Lendra Kraton Melani Kusumahati Suharli Leimena adalah seorang politikus Indonesia dari Partai Demokrat yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari 2009 hingga 2024. Antara 2009 dan 2014, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Melani Leimena Suharli | |
|---|---|
| Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 3 Oktober 2009 – 30 September 2014 | |
| Ketua MPR | Taufiq Kiemas Sidarto Danusubroto |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 1 Oktober 2009 – 30 September 2024 | |
| Daerah pemilihan | DKI Jakarta II |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 27 Januari 1951 Jakarta, Indonesia |
| Partai politik | Demokrat |
| Orang tua | Johannes Leimena (ayah) Tjitjih Wiyarsih Leimena (ibu) |
| Pekerjaan | Politikus |
Lendra Kraton Melani Kusumahati Suharli Leimena (lahir 27 Januari 1951) adalah seorang politikus Indonesia dari Partai Demokrat yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari 2009 hingga 2024. Antara 2009 dan 2014, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Melani Leimena Suharli lahir di Jakarta pada 27 Januari 1951. Ayahnya, Johannes Leimena, adalah wakil perdana menteri dan Pahlawan Nasional Indonesia, dan pendiri Partai Kristen Indonesia.[1][2] Meskipun keluarganya adalah Kristen, Suharli menganut Islam[3] dan memiliki biro perjalanan Haji Al Amin Universal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.[4]
Suharli terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2009 mewakili daerah pemilihan Jakarta II sebagai bagian dari Partai Demokrat,[5] dan terpilih sebagai wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat.[6] Dia terpilih kembali dari daerah pemilihan yang sama pada pemilihan legislatif 2014,[7] dan ditugaskan di komisi VI DPR.
Suharli mengkritik fakta bahwa narapidana korupsi masih menerima pembayaran pensiun dan meminta revisi undang-undang yang ada untuk mencabut pembayaran tersebut.[8] Dia mendorong RUU kekerasan seksual yang diusulkan untuk dimasukkan dalam program legislatif negara pada tahun 2015, dan meminta pemerintah untuk mengumumkan darurat kekerasan seksual, dengan alasan peningkatan kejadian.[9] Pada 2018, Suharli menyerukan peningkatan keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat,[10] dan peningkatan pendanaan bagi Kementerian Koperasi dan UKM untuk meningkatkan jumlah wirausaha.[11]
Dia terpilih kembali pada 2019 setelah memenangkan 36.157 suara.[12] Namun, pada pemilihan legislatif 2024 ia gagal terpilih kembali walaupun dengan jumlah suara lebih tinggi yaitu 61.046 suara.
| Pemilu | Lembaga legislatif | Dapil | Partai | Perolehan suara | Hasil | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2009 | Dewan Perwakilan Rakyat | DKI Jakarta II | Demokrat | Belum diketahui | ||
| 2014 | Dewan Perwakilan Rakyat | DKI Jakarta II | Demokrat | 19.844[13] | ||
| 2019 | Dewan Perwakilan Rakyat | DKI Jakarta II | Demokrat | 36.157[14][15] | ||
| 2024 | Dewan Perwakilan Rakyat | DKI Jakarta II | Demokrat | 61.046[16] | ||