Pakeliran merupakan semua bunyi vokal maupun instumental yang dipergunakan untuk mendukung suasana yang ingin dibangun dalam sebuah pementasan wayang. Musik pakeliran secara umum meliputi gamelan, sindhen, penyanyi laki-laki, pemain gamelan dan lagu karawitan yang semua disesuaikan dengan pertunjukan wayang. Gamelan yang menjadi musik pengiring pertunjukan wayang dimainkan dalam nada pelog atau slendro disesuaikan dengan suasana adegan yang sedang dimainkan. Musik gamelan menjadi pendukung penyampaian nilai-nilai yang ada dalam pertunjukan wayang. Jenis musik gamelan untuk pewayangan beda dengan musik gamelan untuk tari ataupun lagu karawitan biasa. Pada perkembangan adat Jawa, musik gamelan yang mengiri wayang menjadi ciri hiburan kaum priyayi. Dalam perkembangan kemudian, musik yang mengiringi pementasan wayang dikolaborasikan dengan musik modern dan menghasilkan musik pakeliran kontemporer.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pakeliran merupakan semua bunyi vokal maupun instumental yang dipergunakan untuk mendukung suasana yang ingin dibangun dalam sebuah pementasan wayang.[1] Musik pakeliran secara umum meliputi gamelan, sindhen, penyanyi laki-laki, pemain gamelan dan lagu karawitan yang semua disesuaikan dengan pertunjukan wayang.[1] Gamelan yang menjadi musik pengiring pertunjukan wayang dimainkan dalam nada pelog atau slendro disesuaikan dengan suasana adegan yang sedang dimainkan.[2] Musik gamelan menjadi pendukung penyampaian nilai-nilai yang ada dalam pertunjukan wayang.[3] Jenis musik gamelan untuk pewayangan beda dengan musik gamelan untuk tari ataupun lagu karawitan biasa.[4] Pada perkembangan adat Jawa, musik gamelan yang mengiri wayang menjadi ciri hiburan kaum priyayi.[3] Dalam perkembangan kemudian, musik yang mengiringi pementasan wayang dikolaborasikan dengan musik modern dan menghasilkan musik pakeliran kontemporer.[5]

Dalam seni pedalangan, musik pakeliran terdiri atas unsur-unsur berikut: gending dan tembang, kombangan, dodogan dan keprakan.[4]
Gending dan tembang dalam musik pakeliran menggunakan iringan gamelan.[4] Akan tetapi, musik gamelan yang digunakan berbeda dengan musik untuk tarian dan lagu Jawa.[4] Gending atau lagu yang digunakan dalam pewayangan disebut gendhing wayang.[4] Gending ini memang digarap secara khusus untuk keperluan pewayangan demi membangun suasana yang ada dalam adegan-adegan pewayangan.[4] Ada 4 macam gendhing wayang yaitu gendhing patalon, gendhing jejer, gendhing playon dan gendhing perang[1]
Gendhing patalon merupakan istilah untuk musik yang mengiringi pengantar awal pertunjukan wayang.[4] Patalon berasal dari kata talu (Jawa) yang artinya adalah memukul.[4] Musik ini menjadi tanda dimulainya sebuah pertunjukan wayang.[4] Contohnya adalah Cucur Bawuk, Pareanom dan Ketawang Sukma ilang.[4]
Gendhing jejer merupakan musik yang mengiringi adegan-adegan atau latar tertentu dalam pentas wayang.[4] Jejer merupakan bahasa Jawa untuk adegan.[4] Setiap adegan memiliki iringan yang khas.[4] Misalnya untuk adegan Kahyangan Suralaya digunakan Remeng, untuk adengan Astina dipakai gending Kawit.[4]
Gendhing playon adalah musik yang digunakan untuk mengiringi seorang tokoh yang sedang berada dalam perjalanan.[4] Playon dari kata mlayu yang artinya berlari.[4] Misalnya untuk perjalanan Gathotkaca digunakan Palaran Gathotkaca.[4]
Gendhing perang adalah istilah untuk musik yang mengiringi adegan perang.[4] Jenis musik ini mengiringi dua macam adegan perang, yaitu perang sederhana dan perang tanding atau besar.[4] Misalnya untuk perang biasa digunakan iringan dengan gending Srepek Lasem, sementara untuk perang tanding antara ksatria dengan ksatria digunakan Ganjur.[4] Perang antara binatang/raksasa dengan binatang digunakan Gangsaran.[4]
Kombangan adalah kata kiasan yang berasal dari nama binatang berkaki enam kumbang, atau dalam bahasa Jawa Kombang.[4] Ciri khas dari binatang ini adalah mengeluarkan suara ngung atau mbrengengeng.[4] Maka kombangan adalah suara yang dikeluarkan dalang yang bunyinya mirip seperti kumbang.[4] Suara yang cenderung monoton ini mengikuti nada musik yang sedang dimainkan.[4] Fungsi kombangan adalah memantabkan suara gamelan yang sedang bermain, tanda musik akan berhenti atau sebaliknya musik akan bermain dalam tempo yang lebih cepat.[4][2]
Dhodog adalah suara yang dihasilkan dari kotak wayang yang berada di samping seorang dalang.[4] Suara ini dihasilkan dari pukulan dalang pada kotak tersebut dengan alat bernama cempala.[4] Sementara keprak[6] digantungkan di kotak wayang yang berada tepat di telapak kaki dalang.[4] Cara membunyikan keprak adalah dengan menekannya dengan jari atau telapak kaki.[4][2]