Prasejarah Filipina dimulai sejak 709.000 tahun yang lalu, yaitu ketika nenek moyang manusia modern diketahui membunuh dan memotong seekor badak di utara Pulau Luzon, tepatnya di Kalinga. Sisa-sisa manusia awal, yang diketahui berasal dari spesies Homo luzonensis, setidaknya berumur 67.000 tahun. Analisis dari gigi Homo luzonensis tersebut menyimpulkan kemungkinan spesies tersebut memiliki badan yang kerdil dan rongga otak yang kecil.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (November 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
Ukiran batu di Petroglif Angono.[1] | |
| Jangkauan geografis | Asia Tenggara |
|---|---|
| Periode | Paleolitikum Awal – Zaman Kontak[2] |
| Tanggal | ca Sebelum 900 M |
| Situs induk | Rizal, Kalinga; Arubo 1; Gua Callao; Gua Tabon; Petroglif Angono |
| Diikuti oleh | Sejarah prakolonial |
Prasejarah Filipina dimulai sejak 709.000 tahun yang lalu, yaitu ketika nenek moyang manusia modern diketahui membunuh dan memotong seekor badak di utara Pulau Luzon, tepatnya di Kalinga.[3][4] Sisa-sisa manusia awal, yang diketahui berasal dari spesies Homo luzonensis,[5] setidaknya berumur 67.000 tahun. Analisis dari gigi Homo luzonensis tersebut menyimpulkan kemungkinan spesies tersebut memiliki badan yang kerdil dan rongga otak yang kecil.[6]
Batasan antara periode prasejarah dengan sejarah awal Filipina adalah tanggal 21 April 900, yang merupakan tanggal yang tertera pada catatan tertulis tertua di Filipina, yakni Prasasti Keping Tembaga Laguna menurut kalender Gregorian Proleptik. Periode prasejarah di Filipina menyaksikan perubahan besar yang melanda kepulauan tersebut, dari budaya Zaman Batu pada tahun 50.000 SM hingga munculnya pusat-pusat perdagangan pesisir pada abad keempat, yang berlanjut pada ekspansi perdagangan secara bertahap hingga 900 M.
Filipina merupakan kepulauan yang terletak di kawasan tropika, dengan iklim yang hangat dan sering mengalami hujan deras.[7] Hal ini menimbulkan proses fisika, kimia, dan biologi yang tidak mendukung preservasi catatan arkeologis di daerah tersebut, seperti dekomposisi termal, pelapukan, erosi, dan bioturbasi.[8][9]
Hominin pertama diperkirakan mencapai Filipina pada masa Pleistosen Tengah dengan mengarungi lautan di sekitarnya.[10] Mereka sendiri belum memiliki kemampuan untuk menciptakan alat transportasi air seperti sampan, tetapi diketahui mereka mencapai kepulauan karena terdampar setelah terbawa oleh benda-benda yang mengapung, seperti pohon mangrove yang tumbang.[11][a]
Terdapat empat rute hominin mencapai kepulauan tersebut yang dihipotesiskan oleh sejarawan. Homonin bisa saja melewati Indonesia melalui tiga rute dari dua titik awal, yakni dari Pulau Kalimantan, yang dapat mengarah ke Pulau Palawan atau Kepulauan Sulu, atau melalui Pulau Sulawesi, yang akan mengarah ke Pulau Mindanao.[14] Hominin juga bisa saja melalui rute utara melalui Taiwan ke Pulau Luzon melalui selatnya,[15] tetapi arus air laut di selat tersebut diketahui sangat kuat, sehingga rute dari Taiwan terasa kurang masuk akal.[16]

Melalui penemuan situs arkeologi di Rizal, Provinsi Kalinga, dapat diketahui bahwa aktivitas homonin di Filipina telah terjadi setidaknya sekitar 709.000±68.000 tahun lalu pada periode Pleistosen Tengah.[17] Dalam situs tersebut, terdapat sekitar 57 perkakas dari batu bersama dengan sisa-sisa kerangka badak purba.[4] Tanda-tanda adanya potongan dalam 13 sisa kerangka tersebut menunjukkan bahwa daging badak purba tersebut dikeluarkan dari tulangnya, dan retakan pada tulang lengan atasnya diduga merupakan upaya homonin awal untuk membuka tulang tersebut untuk mengonsumsi sumsum tulangnya.[18] Penemuan kerangka tersebut memberi petunjuk mengenai kehadiran Homo erectus (atau setidaknya spesies yang berkerabat dengannya) di wilayah tersebut.[3]
Di General Tinio, provinsi Ecija Baru, terdapat 18 perkakas batu yang termodifikasi ditemukan di kaki bukit Sierra Madre.[19] Perkakas yang ditemukan di situs penggalian yang diberi nama Arubo 1 dan memiliki ukuran yang lebih besar dari pada yang ditemukan di Rizal. Diperkirakan perkakas tersebut berasal dari periode Pleistosen Tengah, tetapi penanggalan pastinya tidak dapat diketahui karena daerah tersebut telah lama mengalami gangguan sebelum digali.[20] Perkakas yang ditemukan di Arubo 1, seperti sebuah pisau daging dan sebuah kapak genggam, memiliki mata pisau yang termodifikasi.[21] Perkakas tersebut terlihat telah dibuat secara terencana, dengan menunjukkan bentuk-bentuk yang relatif teratur dan tidak lazim untuk artefak batu prasejarah lainnya di Filipina.[22] Perkakas dari Arubo 1 juga terlihat memiliki fungsi serbaguna dan dikurasi dengan cermat. Kemungkinan besar perkakas yang ditemukan tersebut digunakan untuk memotong material organik maupun anorganik.[23]

Fosil hominin tertua di Filipina diketahui berasal dari spesies Homo luzonensis.[24][25][26] Asal-muasal evolusi spesies ini masih belum jelas, tetapi diperkirakan spesies ini berasal dari turunan Homo erectus dari Indonesia yang telah tersebar ke seluruh kepulauan Asia Tenggara, yang kemudian mengalami spesiasi setelah mengalami isolasi geografis.[27] Kemungkinan besar H. luzonensis hidup bersama dengan berbagai spesies hominin lainnya, termasuk H. erectus yang juga menetap di Filipina.[28]
Homo luzonensis diperkirakan muncul sekitar 67.000 tahun lalu, meski beberapa kajian mengungkapkan spesies tersebut telah ada sejak 134.000±14.000 tahun lalu.[5] Fosil spesies itu sendiri ditemukan di Gua Callao, Peñablanca, Provinsi Cagayan.[29] Fosil yang ditemukan hanya berupa kumpulan gigi berukuran lebih kecil dari hominim lainnya, mengindikasikan bahwa spesies tersebut bertubuh kerdil dan memiliki ukuran otak yang kecil, meski estimasi ukuran sebenarnya masih tidak bisa ditentukan akibat kurangnya fosil.[6] Kerangka tersebut ditemukan beserta dengan kerangka hewan lain seperti rusa, babi, dan kerbau, mengindikasikan spesies tersebut memotong daging hewan tersebut.[29]
Manusia modern (Homo sapiens) awal diperkirakan telah ada di Filipina sejak sekitar 50.000–40.000 tahun lalu, pada masa Pleistosen Akhir.[30] Manusia modern awal pada masa itu dicirikan memiliki gaya hidup berburu dan meramu, sering berpindah-pindah, mampu membuat alat penangkapan ikan dan memahami sistem pelayaran, memiliki peralatan sederhana namun praktis, serta melakukan praktik ritual awal.[31] Manusia modern yang mencapai kepulauan tersebut dikenal sebagai Ayta atau Negrito, yang dideskripsikan memiliki kulit gelap, tubuh pendek, berambut keriting, dan memiliki garis keturunan yang tinggi dari Denisova, hominin purba yang telah kawin silang dengan Homo sapiens ketika spesies tersebut tiba di Asia Tenggara.[32]
Sekitar 35.000–33.000 tahun lalu, manusia modern telah mencapai Mindoro dari arah barat daya melewati Palawan. Penanggalan tersebut diberikan berdasarkan teknik penanggalan radiokarbon AMS yang dilakukan pada artefak di tiga situs di Mindoro Selatan. Homo sapiens yang menghuni kepulauan tersebut tidak meninggalkan perkakas dari batu, tetapi mungkin meninggalkan perkakas dari kerang dan kerikil pantai.[33] Kelompok manusia tersebut memiliki beragam pilihan makanan yang berasal dari perburuan hewan.[34] Gua Pilanduk di Palawan dan Gua Bilat di Mindoro saat ini merupakan satu-satunya situs yang berisi bukti aktivitas manusia modern selama Glasial Maksimum Terakhir (25.000–20.000 tahun lalu), ketika permukaan laut berada di titik terendahnya.[35]
Fosil potongan tengkorak dan tulang rahang dari tiga individu manusia modern ditemukan pada tanggal 28 Mei 1962 oleh antropologis Amerika, Robert B. Fox.[36] Potongan-potongan fosil ditemukan di Gua Tabon, di pesisir Palawan, sehingga dikenal sebagai Manusia Tabon. Gua Tabon sendiri terlihat sebagai pabrik Zaman Batu, yang berisi berbagai alat pahat batu dan sisa-sisa serpihan yang ditemukan di dalamnya. Arang yang tersisa dari tiga bekas perapian yang digunakan untuk memasak kemungkinan berasal dari tahun 7000, 20000, hingga 22000 SM, berdasarkan penanggalan Karbon-14.[37] Fosil yang ditemukan di gua tersebut diketahui sebagai sisa manusia modern tertua yang ditemukan di Kepulauan Filipina dan diperkirakan berusia 47.000 ± 11.000–10.000 tahun, berdasarkan penanggalan U/Th.[38]
Para antropolog fisik yang telah memeriksa tempurung fosil tengkorak di Gua Tabon sepakat bahwa Manusia Tabon tersebut adalah Homo sapiens. Hal ini menunjukkan bahwa Manusia Tabon merupakan manusia Pra-Mongoloid. Dua ahli berpendapat bahwa mandibula tersebut memiliki bentuk fisik mirip dengan manusia yang ditemukan di Australia, dan ukuran tempurungnya mirip dengan manusia Äynu atau Tasmania. Meski asal dari Manusia Tabon tidak dapat ditentukan secara pasti, yang jelas adalah bahwa manusia tersebut bukan seorang Negrito.[39]
Sisa-sisa manusia di dalam gua tersebut berasal dari individu besar dan kecil. Yang terakhir ini cocok dengan orang-orang negrito Filipina yang merupakan salah satu penghuni paling awal kepulauan tersebut,[40] keturunan migrasi manusia pertama dari Afrika melalui jalur pesisir di sepanjang Asia Selatan menuju daratan Kawasan Sunda dan Sahul yang kini telah tenggelam.[41]
Bukti pertama penggunaan teknologi Zaman Batu secara sistematis di Filipina diperkirakan berasal dari 50.000 SM,[42] dan fase perkembangan masyarakat Filipina ini dianggap berakhir dengan munculnya perkakas logam sekitar 500 SM, meskipun ada bukti bahwa perkakas batu masih digunakan setelahnya.[43] Antropolog Filipina F. Landa Jocano menyebut tahap paling awal yang terlihat dalam perkembangan masyarakat Filipina sebagai Fase Formatif.[44] Ia juga mengidentifikasi pembuatan perkakas batu dan manufaktur keramik sebagai dua industri utama yang menentukan aktivitas perekonomian pada periode tersebut, dan yang membentuk cara orang Filipina awal beradaptasi dengan lingkungan mereka.[42]
Sekitar 30.000 SM, orang Negrito, yang menjadi nenek moyang penduduk asli Filipina saat ini (seperti suku Aeta), kemungkinan besar tinggal di kepulauan tersebut. Tidak ada bukti yang tersisa yang menunjukkan detail kehidupan orang Filipina kuno seperti tanaman, budaya, dan arsitektur mereka. Sejarawan William Henry Scott mencatat bahwa teori apapun yang menggambarkan rincian tersebut pada periode tersebut haruslah merupakan hipotesis murni, dan karenanya harus disajikan apa adanya.[45]
Gua Balobok merupakan salah satu zona permukiman manusia paling awal di wilayah tersebut. Situs ini merupakan bagian dari sistem karst yang luas dengan lapisan-lapisan cangkang dan mineral lain yang terbentuk oleh manusia purba. Penggalian lebih lanjut menemukan artefak kuno seperti serpihan pembuatan perkakas, batu poles, pecahan gerabah, perkakas dari tulang, dan beberapa sisa hewan. Sisa-sisa dan artefak ini diperkirakan berasal dari sekitar 8.810 hingga 5.190 tahun yang lalu berdasarkan penanggalan C-14, menjadikan situs ini salah satu situs arkeologi terpenting di wilayah tersebut. Situs ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Penting pada tahun 2017 oleh Pemerintah Filipinal.[46][butuh sumber yang lebih baik]