Perubahan iklim memiliki dampak signifikan di Filipina, seperti meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam, kenaikan permukaan air laut, curah hujan ekstrem, berkurangnya sumber daya, dan degradasi lingkungan. Semua dampak ini secara keseluruhan telah memengaruhi pertanian, pengairan, infrastruktur, kesehatan masyarakat, dan ekosistem pesisir Filipina secara signifikan, dan diperkirakan akan terus menimbulkan kerusakan yang dahsyat bagi perekonomian dan masyarakat Filipina.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Perubahan iklim memiliki dampak signifikan di Filipina, seperti meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam, kenaikan permukaan air laut, curah hujan ekstrem, berkurangnya sumber daya, dan degradasi lingkungan. Semua dampak ini secara keseluruhan telah memengaruhi pertanian, pengairan, infrastruktur, kesehatan masyarakat, dan ekosistem pesisir Filipina secara signifikan, dan diperkirakan akan terus menimbulkan kerusakan yang dahsyat bagi perekonomian dan masyarakat Filipina.[1]
Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Filipina merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia.[2] Negara kepulauan ini terletak di sepanjang sabuk topan Samudra Pasifik, sehingga membuat negara ini rentan terhadap sekitar 20 topan setiap tahun, seperempatnya bersifat destruktif.[3] Topan yang terjadi pada bulan Desember 2021, yang dikenal sebagai Topan Odette, menyebabkan kerugian hampir satu miliar dolar AS (₱47,6 miliar) akibat kerusakan infrastruktur, perumahan, dan pertanian serta menyebabkan 114.943 orang mengungsi.[4] Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pada tahun 2022 bahwa Topan Odette memengaruhi kehidupan 9,9 juta orang.[5] Lebih tragisnya lagi, dampak fisik dan ekonomi Topan Odette secara tidak langsung menyebabkan kematian 407 orang per bulan Desember 2022.[6] Selain letak Filipina yang dekat dengan sabuk topan Samudra Pasifik, Filipina juga terletak di dalam "Cincin Api Pasifik" yang membuat negara ini rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi yang berulang.[3] Selain itu, dampak perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut yang semakin cepat, memperburuk kerentanan negara ini terhadap bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.[7]
Selain faktor geografi, dampak perubahan iklim terhadap Filipina juga diakibatkan "karena ketergantungan tinggi negara tersebut terhadap sumber daya alam, kondisi geografis, dan iklim, serta keterbatasan kapasitas mereka untuk beradaptasi secara efektif terhadap perubahan iklim".[8] Sejak masa kolonialisme Spanyol, Filipina telah mengalami eksploitasi sumber daya alam, mengakibatkan keanekaragaman hayati di negara tersebut berkurang dan rentan terhadap bencana alam dan dampak perubahan iklim. Selain itu, kekurangan sumber daya alam Filipina membuat negara tersebut tidak memiliki kesiapan lingkungan maupun ekonomi yang memadai untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, atau memulihkan diri setelah ditimpa dampaknya, yang kemudian memperburuk masalah, dan menciptakan siklus kehancuran lingkungan dan ekonomi di negara tersebut..[9]