Ahmad Dhani Prasetyo adalah seorang musikus, politikus, dan pengusaha berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pendiri dan pemimpin dari grup musik Dewa 19. Selain tampil sebagai kibordis dan sesekali vokalis pada grup tersebut, ia merupakan produser dan pencipta sebagian besar lagu-lagunya. Setelah sukses dengan Dewa 19, ia juga berhasil mengorbitkan banyak penyanyi dan grup musik dan merupakan pendiri dan pimpinan dari Republik Cinta Management. Sepanjang kariernya, ia telah menciptakan lebih dari 200 lagu yang telah dinyanyikan oleh sejumlah artis seperti Reza Artamevia, Anang Hermansyah, Ari Lasso, Judika, Agnes Monica, Ratu, Mulan Jameela, dan lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ahmad Dhani | |
|---|---|
Dhani pada tahun 2017 | |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | |
| Mulai menjabat 1 Oktober 2024 | |
| Grup parlemen | Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya |
| Daerah pemilihan | Jawa Timur I |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Dhani Ahmad Prasetyo 26 Mei 1972 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia |
| Partai politik | Gerindra (2017—sekarang) |
| Suami/istri | [1] |
| Anak | 5; termasuk Al, El, dan Dul |
| Orang tua |
|
| Kerabat | Alyssa Daguisé (menantu) Yton (keponakan) |
| Tanda tangan | |
| Situs web | ahmaddhani |
| Karier musik | |
| Genre | |
| Pekerjaan | |
| Instrumen | |
| Tahun aktif | 1985–sekarang |
| Label | |
| Artis terkait |
|
|
| |
Ahmad Dhani Prasetyo (lahir 26 Mei 1972) adalah seorang musikus, politikus, dan pengusaha berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan pendiri dan pemimpin dari grup musik Dewa 19. Selain tampil sebagai kibordis dan sesekali vokalis pada grup tersebut, ia merupakan produser dan pencipta sebagian besar lagu-lagunya. Setelah sukses dengan Dewa 19, ia juga berhasil mengorbitkan banyak penyanyi dan grup musik dan merupakan pendiri dan pimpinan dari Republik Cinta Management. Sepanjang kariernya, ia telah menciptakan lebih dari 200 lagu yang telah dinyanyikan oleh sejumlah artis seperti Reza Artamevia, Anang Hermansyah, Ari Lasso, Judika, Agnes Monica, Ratu, Mulan Jameela, dan lainnya.[2]
Dhani dikenal sebagai tokoh yang kontroversial dan sering memancing pro dan kontra. Ia juga dikenal sebagai musisi dengan eksperimentasi musik dan lirik puitis yang mengutip kata-kata mutiara dari pujangga terkenal seperti Kahlil Gibran.[3][4] Majalah MTV Trax edisi perdana tahun 2002 menobatkan Dhani sebagai salah satu "25 Musisi/Grup Paling Berpengaruh dalam Musik Indonesia."[3] Majalah Rolling Stone juga menempatkannya ke dalam daftar "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa."[5][6][7]
Lahir di Surabaya, Ahmad Dhani adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pernikahan Eddy Abdul Manaf bin Rusta Sastra Atmadja yang merupakan seorang diplomat berdarah Sunda dan politikus Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang pernah menjabat Anggota DPR-GR 1966,[8] asal Garut - Jawa Barat, dengan Joyce Theresia Pamela Kohler, seorang Indonesia keturunan Jerman. Kakek buyutnya, Jan Pieter Friederich Kohler adalah keturunan Jerman lahir di Hindia Belanda pada tahun 1883. Kakak tiri Dhani, Dadang S. Manaf adalah musisi Indonesia dan merupakan pengaruh besar pada minat musik Dhani sejak masa kecilnya. Ayah Dhani membelikannya keyboard ketika ia masih muda dan membayar untuk les musik, sangat membujuk dia dan berharap bahwa Dhani akan unggul dalam hal musik klasik. Dia sangat terpengaruh oleh band rock Inggris Queen, ia juga banyak mempunyai koleksi Queen termasuk gitar Brian May "Red Special" yang ia gunakan saat tur, juga gitar itu muncul di video klip Bukan Rahasia. Keponakannya, Sukma Perdana Manaf atau yang dikenal dengan nama Ytonk (anak pertama dari Dadang S. Manaf), adalah personil dari band Clubeighties.[9]
Dhani menamatkan pendidikan di SD Muhammadiyah 6,[10] SMP Negeri 6, dan SMA Negeri 2 Surabaya. Di SMP Negeri 6 Surabaya, Dhani bertemu dengan Andra Junaidi Ramadhan, yang kemudian menjadi gitaris di kelompok musiknya. Di SMA Negeri 2 Surabaya, Dhani bertemu dengan Ari Lasso, yang menjadi vokalis di kelompok musiknya. Lulus dari pendidikan menengah atas, Dhani melanjutkan studi jurusan Ilmu Hukum di Universitas Pancasila tahun 1992 yang dikenal sebagai kampus ternama tempat para artis dan politikus ternama ibukota menuntut ilmu, Dhani bertemu dengan seorang mahasiswi, Reza Artamevia, yang kemudian ditariknya menjadi penyanyi solo dan penyanyi latar di Dewa 19.[11]
Bakat musik Dhani mulai bergejolak saat duduk di bangku SMP Negeri 6 Surabaya. Dhani bersama 3 orang sahabatnya Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso, kemudian mendirikan grup musik bernama Dewa pada tahun 1986. Dhani bertindak pada vokal, keyboard dan pimpinan. Saking tergilanya pada musik, tak jarang Dhani bolos sekolah untuk sekadar berkumpul bersama teman-temannya di Dewa untuk sekadar memainkan alat musik di rumah Wawan di kawasan kompleks Universitas Airlangga. Dhani semula yang menteng di jalur rock, kemudian mencoba jalur musik jazz yang kemudian diikuti perubahan nama Dewa menjadi Downbeat. Bersama Downbeat, Dhani sempat menjuarai Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik. Namun akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dan mengibarkan bendera Dewa 19 dengan tambahan Ari Lasso.[butuh rujukan]
Karena tidak ada studio yang memadai di Surabaya, pada tahun 1991 Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta untuk mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibu kota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota. Setelah sempat ditolak sejumlah label, akhirnya Dhani dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records. Usaha Dhani tidak sia-sia, album perdana Dewa 19 (1992) sukses besar dengan melejitnya sejumlah hits seperti ”Kangen” dan ”Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi”. Album ini tercatat sebagai Album Terlaris 1993 dan Dewa dianugerahi sebagai pendatang baru terbaik. Sukses Dewa 19 berlanjut di album-album berikutnya. Hingga saat ini tak kurang dari 11 album yang telah dirilis Dhani bersama Dewa, yaitu Dewa 19 (1992), Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), Pandawa Lima (1996), The Best Of Dewa 19 (1999), Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Atas Nama Cinta I & II (2004), Laskar Cinta (2004), Republik Cinta (2006), dan Kerajaan Cinta (2007). Meski telah beberapa kali mengalami pergantian personel, sampai saat ini Dewa 19 masih tetap eksis di blantika musik Indonesia.[butuh rujukan]
Selain aktif di Dewa 19, Dhani juga sibuk dengan kegiatan lain. Pada tahun 1999, ia sempat melahirkan Ahmad Band, yang sempat dikenal dengan tembang ”Bidadari di Kesunyian” dan ”Aku Cinta Kau Dan Dia”. Selain itu Dhani juga menjadi memproduseri artis lain selain Dewa 19. Pada tahun 1997, Dhani berhasil mengorbitkan penyanyi R&B Reza Artamevia dengan memproduseri 2 albumnya, Keajaiban (1997) dan Keabadian (1999). Sejak saat itu, ia mulai sering memproduseri artis lain dan melahirkan bakat-bakat baru dalam dunia musik. Dhani juga berhasil mengubah Denada dari penyanyi rap menjadi penyanyi R&B saat menggarap album ketiganya bertajuk Awal Baru (2000). Dhani kemudian berhasil menemukan Tere dan memproduseri album pertamanya Awal Yang Indah (2002). Ia juga membimbing istrinya Maia saat membentuk dan membesarkan duo Ratu.[butuh rujukan]
Bermula dari perekaman album solonya di Australia, Dhani bertemu dengan 3 anggota band Hospital The Musical, yaitu Clancy Alexander Tucker, Zachary Haidee-Keene, Michael Bennett di Studio 301, Sydney - Australia. Dari pertemuan itu munculah ide untuk berkolaborasi dalam sebuah grup musik. Dhani yang memiliki niat untuk go international menerima ajakan tersebut dan terbentuklah The Rock yang mana Hospital The Musical tidak bubar dan Dhani juga tidak meninggalkan Dewa 19. Pada Agustus 2007, lahirlah album pertama The Rock dengan tajuk Master Mister Ahmad Dhani I yang mencetak single ”Munajat Cinta”.[12]
Hospital The Musical pernah mengikuti tour Marlboro Kretek di Indonesia, pada bulan Agustus-September 2007. Saat itu mereka menggunakan nama Fire Shark, bersama vokalis Mark Williams.[13]
Pada grup musik ini, Dhani berkolaborasi dengan Cameria Happy Pramita (gitar, backing vocal), Ices (bass), Tharaz Bistara (gitar), Ikmal Tobing (drum), dan Wahyu Sudiro (gitar). Pada perilisaan album TRIAD di The Rock Cafe Jakarta, 19 Februari 2010. Dengan hits singlenya "Makhluk Tuhan Paling Sexy" yang sebelumnya dipopulerkan Mulan Jameela, hits single kedua berjudul "Mustapha" yang diadaptasi dari lagu karya Queen, dan pada tahun 2010 mengeluarkan hits single ketiga berjudul "Selir Hati".[14]
Pada tahun 2011 bersama Judika dan empat personel lainnya Ahmad Dhani membentuk MahaDewa.
Salah satu musik kegemaran Si Jenggot (panggilan akrab Dhani) adalah musik Jazz. Dia berkerja sama dengan Tim Oram, musisi Jazz di Sydney. Bersama Tim dia berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz di Australia. Terdapat 4 lagu Jazz di album The Rock, dan April 2009, dia merilis album 100% Jazz dengan judul The Best Is Yet To Come bersama Dhani and the Swinger, side project bentukannya.[15]
Meskipun Dhani lahir dan besar di Surabaya, serta fasih berbahasa Jawa, ia sejatinya masih berdarah Sunda karena ayahnya memiliki keturunan Garut dan Sumedang. Dhani menikah dengan Maia Estianty pada 17 November 1996,[16][17] setelah sekian lama menjalin cinta sejak Dhani masih di SMA Negeri 2 Surabaya. Dari pernikahan mereka, keduanya memiliki 3 anak.[18] Dhani menamai anak-anaknya sesuai tokoh sufi yang dikaguminya, yakni Ahmad Al Ghazali, Ahmad El Jalaluddin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani.[18] Sejak akhir 2006, Dhani dan istrinya terlibat skandal 'tuduh menuduh' yang berujung pada gugatan cerai yang diajukan oleh Maia Estianty.[18] Dhani dan Maia bercerai secara agama (talak tiga) pada Desember 2006. Rumah tangga mereka resmi berakhir secara hukum pada 23 September 2008 melalui keputusan hakim di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.[19]
Pada Agustus 2013, Dhani mengatakan bahwa Saafeya adalah putrinya dengan Mulan Jameela, penyanyi keturunan Garut yang besar di Bandung.[20]
Dhani adalah kolektor piringan hitam yang juga mempunyai banyak koleksi musik di rumahnya.
Dhani juga membuka bisnis restoran yang berada dibekas rumahnya, diberi nama Wisma Dewa 19 Restography.
Dhani termasuk aktif di YouTube, dengan banyak video di kanal bernama VIDEO LEGEND.
Pada 14 Juni 2025, Ahmad dhani menyaksikan prosesi siraman sang putra pertama, Al Ghazali.[21] Ahmad Dhani mengenakan beskap Jawa berwarna cerah lengkap dengan blankon, dan sempat mencuri perhatian saat memegang ayam kampung sebagai bagian dari tradisi.[22] Ahmad Dhani bersyukur acara berjalan lancar dan penuh haru. Bahkan ia ngaku nangis bahagia mendapati kenyataan Al Ghazali segera berumah tangga.[23] Akad pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise sendiri digelar pada 16 Juni 2025 dan sehari setelahnya dilakukan resepsi yaitu tanggal 17 Juni 2025.[24] Saat akad nikah Al Ghazali, Maia Estianty dan Ahmad Dhani langsung yang mendampingi.[25] Prosesi ngunduh mantu Al Ghazali dan Alyssa Daguise digelar megah dengan sentuhan budaya di JCC Jakarta pada Kamis, 19 Juni 2025, dan terasa semakin istimewa karena seluruh rangkaian acaranya dirancang langsung oleh Ahmad Dhani sebagai bentuk cinta untuk putra sulungnya, sang “putra mahkota.”[26]
Tanggal 1 Maret 2011 Dhani dilaporkan wartawan atas tuduhan pemukulan yang dilakukan di depan rumah Mulan Jameela.[27]
Pada 8 September 2013, putra Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani, atau lebih dikenal sebagai Dul (13 tahun) terlibat dalam kecelakaan lalu lintas ketika dia mengendarai mobil secara ilegal atas dasar umur di jalan tol dekat Jakarta. Kecelakaan itu menyebabkan 7 korban tewas sementara Dul terluka parah.[28] Menurut juru bicara polisi Indonesia, Dul dibebankan atas tuduhan kelalaian dalam mengemudi, sementara Ahmad Dhani sendiri mungkin menghadapi tuduhan lebih karena membahayakan anak dengan sadar dan secara ilegal memberi izin kepada anak di bawah umur untuk mengendarai mobil. Biaya dan sanksi untuk Dhani kurang lebih 6 tahun penjara dan 12 juta rupiah.[29]
Pada 26 November 2018, Ahmad Dhani dituntut 2 tahun penjara oleh pengadilan negeri Jakarta Selatan karena diduga melanggar Pasal 45A Ayat 2 juncto Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP dengan kasus ujaran kebencian.[30] Kasus ini berlanjut hingga akhirnya pada tanggal 28 Januari 2019, Dhani dinyatakan bersalah melakukan ujaran kebencian melalui twitter dan divonis satu tahun enam bulan penjara.[31]
Pada 5 Maret 2025 dalam rapat antara Komisi X DPR RI dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Ahmad Dhani mengemukakan saran kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir agar PSSI mengurangi pemain naturalisasi bule, dengan menyebutkan ciri spesifik yaitu berambut pirang dan bermata biru. Menurutnya, mereka kurang enak dilihat untuk mewakili Indonesia. Dia menyarankan agar PSSI mencari pesepakbola dari ras yang mirip dengan Indonesia seperti Afrika. Video rekaman ucapan Dhani ini viral di media sosial karena dianggap bersifat rasisme.[32][33] Ia juga dianggap merendahkan martabat perempuan Indonesia karena pernyataannya yang ingin menjodohkan perempuan Indonesia dengan para pemain negara Timur Tengah seperti Arab, Aljazair, dan Maroko yang berusia di atas 40 tahun dan sudah pensiun terutama yang berstatus duda.[34][35]
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengecam pernyataan Dhani yang seksisme karena melecehkan perempuan, merendahkan martabat Indonesia, dan juga bersifat rasis. Pernyataan Dhani dinilai melecehkan karena menempatkan perempuan sekadar mesin reproduksi anak, pelayan seksual suami. Apalagi pernyataan ini dilanjutkan dengan menyebutkan bahwa jika pemain sepakbola yang dinaturalisasi itu beragama Islam maka bisa dinikahkan dengan empat perempuan. Padahal hukum Indonesia, dalam hal ini UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, mengatur ketentuan dan prasyarat yang ketat untuk mencegah perkawinan lebih dari satu orang menjadi sekadar menguntungkan satu pihak dan mengeksploitasi lainnya. Pernyataan ini juga merendahkan martabat Indonesia dengan rasisme karena seolah kualitas laki-laki pesepakbola dari luar negeri memiliki sifat genetik yang lebih baik daripada dari Indonesia. Kalimat rasis tampak dalam penekanan agar naturalisasi tidak kepada yang “bule” karena ras Eropa yang berbeda.[36]
Rayendie Rohy Pono atau Rayen Pono melaporkan Ahmad Dhani ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas dugaan pelanggaran kode etik karena memelesetkan marga Pono menjadi porno. Rayen mengatakan laporan ini merupakan keseriusannya dalam menanggapi pernyataan Ahmad Dhani yang merupakan anggota dewan. Laporan tersebut, kata Rayen, telah diterima oleh oleh MKD dan dalam waktu 14 hari kerja akan menerima undangan untuk audiensi serta memberikan klarifikasi kepada MKD. Kuasa hukum Rayen, Amon Fiago Sianipar turut menyerahkan lima alat bukti untuk melengkapi laporan.[37]
Ahmad Dhani Prasetyo akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pemilik marga Pono asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu merupakan sanksi bagi Dhani usai dinyatakan melanggar kode etik DPR, karena mempelesetkan marga Pono menjadi porno. Dhani menjelaskan kalau kalau itu ia terselip lidah atau salah ucap saja.[38]
Menurut data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 10 September 2024, total kekayaan yang dimiliki oleh Ahmad Dhani mencapai Rp 190,88 miliar. Sumber utama kekayaannya berasal dari aset properti, diikuti oleh aset bergerak dalam bentuk kendaraan mewah, serta uang kas dan setara kas.[39]
| Penghargaan | Tahun | Kategori | Karya yang dinominasikan | Hasil | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|
| Anugerah Musik Indonesia | 1997 | Pencipta Lagu Terbaik-Terbaik | "Kirana" (bersama Erwin Prasetya) Ditampilkan oleh Dewa 19 | Menang | [40] |
| Pencipta Lagu Alternatif Terbaik | Menang | ||||
| 2000 | "Roman Picisan" Ditampilkan oleh Dewa 19 | Menang | [41] | ||
| 2001 | Produser/Penata Musik Terbaik-Terbaik | "Kangen" Ditampilkan oleh Denada | Nominasi | [42] | |
| "Biar Menjadi Kenangan" (bersama Erwin Gutawa) Ditampilkan oleh Reza Artamevia & Masaki Ueda | Menang | ||||
| Pencipta Lagu Alternatif Terbaik | "Adakah" Ditampilkan oleh Denada | Nominasi | |||
| Tim Produksi Suara Terbaik | "Keabadian" Ditampilkan oleh Reza Artamevia | Nominasi | |||
| 2002 | Pencipta Lagu Alternatif Terbaik | "Arjuna" Ditampilkan oleh Dewa 19 | Menang | [43] | |
| 2004 | Karya Produksi Terbaik-Terbaik | "Cinta Mati" (bersama Agnes Monica) | Nominasi | [44] | |
| Duo/Grup/Kolaborasi Pop Terbaik | Menang | ||||
| 2009 | Pencipta Lagu Pop Terbaik | "Makhluk Tuhan Paling Sexy" Ditampilkan oleh Mulan Jameela | Nominasi | [45] | |
| 2010 | Pencipta Lagu Anak-Anak Terbaik | "Superman" Ditampilkan oleh The Lucky Laki | Menang | [46] | |
| Produser/Penata Musik Lagu Anak-Anak Terbaik | Menang | ||||
| 2013 | Produser/Penata Musik Pop Terbaik | "Muda" Ditampilkan oleh Agnes Monica | Nominasi | [47] | |
| Karya Produksi Kolaborasi Terbaik | "Terpurukku Disini" (bersama Purie Andriani) | Nominasi | |||
| 2022 | Duo/Grup/Kolaborasi Rock Terbaik | "Elang" (bersama Burgerkill) | Nominasi | ||
| 2023 | Karya Produksi Kolaborasi Terbaik | "Biar Menjadi Kenangan" (bersama Raisa) | Nominasi | ||
| Karya Produksi Aransemen Ulang Terbaik | Nominasi | ||||
| Karya Orkestral Terbaik | "Bohemian Rhapsody" (bersama Philharmonic Orchestra) | Nominasi | |||
| Penata Musik Dangdut Terbaik | "Bimbang" Ditampilkan oleh Dewa 19, Elvy Sukaesih & Mulan Jameela | Nominasi |
| Pemilu | Lembaga legislatif | Daerah pemilihan | Partai politik | Perolehan suara | Hasil | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2017 | Wakil Bupati Bekasi | Bekasi | Partai Gerakan Indonesia Raya | 309.205 | ||
| 2019 | Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | Jawa Timur I | 40.148[48] | |||
| 2024 | 134.227[49] | |||||