Eny Karim, juga dieja sebagai Eni Karim, adalah seorang pejuang, politikus dan menteri Indonesia. Dia pernah menjabat Menteri Pertanian dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II, dan sempat menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1963.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Eny Karim | |
|---|---|
| Menteri Pertanian Indonesia Ke-11 | |
| Masa jabatan 24 Maret 1956 – 14 Maret 1957 | |
| Presiden | Soekarno |
| Gubernur Sumatera Utara Ke-6 | |
| Masa jabatan 8 April 1963 – 15 Juli 1963 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1910-10-27)27 Oktober 1910 Batu Sangkar, Hindia Belanda |
| Meninggal | 5 September 1995(1995-09-05) (umur 84) Jakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | PNI |
| Pekerjaan | Politisi |
| Dikenal karena | Menteri Pertanian Indonesia |
Eny Karim (27 Oktober 1910 – 5 September 1995), juga dieja sebagai Eni Karim, adalah seorang pejuang, politikus dan menteri Indonesia. Dia pernah menjabat Menteri Pertanian dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II,[1] dan sempat menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1963.
Eny Karim merupakan salah satu keturunan Mas Warido, mantri kopi yang terbunuh dalam Perang Kamang tahun 1908.[2] Ia memiliki adik bernama Darwin Karim, pernah menjadi Kepala Polisi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Ayah mereka bernama Karim, guru OSVIA di Bukittinggi.[3]
Eny Karim lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, pada 22 Oktober 1910. Ia menjalani pendidikan di Bukittinggi, menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1924, MULO pada tahun 1927, dan sekolah bangsawan (MOSVIA) melatih bangsawan lokal untuk menjadi pegawai negeri pada tahun 1931.[4] Sempat mengambil pendidikan tinggi B-1 Sejarah di Bukittinggi tetapi tidak selesai.
Dia memulai kariernya sebagai pegawai muda kemudian juru buku di Kerajaan Menpawah, Kalimantan. Setelah itu ia pindah ke Sumatera Barat menjadi Pegawai Muda Pamong Praja di Solok, Sawahlunto, Bukittinggi dan Air Bangis. Setelah kemerdekaan, Ia kembali ke Solok sebagai Wakil Bupati dan Sekretaris Residen Sumatera Barat di Bukittinggi. Selama Agresi Militer Belanda II, ia mengungsi ke Koto Tinggi dan menjabat sebagai Dewan Pertahanan Daerah. Tahun 1946, ia menjadi Residen yang diperbantukan kepada Gubernur Sumatra Tengah di Bukittinggi.[5]
Tahun 1957, ia menjadi utusan pemerintah pusat untuk meredam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia pimpinan Ahmad Husein.[6] Setelah selesai menjadi menteri, pada tahun 1958 ia menjadi Kepala Direktorat Otonomi dan Desentralisasi Departemen Dalam Negeri. Pada tahun 1962 menjadi Sekretaris Jendral Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Ia sempat menjadi Gubernur Sumatera Utara pada periode 8 April 1963 sampai 15 Juli 1963.[7] Pada tahun 1976, Eny Karim pensiun dari tugasnya.
Ia meninggal pada tanggal 5 September 1995 di Jakarta, dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.