Michel Ney, Adipati Elchingen, Pangeran Moskow, terkenal dikalangan anak buahnya dengan sebutan Le Rougeaud dan le Brave des Braves adalah seorang tentara Prancis dan komandan militer selama Perang Revolusi Prancis dan Perang Napoleon. Dia adalah salah satu dari 26 marsekal Napoleon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Marsekal Kekaisaran Michel Ney Prince de la Moskowa | |
|---|---|
Portrait by François Gérard, 1805 | |
| Julukan |
|
| Lahir | (1769-01-10)10 Januari 1769 Sarrelouis, Kerajaan Prancis |
| Meninggal | 7 Desember 1815(1815-12-07) (umur 46) Paris, Kerajaan Prancis |
| Dikebumikan | Père Lachaise Cemetery |
| Pengabdian | |
| Dinas/cabang | Grand Armee |
| Service years | 1787–1815 |
| Pangkat | Marshal of the Empire |
| Komandan | |
| Wars | |
| Penghargaan | |
| Tanda tangan | |
Michel Ney, Adipati Elchingen, Pangeran Moskow (10 Januari 1769 – 7 Desember 1815), terkenal dikalangan anak buahnya dengan sebutan Le Rougeaud ("si muka merah") dan le Brave des Braves ("paling berani di antara pemberani") adalah seorang tentara Prancis dan komandan militer selama Perang Revolusi Prancis dan Perang Napoleon. Dia adalah salah satu dari 26 marsekal Napoleon.
Putra seorang pembuat tong dari Saarlouis,[a] Ney bekerja sebagai pegawai negeri sipil hingga tahun 1787 ketika ia mendaftar di resimen kavaleri, tepat sebelum pecahnya Revolusi Prancis. Menonjol sebagai perwira kavaleri dalam Perang Koalisi Pertama, ia dengan cepat naik pangkat dan, pada Pertempuran Hohenlinden (1800), ia dipromosikan menjadi jenderal divisi. Saat Napoleon memproklamasikan Kekaisaran Prancis, Ney dinobatkan sebagai salah satu dari 18 Marsekal Kekaisaran yang pertama. Ia memainkan peran penting dalam kampanye-kampanye Napoleon berikutnya, beraksi di Elchingen (1805), Jena (1806), dan Eylau (1807). Ney memimpin barisan belakang Prancis selama invasi Rusia yang gagal, yang karenanya ia dipuji sebagai "yang paling berani di antara yang berani" oleh kaisar.
Setelah kekalahan Napoleon pada Perang Koalisi Keenam di 1814, Ney memaksa Napoleon untuk turun taktha dan bersumpah setia kepada Wangsa Bourbon yang direstorasi. Ia bergabung kembali dengan Napoleon pada Seratus Hari tetapi ia kalah di Waterloo (1815). Setelah itu Ney didakwa telah melakukan makar dan ia dihukum mati dengan ditembak.

Ney lahir di Saarlouis yang terletak di Provinsi Lorraine di Prancis, di dekat perbatasan Jerman dan Prancis. Putra kedua dari Pierre Ney, seorang pembuat tong dan veteran Perang Tujuh Tahun (1738–1826) dan istrinya Marguerite Greiveldinger.[1][2]
Kampung halamannya pada saat ia lahir adalah daerah kantong Prancis di wilayah Saarland yang mayoritas penduduknya adalah orang Jerman, dan Ney tumbuh dengan dua bahasa, karena akar Jermannya.[3] Ia dididik di Collège des Augustins di Sarrelouis hingga 1782, saat ia mulai bekerja sebagai juru tulis di kantor notaris setempat, dan pada 1784 bekerja di pertambangan dan bengkel pandai besi.[4]

Kehidupan sebagai seorang juru tulis membuatnya bosan, dan Ney mendaftar di Resimen Kolonel Jenderal Hussar pada tahun 1787 walaupun ditentang oleh ayahnya.[2][5] Di bawah monarki Bourbon, akses ke korps perwira Angkatan Darat Prancis dibatasi hanya bagi mereka yang memiliki empat jenjang bangsawan (yaitu, dua generasi keturunan bangsawan). Namun, Ney dengan cepat naik pangkat melalui pangkat bintara.
Setelah Revolusi Prancis, Ney terus bertugas di Tentara Revolusi Prancis, di Tentara Utara. Pada bulan September 1792, ia bertempur di Pertempuran Valmy dan pada bulan Oktober dilantik sebagai perwira di bawah Republik. Sebagai perwira, ia ikut serta dalam Pertempuran Neerwinden pada tahun 1793 dan terluka dalam Pengepungan Mainz, juga pada tahun 1793. Pada bulan Juni 1794, ia dipindahkan ke Tentara Sambre-et-Meuse.
Jenderal Jean-Baptiste Kléber mengangkatnya sebagai letnan di Angkatan Darat Rhine pada tahun 1792, kapten pada tahun 1794, kemudian pemimpin skuadron, dan komandan brigade ajudan jenderal pada 15 Oktober 1794. Dia adalah salah satu jenderal pertama yang mengakui bakatnya.[b] Anak buahnya sudah memberinya julukan: "Si Tak Kenal Lelah". Karena ia berambut merah, anak buahnya dengan penuh kasih sayang memanggilnya "si rambut merah", "si rambut merah", atau "si kepala tomat".[6] Ney tidak mudah bergaul, sombong, dan mudah tersinggung, tetapi dia tidak takut pada apa pun.
Ney dipromosikan menjadi brigadir jenderal pada Agustus 1796, dan memimpin kavaleri di garis depan Jerman. Pada 17 April 1797, dalam Pertempuran Neuwied, Ney memimpin serangan kavaleri melawan pasukan tombak Austria yang mencoba merebut meriam Prancis. Para pasukan tombak berhasil dipukul mundur, tetapi kavaleri Ney dibalas oleh kavaleri berat. Dalam pertempuran tersebut, Ney terlempar dari kudanya dan ditangkap di sekitar kotamadya Dierdorf; pada 8 Mei ia ditukar dengan seorang jenderal Austria.[7] Setelah merebut Mannheim, Ney dipromosikan menjadi jenderal divisi pada 28 Maret 1799 dan diberi komando singkat atas Angkatan Darat Rhine dari 25 September hingga 23 Oktober.[8][9] Pada bulan September 1799, ia untuk sementara diberi komando Angkatan Darat Rhine. Pada akhir September, Ney melancarkan beberapa serangan antara Seltz dan Mainz, yang sepenuhnya berhasil. Prancis merebut Frankfurt, Hochstadt direbut dengan badai, dan Sungai Nidda diseberangi. Ney tidak mendukung penuh aksi kudeta 18 Brumaire yang dilancarkan Napoleon Bonaparte.
Kemudian, Kléber berangkat bersama pasukannya untuk kampanye Mesir, sementara calon Marsekal Ney bertugas di bawah Jenderal Jean Victor Marie Moreau yang sama bergengsinya. Keduanya, bersama Richepance, mengakhiri Perang Revolusi dengan memenangkan Pertempuran Hohenlinden pada 3 Desember 1800.[8]
Pada 1801, Ney dipanggil ke Istana Tuileries untuk bertemu dengan Napoleon Bonaparte. Ini merupakan pertemuan pertama mereka, sepanjang kariernya sampai pertemuan tersebut Ney tidak pernah bertempur dibawah komandonya. Saat itu, Angkatan Darat Rhine sudah dibubarkan dan Ney baru saja membeli lahan pertanian. Napoleon memandang Ney dengan kecurigaan karena ia terkait dengan Jenderal Moreau, lawan politiknya. Namun, Joséphine de Beauharnais mencarikan jodoh kepada Ney. Ia menikahi Aglaé Auguié, seorang teman dekat dari Hortense de Beauharnais, di sebuah kapel dekat Istana Versailles.[10]



Napoleon Bonaparte kemudian menunjuk Ney sebagai Utusan Luar Biasa dan Menteri Berkuasa Penuh untuk Republik Helvetika pada tahun 1802, ia berhasil memaksakan pemerintahan kesatuan yang diinginkan oleh Konsul Pertama dan menenangkan negara ini yang terancam perang saudara, sehingga membuatnya dihormati oleh Talleyrand. Selama di Swiss, ia bertemu dengan Antoine-Henri de Jomini, seorang penulis dan ahli strategi dan pertemuan mereka membuat Ney terpukau dan merekrutnya.[11]
Pada 19 Mei 1804, Ney diangkat sebagai salah satu dari 18 Marsekal Kekaisaran dan menerima tongkat komandonya.[2] Di antara ke-18 marsekal itu, Ney menduduki peringkat ke-12.[12] Dalam kampanye tahun 1805, Ney mengambil alih komando Korps VI Grande Armée dan dipuji atas perilakunya di Elchingen.[2] Ia kemudian melawan pasukan Austria di Ulm tetapi tidak mengikuti Napoleon di Austerlitz, Ney ditugaskan untuk menginvasi Tirol dan menguasai Innsbuck dan Kärnten dari Adipati Utama John dari Austria.
Ney kemudian mengikuti kaisarnya berkampanye di Prusia dan hadir di Pertempuran Jena pada 14 Oktober 1804. Ney melakukan blunder saat ia melawan perintah Napoleon dan memimpin pasukannya menyerang divisi Prusia. Serangan awal Ney berhasil, tetapi ia mendapati dirinya terlalu banyak bergerak dan mendapat tembakan gencar dari artileri Prusia. Menyadari posisi penting yang terancam, jenderal Prusia memerintahkan serangan balik dan mengepung pasukan Ney; Ney membentuk formasi persegi untuk melindungi semua sisi mereka. Napoleon menyadari situasi Ney dan memerintahkan Marsekal Jean Lannes untuk bergeser dari pusat serangan untuk membantu mengenali Ney. Tindakan Ney membuat Napoleon mengkritiknya, "Ney kurang tahu tentang keprajuritan dibandingkan dengan pemain drum terakhir yang bergabung!". Setelah pertempuran, Ney juga ikut menduduki Erfurt dan berhasil menduduki Magdeburg.

Kemudian, Ney terlibat di Pertempuran Eylau di mana Napoleon kembali mengkritiknya karena melawan perintah. Ney memajukan tentaranya semakin ke utara daripada posisi yang diperintahkan Napoleon untuk mencari makan, membuat posisi Prancis terbuka untuk serangan kejutan dari Jenderal Rusia Levin August von Bennigsen terhadap posisi Marsekal Bernadotte.[13] Ney juga serang mengejar Jenderal Prusia Anton Wilhelm von L'Estocq tetapi di arah yang berbeda.[14] Namun, Ney berhasil membantu Napoleon memperstabil situasi di medan pertempuran.[14] Setelah pertempuran tersebut, Ney mengamati medan perang pada keesokan harinya dan berkata, "Sungguh sebuah pembantaian tanpa hasil".[15]
Tetapi di Pertempuran Friedland, Ney menjadi Marsekal yang berjasa dalam memenangkan pertempuran tersebut. Serangan awal dari Ney disusul oleh bantuan artileri dari Jenderal Victor-Perrin mengejutkan semangat juang pasukan Rusia. Ia kemudian dibantu oleh Marsekal Lannes dan Mortier sambil menghadang bala bantuan dari Rusia, membawa kemenangan kepada Prancis sampai Aleksandr I dari Rusia meminta perdamaian di Tilsit.[16][17] Napoleon bahkan memuji Ney, menyatakan bahwa "Pria itu (Ney) adalah seekor singa!".[18] Atas jasanya, Ney dianugerahi gelar Adipati Elchingen pada 6 Juni 1808.[2]
Pada Agustus 1808, ia dikirim ke Spanyol mengomandoi Korps VI dan menyerang Bilbao, Logroño dan Soria. Pada 1809, ia ditunjuk sebagai komandan di Galisia dan ditugaskan untuk menumpas serangan gerilya dari Spanyol.[17] Ia bertempur dengan pasukan Luso-Spanyol di bawah pimpinan Sir Robert Wilson di Puerto de Baños.
Ney terus mendukung operasi Prancis di Spanyol. Setelah Pertempuran Corunna, Mayor Napier dari tentara Inggris dikirim sebagai tawanan di bawah komando Ney. Ney memperlakukannya dengan hormat dan membebaskannya dengan pembebasan bersyarat untuk kembali ke Inggris. Pada bulan Mei itu, pasukan Ney berhasil merebut Oviédo, tetapi tak lama kemudian Marsekal Soult dan Korps II-nya tiba di daerah tersebut. Pada suatu pertemuan di mana Marsekal Soult mengajukan tuntutan kepada Ney, Ney mulai menghunus pedangnya dan menantang Soult untuk berduel hingga para perwira stafnya menghentikannya. Selanjutnya, tentara mulai mundur dari Galicia, tetapi Ney memerintahkan anak buahnya untuk membakar dua puluh enam desa saat mereka pergi. Pasukan Ney memastikan penduduk dievakuasi, tetapi itu adalah penghancuran yang tidak perlu, dengan satu-satunya alasan mereka adalah frustrasi atas kebrutalan para gerilyawan.[17]
Sementara itu, Ney dinobatkan sebagai Ksatria Ordo Kristus Portugal, dan ia bertempur dan menang di Banos pada bulan Agustus. Pada bulan Oktober, ia menerima perintah dari Joseph Bonaparte untuk mengambil alih Korps I Marsekal Victor, dan Ney menolak untuk mematuhi perintah tersebut tanpa bukti bahwa itu adalah keinginan Napoleon. Ia diperintahkan cuti dan kembali ke Prancis untuk beristirahat, tetapi itu tidak berlangsung lama. Pada bulan November, ia diperintahkan kembali ke Spanyol untuk mengambil alih komando Korps VI.[17]
Pada 1810, Ney bergabung dengan Marsekal André Masséna untuk Invasi Portugal. Dari Spanyol, Korps VI pimpinan Ney menduduki Ciudad Rodrigo dan Almeida, dan menyaksikan pertempuran lebih lanjut di Sungai Côa, dan kekalahan di Bussaco. Tentara Prancis mengikuti sekutu yang mundur ke Garis Torres Vedras, sebuah jebakan bumi hangus yang disiapkan oleh Wellington secara rahasia. Setelah kehilangan 21.000 dari 61.000 orang dalam beberapa bulan kelaparan, Masséna dan Ney terpaksa mundur karena kekurangan makanan dan persediaan.[19] Saat Massena mundur, Ney menghalau pasukan Wellington di beberapa pertempuran aksi barisan belakang, sebuah kualitas yang kemudian membuatnya terkenal dan membuat pasukan Inggris frustasi (Pombal, Redinha, Casal Novo, dan Foz de Arouce). Pasukan Prancis berhasil mundur kembali ke Spanyol pada 1811. Saat itu, Ney sudah hilang kepercayaan dengan Massena dan ketika Ney diberikan perintah, ia langsung membangkang dan menyatakan bahwa ia hanya akan menuruti perintah Massena dengan persetujuan Kaisar. Massena memecat Ney dan ia kembali ke Prancis, walaupun kemudian Napoleon memanggil Massena dan mencopotnya dua bulan kemudian dan Ney diberikan tugas baru oleh sang Kaisar.[2][17]
Ney berangkat ke Rusia dengan Korps III Grande Armée dibawah komandonya pada 1812. Ia memimpin pasukan pelopor Prancis di Pertempuran Krasnoi Pertama dan kemudian terluka di bagian leher saat di Smolensk dan bertempur di Valutino. Ney kemudian bertempur di barisan tengah selama Pertempuran Borodino, di mana Ney menunjukkan keberaniannya dan menginspirasi pasukan.[17] Sesampai di Moskow, Napoleon memutuskan untuk mundur keluar karena Tsar Aleksandr I tidak mau bernegosiasi.[17]
Di kemunduran tersebut, nama Ney bersinar. Awalnya, komando sebagai panglima pasukan belakang diberikan Marsekal Davout tetapi pada 3 November 1812, pasukan Davout terperangkap oleh serangan Rusia.[17] Pasukan dibawah Ney membuka jalur supaya pasukan Davout bisa kembali. Sejak itu, Ney menjadi komandan pasukan belakang untuk menghalau serangan Rusia dibawah Laksamana Pavel Chicagov dan Jenderal Wittgenstein.[18] Pada 6 November, pasukan dibawah Ney mulai gerah dengan serangan Rusia dan Ney sendiri pergi ke medan perang dan mengambil senapan pasukannya yang jatuh dan mulai menembak, pasukan Rusia kemudian mundur mencari pasukan yang lebih lemah.[17]
Kemudian, pasukan Ney terperangkap dan terisolasi oleh pasukan Rusia dan pasukannya terus menerus menyerang untuk memecahkan blokade Rusia di Pertempuran Krasnoi. Bahkan, pasukan Rusia mengutus seseorang untuk memintanya menyerah. Ney menjawab, "Seorang Marsekal Prancis tidak pernah menyerah! Dia tidak akan berunding di bawah tembakan musuh!".[20] Ney dan pasukannya berhasil kabur pada malam hari ditengah kabut tebal dan mengarungi Sungai Dnieper, tetapi kehilangan setengah kekuatan pasukannya.[21] Setelah Davout dan Pangeran Eugène de Beauharnais berhasil berkumpul dengan Napoleon, ia berharap bahwa Ney juga akan kembali tetapi Ney masih terperangkap. Napoleon berkata, "Ia akan melakukan yang mustahil dan kehilangan nyawanya dalam sebuah serangan putus asa. Saya bakal memberinya tiga ratus juta emas yang saya simpan di brankas Tuilleres untuk menyelamatkannya. Jika ia tidak terbunuh, mungkin ia kabur dengan beberapa prajurit pemberani. Namun kemungkinannya sangat tidak berpihak padanya".[18] Beruntung bagi Ney, Napoleon berada di Orsha dan Ney mengejar dan berhasil bergabung ke Napoleon.[2] Napoleon terharu dan kemudian berkata, "Pasukan Prancis penuh dengan pria pemberani, tetapi Ney benar-benar si pemberani dari pemberani".[17] Pangeran Eugene terharu mendengarkan kabar Ney dan memerintah pasukannya untuk membantu pasukan Ney agar dapat berkumpul kembali.[17]

Barisan belakang Ney terus menanggung beban tekanan Rusia selama penyeberangan Sungai Berezina pada 26-28 November. Di sana, Korps III-nya, bersama sisa-sisa unit lain yang berjumlah sekitar 10.000-12.000 orang, berhasil menahan korps Wittgenstein di tepi kiri, memungkinkan sebagian besar pasukan—sekitar 25.000 prajurit yang masih hidup dan efektif dalam pertempuran—untuk menyeberangi jembatan darurat sebelum hancur. Pasukan Ney menderita banyak korban jiwa akibat serangan artileri dan infanteri, tetapi berhasil mencegah pengepungan total, meskipun keseluruhan kampanye telah menghancurkan Grande Armée dari lebih dari 600.000 orang di awal menjadi kurang dari 50.000 orang pada awal Desember.[22] Aksi terakhir Ney di Rusia terjadi di sebuah jembatan vital di Kaunas, di mana legenda menyatakan bahwa Ney adalah orang terakhir yang mengarungi Sungai Neman menuju Polandia.[2][18] Atas jasanya di Rusia, Ney dianugerahi gelar Pangeran Moskow oleh Napoleon pada 25 Maret 1813.[2]
Ney diberi waktu untuk beristirahat sebelum kembali beraksi pada Perang Koalisi Keenam. Ia bergabung dengan Korps III yang baru dibangun kembali pada Maret 1813 di Jerman.[17] Ia kemudian bertempur di Weissenfels pada 29 April 1813 melawan pasukan Prusia pimpinan Wittgenstein.[17] Ia kemudian terlibat di Lützen di mana Ney mengalami luka di bagian kaki kanan.[17] Di Pertempuran Bautzen, Ney mengomando pasukan sayap kiri di mana ia berkontribusi terhadap kemenangan pasukan Prancis tetapi menunjukkan keraguan.[23] Ney kembali memimpin pasukan sayap kiri di Pertempuran Dresden melawan pasukan Austria pimpinan Pangeran Karl Philipp dari Schwarzenberg.[17]
Pada awal September 1813, Ney ditugaskan untuk memimpin Pasukan Berlin, memerintahnya untuk maju menguasai Berlin melawan pasukan Prusia-Swedia yang dipimpin Jean-Baptiste Bernadotte yang sudah menjadi pangeran mahkota Swedia.[23] Ney melawan Bernadotte di Pertempuran Dennewitz dan mengalami kekalahan yang disebabkan oleh kesalahan taktis Ney dan pembelotan kepala stafnya Jomini sebelum pertempuran pada Agustus .[23] Beberapa minggu kemudian, ia bertempur di Leipzig melawan pasukan Koalisi yang berjumlah 300,000 orang, berjaga di bagian utara kota dengan Marsekal Auguste de Marmont.[24] Ney kembali terluka di bahu kiri, kehilangan dua kuda dan dengan nyaris kabur dari kehancuran pasukan Prancis dengan berenang di Sungai Elster setelah satu-satunya jembatan disana dihancurkan secara prematur.[17]
Dalam kampanye tahun 1814 di Prancis, Ney bertempur dalam berbagai pertempuran dan memimpin berbagai unit. Ia melawan pasukan Prusia pimpinan Gebhard Leberecht von Blucher di Pertempuran Brienne dan pasukan Austria pimpinan Pangeran Schwarzenberg di La Rothière, serta mengikuti serangan balik oleh Napoleon di Champagne.[17] Pada akhir Maret 1814, semangat juang di antara marsekal-marsekal Napoleon sudah pudar. Setelah mendengarkan bahwa Marmont berkhianat dan menyerah kepada pihak Koalisi, Ney menyimpulkan bahwa Prancis sudah kalah perang.[23] Bertemu Napoleon di Istana Fontainebleau, Ney berdiskusi dengan Lefebvre dan Moncey sebelum berjumpa dengan Napoleon untuk memintanya turun taktha kepada putranya, Napoleon, Raja Italia. Ney bahkan berkata kepada Napoleon bahwa pasukan telah menolak perintahnya untuk maju ke Paris, membuat Napoleon geram dan berteriak, "Pasukan akan menuruti saya!" dan Ney membalas, "Pasukan akan menuruti jenderalnya!".[25] Setelah itu, Marsekal Étienne Macdonald dan Nicolas Oudinot datang ke Fountainbleau dan Ney juga meyakinkan keduanya untuk meminta Napoleon turun.[17] Akhirnya, Napoleon turun taktha dan Ney menjadi salah satu delegasi Prancis yang ikut bernegosiasi dengan Koalisi. Namun, Koalisi meminta Napoleon untuk turun taktha tanpa syarat dan berikan takthanya kepada Louis XVIII dari Prancis.[17]
Ney kemudian bersumpah setia kepada Louis XVIII dari Prancis dan secara terbuka berjanji menjaga perdamaian setelah puluhan tahun berperang.[17] Untuk mengikat dukungan dari eks-jenderal Napoleon, Louis XVIII mengakui gelar-gelar Ney sebagai Adipati Elchingen dan Pangeran Moskow.[17] Ney juga diangkat sebagai bangsawan Prancis dan diberikan komando Garda Kerajaan, termasuk menjadi panglima Kavaleri Kerajaan.[26] Awalnya, Ney memiliki hubungan dekat dengan Istana tetapi kemudian ia dipandang rendah oleh kalangan bangsawan lainnya karena latar belakangnya sebagai rakyat jelata.[17] Pada suatu hari, ia pulang menemukan istrinya Aglaea menangis karena dianiaya oleh putri kerajaan Marie Thérèse dari Prancis. Marah, Ney menobrak pintu Istana Tuileries, dengan cepat memberi hormat kepada raja dan kemudian memaki Marie Therese, mulai berkata dari, "Saya dan rekan lain sedang bertarung demi Prancis sementara kamu duduk minum teh di perkebunan Inggris" dan berakhir dengan "Kamu sepertinya tidak tahu apa arti nama Ney, tetapi suatu hari akan saya tunjukkan kepadamu!".[17]
Saat Napoleon melarikan diri dari Elba pada 26 Februari 1815 dan mendarat di Prancis, Louis XVIII memerintah Ney untuk menangkap Napoleon.[27] Ney bahkan berjanji kepada raja untuk mengurung Napoleon di sebuah "jeruji besi". Komitmen publik ini sejalan dengan tugas Ney yang diakui terhadap monarki saat itu, memobilisasi kekuatan di bawah otoritas kerajaan sebelum peristiwa berubah secara dramatis.[27]

Saat Napoleon mendengarkan bahwa Ney akan mencoba mengurungnya, Napoleon mengirimkan surat kepada Ney yang bertulis, "Saya akan menunggumu seperti sebelumnya setelah Pertempuran Moskowa".[28] Pasukan Ney bergerak ke selatan dari Auxerre, berhadapan dengan barisan Napoleon yang bergerak maju di dekat Sisteron pada tanggal 14 Maret; tetapi, para prajuritnya, yang terpengaruh oleh permohonan pribadi Napoleon dan tekad sang kaisar, menolak untuk menembaknya, yang menyebabkan Ney membelot dan bergabung dengan pihak Napoleon dengan seluruh pasukannya.[29] Napoleon menerimanya kembali dan melantiknya sebagai Marsekal dan komandan pasukan.[17] Rekonsiliasi Ney dengan Napoleon merupakan pukulan telak bagi harapan monarki untuk mempertahankan kendali atas militer dan dengan itu, Prancis dan Raja meninggalkan Paris hanya dua hari setelah 'pengkhianatan' Ney diketahui di ibu kota.

Saat Napoleon dikalahkan dan kemudian diasingkan ke Saint Helena pada musim panas 1815, Ney ditangkap pada 3 Agustus 1815. Marsekal Moncey diperintahkan untuk memangku jabatan presiden pengadilan militer yang dibentuk untuk mengadili Ney, tetapi sang marshal menolak dan sempat dipenjara karenanya. Raja kemudian menunjuk Marsekal Jourdan sebagai presiden pengadilan dan pada saat pengadilan dibuka, pengadilan tersebut terdiri dari Marsekal Jourdan, Masséna, Augereau dan Mortier, beserta Jenderal Gazan de la Peyre, Claparède dan Villatte. Setelah pertimbangan yang panjang, pengadilan militer memberikan suara 5-2 untuk menyatakan dirinya "tidak kompeten".[30]
Setelah pengadilan militer tersebut dibubarkan, Louis XVIII mendakwa Ney atas tuduhan makar di Dewan Bangsawan.[29] Bukti kunci dalam persidangan diajukan oleh para komandan bawahan Ney, Jenderal Bourmont, seorang pendukung setia kerajaan, dan Jenderal Lecourbe, seorang republikan yang tidak lagi disukai selama masa kekaisaran dan kini mengabdi kepada Raja. Bourmont bersaksi bahwa Ney adalah pendukung setia Napoleon dan memberikan bukti seperti tuduhan bahwa Ney mengenakan medali Elang Kekaisaran beberapa menit setelah ia memutuskan untuk berganti pihak, yang menunjukkan adanya unsur perencanaan. Ney menanggapi dengan marah:[31]
Monsieur de Bourmont menuduh saya untuk membersihkan perilakunya sendiri. Sepertinya dia sudah mempersiapkan kecamannya terhadap saya beberapa bulan yang lalu di Lille, saksi di tempat lain. Dia mungkin menyanjung dirinya sendiri bahwa kami tidak akan pernah bertemu langsung lagi. Dia pikir saya akan diperlakukan semena-mena seperti Labedoyere. Saya tidak punya bakat berpidato, tetapi saya langsung pada faktanya. Sungguh disayangkan bagi saya bahwa Jenderal Lecourbe sudah tiada. Namun saya memohon kepada-Nya [menunjuk ke atas dengan tangan kanannya] terhadap deposisi ini, saya memohon kepada pengadilan yang lebih tinggi, kepada Tuhan yang mendengarkan kita semua, kepada Tuhan yang—Anda dan saya, Monsieur de Bourmont!—akan menghakimi kita.
Tidak ada saksi lain yang menguatkan klaim Bourmont bahwa Ney mengenakan dekorasi elang Kekaisaran. Meskipun Lecourbe telah meninggal, kesaksian yang ia berikan kepada seorang hakim dibacakan di persidangan, menunjukkan bahwa Lecourbe berpikir pihak royalis kalah dan bahwa 14.000 pasukan Napoleon praktis tidak dapat dilawan oleh 5.000 pasukan yang kesetiaannya dipertanyakan di bawah komando Ney.[31]
Untuk menyelamatkan nyawa Ney, pengacaranya André Dupin berargumen bahwa sejak kampung halamannya Saarlouis sudah dianeksasi oleh Prusia menurut Perjanjian Paris 1815, Ney secara teknis merupakan warga negara Prusia dan tidak bisa didakwa dengan tuduhan makar. Ney mengecewakan tindakan pengacaranya dengan lantang berkata: "Je suis Français et je resterai Français!" ("Saya orang Prancis dan akan tetap menjadi orang Prancis!").[32] Pada tanggal 4 Desember, ketika Majelis Tinggi dipanggil untuk memberikan putusan, 137 orang memilih hukuman mati dan 17 orang memilih deportasi; lima orang abstain. Hanya satu suara, yaitu suara Duc de Broglie, yang mendukung pembebasan.[33] Pada tanggal 6 Desember 1815, ia dijatuhi hukuman mati. Saat Ney mendengarkan dakwaan tersebut pada jam 3 pagi, ia menyela uraian panjang gelarnya, "Cukup! Sebut saja Michel Ney, sebentar lagi tinggal segenggam debu."[26]
Pada 7 Desember 1815, Ney dieksekusi dengan regu penembak di Paris, dekat Taman Luxembourg. Ia menolak mengunakan kain untuk menutup matanya, menyatakan: "Apakah kamu tidak sadar bahwa saya menghabiskan 25 tahun melihat bola meriam dan peluru?".[34] Ia diberi hak untuk memerintah regu penembak untuk menembaknya, dilaporkan ia berkata:
Pasukan, saat saya memberi perintah untuk tembak, tembaklah lurus ke hati saya. Tunggu perintahnya. Ini akan menjadi yang terakhir dari saya ke kamu. Saya protes atas kutukan saya. Saya telah bertempur seratus kali untuk Prancis, dan tak satu pun melawannya... Pasukan, "tembak"![35]
Jasad Michel Ney dimakamkan di Paris di Pemakaman Père Lachaise.