Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, sebelumnya bernama Gusti Kanjeng Ratu Pembayun adalah keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan putri pertama dari pasangan Hamengkubuwana X dengan Ratu Hemas dan diasumsikan sebagai pewaris utama suksesi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Mangkubumi ꦩꦁꦏꦸꦨꦸꦩꦶ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Gusti Kanjeng Ratu | |||||
Ratu Mangkubumi pada 2025 | |||||
| Putri Mahkota Yogyakarta | |||||
| Pemahkotaan | 5 Mei 2015 | ||||
| Kelahiran | Gusti Raden Ajeng Nurmalitasari 24 Februari 1972 Bogor, Jawa Barat, Indonesia | ||||
| Pasangan | |||||
| Keturunan |
| ||||
| |||||
| Wangsa | Mataram | ||||
| Ayah | Hamengkubuwana X | ||||
| Ibu | Ratu Hemas | ||||
| Agama | Islam | ||||
| Keluarga Sultan Yogyakarta |
|---|
Sri Sultan Hamengkubawana X GKR Hemas |
|
Keluarga Inti
Keluarga Besar
|
Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi (bahasa Jawa: ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦫꦠꦸꦩꦁꦏꦸꦨꦸꦩꦶcode: jv is deprecated ; lahir 24 Februari 1972 dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurmalitasari), sebelumnya bernama Gusti Kanjeng Ratu Pembayun adalah keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan putri pertama dari pasangan Hamengkubuwana X dengan Ratu Hemas dan diasumsikan sebagai pewaris utama suksesi.
Nurmalitasari dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Ia kemudian dibesarkan di lingkungan Keraton Yogyakarta hingga usia sekolah menengah atas, dengan pernah bersekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta sebelum pindah ke Singapura. Nurmalitasari kemudian masuk di ISS International School. Setelah lulus SMA, ia kuliah di Cuesta College di California, Amerika Serikat hingga gempa bumi Loma Prieta tahun 1989,[1] pindah ke Citrus College, sebelum akhirnya lulus sarjana di bidang manajemen retail dari Universitas Griffith di Queensland, Australia.
Pada 28 Juni 2023, Mangkubumi secara khusus menerima penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Dr. (H.C)) untuk Doctor of Humane Letters dari Universitas Illinois Utara (NIU) di DeKalb, Illinois, Amerika Serikat. Prosesi penganugerahan dilaksanakan di Universitas Widya Mataram, dengan ijazah diserahkan khusus oleh Wakil Presiden Eksekutif dan Provos NIU, Laurie Elish-Piper.[2][3][4]

Pembayun menikah dengan Nieko Messa Yudha yang diwisuda menjadi Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Wironegoro pada tanggal 28 Mei 2002. Berhubung ia adalah putri tertua, pernikahan tersebut mendapat banyak perhatian dan sorotan dari publik, khususnya masyarakat Yogyakarta. Pernikahan tersebut juga menjadi acuan bagi pernikahan-pernikahan ketiga adiknya yang belum menikah.[5]
Rangkaian acara pernikahan diawali dengan prosesi Nyantri,[6] di mana calon pengantin pria mulai memasuki Keraton Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2002. Sesuai dengan adat yang berlaku di keraton, ayahnya sendiri yang menikahkan putrinya dengan Wironegoro. Prosesi Panggih pernikahan dihadiri oleh pejabat tinggi negara, termasuk presiden Megawati Soekarnoputri serta duta-duta besar perwakilan negara-negara sahabat.[7] Sebagai putri raja, ia melewati prosesi Pondongan di mana mempelai pria dibantu salah seorang paman dari mempelai wanita yaitu Yudhaningrat untuk memondong (mengangkat) mempelai wanita sebagai simbol 'meninggikan' posisi seorang istri.[8]
Usai Panggih, kedua mempelai kemudian dikenalkan kepada masyarakat melalui prosesi kirab. Sebagai putri pertama, Pembayun harus dikirab keliling benteng Baluwerti, menggunakan kereta pusaka Kanjeng Kyai Jongwiyat, sesuai dengan adat yang berlaku. Prosesi Kirab yang sudah tidak pernah digelar lagi sejak zaman pemerintahan Hamengkubuwana VIII ini dihadiri oleh ratusan ribu warga Yogyakarta.[5] Pernikahan Agung ini mengikuti tradisi yang dipertahankan sejak ratusan tahun dan diteruskan hingga adik-adik dari Pembayun: Maduretno, Hayu, dan Bendara.
Pernikahan Pembayun dan Wironegoro dikaruniai dua orang anak, yaitu Raden Ajeng Artie Ayya Fatimasari Wironegoro dan Raden Mas Drasthya Wironegoro, masing-masing berhak untuk gelar putri dan pangeran. Putri pertamanya sudah cukup dewasa untuk menjalani upacara adat Tetesan pada tanggal 22 Desember 2013. Upacara ini menandai bahwa seorang anak perempuan sudah menginjak usia dewasa.[9] Putranya, Drasthya Wironegoro, bersekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta.[10]

Sebagai putri tertua, Mangkubumi menjabat sebagai Lurah putri yang bertugas memimpin seluruh Sentana dalem putri atau keluarga keraton perempuan dan abdi dalem Keparak atau abdi dalem perempuan di lingkungan Keraton Yogyakarta.[11] Sebagai pemimpin abdi dalem Keparak, ia bertugas mengelola urusan domestik keraton termasuk seperti penyiapan upacara-upaacra adat, misalnya upacara rutin pemberian sesaji atau caos dhahar, penjagaan ruang pusaka, hingga pelayanan keperluan raja, permaisuri, dan para putra-putri keluarga keraton.[12] Ia juga mendapat tugas dari ayahnya untuk mengharmoniskan hubungan antara adik-adiknya dan keluarga besar keraton pada umumnya.[13] Jabatannya sebagai salah satu penghageng (pemegang jabatan) juga menuntutnya untuk memimpin beberapa upacara adat di lingkungan keraton, seperti Tumplak Wajik, Peksi Burak, juga beberapa upacara adat lainnya.[14][15]
Selain sebagai Lurah Putri, Mangkubumi juga menjabat sebagai penghageng untuk Kawedanan Hageng Datu Danasuyasa, sebuah kawedanan atau lembaga yang memiliki kewenangan mulai dari pemeliharaan kecil dan ringan bagian-bagian keraton, misalnya Benteng Cepuri dan Benteng Baluwerti; pengelolaan tanah-tanah kasultanan (Sultanaat Ground), baik itu tanah keprabon maupun tanah bukan keprabon; dan pengelolaan aset-aset bangunan dan sejenisnya di luar kompleks keraton. Kawedanan ini juga membawahi tiga kawedanan: Kawedanan Reksa Suyasa, Kawedanan Panitikisma, dan Kawedanan Sasana Pura.[16] Di keraton, Mangkubumi juga berusaha melestarikan budaya melalui keaktifannya dalam seni tari. Ia merupakan penari andalan keraton bersama tiga adiknya: Condrokirono, Hayu, dan Bendara.
Mangkubumi mewakili raja melakukan pembagian surat Palilah kekancingan untuk tanah-tanah kasultanan yang sedang dikelola oleh rakyat dan pihak-pihak lain.[17] Ia seringkali mengurus urusan terakait situs-situs milik atau terkait Keraton Yogyakarta, termasuk mempimpin pemindahan makam Mbah Celeng atau Kyai Kromo Ijoyo yang terdampak proyek Jalan Tol Yogyakarta-Surakarta di Mlati, Sleman pada tahun 2025.[18] Mangkubumi juga adalah salah satu orang yang peduli terhadap pemeliharaan keraton dan mendukung Sumbu Filosofis Yogyakarta dan situs-situsnya untuk dilindungi secara hukum internasional sebagai Situs Warisan Dunia. Pada 2025, ia memimpin upaya rehabilitasi dan konservasi Plengkung Gading yang mengalami kerusakan sebagai upaya penjagaan aset-aset Keraton Yogyakarta telah ditetapkan UNESCO.[19] Menurutnya, keraton sebagai pusat kebudayaan harus menjadi saringan dari pengaruh modernisasi yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Pada saat yang sama, keraton juga harus membuka diri dengan kemajuan zaman.[20]

Dalam bidang keorganisasian, Mangkubumi dikenal aktif memimpin berbagai lembaga sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Karang Taruna DIY (2002–2012), Ketua Umum Badan Pengurus Daerah Andalan Kelompok UPPKA DIY (2003–2011), serta Ketua Umum Koperasi Aku Sejahtera (2005–2009). Pada lingkup internasional, ia tercatat sebagai Wakil Ketua International Association of Wild Silk Moth berbasis di Jepang (2003–2008). Selain itu, ia juga memimpin berbagai asosiasi, di antaranya Ketua Pembina Yayasan Royal Silk (2006–2010), Ketua Asosiasi Masyarakat Persuteraan Alam Liar Indonesia (2006–2010), dan Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DIY (2006–2011). Pada periode sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Masyarakat Sutera Alam DIY (2002–2006) serta Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) DIY (2002–2006).
Di bidang kepemudaan, Mangkubumi dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DIY (2012–2015), sekaligus aktif mengembangkan program pemberdayaan generasi muda.[21] Kiprahnya berlanjut dalam organisasi lingkungan melalui Pusat Penyelamatan Satwa Jogja (2012–sekarang), tempat ia mendorong upaya konservasi satwa dan pendidikan lingkungan. Selain itu, ia juga memimpin dunia usaha sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY sejak 2015, yang berperan penting dalam membangun jejaring ekonomi daerah dan kemitraan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan. Keterlibatan tersebut menjadikan Mangkubumi sebagai salah satu tokoh perempuan Yogyakarta yang memiliki pengaruh luas dalam ranah sosial, kepemudaan, lingkungan, serta ekonomi.
Mangkubumi juga menekuni dunia usaha dengan memegang sejumlah posisi strategis di berbagai perusahaan. Ia menjabat sebagai Direktur PT Yogyakarta Tembakau Indonesia, sebuah perusahaan rokok kretek yang didirikan dengan tujuan mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Bantul sekaligus memberdayakan tenaga kerja lokal. Selain itu, ia juga memimpin PT Yarsilk Gora Mahottama, perusahaan yang bergerak dalam pengembangan sutera alam sebagai komoditas unggulan sekaligus sarana pelestarian budaya dan kerajinan tradisional. Di sektor industri perkebunan, ia menduduki posisi sebagai Komisaris Utama PT Madu Baru, sebuah perusahaan gula dan spiritus di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan industri daerah.[22]
Pada 28 Maret 2015, Musyawarah Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta secara aklamasi memilih Pembayun sebagai Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) DIY. Setelah dilantik, ia menyampaikan visinya untuk memperluas jangkauan Gerakan Pramuka kepada anak-anak sejak tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi kegiatan. Dalam berbagai kesempatan, ia juga mendorong anggota Gerakan Pramuka DIY untuk meraih prestasi hingga tingkat internasional dengan melanjutkan warisan kakeknya, Hamengkubuwana IX, yang dikenal sebagai "Bapak Pramuka Indonesia".
Pada periode kepengurusan Kwartir Nasional 2018–2023, Mangkubumi dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua sekaligus Ketua Komisi Pengabdian Masyarakat (Abdimas). Melalui posisi ini, ia menggagas berbagai program kemitraan dengan lembaga pemerintah maupun swasta untuk memperluas kegiatan Pramuka yang berbasis pengabdian masyarakat. Ia juga memprioritaskan publikasi kegiatan melalui berbagai media agar lebih dikenal oleh generasi muda. Sejak 2015 hingga kini, Mangkubumi tetap menjabat sebagai Ketua Kwartir Daerah DIY.
Mangkubumi tercatat aktif dalam bidang konservasi alam melalui keterlibatannya di Pusat Penyelamatan Satwa Jogja (PPSJ) di Kulon Progo, Yogyakarta. Kegiatan ini berfokus pada upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar, khususnya orang utan, dengan menjalin kerja sama bersama organisasi masyarakat, sektor swasta, serta dukungan media internasional dari Luksemburg.[23][24][25] Selain orang utan, ia juga menaruh perhatian pada upaya pelestarian elang jawa (Nisaetus bartelsi), burung endemik Jawa yang memiliki nilai penting sebagai simbol nasional karena menjadi inspirasi lambang negara Indonesia.[26]
Pada awal tahun 2012, Mangkubumi mengemukakan gagasan untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi berbasis digital atau cyber province pertama di Indonesia. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam bentuk proposal saat menjadi pembicara kunci pada pertemuan The Education World Forum 2012 yang berlangsung di The Queen Elizabeth II Conference Centre di London, Inggris, pada 9 hingga11 Januari 2012. Inisiatif ini menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, dan tata kelola pemerintahan.[27]
Saat suaminya, Wironegoro, mulai meniti karier di dunia politik, sempat muncul pertanyaan publik apakah Mangkubumi akan mengikuti jejak suami maupun ibunya. Ia menepis anggapan tersebut dengan menegaskan bahwa dirinya lebih nyaman berkonsentrasi pada kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.[28][29] Sebagai aktivis di bidang sosial, Mangkubumi aktif mendukung berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, kesehatan keluarga, hingga pembangunan berbasis komunitas. Atas dedikasinya tersebut, ia pernah memperoleh penghargaan "Sunsilk Unbreakable Woman" yang diberikan Sunsilk kepada tokoh perempuan inspiratif atas kiprahnya dalam memberdayakan perempuan di pedesaan.[30][31]
Mangkubumi aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja dan kesetaraan gender melalui kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).[32] Selain itu, ia juga menunjukkan perhatian besar terhadap bidang pendidikan, baik melalui aktivitas organisasi maupun perannya sebagai seorang ibu yang berupaya mendampingi putra-putrinya dalam proses belajar.[28] Di samping keterlibatannya dalam isu kepemudaan dan pendidikan, Mangkubumi juga berperan dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Ia tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah posisi yang menegaskan kontribusinya dalam mendukung misi kemanusiaan di tingkat daerah.[33]
Nurmalitasari dilahirkan sebagai bangsawan keraton, wangsanya adalah Mataram. Secara tradisional, ketika dilahirkan gelarnya adalah Gusti Raden Ajeng (GRAj), gelar sebelum menikah untuk putri raja dari permaisuri. Sebelum pernikahannya pada 28 Mei 2002, ayahnya mengubah namanya yang semula Nurmalitasari menjadi Pembayun. Ia juga langsung menerima gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) alih-alih Gusti Raden Ayu (GRAy). Pemberian gelar ini dilangsungkan melalui upacara wisuda yang digelar di Keraton Yogyakarta pada 6 Mei 2002.[35]
Secara umum, Mangkubumi adalah Putri Yogyakarta, namun menurut tradisi, ia bergelar "ratu". Gelar ini diberikan kepada permaisuri serta kepada putri raja dari permaisuri ketika sudah dewasa. Sebagai putri penguasa, ia juga menerima gaya Paduka Kerajaan (bahasa Inggris: Royal Highnesscode: en is deprecated ), tetapi secara adat, budaya, dan masyarakat, permaisuri dan para putri penguasa yang telah bergelar Gusti Kanjeng Ratu biasanya digayakan dengan sapaan setara, yaitu "Gusti" atau "Gusti Ratu".
Pada 5 Mei 2015, ayahnya mengeluarkan Dhawuh raja yang menyatakan Pembayun menerima gelar baru sebagai Mangkubumi, gelarnya kemudian berubah menjadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. Dia sekaligus dinobatkan sebagai putri mahkota dengan gelar lengkap "Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawana Langgeng ing Mataram".[36][37] Dalam sejarah monarki, ia merupakan satu-satunya perempuan yang pernah dinobatkan. "Mangkubumi" memang sering kali diasosiasikan sebagai nama yang disandang oleh calon penerus takhta, tetapi dalam lingkup keraton, Mangkubumi tidak selalu menjadi seorang penguasa.