Kota Tangerang Selatan adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini terletak 90 km sebelah tenggara ibu kota Provinsi Banten, yaitu Kota Serang. Kota ini merupakan bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabekjur dan terletak sekitar 24 km di sebelah barat daya dari pusat Kota Jakarta. Jumlah penduduk Tangerang Selatan pada semester pertama tahun 2025 sebanyak 1.474.311 jiwa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kota Tangerang Selatan | |
|---|---|
| Julukan: Kota Anggrek | |
| Motto: Cerdas, modern, religius | |
![]() Peta | |
| Koordinat: 6°17′20″S 106°43′05″E / 6.2889°S 106.7181°E / -6.2889; 106.7181 | |
| Negara | |
| Provinsi | Banten |
| Tanggal berdiri | November 26, 2008 (2008-11-26) |
| Dasar hukum | UU Nomor 51 Tahun 2008 |
| Jumlah satuan pemerintahan | Daftar
|
| Pemerintahan | |
| • Jenis | Wali kota—dewan |
| • Badan | Pemerintah Kota Tangerang Selatan |
| • Wali Kota | Benyamin Davnie |
| • Wakil Wali Kota | Pilar Saga Ichsan |
| • Sekretaris Daerah | Bambang Noertjahjo |
| • Ketua DPRD | Abdul Rasyid |
| Luas | |
| • Total | 164,86 km2 (63,65 sq mi) |
| Peringkat | 54 |
| Populasi | |
| • Total | 1.474.311 |
| • Peringkat | 14 |
| • Kepadatan | 8,900/km2 (23,000/sq mi) |
| Demografi | |
| • Agama | |
| • Bahasa | Indonesia (resmi) Sunda (Tangerang) Betawi |
| • IPM | sangat tinggi [2] |
| Zona waktu | UTC+07:00 (WIB) |
| Kode BPS | |
| Kode area telepon | 021 |
| Pelat kendaraan | B |
| Kode Kemendagri | 36.74 |
| Kode SNI 7657:2023 | CPT |
| DAU | Rp 619.411.148.000.- |
| Situs web | www |
Kota Tangerang Selatan adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Banten, Indonesia. Kota ini terletak 90 km sebelah tenggara ibu kota Provinsi Banten, yaitu Kota Serang. Kota ini merupakan bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabekjur dan terletak sekitar 24 km di sebelah barat daya dari pusat Kota Jakarta. Jumlah penduduk Tangerang Selatan pada semester pertama tahun 2025 sebanyak 1.474.311 jiwa.[1][3]
Kota Tangerang Selatan awalnya termasuk di wilayah keresidenan Batavia. Keresidenan ini telah dibentuk pada zaman penjajahan Belanda. Kemudian berkembang menjadi bagian dari Kabupaten Tangerang. Pada saat itu, ada 3 etnis yang mendominasi di Tangerang Selatan, yakni Mayoritas orang Betawi, Sunda, dan Tionghoa.[4]
Kota Tangerang Selatan mulai menjadi kota mandiri sejak tahun 2008. Pembentukan wilayah ini sebagai kota otonom berawal dari keinginan warga di kawasan Tangerang Selatan untuk menyejahterakan masyarakat. Warga merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.[4][5]
Berdasarkan hal itu, bertahun-tahun dilakukan perundingan akhirnya dibuatlah sebuah Undang Undang pendirian Tangerang Selatan yaitu UU Nomor 51 Tahun 2008, tertanggal 26 November 2008. Undang Undang tersebut kemudian menjadi pelengkap dari sejarah Kota Tangerang Selatan.[6] Pembentukan Kota Tangerang Selatan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, dengan 7 kecamatan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Tangerang pada 27 Desember 2006.[4]
Pada 27 Desember 2006, DPRD Kabupaten Tangerang menyetujui terbentuknya Kota Tangerang Selatan yang terdiri atas 7 kecamatan, yakni kecamatan Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu.[4] Serta menetapkan kecamatan Ciputat sebagai pusat pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten Tangerang juga telah menyiapkan dana sebesar 20 Miliar untuk proses awal berdirinya Kota Tangerang Selatan. Dana itu dianggarkan untuk biaya operasional kota baru selama 1 tahun pertama dan merupakan modal awal dari daerah induk untuk wilayah hasil pemekaran.
Tangerang Selatan terletak di ujung timur Provinsi Banten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta, khususnya dengan Kota Depok dan Kabupaten Bogor untuk Provinsi Jawa Barat dan dengan Kota Jakarta Selatan untuk Provinsi DKI Jakarta. Kota ini terletak pada titik koordinat 106°38'–106°47' BT dan 06°13'30"–06°22'30" LS. Wilayah Kota Tangerang Selatan dilintasi oleh Kali Angke, Kali Pesanggrahan, dan Sungai Cisadane sebagai batas administrasi kota di sebelah barat.
Tangerang Selatan berbatasan langsung dengan Kota Jakarta Selatan di Provinsi DKI Jakarta pada sisi timur. Selain itu, Tangerang Selatan juga menjadi daerah yang menghubungkan antara tiga provinsi sekaligus, yaitu Provinsi Banten, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi DKI Jakarta.
| Utara | Kota Tangerang |
| Timur | Provinsi DKI Jakarta (Jakarta Selatan) |
| Selatan | Provinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor) |
| Barat | Kabupaten Tangerang (Kecamatan Kelapa Dua, Pagedangan, dan Cisauk) |
Sebagian besar wilayah Kota Tangerang Selatan merupakan dataran rendah dan memiliki topografi yang relatif datar dengan kemiringan tanah rata-rata 0–3% sedangkan ketinggian wilayah antara 0 – 25 m dpl. Untuk kemiringan garis besar terbagi dari 2 bagian, yaitu :
Kota Tangerang Selatan merupakan daerah yang relatif datar. Beberapa kecamatan memiliki lahan yang bergelombang seperti di perbatasan antara Kecamatan Setu dan Kecamatan Pamulang serta sebagian di Kecamatan Ciputat Timur.
Kondisi geologi Tangerang Selatan umumnya adalah batuan alluvium, yang terdiri dari batuan lempung, lanau, pasir, kerikil, dan bongkah. Jenis batuan ini mempunyai tingkat kemudahan dikerjakan yang baik sampai sedang, unsur ketahanan terhadap erosi cukup baik oleh karena itu wilayah Kota Tangerang Selatan masih cukup layak untuk kegiatan perkotaan. Dilihat dari sebaran jenis tanahnya, pada umumnya di Tangerang Selatan berupa asosiasi latosol merah dan latosol coklat kemerahan yang secara umum cocok untuk pertanian atau perkebunan.[butuh rujukan]
Meskipun demikian, dalam kenyataannya makin banyak yang berubah penggunaannya untuk kegiatan lainnya yang bersifat non-pertanian. Untuk sebagian wilayah seperti Kecamatan Serpong dan Kecamatan Setu, jenis tanah ada yang mengandung pasir khususnya untuk wilayah yang dekat dengan Sungai Cisadane.
Berdasarkan klasifikasi Köppen, Kota Tangerang Selatan dikategorikan sebagai wilayah yang beriklim hutan hujan tropis (Af) dengan intensitas curah hujan tahunan berkisar antara 1.500–2.400 mm per tahun. Temperatur udara berada di sekitar 23 °C–33 °C. Rata-rata kelembaban udara adalah 80,0% sedangkan intensitas matahari adalah 49,0%. Keadaan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember hingga Februari, yaitu >250 mm per bulan, sedangkan keadaan curah hujan terendah terjadi di bulan Agustus >70 mm dan rata-rata curah hujan dalam setahun adalah ±165 mm. Rata-rata hari hujan per tahun berkisar antara 80 hingga 120 hari hujan per tahun. Rata-rata kecepatan angin dalam setahun adalah 4,9 km/jam dan kecepatan maksimum rata-rata 38,3 km/jam.
| Data iklim Tangerang Selatan, Banten, Indonesia | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi °C (°F) | 31.5 (88.7) |
31.3 (88.3) |
32.5 (90.5) |
32.9 (91.2) |
33.0 (91.4) |
32.9 (91.2) |
32.9 (91.2) |
33.4 (92.1) |
33.9 (93) |
33.9 (93) |
33.1 (91.6) |
32.3 (90.1) |
32.8 (91.03) |
| Rata-rata harian °C (°F) | 26.8 (80.2) |
26.7 (80.1) |
27.2 (81) |
27.6 (81.7) |
27.9 (82.2) |
27.6 (81.7) |
27.4 (81.3) |
27.6 (81.7) |
28.1 (82.6) |
28.2 (82.8) |
27.7 (81.9) |
27.3 (81.1) |
27.51 (81.52) |
| Rata-rata terendah °C (°F) | 23.8 (74.8) |
23.8 (74.8) |
24.1 (75.4) |
24.3 (75.7) |
24.4 (75.9) |
24.1 (75.4) |
23.6 (74.5) |
23.6 (74.5) |
23.8 (74.8) |
24.2 (75.6) |
24.1 (75.4) |
23.9 (75) |
23.98 (75.15) |
| Presipitasi mm (inci) | 275 (10.83) |
291 (11.46) |
188 (7.4) |
204 (8.03) |
163 (6.42) |
106 (4.17) |
84 (3.31) |
65 (2.56) |
80 (3.15) |
156 (6.14) |
215 (8.46) |
200 (7.87) |
2.027 (79,8) |
| Rata-rata hari hujan | 13 | 13 | 9 | 9 | 8 | 5 | 4 | 3 | 4 | 7 | 10 | 10 | 95 |
| % kelembapan | 85 | 86 | 83 | 83 | 81 | 78 | 76 | 73 | 72 | 75 | 80 | 82 | 79.5 |
| Kemungkinan sinar matahari (persen) | 39 | 38 | 49 | 55 | 57 | 67 | 71 | 81 | 69 | 60 | 57 | 41 | 57 |
| Sumber #1: BMKG[7] | |||||||||||||
| Sumber #2: Climate-Data.org[8] & Weatherbase[9] | |||||||||||||
Wali kota Tangerang Selatan adalah pemimpin tertinggi di lingkungan pemerintah Kota Tangerang Selatan. Wali kota Tangerang Selatan bertanggungjawab kepada gubernur provinsi Banten. Saat ini, wali kota atau kepala daerah yang menjabat di Kota Tangerang Selatan ialah Benyamin Davnie, dengan wakil wali kota Pilar Saga Ichsan. Mereka menang pada Pemilihan umum Wali Kota Tangerang Selatan 2020, untuk periode jabatan 2021-2024, dan dilantik oleh Gubernur Banten, Wahidin Halim, pada tanggal 26 April 2021 di Pendopo Provinsi Banten Kota Serang.[10] Benyamin merupakan wali kota Tangerang Selatan ke-2 setelah kota dibentuk tahun 2008.
| No | Wali Kota | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Prd. | Ket. | Wakil Wali Kota | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 2 | Drs. H. Benyamin Davnie | 26 April 2021 | petahana | 3 (2020) |
[10] | Pilar Saga Ichsan | |||
Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Tangerang Selatan dalam tiga periode terakhir.
| Partai Politik | Jumlah Kursi dalam Periode | |||
|---|---|---|---|---|
| 2014–2019[11][12] | 2019–2024[13] | 2024–2029 | ||
| PKB | 3 | |||
| Gerindra | 7 | |||
| PDI-P | 9 | |||
| Golkar | 9 | |||
| NasDem | (baru) 3 | |||
| PKS | 5 | |||
| Hanura | 6 | |||
| PAN | 3 | |||
| Demokrat | 3 | |||
| PSI | (baru) 4 | |||
| PPP | 2 | |||
| Jumlah Anggota | 50 | |||
| Jumlah Partai | 10 | |||
Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 kecamatan dan 54 kelurahan dengan jumlah penduduk pada tahun 2017 diperkirakan sebesar 1.244.204 jiwa dan luas wilayah 147,19 km² dengan kepadatan 8.453 jiwa/km².[14][15]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Tangerang Selatan, adalah sebagai berikut:
| Kode Kemendagri | Kecamatan | Ibu kota | Kodepos[16] | Jumlah Kelurahan | Daftar Kelurahan |
|---|---|---|---|---|---|
| 36.74.04 | Ciputat | Sawah | 15411-15414 | 7 | |
| 36.74.05 | Ciputat Timur | Pondok Ranji | 15441-15446 | 6 | |
| 36.74.06 | Pamulang | Pamulang Barat | 15431-15438 | 8 | |
| 36.74.03 | Pondok Aren | Perigi Baru | 15421-15429 | 11 | |
| 36.74.01 | Serpong | Serpong | 15311-15318 | 9 | |
| 36.74.02 | Serpong Utara | Pondok Jagung | 15331-15337 | 7 | |
| 36.74.07 | Setu | Babakan | 15341-15346 | 6 | |
| TOTAL | 54 |

Kota Tangerang Selatan berada di pulau Jawa, dan berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2020, per bulan September 2020, penduduk kota ini sebanyak 1.354.350 jiwa, di mana laki-laki sebanyak 678.159 jiwa dan perempuan sebanyak 676.191 jiwa.[17] Luas wilayah Tangerang Selatan yakni 164,86 km² kepadatan penduduk sekitar 8,900 jiwa/km².[3]
Kota Tangerang Selatan termasuk sebagai salah satu kota industri, sehingga banyak penduduk dari luar provinsi Banten bekerja dan menetap di Tangerang Selatan. Hal ini juga memengaruhi keberagaman penduduk kota ini, baik dari segi suku bangsa maupun agama yang dianut. Dahulu, penduduk Tangerang Selatan umumnya didominasi oleh tiga kelompok etnis, yakni Betawi, Sunda Banten, dan Tionghoa. Suku Sunda Banten mendominasi wilayah bagian barat Tangerang Selatan, yakni di sebelah barat sepanjang aliran Sungai Cisadane. Secara geografis, penyebarannya terdapat di Serpong, Serpong Utara, dan sebagian Setu.[4]

Bahasa daerah yang digunakan di Kota Tangerang Selatan adalah bahasa Betawi dan bahasa Sunda dialek Tangerang. Bahasa Betawi dituturkan hampir di seluruh wilayah Tangerang Selatan, kecuali di bagian barat sepanjang aliran Sungai Cisadane. Sedangkan bahasa Sunda dituturkan di sebelah barat sepanjang aliran Sungai Cisadane, yang dominannya digunakan di kampung-kampung yang berada di pinggir aliran sungai, khususnya di Serpong Utara. Di beberapa kelurahan yang terletak di bagian barat juga terdapat beberapa wilayah peralihan bahasa yang kebanyakan terdapat di Serpong, Setu, dan sebagian kecil kampung di Pondok Aren bagian barat.[18]
Terdapat sebuah kampung di kecamatan Setu yakni Kampung Ekowisata dan Budaya Sunda Keranggan yang dahulu hampir seluruh masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda (saat ini hanya dituturkan secara dominan di 2 RT).[19][20]

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri 2024 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kota Tangerang Selatan menganut agama Islam yakni sebanyak 89,22%. Penduduk dari suku Sunda, Jawa, Betawi, Banten, Minangkabau, Melayu, pada umumnya beragama Islam. Pemeluk agama Kristen sebanyak 9,54%, dengan rincian Protestan sebanyak 5,97% dan Katolik 3,57%, yang umumnya dianut oleh suku Batak, Minahasa, Tionghoa, sebagian kecil Jawa, dan lainnya. Kemudian penduduk yang menganut agama Buddha sebanyak 0,97%, umumnya adalah orang Tionghoa, dan agama Hindu dianut sebanyak 0,22%, umumnya adalah orang Bali dan Konghucu dianut sebanyak 0,05%.[3]
| No | Agama | Jumlah (2025)[21] | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Islam | 1.315.394 | 89,22% |
| 2 | Kristen Protestan | 88.374 | 5,99% |
| 3 | Katolik | 52.444 | 3,56% |
| 4 | Budha | 14.157 | 0,96% |
| 5 | Hindu | 3.186 | 0,22% |
| 6 | Konghucu | 734 | 0,05% |
| 7 | Aliran Kepercayaan | 22 | <0,01% |
| Total | 1.474.311 | 100% | |
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kota Tangerang Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.5.256.882, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp.2.768.764. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2007 mencapai 1.042.682 orang, PDRB per-kapita adalah sebesar Rp.5.042.000.
Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB per-kapita. Pada tahun 2007, Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) adalah sebesar 6,51%. Pada tahun 2003, PDRB per-kapita atas dasar harga konstan adalah sebesar Rp 863.517. Kecamatan yang memberikan kontribusi paling besar adalah Kecamatan Ciputat Timur yaitu sebesar Rp 167 Triliun atau 31,93% dari total PDRB. Sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Setu dengan Rp 71 Triliun atau 1,35%.
Berdasarkan Data PDRB tahun 2007, struktur ekonomi Tangerang Selatan didominasi oleh sektor Usaha Pengangkutan dan Komunikasi (30,29%) serta Perdagangan Hotel dan Restoran (26,81%). Sektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar adalah Bank, Persewaan dan Jasa Perusahaan (15,40%).
Struktur ekonomi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier, yaitu Pengangkutan dan Komunikasi, Perdagangan Hotel dan Restoran serta Bank, Persewaan dan Jasa Perusahaan, yang memberikan kontribusi hampir 90%.
Sektor sekunder berupa Industri Pengolahan; Listrik, Gas, Air Bersih, dan Konstruksi memberikan kontribusi 8,76%, dan sektor primer seperti Pertanian, Pertambangan dan Penggalian hanya memberikan kontribusi kurang dari 2%. Jika dilihat kecenderungan sejak tahun 2004 hingga tahun 2007, sektor primer dan sekunder mengecil kontribusinya secara signifikan sedangkan sektor tersier meningkat kontribusinya.
Pada tahun 2020 Kota Tangerang Selatan memiliki 1.131 sekolah, 269.593 siswa dan 15.398 guru yang tersebar di berbagai kecamatan, meliputi jenjang TK, SD, SMP, dan SMA.[22] Dengan rincian sebagai berikut;
| Kecamatan | Jumlah Sekolah Tahun 2023 | Jumlah Siswa Tahun 2023 | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| TK | SD | SMP | SMA | SMK | TK | SD | SMP | SMA | SMK | |
| Setu | 31 | 15 | 10 | 2 | 5 | 648 | 8.010 | 3.251 | 1.763 | 2.314 |
| Serpong | 62 | 59 | 41 | 27 | 13 | 2.318 | 20.820 | 9.706 | 5.615 | 3.095 |
| Pamulang | 103 | 71 | 42 | 15 | 15 | 3.494 | 25.940 | 10.783 | 4 474 | 7.635 |
| Ciputat | 87 | 55 | 37 | 15 | 16 | 2.912 | 23.426 | 8.435 | 7.081 | 8.445 |
| Ciputat Timur | 65 | 28 | 19 | 10 | 14 | 2.288 | 12.548 | 7.873 | 4.004 | 2.610 |
| Pondok Aren | 122 | 78 | 46 | 21 | 15 | 4.001 | 28.810 | 11.445 | 5.106 | 4.560 |
| Serpong Utara | 45 | 35 | 18 | 10 | 4 | 1.746 | 13.273 | 6.323 | 3.667 | 3.001 |
| Kota Tangerang Selatan | 515 | 341 | 213 | 100 | 82 | 17.872 | 132.827 | 57.816 | 31.710 | 31.660 |

Kota Tangerang Selatan menjadi lokasi berapa Perguruan Tinggi terkemuka, antara lain;
Perguruan Tinggi Negeri
Perguruan Tinggi Swasta



Kota Tangerang Selatan memiliki 5 stasiun Commuter Line yang masih beroperasi, di antaranya:
Selain itu, Kota Tangerang Selatan juga memiliki 1 stasiun yang sudah berhenti beroperasi dikarenakan Vandalisme, yaitu: