Marsekal Kekaisaran adalah sebuah gelar kehormatan sipil pada Kekaisaran Prancis Pertama yang didirikan oleh Sénatus-consultecode: fr is deprecated pada 18 Mei 1804. Secara konteks besar, gelar ini menetapkan kembali pangkat militer Marsekal Prancis. Menurut Sénatus-consulte, seorang Marsekal adalah pejabat agung Kekaisaran, yang berhak menduduki jabatan tinggi di istana dan menjabat sebagai presiden dewan elektoral.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Marsekal Kekaisaran (Prancis: Maréchal d'Empirecode: fr is deprecated ) adalah sebuah gelar kehormatan sipil pada Kekaisaran Prancis Pertama yang didirikan oleh Sénatus-consultecode: fr is deprecated pada 18 Mei 1804. Secara konteks besar, gelar ini menetapkan kembali pangkat militer Marsekal Prancis. Menurut Sénatus-consulte, seorang Marsekal adalah pejabat agung Kekaisaran, yang berhak menduduki jabatan tinggi di istana dan menjabat sebagai presiden dewan elektoral.
Meskipun secara teori hanya diperuntukkan "untuk para jenderal paling terhormat", dalam praktiknya Kaisar Napoleon memberikan gelar tersebut sesuai keinginan dan keyakinannya sendiri dan membuat setidaknya beberapa pilihan kontroversial. Meskipun bukan pangkat militer, seorang Marsekal memiliki empat bintang perak, sementara pangkat militer tertinggi, Jenderal Divisi, memiliki tiga bintang. Lebih lanjut, gelar Marsekal dengan cepat menjadi tanda prestisius pencapaian militer tertinggi dan menjadi kebiasaan bahwa komando paling penting diberikan kepada seorang Marsekal. Setiap Marsekal memiliki lambangnya sendiri, berhak atas penghargaan khusus, dan beberapa di antaranya memegang fungsi-fungsi penting dalam ketentaraan. Mereka mengenakan seragam khusus dan berhak membawa tongkat komando, yang merupakan simbol otoritas mereka.
Selama masa kekuasaanya dari 1804 sampai 1815, Napoleon menunjuk sebanyak 26 jenderal sebagai Marsekal Kekaisaran, walaupun jumlah mereka tidak selalu mencapai 20 pada satu saat. Daftar awal pada 1804 memperlihatkan sebanyak 14 jenderal aktif dan 4 jenderal pensiunan yang diberi gelar tersebut secara kehormatan. Napoleon kemudian mengangkat Marsekal sebanyak 6 kali kemudian, dengan 8 jenderal yang ditunjuk. Gelar tersebut sering kali memastikan status sosial yang sangat istimewa – empat Marsekal diangkat menjadi Pangeran Kekaisaran dan 17 menerima gelar Adipati atau Pangeran. Dengan dua pengecualian – Jean-Baptiste Bessières dan Jean-Mathieu-Philibert Sérurier – Para Marsekal menjalani gaya hidup mewah dan meninggalkan kekayaan yang signifikan, terkadang sangat besar. Beberapa dari mereka menerima anuitas yang signifikan; selain itu, beberapa menerima hibah keuangan dari Kaisar, dengan dua di antaranya – Louis-Alexandre Berthier dan André Masséna – masing-masing menerima lebih dari satu juta Franc. Dua Marsekal – Joachim Murat dan Jean-Baptiste Bernadotte – kemudian menjadi raja, dengan yang terakhir menjadi leluhur langsung dari keluarga kerajaan Swedia saat ini.
Sebagian besar Marsekal memegang komando penting selama Perang Napoleon, memenangkan beberapa kemenangan paling gemilang dari seluruh Perang Napoleon. Tiga dari mereka—yaitu, Jean Lannes, Louis-Nicolas Davout dan Louis-Gabriel Suchet—nyaris tidak pernah kalah dalam pertempuran sengit, meskipun bertempur dalam lusinan pertempuran. Meskipun mereka biasanya tidak diharapkan untuk memimpin dari garis depan, mereka sering kali menempatkan diri mereka pada bahaya besar di medan perang Eropa; tiga Marsekal – Jean Lannes, Jean-Baptiste Bessières dan Józef Poniatowski – tewas dalam tugas atau meninggal akibat luka pertempuran. Selama lima tahun sebagai Marsekal Kekaisaran (1809–1814), Nicolas-Charles Oudinot menerima tujuh dari total 34 luka pertempuran yang diderita sepanjang kariernya, tetapi terus hidup hingga usia 81 tahun yang terhormat saat itu. Seringkali tangguh ketika bertugas di bawah komando langsung Napoleon, para Marsekal terbukti kurang efektif ketika harus bekerja sama saat Kaisar tidak ada. Beberapa berulang kali bertindak dengan itikad buruk ketika ditempatkan di bawah komando Marsekal lain, dengan konflik yang terkadang berujung pada konsekuensi militer yang fatal. Setelah kejatuhan Napoleon, sebagian besar dari mereka bersumpah setia kepada Restorasi Bourbon dan beberapa di antaranya kemudian memegang komando dan posisi penting.

Kata Prancis Maréchal menelusuri asal-usulnya kembali ke Carolingian, dari kata Jerman kuno marascahl, seorang pengawas kandang yang merawat kuda-kuda raja. Dengan semakin pentingnya kuda perang selama awal Abad Pertengahan, peran itu menjadi beberapa prestise dan mulai dikenal sebagai Marsekal Prancis. Albéric Clément, yang memimpin garda depan Raja Philippe-Auguste selama kemenangan atas Inggris di Bouvines pada tahun 1214, adalah orang pertama yang tercatat memegang jabatan itu. Pada awalnya, peran itu diberikan kepada satu orang, tetapi tiga dekade setelah Bouvines, Louis IX dari Prancis berlayar untuk Perang Salib 1248 dengan dua Marsekal. Pada awal abad ke-15, para Marsekal tidak lagi merawat kuda dan kandang Raja, dan hanya menjadi pemimpin militer, sebuah peran yang akan mereka pertahankan hingga zaman modern. Meskipun jabatan ini tetap sangat bergengsi, jumlah mereka terus bertambah selama berabad-abad, dengan Louis XIV mengangkat hingga 51 Marsekal selama 72 tahun masa pemerintahannya. Pada tahun-tahun menjelang Revolusi Prancis, terdapat 15–16 Marsekal, tetapi undang-undang tanggal 4 Maret 1791 mengurangi jumlah mereka menjadi enam dan dekrit tanggal 21 Februari 1793 menghapuskan jabatan tersebut sepenuhnya.[1]
Sebelas tahun kemudian, Napoleon Bonaparte menjadi Kaisar Prancis dan ingin membentuk elit militer untuk Kekaisaran Prancis yang baru. Pasal 48 dari Judul Senatus-Konsulte tanggal 19 Mei 1804 menetapkan para perwira besar Kekaisaran, di antaranya yang paling tinggi kedudukannya adalah Marsekal.[2] Dalam hierarki istana Kekaisaran, mereka berada di peringkat kelima, di belakang Kaisar dan Permaisuri, keluarga Kekaisaran, pejabat tinggi, dan menteri.[3] Mereka berhak atas etiket khusus: setiap kali Kaisar menulis surat kepada mereka, ia akan memanggil mereka Mon Cousin ("Sepupu"), ketika pihak ketiga menulis surat kepada mereka, mereka akan dipanggil Monsieur le Maréchal; dan ketika diajak bicara, mereka akan dipanggil Monseigneur ("Tuanku"). Mereka disambut dengan 13 tembakan meriam saat berada di markas dan 11 tembakan saat bepergian. Mereka juga berhak atas lambang pribadi mereka sendiri.[4]

Meskipun martabat sipil murni diperuntukkan bagi para jenderal terhormat dan bukan pangkat militer, seorang Marsekal menampilkan empat bintang, sementara pangkat militer tertinggi saat itu, Jenderal Divisi menampilkan tiga bintang. Bertentangan dengan ide yang mapan dan dengan representasi pada sebagian besar lukisan saat itu, empat bintang Marsekal dilapisi perak, bukan disepuh. Seorang Marsekal diharuskan mengenakan seragam standar, yang ditetapkan melalui dekrit pada 18 Juli 1804 dan dirancang oleh pelukis Jean-Baptiste Isabey dan desainer Charles Percier. Meskipun demikian, para Marsekal sering memilih untuk mengenakan varian seragam resmi atau kostum dengan desain yang sama sekali berbeda. Tanda pembeda utama seorang Marsekal adalah tongkatnya. Tongkat itu berbentuk silinder, panjangnya 50 sentimeter dan diameter 4 setengah sentimeter, terbuat dari kayu dan dilapisi beludru biru tua, dihiasi dengan elang emas atau lebah madu, keduanya merupakan simbol Kekaisaran.[5]
Pembentukan pangkat sipil baru memungkinkan Napoleon untuk memperkuat rezim barunya dengan memberi penghargaan kepada para jenderal paling berharga yang telah bertugas di bawah komandonya selama kampanye di Italia dan Mesir, atau prajurit yang memegang komando penting selama Perang Revolusi Prancis. Selanjutnya, jenderal senior lainnya dipromosikan sebanyak enam kali, terutama setelah kemenangan besar di medan perang. Melihat ke belakang, pilihan Napoleon untuk Marsekal tidak selalu tepat sasaran.[6]
Napoleon mengangkat 18 jenderal sebagai Marsekal Kekaisarannya, bertepatan dengan penobatan Napoleon sebagai Kaisar Prancis dan berdirinya Kekaisaran Prancis Pertama. Napoleon mengangkat mereka untuk memperkuat pemerintahannya, memberikan keabsahan terhadap pemerintahnya di hadapan negara Eropa lainnya dan memberikan imbalan kepada mereka yang berjasa selama Perang Revolusi Prancis.[7] Pengangkatan 18 jenderal tersebut diselenggarakan pada 19 Mei 1804 setelah ditetapkan pada 18 Mei (Kalender Revolusi Prancis: 29 Floreal Tahun 12).[8][9] Pengangkatan tersebut disahkan melalui dekrit berikut:
Dekrit Kekaisaran[10]
Napoleon, Kaisar Prancis menetapkan hal-hal berikut:
Jenderal-jenderal berikut diangkat menjadi Marsekal Kekaisaran: Berthier, Murat, Moncey, Jourdan, Masséna, Augereau, Bernadotte, Soult, Brune, Lannes, Mortier, Ney, Davout, Bessières.
Gelar Marsekal Kekaisaran diberikan kepada Senator Kellermann, Lefebvre, Pérignon, dan Sérurier yang merupakan komandan tertinggi.
Diberikan di Saint-Cloud, pada tanggal 29 Floréal, Tahun XII.
NAPOLEON
Pilihan Napoleon terhadap 18 jenderal tersebut dipilih berdasarkan jasa militer dan situasi politik tertentu. Tujuh di antaranya adalah jenderal yang pernah bertugas langsung di bawah Napoleon selama kampanyenya di Italia dan Mesir. Lebih lanjut, ia juga berhati-hati dalam memberi penghargaan kepada beberapa perwira jenderal yang telah meraih ketenaran dan pengaruh politik yang cukup besar saat memimpin pasukan Republik, serta beberapa jenderal yang sangat menjanjikan yang pernah memegang komando divisi penting di Angkatan Darat Rhine. Para jenderal ini terkenal karena sentimen Republik mereka yang kuat dan tidak pernah bertugas di bawah komando Napoleon. Dengan memberi penghargaan kepada mereka atas prestasi militer mereka, Napoleon berusaha mendapatkan loyalitas mereka dan memastikan bahwa mereka akan menjadi pendukung, alih-alih penentang, rezim Kekaisaran yang baru.[3][6]
Secara keseluruhan, promosi pertama mencakup 14 nama jenderal. Daftar awal disusun oleh Sekretaris Negara Henri Jacques Guillaume Clarke dan kemudian diubah oleh Kaisar. Napoleon menambahkan nama Murat dengan tulisan tangannya sendiri, yang jelas tidak ada dalam draf Clarke. Hal ini mungkin merupakan kelalaian, tetapi tampaknya tidak ada bukti yang mendukung hal tersebut. Daftar akhir mencakup nama-nama berikut, dengan urutan yang hingga kini masih belum jelas:
Selain ke-14 jenderal tersebut, 4 nama juga diberikan. Keempat nama ini merupakan mantan jenderal senior yang dulu memegang komando pasukan dan setelah pensiun dari dinas militer mereka dilantik sebagai senator. Napoleon memberikan gelar tersebut secara kehormatan karena usia mereka dan mereka tidak selalu dikerahkan di medan perang.
Napoleon mengangkat tiga marsekal baru setelah Pertempuran Wagram. Promosi ini dapat digambarkan sebagai, "Satu untuk bangsa, satu untuk angkatan perang, dan satu demi persahabatan".
Di antara mereka yang ditawarkan sebagai Marsekal Kekaisaran, terdapat beberapa nama yang tenar seperti Masséna, Jourdan, Moncey, Lefebvre, Kellermann dan Brune. Selain itu, ada juga nama perwira muda seperti Mortier, Ney dan Soult yang tidak pernah memimpin pasukan sebesar divisi. Bahkan, Napoleon juga mengangkat beberapa orang yang tidak begitu dikenal jasa militernya selama kampanye Italia dan Mesir, yang baru dipromosi menjadi Jenderal Divisi tetapi tidak pernah memegang komando signifikan seperti Lannes, Davout dan Bessieres. Tidak heran jika kalangan perwira senior yang dibuat Marsekal merasa tidak puas. André Masséna yang dikenal sering membuat komentar sinis menanggapi, "Ada empat belas diantara kami...." yang ia gumamkan ketika teman-temannya bertamu untuk mengucapkan selamat atas pelantikannya sebagai Marsekal. Auguste de Marmont yang saat itu masih menjadi perwira muda, mungkin karena merasa iri tidak dipilih, mengkritik pelantikan Jean-Baptiste Bessières, "Jika Bessieres bisa dibuat sebagai Marsekal, maka semua pun bisa". Secara ironis, Marmont diberikan gelar tersebut pada 1809 karena alasan persahabatan dengan Napoleon, bukan karena Marmont adalah jenderal yang handal.
Penunjukkan beberapa jenderal untuk menjadi Marsekal Kekaisaran sebagian besar didasarkan pada kompetensi militer yang ditunjukkan, dengan banyak penerima yang berasal dari latar belakang sederhana melalui keberhasilan di medan perang dalam Perang Revolusi Prancis dan kampanye awal Napoleon. Contohnya, Louis-Nicolas Davout dilantik pada 1804 dan pada 1805 ia membuktikan dirinya pantas dilantik sebagai Marsekal ketika korps pimpinannya berhasil menimbulkan kekalahan besar bagi pasukan Austria di Austerlitz dan kemudian berhasil mengalahkan pasukan Prusia yang lebih besar di Jena-Auerstedt, menampilkan kecerdasan taktis dan kecakapan logistik.[14] Demikian pula, Jean Lannes dan Michel Ney dinaikkan pangkatnya karena keberanian mereka dan gaya kepemimpinan yang agresif selama kampanye di Italia dan Mesir. Lannes menunjukkan keberaniannya dengan menguasai beberapa titik penting di Arcole pada 1796 dan Ney memegang barisan belakang selama mundur, membuktikan efektivitas operasional selama masa jabatan saja. Seleksi ini membuktikan bahwa Napoleon mementingkan hasil seperti yang dianalisis dalam studi manajemen bakat militer, dengan mengutamakan perwira yang memberikan kemenangan ketimbang garis keturunan bangsawan.
Namun, kesetiaan pribadi dan ikatan relasional memengaruhi promosi tertentu, terutama saat Kekaisaran semakin matang dan konsolidasi politik menjadi yang terpenting. Joachim Murat adalah contoh yang paling mencolok karena ia diberikan tongkat marsekal walaupun jejak sejarah komando mandirinya tidak konsisten dan ia diberikan hanya karena ia merupakan seorang jenderal kavaleri Napoleon dan juga iparnya melalui perkawinan dengan Carolina Bonaparte.[7] Kasus lain adalah Louis-Alexandre Berthier yang diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dan diberikan gelar marsekal karena keahlian administrasinya dalam mengoordinasikan operasi Grande Armée—terbukti dari pelaksanaan manuver Ulm yang sempurna pada tahun 1805—daripada menjadi jenderal lapangan, dengan penilaian historis yang menunjukkan bahwa jabatan tersebut sangat diperlukan karena pengabdian yang tak tergoyahkan, bukan karena inovasi strategis.[14] Pelantikan Bernadotte pada 1804 walaupun memiliki catatan campuran selama Perang Revolusi Prancis, memasukkan favoritisme politik ke dalam faktor pelantikannya karena Napoleon berupaya mengikat kaum republiken yang ambisius ke dalam rezim tersebut, meskipun pembelotan Bernadotte ke Swedia kemudian menggarisbawahi batas perhitungan tersebut.[15]
Selama invasi Prancis ke Rusia pada tahun 1812 dan Perang Koalisi Keenam berikutnya pada tahun 1813–1814, loyalitas di antara para Marsekal Kekaisaran mulai retak di bawah tekanan perang yang berkepanjangan, kekalahan yang terus meningkat, dan ambisi pribadi, meskipun tidak semuanya membelot dan beberapa, seperti Louis-Nicolas Davout dan Jean-de-Dieu Soult, tetap teguh.[16] Para sejarawan menghubungkan masalah ini sebagian dengan miskomunikasi strategis Napoleon, yang menimbulkan kebingungan selama Kampanye 1814 di Prancis, yang memperburuk kecenderungan para komandan untuk lebih mementingkan pertahanan diri daripada kesetiaan kepada kekaisaran.[16] Contoh yang paling mencolok adalah Jean-Baptiste Bernadotte yang menjadi Marsekal pada 1804, dan kemudian menjadi pangeran mahkota Swedia atas izin Napoleon. Sebelum itu, Napoleon meminta Bernadotte untuk berjanji tidak mengangkat senjata melawan tanah airnya dan Bernadotte menjawab bahwa kewajiban kepada tanah air barunya tidak bisa menjamin janji tersebut bisa ditepati.[17] Bernadotte atas kepentingan Swedia kemudian mendeklarasikan perang melawan tanah airnya dan kemudian memberi siasat kepada musuh-musuh Napoleon mengenai cara menghadapi marsekalnya serta melawan pasukan Prancis di Leipzig.[18] Walaupun Prancis sudah mengecap Bernadotte sebagai pengkhianat, Napoleon hanya menganggap bahwa Bernadotte "tidak tahu terima kasih" tetapi mengerti bahwa Bernadotte harus bertanggung jawab kepada tanah air barunya.[18] Beberapa marsekal melakukan tindakan yang lebih parah.
Pada 1814 di Paris, Marsekal Auguste de Marmont membelot ke pihak Koalisi dan menyerahkan Paris tanpa menghubungi rekannya.[19] Napoleon menganggap ini sebagai sebuah pengkhianatan besar sampai gelar Marmont, Adipati Ragusa, menjadi sebuah pepatah yang berarti "pengkhianat", menyamakan Marmont dengan Benedict Arnold.[19] Secara bersamaan, Marsekal Pierre Augereau yang ditugaskan untuk menjaga Lyon dengan 15,000 sampai 20,000 tentara juga menolak untuk menyerang pasukan Kekaisaran Austria yang hendak menginvasi Prancis dan menyerahkan Lyon hampir tanpa perlawanan sama sekali.[20][21] Ia kemudian mengangkat panji Wangsa Bourbon dan mengecam Napoleon sebagai seorang tiran.[21][22] Saat Napoleon melarikan diri dari Elba, ia mencopot Augereau dari marsekal karena aksinya di Lyon dianggap sebagai makar.[22]
Di Istana Fontainebleau pada 4 April 1814, sekelompok perwira termasuk Marsekal Oudinot, Suchet, dan MacDonald meminta Napoleon untuk turun taktha untuk anaknya, Napoleon II demi perdamaian dengan pihak Koalisi. Pemaksaan mereka, walaupun dinilai pragmatis, dianggap sebagai isu loyalitas yang didasari oleh kecapekan dan semangat juang yang sudah pudar.[23]
| No. | Nama | Tahun Lahir / Kematian | Jabatan | Tahun menjadi Marsekal Prancis | Portret |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Louis Alexandre Berthier | (1753 - 1815) | Pangeran Wagram, Pangeran Berdaulat dari Neuchâtel | 1804 | |
| 2. | Joachim Murat | (1767 - 1815) | Pangeran dari d'Empire, Adipati Clèves dan Berg, Raja Napoli | 1804 | |
| 3. | Bon Adrien Jeannot de Moncey | (1754 - 1842) | Adipati Conégliano, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804 | |
| 4. | Jean-Baptiste Jourdan | (1762 - 1833) | Pangeran (Count) Jourdan setelah Restorasi Bourbon | 1804 | |
| 5. | Andre Massena | (1758 - 1817) | Adipati Rivoli, Pangeran Essling, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804 | |
| 6. | Pierre Augereau | (1757 - 1816) | Adipati Castiglione | 1804 | |
| 7. | Jean Baptiste Jules Bernadotte | (1763 - 1844) | Pangeran Pontecorvo dan Raja Swedia | 1804 | |
| 8. | Guillaume Marie Anne Brune | (1763 - 1815) | Pangeran (Count) Kekaisaran | 1804 | |
| 9. | Nicolas Jean de Dieu Soult | (1769 - 1851) | Adipati Dalmatia, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804, marsekal besar tahun 1847 | |
| 10. | Jean Lannes | (1769 - 1809) | Adipati Montebello, Pangeran Siewirz | 1804 | |
| 11. | Edouard Adolphe Casimir Joseph Mortier | (1768 - 1835) | Adipati Trévise | 1804 | |
| 12. | Michel Ney | (1769 - 1815) | Adipati Elchingen, Pangeran Moskow, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804 | |
| 13. | Louis Nicolas Davout | (1770 - 1823) | Adipati Auerstaedt, Pangeran Eckmühl | 1804 | |
| 14. | Jean-Baptiste Bessieres | (1768 - 1813) | Adipati Istria | 1804 | |
| 15. | Francois Christophe Kellermann | (1737 - 1820) | Adipati Valmy | 1804 (anggota kehormatan) | |
| 16. | Francois Joseph Lefebvre | (1755 - 1820) | Adipati Dantzig | 1804 (anggota kehormatan) | |
| 17. | Dominique Catherine de Perignon | (1754 - 1818) | Marquis Grenade, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804 (anggota kehormatan) | |
| 18. | Jean-Mathieu-Philibert Serurier | (1742 - 1819) | Pangeran (Count) Kekaisaran, Bangsawan (Peer) Prancis | 1804 (anggota kehormatan) | |
| 19. | Claude Victor-Perrin | (1764 - 1841) | Adipati Bellune, Bangsawan (Peer) Prancis | 1807 | |
| 20. | Etienne-Jacques-Joseph-Alexandre MacDonald | (1765 - 1840) | Adipati Tarento, Bangsawan (Peer) Prancis | 1809 | |
| 21. | Nicolas Oudinot | (1767 - 1847) | Adipati Reggio, Pangeran (Count) Kekaisaran | 1809 | |
| 22. | Auguste Marmont | (1774 - 1852) | Adipati Ragusa | 1809 | |
| 23. | Louis Gabriel Suchet | (1770 - 1826) | Adipati Albufera, Pangeran (Count) Kekaisaran | 1811 | |
| 24. | Laurent, Marquis de Gouvion Saint-Cyr | (1764 - 1830) | Marquis Gouvion-Saint-Cyr, Pangeran (Count) Kekaisaran | 1812 | |
| 25. | Jozef Antoni Poniatowski | (1763 - 1813) | Pangeran Polandia | 1813 | |
| 26. | Emmanuel de Grouchy | (1766 - 1847) | Marquis de Grouchy, Pangeran (Count) Kekaisaran | 1815 |