Mojosari adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Mojosari secara de jure merupakan ibukota Kabupaten Mojokerto berdasarkan Perda No. 9 tahun 2012. Beberapa kantor dinas juga telah dibangun, tetapi beberapa gedung pemerintahan seperti Kantor Bupati dan DPRD masih tersebar di wilayah lain. Mojosari berada di persimpangan jalan yang strategis, dari barat ke timur adalah jalur penghubung Kota Mojokerto menuju kawasan industri di Ngoro dan Kabupaten Pasuruan sedangkan dari utara ke selatan adalah jalur penghubung Krian di Sidoarjo dengan kawasan wisata di Pacet dan sekitarnya. Mojosari adalah kawasan yang ramai dengan pasar dan pusat perbelanjaan modern, stadion, masjid, rumah sakit, sekolah, berbagai pabrik besar, dan bangunan penting lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mojosari | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Mojokerto | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Yulius Bachtiar, S.P, M.M | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 81.241 jiwa | ||||
| Kode pos | 61382 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.16.08 | ||||
| Kode BPS | 3516080 | ||||
| Luas | 28,85 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 19 | ||||
| |||||
Mojosari adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Mojosari secara de jure merupakan ibukota Kabupaten Mojokerto berdasarkan Perda No. 9 tahun 2012. Beberapa kantor dinas juga telah dibangun, tetapi beberapa gedung pemerintahan seperti Kantor Bupati dan DPRD masih tersebar di wilayah lain. Mojosari berada di persimpangan jalan yang strategis, dari barat ke timur adalah jalur penghubung Kota Mojokerto menuju kawasan industri di Ngoro dan Kabupaten Pasuruan sedangkan dari utara ke selatan adalah jalur penghubung Krian di Sidoarjo dengan kawasan wisata di Pacet dan sekitarnya. Mojosari adalah kawasan yang ramai dengan pasar dan pusat perbelanjaan modern, stadion, masjid, rumah sakit, sekolah, berbagai pabrik besar, dan bangunan penting lainnya.[1][2]
Mojosari pada zaman kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan merupakan pusat dari Kawedanan Mojosari yang mencakup kecamatan di Mojokerto bagian timur seperti Mojosari, Pungging, Ngoro, Bangsal, dan Kutorejo.[2] Mojosari mengalami perkembangan yang cukup pesat hingga menjadi kecamatan dengan kepadatan tertinggi kedua di Mojokerto pada tahun 2024 setelah Kecamatan Sooko.[1] Perkembangan ini juga diikuti dengan penataan kota yang baik sehingga Mojosari menjadi kota yang bersih dan rindang bahkan mendapatkan Piala Adipura berkali-kali di kategori kota kecil yang diperingati dalam sebuah tugu di pertigaan jalan.[2][3]

Mojosari adalah kecamatan yang terletak di dataran rendah dan berada di kaki Gunung Penanggungan. Sebagian besar wilayahnya berada di selatan anak sungai Brantas yaitu Kali Porong, tetapi ada desa yang berada di utara sungai itu yaitu Ngimbangan dan Leminggir. Kedua desa tersebut merupakan desa paling utara dari Mojosari dan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo tetapi dipisahkan oleh Waduk Kalimati.[4] Pusat urbanisasi Kota Mojosari awalnya berada di 5 kelurahan di sebelah timur yaitu Mojosari, Wonokusumo, Kauman, Sawahan, dan Sarirejo tetapi sekarang sudah melebar ke hampir seluruh wilayah Kecamatan Mojosari dan sekitarnya seperti Kecamatan Pungging.[2]
Batas wilayah Mojosari adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | |
| Timur | Kecamatan Pungging |
| Selatan | Kecamatan Kutorejo dan Kecamatan Pungging |
| Barat | Kecamatan Bangsal |

Mojosari berkembang sebagai kawasan perkotaan pada masa kolonial Belanda. Saat itu, Mojosari menjadi salah satu daerah yang didirikan pabrik gula untuk memproses tebu yang ditanam secara besar-besaran di Mojokerto dan sekitarnya. Pabrik tersebut bernama Suikerfabriek Koning Willem II atau Pabrik Gula Mojosari yang telah berdiri sejak akhir abad ke-19. Pabrik tersebut kemudian berulang kali beralih fungsi menjadi pabrik penggilingan padi, kemudian pabrik kertas, dan pada zaman sekarang telah dibongkar dan menjadi lahan pertokoan Ruko Royal. Pemerintah kolonial juga membangun infrastruktur pendukung industri gula tersebut seperti kantor pos dan Jalur trem Mojokerto-Mojosari-Ngoro-Porong-Bangil yang dikelola oleh Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM). Bangunan kantor pos tersebut masih bertahan dan dikelola Pos Indonesia sedangkan Stasiun Mojosari telah dibongkar. Mojosari juga dipilih sebagai ibukota district atau Kawedanan Mojosari yang mencakup Mojosari, Pungging, Ngoro, Bangsal, Kutorejo, dan sekitarnya dengan Mas Hardjowibowo sebagai wedana. Mojosari adalah salah satu dari empat kawedanan yang ada di Regentschap Mojokerto selain Mojokerto, Mojokasri, dan Jabung.[2]

Pasca kemerdekaan, Mojosari menjadi salah satu lokasi perjuangan melawan Agresi Militer Belanda II. Pada tahun 1949, Batalyon Condromowo yang dipimpin pejuang asal Desa Modopuro yaitu Kiai Moenasir berjuang gigih menghadang serbuan Belanda ke Mojokerto dan mengalami kehilangan banyak personel. Selain itu, infrastruktur kolonial seperti pabrik gula juga dihancurkan agar tidak direbut Belanda.[5] Setelah keadaan kondusif, Mojosari mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Sekitar tahun 1980-an, 5 desa di pusat Kecamatan Mojosari diubah statusnya menjadi kelurahan yaitu Mojosari, Sarirejo, Wonokusumo, Kauman, dan Sawahan. Mojosari menjadi satu-satunya kecamatan di Mojokerto yang memiliki daerah berstatus kelurahan sehingga sudah layak disebut kota. Mojosari juga dibangun dan dipercantik oleh pemerintah sehingga Kota Mojosari mendapatkan Piala Adipura sebanyak 4 kali pada tahun 1994-1997 yang kemudian dibangun sebuah Tugu Adipura di persimpangan kota.[2]
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 9 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Mojokerto Tahun 2012-2032 pasal 14, Mojosari dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto. Namun, pemindahan ibukota dari Kota Mojokerto ke Mojosari berjalan lambat. Beberapa kantor dinas sudah ada yang dibangun di Mojosari, akan tetapi beberapa gedung pemerintahan masih tetap berada di Kota Mojokerto seperti Kantor Bupati atau dibangun di kecamatan lain seperti Kantor DPRD yang dibangun di Kecamatan Sooko. Pemindahan perkantoran ke ibukota baru mulai digagas Pemkab pada tahun 2019 tetapi tertunda akibat Covid-19 dan belum dilaksanakan sampai sekarang.[2][6]
Kecamatan Mojosari terdiri dari 14 desa dan 5 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh. Mojosari adalah satu-satunya kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang memiliki kelurahan. Kelurahan, desa dan dusun tersebut adalah sebagai berikut:[1][7]
| No. | Nama Kelurahan | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Kauman | Kauman | [1][7] |
| 2 | Mojosari | Mojosari | [1][7] |
| 3 | Sawahan | Sawahan, Songoyudan | [1][7] |
| 4 | Sarirejo | Sarirejo | [1][7] |
| 5 | Wonokusumo | Wonokusumo, Mojokencono | [1][7] |
| No. | Nama Desa | Nama Dusun dan Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Awang-Awang | Awang-awang, Candirejo, Candisari, Meduran, Wotlemah | [1][7] |
| 2 | Belahantengah | Belahantengah, Gebangsari, Jurangsari, Sambeng | [1][7] |
| 3 | Jotangan | Jotangan, Gembongan, Kemloko | [1][7] |
| 4 | Kebondalem | Kebon, Lontar, Tambak Agung | [1][7] |
| 5 | Kedunggempol | Balongcangak, Kedungkudi, Gempolmalang | [1][7] |
| 6 | Leminggir | Lemiring, Ngagrok, Turi | [1][7] |
| 7 | Menanggal | Menanggal, Kwarengan (Parengan), Mojokerep, Sidotopo | [1][7] |
| 8 | Modopuro | Modopuro, Bangsri, Bebekan, Gedang, Sememi, Tuwang | [1][7] |
| 9 | Mojosulur | Mojosulur, Gelang, Gelang Kulon, Londen, Tegaldadi | [1][7] |
| 10 | Ngimbangan | Nambangan, Ngemplak, Ngingas, Wates | [1][7] |
| 11 | Pekukuhan | Pekukuhan, Losari, Mojogeneng, Mojosari, Sambikerep, Sumbersari | [1][7] |
| 12 | Randubango | Randubango, Belahan, Krembungdumpul | [1][7] |
| 13 | Seduri | Seduri, Londen, Karangpoh, Paris, Seduri Baru, Sukoasri, Tuwiri | [1][7] |
| 14 | Sumbertanggul | Sumbertanggul, Glogok, Sumberjo, Wonokoyo, Wonosari | [1][7] |

