Glagah adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Glagah merupakan salah satu satelit dari ibu kota Banyuwangi dan berlokasi di barat kota tersebut. Kecamatan ini memiliki infrastruktur penting yaitu Stasiun Banyuwangi Kota serta terminal angkot kecil bernama Terminal Sasak Perot. Glagah terletak di jalur penghubung Banyuwangi Kota menuju kawasan wisata pegunungan di Licin dan Ijen. Glagah juga memiliki ikon wisatanya sendiri seperti Air terjun Jagir, Perkebunan Kalibendo, Wisata Jopuro, dan Pemandian Tamansuruh. Pada tahun 2004, Kecamatan Glagah bagian barat dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Kecamatan Licin.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Glagah | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Barong Ider Bumi | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Banyuwangi | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Hartono, S.Sos., M.Si. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 38.571 jiwa | ||||
| Kode pos | 68454 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.10.15 | ||||
| Kode BPS | 3510170 | ||||
| Luas | 76,75 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 2 kelurahan 8 desa | ||||
| |||||
Glagah adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Glagah merupakan salah satu satelit dari ibu kota Banyuwangi dan berlokasi di barat kota tersebut. Kecamatan ini memiliki infrastruktur penting yaitu Stasiun Banyuwangi Kota (sebelumnya disebut Stasiun Karangasem) serta terminal angkot kecil bernama Terminal Sasak Perot. Glagah terletak di jalur penghubung Banyuwangi Kota menuju kawasan wisata pegunungan di Licin dan Ijen.[1] Glagah juga memiliki ikon wisatanya sendiri seperti Air terjun Jagir, Perkebunan Kalibendo, Wisata Jopuro, dan Pemandian Tamansuruh. Pada tahun 2004, Kecamatan Glagah bagian barat dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Kecamatan Licin.[2]
Glagah dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Suku Osing yang merupakan suku asli Banyuwangi. Salah satu tempat yang terkenal adalah Desa Adat Kemiren yang dikembangkan menjadi salah satu ikon wisata Banyuwangi. Selain memamerkan berbagai tradisi masyarakat Osing, desa ini juga memiliki fasilitas lain seperti pusat kuliner tradisional, kolam renang, penginapan, dan lainnya. Beberapa acara rutin yang diadakan di Kemiren diantaranya Ider Bumi yang menampilkan tarian Barong Kemiren dan Pitik-pitikan, Tumpeng Sewu, hingga Festival Ngopi Sepuluh Ewu.[3][4] Selain Kemiren, desa lainnya yang mempertahankan kearifan lokal Osing diantaranya Olehsari dan Bakungan yang memiliki tradisi Seblang.[5]

Glagah adalah kecamatan yang terletak di barat pusat kota Banyuwangi. Glagah terletak di dataran rendah dan kawasan perbukitan di lereng Pegunungan Ijen. Bagian timur Glagah seperti Kelurahan Bakungan dan Banjarsari mengalami urbanisasi yang pesat, sedangkan bagian baratnya masih banyak ditemukan areal persawahan dan kebun kelapa. Bagian Glagah paling ujung barat adalah kawasan perkebunan bernama Kalibendo. Komoditas utama di perkebunan ini diantaranya kopi, karet, dan cengkeh.
Batas wilayah Kecamatan Glagah adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | Kecamatan Licin |
| Timur | Kecamatan Giri dan Kecamatan Kalipuro |
| Selatan | Kecamatan Banyuwangi dan Kecamatan Kabat |
| Barat | Kecamatan Licin |
Kecamatan Glagah terdiri dari 2 kelurahan dan 8 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Kelurahan | Nama Lingkungan dan Kampung | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bakungan | Krajan, Gaplek, Karangasem, Watu Ulo | [1] |
| 2 | Banjarsari | Krajan, Entongan, Gunungsari, Melaten, Pancoran, Sukorojo, Tembakon | [1] |
| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Glagah | Krajan, Jambean, Kampungbaru | [1] |
| 2 | Kampung Anyar | Krajan, Kalibendo, Kopencungking, Panggang, Rejopuro | [1] |
| 3 | Kemiren | Krajan, Kedaleman | [1] |
| 4 | Kenjo | Krajan, Salakan | [1] |
| 5 | Olehsari | Krajan, Joyosari | [1] |
| 6 | Paspan | Krajan, Kebonan, Pereng, Sukosari | [1] |
| 7 | Rejosari | Krajan, Lalangan, Watu Ulo | [1] |
| 8 | Tamansuruh | Krajan, Andong, Gadog, Mondoluko, Wonosari | [1][6] |

Kecamatan Glagah memiliki salah satu infrastruktur transportasi terpenting di Kabupaten Banyuwangi yaitu Stasiun Banyuwangi Kota. Letaknya cukup strategis yaitu hanya sekitar 5 km dari pusat kota. Stasiun tersebut merupakan perubahan nama dari Stasiun Karangasem pada tahun 2019. Perubahan ini juga terjadi pada Stasiun Banyuwangi Baru di Kalipuro yang berubah nama menjadi Stasiun Ketapang (Banyuwangi). Kedua stasiun tersebut diganti namanya agar mempermudah wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi, karena Stasiun Karangasem lebih dekat dengan pusat kota dibandingkan Stasiun Banyuwangi Baru yang lokasinya di sekitar Pelabuhan Ketapang.[7] Stasiun Banyuwangi Kota melayani berbagai rute kereta api antar kota seperti Wijayakusuma, Mutiara Timur, dan Blambangan Ekspres.[8]
Kecamatan Glagah berada di jalur penghubung pusat kota Banyuwangi dengan kawasan wisata di Licin dan Ijen. Akses utama ke Glagah dari pusat kota adalah melalui Simpang Lima ke arah barat masuk Jl. Jaksa Agung Suprapto, berlanjut ke Jl. HOS Cokroaminoto, dan kemudian masuk Kecamatan Glagah. Di jalan tersebut terdapat ikon terkenal yaitu jembatan kecil bernama Sasak Perot yang disekitarnya banyak penjual makanan.[9] Di dekat jembatan tersebut terdapat terminal kecil bernama Terminal Sasak Perot yang melayani berbagai trayek angkutan umum. Terminal Sasak Perot dan Stasiun Banyuwangi Baru dilintasi oleh trayek Angkutan KSPN DAMRI menuju Kawah Ijen.

Kecamatan Glagah adalah salah satu kecamatan yang kebudayaan Suku Osing-nya masih sangat kental dan terus dilestarikan hingga sekarang. Beberapa budaya Osing di Glagah diantaranya Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Seblang di Desa Olehsari dan Bakungan, serta Gelar Songo di Desa Glagah. Beberapa desa tersebut berstatus desa adat, yang paling terkenal adalah Desa Adat Kemiren. Pada tahun 2025, Desa Kemiren resmi menjadi bagian dari Upgrade Programme of Best Tourism Villages 2025 oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO / UN Tourism).[10][3]

Seblang adalah tarian tradisional yang dapat ditemukan di Desa Olehsari dan Bakungan di Kecamatan Glagah. Tarian ini dilakukan tiap tahunnya pada awal bulan Syawal sebagai bagian dari ritual bersih desa. Penari Seblang menari selama tujuh hari berturut-turut dalam keadaan trance (kesurupan) dan diiringi gending seblang. Penari Seblang di Olehsari adalah perempuan muda, sedangkan Seblang Bakungan diperankan oleh wanita sepuh, keduanya konon dipilih oleh roh leluhur. Penari mengenakan mahkota atau omprog yang terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi oleh bunga-bunga.[5]
Barong Ider Bumi adalah tradisi tahunan yang dilaksanakan di Desa Adat Kemiren setiap tanggal 2 Syawal atau hari kedua Idul Fitri. Tradisi ini merupakan ritual bersih desa sekaligus tolak bala berupa arak-arakan menggunakan pakaian khas Osing, kemudian dilanjutkan dengan selamatan berupa doa sambil makan bersama. Arak-arakan ini cukup ramai, ada yang memamerkan tarian khas Osing berupa Barong Kemiren dan Pitik-pitikan, ada kelompok yang membawakan musik, ada kelompok yang membawakan tumpeng dan sesaji, dan lain sebagainya.[4]

Salah satu kuliner khas Suku Osing adalah Pecel pitik. Masakan ini umumnya disajikan dalam upacara adat Osing seperti Ider Bumi dan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Berbeda dari pecel biasanya yang memakai sambal dari kacang, pecel ini berbahan utama ayam kampung muda. Ayam kampung itu kemudian dipanggang secara utuh di perapian. Jika telah matang, ayam disuwir-suwir dan dibumbui dengan rempah-rempah seperti kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula. Selanjutnya diberi parutan kelapa muda yang juga telah dibumbui.[11]