Kepanjen adalah kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan dari Kabupaten Malang. Kepanjen resmi menjadi ibu kota kabupaten pada tahun 2008 setelah dipindah dari Kota Malang. Kepanjen adalah kota kecil padat penduduk dengan lokasi strategis di persimpangan jalan nasional penghubung Kota Malang, Blitar, dan Lumajang. Kecamatan ini memiliki infrastruktur yang lengkap dari kantor pemerintahan, rumah sakit, pasar, stasiun, perguruan tinggi, fasilitas olahraga seperti Stadion Kanjuruhan, dan lainnya yang menjadikannya sebagai pusat ekonomi Malang selatan sekaligus salah satu satelit utama dari Kota Malang. Kepanjen memiliki ikon wisata seperti Pemandian Metro, TPA Wisata Talangagung, Milkindo Green Farm, dan Bendungan Sengguruh.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kepanjen | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Malang | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Yateno, SH., M.Si. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 115.171 jiwa | ||||
| Kode pos | 65163 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.07.13 | ||||
| Kode BPS | 3507160 | ||||
| Luas | 46,25 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 4 kelurahan 14 desa | ||||
| |||||
Kepanjen adalah kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan dari Kabupaten Malang. Kepanjen resmi menjadi ibu kota kabupaten pada tahun 2008 setelah dipindah dari Kota Malang.[1] Kepanjen adalah kota kecil padat penduduk dengan lokasi strategis di persimpangan jalan nasional penghubung Kota Malang, Blitar, dan Lumajang. Kecamatan ini memiliki infrastruktur yang lengkap dari kantor pemerintahan, rumah sakit, pasar, stasiun, perguruan tinggi, fasilitas olahraga seperti Stadion Kanjuruhan, dan lainnya yang menjadikannya sebagai pusat ekonomi Malang selatan sekaligus salah satu satelit utama dari Kota Malang. Kepanjen memiliki ikon wisata seperti Pemandian Metro, TPA Wisata Talangagung, Milkindo Green Farm, dan Bendungan Sengguruh.[2][3][4]

Kepanjen adalah kecamatan di Malang selatan yang terletak di kaki Gunung Kawi. Kepanjen adalah kecamatan dengan luas terkecil ketiga di Kabupaten Malang setelah Sumberpucung dan Pakisaji yaitu sekitar 46,25 km². Salah satu sungai utama di Kepanjen adalah Kali Metro. Sungai ini melintas dari utara ke selatan dan bermuara di Sungai Brantas. Brantas menjadi batas selatan dari Kepanjen dan di aliran sungai tersebut terdapat Bendungan Sengguruh. Di sungai tersebut juga terdapat jembatan penghubung ke arah Pagak dan pantai selatan.[3]
Kepanjen memiliki geografi dataran rendah dengan lahan pertanian yang subur. Namun areal pertanian ini semakin mengecil karena perkembangan kawasan urbannya yang pesat karena letaknya di persimpangan jalur-jalur strategis serta dikembangkan menjadi ibu kota baru. Kepanjen terletak sekitar 20 km di selatan Kota Malang dan menjadi pusat perekonomian Malang selatan. Sedangkan dari barat ke timur terdapat jalan nasional Blitar menuju Lumajang. Pemerintah membangun jalan lingkar barat atau Jalibar untuk mengurai kemacetan.[5]
Batas wilayah Kecamatan Kepanjen adalah sebagai berikut:[6]
| Utara | Kecamatan Pakisaji |
| Timur | Kecamatan Bululawang, Kecamatan Gondanglegi, dan Kecamatan Pagelaran |
| Selatan | Kecamatan Pagak |
| Barat | Kecamatan Kromengan, Kecamatan Ngajum, dan Kecamatan Sumberpucung |

Menurut cerita rakyat setempat, nama Kepanjen diambil dari Raden Panji Pulang Jiwo. Tokoh tersebut dikenal karena berusaha mempertahankan Malang dari Kesultanan Mataram yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Dalam beberapa versi cerita, Panji Pulang Jiwo pergi dari Madura yang saat itu sedang dilanda peperangan. Sesampainya di Malang, Panji mendengar sayembara untuk memperebutkan putri dari Ronggo Toh Jiwo yang menjabat sebagai Adipati Malang. Putri tersebut bernama Putri Probo Retno yang terkenal cantik rupawan. Panji bersaing dengan cara adu kesaktian dengan tokoh lain seperti Sumolewo. Alhasil Panji pun menang dan berhasil menikahi Putri Probo Retno. Alkisah sekitar abad ke-17, Adipati Malang menyatakan pemberontakan terhadap Kesultanan Mataram sehingga Sultan mengirim pasukan yang dipimpin Surontani atau Mbah Bodo. Panji dan istrinya dikirim untuk mempertahankan Malang yang berujung kematian Probo Retno, tetapi terbalaskan dengan dibunuhnya Mbah Bodo di tangan Panji Pulang Jiwo. Peninggalan sejarah masa itu masih bertahan saat ini, seperti makam Panji Pulong Juwo di belakang kantor Dinas Pendidikan serta makam Mbah Bodo di Desa Jatiguwi.[7][8]

Kepanjen mengalami perkembangan pesat pada zaman kolonial Belanda dengan dibangunnya beberapa infrastruktur seperti kantor pemerintahan hingga Stasiun Kepanjen. Akan tetapi banyak pula bangunan lain yang sekarang telah dibongkar atau terbengkalai, seperti kantor telegraf, pabrik gula Panggungrejo, hingga stasiun trem uap. Stasiun kecil tersebut menghubungkan Kepanjen dengan daerah pertanian produktif seperti Gondanglegi dan Sengguruh. Pabrik gula Panggungrejo atau nama resminya N. V. Cultuur Maatschappij Panggoongredjo dilengkapi dengan fasilitas kereta gantung (kabelbaan) untuk mengangkut tebu. Pabrik tersebut mencapai puncak produksinya pada tahun 1930, tetapi karena krisis ekonomi beralih menjadi pabrik serat rosella untuk dijadikan karung. Akan tetapi, Jepang menginvasi Indonesia dan membongkar banyak infrastruktur termasuk pabrik gula serta stasiun trem hingga tak tersisa. Lokasi pabrik gula sekarang menjadi Yon Zipur 5 TNI AD sedangkan stasiun trem menjadi SMP Islam Kepanjen.[9][10]
Pada masa kolonial Belanda, Kepanjen adalah pusat dari Kawedanan Kepanjen, yaitu daerah pembantu Bupati Malang yang wilayahnya mencakup Kecamatan Kepanjen, Sumberpucung, Kromengan, Wonosari, Pakisaji, dan Ngajum. Kepanjen adalah satu dari delapan kawedanan di Malang saat itu selain Kawedanan Malang, Pujon, Singosari, Tumpang, Bululawang, Pagak, dan Turen.[11] Kawedanan Kepanjen dihapus oleh pemerintah Indonesia sehingga kecamatan berada langsung di bawah kabupaten. Pemerintah Kabupaten Malang memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintah dari Kota Malang, hingga akhirnya Kepanjen resmi dijadikan ibu kota berdasarkan Peraturan Pemerintah No.18 tahun 2008.[1]
Kepanjen pernah menjadi lokasi beberapa tragedi memilukan yang memakan banyak korban jiwa. Pada tahun 1985, sebuah truk yang membawa pekerja Bendungan Sengguruh terguling ke bawah jembatan Kali Metro, dan menewaskan 49 pekerja yang dibawanya.[12] Sedangkan pada tahun 2022, terjadi Tragedi Stadion Kanjuruhan 2022 yang menewaskan 135 orang akibat kerusuhan ribuan supporter tuan rumah Arema yang memasuki lapangan dan diperparah dengan tembakan gas air mata oleh kepolisian. Kedua insiden tersebut sekarang diperingati dengan monumen yang dibangun di lokasi kejadian.[13]
Kecamatan Kepanjen terdiri dari 4 kelurahan dan 14 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / kampung, yakni sebagai berikut:[6]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Kampung | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Ardirejo | Bangsri, Klenjeran | [6] |
| 2 | Cepokomulyo | Cokoliyo, Sukun Pasundan | [6] |
| 3 | Kepanjen | Banurejo, Kampung Baru, Kauman, Mentaraman, Sukun | [6] |
| 4 | Penarukan | Kauman, Ketanen, Mentaraman | [6] |
| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Curungrejo | Boro Selatan, Boro Utara, Curung Barat, Semanding | [6] |
| 2 | Dilem | Ngantru, Lemah Duwur | [6] |
| 3 | Jatirejoyoso | Balong, Dawuhan, Mergosingo, Tamanayu, Wonoayu | [6] |
| 4 | Jenggolo | Jenggolo, Sumedang | [6] |
| 5 | Kedungpedaringan | Krajan, Ngadiluwih | [6] |
| 6 | Kemiri | Bumiayu, Keras, Tempur | [6] |
| 7 | Mangunrejo | Mangir, Mlaten, Sanggrahan, Santren | [6] |
| 8 | Mojosari | Mojosari, Gambiran, Pepen, Lowok Pepen | [6] |
| 9 | Ngadilangkung | Ngadilangkung, Ketawang | [6] |
| 10 | Panggungrejo | Panggung, Tegaron, Tulaan | [6] |
| 11 | Sengguruh | Sengguruh | [6] |
| 12 | Sukoraharjo | Blobo, Ketapang, Legok, Sembujo | [6] |
| 13 | Talangagung | Anggrungan, Gowok, Kasin, Rekesan | [6] |
| 14 | Tegalsari | Krajan, Ngempit | [6] |


