Allo Bank adalah perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang perbankan. Bank ini berdiri sejak 1992 dan berlokasi di Jakarta. Sejak diakuisisi oleh CT Corp di tahun 2020, bank ini berfokus ke layanan perbankan secara digital.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jenis perusahaan | Publik |
|---|---|
| Kode emiten | BEI: BBHI |
| Industri | Jasa keuangan |
| Didirikan | 21 Oktober 1992 |
| Kantor pusat | Menara Bank Mega, Jalan Kapten Tendean Nomor 12–14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan |
Tokoh kunci | Ari Yanuanto Asah (Plt. Direktur Utama) Aviliani (Komisaris Utama) |
| Pendapatan | Rp 101 miliar (2018), Rp 86 miliar (2019) |
| Rp -123 miliar (2018), Rp -36 miliar (2019) | |
| Pemilik | CT Corp |
| Induk | PT Mega Corpora (60,88%) PT Bukalapak.com Tbk (11,49%) Abadi Investment Pte Ltd (7,00%) PT Indolife Investama Perkasa (6,00%) Publik (14,63%) |
| Situs web | www.allobank.com |

Allo Bank (sebelumnya bernama Bank Harda Internasional) adalah perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang perbankan. Bank ini berdiri sejak 1992 dan berlokasi di Jakarta. Sejak diakuisisi oleh CT Corp di tahun 2020, bank ini berfokus ke layanan perbankan (simpanan dan kredit) secara digital.
PT Allo Bank Indonesia Tbk mulanya didirikan dengan nama PT Bank Arta Griya di tanggal 21 Oktober 1992, yang pada 16 Januari 1993 berganti nama menjadi PT Bank Harda Griya.[1] Dengan nama dagang awal Harda Bank,[2] operasionalnya dimulai pada 10 Oktober 1994 di kawasan Pinangsia, Jakarta, yang tidak lama kemudian dipindah ke kawasan Mangga Dua, Jakarta per Agustus 1995. Pada 10 Desember 1996 nama bank ini berubah kembali menjadi PT Bank Harda Internasional (Bank Harda atau BHI) yang tetap bertahan hingga 2021. Setelah pergantian nama itu, Bank Harda melakukan ekspansi dengan membuka 7 kantor cabang pada 1996-1997 di Jabodetabek, dilanjutkan cabang-cabang lain di Surabaya (2002), Bandung (2003), Surakarta dan Pontianak (2004), serta Pekanbaru (2006). Pada tahun 2007 kantor pusatnya dipindahkan lagi ke Asean Tower, Jl. H. Samanhudi Jakarta.[1]
Seperti banyak bank pasca-Pakto 88, awalnya Bank Harda dimiliki secara patungan oleh sejumlah pengusaha, terutama Tamara Group (kelompok usaha milik keluarga Pek Tek Beng/Putihrai)[3] dan Rachman Hakim. Adapun nama yang terakhir ini lebih dikenal sebagai pengusaha multi-sektor, mulai dari pertambangan kaolin (PT Alter Abadi Tbk) hingga agen tunggal sepeda motor APP KTM.[4] Setelah beberapa kali perubahan kepemilikan, pemegang saham Bank Harda Internasional didominasi keluarga Rachman Hakim (lewat PT Hakim Putra Perkasa) dan pebisnis lain, Kwee Sin To.[1] Pada tanggal 12 Agustus 2015, Bank Harda melepas 21% sahamnya ke masyarakat (go public) seharga Rp 125/lembar.[5] Setelah IPO yang berhasil menarik dana Rp 100 miliar tersebut, bank ini menargetkan pertumbuhan kredit hingga 30%.[6]
Fokus bisnis Bank Harda awalnya ada di pembiayaan industri non-migas, seperti pertanian dan kehutanan ditambah perdagangan valuta asing.[7] Belakangan Bank Harda lebih berfokus ke usaha kecil menengah hingga komersial, terutama bidang perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, perantara keuangan, dan properti.[1] Meskipun sudah memperluas jaringannya menjadi 18 kantor di sejumlah kota pada tahun 2017, Bank Harda tetap memiliki ukuran kecil, dengan aset mencapai Rp 2,09 triliun dan modal inti hanya Rp 387 miliar.[8] Belakangan, di tahun 2020 justru bank ini terbawa masalah yang menggegerkan industri keuangan dan OJK, karena terlibat dalam penjualan produk investasi ilegal FTC (forward trade confirmation) dari induknya, PT Hakim Putra Perkasa. Namun, saat terbongkar, pihak bank mengklaim penjualannya tidak banyak dan sudah dihentikan beberapa waktu sebelumnya.[9]
Adanya kewajiban pemenuhan modal inti dari OJK memaksa keluarga Hakim melepas seluruh sahamnya kepada pihak lain.[10] Mulanya yang dikabarkan berminat meminang BHI adalah Bank Central Asia (BCA) pada pertengahan 2017. Namun, kabar ini dibantah oleh BCA[11] dan BHI itu sendiri.[12] Akhirnya, ketika tenggat waktu pemenuhan modal Rp 1 triliun di akhir 2020 semakin dekat,[10] hadirlah nama Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega sebagai "penyelamat" BHI. Pada 16 Oktober 2020, pemegang saham eksisting dan PT Mega Corpora meneken perjanjian akuisisi, untuk total 73,71% kepemilikan di bank ini.[13] Transaksi pembelian senilai Rp 406,7 miliar tersebut selesai dilakukan pada 15 Maret 2021,[14] dan setelah tender offer, saham Mega Corpora naik menjadi 90%.[15]
Untuk memenuhi permodalannya, kemudian bank ini dijadikan bagian kelompok usaha bank (KUB) Mega Corpora, ditambah menerima suntikan modal hingga mencapai Rp 1 triliun.[15] Demi menambah modal lagi, pada Januari-Februari 2022, perusahaan mengadakan rights issue yang mendapat respon positif. Komposisi pemegang sahamnya pun berubah, dimana CT Corp turun menjadi 60,88%, ditambah masuknya investor strategis yang solid. Mereka adalah PT Bukalapak.com Tbk (11,49%), PT Indolife Investama Perkasa (6%), dan Abadi Investment Pte. Ltd. (7%). Artinya, kini secara tidak langsung Grup Emtek dan Grup Salim ikut memegang saham Allo Bank secara minoritas. Setelah rights issue selesai, Allo Bank memiliki modal inti Rp 6 triliun.[16]
Sejak 7 Mei 2021, PT Bank Harda Internasional Tbk resmi mengubah namanya menjadi PT Allo Bank Indonesia Tbk. Allo Bank lalu ditransformasikan menjadi bank yang berfokus pada layanan digital, yang izinnya didapat pada 10 September 2021. Awalnya, setelah pergantian identitas, bank ini lebih berfokus ke persiapan pada layanan digitalnya. Bentuk awal dari bank digital Allo Bank meluncur dengan nama Allo Apps di bulan November 2021,[15] dilanjutkan peluncuran versi awal aplikasinya pada Maret 2022.[17] Setelah semuanya selesai, Allo Bank resmi diperkenalkan ke publik pada 20 Mei 2022 dalam acara "Allo Bank Festival". Sesuai hari peluncurannya di Hari Kebangkitan Nasional, Allo Bank diharapkan bisa menumbuhkan semangat kebangkitan ekonomi nasional.[18]
Menurut Chairul Tanjung, Allo Bank berarti all in one bank, atau bank "satu untuk semua", yang terintegrasi dengan ekosistem bisnis CT Corp. Bank ini diharapkan dapat memberikan pengalaman tanpa batas bagi nasabah, serta dapat memberikan nilai tambah yang tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan terkait.[18] Seiring waktu, selain Allo Bank Festival perdana pada 20 hingga 22 Mei 2022, acara yang memadukan pasar jajanan, beauty and travel fair, job fair, festival musik dan seni, ditambah beragam kegiatan ini[19] terus diadakan setahun sekali. Termasuk belakangan mengusung tokoh K-Pop,[20] yang sering dijadikan sebagai nilai jual bagi Allo Bank.[21]
Dengan mengusung fitur seperti paylater instan, kerjasama dengan ekosistem baik internal dan eksternal hingga bunga menarik,[22] Chairul percaya Allo Bank dapat menjaring 1 juta nasabah dalam minggu pertama setelah diluncurkan, yang diyakini akan tumbuh pesat hingga 10-50 juta. Semua itu akan dicapai tanpa harus melakukan "bakar duit" seperti dilakukan bank digital atau fintech lain.[23] Hasilnya cukup positif, dimana jika pada Mei 2022 sudah memiliki 1 juta pelanggan, di tahun 2023 Allo Bank menambahnya menjadi 3,5 juta,[24] dan selanjutnya naik pesat menjadi 10 juta di tahun 2025.[21] Kinerjanya pun terus meningkat, dengan asetnya per 2024 sebesar Rp 13,31 triliun dan laba bersihnya mencapai Rp 467 miliar. Seiring pertumbuhan kinerja ini, Allo Bank terus meluncurkan fitur baru seperti Allo Grow.[25]
Bank ini berpusat di Jakarta, dan memiliki dua kantor cabang di Jakarta (Menara Bank Mega dan Indofood Tower).