Bojonegoro adalah kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan ini terletak di perlintasan jalan nasional strategis yang menghubungkan Surabaya di timur dengan Jawa Tengah di barat. Selain itu, kecamatan ini juga berbatasan langsung dengan Bengawan Solo dan Kabupaten Tuban di utara. Bojonegoro memiliki luas terkecil di antara kecamatan lainnya, tetapi jumlah penduduknya paling banyak yaitu sekitar 88 ribu jiwa pada tahun 2024. Kecamatan ini merupakan pusat ekonomi kabupaten dengan infrastruktur penunjang yang cukup lengkap. Kecamatan Bojonegoro memiliki alun-alun, masjid besar, rumah sakit, stadion, hingga sekolah serta perguruan tinggi unggulan seperti Universitas Bojonegoro (UNIGORO). Selain itu, di kecamatan ini juga terdapat stasiun kereta serta terminal bus terbesar di Bojonegoro yaitu Stasiun Bojonegoro dan Terminal Rajekwesi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bojonegoro | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Bojonegoro | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Mochlisin Andi Irawan S.STP., MM. | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 88.316 jiwa | ||||
| Kode pos | 62111 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.22.15 | ||||
| Kode BPS | 3522160 | ||||
| Luas | 25,71 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 18 | ||||
| |||||
Bojonegoro adalah kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan ini terletak di perlintasan jalan nasional strategis yang menghubungkan Surabaya di timur dengan Jawa Tengah di barat. Selain itu, kecamatan ini juga berbatasan langsung dengan Bengawan Solo dan Kabupaten Tuban di utara. Bojonegoro memiliki luas terkecil di antara kecamatan lainnya, tetapi jumlah penduduknya paling banyak yaitu sekitar 88 ribu jiwa pada tahun 2024.[1] Kecamatan ini merupakan pusat ekonomi kabupaten dengan infrastruktur penunjang yang cukup lengkap. Kecamatan Bojonegoro memiliki alun-alun, masjid besar, rumah sakit, stadion, hingga sekolah serta perguruan tinggi unggulan seperti Universitas Bojonegoro (UNIGORO). Selain itu, di kecamatan ini juga terdapat stasiun kereta serta terminal bus terbesar di Bojonegoro yaitu Stasiun Bojonegoro dan Terminal Rajekwesi.[2]
Dari segi sejarah, Kecamatan Bojonegoro bukanlah ibu kota pertama dari kabupaten ini. Sebelumnya, Kabupaten Bojonegoro masih bernama Jipang yang beribukota di Padangan. Ibu kota dan nama Kabupaten Bojonegoro resmi dipakai sejak tahun 1828. Sejak saat itu, Kecamatan Bojonegoro mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kemudian pada tahun 1928, kecamatan ini resmi menjadi ibu kota dari Karesidenan Bojonegoro yang wilayahnya mencakup Kabupaten Tuban dan Kabupaten Lamongan. Gedung residen sekarang masih ada dan digunakan sebagai Kantor Bakorwil Pemprov Jatim di samping alun-alun.

Bojonegoro adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Wilayahnya berada di tengah-utara kabupaten dan terletak di selatan Sungai Bengawan Solo. Geografi kecamatan ini berupa dataran rendah yang didominasi oleh kawasan urban, walaupun masih terdapat areal persawahan yang luas terutama di sebelah timur seperti Desa Kalirejo dan Semanding. Kecamatan ini memiliki luas terkecil di Kabupaten Bojonegoro yaitu 25,71 km².
Batas wilayah Kecamatan Bojonegoro adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | Kecamatan Trucuk, Bengawan Solo |
| Timur | Kecamatan Kapas |
| Selatan | Kecamatan Dander |
| Barat | Kecamatan Dander |

Pada tanggal 20 Oktober 1677, Kabupaten Jipang didirikan sebagai penerus dari Kadipaten Jipang dengan ibu kota pertamanya adalah Padangan dan dipimpin oleh Mas Toemapel. Tanggal tersebut dirayakan tiap tahunnya sebagai HUT Kabupaten Bojonegoro. Ibu kota Jipang dipindahkan secara resmi dari Padangan pada masa Bupati Raden Tumenggung Haria Matahun I di tahun 1725. Ibu kota baru ini terletak di Rajekwesi yang berada di selatan ibu kota sekarang (Kecamatan Dander). Nama kabupaten juga secara resmi berubah menjadi Kabupaten Rajekwesi. Rajekwesi mengalami kehancuran setelah diserang oleh pasukan Sosrodilogo yang merupakan pengikut dari Diponegoro pada tahun 1828. Pemerintah kolonial Belanda kemudian memutuskan untuk memindahkan ibu kota Rajekwesi ke lokasi sekarang di tepi Bengawan Solo. Nama Bojonegoro dipilih sebagai nama pusat kota sekaligus kabupaten baru. Bupati pertama Bojonegoro di lokasi baru ini adalah Raden Adipati Djojonegoro.[3][4]
Sejak menjadi ibu kota kabupaten, Kecamatan Bojonegoro mengalami perkembangan yang pesat. Pada tahun 1928, Bojonegoro dipilih sebagai ibu kota karesidenan baru yaitu Karesidenan Bojonegoro yang dimekarkan dari Karesidenan Rembang dan mencakup Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Gedung residen sekarang berada di kantor Bakorwil II Bojonegoro yaitu Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain itu, Kecamatan Bojonegoro juga merupakan pusat kawedanan atau daerah pembantu bupati yang mencakup Kecamatan Dander, Kapas, Trucuk, Balen, Sukosewu, Temayang, dan Sugihwaras. Bojonegoro adalah satu dari 5 kawedanan yang ada di Kabupaten Bojonegoro selain Kawedanan Padangan, Tambakrejo, Ngumpak, dan Baureno pada tahun 1936.[5]
Kecamatan Bojonegoro mengalami pemekaran pada tahun 1992 derdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 tahun 1992. Kecamatan baru ini bernama Trucuk. Dari 12 desa di Kecamatan Trucuk, 8 di antaranya berasal dari Kecamatan Bojonegoro yaitu Desa Trucuk, Tulungrejo, Sranak, Guyangan, Mori, Sumberejo, Padang, dan Banjarsari. Sedangkan 4 desa lainnya berasal dari Kecamatan Malo dan Kalitidu. Akibat pemekaran tersebut, tidak ada wilayah Kecamatan Bojonegoro yang berada di utara Bengawan Solo.[6]
Kecamatan Bojonegoro terdiri dari 11 kelurahan dan 7 desa, yakni sebagai berikut:[7]
| No. | Nama Kelurahan | Jumlah RW | Jumlah RT | Jumlah penduduk (2023) | Nama Lingkungan / Dusun / Dukuh |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Banjarejo | 3 | 23 | 6.708 | - |
| 2 | Jetak | 1 | 10 | 2.847 | - |
| 3 | Kadipaten | 3 | 15 | 3.889 | - |
| 4 | Karang Pacar | 3 | 23 | 3.733 | - |
| 5 | Kepatihan | 2 | 12 | 2.382 | - |
| 6 | Klangon | 3 | 18 | 3.895 | - |
| 7 | Ledok Kulon | 2 | 33 | 10.581 | - |
| 8 | Ledok Wetan | 2 | 17 | 4.156 | - |
| 9 | Mojokampung | 2 | 14 | 3.808 | - |
| 10 | Ngrowo | 3 | 20 | 4.818 | - |
| 11 | Sumbang | 7 | 29 | 5.166 | - |
| No. | Nama Desa | Jumlah RW | Jumlah RT | Jumlah penduduk (2023) | Nama Lingkungan / Dusun / Dukuh |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Campurejo | 4 | 34 | 5.939 | Mlaten, Plosolanang, Pohagung |
| 2 | Kalirejo | 2 | 14 | 2.791 | Glendeng, Songapan |
| 3 | Kauman | 2 | 12 | 3.499 | - |
| 4 | Mulyoagung | 4 | 17 | 3.683 | Jantur, Ngangkatan |
| 5 | Pacul | 3 | 22 | 5.077 | Krajan, Dukuhan, Sekartoyo |
| 6 | Semanding | 1 | 6 | 1.496 | - |
| 7 | Sukorejo | 8 | 40 | 12.270 | Krajan, Jambean |


