Pada siang hari 7 November 2025, telah terjadi aksi pengeboman di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, saat sedang berlangsungnya salat Jumat sekitar pukul 12.15 WIB. Ledakan ini menyebabkan setidaknya 96 orang luka-luka yang sebagian besar adalah siswa sekolah tersebut. Terduga pelaku yang berusia 17 tahun turut terluka dalam peristiwa ini dan harus menjalani operasi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Pengeboman SMA Negeri 72 Jakarta | |
|---|---|
![]() | |
| Lokasi | 6°09′49″S 106°53′05″E / 6.163530°S 106.884631°E / -6.163530; 106.884631 SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Indonesia |
| Tanggal | 7 November 2025 12.02 (WIB) |
| Sasaran | Siswa |
Jenis serangan | Pengeboman |
| Senjata | Bom rakitan |
| Tewas | 0 |
| Luka | 97 (termasuk terduga pelaku)[1] |
| Pelaku | Muhammad Nazriel Fadhel Hidayat |
Jml. pelaku | 1 (dengan beberapa tersangka perakit bom buatan) |
| Motif | Sedang dalam investigasi,[2] diperkirakan:
|
Pada siang hari 7 November 2025, telah terjadi aksi pengeboman di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, saat sedang berlangsungnya salat Jumat sekitar pukul 12.15 WIB.[3] Ledakan ini menyebabkan setidaknya 96 orang luka-luka yang sebagian besar adalah siswa sekolah tersebut.[1] Terduga pelaku yang berusia 17 tahun turut terluka dalam peristiwa ini dan harus menjalani operasi.[4]
Pascaledakan, tim Gegana dari Korps Brigade Mobil (Brimob) dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88) Kepolisian Negara Republik Indonesia dikerahkan ke lokasi untuk melakukan penyelidikan. Di tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan dua pucuk senjata mainan,[5] satu laras panjang dan satu pistol revolver, yang memiliki tulisan nama-nama pelaku terorisme di luar negeri seperti Brenton Tarrant, pelaku penembakan masjid Christchurch 2019, Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan masjid Kota Quebec 2017,[6] dan Luca Traini, pelaku Penyerangan di Macerata 2018.

Menurut rekaman CCTV yang diperlihatkan oleh Kapolda Metro Jaya, pelaku memasuki area sekolah melalui gerbang utama pada pukul 06.28 WIB dengan membawa 2 tas, yakni tas punggung merah dan tas jinjing biru. Dalam rangkaian gambar terungkap aksi terencana yang dieksekusi dengan tenang, mulai dari kedatangan di pagi hari hingga momen detonasi. Pada awalnya, aktivitas di lingkungan sekolah masih berlangsung normal; pelaku bahkan sempat berbicara dengan salah satu guru sebelum aksinya dimulai. Sekitar pukul 11.44 WIB, pelaku terlihat memasuki area masjid tanpa mengenakan alas kaki dan masih mengenakan seragam sekolah.[7]
Pada pukul 12.02.28 WIB, rekaman dari kamera berbeda memperlihatkan pelaku keluar dari masjid dengan penampilan yang berubah. Ia tampak mengenakan kaos putih, celana hitam, dan menggendong senjata mainan seraya memegang benda kecil yang diduga sebagai pemicu atau detonator dan mengarahkannya ke arah masjid. Berselang 23 detik kemudian, tepatnya pada 12.02.51 WIB, kamera CCTV yang menghadap ke depan masjid merekam kilatan cahaya dari dalam ruangan, menandakan terjadinya ledakan pertama. [7]
Ledakan tersebut terjadi bersamaan dengan khotbah Jumat kedua sedang berlangsung. Saksi mata melaporkan mendengar suara ledakan keras yang diikuti kepulan asap sehingga menyebabkan kepanikan di antara para siswa dan jemaah.[8] Getaran hebat dari bom bahkan membuat pintu sebuah ruangan di dekatnya terbuka dengan sendirinya. Satu detik setelah ledakan, yakni pada 12.02.52 WIB, pelaku terekam berlari menjauhi titik ledakan.[7]
Tak lama kemudian, dilaporkan terjadi ledakan kedua di area kantin di belakang sekolah. Segera setelah insiden tersebut, area sekolah disterilkan oleh Korps Brigade Mobil (Brimob) pada pukul 13.45 WIB.[9] Para korban yang mengalami luka-luka segera dievakuasi oleh petugas dan dilarikan ke rumah sakit terdekat, antara lain Rumah Sakit YARSI dan Rumah Sakit Islam Jakarta Islam Cempaka Putih.[10] Setelah ledakan terjadi, para orang tua siswa menerima informasi mengenai ledakan di sekolah melalui grup WhatsApp.[11]
Seorang saksi mata menuturkan bahwa ia melihat korban-korban berlumuran darah dipapah menuju ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sambil menunggu kedatangan ambulans.[8] Saksi tersebut mengaku diminta oleh guru untuk membantu mengevakuasi korban. Ia kemudian mengambil tandu dan kembali ke lokasi ledakan. Saat kembali, seorang anggota TNI yang sudah berada di lokasi menanyainya apakah ia mengenali pelaku. Petugas tersebut menunjuk seorang siswa kelas 12 yang tergeletak di dekat senjata mainan. Menurut keterangan teman korban, di sekitar lokasi ditemukan sebuah kaleng minuman yang dimodifikasi dengan sumbu serta sebuah remot kecil.[8]
Pihak kepolisian lalu mengamankan terduga pelaku yang ditemukan di dalam masjid sekolah.[butuh rujukan] Aparat gabungan dari kepolisian dan Densus 88 menemukan tujuh perangkat peledak di lokasi kejadian, empat di antaranya meledak di dua titik, sementara tiga lainnya tidak meledak dan disita untuk penyelidikan lebih lanjut.[12]
Laporan berita awal secara keliru mengaitkan ledakan tersebut dengan sistem tata suara atau tabung gas di dalam masjid, berdasarkan kesaksian para korban.[13]
Polda Metro Jaya secara resmi menetapkan satu orang tersangka, seorang siswa kelas 12 yang disebut dengan inisial "F" (nama lengkap belum dirilis oleh pihak berwenang), dari sekolah yang sama.[14] [15] Statusnya yang masih dibawa 18 tahun membuat kepolisian melibatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada proses penyelidikan.[16] Polisi menetapkan terduga pelaku sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH), yang berarti mereka di bawah usia 18 tahun dan tunduk pada prosedur peradilan anak, yang berfokus pada rehabilitasi dan pembinaan daripada sanksi pidana.[17]. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil penyelidikan, termasuk analisis terhadap sejumlah barang bukti yang dikumpulkan dari tempat kejadian perkara (TKP) dan rumah terduga pelaku, serta pendalaman keterangan dari berbagai saksi.[18]
Tindakan yang dilakukan oleh Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) ini dilatarbelakangi oleh akumulasi rasa marah terhadap lingkungan sekitarnya yang akhirnya tidak dapat lagi ia kendalikan.[19][butuh rujukan] Meskipun demikian, belum ada motif resmi yang dikonfirmasi oleh pihak berwenang. Penyidik menemukan tulisan dan gambar di tempat kejadian perkara dan kediaman tersangka, yang mengindikasikan bahwa tersangka memiliki "perasaan tidak suka" yang memicu "tekanan emosional", tetapi sifat pasti dari "ketidaksukaan" tersebut tidak dirinci oleh polisi, dan belum ada motif definitif yang dikonfirmasi secara resmi.[20] Pihak polisi telah menemukan buku catatannya yang sudah dituliskan oleh terduga pelaku sejak masuk jenjang SMA. Buku tersebut mendokumentasikan keluhnya yang merasa sendirian dan mengaku tidak memiliki teman.[21]
Polda Metro Jaya menyatakan bahwa tersangka tidak memiliki kaitan dengan organisasi teroris mana pun dan serangan tersebut telah direncanakan dan dilakukan secara mandiri tanpa terkaitan dengan kelompok terorisme manapun.[22][19] Namun, juru bicara Detachment 88 AKBP Mayndra Eka Wardana mengklaim bahwa 7 ekstremis sayap kanan telah menginspirasi serangannya: Eric Harris dan Dylan Klebold, Dylann Roof, Alexandre Bissonnette, Vladislav Roslyakov, Brenton Tarrant, dan Natalie Lynn Rupnow. Semuanya menganut supremasi kulit putih atau neo-nazisme.[23]
Pihak sekolah turut diselidiki untuk menelusuri akar permasalahan. Meskipun fokus penyidikan saat ini masih berkaitan dengan proses terjadinya ledakan, aspek penyebab juga tengah didalami oleh penyidik.[24]
| Muhammad Nazriel Fadhel Hidayat | |
|---|---|
Swafoto Fadhel | |
| Status | Diselidiki |
| Kebangsaan | |
| Pendidikan | SMA Negeri 72 Jakarta |
| Pekerjaan | Pelajar |
| Dikenal atas | Pelaku pengeboman SMA Negeri 72 Jakarta |
| Motif | • Ekstremisme kanan jauh • Islamofobia • Neo-Nazisme |
| Perincian | |
| Tanggal | 7 November 2025 |
| Luka | 97 (termasuk terduga pelaku) |
Ditangkap | 7 November 2025 (2025-11-07) |
Terduga pelaku merupakan seorang siswa kelas 12 di SMA Negeri 72 Jakarta yang berusia 17 tahun.[25] Ia dikenal di sekolah sebagai pribadi pendiam dan penyendiri di lingkungan sekolah. Ia juga diketahui memiliki ketertarikan terhadap ideologi ekstrim kanan jauh, terorisme, gambar-gambar senjata dan video-video bertema kekerasan.[8][26]
Setelah kejadian, keberadaan pelaku sempat menjadi perdebatan, ia dilaporkan tewas tertembak di Jalan Ganesha, sekitar 200 meter dari lokasi kejadian,[27] ada pula yang menyebutkan bahwa ia tewas akibat ledakan bom tersebut.[28] Namun, ia dikonfirmasi dibawa ke Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih[29] dalam kondisi kritis setelah peristiwa ini dan menjalani perawatan di bawah pengawasan pihak kepolisian.[30] Setelah dua hari perawatan, kondisinya membaik dan sudah sadar walau harus menjalani beberapa perawatan medis.[16] Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, telah memastikan pelaku telah dipindah ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati dan bukan di kedua rumah sakit di mana korban aksinya dirawat.[31]

Pada saat kejadian berlangsung, pelaku mengenakan sepatu bot, celana hitam, dan kaus tanpa lengan berwarna putih dengan tulisan "Natural Selection" (bahasa Indonesia: Seleksi Alam) yang terinspirasi dari baju yang dikenakan oleh Eric Harris, salah satu dari dua penembak dalam penembakan SMA Columbine di Amerika Serikat tahun 1999.
Dalam foto yang beredar, ada beberapa tulisan pada senjata mainannya yang tertulis "Welcome to Hell" (bahasa Indonesia: Selamat Datang di Neraka), "For Agartha" (bahasa Indonesia: Demi Agarta) yang diklaim berkaitan dengan Nazisme esoteris, namun tidak memiliki bukti,[32] slogan supremasi kulit putih "14 Words" (bahasa Indonesia: 14 Kata), nama-nama pelaku terorisme kanan-jauh, yakni Brenton Tarrant dan Alexandre Bissonnette, serta seorang neo-Nazi Luca Traini.[33] Ada pula simbol-simbol kanan-jauh lainnya, termasuk simbol Gerakan Legiuner dan Divisi Sukarelawan SS Latvia.[34]
Hasil analisis forensik menunjukkan bahwa bahan peledak yang digunakan dalam serangan tersebut merupakan bom rakitan sederhana namun sangat berbahaya, dibuat dengan kalium klorat sebagai bahan peledak utama dan paku yang berfungsi sebagai serpihan peluru (shrapnel).[35]
Menurut kepolisian, pelaku membawa tujuh bom ke sekolah. Empat di antaranya meledak di dua titik, sedangkan tiga tidak meledak dan diamankan untuk pemeriksaan forensik. Tiga bom yang tidak meledak berhasil dijinakkan dan dikirim untuk pemeriksaan forensik. Beberapa perangkat diketahui menggunakan baterai tipe A4, pemicu berbasis kendali jarak jauh, serta wadah plastik berukuran satu liter sebagai casing. Fragmen bom beserta senjata mainan yang ditemukan di lokasi diamankan sebagai barang bukti. Ledakan diketahui dipicu dari jarak jauh menggunakan sistem pemancar dan penerima bertegangan 6 volt.[35]
Menurut Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin menyebut motif anak berkonflik dengan hukum (ABH) terduga pelaku peledakan SMAN 72 Jakarta. Remaja itu mengaku tak punya tempat curhat, merasa terasing, mendapatkan perundungan (Bullying), selalu merasa sendiri sehingga terdorong melakukan aksi nekat itu.[20] Dan Ia mengungkapkan bahwa orangtua ABH tersebut telah bercerai.[36]
Berdasarkan data dari Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), total korban luka-luka akibat ledakan ini mencapai 96 orang, terdiri dari siswa dan staf sekolah. Para korban dirawat di beberapa rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Per 10 November, kurang lebih 29 orang masih dirawat, di mana 14 orang di rawat di Rumah Sakit YARSI karena gangguan pendengaran,[31] 14 orang di rawat di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih,[37] dan 7 orang dirawat di Rumah Sakit Pertamina Jaya.[18] Sementara 67 orang lainnya diperbolehkan pulang kembali dengan kondisi yang telah membaik.[1] Belum ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini. Menurut salah satu orang tua korban, anaknya yang menjadi korban dari ledakan ini mengalami trauma.[11]

Peristiwa ini menuai keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tim pemulihan psikologis dikerahkan untuk memberikan pendampingan kepada para siswa, guru, dan warga sekolah yang mengalami trauma.[38] Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa ini dan menekankan pentingnya langkah cepat untuk memastikan keselamatan para korban.[39] Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian.
Mobil Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) milik Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta dikerahkan ke SMA Negeri 72 Jakarta pada 12 November 2025. Mobil ini melayani konseling bagi warga sekolah yang membutuhkan pendampingan psikologis. Inisiatif ini dilakukan untuk memastikan warga sekolah mendapatkan pendampingan profesional pascakejadian yang memerlukan penanganan khusus.[40]
Prabowo Subianto lewat Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pembatasan permainan video bertema senjata, yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab ledakan tersebut,[41] Namun demikian, secara hukum, permainan video telah diatur dengan sistem peringkat konten tersendiri. Prasetyo menyinggung permainan PUBG: Battlegrounds sebagai gim yang berbahaya bagi anak-anak.[42] Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengeklaim bahwa hasil kajian tim Komdigi menemukan unsur kekerasan hingga kriminal dalam permainan PUBG.[43] Meskipun sejumlah penelitian oleh psikolog menunjukkan bahwa permainan video yang mengandung unsur kekerasan tidak dapat disimpulkan sebagai penyebab langsung dari perilaku kekerasan. American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa meskipun terdapat hubungan antara permainan video yang bersifat kekerasan dan peningkatan perilaku agresif, tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa tindakan kekerasan disebabkan oleh permainan tersebut.[44]
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, meminta pemerintah bersikap hati-hati dalam menilai keterkaitan antara permainan daring dan insiden yang terjadi. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap ekosistem digital. Menurutnya, tidak semua permainan video memiliki dampak negatif. Ia memperingatkan bahwa pembatasan yang bersifat menyamaratakan berpotensi mengabaikan sisi edukatif, kreatif, dan ekonomi dari industri game. Ia pun mendukung penerapan sistem rating yang lebih ketat, peningkatan literasi digital di sekolah, serta keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak.[45]
Dave mengingatkan agar pemerintah tidak menarik korelasi langsung antara game online dan tindakan kekerasan di dunia nyata. Menurutnya, kekerasan merupakan hasil dari berbagai faktor sosial, psikologis, dan lingkungan, sehingga solusi yang diperlukan adalah pendekatan holistik, bukan semata pembatasan teknis. Dave juga mengusulkan penguatan regulasi terhadap perusahaan game online, termasuk kewajiban verifikasi usia dan penerapan sistem kontrol orang tua. Ia menegaskan pentingnya kepatuhan platform global terhadap aturan lokal untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi anak-anak.[45]
Dave Laksono menyoroti bahaya konten kekerasan di web gelap yang diduga memengaruhi pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta. Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) untuk memblokir situs yang digunakan pelaku mencari tutorial perakitan bom.[46]
Menyikapi kasus tersebut, Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) menjalin kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) dalam upaya penegakan hukum dan pencegahan penyebaran konten berbahaya di ruang digital. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemblokiran terhadap sejumlah situs yang diduga digunakan oleh pelaku untuk mencari informasi dan panduan terkait perakitan bahan peledak. Kerja sama ini bertujuan untuk membatasi akses publik terhadap konten ilegal serta memperkuat pengawasan terhadap aktivitas daring yang berpotensi mengancam keamanan masyarakat.[47]
Pemerintah indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, telah mengumumkan rencana untuk menerapkan pembatasan akses media sosial berdasarkan usia 13-16 tahun, dengan target mulai berlaku pada Maret 2026,[48] melalui PP Tunas (PP No. 17/2025).[49] Pembatasan ini dilakukan karena untuk melindungi generasi muda dari paparan ideologi berbahaya, kekerasan, dan konten negatif lainnya yang dapat memicu tindakan ekstrem di dunia nyata.[50]
Pada 23 Desember 2025, seorang remaja ditangkap di Garut karena menganut ideologi ekstremisme sayap kanan dan/atau ekstremisme sayap kiri serta menyebarkan materi pembuatan bom, pembuatan senjata, dan pembuatan peluru.[51] Ia menyebarkan materi tersebut dalam sebuah grup teroris sayap kanan berbasis Whatsapp dan telah berhasil membuat bom serta peluru, yang kemudian disita oleh polisi.[52][53] Warga setempat mengungkapkan bahwa remaja yang ditangkap tersebut “berbakat dan jenius” serta telah menguasai 7 bahasa, dan sering berbicara dalam bahasa Jepang dan bahasa Arab.[52] Meskipun keterkaitannya dengan pelaku pengeboman sekolah di Jakarta belum diketahui, keduanya menganut pandangan dan ideologi Neo-Nazi yang serupa serta memiliki kemampuan membuat bom.[54]
Pada 28 Desember 2025, berdasarkan riset dan temuannya, Al Chaidar, peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh, memperkirakan bahwa jaringan Neo-Nazi di Indonesia berjumlah sekitar 300 orang dan hampir semuanya berusia di bawah 17 tahun. Ia mencatat hal ini sebagai strategi perekrut teror Neo-Nazi agar pelaku di masa depan tidak dapat dijerat hukum pidana dewasa apabila melakukan aksi sebagai “teroris anak”, sehingga mendapatkan hukuman yang jauh lebih ringan. Al Chaidar merekomendasikan agar pemerintah memperluas program deradikalisasi yang tidak hanya mencakup terorisme Islamis, tetapi juga ideologi ekstrem berbahaya lainnya. Ia juga menyarankan pengembangan lebih lanjut program pemetaan ideologi oleh pemerintah untuk memetakan ideologi ekstrem semacam ini sebagaimana yang telah dilakukan terhadap ekstremisme Islamis.[55] Pada 30 Desember 2025, para kriminolog dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyampaikan kekhawatiran dan permintaan serupa agar BNPT meningkatkan perhatian terhadap terorisme sayap kanan, meskipun BNPT enggan mengklasifikasikan insiden tersebut sebagai terorisme. Menurut BNPT, serangan tersebut tidak memiliki organisasi dan karakteristik terorisme untuk diklasifikasikan demikian jika dibandingkan dengan terorisme Islamis yang lebih umum terjadi di Indonesia.[56]
Setelah penyelidikan terhadap lingkaran internet pelaku pengeboman sekolah di Jakarta, pada 30 Desember 2025, polisi mengungkapkan bahwa terdapat 68 anak dan remaja dari 18 provinsi yang juga terhubung dengannya melalui komunitas Telegram yang dikenal sebagai "True Crime Community", tempat mereka terpapar ideologi supremasi kulit putih dan Neo-Nazi.[57] Polisi juga mengungkapkan bahwa 20 rencana serangan sekolah yang menyusul pengeboman sekolah di Jakarta berhasil dicegah dan digagalkan oleh patroli siber Densus 88 serta langkah pencegahan proaktif.[58] Polisi juga mengungkap lima individu yang membentuk jaringan Neo-Nazi tanpa nama, yang merencanakan indoktrinasi terhadap 110 anak dan remaja dari 23 provinsi dengan merekrut mereka melalui komunitas Telegram tersebut.[59][60]
Pada 7 Januari 2026, Polisi mengungkapkan bahwa 70 anak dan remaja dari 19 provinsi telah diamankan oleh Polisi karena keterkaitan dengan ideologi Neo-Nazi dan ekstremisme sayap kanan melalui berbagai kelompok yang berasosiasi dengan Terrorgram. Sebanyak 27 di antaranya berada di Jakarta dan Jawa Barat. Usia mereka yang diamankan berkisar antara 11 hingga 18 tahun, dengan mayoritas merupakan siswa kelas 7 sampai 9. Seluruhnya dinilai mampu membuat senjata rakitan sederhana serta bom pipa dan juga mampu mempersenjatai diri untuk serangan mendadak. Beberapa di antaranya telah menyusun rencana serangan ke sekolah, termasuk metode seperti pemetaan dan melumpuhkan sistem CCTV, menanam bom di ruang kelas, serta rencana membunuh teman sekelas dan guru mereka sendiri. Satu tersangka diketahui mampu menyusun manual dan tutorial membuat bom secara rinci dalam bahasa Inggris. Karena mereka masih di bawah umur dan belum melakukan serangan, Polisi memilih melakukan asesmen, pemetaan, serta mengirim mereka ke konseling sebagai langkah pencegahan.[61][62][63] Pada hari yang sama, Polisi menemukan kaitan antara pengeboman tersebut dengan penyerangan sekolah Odintsovo yang terjadi pada 16 Desember 2025. Pada gagang pisau yang digunakan oleh Timofey Kulyamov, pelaku, tertulis kata-kata "2025 Jakarta Bombing" yang merujuk pada pengeboman sekolah di Jakarta.[64][65]
Polisi juga mengumumkan daftar 27 lingkaran Terrorgram Neo-Nazi Indonesia pada 7 Januari 2026. Sumber juga menyebutkan bahwa lingkaran Neo-Nazi Indonesia memiliki koneksi dengan kelompok ekstrem kanan Neo-Nazi Malaysia, seperti Nusantarist, Malay Power 1388, Darah & Maruah Tanah Melayu, dan Nusantarawingism. Termasuk pula beberapa aktivis Neo-Nazi Malaysia yang terkenal, yakni Karl, Zordiel, dan Alek, yang mempromosikan sentimen anti-Rohingya serta supremasisme Melayu secara daring. [66]
Pada 3 Februari 2026, seorang siswa kelas 9 sekolah menengah pertama mengebom sekolahnya sendiri, SMPN 3 Sungai Raya, Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat saat jam makan siang bebas.[67][68][69] Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.[70] Ia membawa tas di mana di ranselnya, terdapat berbagai simbol, numerologi (kemungkinan jumlah pembunuhan dari berbagai peristiwa pembunuhan massal), sigil, dan nama-nama penyerang sekolah sebelumnya seperti Adam Lanza, Seung Hui Co, Salvador Rolando Ramos, dan Timur Bekmansurov, pembunuh incel-misoginis Elliot Rodger, penyerang Las Vegas Stephen Paddock, dan penembak masjd Christchurch Brenton Tarrant.[71] Pelaku pengeboman sekolah tersebut juga terhubung dengan lingkaran Terrorgram Neo-Nazi “True Crime Community” yang sama seperti pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta sebelumnya.[70][72] Pelaku dilaporkan mengalami gangguan mental setelah kejadian pengeboman tersebut.[73]
Authorities stressed it is too early to determine whether the inscriptions suggest an ideological motive. Investigators are continuing to gather and verify evidence.