Suci Injil (2000) · Kitab Suci Komunitas Kristiani (2002) · Alkitab yang Terbuka (2014)
Bahasa-bahasa daerah
Aceh · Bali · Batak Angkola-Mandailing (1991) · Batak Karo (1987) · Batak Toba (1894) · Bugis Makasar (1900) · Dayak Ngaju (1858) · Jawa (1854)  · Kambera (1961) · Madura (1994) · Mentawai (1996) · Mori (1948) · Nias (1911) · Pamona (2000) · Sangir (1942) · Siau/Sangihe (1883) · Sunda (1891) · Wewewa (1970)
Penerjemah
Bahasa Melayu
A.C. Ruyl (1600 ke Indonesia)  · Bernhard N. J. Roskott (... - 1873) · Daniel Brouwerius (1625 - 1673) · François Valentijn (1666 - 1727) · H.C. Klinkert (1829 - 1913) · Jan van Hasel · Johannes Emde (1744 - 1859) · Justus Heurnius (1587 - 1652) · Melchior Leydekker (1645 - 1701) · William Girdlestone Shellabear (1863 - 1947)
Bahasa Indonesia
dan Melayu modern
Ganda Wargasetia · H.C. Klinkert (1829 - 1913) · J. Bouma · W. A. Bode (1890 - 1942) ·
Bahasa-bahasa daerah
A. Schreiber · A.C. Kruyt · A.M. Naiola · Aru Pancana · August Friederich Albert Hardeland · Benjamin Frederick Matthes (1818 - 1908) · C. Leipoldt · C. Schutz  · Christiaan Jacobus van der Vlis · Cicilia Waluyo · Clara M.J. Steller · D. Palinggi · E. T. Steller (1834 - 1897) · E.J. van den Berg · F. Bura · F. Kelling · G.J. Grashuis · Goesti Djilantik  · Gottlob Brückner (1783 - 1857) · H. van der Veen · Herman Neubronner van der Tuuk · I. Esser · Ince Papu · Izaak Toto · J. Kaboe · J. Tammu · J.A.T. Schwarz · Johann Friedrich Carl Gericke (1799 - 1857) · J.H. Neumann · J.P Esser · Djaulung Wismar Saragih · Johann Friederich Becker · K.G.F. Steller · Louis Onvlee · Ludwich Ernst Denninger · Ludwig Ingwer Nommensen (1834 - 1918) · M. Amtiran · Mas Martadireja · Mas Muhammad Rais · N. Neno · N. Titus · Ngabehi Joyo Pramadi · Nicolaus Adriani (1865 - 1926) · Nikodemus Tomonggong Joyo Negoro · P. Voorhoeve · Peter Hinrich Johannsen · Pieter Jansz (1820 - 1904) · Pieter Middelkoop · R. Roolvink · Rd. Bratanegara · Rd. Gandakusumah · Rd. Ngabehi Joyo Supono · Rd. Panji Puspowilogo · Sierk Coolsma · T.R. Benoefinit · Taco Roorda · Timotheus Marat · Vinzent Lechovic · Wilhelm Heinrich Sundermann
Lain-lain
João Ferreira de Almeida (1628 - 1691)
Organisasi/Lembaga
American Bible Society (ABS) · British and Foreign Bible Society (BFBS) · International Bible Society (IBS)  · Kartidaya  · Lembaga Alkitab Batavia (Lembaga Alkitab Hindia-Belanda, Lembaga Alkitab Jawa · Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) · Lembaga Biblika Indonesia (LBI) · National Bible Society of Scotland (NBSS) · Nederlandsch Bijbelgenootschap (NBG) · The Bible Society of Malaysia (BSM) · The Bible Society of Singapore and Brunei (BSSB) · The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei (BSSMB) · United Bible Societies (UBS) · World Bible Translation Center (WBTC) · Yayasan Kalam Hidup · Yayasan Obor · Yayasan Perpustakaan Injil (Yasperin)
Portal:Kristen
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Australia
  • Belanda
  • Latvia
Orang
  • Trove
  • Deutsche Biographie
  • DDB
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kisah hidup
  2. Masa kecil
  3. Pendidikan dan misi
  4. Kematian
  5. Strategi penginjilan
  6. Galeri
  7. Lihat pula
  8. Bibliografi
  9. Referensi
  10. Pranala luar

Artikel Terkait

Huria Kristen Batak Protestan

gereja di Indonesia

Huria Kristen Indonesia

salah satu denominasi Kristen

Sejarah penyebaran agama Kristen ke suku Batak

agama Kristen ke suku Batak adalah sejarah yang menceritakan masuknya Injil dan konteks perkembangannya sekitar tahun 1820-an hingga berdirinya Huria Kristen

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026