William Girdlestone Shellabear (1862–1948) adalah salah seorang penerjemah Alkitab dalam bahasa Melayu. Pada awalnya, ia berangkat ke Malaya sebagai insinyur dan serdadu. Ia tiba di Singapura pada tahun 1885 untuk memimpin sebuah resimen tentara Melayu. Pada tahun 1890, atas dorongan Uskup James Thoburn, Shellabear meletakkan jabatannya dan kembali ke Inggris untuk mempelajari keterampilan cetak untuk percetakan Gereja Methodis. Pada tahun 1891, ia kembali ke Singapura dan segera memulai penerbitan serta penerjemahan literatur Kristen ke dalam bahasa Melayu. Karena memiliki dana serta peralatan cetak yang paling modern di kawasan itu, Shellabear pun menjadi anggota misionaris yang paling senior dan paling berkuasa secara politik.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


William Girdlestone Shellabear (1862–1948) adalah salah seorang penerjemah Alkitab dalam bahasa Melayu.[1][2][3] Pada awalnya, ia berangkat ke Malaya sebagai insinyur dan serdadu. Ia tiba di Singapura pada tahun 1885 untuk memimpin sebuah resimen tentara Melayu. Pada tahun 1890, atas dorongan Uskup James Thoburn, Shellabear meletakkan jabatannya dan kembali ke Inggris untuk mempelajari keterampilan cetak untuk percetakan Gereja Methodis. Pada tahun 1891, ia kembali ke Singapura dan segera memulai penerbitan serta penerjemahan literatur Kristen ke dalam bahasa Melayu. Karena memiliki dana serta peralatan cetak yang paling modern di kawasan itu, Shellabear pun menjadi anggota misionaris yang paling senior dan paling berkuasa secara politik.
Ia aktif bekerja sejak tahun 1891 hingga 1948. Ia pula yang memperkenalkan perubahan pendekatan terhadap orang-orang Melayu dan orang-orang Muslim.[4] Pada tahun 1891, Shellabear berhasil mencetak Injil Matius dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Latin. Percetakan tersebut juga mencetak Alkitab dalam pelbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa, Bugis, Tionghoa, serta berbagai dialek Tionghoa dalam aksara Latin.
Pada awal tahun 1904, Shellabear bersama istri kedua dan keluarganya pindah ke Malaka. Di Malaka inilah Shellabear bertemu dengan Sulaiman bin Muhammad Nur, seorang ahli syair Melayu dan sufi yang menjadi guru dan asistennya. Di bawah bimbingan Sulaiman, Shellabear dapat memperhalus kecakapannya atas peribahasa-peribahasa, lapisan-lapisan simbolisme, dan alegori Melayu yang kaya. Ia mulai melihat hubungan erat antara kebudayaan, agama, dan bahasa yang harus menjadi sasaran setiap terjemahan Alkitab.
Selain Alkitab, Shellabear juga menerjemahkan Perjalanan sang Peziarah karya John Bunyan ke dalam bahasa Melayu Baba, yaitu bahasa Melayu khas dari komunitas Tionghoa di Selat Malaka yang menurut Shellabear merupakan sebuah bahasa yang benar-benar unik. Ia melakukannya bersama dengan Tan Cheng Poh. Pada tahun 1909, Shellabear dan teman-teman Tionghoanya merampungkan sebuah adaptasi Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu Baba. Hal ini menandai akhir dari berbagai upaya penerjemahan Perjanjian Baru di Malaya dalam kurun waktu hampir 20 tahun.

Selain memproduksi tulisan dalam jumlah banyak yang terutama ditujukan untuk orang Kristen Melayu, ia juga menulis Sejarah Melayu, Hikayat Abdullah bin Abdul Kadir dalam aksara Latin, sebuah buku himne Melayu, kamus, buku tata bahasa Melayu, dan terjemahan Perjalanan Sang Musafir (dengan judul Chrita Orang Yang Chari Slamat). Ia juga berkolaborasi dengan penulis Melayu, Sulaiman bin Muhammed Nur, dalam memublikasikan ‘’Kitab Kiliran Budi’’ (kumpulan kata-kata bijak) dan ‘’Hikayat Hang Tuah. Buku tata bahasa, kamus, dan terjemahan Alkitabnya terus dicetak ulang selama berpuluh-puluh tahun.[2]
Shellabear meninggal dunia pada tahun 1947 dalam usia 84 tahun. Karya-karyanya yang lain dicetak ulang di Malaya sampai tahun 1957. Alkitab dalam aksara Jawi dicetak ulang oleh Lembaga Alkitab hingga tahun 1971 di Singapura.
