Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Cirebon

Bahasa Cirebon atau disebut juga sebagai Bahasa Jawa Cirebon adalah bahasa yang dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama mulai daerah Pedes hingga Cilamaya Kulon dan Wetan di Kabupaten Karawang, Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, sebagian Ciasem, dan Compreng di Kabupaten Subang, Ligung, Jatitujuh, dan sebagian Sumberjaya, Dawuan, Kasokandel, Kertajati, Palasah, Jatiwangi, Sukahaji, Sindang, Leuwimunding, dan Sindangwangi di Kabupaten Majalengka sampai Kota dan kabupaten Cirebon, serta bagian utara kecamatan Losari, Brebes di Jawa Tengah yang penggunaanya bercampur dengan Bahasa Jawa Tegal. Bahasa Cirebon juga dipergunakan bersama bahasa Sunda Priangan di wilayah Surian, kabupaten Sumedang.

dialek bahasa Jawa yang dituturkan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya
Diperbarui 21 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Cirebon
Untuk dialek bahasa Sunda, lihat Bahasa Sunda Cirebon.
Netralitas artikel ini dipertanyakan. Diskusi terkait dapat dibaca pada halaman pembicaraan. Jangan hapus pesan ini sampai kondisi untuk melakukannya terpenuhi. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Bahasa Cirebon
BPS: 0084 2
Basa Cêrbon
Dituturkan diIndonesia
WilayahRebana,[a][1][2] Kabupaten Karawang dan sebagian kecil Sumedang bagian utara (Jawa Barat)[1][3][4]
Losari, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)[5]
EtnisCirebon
Penutur
1.877.514 jiwa (suku Cirebon; 2010)
3.086.721 jiwa (penutur bahasa Cirebon; 2010)[6]
Rumpun bahasa
  • Austronesia
    • Melayu-Polinesia [note 1][7]
      • Jawa
        • Dialek Barat
          • Bahasa Cirebon
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Sundik
      • Sunda–Sulawesi
        • Javanik
          • Jawa
            • Ngapak Suntingan nilai di Wikidata
              • Bahasa Cirebon
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi bahasa Cirebon dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Jawa Modern
      • Barat
        • Banten-Cirebon
          • Banten Utara
          • Indramayu
          • Cirebon
        • Pesisir Lor
          • Tegal-Brebes
          • Pemalang
        • Pekalongan
        • Banyumasan
      • Tengah
        • Bagelen-Kedu
          • Bagelen
          • Kedu
        • Mataram
          • Solo-Yogya
          • Semarang-Demak-Kudus-Jepara
            • Semarang
            • Kudus
        • Blora
        • Madiun-Kediri
      • Timur
        • Arekan
          • Jombang
          • Surabaya
          • Malang-Pasuruan
          • Lumajang
        • Gresik
          • Diponggo
        • Tengger
        • Using-Banyuwangi
      • Mancadwipa
        • Karibia
        • Kaledonia Baru
    Bentuk awal
    • Jawa Kuno
      • Jawa Pertengahan
        • Bahasa Cirebon
    Sistem penulisan
    • Rikasara Cirebon (historis, awalnya)
    • Carakan Cirebon (gabungan aksara Jawa dan Rikasara)
    • aksara Sunda Kuno[8]
    • Aksara Jawa
    • Pegon (Arab-Jawa)
    • alfabet Latin
    Status resmi
    Diatur olehLembaga Basa lan Sastra Cirebon
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    LINGUIST List
    LINGUIST list sudah tidak beroperasi lagi
    jav-cir
    Glottologcire1240[9]
    BPS (2010)0084 2
    Informasi penggunaan templat turunan
    Sampel
    Sampel teks
    Pasal 1 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia yang ditulis dengan Cirebon gaya Djoharuddin, yakni gaya Carakan Cirebon yang digunakan di kesultanan Kasepuhan pada masa Sultan Sepuh Djoharuddin sekitar tahun 1800-an. Silang merah (Apa ini?)
    Cacarakan Cirebon

    Aksara Jawa
    ꧋ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁ ꦏꦭꦲꦶꦫꦏ꧀ꦏꦺꦏꦤ꧀ꦛꦶ ꦩꦂꦝꦶꦏ ꦭꦤ꧀ꦢꦂꦧꦺ ꦩꦂꦠꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦏ꧀ꦲꦏ꧀ꦏꦁ ꦥꦝ꧉
    Terjemahan: 
    Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.
    Alih aksara: 
    Sabên wong kalairakkén kanthi mardhika lan darbé martabat lan hak-hak kang padha
    Sampel teks lainnya
    Lokasi penuturan
    Lokasi penuturan Bahasa Cirebon
    ProyekWiki Bahasa | Wikipedia | Kode sumber
        Cara menggunakan templat ini Sunting peta ini
    Peta yang menunjukkan perkiraan penuturan bahasa Cirebon di wilayah Kawasan Metropolitan Cirebon-Patimban-Kertajati dan sekitarnya
    Unduh garis tepi peta ini
    —
    Peta bahasa lain
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Tentang artikel
    Proyek pemetaan bahasa
    ProyekWiki Bahasa

    Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 658 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Cirebon[10][11][12] (dieja oleh penuturnya sebagai basa wong Cêrbon[b]) atau disebut juga sebagai Bahasa Jawa Cirebon[c] adalah bahasa yang dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama mulai daerah Pedes hingga Cilamaya Kulon dan Wetan di Kabupaten Karawang, Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, sebagian Ciasem, dan Compreng di Kabupaten Subang, Ligung, Jatitujuh, dan sebagian Sumberjaya, Dawuan, Kasokandel, Kertajati, Palasah, Jatiwangi,[1] Sukahaji, Sindang,[13] Leuwimunding, dan Sindangwangi di Kabupaten Majalengka sampai Kota dan kabupaten Cirebon (kecuali bagian tenggara dan selatan), serta bagian utara kecamatan Losari, Brebes[14] di Jawa Tengah yang penggunaanya bercampur dengan Bahasa Jawa Tegal. Bahasa Cirebon juga dipergunakan bersama bahasa Sunda Priangan di wilayah Surian, kabupaten Sumedang.[4]

    Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, bahasa Jawa Cirebon dituturkan oleh 3.086.721 jiwa penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas. Ia menduduki peringkat ke-11 bahasa yang paling banyak dituturkan oleh penduduk Indonesia setelah bahasa Jawa Baku (Surakarta-Yogyakarta), bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Melayu, Bahasa Jawa Banyumasan , bahasa Madura, Bahasa Batak, bahasa Minangkabau, bahasa Banjar, bahasa Bugis, bahasa Bali, dan bahasa Batak.[6] Pengembangan bahasa Cirebon dilakukan oleh Lembaga Basa lan Sastra Cirebon (LBSC).

    Pengaruh

    Bahasa Cirebon sebagian besar kosakatanya dipengaruhi oleh bahasa Jawa Pertengahan maupun kuno dan sedikit diwarnai Bahasa Sunda, yaitu sekitar 80% sehingga bahasa Cirebon disebut berasal dari Jawa kontemporer, kosakata serapan bahasa Jawa Klasik di antaranya adalah isun (saya) dan cemera (anjing)[15]

    Pada abad ke-15-17 M, bahasa Jawa Cirebon telah digunakan dalam tuturan warga pesisir utara Pulau Jawa bagian barat, di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten dan Kota Cirebon, yang saat itu merupakan salah satu pelabuhan utama di Pulau Jawa. Bahasa Jawa Cirebon dipengaruhi oleh bahasa Sunda karena keberadaannya yang berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda, khususnya kebudayaan Sunda di Kuningan dan di Majalengka, bahasa Cirebon juga menyerap kosakata dari bahasa-bahasa asal Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa. Contoh kosakata serapannya antara lain: taocang ('kuncir') dari bahasa Tionghoa, bakda ('setelah') dari bahasa Arab, dan sonder ('tanpa')[11] dari bahasa Belanda. Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa jawa seperti isun/kita (saya) dan sira (kamu) dalam bahasa sehari-hari.

    Pada masa Amangkurat II berkuasa di Mataram, bahasa Cirebon menurut Nurdin Noer tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh Bahasa Jawa Modern.[15] Pada masa itu kosakata dari bahasa Jawa Kuno maupun Pertengahan masih dipergunakan untuk percakapan sehari-hari masyarakat Cirebon.[15]

    Sastra Cirebonan merupakan bagian dari Sastra Pesisiran yang berkembang di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Beberapa ahli[siapa?] percaya bahwa Sastra Cirebonan dalam bentuk tulisan telah ada sejak zaman Hindu Awal, dan telah memengaruhi kebudayaan masyarakat di Jawa[butuh rujukan]. Sebagai pengaruh budaya Hindu, dapat ditemui dua macam karya Sastra Cirebonan, yang disebut tembang gedhé dan tembang tengahan. Setelah Cirebon menjadi pusat penyebaran agama Islam oleh walisanga sekitar abad ke-14-15 M, muncul tembang cilik, yang oleh kebanyakan orang disebut tembang macapat. Setelah beberapa hasil karya sastra telah selesai ditulis, banyak cerita sejarah atau legenda menyebar ke masyarakat melalui komunikasi (tatap muka).[16]

    Pada masa lalu, di kota Cirebon padatnya aktivitas pelabuhan menarik banyaknya urbanisasi kelompok masyarakat dari wilayah sekitarnya termasuk dari Indramayu, Losari dan Brebes yang notabene sebagiannya merupakan wilayah suku Sunda dan suku Jawa selain itu di sekitar pelabuhan Cirebon juga dapat ditemukan kelompok-kelompok masyarakat suku Bugis, suku Madura, pendatang China dan warga keturunan Arab yang pada akhirnya telah menjadikan wilayah ini beragam secara adat maupun bahasa, pada pola kehidupan di sekitar pelabuhan, bahasa Cirebon telah menjadi bahasa ater-ater (bahasa Indonesia: bahasa pengantar) pada pergaulan di berbagai kalangan masyarakatnya, bahkan ketika terjadi penurunan aktivitas pelabuhan Cirebon pada era modern dengan tidak lagi berhentinya kapal Pelni di pelabuhan Cirebon dan pelabuhan hanya dijadikan tempat bongkar batubara dari Kalimantan saja yang notabene menurunkan tingkat interaksi berbagai kelompok masyarakat yang ada, bahasa Cirebon tetap dan telah menjadi bahasa ater-ater yang dominan pada wilayah tersebut.[17]

    Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, bahasa Cirebon dituturkan oleh 3.086.721 jiwa penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas. Ia menduduki peringkat ke-11[6],[18] bahasa yang paling banyak dituturkan oleh penduduk Indonesia setelah bahasa Indonesia, bahasa Jawa umum, bahasa Sunda, bahasa Melayu, bahasa Madura, bahasa Minangkabau, bahasa Banjar, bahasa Bugis, bahasa Bali, dan bahasa Batak.[6] Pengembangan bahasa Jawa Cirebon dilakukan oleh Lembaga Basa lan Sastra Cirebon (LBSC).

    Proses penyebaran

    Bahasa Cirebon dalam proses penyebarannya ada yang melalui kegiatan belajar-mengajar di pesantren, hal tersebut dikarenakan pada masa lalu penyebaran agama Islam di wilayah Pasundan dipercaya dibawa dari wilayah kesultanan Cirebon sehingga untuk menghormati sejarah penyebaran Islam yang dibawa dari Cirebon inilah para ulama utamanya di wilayah Kuningan dan Majalengka ketika mengkaji ilmu agama selalu menggunakan bahasa Cirebon ketika menyampaikan arti dari makna kata (hafsahan) yang sedang diajarkan ketimbang bahasa Sunda[19]

    Pada proses penyebaran seperti yang terjadi di pesantren Darul Hikmah yang berlokasi di Tanjungkerta, kabupaten Sumedang. Pesantren yang didirikan pada tahun 1927 oleh kyai Nahrowi ini menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Cirebon (pada masa itu masih disebut sebagai bahasa Jawa Cirebon) sebagai bahasa pengantarnya,[20] hal tersebut dikarenakan pada masa lalu kyai Nahrowi pernah menjadi santri di Cirebon tepatnya di pesantren Babakan Ciwaringin, sehingga memengaruhi cara pengajaran ia yang menggunakan dua bahasa (bahasa Sunda dan bahasa Cirebon).[20]

    Proses penyebaran bahasa Cirebon lainnya adalah melalui jalur kesenian, berbagai kesenian seperti Reog cirebonan (sebuah bentuk kesenian yang dimainkan oleh empat orang pria yang membawa dogdog (kendang yang hanya ditutup satu sisinya) dan diisi oleh komedi atau lawak), Ogel (Reog cirebonan yang dimainkan oleh wanita), Longser (teater rakyat yang berisi tarian dan komedi dengan diiringi oleh gamelan), Gonjring (pertunjukan akrobat), wayang kulit dan wayang menak dipertunjukan dengan menggunakan bahasa Cirebon[21]

    Penyebaran bebasan Cirebon

    Pada masa DI/TII para anggotanya yang berasal dari Cirebon menggunakan bahasa Cirebon Bagongan yang biasa digunakan sehari-hari untuk membedakan mereka dengan penduduk Cirebon yang bukan anggota DI/TII, mengetahui kejadian ini seorang tokoh Cirebon berinisiatif untuk menyebarluaskan Bebasan Cirebon kepada masyarakat dengan tujuan tidak terjadi salah faham di masyarakat[15]

    Upaya perlindungan

    Proses perlindungan penggunaan bahasa Cirebon telah diupayakan sejak dahulu termasuk pada masa awal kemerdekaan. Pada kongres Jawa Barat yang ketiga, tepatnya di Kota Bandung tanggal 23 Februari 1948[22] (namun menurut Dayat Suryana dalam bukunya yang berjudul Provinsi-Provinsi di Indonesia, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 Februari 1948).[23] Salah satu perwakilan warga Jawa Barat dari suku Sunda yaitu bapak Soeria Kartalegawa yang juga ketua Partai Rakyat Pasundan (PRP) mengusulkan supaya pembicaraan dalam rapat badan perwakilan tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan mempergunakan bahasa Sunda, tetapi belakang usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakat Jawa Barat lainnya dari suku Cirebon yaitu bapak Soekardi, bapak Soekardi mencetuskan;

    “Djika dibolehkan berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang berhasrat memakai bahasa daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah Tjirebon.”[22]

    Klasifikasi

    Bahasa Cirebon sebagai sebuah dialek dari bahasa Jawa

    Penelitian menggunakan angket sebagai indikator pembanding kosakata anggota tubuh dan budaya dasar ("makan", "minum", dan sebagainya) berlandaskan metode Guiter menunjukkan perbedaan kosakata Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa Tegal sekitar 25%, Perbedaan Bahasa Jawa Cirebon dengan Bahasa Jawa (Baku) Surakarta-Yogyakarta mencapai 40%, sementara perbedaannya dengan dialek di Jawa Timur mencapai 45%.[24][25] Untuk diakui sebagai sebuah bahasa tersendiri, suatu bahasa setidaknya membutuhkan sekitar 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[24][25]

    Meski kajian linguistik sampai saat ini menyatakan bahasa Cirebon ”hanyalah” dialek (karena penelitian Guiter mengatakan harus berbeda sebanyak 80% dari bahasa terdekatnya), tetapi sampai saat ini Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 masih tetap mengakui Cirebon sebagai bahasa dan bukan sebagai sebuah dialek. Dengan kata lain, belum ada revisi terhadap Perda tersebut. Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung, Muh. Abdul Khak, hal itu sah-sah saja karena Perda adalah kajian politik.[26] Dalam dunia kebahasaan menurutnya, satu bahasa bisa diakui atas dasar tiga hal. Pertama, bahasa atas dasar pengakuan oleh penuturnya; kedua, atas dasar politik; dan ketiga, atas dasar linguistik.

    Bahasa atas dasar politik, contoh lainnya bisa dilihat dari sejarah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang sebenarnya berakar dari Bahasa Melayu, seharusnya dinamakan bahasa Melayu dialek Indonesia. Namun, atas dasar kepentingan politik, akhirnya bahasa Melayu yang berkembang di negara Indonesia –oleh pemerintah Indonesia– dinamakan dan diklaim sebagai bahasa Indonesia. Selain alasan politik, pengakuan Cirebon sebagai bahasa juga bisa ditinjau dari batasan wilayah geografis dalam perda itu. Abdul Khak mengatakan, Cirebon disebut sebagai dialek jika dilihat secara nasional dengan melibatkan bahasa Jawa.

    Artinya, ketika Perda dibuat hanya dalam lingkup wilayah Jabar, Cirebon tidak memiliki pembanding kuat yaitu bahasa Jawa. Apalagi, dibandingkan dengan bahasa Melayu Betawi dan Sunda, Cirebon memang berbeda.[26]

    Bahasa Cirebon sebagai bahasa mandiri

    Cacarakan Cirebon yang bersandingan dengan Rikasara Cirebon

    Revisi Perda, sebenarnya memungkinkan dengan berbagai argumen linguistik. Namun, kepentingan terbesar yang dipertimbangkan dari sisi politik bisa jadi adalah penutur bahasa Cirebon, yang tidak mau disebut orang Jawa maupun orang Sunda.[26][27] Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon Nurdin M. Noer mengatakan, bahasa Cirebon adalah persilangan bahasa Jawa dan Sunda. Meskipun dalam percakapan orang Cirebon masih bisa memahami sebagian bahasa Jawa, dia mengatakan kosakata bahasa Cirebon terus berkembang tidak hanya ”mengandalkan” kosakata dari bahasa Jawa maupun Sunda.

    ”Selain itu, bahasa Cirebon sudah punya banyak dialek. Contohnya saja dialek Plered, Jaware, dan Dermayon,” ujarnya.

    Pakar Linguistik Chaedar Al Wasilah pun menilai, dengan melihat kondisi penutur yang demikian kuat, revisi tidak harus dilakukan. justru yang perlu dilakukan adalah melindungi bahasa Cirebon dari kepunahan.[26]

    Observasi Penutur

    Pada masa lalu bahasa Cirebon sering disebut sebagai bahasa hanya bahasa Jawa di mana menurut Ayatrohaedi hal tersebut merupakan sebuah kesalahan dikarenakan dalam observasinya karena Bahasa Jawa Cirebon termasuk Dialek Jawa Kulonan yang berkerabat dengan Bahasa Jawa Serang, Banyumas dan Tegal , ketika dua orang Cirebon sedang berbicara, kawannya yang merupakan orang Jawa dari wilayah wetanan hanya terbengong karena tidak memahami apa yang sedang dikatakan[28]

    Pada sebuah observasi yang dilakukan oleh Idik Saeful Bahri dengan menyandingkan penutur bahasa Cirebon dengan penutur bahasa Jawa Standar dari Yogyakarta di mana keduanya diperkenankan untuk berbicara dengan bahasa daerahnya masing-masing ditemukan fakta bahwa keduanya tidak banyak memahami tentang apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicaranya dan percakapan yang sedang dilakukan menjadi tidak jelas[19] Seharusnya hal ini dilakukan ke sesama penutur dialek Jawa Kulonan lainya seperti Jawa Serang, Banyumas maupun Tegal yang lebih memliki kedekatan dengan Dialek Cirebon dibandingkan dengan Bahasa Jawa Baku.

    Pendekatan Lauder dalam dialektometri

    Pada penelitian model Guiter saja yang mengharuskan perbedaan antar kedua subjek bahasa sebesar 80%, tetapi jika menggunakan pendekatan Lauder, pendekatan ini mengkritisi jumlah persentase yang diajukan guiter yaitu sebesar 80% karena menurut Lauder, cukup 70% saja dalam kajian dialektometri bagi sesuatu untuk dikatakan sebagai "bahasa" yang Mandiri.[29]

    Lauder, sudah menggunakan metode yang lazim dan umum dilakukan dalam kajian dialektologi terhadap bahasa-bahasa di Indonesia, yaitu metode dialektometri, hanya yang menarik dari pandangannya itu ialah usulannya tentang modifikasi kategori persentase perbedaan unsur kebahasaan untuk menyebutkan suatu isolek sebagai bahasa atau dialek yang diajukan oleh Guiter, Guiter menitik beratkan perbedaan kebahasaan harus sekitar 80%.[30][31] Menurutnya, persentase untuk dianggap beberapa isolek sebagai bahasa yang berbeda, jika perbedaannya di atas 80% terlalu tinggi untuk bahasa-bahasa di Indonesia. Karena kategori kajian guiter itu dibangun di atas data bahasa-bahasa Barat (eropa dan sejenisnya), karena itu perlu dimodifikasi. Kenyatan lain, menurutnya, di mana perbedaan kosakata antara Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa Surakarta-Yogyakarta adalah 40-45 % yang dalam pendekatan Lauder 70% dianggap sempurna menjadi bahasa mandiri, dalam hal ini Bahasa Cirebon tetap belum mampu untuk digolongkan sebagai Bahasa tersendiri [29]

    Aksara

    Ada usulan agar artikel ini dipisahkan menjadi artikel yang berjudul Rikasara Cirebon. (Diskusikan)

    Bahasa Cirebon dalam perjalanannya menggunakan aksara yang dikenal dengan nama Rikasara, Carakan Cirebon, aksara Arab Pegon serta aksara Jawi.[32] Aksara Carakan Cirebon sendiri merupakan aksara Carakan yang terpengaruh Carakam Jawa, hal ini dapat terlihat dari surat yang ditulis oleh Sultan Sepuh Djoharuddin dalam menyambut kedatangan Raffles di Cirebon. Sementara Rikasara Cirebon[33] merupakan jenis aksara yang digunakan sebelum tahun 1650-an (abad 17) di mana para ahli berpendapat bahwa Rikasara tersebut memiliki keterkaitan dengan aksara Palawa.

    Aksara Rikasara Cirebon

    Rikasara Cirebon yang oleh para ahli dikatakan memiliki keterkaitan dengan aksara Palawa[33] memiliki tiga cara penulisan dan beberapa gaya tulis (Samengan)

    • Sasandisara (cara menulis rahasia), tujuan cara penulisan ini adalah agar tulisannya tidak bisa diketahui oleh khalayak ramai, contoh cara penulisan ini dapat ditemui pada surat yang dibawa ke Banten untuk membantu pangeran Hasanuddin
    • Angarasara (cara menulis umum), cara penulisan yang biasa dilakukan oleh para Ajengan (kyai atau orang terhormat) dan bersifat umum (tidak rahasia) sehingga bisa dibaca oleh siapa saja, pada Angarasara gaya tulis atau Samengan secara garis besar dibagi menjadi beberapa yaitu, Kawatu, Layus dan Halif
    • Bandasara (cara menulis rahasia dengan membalutnya dengan doa), tujuan penulisan ini sebenarnya sama dengan Sasandisara yaitu untuk hal-hal yang bersifat rahasia, hanya saja karena dibalut dengan doa pembawanya tidak sadar kalau dia sedang membawa surat penting, contohnya adalah surat yang dibawa oleh Anom Talibrata, banyak syarat-syarat yang dibalut dengan pembacaan ayat suci al-qur'an ketika membuat tulisan dengan cara Bandasara, rumitnya Polah Hikmah (aturan-aturan hikmah) yang diterapkan dalam penulisan Bandasara membuat tidak sembaragan orang dipercaya untuk menuliskannya.
    • Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten CirebonAlih aksara dan bahasa oleh Dodie Yulianto (filolog Cirebon), koreksi oleh Guntur Samudra (masyarakat Gamel)Mar(a) Hadi Ngawas (dekati dengan pengawasan sungguh)angmung ngewalen... (hanya mengerjakan walen (bahasa Indonesia: atap))1625 Jawa = 1113 Hijriah = 1701 Masehi
      Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon
      Alih aksara dan bahasa oleh Dodie Yulianto (filolog Cirebon), koreksi oleh Guntur Samudra (masyarakat Gamel)
      Mar(a) Hadi Ngawas (dekati dengan pengawasan sungguh)
      angmung ngewalen... (hanya mengerjakan walen (bahasa Indonesia: atap))
      1625 Jawa = 1113 Hijriah = 1701 Masehi
    • Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten CirebonAlih aksara oleh Guntur Samudra (Gamel)Dina Ahad Jumadil ahir (pada hari minggu bulan Jumadil Akhir)Tahun Jem Akir // 82 \\ (tahun Jim Akhir 28)
      Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon
      Alih aksara oleh Guntur Samudra (Gamel)
      Dina Ahad Jumadil ahir (pada hari minggu bulan Jumadil Akhir)
      Tahun Jem Akir // 82 \\ (tahun Jim Akhir 28)
    • Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten CirebonPapan 2a-1 (sebelah kiri)Bengiye MadepisPapan 2a (kiri dan kanan bagian atas) Bengiye Madepis Adinata WalenPada Malam Hari menemui masyarakat (sultan) menjelaskan cara Menata (membuat) Atap
      Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon
      Papan 2a-1 (sebelah kiri)
      Bengiye Madepis
      Papan 2a (kiri dan kanan bagian atas) Bengiye Madepis Adinata Walen
      Pada Malam Hari menemui masyarakat (sultan) menjelaskan cara Menata (membuat) Atap
    • Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten CirebonPapan 2a (sebelah kanan)Adinata Walen
      Rikasara Cirebon pada Masjid Nur Karomah (sir budi rahsa), desa Gamel, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon
      Papan 2a (sebelah kanan)
      Adinata Walen

    Carakan Cirebon

    Pasal 1 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia, ditulis dengan Carakan Cirebon gaya Djoharuddin (Carakan Cirebon gaya Djoharuddin adalah gaya Carakan Cirebon yang digunakan di kesultanan Kasepuhan pada masa Sultan Sepuh Djoharuddin sekitar tahun 1800-an)

    Carakan Cirebon mencapai masa keemasannya pada periodisasi sastra sekitar abad ke-16 (tahun 1500-an). Kala itu sastra pesisiran berkembang pesat, seiring berpindahnya kekuasaan politik dari Majapahit ke kesultanan-kesultanan Muslim seperti Cirebon dan Demak pasca banyaknya ningrat-ningrat, sastrawan dan seniman Majapahit yang menyingkir ke Bali. Sastra Pesisiran yang berkembang pada periodisasi keemasan tersebut berusaha membalutkan nilai-nilai keislaman dengan elemen-elemen kuno dari kebudayaan Majapahit[34] Sastra Pesisiran yang turut membawa carakan Cirebon pada masa keemasannya dimulai ketika pengaruh Islam mulai memasuki pulau Jawa termasuk di wilayah Kesultanan Cirebon. ada setidaknya tiga pusat utama perkembangan sastra pesisiran yaitu di Gresik, Demak dan di wilayah kesultanan Cirebon yang meliputi Cirebon hingga Banten pada masa itu. Berbeda dengan Demak yang pada masa itu menjadi rujukan bagi daerah pedalaman sekitarnya yang mayoritas dihuni oleh suku Jawa(cikal bakal daerah Mataram), perkembangan Carakan dan sastra pesisiran di wilayah kesultanan Cirebon tidak sehomogen dengan apa yang terjadi di Demak, heterogenitas antara pesisir Cirebon yang multi-etnis ditambah dengan pedalaman Cirebon yang juga dihuni oleh suku Sunda yang berbeda bahasa dan pola tulisan membuat Carakan dan sastra Cirebon mengakomodir pola-pola ucap dan kebiasaan-kebiasaan sastra dari wilayah sekitarnya sehingga menyebabkan teks-teks sastra yang berasal dari wilayah kesultanan Cirebon walau ditulis dengan pola aksara carakan yang tidak jauh berbeda (Cirebon menerapkan pola aksara carakan dengan gaya satu tembok sementara Jawa menerapkan pola carakan dengan gaya dua tembok) tetapi teks-teks tersebut tidak dimengerti oleh pembaca dari wilayah Jawa bagian tengah.[34]

    Carakan Cirebon menurut TD Sudjana pada awalnya berasal dari Pallawa yang menyebar di Nusantara, para aristokrat yang menggunakan Pallawa sebagai aksara ini kemudian mengembangkan pola-pola aksara di wilayah yang diperintahnya, dan kemudian menjadi aksara daerahnya masing seperti aksara Carakan Jawa, Sunda dan Aksara Carakan Cirebon, oleh karena itu Carakan Cirebon oleh budayawan Cirebon TD Sudjana dikiaskan sebagai sesuatu hal yang memiliki makna budi luhur sebagai penunjang tegaknya akhlak bangsa dan kepribadian bangsa.[34]

    Aksara Sunda Kuno

    Aksara Sunda Kuno pernah dipakai untuk menuliskan bahasa Cirebon yang pada saat itu digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda.[8] Hal ini dapat dilihat pada penggunaannya dalam beberapa naskah di bawah ini;

    Hilangnya aksara Sunda dan Rikasara Cirebon

    Pada tanggal 3 November 1705, Belanda mengeluarkan sebuah surat ketetapan agar digunakan aksara carakan Jawa sebagai aksara tulis, ketetapan ini menurut sebagian peneliti dikarenakan berkurangnya penggunaan aksara Sunda pada masyarakat setempat.[35] Pada wilayah kesultanan-kesultanan Cirebon surat ketetapan Belanda resmi berlaku setelah dikeluarkannya surat yang meratifikasi ketetapan Belanda tersebut oleh para penguasa Cirebon pada 9 Februari 1706,[35] secara perlahan aksara Sunda dan juga Rikasara Cirebon digantikan oleh carakan Jawa, dalam sebuah naskah dari desa adat Gamel-Sarabahu di Cirebon dijelaskan bahwa hilangnya Rikasara Cirebon secara berangsur-angsur setelah dikeluarkannya surat ratifikasi kesultanan-kesultanan di Cirebon menemui titik puncaknya yang waktunya bertepatan dengan dikaburkannya sejarah Cirebon oleh Belanda yang dalam naskah peristiwa itu disebut

    "... Kalpariksa jatining cirebon, Lebon pepeteng ... 8461//22//09"

    [36]

    Kosakata

    .
    Peta sebaran bahasa Cirebon (pada masa tersebut masih disebut sebagai Cheribonsch Javansch) pada tahun 1905 menunjukan penggunaan bahasa Cirebon meluas hingga ke timur pulau Jawa.
    Pada peta diatas terlihat bahwa wilayah utara Banten (kode angka 1) dimasukan sepenuhnya kedalam wilayah sebaran bahasa Cirebon sementara wilayah Indramayu (kode angka 3) dijelaskan sebagai wilayah yang diapit oleh bahasa Sunda dan bahasa Cirebon.

    Pada tahun 1869, hasil penelitian yang dilakukan oleh Karel Frederik Holle seorang pemerhati budaya dan sastra[37] yang dikemudian hari diangkat menjadi seorang penasihat (Honorary Advisor for Domestic Affair) untuk pemerintahan Hindia Belanda diterbitkan dengan pengawasan redaktural oleh W. Stortenbeker (doktoral di bidang ilmu hukum dan sastra) dan J.J Van Limburg Brouwer (doktoral di bidang ilmu filsafat)[38] dalam penelitian tersebut Karel Frederik Holle menjelaskan tentang sebuah babad yang berasal dari sekitar tahun 1788 - 1820 yang diperoleh dari bupati Sumedang, babad tersebut dijelaskan diperoleh oleh bupati Sumedang dari seorang Pangeran Cirebon. Babad kemudian berhasil diterjemahkan, dalam penelitiannya tersebut ia menjelaskan bahwa kosakata dalam babad tersebut ditulis dengan bahasa Cirebon atau yang pada masa itu disebut sebagai Cheribonsch Javansch[38]

    Sebagian besar kosakata asli dari bahasa Cirebon memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik, memang bahasa Cirebon yang dipergunakan di Cirebon dengan di Indramayu itu meskipun oleh sebagian orang dikatakan sebagai bagian dari bahasa Jawa namun mempunyai perbedaan dengan “bahasa Jawa baku”, yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah yang berpegang kepada bahasa Jawa Solo. Dengan demikian, sebelum 1970-an, buku-buku pelajaran dari Solo tak dapat digunakan karena terlalu sukar bagi para murid (dan mungkin juga gurunya). Oleh karena itu, pada 1970-an, buku pelajaran itu diganti dengan buku pelajaran bahasa Sunda yang dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Cirebon (pada era tahun 1970-an masih disebut sebagai bahasa Jawa dialek Cirebon).[39]

    Bahasa Jawa Kuno

    Bahasa Jawa Pertengahan dan Kuno[40] dipergunakan pada naskah naskah kuno yang ada di Cirebon dan sekitarnya, bahasa ini masih bisa dijumpai pada teks teks di periode awal terbaginya kesultanan Cirebon menjadi dua kesultanan atau sekitar pada tahun 1600-an, menurut Elang (bahasa Indonesia: pangeran) Yusuf Dendabrata salah satu kosakata yang berasal dari bahasa Jawa Kuno adalah pelem (bahasa Indonesia: mangga). Pada budaya Cirebon sejak zaman dahulu, mangga merupakan manifestasi dari konsep gelem (hasrat/kemauan) dan mangga Cengkir adalah proyeksi dari konsep gelem kencenge pikir (bahasa Indonesia: mau kritis berfikir) di mana buah mangga Cengkir digantungkan pada lunjuk tempat penyiraman pada prosesi Siram Tawandari di ritual pernikahan adat Cirebon.

    Berikut adalah kutipan bahasa Cirebon Kuno yang ditulis pada pustaka Negara Kertabumi[41]

    mejahhi / pratibandḍa / hurip lobha / magawé kadustan mwang pāpakarma // haywa ta sirā nginum panamadya / athawékang magawé marganing patinta / suçīlā ta sira // haywa ta sira dumadi wira mati / mwang lumūda çatrewanung wus pinaribhawa / umangnacpati / yadyapin ya çatrusang salah warak samaken mwang inupaçra yan dénnira // haywa ta sira tuhagamana ring dharmmanya yéku agaméslam lawan kuran ikang wéda ning janapada sakala bhuwana / dwājilulloh dé nira kudu mapageh dé nyānggé gwa ninya // nityasa ta sira mangastung kara ring hyang tunggal

    bunuh, bertentangan, hidup tamak, berbuat dusta serta berbuat nista. Janganlah engkau minum minuman yang memabukkan, atau yang menciptakan jalan kematianmu, sopan santunlah engkau, janganlah engkau menjadi wiramati. Dan menyerang lagi perkataan yang telah menghina, menyalahkan diri sendiri ke dalam kematian, meskipun musuh yang salah maafkanlah dan berilah pertolongan padanya. Janganlah ia terus-menerus melakukan perbuatannya itu. Agama Islam dan Qur’an itu pengetahuan untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia, dua kalimat Syahadat harus kau genggam erat dan pakailah (laksanakanlah) ia senantiasalah engkau berdoa kepada Tuhan yang Esa.

    Angka dan kuantitas

    Pada tahun 1926, hasil penelitian J N Smith (asisten residen Cirebon) diterbitkan, selain menjelaskan tentang ragam bahasa Cirebon dan perbedaanya dengan bahasa Jawa Baku yang terdapat di wilayah Surakarta ia juga menjelaskan mengenai kosakata yang berkenaan dengan angka dan kuantitas,[42] seperti .

    Bahasa Cirebon Bahasa Indonesia
    Sambang Seribu
    Sareal Dua Rupiah
    Saripis Satu
    Suku Setengah
    Seteng Tiga setengah Sen
    Telung Wang Dua belas setengah Sen
    Sabaru Delapan setengah Sen
    Rong Baru Tujuh belas Sen
    Telung Baru Satu tali
    Lima las Baru Satu rupiah satu tali
    Sapinda Setengah
    Kalipinda Dua setengah
    Sagantang 10 kati
    Sakocel 5 kati

    Kata Ganti (Purusa)

    Kata Ganti Orang Pertama (Utama Purusa)

    • Sun (artinya Saya, jika ditambahkan awalan "re/ra" menjadi "resun" maka artinya "saya adalah orang yang terhormat")
    • Isun (artinya Saya, jika kata isun bertemu dengan kata kerja maka "isun" berubah menjadi "tak' atau "tek")
    • Ngwang (artinya Saya, jika ditambahkan kata "sang" menjadi "sangwang" maka maknanya menjadi lebih terhormat dari kata "ngwang")
    • Pwanghulun (artinya Saya adalah seorang Hamba)
    • Nghulun (artinya Saya adalah seorang Hamba, jika ditambahkan kata "Pinaka" menjadi "Pinaka nghulun" maka artinya "diperhamba" dan jika ditambahkan kata "sang" menjadi "sanghulun" maka maknanya menjadi terhormat daripada "nghulun")
    • Pinun (artinya Saya adalah milik Tuan)
    • Manehta (artinya Saya adalah hamba tuanku, khusus digunakan untuk perempuan)
    • Bujangga Mpu (artinya Saya adalah orang yang terpelajar dan alim, biasa digunakan oleh kaum agamawan)

    Kata Ganti Orang Kedua (Madyatama Purusa)

    • Ko (artinya Anda)
    • Twa / Ta (artinya Anda)
    • Kamu (artinya Anda, bisa digunakan untuk menyatakan lebih dari satu orang)
    • Kita (artinya Anda atau Tuan. Kata ini lebih terhormat dibandingkan "Ko","Twa/Ta","Kamu")
    • Ngcarira (artinya Anda (secara umum), kata ini lebih terhormat dibandingkan "Ko","Twa/Ta","Kamu")
    • Sira (artinya Anda, tetapi penggunaan kata ini ditujukan pada Sultan untuk Bawahan atau Pejabat untuk Bawahan yang makna tingkatannya lebih rendah)
    • Kanyu (artinya Anda, kata ini setara dengan "Ko")
    • Rahadyan Sanghulun (artinya anda adalah tuanku, dipergunakan oleh Pekerja kepada Majikannya)

    Kata Ganti Orang Ketiga (Pratama Purusa)

    • Ya (artinya Dia)
    • Sira (artinya Dia, jika ditambahkan kata "hana" menjadi "hana sira" yang artinya "ada seseorang")
    • Rasiki (artinya Dia)

    Kata Ganti Milik (Empunya)

    Kata Ganti Milik Orang Pertama

    • Ku atau Ngku (artinya milik -ku)
    • Mami (artinya milik -kami)
    • i ngwang (artinya milik -ngwang)
    • i nghulun (artinya milik -nghulun)
    • i sanghulun (artinya milik -sanghulun)
    • Pinaka hulun (artinya milik -pinaka hulun)
    • Bujangga Mpu (artinya milik -bujangga mpu)→

    Kata Ganti Milik Orang Kedua

    • Mu (artinya milik -kamu)
    • Nta / Ta (artinya milik -kita)
    • Nyu (artinya milik -kanyu)
    • Rahadian Sanghulun (artinya milik -rahadian sanghulun)

    Kata Ganti Milik Orang Ketiga

    • Nya (artinya milik -ya)
    • Nira / ira (artinya milik -sira)
    • Rasika (artinya milik -rasiki)

    Perbandingan bahasa Cirebon Bagongan (bahasa rakyat)

    Berikut merupakan perbandingan antara bahasa Jawa Cirebon dengan Dialek lainnya yang dianggap serumpun, yaitu bahasa Jawa Banten,[43] Bahasa Jawa dialek Dermayon, dialek Tegal dan Pemalangan serta Bahasa Jawa Baku (dialek Surakarta - Yogyakarta) dalam level Bagongan atau Bahasa Rakyat.

    Banten Utara Cirebon[7] Bahasa Cirebon - Dermayu (Dermayon) Banyumasan Tegal, Brebes Pemalang Solo/Jogja Kediri - Madiun Surabaya - Malang (arekan) Sunda Priangan Indonesia
    Ateng Adi / kacung Adi Adi Adi Adi Adhi Adek Adek Dede Adik Laki-laki
    Nong Nok / Nonok Denok / Senok Mbekayu Senok Gendhuk Genduk Níng, Yuk Enèng Adik Perempuan
    kita kita/isun/Kito kita/reang/isun/nyong (Subang) inyong/nyong inyong/nyong nyong aku aku, awakku aku, reang/esun (Gresik) urang aku/saya
    sire sira/siro sira/dika/ko (Subang) rika/ko/kowe kowen koe kowé awakmu, kowé koen, riko, peno maneh kamu
    pisan pisan/men nemen/temên/pisan pisan/temên nemen/temen/pisan nemen/temen/teo tenan tenan temèn pisan sangat
    kepremen/kelemen priben kepriben/kepriwen/priben kepriwe/priwe kepriben/primen/pimen keprimen/kepriben/primen/prime/priben/pribe piyé/kepiyé gek piyé, piyé ya'opo kumaha bagaimana
    ore ora/beli ora/belih ora ora/belih ora ora ora, ogak gak henteu tidak
    manjing manjing manjing/mlebu mlebu manjing/mlebu manjing/mlebu mlebu mlebu (masuk ruangan) , manjing (masuk kerja) mlebu asup masuk
    arep arep/pan arep/arepan arep pan pan/pen/ape/pak arep arepan, arep, arepe katene, apene arek akan
    sing sing sing sêkang sing kadi/kading såkå tekå tekå ti dari
    kelambi Kelambi kelambi Kelambi Kelambi Kelambi Klambi Klambi Klambi Acuk Pakaian
    Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Kulon Barat
    Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Tuku Meuli Beli
    Durung Durung Durung Durung, Urung Durung Durung Durung Durung, Urung Durung, Gurung Acan Belum
    Kependak Ketemu Ketemu/Kepethuk Ketemu Ketemu Ketemu Kepetuk/Ketemu Petukan Ketemu Kapendak Bertemu
    Bise Bisa Bisa Bisa/Teyeng Bisa Bisa Bisa Bisa Isa Tiasa/Bisa Bisa
    Lan Lan/karo/maninge Lan Lan Lan Lan Lan Lan Lan Jeung Dan
    Teke Teka Teka Teka, Gutul Teka, Anjog Teka Teka Teka Totog, Teka Dongkap Datang
    Karo Karo Karo Karo Karo Karo Karo Karo ambik Sareng Dengan
    Entek Entok / Kasepan Entok / Entek Entong / Entek Enténg Entek/Enténg Entek Entek Entek Séép Habis (* kasepan = kehabisan barang karena terlambat datang)

    Perbandingan bahasa Cirebon Bebasan (bahasa halus)

    Berikut ini adalah perbandingan antara bebasan (Bahasa Halus) Cirebon, bebasan Dermayonan, bebasan Pemalangan, dengan bebasan Banten[43]

    Banten Utara Cirebonan[11] Bahasa Cirebon - Dermayu (Dermayon) Pemalangan/Tegalan Sunda Priangan Indonesia
    Loma Hormat
    Kasih Jeneng/wasta/nami/asmi Jeneng/wasta/nami/asmi Jeneng/nami/asmi Ngaran Nami, Wasta, Kakasih Nama
    Boten Boten Boten Mboten Henteu, Teu Henteu, Teu Tidak
    Teteh Rara / Yayu Yayu mbokayu Tétéh Aceuk Kakak perempuan (mbak)
    Koh/iku/puniku Puniku Puniku Puniku/niku Éta Éta Itu
    Kepetuk Kepanggih Kepanggih Kepanggih Papanggih Pependak Ketemu
    Iki Niki Niki Niki Ieu Ieu Ini
    nggih Inggih Inggih/nggih Inggih/nggih Enya, Heueuh Muhun, Sumuhun Ya
    Ugi Ugi Ugi Ugi Ogé Ogé Juga
    Kelipun Punapa Punapa Punåpå Naha Naha Kenapa
    Hampura Hampura / Ampura Ngampura Ngapunten, Ngapura Hampura Hapunten Maaf
    Sege Sekul Sekul Sekul Kéjo Sangu Nasi
    Linggar Kesah Kesah Tindak/kesah Indit Mios, Angkat, Jengkar Pergi
    Darbe Gadah Gadah Gadah Boga Gaduh Punya
    Seniki Seniki Seniki Seniki Ayeuna, Kiwari Danget ieu Sekarang
    Matur nuhun Matur kesuwun/kesuwun Matur kesuwun Matur nuwun Nuhun Hatur nuhun Terima kasih
    Ayun ning pundi Bade teng pundi Bade pundi / Bade teng pundi Bade teng pundi / Ajeng teng pundi Arék ka mana Badé ka mana Mau ke mana?
    Pasar Peken Peken Peken Pasar Pasar Pasar
    Salah Sawon Sawon Salah, Awon Salah Lepat Salah
    Kule Kula / Ingsun Kula Kulå Kuring Abdi Saya
    Uning Uning / Ertos (ngertos) Ngartos/Sumerep Ngertos/Sumerep Nyaho Terang, Uninga Tahu
    Bangkit Saged Saged Saged Bisa Iasa, Yasa, Tiasa Bisa
    Napik Sampun/mpun Ampun Ampun Ulah, Tong Teu Kénging Jangan
    Sampean Sampean / Panjenengan Sampeyan / Panjenengan Panjenengan Anjeun Salira, Hidep Anda
    Cepe Cape Cape Cape Ceuk Saur Kata
    Gelem Bade Bade Bade Daék Purun, Kersa Mau
    Sare Kulem / Sare / Tilem Sare / Tilem Sare/Tilem Héés, Saré Mondok, Kulem Tidur
    Mantuk Wangsul Wangsul/Mantuk Wangsul/Mantuk Balik Wangsul, Mulih Pulang
    Saus Mawon Mawon Mawon Waé/Baé Waé/Baé Saja
    Wau Wau Wau Wau Tadi, Bieu Tadi, Nembé Tadi
    Maler Maksih Masih Taksih/Tesih Kénéh Kénéh Masih

    Kamus Bahasa Indonesia - Cirebon

    Berikut adalah Kamus yang berisi kosakata bahasa Cirebon Bagongan, Bahasa Cirebon Bebasan dengan Bahasa Dermayon Ngoko (Indramayu) dan Bahasa Dermayon Krama (Indramayu) (Masyarakat Indramayu menyebut Bahasa Bagongan dengan sebutan Bagongan atau Ngoko dan Bebasan dengan sebutan Krama atau Besiken[44]) serta terjemahannya dalam Bahasa Indonesia

    U

    Cirebon Bagongan Cirebon Bebasan Dermayon Bagongan / Ngoko[45] Dermayon Krama / Besiken[45] Bahasa Indonesia Penjelasan
    Abad ? Abad Lestantum Abad
    Abang Abrit Abang Abrit Merah
    Abot ? Abot Awrat Berat
    Adi Adik (Secara Umum Laki-Laki dan Perempuan)
    Enang Ayi Senang / Dimas Rayi Adik (Laki-Laki)
    ? ? De'nok Diayu Adik (Perempuan
    Adoh Tebih Adoh Tebih Jauh
    Adol Sadean Adol Sadean Dagang
    Adu Aben Adu Aben Adu
    AdusSiramAdusSiramMandi
    Adhem?AdhemAsrepSejuk
    AgamaAgamiAgamaAgamiAgama
    ?AjaSampunJangan(Sampun teng Riku! = "Jangan di situ!"
    AkehKatahAkehKatahBanyak
    KakangRakaKakang / Kang MasRakaKakak Laki-Laki
    AkiKiPak de/ Bapa tuaBapa DeKakek
    AkuAkênNgakuNgakênAku (Mengaku)ngaken (mengaku)
    Alas / LuwungWanaAlasWanaHutan
    Alih?AlihngalihPindah(Ingsun sampun ngalih teng Kuningan = Saya sudah pindah ke Kuningan)
    KenangAmargiKenang/AmergaAmergiAkibat(amargi ingsun mboten uning kepripun pakemipun basa Bebasan Cirebon ingkang leres = akibatnya saya tidak tahu bagaimana peraturan bahasa Bebasan Cirebon yang benar)
    Aig / AgeAglisCepet / Gage / GagianEnggalSegera
    AmbaWiwirAmbaWiyarLuas
    AmbirSupadonBen / AmbisanAmbisanBiar
    Amit /Permisi?AmitNuwun Sewu /nyuwun SewuPermisi
    AnaWentenAnaWontenAda
    AngelSusahAngelSesahaSusah
    AngonAngenAngonAngenGembalaNgangon Kebo (Menggembala Kerbau)
    Angot?KumatKimatKambuh
    AntaraneAntawiseAntaraneAntawiseAntaranya
    ApaPunapaApaPunapaApa
    ApikSaeApikSaeBaik
    AranAsmiAran / JenengNami / Asmi / AsmaNama
    ArepAjengArepAjeng / LajengAkan
    Arep mendhiBade pundiArep ngêndhi / arep ngendhiBade pundi / Lajeng têng PundhiMau ke mana?
    Asli?AsliSesupeAsli
    Asu?AsuSegawonAnjing
    AtiManahAtiManahHati
    AturanPakemPakemAturan
    AwanSiyangAwanRina / SiangSiang
    AwakSelira / BadanAwakSelira / BadanBadan
    AyamSawungAyamSawungAyam
    BaeMawonBaeMawonSaja
    BagenSanggineBagenKêrsanipunBiarkan
    BagusSaeBagus/ApikSaeBagus
    BakaMenawiYen/BakaMenawaKalau
    BalikWangsulBalikWangsulPulang
    BanyuToyaBanyuToyaAir
    BapakRamaBapakRamaBapak
    BaturRencangKancaRencangKawan
    BanyuToyaBanyuToyaAir
    BariKaliyanBari/BarengSesarengan/KaliyanBersama
    Bawi?CelengAndhapanBabi
    Bebek?BebekKambanganBebek
    BelahPalihBelahPalihSepalih (sebelah)jambalang
    Beli / OrabotenBelih/OraMbotenTidak
    BênêrLêrêsBênêrLêrêsBenar
    Bendrongan?Main Musik(Main Musik Dengan Alat Seadanya disebut "Bendrongan"
    BêngênRumiyenBêngênRumiyin / SengenDahulu
    BêngiDaluBêngiDaluMalam
    BerasUwosBerasUwosBeras
    Bobad?BobadBohong
    Bocah / AnakLareAnakLareAnak
    Bokat?BecikTakut / Barangkali"aja ning ngerep nok..!!, bokat ketendang!" (jangan di depan nak!! (perempuan), Takut tertendang!)

    "isun arep ngulur batur-batur nang alun-alun, bokat bae ana mengkana" (saya hendak mencari anak-anak di alun-alun, barangkali saja ada di sana)

    Bonggan?Awas!Digunakan ketika kesal pada sesuatu atau Menantang
    BrêsiRêsikBersihRêsikBersih
    BubarBibarBubarBibarBubar
    Bulit?Licik?Curang
    BuriWingkingBuri / GuriWingkingBelakangNang Buri, Teng Wingking (Di Belakang)
    Buru-BuruKêsusuBuru-BuruBujêng-bujêngTergesa-gesa
    BuwangBucalBuwangBucalBuang / Melemparkan
    CangkêmLêsanCangkêm / TutukLêsanMulut
    ??CaosSebaMenghadap / Menemui
    Carita?CritaCriosCerita
    Cêg?CêkêlNgastaCêgcêgan (Pegangan)
    CilikAlitCilikAlitKecil
    CobaCobiCobaCobiCoba
    Cungur / Irung?IrungGranaHidung
    CukurParasCukurParasCukur
    DadiDadosDadiDadosJadi
    DagangSadeanDagangSadeanDagang
    DakeGadahDekeGadahPunya (Dapat)
    DalanDêrmagiDalanMargaJalan
    Dandan?DandanDandosBerhias
    Dawuk?Dewasa
    DêlêngNingaliDêlêngNingali / MirsaniMelihat
    DhadhaJajaDhadhaJajaDada
    DamarPandhêmDamarPandamLampu
    DêmênTresnaDêmênTresnaCinta
    Dêmplon?Seksi
    Dêngkul / Tur?DêngkulJengkuLutut
    DewekDewekPiyambêkSendiri
    DiDiDiDipunDi (Imbuhan)Cirebon Bebasan : "Dibarokahi", Bahasa Dermayon Krama : "Dipun Barokahi"
    DinaDintênDinaDintênHari(Sedinten-dinten = Sehari-hari)
    Dolan?Dolan?Main
    DomJarumDomJarumJarum
    DoyanPurun / KersaDoyanPurun / KersaSuka / Mau
    DuitYatraDuitYatraUang
    DulungNdahariDulangNdahariSuap (Makan)
    DurungDêrêngDurungDêrêngBelum
    DuweGadahDuweGadahPunya
    DuwurInggilDuwurInggilTinggi
    êlingêmutêlingêmutIngat
    êmbahêyangêmbahêyangKakek-Nenek
    EmbuhWikanEmbuhKirangan / WikanTidak Tahu
    ??Embun-embunanPasundulanEmbun-embun
    EmongBotenEmongMbotenTidak Mau
    EnakEcaEnakEcaEnak
    êndas?êndasSirahKepala
    êndhêpêndhapêndhêp / CindekêndhapPendek
    êndiPundiêndiPundiMana
    êndogTiganêndogTiganTelur
    êngko?êngkoAjengNanti
    ênomênêmênomênêm / timurMuda
    êntêkTêlasêntokTêlasHabis
    Enteni?EnteniEntosiMenunggu
    ErtiErtosngertiNgertosArti(Ngertos = Mengerti) (Basa Iku alat Komunikasi, Umpami panjenengan ngertos ya leres! = Bahasa itu alat komunikasi kalau anda mengerti ya bagus!)
    EsukEnjingEsukEnjingPagi
    EtungEtangEtungEtangHitung
    GajahLimanGajahLimanGajah
    GampangGampilGampangGampilMudah
    GantiGantosGantiGantosGanti
    GawaBaktaGawaBaktaBawambakta (Membawa), Gawaan / bektan (Barang Bawaan)
    GaweDamelGaweDamelKerja
    GedangPisangGedangPisangPisang
    Gede?GedheAgengBesar
    GêlêmPurunGêlêmPurunMau
    GelangBinggelGelangBinggelGelang
    GelungUkelGelungUkelGulung
    Gemuyu?GemuyuGemujengTertawa
    GenUgiUgaUgiJuga
    GenapJangkepGenapJangkepLengkap
    GeniBramaGeniBramaApi
    Gering / Kuru /Pêyang?GeringKeraKurus
    Getek?Keri?Geli
    GetihRahGetihRahDarah
    GigirPêngkêranGigirPêngkêranPunggung
    GodhongRonGodhongRonDaun
    Golek?GolekPadosWayang Kayu (Golek)
    GugahWunguGugahWunguBangun
    GulaGêndisGulaGêndisGula
    GuluJanggaGuluJanggaLeher
    GaweanDamelanGaweanDamelan/GunemanPekerjaan
    GuyonGujêngGuyonGujêngBercandaGegujengan (Bercandaan)
    IdêpIbingIdepIbingBulu Mata
    IduKecohIduKecohLudah
    Iga?IgaUnusanIga
    IjoIjêmIjoIjêmHijau
    IlangIcalIlangIcalHilang
    IlatLidahIlatLidahLidah
    Imbuh?ImbuhTandukTambahan
    Inep?InepSipengBermalam
    InguIngahInguIngahPelihara
    IrêngCêmêngIrêngCêmêngHitam
    IsorAndhapIsorAndhapBawah
    IsinLingsemIsinLingsemMalu
    IsunIngsun / KulaReang / KitaKulaSaya
    IwakUlamIwakUlamIkan
    IyaInggihIya / ênggehInggih / ÊnggehYa
    JagaRaksaJagaReksaJagaNjaga, Ngraksa (Menjaga)
    JagoSawungJagoSawungAyam Jago
    JagongLinggihDodokLinggihDuduk
    JalaJambêtJalaJambêtJala
    Jalir?telembuk?Pelacur
    JalukPundhutJupuk / JokotPendhetAmbil
    JamuJampiJamuJampiJamu
    Jaran?JaranTitihanKuda
    JareCapeJareCriyosKata (Ucap)Cirebonan : "Cape sinten?" (Kata (ucap) siapa?)
    Jenggot?JenggotGumbalaJenggot
    Jêriji?DrijiRacikanJari
    JeroLebetJeroLebetDalam
    Jingkat?KagetKejotTerkejut
    Joget?JogedBeksaGoyang
    Kabar / WartaWartosKabar / WartaWartosBerita
    KabehSedayaKabehSêdaya / SedantênSemua
    KabênêranKalêrêsanKabêranKêlêrêsanKebetulan
    KacaKacaPaningalanKaca
    KaePunikaIku/Kaen/KuwenPunikaItu (Dekat dengan si Pembicara)
    Kali / LêpênBenawiKali / LêpênBenawiSungai
    Kalung?KalungSangsanganKalung
    Kandha?KandhaSanjangBercerita
    KanggoKanggeKanggoKanggeUntuk
    KarangKawisKarangKawisKarang
    KarenaKêrantênMergaAmarga/ KerantenKarena
    KariKantunKariKantunSisa (Tinggal Terakhir) / Tertinggal / TerakhirKantun-kantun (akhirnya)
    KaroKaliyanKaroKaliyanBersamaTeng bioskop kalian sinten inggih? (Di bioskop bersama siapa, ya?)
    KaroSarengKaro / SarengMarang/DhumatengDengan(Garam sareng Gendhis dicampur mawon Kang! = "Garam dengan Gula dicampur aja Kang!")
    KatonKêtingalKatonKêtingalDapat dilihat
    Katok / CangcutLancingKatokLancingCelana dalam
    KaweruhKaweruhSeserepanPengetahuan
    Kaya / ala-alaKadosKayaKadosSeperti(Kados Mekoten = Sepeti Begitu / Seperti Itu)
    KayuKajengKayuKajengKayu
    Kebanjur?KebanjurKelajengTersiram
    Kêbo?KêboMaesaKerbau
    ??KêdêrEwedBingung
    Kelanjutan?KelanjutanKelanjênganKelanjutan
    Kelapa?KelapaKerambilKelapa
    ??KeliruKlentuKeliru
    KembangSekarKembangSekarBunga
    Kêmit?KêmitPakuncenJaga (Tugas Jaga)Kêmit Desa (Orang yang menjaga Desa)
    KêmulSingepKêmulSingepSelimut
    Kên / Kahin / Jarit?JaritSinjangKain
    KeneRikiKene / MrêneRikiSini
    Kêponakan?KêponakanKêpênakanKeponakan
    KêpribenKêpripunKêpriben KepriweKadhos Pundi / KêpripunBagaimana
    KêramasJamasKramasJamasKeramas
    Kêrasan / Bêtah?KrasanKraosBetah
    KêringetRiweKêringetRiweKeringat
    Kêris?KerisDuwungKeris
    KêrtasDelancengKertasDalancangKertasCirebonan : "Daluwang" (Kertas yang terbuat dari Kulit Kayu)
    KêtaraKetaraKetawisJelas
    KêtemuKêpanggihKêtemuKêpanggihBertemu
    ??Ora KaruanKêtowonPercuma / tidak dilayani dengan baik
    Kêyok?KalahKawonKalahKekalahan (Cirebon : Kasoran)
    KienPuniki / Kihênya /kie / Kien / KihPuniki / NikiIni
    KijingSekaranKijingSekaranGilang Makam
    KiraKintenKiraKintenKira (Perkiraan)Kinten-Kinten (Kira-Kira)
    Kirim?KirimKintunKirim
    KlambiRasukanKêlambiRasukanPakaian
    KongkonKengkenKongkonKengkenSuruh
    KuburanPasareanKuburanPasareanKuburan
    KuduKedahKudu / MestiKedahHarus
    Kuku?KukuKenakaKuku
    KulonKulenKulonKulen / KulwanBarat
    KumatKumatKimatKumat
    KumpulKêmpalKumpul
    KunaKinaKunaKina / KawiKuno
    KuningJenerKuningJenarKuning
    KupingTalingaKupingTalinganTelinga
    KurangKirangKurangKirangKurang
    Kuwasa?KuwasaKuwaosKuasa
    ??KuwatirKuwaosKhawatir
    Kuwayang?KebayangKewayangTerbayang
    KuweKuh / PunikuKuwenKuh / PunikuItu(Jauh dari si pembicara)
    Lahiran?Bayian / Lairan / Mbrojol?Melahirkan
    LainDudu / SanesDuduSanesBukan
    LakaBotên wêntênLangka / Laka / Ora anaMbotên wêntên / Mboten WontênTidak Ada
    Laki?LakiJalihSuami
    LamaDanguLawas / SuweLami / DanguLama
    LamunBilihLamon / YenBilihSeandainya
    Lamun?LamonaUmpamiUmpama
    LanangJali / JalerLanangJalerLaki-laki
    LarangHawisLarangAwisMahal
    LengaLengaLisaMinyak
    Lenga Latung?Lenga LantungLisa LantungMinyak tanah
    LêwihLangkungLuwihLangkungLebih
    LimaGangsalLimaGangsalLima
    Lunga?Lunga / Melaku / MiyangKesahPergi
    LupaLêpatKlalen / Ora KelinganKesupenLupa
    Luru?LuruhNgilariCari
    LuruNggulatiLuru / GoletiNggelatiCari
    MabokMêndhêmêndhêmMêndhêmMabuk
    Maca?MacaMaosBaca
    Manfaat / FaedahGunaManfaat / Faedah /MegunaGinaManfaat
    ManganDaharManganMaemMakan
    Mangkat?Mangkat / MiyangTindak / TumindakBerangkat
    Maning?Maning / MênêhMalihLagi
    Manjing?Mlêbu / ManjingMlebetMasuk
    Mata?MataSocaMata
    MatiPejahModhar / MatiPejohMati
    MayidLaywanJisimLayonJenazah
    Melu?MeluMiletIkut
    Mencleng?NganclêngNganclêngLompat
    MênganaMrikaMêngana / Mana / MranaMêrikaKesana
    Mênê?Mrêne / MênêMêrikiKesini
    Mêngkonon?Mêngkonon / MêngkonoMèngkontên/MêkotênBegitu
    MêtuMedalMêtu / MbudalMbêdhalKeluar
    Mlaku?MlakuMlampahBerjalan
    Mlayu?MêlayuMêlajengLari
    Mungkin?SokatSokatMungkin
    Nang / NingTengNingTeng / IngDi (Tempat)
    Nang Arep?Ning ArepIng LajengDi Depan
    Nang IsorTeng AndapNing IsorTeng Andap / Ing AndapDi Bawah
    Nang kanaTeng RikuNing KonoTeng Kono / Ing KonoDi situ
    Nang MendhiTeng PundiNing êndiTeng Pundi / Ing Pundidi mana
    Nini?NiniBudeNenek
    Ngaji?NgajiNgaosMengaji
    NginumNgombeNginung / NgombehMinum
    Nguyu?NguyuNyeniKencing
    Olih?OlihAngsalMendapat
    OmongGunêmCaturNgendika / GunêmBicara
    Pada?PadaSamiSama
    Pada bae?Pada baeSami mawonSama saja
    Pancal?Tendang
    Papat?PapatSêkawanEmpat
    Parêk?Parêk / CêdhakCakêtDekat
    PasarPêkênPasarPêkenPasar
    PatePademPatenPadêmPadam
    Pati?Nemen / PatiPatosTerlaluBeli Pati Doyan (Tidak Terlalu Suka)
    Payung?PayungPajengPayung
    PêrabotPêrantiAbahPirantosPerabotan
    PêrcayaPêrcantênPêrcayaPêrcayanipunPercaya
    LawangKontênLawangKontênPintuLawang arep (Pintu Depan), Lawang Gada (Pintu Gerbang)keramas
    Pira?PiraPintênBerapa
    Piring?AjangAmbengPiring
    Polah?Akeh polahSêlêwaoleh / lakuakeh polah (banyak perlakuan, banyak tingkah)
    PuntenHampuraSêpurane / NgapuraneNyuwun PangapuntênMaaf
    Purun?Arep / PurunLajengMauPanjenengan purun?(kamu mau?)
    PutihPethakPutihPethakPutih
    Rabi / KurênIstriBojoSekurênIstriSekurên = Sejodoh
    RadaRabiRada?AgakRada Manis (agak manis)
    Rewel?Rewel?Cerewet
    Ro / RuaKalihLoroKalihDua
    RunguPirengNgêrunguMireng / MidhangetDengarNgrungu, Mireng (Mendengar)
    Sabên?SabênUnggalSetiap
    Salah?SalahSawonSalah
    SambutSambêtNyelangSambatPinjam
    Sapa?SapaSintenSiapa(Kaliyan Sinten? "Sama Siapa?")
    Sawah?SawahSabinSawah
    SedangSiwegNglakoniSiwegSedang (Melakukan)(Siweg Punapa? "Sedang Apa")
    SegaSêkulSegaSêkulNasi
    SejenLiyaSejênLiyaLain(Mangga diterasken Liya-liya ae = "Silahkan diteruskan lain-lainnya")
    SekienSênikiSekiênSênikiSekarang
    SekikiBenjingSukiki / Sêsuk / MbesukBenjingBesok
    Senajan / AriMenawiSenajanMenawa /MenawiWalau
    SenengBungahSeneng / BeragBingah / BungahSenang
    SetitikSakedikSetitikSêkedikSedikit
    SijiTunggalSijiSêtunggalSatu
    SiraPanjenenganSlira / Sira / SampêyanPanjênênganAnda
    SiraPanjênênganKowe / SliraSampeyan / PanjênênganKamu
    SrogManggamanggaSumanggaSilahkan AmbilCirebonan : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
    Suwe?SuweLamiLama
    YaManggaêndhang / ManggaSumanggaSilahkanCirebon : "Ya Asrog (Silahkan Ambil)"
    TakenDanguTakonTaken / DanguTanyaAndangu (Bertanya)
    Tamu?TamuSemaTamu
    TandukSingatTandukSingatTanduk
    TekaDugiTekaDugiTiba
    Telu?TeluTibaTiga
    ??PanggonPanggenTempat
    TerusTerasNutugnaNêrusênaTeruskan
    ??GenahTilariTinggal
    TuaSepuhTuaSepuhTua
    Tuku?TukuTumbasBeli
    TurTuntenBacutLajengSelanjutnya
    TuruKilem / Tilem / KulemTuruSare / TilemTidur
    UmahGriyaUmahGriyaRumah
    Untap?DêlagdagNguntapDurhaka
    Upai?ngupai / UpaiSukaniBeriNgupai, Nyukani (Memberi)
    Urip?UripGesangHidup
    UwisSampunUwis / PêragatSampunSudah
    WadonIstriWadonIstriPerempuan
    WaktuSelaWaktu / Sela WektuWaktos / WentosWaktu
    WanciWayahWanciWayahSaat
    WaregTuwukWaregTuwukKenyang
    WongTiyangUwong / MenungsaTiyangOrang
    WulanSasiWulanSasiBulan
    ?Kajaba?KajabaKecuali
    ?LanLan / AmbiMarang / DhumatengDan
    ?JentikJentikJentikKelingking
    ?LebDitutupDileb"Dileb = Ditutup" (Penggunaan Pada "Pintu")
    ?MaksadMaksudeMaksadipunMaksud(Maksadipun = Maksudnya)
    ?WiraosNgomongWiraosBicara
    BelajarSinau / GinauBelajarSinau / Genau / GinauBelajar
    ?KahIkuMerikuItu(dekat dari si pembicara)
    ?WarasBregasWarasSehat
    ?BethekAdangBethakMenanak Nasi
    ?SeratJungkatSeratSerabut / Serat
    ??KenguluKajangBantal

    Ragam dialek

    Pada masa pemerintah Hindia Belanda, asisten Residen Cirebon J. N Smith pernah meneliti tentang ragam kosakata bahasa Cirebon yang ada di wilayah karesidenan Cirebon dan hasil penelitiannya diterbitkan pada tahun 1926, dalam penelitiannya ia juga memasukan contoh cerita rakyat yang ditulis menggunakan bahasa Cirebon (pada masa tersebut J. N. Smith menyebutnya sebagai Javansch dialect van Cheribon),[42] berikut kutipan kisah yang ia masukan dalam hasil penelitiannya ;

    <br> ''Iwak wader, iwak wader nemoe beli tjangkir kita, do tjètjè, do tjètjè, ala boedak katitjian.''<br><br>Artinya, Ada seseorang memiliki anak perempuan satu, (yang) satu namanya bawang putih. Kemudian ibunya meninggal, bapaknya kawin lagi, punya anak perempuan namanya bawang merah. Pada suatu hari bawang putih disuruh mencuci cangkir oleh ibu tirinya. Cangkir tersebut terus dibawa dicuci di pinggir sungai. Lagi dicuci gelasnya terlepas masuk ke dalam sungai. Bawang putih pulang dan memberitahu ibu tirinya, ibu tirinya marah. Si bawang putih dimarahj habis-habisan serta disuruh mencarinya. Bawang putih pergi kepinggir sungai bertemu dengan ikan wader. Bawang putih bertanya ke ikan wader sambil bernyanyi<br><br>''Iwak wader... iwak wader tahu gelas aku tidak... duh cece... duh cece... Ala anak kacician.''<ref name=smithdialect/>"}},"i":0}}]}' id="mwDq0"/>

    Ana wong doewè anak wadon sidji, aranè si Bawang Poeti. Bareng anoe bokè mati, bapaè rabi maning, doewè anak wadon aranè si Bawang Abang. Ning sawidji dina si Bawang Poeti dikongkon basoe tjangkir ning baé kewalon; tjangkir toli digawa dïbasoe ning pinggir kali; lagi di-basoei tjangkirè mroetjoet ketjemploeng ning djero kali. Bawang Poeti balik wewara ning baè kewalon; baè kewalon njèwot, si Bawang Poeti dioembangi entok bresi sarta dikongkon-gogoni. Bawang Poeti loenga ning pinggir kali ketemoe lagan iwak wader. Bawang Poeti takon ning iwak wader bari nembang:

    Iwak wader, iwak wader nemoe beli tjangkir kita, do tjètjè, do tjètjè, ala boedak katitjian.

    Artinya, Ada seseorang memiliki anak perempuan satu, (yang) satu namanya bawang putih. Kemudian ibunya meninggal, bapaknya kawin lagi, punya anak perempuan namanya bawang merah. Pada suatu hari bawang putih disuruh mencuci cangkir oleh ibu tirinya. Cangkir tersebut terus dibawa dicuci di pinggir sungai. Lagi dicuci gelasnya terlepas masuk ke dalam sungai. Bawang putih pulang dan memberitahu ibu tirinya, ibu tirinya marah. Si bawang putih dimarahj habis-habisan serta disuruh mencarinya. Bawang putih pergi kepinggir sungai bertemu dengan ikan wader. Bawang putih bertanya ke ikan wader sambil bernyanyi

    Iwak wader... iwak wader tahu gelas aku tidak... duh cece... duh cece... Ala anak kacician.[42]

    Nurdin M. Noer, ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon berpendapat bahwa bahasa Cirebon memiliki setidaknya ada beberapa dialek, yakni dialek Dermayon (dikenal juga sebagai bahasa Indramayuan), Jawareh (Jawa Sawareh; bahasa Jawa Separuh), Plered, dan Gegesik (Cirebon barat laut).[15] Sedangkan menurut Dini Zahrotud Diniyah, bahasa Cirebon yang dituturkan di Cirebon memiliki beberapa dialek, di antaranya dialek Arjawinangun, Dermayon, Campuran (Jawa Sawareh), dan Kuningan.[46] Sebesar 59% masyarakat Cirebon menggunakan bahasa Cirebon dialek Arjawinangun, sebanyak 16% menggunakan dialek Campuran, sebanyak 6% menggunakan dialek Dermayon dan Kuningan. Dari 47 penutur bahasa Cirebon, 32 di antaranya adalah penutur dialek Arjawinangun. Selebihnya sebanyak 15 orang adalah penutur dialek Dermayon, Campuran, dan Kuningan.

    Hendrik Blink dalam buku berjudul Nederlandsch Oost- en West-Indië, geographisch, ethnographisch en economisch beschreven yang diterbitkan pada tahun 1905, menjelaskan bahwa bahasa Cirebon yang ketika itu disebut sebagai Cheribonsch Javansch, menguasai wilayah penuturan yang sangat luas bahkan hingga jauh ke timur. Sedangkan Hendrik Blink juga mengkategorikan wilayah Indramayu sebagai wilayah percampuran bahasa di mana wilayah Indramayu diapit oleh wilayah bahasa Sunda dan bahasa Cirebon.[47]

    Dialek Indramayu (Dermayon)

    Artikel utama: Bahasa Jawa Indramayu

    Hendrik Blink mengkategorikan wilayah Indramayu sebagai wilayah percampuran bahasa di mana wilayah Indramayu diapit oleh wilayah bahasa Sunda dan bahasa Cirebon,[47] berkenaan dengan perbedaan kosakata di antara bahasa Cirebon standar dengan dialek Indramayu menurut Ajip Rosidi (seorang budayawan Cirebon) perbedaan tersebut tidak mencapai 30% sehingga dalam kajian kebahasaan sebenarnya ragam bahasa Cirebon yang ada di Indramayu belum bisa dikatakan sebagai sebuah dialek.[2]

    Ayatrohaedi dalam penelitiannya, menjelaskan bahwa di Indramayu hanya terdapat sekitar sebelas desa yang berbahasa Sunda di mana empat desa di antaranya merupakan desa dengan status enclave bahasa Sunda karena dikelilingi oleh desa-desa yang berbahasa Jawa Indramayu.[28]

    Dialek Jawareh (Jawa Sawareh)

    Dialek Jawareh atau disebut juga sebagai Jawa Sawareh adalah dialek dari bahasa Cirebon yang berada disekitar perbatasan Kabupaten Cirebon dengan Brebes, atau sekitar Perbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Dialek Jawareh ini merupakan gabungan dari bahasa Jawa Cirebon yang bercampur dengan bahasa Jawa Tegal dan bahasa Sunda.[48]

    Dialek Arjawinagun

    Dialek Arjawinangun merupakan dialek yang dituturkan oleh masyarakat Cirebon di daerah kecamatan Arjawinangun, kabupaten Cirebon. Dialek ini cenderung masih asli dan tidak terpengaruh bahasa lain meskipun tidak bisa dikategorikan sebagai bahasa Cirebon yang baku. Dialek ini juga merupakan dialek yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di Kota Cirebon.[46]

    Dialek Plered, Panguragan, dan Cirebon Lor

    Dialek Plered dan Cirebon Lor merupakan dialek bahasa Cirebon yang digunakan di wilayah sebelah barat dan utara Kabupaten Cirebon, serta Krangkeng, Indramayu. Dialek ini dikenal dengan cirinya yaitu penggunaan huruf "o" yang kental, misalkan pada Bahasa Cirebon standar menggunakan kata "sira", dialek Kabupaten Cirebon bagian Barat dan Utara (Kapetakan,Suranenggala), dan Krangkeng, Indramayu ini menggunakan kata "siro" untuk mengartikan "kamu", kata "apa" menjadi "apo", ora menjadi "oro", "gawa" (membawa) menjadi "gawo", "sapa" menjadi "sapo", dan "jendela" menjadi "jendelo". Penutur dialek yang menempati kawasan barat dan utara Kabupaten Cirebon ini lebih mengekspresikan dirinya dengan sebutan "Wong Cirebon", berbeda dengan Penduduk Kota Cirebon yang menggunakan bahasa Cirebon standar (sira) yang menyebut diri mereka sebagai "Tiang Grage", walaupun antara "Wong Cirebon" dan "Tiang Grage" memiliki arti yang sama, yaitu "orang Cirebon".[48]

    Parikan dialek Plered (Pantun Cirebon)

    Berbalas pantun atau Parikan dalam bahasa Cirebon dialek Plered antara Widudung Hamdan, Sipo, dan Wahyu Pawaka.

    Widudung Hamdan

    Uwoh srikayo dipaih tawas
     Sambel trasi enak dipangan
    Kayo-kayo atine kulo keloas
     Inget rabi langko ning iringan

    Maso iyo, digawo-gawo menggawe?

    Biji srikaya diberi tawas
     Sambal terasi enak dimakan
    Pantas saja hatiku bimbang
     Teringat istri tidak ada di samping(ku)

    Masa dibawa-bawa bekerja?

    Sipo

    Angon wedus ning jagat dermayu
    Pengen adus mung sayang langko banyu

    Menggembala kambing di wilayah Indramayu
    Ingin mandi tetapi, sayang, tidak ada air

    Widudung Hamdan

    Ano sego dimot ning kardus
     Tuku srabi oline combro [sic]
    Ang Sipo bli usoh adus
     Daripada rabi bli ngengumbo

    Ada nasi diwadahi kardus
     Beli serabi malah comro yang didapat
    Kak Sipo tidak perlu mandi
     Daripada (dapat) istri tidak resik pada diri[diragukan – diskusikan]

    Wahyu Pawaka

    Isuk-isuk tuku srabi
     Tukue bari ngajar layangan
    Isuk-isuk ngobrol rabi
     Gawe kesirian wong bujangan

    Pagi-pagi beli serabi
     Belinya sembari menerbangkan layangan
    Pagi-pagi membicarakan istri
     Membuat iri para bujangan

    Widudung Hamdan

    Miyang neng Grage tuku penganan
     Olih berkat iwak cemplunge ano sing ngicipi
    Mulane gen gage kawinan
     Engko mangkat menggawe ano sing ngambunge pipi

    Adaauw

    Berangkat ke Grage membeli makanan
     Mendapat kenduri lauk, tahu-tahu sudah ada yang mencomot
    Maka dari itu, segeralah menikah
     Supaya nanti jika berangkat bekerja ada yang mencium pipi

    Wahyu Pawaka

    Uler gendon ngreketi pelem
     Olih berkat olih apem
      Nonton wayang langka tarube
    Bocah wadon durung ana kang gelem
     Bokat ana kang gelem …
      Hayuh miyang ning pak lebe

    Hehe

    Ulat sagu[diragukan – diskusikan] menggerogoti mangga
     Dapat kenduri, dapat apam
      Menonton wayang tidak ada tendanya
    Anak gadis belum ada yang tertarik
     Jika ada yang tertarik …
      Mari berangkat ke penghulu

    Widudung Hamdan

    Gawe adon-adon kanggo gawe apem
     Tukuh sarung plekat larang regane
    Duduh saking wadon bli gelem
     Saking durung niat bae lanange

    Glegek ndipit

    Membuat adonan untuk membuat apam
     Membeli sarung plekat mahal harganya
    Bukan karena gadis yang tidak mau
     Melainkan bujangnya belum ada niat saja

    Dialek Gegesik

    Dialek Gegesik merupakan dialek yang digunakan di wilayah Cirebon Barat wilayah Utara disekitar Kecamatan Gegesik, dialek Gegesik sering digunakan dalam bahasa pengantar Pewayangan oleh Dalang dari Cirebon dan kemungkinan dialek ini lebih halus ketimbang dialeknya "Wong cirebon" sendiri.[49]

    Perbandingan antar dialek bahasa Cirebon

    Cirebon Baku ArjawinangunIndramayuPleredGegesikPekaleran*Indonesia
    ana anaanaanoanaanaada
    apa apaapaapoapaapaapa
    bapa bapa/mamabapamamabapa/mamabapakbapak
    bli bliorablibli/orobli/oratidak
    dulang dulangdulangdulangmuluksuapmakan
    elok loksokatloksokilokpernah
    isun isun/kitareangisun/kitoisun/kitanyong/kitasaya
    kula kulakulakulokula/kamikulasaya/kami
    laka laka/langkalakalangkolakalaka/langkatidak ada
    mamang mamangmamangmangmangmamang/amangpaman
    salah salahsalahsalosalahsalahsalah
    sewang sewongsewongsewongsewongsewang/ewangseorang
    sokiki kiki/sokikikiki/sokikimengkesokikiisukbesok
    • Dialek Pekaleran digunakan di Kabupaten Majalengka bagian utara, oleh karenanya disebut Pekaleran (sebelah utara), wilayah utama penggunanya ada di Kecamatan Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, sementara wilayah sekitarnya seperti Kecamatan Leuwimunding, Palasah, Jatiwangi, Dawuan, Kasokandel, Sukahaji, dan Sindang merupakan wilayah percampuran antara bahasa Sunda dialek Majalengka dengan bahasa Cirebon dan Banyumasan yang dikenal dengan bahasa Jawareh (Jawa Sewareh).

    Kongres bahasa Cirebon

    Artikel utama: Kongres Bahasa Cirebon

    Kongres Bahasa Cirebon pertama kali dicetuskan secara resmi oleh sekitar 70-an orang yang terdiri dari para budayawan, pakar dan pengajar bahasa, seniman dan kaum intelektual yang menghadiri seminar sehari "Dialog Interaktif Bahasa Cirebon" yang diselenggarakan di kota Cirebon atas kerjasama Pikiran rakyat, Mitra Dialog dan Forum Dialog Budaya Cirebon (FDBC), Wali kota Cirebon yang pada saat itu dijabat oleh bapak Subardi segera menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penyelenggaraan Kongres Bahasa Cirebon.

    Dalam seminar sehari tersebut di antaranya dihadiri oleh ;

    • Dr. H. Dadang Dally, M.Si (Kadisdik Jawa Barat)
    • Drs. H. Zakaria Mahmud (Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati - UNSWAGATI)
    • Drs. H. Wahyo, M.Pd (Kadisdik kota Cirebon)
    • Drs. H. Zaenal Abidin, M.Si (Kadisdik kabupaten Cirebon)
    • Ahmad Sybubanuddin Alwi (Budayawan)
    • Saptaguna (Budayawan)
    • H. Nurdin M. Noer (Kepala Balitbang Mitra Dialog)
    • Drs. Made casta, M.Pd (Budayawan dan Karikaturis)
    • Drs. Wasikin Marzuki atau Ki Jatira (Pemimpin Mitra Dialog)

    Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI) Drs. Zakaria Mahmud merupakan orang pertama yang mula-mula mengemukakan usulan diadakannya Kongres Bahasa Cirebon.

    "Perlu ada Kongres Bahasa Cirebon. Kongres Bahasa Cirebon merupakan momentum bagi tumbuhnya kesadaran bersama dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Cirebon. Melalui Kongres Bahasa Cirebon, bahasa Cirebon juga bisa menjadi alternatif kebahasaan. Bahkan ke depan, bahasa Cirebon bisa ikut memengaruhi bahasa nasional,"

    Wali kota Cirebon bapak Subardi yang mendukung ide ini kemudian menyatakan,

    Kongres Bahasa Cirebon menjadi penanda bahwa masyarakat Cirebon dari berbagai latar belakang, sepakat dengan satu hal, yakni penegasan bahwa bahasa Cirebon sebagai salah satu identitas khas dari keberadaan budaya (kultur) Cirebon. Cirebon ini memiliki kekhasan budaya. Cirebon bukan Sunda, juga bukan Jawa, tetapi Cirebon dengan kekhasannya. Mengangkat khazanah bahasa, berarti mengangkat pula kultur Cirebon yang spesifik. Siapa lagi yang akan mengapresiasi khazanah lokal itu kalau bukan masyarakat Cirebon itu sendiri,"

    Disela-sela dukungan yang ada, Drs. Made Casta M.Pd juga angkat bicara mengenai fenomena kebahasaan ini, di mana telah terjadi pembunuhan bahasa (linguacide) oleh bahasa Indonesia yang merupakan bahasa lingua-franca yang ditetapkan secara politis terhadap bahasa-bahasa daerah, termasuk bahasa Cirebon yang jika tidak dilestarikan akan segera menemui kepunahannya.

    Karena kekeliruan politik bahasa itu (red: bahasa Indonesia) menjadikan bahasa lokal, termasuk Cirebon bisa mengalami kepunahan, tingkat apresiasi masyarakat akan terus mengalami degradasi, karena itu dibutuhkan kajian dari aspek sosial-budaya untuk pelestarian dan pengembangan.

    Harus dicari benang merah pengembangan bahasa lokal dari aspek hubungan dialektikanya dengan masyarakat. Pendekatannya mencerminkan dialektika antara bahasa dengan kompentensi sosiokultural. Sekarang ini, kurikulum dan pembelajaran bahasa Cirebon masih menekankan pada kompetensi linguistik. Sistem tata bahasa Jawa yang diseleraskan dengan pengistilahan dalam bahasa Indonesia begitu kuat didesakan kepada para siswa. Padahal itu terlepas dari konteks sosial-budayanya. Harusnya dibangun kurikulum dan pembelajaran bahasa Cirebon yang berpusat pada lingkup sosial budaya siswa atau student centred. Tanpa itu,

    semua akan sia-sia,"

    Pada acara "Dialog Interaktif Bahasa Cirebon" tersebut disepakati bahwa Kongres Bahasa Cirebon pertama akan diadakan pada tahun 2006.[50]

    Kongres Bahasa Cirebon pertama

    Kongres Bahasa Cirebon pertama (KBC I) dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil kesepakatan seminar sehari "Dialog Interaktif Bahasa Cirebon" yang diselenggarakan di kota Cirebon.

    Kongres Bahasa Cirebon pertama bertujuan untuk memperkuat posisi bahasa Cirebon dan mendukung upaya-upaya pelestariannya.

    Kongres Bahasa Cirebon kedua

    Kongres Bahasa Cirebon kedua (KBC II) diadakan selama tiga hari yang sejak tanggal 26 - 28 Juni 2013 di Hotel Prima kota Cirebon dengan tema Dedangdan basa, mengkuhaken budaya (memperbaiki bahasa, memperkokoh budaya)

    Salah satu target yang ingin dicapai dengan kongres bahasa Cerbon saat ini yakni, segera mewujudkan wacana dibukanya program studi bahasa Cerbon di perguruan tinggi swasta maupun negeri, setidaknya yang ada di wilayah Cirebon. Berdasarkan survey, penutur bahasa Cerbon cukup banyak mencapai 4 juta. (Supali Kasim - Ketua Panitia Kongres Bahasa Cirebon kedua sekaligus Budayawan Indramayu)

    [51]

    Pra-Kongres Bahasa Cirebon kedua

    Sebelum diadakanya Kongres Bahasa Cirebon kedua, pada tanggal 3 - 4 Desember 2012 diadakan terlebih dahulu pra-Kongres Bahasa Cirebon yang berbentuk saresehan (acara silaturahmi), dalam teks sambutan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan bahwa ia sangat menghargai dan mengapresiasi masyarakat yang masih peduli untuk memelihara, melestarikan dan mengembangkan bahasa Cirebon dalam kehidupannya pada era globalisasi ini.[52]

    Sementara, Prof. Dr. H. Wahyudin Zarkasih yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dalam makalah bahasa Cirebon miliknya yang berjudul Melu Ngurip-urip lan Ngembangaken Basa Cerbon menyatakan, kebijaksanaan pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal mengembangkan dan memelihara bahasa Cirebon itu merupakan landasan untuk menyusun program dan kegiatan yang intinya perencanaan strategis Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan tugas pokok, fungsi, rincian tugas Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian sebagai UPTD Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

    Tim perumus pra-Kongres Bahasa Cirebon di antaranya merekomendasikan untuk melaksanakan Kongres Bahasa Cirebon kedua (KBC II) pada tahun 2013 agar lebih bermanfaat bagi perkembangan bahasa Cirebon.[53]

    "Dari hasil kegiatan ini diharapkan akan lebih tergali lagi potensi bahasa Cirebon dan akan bermanfaat bagi perkembangan bahasa Cirebon itu sendiri," (Wiyana Sundari - Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

    Peserta kongres Bahasa Cirebon kedua

    Peserta Kongres Bahasa Cirebon kedua diikuti sekitar 150 orang yang berasal dari unsur seperti guru, dosen, ustad, seniman, budayawan, jurnalis, legislatif, eksekutif dan penggiat bahasa Cirebon.

    Selain dari wilayah kota dan kabupaten Cirebon serta kabupaten Indramayu, para peserta juga datang dari wilayah utara kabupaten Majalengka yang dikenal dengan nama pakaleran, wilayah kabupaten Subang dan kabupaten Karawang.

    Narasumber yang hadir pada Kongres Bahasa Cirebon kedua di antaranya ;

    • Ajip Rosidi (Budayawan)
    • Hj. Anna Sophanah (Bupati Indramayu)
    • Drs. H. Ano Sutrisno, M.Si (Wali kota Cirebon)
    • Drs. H. Dedi Supardi, M.M (Bupati Cirebon)
    • Prof. Dr. H. Wahyudin Zarkasyi, CPA (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat)

    Rekomendasi Kongres Bahasa Cirebon kedua

    Kongres Bahasa Cirebon kedua yang diselenggarakan pada tanggal 26 - 28 Juni 2013 menghasilkan keputusan dua belas butir rekomendasi yang dirumuskan oleh tim perumus yang beranggotakan Made Casta (ketua), Raffan Hasyim (sekretaris), Adin Imadudin (anggota), Nurdin M. Noer (anggota)dan Supali Kasim (anggota sekaligus budayawan indramayu)terkait upaya-upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Cirebon, butir-butir rekomendasi tersebut ditulis dengan bahasa Cirebon, berikut rekomendasinya[54].[55]

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu nglakukaken pamengkuhan status basa Cerbon ngliwati penetepan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati/Wali kota lan Keputusan Bupati/Wali kota perkawis pelanggengan basa, sastra lan carakan.

    (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu melakukan penguatan terhadap status bahasa Cirebon melalui penetapan Peraturan Daerah, Peraturan Bupati/Wali kota dan Keputusan Bupati/Wali kota berkenaan upaya pelestarian bahasa, sastra dan aksara carakan Cirebon)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu madahi plaksanan penelitiyan-penelityan perkawis basa, sastra lan carakan Cerbon kanggé mantepaken keajegan basa Cerbon kanggé ngangsalaken legitimasi ilmiyah minangka wujud prancanan sumber data pelanggengan lan ngembangaken basa Cerbon.

    (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu mewadahi pelaksanaan penelitian-penelitian berkenaan bahasa, sastra dan aksara carakan Cirebon untuk menguatkan posisi bahasa Cirebon guna mendapatkan legitimasi ilmiah sebagai wujud perencanaan sumber data pelestarian sekaligus menyembangkan bahasa Cirebon)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu netepaken basa Cerbon, minangka basa padinan/bagongan lan bebasan.

    (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu menetapkan bahasa Cirebon sebagai bahasa sehari-hari/bagongan dan bebasan)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu swagata (menjamin) kalaksanané piwulangan basa Cerbon, teng kubengan kaluwarga, masyarakat lan sekolah awit undagan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA kelayan nganggé kecaketan budaya, boten nganggé kecaketan wewengkon pulitik (geopolitik) ingkang bakal nrubusaken rasa ingkang boten adil.

    (pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu secara bersama-sama menjamin pelaksanaan pengajaran bahasa Cirebon di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah mulai dari tingkatan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA secara bersinergi guna menumbuhkan kedekatan budata, tidak untuk menumbuhkan kedekatan wilayah politik (geopolitik) yang akan memunculkan rasa tidak adil)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu swagata (menjamin) kasediyaané buku teks lan buku penunjang piwulangan basa Cerbon ingkang selaras sareng kebutuhan.

    (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu secara bersama-sama menjadim tersedianya buku bacaan dan buku penunjang pengajaran bahasa Cirebon yang selaras dengan kebutuhan)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu netepaken lan megaraken sarta nrubusaken bebasaan Cerbon, pamberdayan waktos-waktos bebasaan basa Cerbon lan nyukani pengajénan dumateng pelanggeng, pegiyat minangka piyambek utawi lembaga lan seniman ingkang nggadahi prestasi.

    (Pemenrintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu menetapkan dan menghidupkan kembali serta memunculkan bahasa cirebon tingkat bebasan, mengadakan waktu-waktu wajib berbahasa Cirebon dan memberikan apresiasi terhadap para pelestari, penggiat perorangan atau lembaga dan seniman yang memiliki prestasi)

    Pemréntah Propinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon lan Indramayu nyambungaken pamengkuhan Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC) saking aspek organisasi kelembagaan lan program-program dedamelan.

    (Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten/Kota Cirebon dan Indramayu melanjutkan penguatan Lembaga Basa lan Sastra Cirebon (LBSC) dari aspek-aspek organisasi kelembagaan hingga program-program kerja)

    Unggal pengguron inggil (perguruan tinggi) lan lembaga penelitiyan/kajiyan ngembangaken peran Tri Dharmanipun kanggé mundhakaken aji basa Cerbon sacara kaélmuwan ngliwati pinten-pinten dedamelan ingkang selaras.

    (Setiap perguruan tinggi dan lembaga penelitian/kajian mengembangkan peran Tri Darma-nya untuk memuliakan nilai luhur bahasa Cirebon secara keilmuan melalui berbagai program kerja yang selaras)

    Media massa ambika rubrik lan madetaken rubrikasi, program utawi dedamelan pelanggengan lan pangembangan basa Cerbon.

    (Media massa menyediakan rubik dan memperkaya rubrikasi, program atau usaha pelestarian dan pengembangan bahasa Cirebon)

    Masyarakat penganggé basa Cerbon kedah mundhakaken rasa anderbéni lan tanggungjawab dumateng pelanggengan lan pangembangan basa Cerbon, teng kubengan kluwarga lan tundunan sosial budaya masyarakat.

    (Masyarakat pengguna bahasa Cirebon harus meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap pelestarian dan pengembangan bahasa Cirebon di lingkungan keluarga dan dilingkungan pergaulan sosial budaya masyarakat)

    Pesantrén-pesantrén kedah ngunggulaken penganggéyan basa Cerbon teng selebeté komunikasi lan basa ater-ater piwulangan.

    (Pesantren-pesantren harus menguatamakan penggunaan bahasa Cirebon di dalam berkomunikasi dan sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran)

    Keraton-keraton Cirebon ngutamakaken pengayoman, bedaran lan pangembangan naskah-naskah, kempalan-kempalan sosial minangka wujud pelanggengan pangembangan basa Cerbon.

    (keraton-keraton Cirebon harus mengutamakan upaya perlindungan, penelitian dan pengembangan naskah-naskah, tempat berkumpul masyarakat sebagai wujud pelestarian pengembangan bahasa Cirebon)

    Pengembangan dan pelestarian

    Pengembangan dan pelestarian bahasa Cirebon menurut Imam Miftahul Jannah (aktifis bahasa Cirebon) dikatakan masih minim, sebagai contohnya adalah hanya diberikannya waktu satu jam bagi muatan lokal bahasa Cirebon sementara pelajaran bahasa Inggris diberikan waktu lebih banyak ketimbang bahasa Cirebon yang merupakan bahasa ibu.[56]

    Penerjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Cirebon

    Pada tahun 2020 dengan diketuai oleh Dr. H. Ahmad Yani, M.Ag dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Nurjati proses penerjemahan al Qur'an ke dalam bahasa Cirebon berlangsung, sepanjang 2020 telah berhasil diterjemahkan sebanyak 10 juz al Qur'an, di antara para ahli yang tergabung dalam tim penerjemahan Al Qur'an ke dalam bahasa Cirebon terdapat nama K.H. Ahsin Sakho Muhammad dari pesantren Dar Al Tauhid (Arjawinangun) yang merupakan lulusan Doktoral dari Madinah, selain ia, tim juga diperkuat oleh Mukhtar Zaedin yang merupakan seorang budayawan Cirebon.[57]

    Validasi Al Qur'an dalam bahasa Cirebon

    Kegiatan penerjemahan Al Qur'an ke dalam bahasa Cirebon telah memasuki tahap validasi yang diselenggarakan pada tanggal 28-30 Juni 2022 di Kuningan.[58]

    Penetapan hari penggunaan bahasa Cirebon

    Pelestarian bahasa Cirebon dalam lingkungan Pemerintah Daerah kota Cirebon ditandakan dengan ditetapkannya hari Selasa sebagai hari pengunaan bahasa Cirebon. Pada hari Selasa, menurut Agus Sukmanjaya selaku kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Cirebon, bahasa Cirebon dipergunakan sebagai bahasa pengantar dalam apel Pemerintah Daerah dan dialog antar pekerjanya termasuk dialog dalam grup Whatsapp.[59]

    Pelestarian Era Digital dan Media Sosial

    Bahasa Cirebon pada setiap masanya memiliki model pelestarian yang beragam, termasuk pada era digital dan media sosial. Salah satu yang cukup menonjol adalah apa yang dilakukan oleh situs kamuscirebon.com. Selain fungsi utamanya sebagai kamus (investasi kosakata) di dalamnya juga menambahkan blog sebagai penjang informasi terkait dengan bahasa cirebon. Menariknya kamus cirebon online ini menancapkan satu tujuan utama adalah untuk membantu siapapun yang ingin bersentuhan langsung dengan Bahasa Cirebon, baik untuk kebutuhan akademis ataupun hanya sebagai tambahan kosa-kata dalam komunikasi sehari-hari.[60]

    Selain bentuk kamus digital, pelestarian bahasa Cirebon juga dilakukan secara digital dengan pembuatan aplikasi permainan berwawasan tebakan kosakata-kosakata dalam bahasa Cirebon, aplikasi tersebut dinamakan Badekan basa Cerbon dan dibuat oleh Muhammad Anis Al Hilmi dan tim[61][62]

    Catatan kaki

    1. ↑ Hanya mencakup Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu dan sebagian utara Kabupaten Majalengka dan Subang.
    2. ↑ Kata Cêrbon sendiri hanya sebatas fonologi. Secara ortografis, dalam Rikasara dan Carakan tetap ditulis "Cirebon".
    3. ↑ Bahasa Cirebon merupakan dialek bahasa Jawa.

    Referensi

    1. 1 2 3 Tim Penyusun Disparbud Prov. Jawa Barat. 2011. "Peta Budaya Provinsi Jawa Barat". Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat
    2. 1 2 Rosidi, Ajip. 2011. Badak Sunda dan Harimau Sunda: Kegagalan Pelajaran Bahasa. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya
    3. ↑ Huri, Daman. 2017. Geografi Variasi Bahasa di Bagian Utara Karawang, Jawa Barat. Karawang : Universitas Singaperbangsa
    4. 1 2 Nuraeni, Fitri. 2012. Pemetaan Bahasa di Kabupaten Sumedang : Sebuah Kajian Dialektometri. Depok : Universitas Indonesia
    5. ↑ Isfandani, Linda Novita. 2017. BAHASA JAWA MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN JAWA TENGAH JAWA BARAT DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN BREBES : KAJIAN SOSIOLINGUISTIK. Semarang : Universitas Negeri Semarang
    6. 1 2 3 4 Tim Biro Pusat Statistik. 2011. Hasil Sensus 2010 - Kewarganegaraan, Suku, Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia. Jakarta : Biro Pusat Statistik
    7. 1 2 Salana. 2002. Wyakarana - Tata Bahasa Cirebon. Bandung : Humaniora Utama Press
    8. 1 2 Sumarlina, Elis Suryani Nani. 2009. Mengungkap kearifan lokal budaya Sunda yang tercermin dalam naskah dan prasasti. Bandung :
    9. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Cirebonese". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    10. ↑ Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2003. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2003. Bandung: Pemerintah Provinsi Jawa Barat
    11. 1 2 3 Sudjana, TD. 2005. "Kamus Bahasa Cirebon". Bandung: Humaniora Utama Press
    12. ↑ Heriyadi, Wahyu. 2015. Bahasa dan Hukum. Bandung: Kentjana Indie Pustaka
    13. ↑ Nurfaidah, Dedeh. 2008. "Basa Sunda Dialék Majalengka di Kacamatan Sukahaji". Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
    14. ↑ "Radar Cirebon - Pangeran Losari 'Angkawijaya' Tali Sejarah Cirebon Brebes (edisi 2014)". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-25. Diakses tanggal 2020-03-26.
    15. 1 2 3 4 5 Kautsar, Nurul Diva. 2020. 7 Fakta Bahasa Cirebon, Diadopsi dari Jawa Klasik dan Punya Dialek Beragam. Jakarta : Merdeka.com
    16. ↑ Wulandari, Sri(Penyanyi Cirebonan). 2011. "Prefix A–Change from Middle to Modern Cirebonese (A case study of Serat Catur Kandha as a midlle Cirebonese texts and Nguntal Negara as a modern Cirebonese text)". Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
    17. ↑ Bunnell, Tim. D. Parthasarathy, Eric C. Thompson. 2012. Cleavage, Connection and Conflict in Rural, Urban and Contemporary Asia. Berlin: Springer Science & Business Media
    18. ↑ Gunawan, L.A.S. 2020. Filsafat Nusantara: Sebuah Pemikiran tentang Indonesia. Sleman : Kanisius
    19. 1 2 Bahri, Idik Saeful. 2020. Gegap Gempita Perjalanan Sejarah dan Upaya Status Kepahlawanan Eyang Hasan Maolani Lengkong. Bandung : Rasibook (CV. Rasi Terbit)
    20. 1 2 Kusdiana, Ading. 2014. Sejarah Pesantren : Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945). Bandung : Humaniora
    21. ↑ Rosidi, Ajip. 1991. Rikmadenda Mencari Tuhan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
    22. 1 2 Zuhdi, Susanto. 2017. Antara Sewaka dan Soeria Kartalegawa: Dinamika Politik Pemerintahan Di Jawa Barat Pada Masa Revolusi Indonesia. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
    23. ↑ Suryana, Dayat. 2012. Provinsi Provinsi di Indonesia. Scotts Valley : CyberSpace Independent Publishing
    24. 1 2 Menimbang-nimbang Bahasa Cirebon(Edisi Tahun 2009) Diarsipkan 2012-01-17 di Wayback Machine.
    25. 1 2 Noer, Nurdin M. 2018. Pelestarian Bahasa Cirebon Tanggung Jawab Siapa?. Bandung : Pikiran Rakyat
    26. 1 2 3 4 Amaliya. 2010. Alasan Politiklah Sebabnya. Bandung: Pikiran Rakyat
    27. ↑ "Cirebon Pos - Menggali Bahasa Cirebon Asli, Meski Masih Diperdebatkan (edisi 2015)". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-12-01. Diakses tanggal 2017-06-16.
    28. 1 2 Ayatrohaedi. 2011. 65 = 67 Catatan Acak-acakan dan Catatan Apa Adanya. Bandung : Dunia Pustaka Jaya
    29. 1 2 Kawi, Djantera. 2002. Peneltian,kekerabatan dan pemetaan bahasa-bahasa daerah di Indonesia: provinsi Kalimantan Timur. Jakarta:Departemen Penddikan Nasional
    30. ↑ Ayatrohaedi. 1985. Bahasa Sunda di daerah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka
    31. ↑ Tim Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1976. Bahasa dan sastra, Volume 2. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
    32. ↑ Tjandrasasmita, Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Gramedia
    33. 1 2 "Prayitno, Panji. 2017. Makna Ukiran Unik di Tiang Masjid Keramat Cirebon. [[Jakarta]]: Liputan 6". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-07-22. Diakses tanggal 2017-06-12.
    34. 1 2 3 Rochkyatmo, Amir. 1996. Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah: Perkembangan Metode dan Teknis Menulis Aksara Jawa. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan
    35. 1 2 Mangintrk, Timothy Seta. 2016. Parahiyangan Guardian: Pengembangan Aplikasi Game Untuk Pembelajaran Interaktif Menggunakan Aksara Bahasa Sunda Berbasis Desktop. Bandung: Universitas Widyatama
    36. ↑ Mujidiningrat, Raden Dulur Anom Rahadyan Ikhsanurud Daudi Akbar Guratpanuratrahsa Ahmad Elwangsih. 2018. Aksara Rikasara: Sebuah Peradaban yang Hilang. Cirebon: Desa Adat Gamel-Sarabahu
    37. ↑ Moriyama, Mikihiro.2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia
    38. 1 2 Holle, Karel Frederik. 1868. Geschiedenis der Preanger Regentschappen (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Gravenhage : Martinus Nijhoff
    39. ↑ Rosidi, Ajip. 2010. "Bahasa Cirebon dan Bahasa Indramayu". Bandung: Pikiran Rakyat
    40. ↑ Irianto, Bambang. Dyah Laksmiwati. 2014. Baluarti Keraton Kacirebonan. Sleman: Dee Publish
    41. ↑ Wangsakerta, Pangeran Nasiruddin. Saptadhyaksa. 1651 saka. Pustaka Negara Kertabumi. Cirebon: Kesultanan Cirebon
    42. 1 2 3 Smith, J. N. 1926. Het Dialect van Cheribon. Gravenhage : Martinus Nijhoff
    43. 1 2 "Bantenologi - Kamus Bahasa Jawa Banten". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-06-09. Diakses tanggal 2015-03-04.
    44. ↑ Sudibyo YS, Nurochman. 2011. "Bahasa Jawa Pantura Tak Terpeta, Lagu-lagunya Merambah Nusantara" : Surabaya. Kongres Bahasa Jawa
    45. 1 2 Tayudi. 2010. "Kamus Bahasa Indramayu" : tayudic.blogspot.com
    46. 1 2 Diniyah, Dini Zahrotud (2016). "VISUALISASI SPASIAL BAHASA DAN DIALEK DI KOTA CIREBON JAWA BARAT". Jurnal Bumi Indonesia. 5 (4). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-06-27. Diakses tanggal 2020-01-20.
    47. 1 2 Blink, Hendrik. 1905. Nederlandsch Oost- en West-Indië, geographisch, ethnographisch en economisch beschreven 1852. Leiden : BRILL
    48. 1 2 Nieza. "Jalan-Jalan Ke Cirebon Sega Jamblang Sampai Batik Trusmian": PT Gramedia Pustaka Utama
    49. ↑ Noer, Nurdin M. "Wayang Kulit Di Mata Matthew Isaac Cohen": Pikiran Rakyat
    50. ↑ Pikiran Rakyat - Sebagai Upaya Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Lokal Sejumlah Elemen Sepakati Kongres Bahasa Cirebon Diarsipkan 2008-01-02 di Wayback Machine. (edisi tahun 2005)
    51. ↑ Pikiran Rakyat - Perguruan Tinggi di Cirebon Harus Miliki Program Studi Bahasa Cerbon Diarsipkan 2015-09-24 di Wayback Machine. (edisi tahun 2013)
    52. ↑ Sutaraharja, Tarka. 2013. Makalah - Carub Kandha Tangkil. Cirebon: IAIN Syekh Nurjati
    53. ↑ Pikiran Rakyat - Peluang Perguruan Tinggi Buka Jurusan Bahasa Cirebon Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine. (edisi tahun 2012)
    54. ↑ Kongres Bahasa Cirebon II 26-28 Juni 2014
    55. ↑ Yazid Emyu - Rekomendasi Kongres II Basa Cirebon[pranala nonaktif permanen]
    56. ↑ "| Murni, Putri. 2016.Yayasan Sketsa Pribumi Cirebon Anggap Bahasa Cirebon Kurang Diperhatikan. [[kota Cirebon|Cirebon]]: Cirebon Trust". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-06. Diakses tanggal 2016-06-14.
    57. ↑ Arifin. 2021. Cirebon Bakal Punya Terjemah Alquran Bahasa Daerah. Cirebon : Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Nurjati
    58. ↑ Ashri, Abdullah Fikri. 2022. Menjaga Bahasa Cirebon dengan Al Quran. Jakarta : Kompas Media Nusantara
    59. ↑ Administrator bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik (PIKP). 2022. Disbudpar Usulkan “Selasa Nyerbon”, Pakai Baju Adat dan Bahasa Cirebon. kota Cirebon : Pemerintaj Daerah Kota Cirebon
    60. ↑ "Tentang Kamus Cirebon". KAMUS CIREBON | KAMUS BAHASA CIREBON ONLINE. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-12-01. Diakses tanggal 2017-11-19.
    61. ↑ "Rofahan, Ahmad 2015. Badekan Cerbonan Game Penjaga Kelestarian Bahasa Daerah. [[Jakarta]]: Metro TV News". Metrotvnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-12-01. Diakses tanggal 2017-11-22.
    62. ↑ Playstore - Badekan Basa Cirebon
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Jawa
    Penulisan
    • Buda
    • Carakan
    • Cacarakan
    • Kawi
    • Latin
    • Pegon
    • Rikasara
    Aksara Jawa
    Tingkatan
    Bahasa
    • Ngoko
      • lugu
      • alus
    • Krama
      • lugu
      • alus
    Kosakata
    • Ngoko
    • Krama-ngoko
    • Krama
      • krama madya
    • Krama inggil
      • krama andhap
    Dialek
    Bagian Barat
    • Banten
    • Indramayu
    • Cirebon
    Bagian Tengah
    • Banyumas
    • Kedu
    • Mataram (standar)
    • Mataraman
    Pesisiran
    • Tegal
    • Pekalongan
    • Semarang
    • Muria
    Bagian Timur
    • Jombang
    Arekan
    • Surabaya
    • Malang
    Bahasa terkait
    • Bagongan
    • Jawa Kuno
      • Kawi (kesusastraan)
    • Osing
    • Suriname
    • Tengger
    Topik terkait
    • Angka
    • Jawanisme
    • Sastra Jawa
    • Kongres
      • bahasa
      • aksara
    • Wikipedia
    • Blok Unicode
    • l
    • b
    • s
    Topik Cirebon
    Kota • Kabupaten
    Keraton
    • Keraton Kasepuhan
    • Keraton Kanoman
    • Keraton Kacirebonan
    • Kaprabonan
    Wisata belanja dan hiburan
    • Asia Plaza
    • Cirebon Mall
    • Cirebon Mall
    • Cirebon Square
    • Cirebon Super Block
    • Cirebon Town Square
    • Giant Rajawali
    • Grage Mall
      • 2
    • Griya Toserba Plered
    • Gunung Sari Trade Center
    • Kampung Batik Trusmi
    • Manhatan Square
    • Plaza Index (Ace Hardware) Cirebon
    • Plaza Pasar Balong
    • Pusat Grosir Cirebon (PGC)
    • Ramayana Plered
    • Surya Plaza
    • Surya Toserba Ciledug
    • Surya Toserba Sumber
    • The Summit Factory Outlet
    • Tuparev Super Block
    • Transmart Cipto
    • Plaza Yogya
      • Department Store
      • Grand Center
      • Siliwangi
    Wisata alam
    • Pantai Ade Irma Suryani
    • Pantai Kejawanan
    • Hutan kera Plangon
    • Setu Patok
    • Lapangan Golf Ciperna
    • Taman Reptil Belawa
    Wisata sejarah
    dan religi
    • Balong Tuk
    • Keraton Gebang
    • Kompleks Buyut Trusmi
    • Kramat Plangon
    • Pemakaman
      • Nyi Mas Ratu Gandasari
      • Astana Gunung Sembung
      • Sunan Gunung Jati
      • Syekh Magelung
    • Gua Sunyaragi
    • Petilasan
      • Pangeran Drajat
      • Sunan Kalijaga
    • Prasasti Huludayeuh
    Bangunan modern
    bersejarah
    • Balai Kota
    • Dalem Agung Pakungwati
    • Gedung BAT
    • Gedung Keresidenan Cirebon
    • Gedung Bank Indonesia Cirebon
    • Pendopo Kabupaten
    Tempat ibadah
    • Masjid
      • At-Taqwa
      • Panjunan
      • Sumber
      • Sang Cipta Rasa
      • Sir Budhi Rahsa
    • Gereja Katolik Santo Yusuf
    • Gereja Kristen Pasundan, Cirebon
    • Gereja Kristen Immanuel Jemaat Saron
    • Klenteng
      • Hok Keng Tong
      • Talang
      • Welas Asih
    • Vihara Budidharma
    Kebudayaan
    • Bahasa
      • Cirebon
      • Sunda
    • Batik Megamendung
    • Gamelan Sekati
    • Kerajinan
      • Kerajinan lukis kaca
      • Kerang
      • Rotan
    • Sandiwara Masres
    • Sandiwara Cirebon
    • Sempyong
    • Singa barong
    • Tarling
    • Topeng Cirebon
    • Topeng barangan
    • Wayang babad
    • Wayang cepak
    • Wayang wong
    Kuliner
    • Bubur ayam cirebon
    • Docang
    • Empal
      • Asem
      • Gentong
    • Emping
    • Kerupuk
      • Melarat
      • Udang
    • Ketoprak cirebon
    • Mendoan
    • Mi koclok
    • Nasi
      • Goreng
      • Jamblang
      • Lengko
    • Sate beber
    • Sirop Tjampolay
    • Tahu gejrot
    Acara dan festival
    Festival Budaya Cirebon
    Transportasi
    • Stasiun
      • Kejaksan
      • Parujakan
    • Bandar Udara Cakrabhuwana
    • Pelabuhan Cirebon
    • Terminal
      • Harjamukti
      • Sumber
    • Category Kategori
    • Commons page Commons

    Catatan

    1. ↑ Berdasarkan penjelasan dalam Wyakarana Tata Bahasa Cirebon dinyatakan bahwa bahasa Cirebon berasal dari bahasa Jawa Kuno dengan tidak mengabaikan kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sunda, Arab, Cina, Portugis dan Belanda

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Pengaruh
    2. Proses penyebaran
    3. Penyebaran bebasan Cirebon
    4. Upaya perlindungan
    5. Klasifikasi
    6. Bahasa Cirebon sebagai sebuah dialek dari bahasa Jawa
    7. Bahasa Cirebon sebagai bahasa mandiri
    8. Aksara
    9. Aksara Rikasara Cirebon
    10. Carakan Cirebon
    11. Aksara Sunda Kuno
    12. Hilangnya aksara Sunda dan Rikasara Cirebon
    13. Kosakata
    14. Bahasa Jawa Kuno
    15. Angka dan kuantitas
    16. Kata Ganti (Purusa)

    Artikel Terkait

    Bahasa Jawa Mataraman

    bagian dari rumpun bahasa Austronesia

    Jawa Tengah

    provinsi di Pulau Jawa, Indonesia

    Rumpun dialek Arekan

    kontinum dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur bagian tengah dan timur

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026