Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Jamus Kalimasada

Serat Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa, pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud 3 senjata ampuh dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.

Wikipedia article
Diperbarui 10 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jamus Kalimasada
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Jamus Kalimasada" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Puntadewa

Serat Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud 3 senjata ampuh dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.

Kisah dalam Pewayangan

Salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan tentang asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Bambang Sakutrem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Sakutrem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Sakutrem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wiyasa atau Abiyasa. Ketika kelima cucu Abiyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.

Di antara pusaka-pusaka Kerajaan Amarta, Jamus Kalimasada menempati peringkat utama. Kisah-kisah pedalangan banyak yang bercerita tentang upaya musuh-musuh Pandawa untuk mencuri Kalimasada. Meskipun demikian pusaka keramat tersebut senantiasa kembali dapat direbut oleh Yudistira dan keempat adiknya.

Akulturasi Nilai Keislaman pada Makna Kalimasada

Kedatangan Islam di tanah Jawa melalui jalan akulturasi budaya dengan menggeser makna-makna asal pewayangan dari Hindu menuju Islam, seperti halnya akulturasi budaya Hindu India ke Hindu Nusantara. Pada akulturasi Hindu-India ke Hindu-Nusantara, akulturasi ini berbentuk perubahan alur kisah, status maupun struktur wiracarita yang mewujud pada penokohan dan status tokoh yang ada dalam cerita.[1] Ketika Islam tiba di Indonesia, sejak era akhir pemerintahan Sriwijaya,[2] akulturasi budaya terjadi perlahan melalui bauran antara pendatang dari negeri-negeri di Timur yang menetap di wilayah Pesisir dengan penduduk Sriwijaya.[3] Hal ini juga terjadi di wilayah Pulau Jawa dengan menetapnya pendatang dari negeri-negeri Timur di wilayah Pesisir Utara seperti Gresik.[4]

Penyebaran Islam yang terjadi kemudian juga mengikuti pola akulturasi dengan mengadaptasi budaya Hindu-Buddha, memodifikasi simbolisasi dan menggeser pemaknaan yang sejalan dengan agama Islam.[5] Akulturasi ini juga terjadi pada literatur Hindu-Buddha Nusantara, salah satunya adalah pemaknaan ulang metafora Jamus Kalimasada. Menurut Salim A. Fillah, merujuk pada sumber-sumber manuskrip Het Boek van Bonang[6] dan Serat Walisana,[7] perubahan makna metaforis ini digunakan oleh Wali Songo, utamanya Sunan Kalijaga sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam pada Kalimasada.

Kalimasada memiliki struktur kata yang mirip dengan Kalimat Syahadat. Dalam lakon wayang Serat Jamus Kalimasada, jimat Kalimasada digambarkan sebagai ageman yang bermakna senjata, dan pegangan yang berkonotasi dengan ajian dan kepercayaan[5]. Ageman Kalimasada dimaknai oleh Sunan Kalijaga sebagai pegangan nilai dan pandangan hidup Islam yang menyelamatkan Punakawan dari kekeliruan hidup yang berujung pada api neraka.[8]

Referensi

  1. ↑ Damar, Sasongko (2012). Transformasi Cerita Mahabharata dalam Komik R. A. Kosasih: Sebuah Telaah Perbandingan (PDF). Depok: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Fatimi, S.Q. (1963). "Two letters from the Mahārājā to the Kẖalīfah: a study in the early history of Islam in the East". Islamic Studies. 2 (1): 121–140.
  3. ↑ Wolters, O.W. (1966). "A Note on the Capital of Śrīvijaya during the Eleventh Century". Artibus Asiae: Supplementum. 23: 225–239. doi:10.2307/1522654.
  4. ↑ Adha, Syamsul Idul (2021). "Kropak Ferrara: Reconsidering The 16th Century Javanese Muslim Identity". Tashwirul Afkar. 40 (1).
  5. 1 2 Pranowo, M. Bambang (2009). Memahami Islam Jawa. Jakarta: Pustaka Alvabet. ISBN 978-979-3064-70-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Schrieke, B. J. O. Het Boek van Bonang. Utrecht. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Kamila, Syifa (2018). PERJALANAN MENUJU MANUSIA SEMPURNA: PERKEMBANGAN KARAKTER SUNAN KALIJAGA DALAM SERAT WALISANA KOLEKSI PERPUSTAKAAN PURA PAKUALAMAN NOMOR 0136/PP/73 PUPUH VIII-XIII. Jogjakarta: Departemen Bahasa dan Sastra, Universitas Gadjah Mada. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Putri, Vira Ananda (2021). "Membongkar Hukum Akulturasi Budaya Sunan Kalijaga". Tsaqofah & Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam. 6 (2).
  • l
  • b
  • s
Lakon wayang kulit
Pandawa
Pandawa 5
  • Pandawa adu dadu
  • Bale Sigala-gala
  • Babad Wanamarta
Puntadewa
  • Jamus Kalimasada
  • Puntadewa Lahir
Werkudara
  • Kuku Pancanaka
  • Dewa Ruci
Arjuna
  • Arjunawiwaha
Nakula & Sadewa
  • Nakula dan Sadewa kawin
Gatotkaca
  • Gatotkaca Lahir
  • Aji Narantaka
  • Pergiwa Pergiwati
  • Gatotkaca jadi Ratu
  • Gatotkaca Gugur
Abimanyu
  • Wahyu Cakraningrat
Kurawa
Duryodana
  • Lesmana Mandrakumara
Karna
  • Karna gugur / Karna tanding
Durna
  • Durna gugur
Kurawa 100
  • Kurawa Lahir
Ramayana
Rama - Sinta
  • Sinta Obong (dibakar)
Anoman
  • Anoman Obong (dibakar)
  • Kapisraba
  • Sugriwa-Subali
Lain-lain
Bhatara
  • Batara Asmara
  • Dewa Srani
Abiyasa
  • Rajamala
Lihat pula: Daftar tokoh wayang · Pustaka Raja Purwa
Ikon rintisan

Artikel bertopik wayang ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kisah dalam Pewayangan
  2. Akulturasi Nilai Keislaman pada Makna Kalimasada
  3. Referensi

Artikel Terkait

Sunan Kalijaga

penyebar agama Islam di Indonesia

Sunan Muria

penyebar agama Islam di Indonesia

Petruk

tokoh panakawan pewayangan Jawa

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026