Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dalang

Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

orang yang memainkan wayang
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dalang
Untuk desa di Bali, lihat Dalang, Selemadeg Timur, Tabanan.
Pagelaran wayang kulit oleh dalang terkenal Ki Manteb Sudharsono dengan lakon "Gathutkaca Winisuda", di Bentara Budaya Jakarta, untuk memperingati ulang tahun harian Kompas.

Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun-temurun dari leluhurnya. Seorang anak dalang akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal. Ia akan mengikuti ayahnya selagi mendalang dengan membawakan peralatan, menata panggung, mengatur wayang (nyimping), menjadi pengrawit, atau duduk di belakang ayahnya untuk membantu mempersiapkan wayang yang akan dimainkan.

Selama mengikuti ayahnya "ndalang" dalam kurun waktu yang lama—dari kecil hingga remaja—inilah proses pembelajaran itu terjadi dengan sangat alami, dan rata-rata anak dalang akan bisa mendalang setelah besar nanti. Namun, banyak juga seorang anak dalang tidak akan menjadi dalang di kelak kemudian hari, karena mempunyai pilihan hidup sendiri, misalnya berprofesi menjadi pegawai negeri, swasta, TNI, dan sebagainya.

Tetapi fenomena itu tidak selamanya benar, dengan adanya sekolah-sekolah pedalangan baik tingkat SMK dan perguruan tinggi, seperti Jurusan Pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI) misalnya (sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta), mencetak sarjana pedalangan yang tidak hanya mumpuni memainkan wayang tetapi juga berwawasa luas dan berpikir kritis. Dalam perguruan tinggi inilah lahir pula dalang yang bukan dari keturunan seorang dalang, tetapi hanya seseorang yang mempunyai niat yang kuat untuk belajar dalang dan akhirnya bisa mendalang.

Seorang dalang cilik di Jakarta

Kata dalang berasal dari bahasa Jawa dalang yang mana berasal dari bahasa Jawa Kuno ḍalaṅ yang bermakna pemain boneka. Dalang dalam keratabasa diartikan pula sebagai "ngudal piwulang" (membeberkan ilmu), memberikan pencerahan kepada para penontonya. Untuk itu seorang dalang harus mempunyai bekal keilmuan yang sangat banyak. Berbagai bidang ilmu tentunya harus dipelajari meski hanya sedikit, sehingga ketika dalam membangun isi dari cerita bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan nilai-nilai kekinian.

Dalang adalah seorang sutradara, penulis lakon, seorang narator, seorang pemain karakter, penyusun iringan, seorang "penyanyi", penata pentas, penari dan lain sebagainya. Kesimpulannya dalang adalah seseorang yang mempunyai kemampuan ganda, dan juga seorang manajer, paling tidak seorang pemimpin dalam pertunjukan bagi para anggotanya (pesinden dan pengrawit).

Pendidikan

Pendidikan dalang dalam tradisi pewayangan di Indonesia pada mulanya berlangsung melalui pola hubungan personal antara murid dan guru yang dikenal dengan istilah nyantrik atau ngèngèr. Dalam sistem ini, seorang calon dalang mengabdikan diri kepada dalang senior yang telah memiliki reputasi dan pengakuan di masyarakat. Pengabdian tersebut tidak semata-mata bersifat akademis, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Seorang murid (disebut juga dengan cantrik) bersedia melakukan berbagai pekerjaan untuk membantu gurunya, mulai dari tugas teknis dalam pementasan hingga pekerjaan domestik, dengan tujuan memperoleh kepercayaan dan kesempatan belajar secara langsung.[1][2]

Proses pembelajaran dalam sistem nyantrik berlangsung secara bertahap dan tidak terstruktur secara formal.[3] Seorang guru akan memberikan pengetahuan pedalangan apabila ia menilai muridnya telah menunjukkan kesungguhan, loyalitas, dan kesiapan. Ilmu yang diajarkan mencakup berbagai aspek, seperti teknik memainkan wayang, penguasaan cerita (lakon), keterampilan vokal, penguasaan bahasa, hingga pemahaman terhadap iringan musik gamelan. Selain itu, seorang cantrik juga mempelajari pola manajemen pertunjukan dan strategi komunikasi sosial yang diperlukan dalam berinteraksi dengan penonton maupun pihak penyelenggara.[4]

Durasi pendidikan dalam sistem tradisional ini relatif panjang, bahkan dapat mencapai belasan tahun. Selama masa tersebut, seorang cantrik tidak hanya menyerap ilmu teknis, tetapi juga meniru gaya pertunjukan dan kepribadian gurunya. Akibatnya, dalang yang dihasilkan melalui sistem ini sering kali menunjukkan kecenderungan menjadi epigon atau pengikut gaya sang guru, setidaknya pada tahap awal kariernya. Di sisi lain, sistem ini juga memungkinkan terjadinya pewarisan kharisma dan legitimasi sosial dari guru kepada murid, yang menjadi modal penting dalam dunia pedalangan.[4]

Seiring perkembangan zaman, pendidikan dalang mulai mengalami perubahan menuju sistem yang lebih terorganisasi dan sistematis. Berbagai lembaga pendidikan formal dan nonformal didirikan untuk memberikan pelatihan pedalangan secara lebih terstruktur. Di Surakarta, misalnya, terdapat Pasinaon Dalang Surakarta (Padasuka),[5] Himpunan Budaya Surakarta (HBS),[6] dan Phusinaon Dalang ing Mangkunegaran (PDMN).[7] Sementara itu, di Yogyakarta berkembang lembaga seperti Habirandha (Hamurwani Birawa Rancangan Dalang), yang berperan dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni pedalangan.[8]

Transformasi yang lebih signifikan terjadi dengan berdirinya lembaga pendidikan tinggi seni, seperti Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) di Surakarta pada sekitar tahun 1970-an, yang kemudian berkembang menjadi Institut Seni Indonesia Surakarta.[9] Lembaga ini membuka jurusan khusus pedalangan dengan kurikulum yang dirancang secara sistematis, mencakup teori dan praktik.[10] Selain di Surakarta, pendidikan pedalangan juga tersedia di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Bali. Dalam institusi-institusi ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik tradisional, tetapi juga pendekatan akademis, termasuk kajian sejarah, estetika, dan inovasi dalam seni pertunjukan wayang.[11][12]

Peran dan keahlian dalang

Peran Dalang

Dalang merupakan tokoh sentral dalam pertunjukan Wayang, salah satu tradisi teater boneka khas Indonesia. Sebagai pemimpin pertunjukan, dalang berperan sebagai narator yang menyampaikan cerita dan dialog antar tokoh, sekaligus banyak tampil sebagai pemeran utama. Selain itu, dalang mengatur alunan musik dan efek suara untuk menciptakan suasana yang mendukung jalannya pertunjukan. Dalang juga berfungsi sebagai pencipta cerita dan penulis naskah, dengan kewenangan menentukan alur serta melakukan modifikasi naskah sesuai kebutuhan. Seluruh elemen pertunjukan, mulai dari tari, musik, hingga para pemain wayang, berada di bawah koordinasi dalang, menjadikannya figur kunci dalam kelangsungan tradisi Wayang.[13]

Keahlian yang harus dimiliki seorang Dalang

Menurut Raden Ngabehi Ranggawarsito, seorang dalang harus menguasai 12 bidang keahlian agar mampu menyampaikan cerita dan pesan secara efektif kepada penonton. Keahlian pertama adalah antarwacana, yaitu kemampuan membedakan suara masing-masing tokoh dalam dialog. Ranggep merupakan kemampuan untuk membuat pertunjukan menjadi menarik dan tidak membosankan, sedangkan enges adalah kemampuan membedakan dialog tokoh yang telah berkeluarga dengan yang belum. Tutug mengacu pada ketelitian dalam menyampaikan dialog tokoh secara utuh, tanpa mempersingkatnya, dan sabetan adalah kemampuan menggerakkan tokoh wayang.[13]

Keahlian lain mencakup kemampuan melawak untuk menjaga hiburan selama pertunjukan, serta keahlian dalam musik dan syair sebagai pengiring pertunjukan. Penguasaan tata bahasa yang tepat sangat penting, karena setiap jenis tokoh baik dari dewa, pendeta, raksasa, hingga ksatriamemerlukan ragam bahasa yang berbeda. Dalang juga harus memahami kawi radya, yaitu kemampuan menggambarkan suasana kerajaan, serta mahir berbahasa Kawi untuk menyebut nama lain tokoh dalam cerita. Selain itu, penguasaan parama sastra diperlukan untuk mengekspresikan suasana emosi, seperti tegang, marah, atau terkejut, dan awi carita menunjukkan kesiapan dalam menentukan jenis wayang yang akan digunakan dalam pertunjukan. Keseluruhan keahlian ini memastikan dalang dapat memimpin pertunjukan secara utuh dan menghadirkan pengalaman yang hidup bagi penonton.[13]

Wayang Kulit diakui UNESCO

Pertunjukan wayang kulit mendapatkan pengakuan internasional atas nilai budaya dan keindahannya. Pada 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, sebuah penghargaan bagi karya kebudayaan yang menonjol dalam bidang cerita narasi dan warisan budaya. Pengakuan ini kembali diberikan pada 2008 ketika wayang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda dunia dalam sesi ketiga Komite Antarpemerintah UNESCO (3.COM) yang diselenggarakan di Istanbul, Turki, pada 4–9 November. Sejak 2006, UNESCO rutin melakukan penetapan warisan budaya takbenda setiap tahun, mengakui berbagai tradisi dan praktik budaya dari seluruh dunia.[14] Di Indonesia, untuk memelihara dan mengembangkan mutu dalang, dibentuk Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) sebagai forum komunikasi dan koordinasi para praktisi wayang.[15]

Dalang di Indonesia

  1. Anom Suroto
  2. Manteb Soedharsono
  3. Asep Sunandar Sunarya
  4. Ki Nartosabdo
  5. Slamet Gundono
  6. Ki Enthus Susmono
  7. Sujiwo Tejo
  8. Tumpak Puspito Adi

Bacaan lanjutan

  • Clara van Groenendael, Victoria (1985). The Dalang Behind the Wayang. Dordrecht, Foris.
  • Ghulam-Sarwar Yousof (1994). Dictionary of Traditional Southeast Asian Theatre. Oxford University Press. ISBN 967 653032 8
  • Keeler, Ward (1987). Javanese Shadow Plays, Javanese Selves. Princeton University Press.
  • Keeler, Ward (1992). Javanese Shadow Puppets. OUP.
  • Long, Roger (1982). Javanese shadow theatre: Movement and characterization in Ngayogyakarta wayang kulit. Umi Research Press.
  • Mudjanattistomo (1977). Pedhalangan Ngayogyakarta. Yogyakarta, Yayasan Habirandha (Habirandha Foundation).

Referensi

  1. ↑ Kompasiana.com (2019-12-26). ""Nyantrik", Salah Satu Metode Belajar ala Jawa". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-03-28.
  2. ↑ "Nyantrik dan Ngenger". Tempo. 25 Desember 2006 | 00.00 WIB. Diakses tanggal 2026-03-28.
  3. ↑ Bandem, I. Made; Murgiyanto, Sal (1996). Teater daerah Indonesia. Penerbit Kanisius. hlm. 17. ISBN 978-979-497-710-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 Ensiklopedi wayang Indonesia. Sena Wangi. 1999. hlm. 68–71. ISBN 978-979-9240-00-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Muarifah, Kharis Matul (2023). Pendidikan dalang Pasinaon Dhalang ing Surakarta (Padhasuka), 1923-1940. Pustaka Indis. ISBN 978-623-5618-35-7.
  6. ↑ "Karya yang Menyingkap Sejarah". SINDOnews Nasional. Diakses tanggal 2026-03-28.
  7. ↑ "Mengenal Sejarah Pasinaon Dalang Mangkunegaran, Sekolah Dalang di Solo yang Berdiri Sejak Tahun 1950". Tribunsolo.com. Diakses tanggal 2026-03-28.
  8. ↑ "Habirandha – PDWI". pdwi.senawangi.org. Diakses tanggal 2026-03-28.
  9. ↑ "Sejarah". ISI Surakarta (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-03-28.
  10. ↑ "Seni Pedalangan". ISI Surakarta (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-03-28.
  11. ↑ ilmi, Bagus Dwi Nurul. "S1 Seni Pedalangan". ISI Jogja | ISI Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-03-28.
  12. ↑ "Program Studi Seni Pedalangan". ISI BALI (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-03-28.
  13. 1 2 3 Nanda, Akbar (2023-05-24). "Apa Itu Dalang? Pengertian, Peran dan Dalang Terkenal di Indonesia". Gramedia Literasi. Diakses tanggal 2023-12-26.
  14. ↑ tim. "Perjalanan Wayang Kulit Indonesia Diakui UNESCO". gaya hidup. Diakses tanggal 2023-12-26.
  15. ↑ "PEPADI | Indonesia". Diakses tanggal 2026-04-01.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Dalang.
  • Situs web resmi PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia)

Lihat Pula

  • Persatuan Pedalangan Indonesia
  • Ki Herjuno Pramariza Fadlansyah
  • l
  • b
  • s
Wayang
Menurut
media
Kulit
  • Wayang purwa
  • Wayang madya
  • Wayang gedog
  • Wayang Yogyakarta
  • Wayang dupara
  • Wayang Cirebon
  • Wayang wahyu
  • Wayang suluh
  • Wayang kancil
  • Wayang calonarang
  • Wayang krucil
  • Wayang Sasak
  • Wayang Banjar
  • Wayang parwa
  • Wayang arja
  • Wayang gambuh
  • Wayang cupak
Kayu
  • Wayang Ajen
  • Wayang cepak
  • Wayang Gantung
  • Wayang golek
  • Wayang klithik
  • purwa
  • Wayang menak
  • Wayang potehi
  • Wayang thengul
  • Wayang timplong
Orang
  • Wayang Carita
  • Topeng Cirebon
  • Wayang gung
  • Ketoprak
  • Ludruk
  • Sriwedari
  • Wayang topeng
  • Wayang Topeng Malang
Bambu
  • Wayang bambu
  • Wayang bambu Osing
  • Wayang golek langkung
Kain
  • Wayang beber
  • Remeng
Rumput
  • Wayang suket



Menurut
asal
  • Wayang kulit Bali
  • Wayang golek Bandung
  • Wayang kulit Banjar
  • Wayang kulit Gagrag Banyumasan
  • Wayang kulit Betawi
  • Wayang Cina
  • Wayang Kulit Cirebon
  • Wayang Kulit Gagrag Pesisiran
  • Wayang kulit Ponorogo
  • Wayang Kedu Wonosaban
  • Wayang kulit gagrag Yogyakarta
  • Wayang Sasak Lombok
  • Wayang Kulit Palembang
  • Wayang siam
  • Wayang Thailand
Inovasi
  • Wayang arja
  • Wayang gremeng
  • Wayang listrik
  • Wayang revolusi
  • Wayang sadat (gedog)
  • Wayang siam
  • Wayang Suluh
  • Wayang wahyu
Properti dan
kesenian
pendukung
  • Blencong
  • Catur
  • Cempurit
  • Dalang
  • Gamelan
  • Gapit
  • Gunungan
  • Keprak
  • Kriya
  • Lakon
  • Pakeliran
  • Pathet
  • Pedalangan
  • Sabet
  • Sinden
  • Suluk
  • Tancepan
Sumber
cerita
  • Sastra Hindu
    • Mahabharata
    • Ramayana
  • Kakawin
    • Arjunawiwāha
    • Arjunawijaya
    • Bharatayuddha
    • Bomantaka
    • Kresnayana
  • Pustaka Raja Purwa (Serat)
Organisasi
  • Persatuan Pedalangan Indonesia
  • CenkBlonk
  • Indra Swara
  • Ngesti Pandowo
  • Sriwedari
Museum
  • Museum Wayang Beber Sekartaji (Bantul)
  • Museum Wayang Sendang Mas (Banyumas)
  • Museum Topeng Cirebon (Cirebon)
  • Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma (Gianyar)
  • Museum Wayang (Jakarta)
  • Museum Potehi Gudo Jombang (Jombang)
  • Museum Wayang Kekayon (Yogyakarta)
  • Museum Wayang R. Boediardjo (Magelang)
  • Museum Panji (Malang)
  • Museum Gubug Wayang (Mojokerto)
  • Museum Wayang dan Artefak Purbalingga (Purbalingga)
  • Museum Peradaban Asia (Singapura)
  • Museum Sonobudoyo (Yogyakarta)
  • Museum Wayang Indonesia (Wonogiri)
Lihat pula: Daftar tokoh dan lakon wayang
Portal · Kategori
  • l
  • b
  • s
Lakon wayang kulit
Pandawa
Pandawa 5
  • Pandawa adu dadu
  • Bale Sigala-gala
  • Babad Wanamarta
Puntadewa
  • Jamus Kalimasada
  • Puntadewa Lahir
Werkudara
  • Kuku Pancanaka
  • Dewa Ruci
Arjuna
  • Arjunawiwaha
Nakula & Sadewa
  • Nakula dan Sadewa kawin
Gatotkaca
  • Gatotkaca Lahir
  • Aji Narantaka
  • Pergiwa Pergiwati
  • Gatotkaca jadi Ratu
  • Gatotkaca Gugur
Abimanyu
  • Wahyu Cakraningrat
Kurawa
Duryodana
  • Lesmana Mandrakumara
Karna
  • Karna gugur / Karna tanding
Durna
  • Durna gugur
Kurawa 100
  • Kurawa Lahir
Ramayana
Rama - Sinta
  • Sinta Obong (dibakar)
Anoman
  • Anoman Obong (dibakar)
  • Kapisraba
  • Sugriwa-Subali
Lain-lain
Bhatara
  • Batara Asmara
  • Dewa Srani
Abiyasa
  • Rajamala
Lihat pula: Daftar tokoh wayang · Pustaka Raja Purwa

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pendidikan
  2. Peran dan keahlian dalang
  3. Peran Dalang
  4. Keahlian yang harus dimiliki seorang Dalang
  5. Wayang Kulit diakui UNESCO
  6. Dalang di Indonesia
  7. Bacaan lanjutan
  8. Referensi
  9. Pranala luar
  10. Lihat Pula

Artikel Terkait

Wayang

seni pertunjukan drama tradisional Jawa Indonesia

Wayang wong

salah satu kesenian di Indonesia

Wayang kulit

seni pertunjukan wayang yang berasal dari Jawa

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026