Silewe Nazarata adalah dewi dalam mitologi dan agama tradisional masyarakat Nias,Pulau Nias, Sumatra Utara, Indonesia. Ia merupakan salah satu tokoh utama dalam kosmologi Nias dan memiliki kedudukan penting sebagai penguasa dunia tengah serta perantara antara dunia para dewa dan manusia. Dalam berbagai tradisi lisan, Silewe Nazarata dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuasaan besar atas kehidupan, kematian, dan kekuatan alam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Silewe Nazarata adalah dewi dalam mitologi dan agama tradisional masyarakat Nias,Pulau Nias, Sumatra Utara, Indonesia. Ia merupakan salah satu tokoh utama dalam kosmologi Nias dan memiliki kedudukan penting sebagai penguasa dunia tengah serta perantara antara dunia para dewa dan manusia. Dalam berbagai tradisi lisan, Silewe Nazarata dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuasaan besar atas kehidupan, kematian, dan kekuatan alam.[1]
Silewe Nazarata adalah seorang dewi yang sering dikaitkan dengan kedudukan imam tertinggi dalam struktur keagamaan tradisional Nias, karena dianggap sebagai sumber otoritas spiritual dan pengetahuan sakral. Dalam beberapa tradisi, Silewe Nazarata dipandang sebagai pencipta dunia atau memiliki peran utama dalam proses penciptaan alam semesta.[2]
Kepercayaan masyarakat Nias tradisional bersifat animisme, yaitu meyakini adanya roh atau jiwa yang menghuni seluruh alam. Roh-roh leluhur dipuja karena dipercaya memiliki pengaruh atas berbagai unsur kehidupan, seperti laut, angin, pohon besar, batu besar, dan muara sungai. Dalam sistem kepercayaan ini, roh-roh tersebut berada di bawah kekuasaan tiga penguasa utama, yaitu Lowalangi sebagai penguasa dunia atas, Lature Danö sebagai penguasa dunia bawah, dan Silewe Nazarata sebagai penguasa dunia tengah.[3]
Dalam mitologi Nias, pada awalnya alam berada dalam keadaan kabut dan kekacauan. Keadaan ini kemudian digantikan oleh Pohon Kehidupan, yang darinya tumbuh para dewa pencipta dunia dan manusia. Pohon tersebut melambangkan keseluruhan alam semesta, mencakup wilayah langit dan dunia bawah. Dunia atas menjadi wilayah dewa laki-laki Lowalangi, sedangkan dunia bawah berada di bawah kekuasaan saudaranya, Lature Dano. Silewe Nazarata, yang dipandang sebagai saudari sekaligus istri Lowalangi, merupakan dewi yang bersifat ambivalen dan dalam beberapa tradisi digambarkan memiliki sifat androgini.[4]
Silewe Nazarata berperan sebagai perantara antara kedua saudaranya dan umat manusia. Dalam salah satu kisah penciptaan, Silewe Nazarata mengubah cincin di jarinya menjadi seekor ular raksasa yang melingkari bumi dan menyebabkan gempa bumi serta badai. Ular ini dikaitkan dengan Galaksi Bima Sakti, pelangi, dan sungai purba yang mengalir di antara dunia bawah dan dunia atas. Sungai tersebut dipercaya sebagai jalur perjalanan arwah menuju alam setelah kematian. Secara historis, para pengikut Silewe Nazarata terdiri atas tabib, imam, dan imam perempuan dalam agama tradisional Nias.[5] Dalam beberapa tradisi, Silewe Nazarata dipercaya tinggal di bulan, sementara dalam tradisi lainnya ia digambarkan duduk bersama suaminya, Lowalangi, di lapisan tertinggi langit.[6]
Silewe Nazarata dikenal sebagai dewi dengan sifat ambivalen,[4] yang menunjukkan keseimbangan antara kekuatan yang memberi kehidupan dan kekuatan yang dapat menimbulkan bahaya. Silewe Nazarata dihormati karena peranannya dalam melindungi manusia dan menjaga keseimbangan alam, sekaligus dipandang sebagai sosok yang berpotensi menimbulkan bencana.[6] Dalam beberapa patung tradisional Nias (adu horö), ia digambarkan memiliki ciri-ciri laki-laki dan perempuan sekaligus. Patung tersebut menunjukkan adanya payudara dan alat kelamin laki-laki, serta janggut dan kumis. Penggambaran ini menunjukkan sifat androgini atau dwijenis kelamin yang melambangkan kesatuan unsur maskulin dan feminin.[7]