Luoisme atau Luozuisme, yang aslinya dikenal sebagai Wuweiisme, merujuk kepada sebutan secara umum untuk berbagai organisasi-organisasi agama dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang mengikuti pengajaran Luo Menghong (羅夢鴻) alias Luo Qing (羅清) atau Luozu dan ajarannya terdapat dalam skriptur utamanya, "Lima Kitab dalam Enam Jilid" (五部六册).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Penggolongan | Agama keselamatan Tiongkok |
|---|---|
| Kitab suci | Wubuliuce (五部六册) |
| Pendiri | Luo Menghong |
| Didirikan | akhir abad ke-15 Shandong |
| Nama lain | Wuweiisme (无为教), Wuweizhengjiao ((无为正教)), Luozuisme (罗祖教) Sekte Kendaraan Besar / Mahayana (大乘教), Perkumpulan Bunga Naga (龙华会) Changshengdao (长生道 Jalan Kehidupan Abadi), Sancheng (三乘), Wukong (悟空 Kekosongan), Wunian (无年), Ajaran Yuandun (圆顿), Yaoisme, Nanwujiao (南無教), Zhaijiao (斋教), Ajaran Satu Karakter (一字教) |
| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa 华人民间信仰 |
|---|

Luoisme (Hanzi: 罗教; Pinyin: Luōjiào, Luójiào; harfiah: 'Ajaran Luo') atau Luozuisme (Hanzi: 罗祖教; Pinyin: Luōzǔjiào, Luózǔjiào; harfiah: 'Ajaran Patriark Luo'), yang aslinya dikenal sebagai Wuweiisme (Hanzi: 無為教; Pinyin: Wúwéijiào; harfiah: 'agama non-aksi'),[1] merujuk kepada sebutan secara umum untuk berbagai organisasi-organisasi agama dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang mengikuti pengajaran Luo Menghong (羅夢鴻)[2] alias Luo Qing (羅清) atau Luozu ("Patriark Luo") dan ajarannya terdapat dalam skriptur utamanya, "Lima Kitab dalam Enam Jilid" (五部六册).[3]
Patriark Luo dan ajarannya dianggap sebagai tokoh dan ajaran paling penting dan berpengaruh pada banyak sekali tradisi-tradisi keagamaan yang lahir pada dinasti Ming dan Qing.[3] Berbagai kelompok sekte agama keselamatan dan agama rahasia seperti Sekte Abadi (長生教), Zhenkong (真空教), Zhaijiao (齋教), Longhua Jiao (龍華教), Xiantiandao (先天道) dan Yiguandao (一貫道) dapat ditelusuri berasal ajaran Luo ini.
Sekte-sekte yang dianggap sebagai Luoisme adalah:[4]
Pada masa dinasti Ming (1368-1644) organisasi keagamaan tumbuh subur, sehingga banyak sekali agama rakyat dan agama keselamatan yang lahir dan bermunculan. Salah satu tokoh paling berpengaruh saat itu adalah seseorang bernama Luo Qing / Luo Menghong (羅清 /羅夢鴻) yang menulis Wubu Liuce / "Five Books in Six Volumes" (五部六冊). Luo Qing yang populer dengan sebutan Patriark Luo mendirikan sebuah aula untuk berkhotbah di daerah Simatai dan orang-orang yang menghadiri khotbahnya sebagian besar adalah para prajurit.[5] Dia kemudian menyebut dirinya Jalan Luo (羅道) dan memindahkan keluarganya ke Shixia (石匣), sekitar 20 km arah barat laut dari Miyun. Luo Menghong dan ajarannya memberikan pengaruh yang besar terhadap pasukan dan penduduk setempat. Orang-orang yang percaya kepada Luo Menghong tidak hanya terbatas pada yang berpangkat dan yang punya jabatan tapi juga para perwira eselon bawah.[5] Kepopuleran dan ketenaran patriark Luo membuat banyak orang yang mengklaim diri sebagai pemimpin kelompok yang menyebarkan ajarannya.[6] Sehingga saat itu muncul banyak kelompok-kelompok agama baru yang bersumber dari ajaran-ajaran patriark Luo. Kelompok dari murid-murid Luo Qing beserta kelompok baru yang mengklaim mengikuti ajarannya kemudian dikenal dengan nama Luoisme / Luojiao (羅教). Ajaran ini dikatakan menjalankan praktik keagamaan mereka secara bebas pada jaman pemerintahan Kaisar Zhengde (1505 - 1521) dari Dinasti Ming (1368 - 1644). Seperti halnya agama-agama lain, kematian sang pendiri menyebabkan fragmentasi dan diversifikasi ajarannya. Di dalam Ajaran Luo, situasinya ditandai dengan “tidak ada satu kitab suci dan tidak ada satu kelompok pun.” Dalam proses ini, Ajaran Luo mempengaruhi daerah-daerah di seluruh Tiongkok. Seiring berjalannya waktu, beberapa cabang dari ajaran ini tetap mempertahankan penampilan aslinya, sementara yang lain berubah tanpa bisa dikenali.[7] Beberapa kelompok sektarian lain seperti Huangtian Jiao (黄天教) dan Sekte Pancaran Merah (弘揚教) pada masa itu juga terpengaruh dengan ajaran Luo ini, di sisi lain tradisi dan ajaran kelompok mereka juga mempengaruhi kelompok-kelompok Luoisme yang berkembang saat itu.[8]
Selama Patriark Luo masih hidup, sosoknya menjadi semacam jaminan yang mempersatukan para pengikutnya. Meskipun beberapa muridnya mungkin telah membentuk kelompok atau sekte baru yang terpisah, mereka tidak menentang posisi Luo sebagai guru dan pemimpin mereka.[9] Setelah Luo meninggal dunia, yang rupanya tanpa memilih penerus kepemimpinannya, ajaran Luo mulai terpecah menjadi beberapa cabang yang berbeda. Beberapa muridnya mengklaim untuk melanjutkan tradisinya dan menjadi pemimpin sekte-sekte independen yang memiliki penghormatan yang sama terhadap Patriark Luo dan tulisan-tulisannya.[9] Posisi yang paling menonjol di antara anggota terkemuka gerakannya mungkin ditempati oleh keluarga Luo, yaitu istrinya, dan kedua anaknya Fozheng (佛正) dan Foguang (佛广).[10] Istri dari Luo melanjutkan ajaran berdasarkan tradisi sebelumnya. Dia mendirikan sebuah cabang yang disebut Yundun Zhengjiao (圓頓正交).[11] Kedua anaknya mengikuti ibunya sebagai pemimpin sekte. Pusat dari aliran dari keluarga patriark Luo ini ada di daerah Miyun, tempat di mana makam Luo Menghong berada.[11] Setelah generasi kesembilan dari keturunan Patriark, garis kepemimpinan turun-temurun ini berakhir.
Pada abad ke-16, ajaran Luo meluas ke Prefektur Chu, di mana Yin Ji'nan (殷继南) / Ying Ji'nan (應继南) mengorganisir kelompok agama yang terkonsolidasi dan meminta anggotanya untuk melafalkan lima kitab suci yang ditulis oleh Patriark Luo. Kelompok ini menyebut dirinya “Aliran Sejati Wuwei” (无为正派).[12] Berdasarkan arsip sejarah, diketahui bahwa Yin Ji'nan sendiri merupakan murid dari Lu Benshi (盧本師) dan pada awalnya berasal dari kelompok Huangtian Jiao.[13][14] Patriark Yin kemudian menklaim bahwa dirinya adalah titisan dari Patriark Luo.[15] Karena karisma dari patriark Luo, Yin Ji'nan mempunyai banyak pengikut, dan gerakan kelompoknya kemudian dikenal sebagai kelompok Luoisme bagian selatan dan berhasil menyebar ke seluruh provinsi asal mereka, Fujian, Jiangxi, dan provinsi-provinsi selatan di sekitarnya.[16] Selain menjunjung tinggi ajaran Luo Qing, ia juga mengadopsi beberapa tradisi Hunyuan dari Huangtian Jiao yang mempunyai keyakinan Maitreyanisme, keyakinan pada Tiga Masa Pancaran, pemujaan terhadap Wusheng Laomu dan Buddha Maitreya.[17][16][13] Pada tahun 1576, Yin Jinan dipenjara selama enam tahun di Tiantai (天台), tetapi setelah dibebaskan dari penjara, dia terus berkhotbah, dan dalam beberapa bulan kemudian ditangkap lagi dan dihukum mati oleh pemerintah pada tahun 1582.[18] Setelah kematiannya, murid perempuan Qiong Xiao (瓊孃) melanjutkan kepemimpinan.[19] Pada masa Yin Ji'neng (殷继能), kelompok ini menyebar ke lebih dari sepuluh kabupaten di timur dan barat Zhejiang.
Empat puluh tahun kemudian, pada tahun 1621, Yao Wenyu (姚文宇) yang berasal dari Kabupaten Qingyuan, Prefektur Chu pergi ke Wuyi, Zhejiang, untuk berkotbah dan mengembangkan sekte ini.[20] Patriark Yao menyebut dirinya adalah titisan dari Patriark Yin.[a][15] Dalam beberapa dekade berikutnya ketika dia memimpin sekte ini, agama ini berpengaruh sampai ke Zhejiang dan meluas ke Jiangxi, Fujian, Jiangsu dan Anhui. Sayangnya, Yang Dingchen dan putranya, sepasang panglima perang setempat, membunuh Yao pada tahun 1646.[20] Bersama dengan Luo Qing, Yin Ji'nan dan Yao Wenyu dipuja oleh gerakan ini sebagai tiga patriark. Hingga awal tahun 1950-an di beberapa daerah, keturunan Yao Wenyu terus dihormati secara luas karena dianggap mewujudkan karisma, daya tarik dan legitimasi dari leluhur mereka.[22]
Pada masa Dinasti Qing, keluarga Yao menjadi keluarga turun-temurun untuk pekerjaan misionaris dan “Aliran Sejati Wuwei” berubah nama menjadi Sekte Vegetarian Para Sesepuh (Laoguan zhaijiao 老官斋教). Kelompok-kelompok Luoisme saat itu terpecah-pecah menjadi banyak kelompok dan dikenal dengan banyak nama antara lain Sekte Patriark Luo (Luozu jiao 罗祖教), Sekte Mahayana (Dacheng Jiao 大乘教) , Ajaran Tiga Kendaraan (Sancheng jiao 三乘教), Sekte Bunga Naga (Longhua jiao 龍華教), Sekte Kue Beras (Ciba jiao 糍粑教), atau Sekte Satu Aksara (Yizi jiao 一字教). Di antara nama-nama tersebut, “Laoguan zhaijiao” adalah yang paling terkenal. Pihak berwenang menyebutnya “Ajaran Vegetarian” atau “Bandit Vegetarian”.[20]
Secara umum Luoisme sebenarnya terbagi menjadi 2 cabang utama, yaitu Wuwei jiao (無為教), sekte Mahayana / Dacheng Jiao (大乘教).[23]
Wuwei Jiao adalah aliran murni dari Luoisme, yang mengacu pada prinsip ketenangan dan wuwei, sama seperti yang patriark Luo ajarkan. Konsep ajarannya juga digabungkan dengan konsep Buddha tentang kesunyataan dan wuwei dalam Taoisme untuk membentuk pemikiran mendasar dari konsep wuwei. Para pemimpin kultus ini terdiri dari keturunan Patriark Luo dan tujuh murid besarnya yang beberapa merupakan putra, putri, cucu dan cicitnya antara lain Luo Fozheng (罗佛正), Luo Foguang (罗佛广), Luo Wenju (罗文举), dan Luo Congshan (罗从善).[24] Kelompok ini dianggap sebagai cabang-cabang kelompok yang paling murni yang masih mempertahankan ajaran-ajaran dan tradisi asli dari patriark Luo di kemudian hari dalam sejarah.[25]
Sekte Mahayana atau Sekte Kendaraan Besar (大乘教 Dachengjiao) pada masa Dinasti Ming dibagi menjadi dua kelompok, Timur dan Barat. Kelompok Barat adalah Sekte Mahayana Barat (西大乘教) yang didirikan di desa Huang, Beijing oleh Lǚ Pusa (呂菩薩). [26] Salah satu dari kelompok barat adalah Sekte Mahayana Gunung Jizu (鸡足山大乘教) yang didirikan oleh Zhang Baotai (张保太) di Yunnan. Pada tahun 1746, pemerintah dinasti Qing sangatlah gelisah dengan pergerakan sekte Mahayana Gunung Jizhu ini sehingga mengadakan pemberantasan dan hukuman mati kepada para pengikutnya.[27] Sedangkan kelompok timur adalah Sekte Mahayana Timur (東大乘教) juga dikenal sebagai Sekte Bau Dupa (闻香教 Wenxiang jiao), Sekte Segel Luas (弘封教 Hongfeng jiao), Yuantun Jiao (圆顿教) dan Sekte Teh Murni (清茶门教 Qingchamen jiao).[24] Pendiri sekte ini adalah Luo Foguang (罗佛广), putri Patriark Luo, dan Wang Sen (王森), menantu Luo Foguang. Kemudian, Wang dikirim ke Shifokou (石佛口) dari Prefektur Luan di Zhili untuk melakukan pekerjaan misionaris. Pada akhir zaman Ming, Sekte Mahayana Timur pimpinan Wang Sen menjadi agama yang sangat berpengaruh dan dikatakan memiliki lebih dari dua juta pengikut di enam provinsi.[24] Sekte ini juga menjalin hubungan dengan para kasim yang berkuasa dan orang-orang berpangkat.[24] Setelah terjadinya pemberontakan yang dilakukan salah satu kelompoknya akibat bencana kelaparan, Wang Sen ditangkap dan pada akhirnya meninggal di penjara pada tahun 1519.[28] Pada tahun 1622, Sekte Mahayana melakukan pemberontakan besar, yang menurut pejabat yang bertanggung jawab atas penumpasannya merupakan “krisis paling serius dalam sejarah dinasti selama dua ratus enam puluh tahun.”[29][24] Pemimpin pemberontakan ini adalah Xu Hongru (徐鴻儒), seorang mantan murid Wang Sen yang telah mengambil alih salah satu cabang utama. Xu Hongru bergabung bersama anak dari Wang Sen, Wang Haoxian (王好賢), yang merupakan pemimpin kelompok Dachengjiao lainnya. Mereka menjadi ancaman serius bagi pemerintah yang dalam keadaan lemah karena serangan Manchu di Utara dan di saat bersamaan juga lagi terkena krisis ekonomi yang parah. Beberapa kota berhasil direbut oleh para pemberontak sebelum akhirnya pasukan pemerintah berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Xu Hongru dan Wang Haoxian pada akhirnya dihukum mati.[29]
Pada masa dinasti Qing, sekte Mahayana Timur berganti nama menjadi Sekte Teh Murni (清茶门教) dan para anggota kelompok Wang Sen pergi ke berbagai provinsi untuk menyebarluaskan ajaran ini, namun di masa pemerintahan Jiaqing, semua pengikutnya ditangkap, dan hal ini menjadi pukulan telak bagi aliran ini.[12] Salah satu cabang kiri adalah Yuandun Jiao (圆顿教), yang didirikan oleh Zhang Hao (张豪) dari Zhili. Ajaran ini diperkenalkan ke Jiangxi pada tahun 1667 oleh Luo Weiqun (羅蔚群) / Luo Weixing (罗维行) dari Zhili. Kelompok yang menyebar di Jiangxi inilah yang menjadi cikal bakal dari banyak sekte-sekte baru yang menjadi populer dan terkenal antara lain Xiantian Jiao (先天教), Yiguan Dao (一贯道) dan Tongshan She (同善社). Dengan kata lain, Yiguandao, Xiantian Jiao, dan Tongshan She memiliki asal-usul yang sama, tetapi berkembang di jalur yang berbeda.[12] Sementara itu keluarga keturunan dari patriark Yao memimpin kelompok Luoisme berbeda yang selanjutnya dikenal sebagai sekte Bunga Naga (龍華教) di daerah Fujian, Zhejiang dan Jiangxi. Salah satu anggota dari kelompok sekte Mahayana Timur yang bernama Wang Zuotang (王左塘) memisahkan diri dan mendirikan kelompok sendiri yang kemudian dikenal sebagai sekte Bendera Emas (金幢教). Kelompok-kelompok yang berakar dari sekte Mahayana Timur ini terbagi menjadi 3 kelompok besar yaitu sekte Bunga Naga (龍華教), sekte Bendera Emas / Jinchuang Jiao (金幢教), dan Sekte Seroja Hijau (青莲教) / Xiantiandao. Ketiganya ini yang kemudian dikenal sebagai Sekte Vegetarian (Zhaijiao 斋教).[12]
Menurut Hubert Seiwert, sekte Wang Zuotang, meskipun berakar pada tradisi Luoisme, pada akhirnya juga mendapat julukan sekte Seroja Putih, mungkin karena terlibat dalam pemberontakan yang cukup serius. Hal yang sama juga terjadi pada cabang lain dari sekte Wang Sen, yang pada tahun 1622 ikut serta dalam pemberontakan besar Xu Hongru (徐鴻儒). Bahwa sekte di Shifokou disebut Sekte Mahayana (Dacheng Jiao) pada awal abad ke-17, juga dikonfirmasi di Longhua Baojing (龍華寶經). Dengan menggabungkan seluruh bukti yang ada, tak diragukan lagi bahwa apa yang disebut sebagai sekte Seroja Putih di Shifokou berakar dari tradisi Luo Qing.[30]
Selama masa transisi dinasti Ming ke Qing, salah satu cabang dari Luoisme menjadi aktif di wilayah perairan yang luas, yang berpusat di Grand Canal (Terusan Besar) dan didukung oleh sungai-sungai lainnya.[31] Sejak pertengahan dinasti Ming, ada pelaut pengangkut biji-bijian yang menganut Luoisme. Sebagian besar dari mereka adalah tentara yang bertugas di Pos Penjagaan Miyun di utara Zhili.[32] Mereka menyembah patriark Luo, membaca sutra dan menjalankan pola hidup bervegetarian.[33] Pada akhir zaman Ming, Luoisme meluas ke Hangzhou dan membangun kuil-kuil, oleh karena itu, banyak pelaut yang memeluk ajaran ini. Kemudian, para pengikutnya saling terhubung melalui ikatan agama dan menjadikan kuil-kuil Ajaran Luo sebagai basis mereka. Pengikut Ajaran Luo menyebar ke seluruh penjuru Grand Canal dan jumlahnya mencapai sekitar empat puluh atau lima puluh ribu orang.[32] Sekte ini mengembangkan suatu jenis asosiasi perdagangan, yang disatukan oleh keyakinan pada Ajaran Luo. Pada abad ke 18, kelompok ini menjadi salah satu perkumpulan rahasia terbesar di Tiongkok. Mereka memiliki aula jemaat (庵) yang dijaga oleh umat awam di para biksu kadang-kadang juga tinggal di situ.[34] Sebuah laporan pada tahun 1727 menyatakan bahwa di Zhejiang pada awalnya terdapat 72 aula semacam itu, tetapi hanya sekitar tiga puluh yang tersisa saat itu. Aula ini memiliki gambar dewa dan Buddha seperti halnya kuil-kuil pada umumnya. Mereka juga berfungsi sebagai asrama tempat para pelaut bisa tinggal ketika mereka tidak bekerja selama musim dingin.[34] Pemimpin dari kelompok ini adalah Luo Mingzhong (羅明忠) yang merupakan generasi ke-8 dari keturunan Luo Menghong. Kelompok ini menjadi cikal bakal dari kelompok Geng Hijau.[31]
Sepanjang abad ke-18 dan awal abad ke-19, pemerintah Qing berulang kali menindak kelompok-kelompok lokal Luoisme tanpa menghancurkan kelompok yang lebih besar. Para pejabat lokal biasanya merasa bahwa para pengikut Luoisme tidak menimbulkan ancaman bagi ketertiban lokal dan membiarkan mereka, selama tidak ada insiden kekerasan yang memaksa mereka untuk mengambil tindakan.[22] Kelompok Laoguan Zhaijiao tercatat pernah melakukan tindakan kekerasan di Fujian utara pada awal 1748 yang dipicu oleh penangkapan pemimpin lokal mereka yang bernama Chen Guangyao (陳光耀) bersama dengan anggota-anggota lainnya.[35] Pemberontakan ini dengan cepat ditumpas oleh para milisi lokal dan pasukan pemerintahan.[36]
Di Taiwan, kelompok ini berkembang relatif bebas sejak abad ke-19 dan tetap tumbuh subur di masa penjajahan Jepang. Sementara itu, di daratan Tiongkok, walaupun sering ditekan oleh pemerintah, kelompok ini tetap bertahan. Beberapa jaringan kecil yang cukup luas adalah kelompok yang dipimpin Zhang Qikun (張起坤) di awal tahun 1800-an.[37] Kelompok-kelompok Luoisme mengalami masa-masa sulit saat Perang Taiping meletus antara tahun 1851 hingga 1864. Perang saudara besar ini menghancurkan wilayah Yangzi bagian hilir, termasuk tempat tinggal banyak pengikut ajaran ini. Banyak dari mereka yang ikut tewas atau mengungsi bersama penduduk lainnya. Kehancuran inilah yang kemudian mendorong munculnya gerakan pembaruan yang dipimpin oleh seorang penjahit sederhana bernama Pan Sanduo (潘三多) di daerah Jinhua dan seorang bernama Chen Quan (陳權) di daerah Zhuji.[38][39] Di waktu yang hampir bersamaan, para misionaris Kristen mulai berdatangan ke Tiongkok dalam jumlah besar. Ini adalah dampak dari perjanjian yang ditandatangani setelah Perang Candu kedua. Mereka datang dengan dukungan penuh dari negara-negara Barat yang kuat. Gesekan antara kelompok Luoisme dengan Kristen mencapai puncaknya pada tahun 1895, ketika kelompok Laoguan Zhaijiao menyerang para misionaris Protestan, yang dikenal dengan Pembantaian Kucheng.[40][38] Pada tahun itu Longhua Jiao dari kelompok Zhaijiao menyerang para misionaris asal Inggris karena merasa dihina oleh mereka. Hasilnya adalah pembantaian berdarah terhadap pria, wanita dan anak-anak, semuanya berjumlah 11 orang.[41]
Salah satu kelompok Luoisme yang cukup besar adalah Zhenkongdao (真空道 “Jalan Kehampaan Sejati”) yang didirikan di Anhui pada tahun 1860-an. Zhenkongdao adalah cabang Luoisme yang mempromosikan meditasi, penyembuhan, dan pembacaan kitab suci.[42] Kelompok ini meluas ke Fujian pada akhir abad ke-19, dan dari sana menyebar ke seluruh wilayah selatan Tiongkok dan kelompok etnis Tionghoa di Asia Tenggara.[42]
Pada tahun 1950-an, terjadi penindasan besar-besaran terhadap kelompok-kelompok keagamaan baru, yang turut memusnahkan sekte-sekte Luoisme di banyak tempat. Sebelum penindasan agama secara nasional oleh Partai Komunis Tiongkok, ajaran Luoisme masih dapat ditemukan di seluruh provinsi Jiangsu, Zhejiang, Jiangxi, Fujian, dan Taiwan.[43] Akan tetapi represi tersebut telah menyebabkan penurunan secara drastis pada aliran-aliran Luoisme. Beberapa kuil dan vihara ada yang bertahan, tapi banyak sekali yang ditutup.[44] Di Provinsi Fujian saat ini, masih ada sejumlah kecil pengikutnya. Namun demikian, para pengikut ini menyebut diri mereka sebagai umat Buddha dan bergabung dengan perkumpulan Buddha setempat.[20] Di Taiwan sendiri meskipun tidak ditekan seperti di Tiongkok, kelompok-kelompok Luoisme banyak yang kehilangan pijakan dan tidak bertahan. Tapi karena tidak ditindas, ada banyak sekali peninggalan-peninggalan sumber-sumber literasi, bangunan dan artefak-artefak yang masih bertahan dan dimuseumkan di Taiwan.[44]

Teks utama Luojiao adalah lima buku yang ditulis oleh patriark Luo, disebut Wubuliuce / Lima Kitab dalam Enam Jilid (五部六册) atau juga terkadang dinamakan Lima Buku dalam Enam Volume, berjudul Baojuan (寶眷).[45] Buku ini dicetak untuk pertama kali pada tahun 1509.[46] Judul-judul dari Lima Kitab dalam Enam Jilid biasanya disingkat karena sangat panjang. Judul-judul dalam buku tersebut adalah sebagai berikut:[47]

Pada tahun ke-46 Pemerintahan kaisar Wanli pada Dinasti Ming (1618), Lima Kitab dalam Enam Jilid ini dibakar oleh Kementerian Ritual Nanjing.[48]
Selain kitab Wubuliuce, sekte-sekte turunan Luoisme juga menciptakan kitabnya sendiri, seperti contohnya: sekte Mahayana Timur dengan Kitab Bunga Naga / Longhuajing (龍華經) yang ditulis oleh Gongchang (弓長) pada tahun 1654[49], Sekte Patriark Yin yang menekankan pentingnya beberapa kitab seperti Shenglun Baojuan (聖論寶眷), Mingzong xiaoyi baojuan (明宗孝義寶眷), dan Dianjing Jiejing (天經結經)[50]; Xiantiandao dengan Huangji jindan (皇極金蛋) yang ditulis oleh Huang Dehui, dan masih banyak lagi.
Pada dasarnya, sekte-sekte Luoisme mempunyai ajaran dan tradisi yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa berikut ini adalah keyakinan-keyakinan dari kelompok-kelompok Luoisme yang ditemukan jejaknya dalam sejarah:
Dalam banyak sekte-sekte Luoisme, Wusheng Laomu (無生老母) dipuja sebagai dewi pencipta tertinggi. Ia merupakan prinsip feminin abadi yang tidak dilahirkan, yang menciptakan alam semesta dan semua makhluk hidup sebagai "anak-anaknya".[51] Patriark Luo sendiri sebenarnya tidak pernah menyebutkan Lao Mu dalam kitab tulisannya (Wubuliuce) dan menkritik tradisi Seroja Putih dan Maitreyanisme sebagai ajaran yang menyimpang.[52][45] Dalam tulisan-tulisan asli Luo, prinsip yang dianut adalah “Kekosongan Sejati” (真空 Zhēnkōng) yang merupakan ibu dari segala hal.[53] Kata-kata dari patriark Luo dalam kitabnya adalah sebagai berikut:
Tiba-tiba, setelah mencapai satu langkah, hati saya penuh dengan sukacita yang luar biasa. Saya menyadari bahwa tidak ada jalan kembali ke yang bukan wujud dan juga tidak ada jalan kembali ke yang berwujud, Aku adalah Kekosongan Sejati. Ibu (niang 娘) adalah saya dan saya adalah Ibu, pada dasarnya tidak ada dualitas. Batin adalah kosong, lahir adalah kosong, Aku adalah Kekosongan Sejati.[54]
Dalam tulisan-tulisan Luo, simbol wúshēng (無生 “tidak lahir”) berarti keadaan “tidak ada kelahiran dan tidak ada kematian” yang memberikan pencerahan.[55] Karena dalam tulisan-tulisan sektarian sering muncul tulisan Wusheng Laomu, ada godaan tertentu untuk mengartikan Wusheng sebagai bentuk ringkas dari Wusheng Laomu.[56] Dalam perkembangannya banyak kelompok-kelompok pengikutnya yang menintepretasikan tulisan dalam kitab tersebut sebagai Wusheng Laomu.[57] Keyakinan ini dianut oleh banyak sekte-sekte Luoisme salah satunya adalah kelompok di daerah selatan yang dipimpin Yin Ji'nan yang berasal dari Huangtianjiao,[13] dan kelompok sekte Mahayana Timur yang dipimpin oleh Wang Sen.[58] Beberapa simbol-simbol seperti Wuji (舞技 “Yang Tak Terbatas”), Zhen (真 “Sejati”, “Kebenaran Sejati”), Gufo (古佛 “Buddha Kuno”) diasosiasikan sebagai sifat dari sosok Ibu Suci Abadi yang bertempat di Istana Bidadari Agung.[53] Meskipun dalam kitab suci Luo Menghong, Yang Mutlak digambarkan secara impersonal dan abstrak, tapi juga disebutkan tentang Wuji Shengzu (無極生祖), Wuji Fumu (無極父母) dan simbol Ibu (母 atau 娘), sehingga oleh pengikutnya diasosiasikan sebagai Laomu.[53]
Kitab Bunga Naga (龙华经), kitab yang dibuat oleh Gongchang (弓長), murid dari Wang Sen, pemimpin Sekte Mahayana Timur menggambarkan bahwa Lao Mu mengirimkan 9,6 miliar putra dan putrinya ke dunia fana yang ada di timur. Setelah lupa dengan sifat asli mereka akibat godaan dunia, mereka perlu dituntun dan diantarkan kembali ke kampung halaman, Surga Tusita yang ada di Barat tempat Lao Mu bernaung.[58]
Daning (大甯), seorang biksu yang menjadi murid patriark Luo, menulis sebuah teks untuk menggambarkan Lao Mu dan membuat isinya seolah-olah seperti adalah ucapan Sang Buddha:
Ananda bertanya kepada Sang Buddha: “Apa yang dimaksud dengan Wusheng Fumu? Sang Bhagava menjawab: "Yang Tidak Terlahir, ini berarti asal dari semua Buddha, fondasi dari segala sesuatu, tempat kelahiran yang asal (kampung halaman) semua manusia. Ini juga merupakan tubuh dharma dari Yang Tak Terbatas (wuji), yang disebut sebagai penguasa alam.“[59]
Gambaran mengenai Wusheng Laomu semakin jelas pada masa Mingkong (明空), generasi ketujuh patriark dari salah satu sekte Luoisme awal. Simbol dari Wusheng Fumu yang tertulis di kitab tulisan patriark Luo sebagai sesuatu yang abstrak telah berubah sepenuhnya menjadi Wusheng Mu, sosok dewa tertinggi yang penuh welas asih yang kehilangan anak-anaknya.[60]
Pada dasarnya, Luo Qing tidak pernah menyebutkan teori kosmologi tiga masa pancaran dalam buku-bukunya. Ajaran awal sekte-sekte Luoisme awal sangat jauh dari unsur mesianis yang meyakini akan segera datangnya bencana akhir, termasuk teori tiga masa pancaran. Tetapi di sekte-sekte Luoisme pimpinan Patriark Yin, mulai muncul keyakinan bahwa manusia telah hidup di masa Dharma Akhir (末法), di mana ajaran Buddha tidak lagi diajarkan seperti pada masa awalnya.[61] Pada abad ke-17, ajaran Luo mulai digabungkan dengan kepercayaan rakyat lainnya, yaitu milenarianisme Maitreya dan pemujaan terhadap Laomu.[62][63] Dalam representasi mitologi baru dari Luoisme, manusia adalah anak-anak dari dewi primordial.[62] Karena tersesat dengan dunia fana, mereka telah melupakan asal-usul surgawi mereka, dan karenanya sang Ibu mengirim utusan untuk mengingatkan anak-anaknya agar kembali ke surga pada Tiga Masa Pancaran, yaitu Dipankara, Gautama, dan Maitreya yang akan datang.[62] Eskatologi Tiga Masa Pancaran sendiri sebenarnya juga merupakan tradisi Seroja Putih dan Maitreyanisme yang secara keras dikritik dalam tulisan asli patriark Luo. Tapi pada perkembangannya, banyak sekte-sekte Luoisme seperti yang dipimpin oleh Mingkong, Yin Ji'nan, Huang Dehui menggunakan doktrin ini sebagai bagian dari dasar keyakinan sekte.[64][60] Keyakinan ini juga merupakan tradisi Hunyuan dari Huangtiandao, kelompok asal Yin Ji'nan.[13] Dalam sebagian besar kitab suci agama keselamatan, ketiga periode ini dikenal sebagai Periode Pancaran Hijau (清陽 qingyang), Pancaran Merah (紅陽 hongyang), dan Pancaran Putih (白陽 baiyang).[65]
Patriark Luo menolak pemujaan terhadap benda-benda seperti patung, kitab suci, gambar dan sejenisnya dan menganggap itu adalah sesuatu yang berhala.[45] Pandangan yang diyakini adalah semua orang itu dianggap sebagai Buddha, sehingga pemujaan terhadap Buddha menjadi tidak berguna.[66] Selain pemujaan patung, pengikut Luoisme juga menganggap bahwa semua ritual seperti membaca parita, membaca nama Buddha, membakar uang kertas untuk orang yang telah meninggal, serta mengajak orang untuk berdana adalah sia-sia.[67] Menurut Bernard J. Ter Har, keyakinan dan pratek dari Luoisme pada awal berdirinya mempunyai kemiripan dengan tradisi Kristen (terutama Protestan) yang menolak adanya pemujaan terhadap patung dan leluhur.[68] Zhuhong (袾宏), salah satu bikhu Buddhisme yang paling terkenal di masa itu mengkritik Wubuliuce atas penolakan para pengikut Luoisme yang menolak penyembahan pada patung.[69]
Sama halnya seperti umat awam di Tiongkok, pengikut Luoisme rata-rata masih percaya bahwa setelah kematian, semua roh akan dijemput oleh pengawal akhirat dan menjalani pengadilan di bawah raja Neraka, Giam Lo Ong.[70] Namun, pengikut Luoisme biasanya menolak berbagai macam ritual seperti persembahan makanan, bakar kertas atau pembacaan mantra tertentu, karena hal tersebut dianggap tidak berguna.[71] Para pengikut ajaran memiliki asumsi dasar yang sama, yaitu bahwa Raja Yama mengawasi keseluruhan sistem kematian dan kelahiran kembali secara tidak memihak.[72] Patriark Luo secara khusus juga menganggap aktivitas seperti meditasi tidak berguna di hadapan Raja Neraka.[71] Hal terpenting bagi para pengikut ajaran Luoisme biasanya lebih mementingkan cara hidup yang benar semasa hidup dan bervegetarian.
Kelompok-kelompok Luoisme memiliki semacam proses inisiasi pada pengikut baru yang disebut “transmisi terpisah di luar ajaran” (教外別傳) dalam beberapa tingkatan sebagai bentuk transmisi oral untuk kebenaran yang lebih mendalam dan menggunakan karakter pu (普) untuk pria dan miao (妙) untuk wanita sebagai affiliasi bagi mereka yang telah diinisiasi.[44][73] Ada tiga tingkatan inisiasi, di mana orang yang diinisiasi akan diberikan syair dan sutra tanpa aksara (無字真經) serta mengucapkan semacam sumpah untuk tidak membocorkannya, di mana yang melanggar akan dikenai hukuman supernatural dari langit.[66][74] Sekte Luoisme awal menekankan pentingnya untuk menemukan seorang guru yang mencapai penerangan untuk mentransmisikan jalan keselamatan, sebuah ritual inisiasi untuk membuka pintu misterius (玄關).[75] Istilah teknis untuk inisiasi ini disebut sebagai “mendapatkan dao” (得道). Patriark Luo berulang kali memastikan bahwa mereka yang telah diinisiasi (得道人) dan menjadi anggota komunitasnya (道中人) akan terselamatkan.[76]
Pada era Patriark Yao atau bahkan sebelumnya, "naik ke atas" (上關) adalah istilah untuk insiasi yang mengkonversi seseorang menjadi pengikut ajaran.[77] Pada tahun 1604, pejabat Fujian menggambarkan penyebaran ajaran kelompok-kelompok ini dan pratik mereka sebagai "sebuah mantra saat malam hari di ruang rahasia".[66] Praktik-praktik estoris yang dilakukan di sini adalah pembukaan pintu suci (玄關), transmisi ucapan/mantra rahasia dan segel hati (心印).[78] Kelompok Luoisme yang dipimpin Yin Ji'nan sangat menekankan pentingnya pembukaan pintu suci ini. Proses transmisi ini juga disebut akan membuat para pengikutnya yang telah diinisiasi akan terbebas dari gerbang neraka dan setan yang mengawal orang yang baru saja meninggal ke alam baka (無常).[79] Di dalam kitab Kitab Bunga Naga (龍華經) juga disebutkan bahwa Laomu mengungkapkan mantra rahasia yang hanya boleh diucapkan dalam hati sebagai jalan keselamatan.[80] Praktik ini kemungkinan berasal dari tradisi Hunyuan pai (渾圓派) atau juga dikenal sebagai Hongyang Jiao (弘陽教) yang didirikan oleh Piaogao (飄高) pada tahun 1594.[78] Pembukaan Pintu suci dan transmisi mantra rahasia, yang dibuktikan dalam beberapa kitab suci mereka, menunjukkan pentingnya ritual inisiasi ini bagi kelompok-kelompok Luoisme. Kelompok mereka meyakini keanggotaan adalah golongan orang-orang terpilih, yang ditakdirkan untuk bertemu dengan ajaran yang benar, merupakan prasyarat untuk saling mendukung dan juga untuk keselamatan. Hanya mereka yang “ditakdirkan” (有緣人) yang akan diselamatkan.[81] Kelompok Luoisme daerah Jinhua yang dipimpin oleh Pan Sanduo (潘三多) menggunakan istilah "membuka Cahaya" (開光) untuk proses inisiasi ini yang dilakukannya dengan menitik wajah (面點).[82]
Patriark Luo mengajarkan bahwa ritual membaca parita dan menyebut nama Buddha Amitabha saja tidaklah cukup untuk mencapai alam Sukhavati. Ia ingin para pengikutnya untuk juga menjalankan praktik disiplin pada diri, dan menyebutkan bahwa Tanah Suci Sukhavati itu adalah di dalam diri setiap manusia, bukannya di luaran.[83] Walaupun patriark Luo menganggap membaca parita dan nama Buddha Amitabha sebagai hal yang kurang efektif, tujuan utama dari banyak kelompok Luoisme adalah bisa terlahir di Tanah Suci Amitabha dan bisa menjadi orang yang bisa berkumpul di Pertemuan Bunga Naga (龍華會).[15] Dalam kosmologi Zhaijiao, dijelaskan bahwa selama 3 kali pertemuan Bunga Naga, pertemuan pertama berfokus pada membangkitkan Alkimia Batin, pertemuan kedua berfokus pada meditasi gaya Zen, sedangkan pertemuan ketiga akan berfokus pada “Prinsip Kitab Suci Sejati Tanpa Kata-kata” (無字真經).[84]
Sun Zhenkong (孫真空), generasi keempat dari salah satu sekte Luoisme awal yang bernama Nanwu Jiao (南無教) menekankan pentingnya sering menyebut nama Amitabha sebagai praktik yang harus sering dilakukan.[75] Ia menulis sebuah buku berjudul "Gulungan Berharga tentang Pembersihan Pikiran Kekosongan Sejati" (銷釋真空掃心寶眷) yang tertulis:
Saya mendorong Anda semua untuk menyebut nama Buddha dan membuat kemajuan dalam pengembangan diri. Karena Wusheng Laomu dan Pertemuan Bunga Naga telah menanti anak-anak sejak lama.
Para pengikut Luoisme tidak mau makan daging karena meyakini bahwa hal tersebut melibatkan penyembelihan mahluk hidup (menyebabkan karma buruk) dan tidak minum alkohol karena itu menyebabkan hilangnya kesadaran (menyebabkan kemelekatan).[15] Pola makan yang diterapkan oleh Zhaijiao dari Luoisme mengacu pada istilah Zhai (斋) yang mengindikasikan pola makan ideal ala Buddhis yang menghindari daging, ikan, anggur dan lima macam rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, bawang bombay, kucai, lokio).[85] Di kalangan kekaisaran, istilah ini menunjukkan serangkaian praktik pemurnian yang harus dilakukan oleh semua peserta dalam Pengorbanan di Altar Bundar (yaitu pengorbanan yang dipersembahkan ke surga oleh kaisar) selama tiga hari sebelum acara tersebut.[85]
Ada tiga ritual utama yang biasanya dilakukan oleh sekte-sekte Luoisme. Sedangkan khusus untuk sekte Luoisme aliran Jiangsu, ada tambahan ritual pemakaman yang dilakukan pada anggota mereka yang meninggal.
Ritual inisiasi atau juga disebut ritual mengambil perlindungan (皈依科) adalah ritual yang dilakukan pada saat ada anggota baru yang bergabung. Ritual ini dibagi menjadi beberapa tahapan, di mana tiga tingkatan pertama disebut sebagai "transmisi khusus di luar kitab suci". Sebelum ritual dilakukan, persembahan buah-buahan dan makanan vegetarian dilakukan di depan altar, dan kemudian calon anggota akan berlutut di mana pria di sebelah kiri dan wanita di sebelah kanan.[86] Sambil memegang dupa, anggota mengucapkan 48 ikrar kepada Buddha Amitabha. Selanjutnya seorang pencatat di samping akan memeriksa nama-nama calon anggota yang diyakini merupakan nama yang tercatat di neraka, dan kemudian dilanjutkan dengan proses transmisi "sutra sejati tanpa aksara" (無字真經) serta "segel hati" (心印).[87] Para calon anggota juga diharuskan untuk menjaga tiga mustika dan menjalankan lima sila, serta menjaga kerahasiaan sutra sejati tanpa aksara,[88] serta aktif dalam merekrut anggota baru.
Ritual puasa vegetarian ini dimulai dengan doa mengucapkan Amitābha, dengan harapan terbebas dari siklus kelahiran kembali. Kemudian diikuti pemanggilan Delapan Dewa. Ritual dibuka dengan pembakaran dupa, persembahan teh dan buah, serta penyalaan lilin. Para peserta kemudian membaca Sutra Seroja, dan sutra ajaran mereka Tian Yuan Jing (天緣經). Setelah serangkaian ritual tersebut, dilanjutkan memorial dengan menyebut daftar panjang para dewa, termasuk Amitabha, Dewa-Dewi Tertinggi Langit dan Bumi, Lao Mu (sebagai yang mengirim patriark Luo atau Ying ke bumi), Luo Qing, Patriark Ying, Patriark Yao, Guanyin, dan dewa-dewa lain, serta murid-murid Patriark Ying dan Patriark Yao dan juga istri mereka dan keturunannya.[89]
Selanjutnya disebutkan nama-nama tokoh Buddha, seperti Shakyamuni, Maitreya dan Pemimpin Pertemuan Bunga Naga yang akan terlahir di masa depan, Buddha Panjang Umur Tanpa Akhir (无量寿佛 Wuliang Shoufo) yang diyakini turun ke altar tempat mereka berada, diikuti dengan penyebutan kembali para Patriark mereka dan Amitabha. Pemimpin lokal kemudian mengundang Patriark Suci, para Buddha, dan dewa-dewa lain untuk datang ke Acara Vegetarian tersebut, yang kemudian ditutup dengan mengundang dewa-dewa lokal dan membaca Sutra Seroja serta melafalkan nama Amitabha sekali lagi. Setelah mempersembahkan dupa dan meyakini semua para Buddha dan dewa makan, barulah mereka makan bersama.[89]
Ritual ini dilakukan dengan keyakinan agar cahaya dari ajaran tersebut meresap ke dalam hati setiap orang dan menyebar ke mana-mana, sama seperti pancaran sinar Patriark Luo yang tercerahkan, sama seperti sinar tak terbatas Buddha Amitābha. Dalam ritual ini, kitab suci utama mereka, Lima Buku dalam Enam Jilid, dibacakan selama beberapa hari penuh, sementara lilin menyala sebagai simbol cahaya pencerahan Luo. Ritual dimulai dengan membakar dupa, membungkuk, lalu membuka kitab suci. Nama Buddha Amitābha dan para dewa pelindung dipanggil agar tidak ada kekuatan jahat yang mengganggu. Kitab suci dibacakan diselingi dengan doa, puisi, dan nyanyian pujian. Setiap bacaan dianggap membawa berkah: memperpanjang umur orang tua, menuntun leluhur hingga sembilan generasi ke Tanah Murni, dan membagikan pahala kepada semua makhluk, termasuk roh di alam bawah. Ritual ditutup dengan pembacaan kembali Sutra Hati, lalu semua merasa telah ikut serta dalam sebuah perayaan cahaya yang mereka namakan sebagai sebuah "Perjamuan Bunga Naga".[90]
Ritual ini biasanya dilakukan untuk mengantar jiwa orang yang telah meninggal agar bisa menuju ke Tanah Murni dan hanya ditemukan di sekte-sekte Luoisme Jiangsu. Ritual ini biasanya dilakukan pada jenazah di dalam peti mati. Sekte Luoisme menolak penggunaan uang kertas untuk arwah dan lebih banyak melakukan pembacaan sutra, puisi serta nama Amitābha. Jenazah biasanya akan menerima sebuah sertifikat bernama “dokumen perjalanan pulang,” yang menandakan bahwa Nirwana adalah rumah sejati, sementara kehidupan di dunia hanyalah siklus kelahiran kembali yang tiada akhir. Mereka juga diberi dokumen tambahan sebagai bukti bahwa telah masuk ke Tanah Suci. Ritual ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu pembakaran dupa diikuti pembacaan puisi singkat dan Sutra Hati, serta mantra melindungi dari gangguan roh jahat, pembacaan puisi untuk menenangkan arwah dan petunjuk menggali liang kubur, dan dilanjutkan dengan prosesi membawa peti ke makam. Puisi yang dibacakan menegaskan bahwa arwah tidak akan masuk ke alam baka, melainkan menuju Tanah Suci di Barat. Bagian akhir ritual adalah persembahan dupa secara sistematis. Anak berbakti mempersembahkan sepuluh batang dupa, masing‑masing melambangkan tahap perjalanan arwah dari dunia fana menuju Gerbang Buddha.[91]