Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran. APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.[1] APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31 Desember). APBN, perubahan APBN, dan pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang .
Undang-Undang Dasar 1945 merupakan dasar hukum yang paling tinggi dalam struktur perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena itu pengaturan mengenai keuangan negara selalu didasarkan pada undang-undang ini, khususnya dalam bab VIII Undang-Undang Dasar 1945 Amendemen IV pasal 23 mengatur tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bunyi pasal 23:
ayat (1): Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
ayat (2): Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.
ayat (3): “Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu”.
Secara garis besar struktur APBN adalah:
Struktur APBN dituangkan dalam suatu format yang disebut I-account. Dalam beberapa hal, isi dari I-account sering disebut postur APBN. Beberapa faktor penentu postur APBN antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pendapatan negara didapat melalui penerimaan perpajakan dan penerimaan bukan pajak.[2] Besaran pendapatan negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
Contohnya, target penerimaan negara dari SDA migas turut dipengaruhi oleh besaran asumsi lifting minyak bumi, lifting gas, ICP, dan asumsi nilai tukar. Target penerimaan perpajakan ditentukan oleh target inflasi serta kebijakan pemerintah terkait perpajakan seperti perubahan besaran pendapatan tidak kena pajak (PTKP), upaya ekstensifikasi peningkatan jumlah wajib pajak dan lainnya.
Besaran belanja negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
Contoh lainnya, besaran belanja subsidi energi tidak dipengaruhi oleh asumsi ICP, nilai tukar, serta target volume BBM bersubsidi.
Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah:
Belanja Pemerintah Pusat menurut jenis adalah
Rincian anggaran transfer ke daerah adalah:
Besaran pembiayaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
Pembiayaan Dalam Negeri meliputi:
Pembiayaan Luar Negeri meliputi:
Asumsi dasar ekonomi makro sangat berpengaruh pada besaran komponen dalam struktur APBN. Asumsi dasar tersebut adalah:
Indikator lainnya:
Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rangkaian kegiatan dalam proses penganggaran yang dimulai pada saat anggaran negara mulai disusun sampai dengan perhitungan anggaran disahkan dengan undang-undang.[4] Ada 5 tahapan pokok dalam satu siklus APBN di Indonesia. Dari kelima tahapan itu, tahapan ke-2 (kedua) dan ke-5 (kelima) dilaksanakan bukan oleh pemerintah, yaitu masing-masing tahap kedua penetapan/persetujuan APBN dilaksanakan oleh DPR (lembaga legislatif), dan tahap kelima pemeriksaan dan pertanggungjawaban dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sedangkan tahapan lainnya dilaksanakan oleh pemerintah. Tahapan kegiatan dalam siklus APBN adalah sebagai berikut:
Tahapan ini dilakukan pada tahun sebelum anggaran tersebut dilaksanakan (APBN t-1) misal untuk APBN 2014 dilakukan pada tahun 2013 yang meliputi dua kegiatan yaitu, perencanaan dan penganggaran. Tahap perencanaan dimulai dari:
kebutuhan dananya
Tahap penganggaran dimulai dari:
Kegiatan penetapan/persetujuan ini dilakukan pada APBN t-1, sekitar bulan Oktober-Desember. Kegiatan dalam tahap ini berupa pembahasan Rancangan APBN dan Rancangan Undang-undang APBN serta penetapannya oleh DPR. Selanjutnya berdasarkan persetujuan DPR, Rancangan UU APBN ditetapkan menjadi UU APBN. Penetapan UU APBN ini diikuti dengan penetapan Keppres mengenai rincian APBN sebagai lampiran UU APBN dimaksud.
Jika tahapan kegiatan ke-1 dan ke-2 dilaksanakan pada APBN t-1, kegiatan pelaksanaan APBN dilaksanakan mulai 1 Januari - 31 Desember pada tahun berjalan (APBN t). Dengan kata lain, pelaksanaan tahun anggaran 2014 akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2014 - 31 Desember 2014.Kegiatan pelaksanaan APBN dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini kementerian/lembaga (K/L). K/L mengusulkan konsep Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) berdasarkan Keppres mengenai rincian APBN dan menyampaikannya ke Kementerian Keuangan untuk disahkan. DIPA adalah alat untuk melaksanakan APBN. Berdasarkan DIPA inilah para pengelola anggaran K/L (Pengguna Anggaran, Kuasa Pengguna Anggaran, dan Pembantu Pengguna Anggaran) melaksanakan berbagai macam kegiatan sesuai tugas dan fungsi instansinya.
Tahap pelaporan dan pencatatan APBN dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan APBN, 1 Januari-31 Desember. Laporan keuangan pemerintah dihasilkan melalui proses akuntansi, dan disajikan sesuai dengan tahunnta
Tahap terakhir siklus APBN adalah tahap pemeriksanaan dan pertanggungjawaban yang dilaksanakan setelah tahap pelaksanaan berakhir (APBN t+1), sekitar bulan Januari - Juli. Contoh, jika APBN dilaksanakan tahun 2013, tahap pemeriksaan dan pertanggungjawabannya dilakukan pada tahun 2014. Pemeriksaan ini dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Untuk pertanggungjawaban pengelolaan dan pelaksanaan APBN secara keseluruhan selama satu tahun anggaran, Presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepada DPR berupa laporan keuangan yang telah diperiksa BPK, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
APBN merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum.
APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam suatu tahun anggaran harus dimasukkan dalam APBN. Surplus penerimaan negara dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran negara tahun anggaran berikutnya.
Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:
Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:
APBN disusun dengan berdasarkan asas-asas:
Analis Anggaran adalah PNS yang diberikan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan analisis di bidang penganggaran dalam pengelolaan APBN, yang meliputi pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan. Dalam proses perumusan APBN, Analis Anggaran antara lain berperan dalam menganalisis arah kebijakan fiskal dan prioritas pembangunan nasional per tema/bidang; menyusun rekomendasi hasil analisis arah kebijakan fiskal dan prioritas pembangunan nasional; menguji parameter asumsi dasar ekonomi makro hasil exercise; menyusun rekomendasi hasil pengujian parameter asumsi dasar ekonomi makro; dan menyusun proyeksi perhitungan (exercise) Rancangan APBN.
| Tahun Anggaran | Pendapatan Negara
(Rp) |
Belanja Negara
(Rp) |
Surplus / Defisit
(Rp) | ||||
| 2021 | APBN[5] | 1.743,6 triliun | 2.750 triliun | -1.006,3 triliun | |||
| 2020 | APBN | 2.233,3 triliun | 2.540,4 triliun | -307,1 triliun | |||
| 2019 | APBN[6] | 2.165,1 triliun | 2.461,1 triliun | -296,0 triliun | |||
| 2018 | APBN[7] | 1.894,7 triliun | 2.220,6 triliun | -325,9 triliun | |||
| 2017 | APBN-P[8] | 1.736,1 triliun | 2.133,3 triliun | -397,2 triliun | |||
| APBN[9] | 1.750,3 triliun | 2.080,5 triliun | -330,2 triliun | ||||
| 2016 | APBN-P[10] | 1.786,2 triliun | 2.082,9 triliun | -296,7 triliun | |||
| APBN[11] | 1.822,5 triliun | 2.095,7 triliun | -273,2 triliun | ||||
| 2015 | APBN-P[12] | 1.761,6 triliun | 1.984,1 triliun | -222,5 triliun | |||
| APBN[13] | 1.793,6 triliun | 2.039,5 triliun | -245,9 triliun | ||||
| 2014 | APBN-P[14] | 1.635,4 triliun | 1.876,9 triliun | -241,5 triliun | |||
| APBN[15] | 1.667,1 triliun | 1.842,5 triliun | -175,4 triliun | ||||
| 2013 | APBN-P[16] | 1.502,0 triliun | 1.726,2 triliun | -224,2 triliun | |||
| APBN[17] | 1.529,7 triliun | 1.683,0 triliun | -153,3 triliun | ||||
| 2012 | APBN-P[18] | 1.358,2 triliun | 1.548,3 triliun | -190,1 triliun | |||
| APBN[19] | 1.311,4 triliun | 1.435,4 triliun | -124,0 triliun | ||||
| 2011 | APBN-P[20] | 1.169,9 triliun | 1.320,8 triliun | -150,8 triliun | |||
| APBN[21] | 1.104,9 triliun | 1.229,6 triliun | -124,7 triliun | ||||
| 2010 | APBN-P[22] | 992,4 triliun | 1.126,1 triliun | -133,8 triliun | |||
| APBN[23] | 949,7 triliun | 1.047,7 triliun | -98,0 triliun | ||||
| 2009 | APBN-P[24] | 871,0 triliun | 1.000,8 triliun | -129,8 triliun | |||
| APBN[25] | 985,7 triliun | 1.037,1 triliun | -51,3 triliun | ||||
| 2008 | APBN-P[26] | 895,0 triliun | 989,5 triliun | -94,5 triliun | |||
| APBN[27] | 781,4 triliun | 854,7 triliun | -73,3 triliun | ||||