Pada 29 September 2025, bagian musala tiga lantai di area Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur runtuh. Kejadian ini terjadi ketika para santri sedang melakukan shalat Ashar berjamaah. Pada 7 Oktober 2025, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan melaporkan 67 korban tewas, 103 korban cedera, dan 7 bagian tubuh korban yang diperkirakan bagian dari 2 korban lain. Menurut BNPB, keruntuhan tersebut merupakan bencana non-alam dengan korban jiwa terbanyak di Indonesia pada tahun 2025.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pemandangan udara keruntuhan gedung pondok pesantren (ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo | |
| Tanggal | September 29, 2025 (2025-09-29) |
|---|---|
| Waktu | ca 15:00 WIB (UTC+7) |
| Lokasi | Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia |
| Koordinat | 7°25′41″S 112°43′26.5″E / 7.42806°S 112.724028°E / -7.42806; 112.724028 |
| Penyebab | Kegagalan konstruksi[1] |
| Tewas | 67 |
| Cedera | 103[a] |
Pada 29 September 2025, bagian musala tiga lantai di area Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur runtuh. Kejadian ini terjadi ketika para santri sedang melakukan shalat Ashar berjamaah.[2] Pada 7 Oktober 2025, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan melaporkan 67 korban tewas, 103 korban cedera,[a] dan 7 bagian tubuh korban yang diperkirakan bagian dari 2 korban lain.[3][4] Menurut BNPB, keruntuhan tersebut merupakan bencana non-alam dengan korban jiwa terbanyak di Indonesia pada tahun 2025.[5]
Pondok Pesantren Al-Khoziny atau dikenal sebagai Pesantren Buduran, merupakan salah satu pondok pesantren yang telah lama berdiri. Ponpes ini didirikan secara resmi pada tahun 1927 di tanah milik KHR Mohammad Abbas Khozin, meskipun catatan menunjukkan bahwa para santri telah belajar di sana sejak tahun 1920. Pesantren ini dikenal dengan tradisi salafnya, termasuk kajian intensif kitab kuning dan metode pengajaran sorogan serta bandongan. Seiring waktu, pesantren ini telah berkembang hingga mencakup jenjang pendidikan formal dan telah mengembangkan lembaga pendidikan tinggi yang berafiliasi.[6]
Sebelum keruntuhan, gedung tersebut dalam tahap pengerjaan cor lantai empat dan dikerjakan oleh para santri. Sejumlah narasumber di lokasi mengatakan, para santri kerap diminta untuk menjadi kuli untuk melakukan pembangunan musala yang sudah dibangun sejak 9 bulan yang lalu itu secara cuma-cuma. Selain itu, para santri biasanya juga melakukan tugas pembangunan fasilitas ponpes Al-Khoziny sebagai bentuk hukuman.[7]
Menurut BNPB, Bangunan musala Ponpes Al-Khoziny ambruk karena diduga tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Sementara Basarnas menduga bahwa bangunan tersebut ambruk karena pondasi tidak kuat menopang beban. Sedangkan pengasuh ponpes membenarkan bahwa bangunan tersebut sedang dalam tahap renovasi.[8]
Pada 29 September 2025, pukul 15.00 WIB, ketika keruntuhan terjadi, para santri tengah melangsungkan salat Asar berjamaah pada lantai dua yang difungsikan sebagai musala, gedung itu diketahui sempat bergoyang sesaat, kemudian saat santri masuk rakaat salat kedua, bagian ujung musala ambruk dan merembet ke bagian lain gedung dan kemudian runtuh.[9] Menurut santri berusia 16 tahun, Nanang Saiful Rizal, peristiwa tersebut terjadi pada saat rakaat ketiga; "terdengar suara seperti bambu jatuh, lalu terasa seperti gempa," dan hampir seketika, bangunan itu mulai runtuh.[10] Santri lainnya, Muhammad Rijalul Qoib (13), mengatakan ia mendengar suara seperti truk menuangkan beton pada lantai paling atas, lalu tanpa penambahan atau pengaturan bertahap, beban tersebut diberikan sepenuhnya dan bagian tengah bangunan runtuh terlebih dahulu. Putra (13), seorang korban selamat, menceritakan pengalamannya saat tertimpa reruntuhan bangunan:
Banyak batu berjatuhan, bambu-bambu penyangga juga ikut ambruk
dan ia terbanting hingga punggungnya terhimpit oleh sepotong atap logam. Dia terjebak, tidak bisa bergerak banyak, di bawah kegelapan dan debu.[11] Korban yang lain di tengah saf terlempar ke dalam reruntuhan: debu memenuhi udara, komponen struktural runtuh dengan cepat, dan kepanikan langsung ketika para santri mencoba untuk menjauh dari zona runtuh.
Tiang pondasi diduga tidak mampu menahan beban pengecoran, sehingga bangunan runtuh hingga ke lantai dasar.[12] Keruntuhan terjadi tak lama setelah proses pengecoran lantai empat pondok pesantren yang dilakukan pada pagi harinya.[13]
Beberapa lembaga penyelamat dimobilisasi segera setelah runtuhnya bangunan. Lebih dari 400 personel dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, PMI, relawan, dan lembaga terkait lainnya bekerja siang dan malam dalam shift 24 jam.[14] Damkar Surabaya juga mengerahkan unit Penyelamatan Tugas Berat, yang dilengkapi peralatan khusus seperti "kamera pertama" dan "detektor kehidupan" yang dapat mendeteksi korban di ruang sempit atau gelap di bawah reruntuhan.[15] Pencarian ini sangat mendesak karena puluhan siswa diyakini terjebak, banyak di antaranya berusia sekitar 12 hingga 19 tahun.[16]
Salah satu kisah upaya penyelamatan dilakukan dengan gagah berani oleh Kapten CKM dr. Aaron Franklyn Soaduon Simatupang (31 tahun), dokter TNI AD yang sedang dinas di RSUD Sidoarjo, langsung berlari ke lokasi. Tanpa alat berat, ia melihat celah gelap selebar 50 cm, panjang 10 meter, penuh besi tajam dan risiko ambruk lagi. Tanpa pikir dua kali, dr. Aaron merayap masuk hanya bawa senter kepala dan tas medis kecil. Di dalam kegelapan, ia menemukan Nur Ahmad (16 tahun), santri kelas X, kaki kanannya hancur terjepit beton, tangan kirinya putus separuh, napasnya tinggal 10 %. Dengan penerangan seadanya, dr. Aaron melakukan amputasi darurat di tempat itu juga[17]
Tim penyelamat bekerja sepanjang waktu, termasuk di malam hari. Mereka menggali puing-puing, memanggil nama-nama korban, dan menggunakan peralatan, sensor, serta drone penginderaan termal untuk mencoba mendeteksi korban selamat.[18] Bantuan seperti oksigen, makanan, air, dan infus diberikan kepada mereka yang dapat dijangkau melalui celah-celah kecil di bawah reruntuhan.[19] Tim penyelamat juga melakukan penilaian untuk memutuskan kapan dan di mana mesin berat seperti derek dapat dikerahkan dengan aman.[20]

Salah satu tantangan utama dalam operasi ini adalah risiko keruntuhan lebih lanjut atau pergeseran puing-puing. Petugas penyelamat sering menekankan bahwa getaran atau tekanan dari alat berat dapat memperburuk situasi. Oleh karena itu, meskipun alat berat (crane, ekskavator) telah disiagakan, penggunaannya ditunda hingga dinilai aman dan setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga korban hilang.[21] Kesulitan lainnya adalah beberapa korban terjebak di ruang yang sangat sempit, seperti di dekat kolom utama, kolom samping, dan di bawah pelat lantai yang tertekan akibat beban, sehingga hanya menyisakan rongga kecil. Akses ke titik-titik ini membutuhkan lorong-lorong seperti terowongan, kamera khusus, dan penggalian manual yang cermat.[22]
Pada 1 Oktober 2025, gempa bumi berkekuatan 6,0 magnitudo melanda wilayah Sumenep, Jawa Timur, sekitar 200 kilometer dari Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo. Peristiwa seismik ini secara signifikan menghambat operasi penyelamatan yang sedang berlangsung di pondok pesantren yang runtuh tersebut. Menurut Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, gempa bumi telah memadatkan puing-puing, sehingga mengurangi ruang bagi korban yang terjebak. Ia mencatat bahwa celah antar puing yang awalnya selebar 50 sentimeter kini hanya 10 sentimeter, sehingga meningkatkan kesulitan akses bagi para korban selamat.[23] Gempa bumi ini juga meningkatkan kekhawatiran tentang integritas struktural bangunan yang tersisa, karena getaran dari gempa berpotensi menyebabkan keruntuhan lebih lanjut. Tim penyelamat harus sangat berhati-hati saat mengoperasikan alat berat, seperti derek dan ekskavator, untuk menghindari cedera tambahan bagi korban dan tim penyelamat.[24]
Setelah beberapa hari pasca-runtuhnya bangunan, operasi penyelamatan telah beralih fokus dari upaya menemukan korban selamat menjadi mengevakuasi korban meninggal, setelah para pejabat meyakini bahwa "masa emas" (biasanya sekitar 72 jam setelah keruntuhan) telah berlalu. Saat itu, tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan belum terdeteksi oleh peralatan canggih yang digunakan.[25] Tim kemudian bekerja untuk membersihkan puing-puing dengan aman, mengoordinasikan penggunaan alat berat dengan mengutamakan keselamatan, dan memastikan korban dapat dievakuasi dan diberikan perawatan atau pemakaman yang layak.[26]
PT Paiton Energy bersama PT POMI segera mengirim tim tanggap darurat untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban di bawah koordinasi BASARNAS, BNPB, dan ESDM Siaga Bencana. Selain Paiton Energy, sejumlah perusahaan seperti PT Freeport Indonesia, Amman Mineral, Bumi Suksesindo, dan ASTRA turut berpartisipasi dalam operasi kemanusiaan tersebut sebagai bentuk solidaritas lintas sektor.[27]

Secara keseluruhan, merujuk laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) total korban yang terjebak sebanyak 167 orang, dengan rincian 67 orang tewas, dan 158 korban telah ditemukan selamat.[28][29] Dari korban selamat itu sebanyak 14 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, 89 orang diperbolehkan pulang dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto.[30] Koordinator Misi SAR, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan bahwa proses evakuasi korban membutuhkan waktu lama. Hal ini dikarenakan tim SAR gabungan harus lebih dulu mengangkat dan menghancurkan material reruntuhan bangunan.[31]
KH Abdus Salam Mujib, pengasuh pesantren, menanggapi tragedi tersebut secara terbuka dengan menyatakan penyesalan, menyatakan kejadian tersebut sebagai bagian dari kehendak Tuhan, dan meminta kesabaran dari keluarga korban.[32] Ia juga menjelaskan bahwa musholla tersebut berada pada tahap akhir pengecoran beton, sebuah proses yang telah berlangsung selama sekitar sembilan hingga sepuluh bulan, dan menegaskan bahwa lantai atas belum digunakan untuk kegiatan rutin.[33]
{{Cite news |date=29 September 2025 |title=Pengasuh Al Khoziny Sidoarjo soal Gedung Ambruk: Takdir Allah |url=https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250929211340-20-1279032/pengasuh-al-khoziny-sidoarjo-soal-gedung-ambruk-takdir-allah |access-date=5 October 2025 |work=CNN Indonesia}}</ref>\n"}},"i":0}}]}' id="mw4Q"/>Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar. Dan mudah-mudahan juga diberi diganti oleh Allah yang lebih baik. Diberi pahala yang sangat-sangat, apa ya, nggak bisa mengutarakan dan mudah-mudahan dibalas kebaikan oleh Allah SWT yang lebih dari musibah ini.[34]
Dalam sambutannya, Mujib juga menyatakan bahwa upaya penyelamatan yang sedang berlangsung merupakan prioritas utama pesantren, dan bahwa kegiatan pendidikan dan keagamaan di lembaga tersebut akan dihentikan sementara.[35]
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dukacita yang mendalam atas tragedi tersebut. Prabowo menyampaikan belasungkawa melalui Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Letnan Jenderal Suharyanto. Beliau menyampaikan simpati yang mendalam kepada para korban dan keluarga mereka, serta mendesak mereka untuk tetap bersabar dan berharap di masa sulit ini.[36]
Nasaruddin Umar, selaku Menteri Agama Indonesia, menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan secara langsung mengunjungi lokasi di Sidoarjo untuk menilai kerusakan dan bertemu dengan keluarga korban. Ia menegaskan bahwa keruntuhan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Kementerian dalam pengawasan pembangunan pesantren, madrasah, dan fasilitas pendidikan keagamaan, dengan menekankan perlunya mengintegrasikan standar teknis dan keselamatan yang lebih ketat. Ia mengumumkan rencana Kementerian untuk berkoordinasi dengan pekerjaan umum dan instansi terkait guna mengembangkan kriteria bangunan pesantren yang lebih jelas, dan ia menyuarakan harapan agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.[37]
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus hadir dalam mendampingi proses identifikasi korban, memberikan pendampingan kepada keluarga, serta memastikan pemulihan psikologis bagi para santri yang terdampak. Ia juga menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas musibah tersebut, seraya mendoakan agar para korban mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memantau ketersediaan logistik di lokasi kejadian dan memastikan seluruh bantuan bagi para korban terus tersalurkan tanpa kendala.[38]
Tri Rismaharini, mantan Menteri Sosial dan mantan Wali Kota Surabaya, mengunjungi lokasi bencana dan bertemu dengan keluarga para santri untuk menyampaikan empati dan keprihatinannya. Beliau menyampaikan kata-kata penghiburan, mengingatkan mereka untuk tetap tegar dan sabar, serta mendesak agar proses pencarian dan penyelamatan ditangani dengan sangat hati-hati mengingat kondisi reruntuhan yang tidak stabil.[39] Tri Rismaharini menyarankan penggunaan alat penyangga struktur berbentuk T dan penggalian parit di sekitar reruntuhan bangunan untuk mengendalikan limpasan atau akumulasi air, yang dapat memengaruhi keselamatan atau menghambat akses tim penyelamat.
Subandi, Bupati Sidoarjo, mengawali pidatonya dengan menyampaikan dukacita yang mendalam atas tragedi tersebut, menyatakan bahwa pemerintahannya akan memastikan upaya evakuasi dan pencarian akan terus berlanjut hingga selesai. Beliau mengunjungi rumah sakit yang merawat para santri yang terluka dan bergabung dengan para pejabat di lokasi, berkomitmen bahwa segala upaya akan dilakukan untuk menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.[40] Ia juga membahas perizinan dan kegagalan keselamatan yang menjadi penyebab runtuhnya pesantren tersebut, dengan mencatat bahwa struktur pesantren tersebut tidak memiliki izin bangunan yang diperlukan dan banyak pesantren yang mengabaikan kewajiban ini.[41] Subandi menjanjikan audit komprehensif: ia menginstruksikan agar seluruh 129 pesantren di Sidoarjo diperiksa ulang, bekerja sama dengan para ahli teknis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, untuk memastikan konstruksi di masa depan memenuhi standar keselamatan dan hukum.[42]
Kecelakaan dari runtuhnya pondok pesantren ini mengundang banyak perhatian dari berbagai lembaga swadaya masyarakat. Berbagai organisasi sosial, keagamaan, dan kemanusiaan di seluruh negeri dan daerah menanggapi keruntuhan bangunan musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Kabupaten Sidoarjo. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah salah satu organisasi yang secara langsung terlibat dalam masalah ini. BAZNAS RI menghabiskan waktu di lokasi bencana untuk membantu proses penanganan darurat dan pemulihan awal setelah bencana melalui unit BAZNAS Tanggap Bencana (BTB). Selain itu, BAZNAS memberikan bantuan dana sebesar Rp300 juta untuk memenuhi kebutuhan korban, penyintas, dan tanggap darurat di pesantren. Keterlibatan BAZNAS menunjukkan betapa pentingnya LSM berbasis zakat dalam menangani bencana sosial yang menimpa lembaga pendidikan[43].
Sebagai lembaga masyarakat Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), terutama melalui struktur organisasinya di tingkat daerah, terutama PWNU Jawa Timur dan lembaga afiliasinya seperti LAZISNU dan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI NU). LAZISNU mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan dari warga NU dan masyarakat umum, mendampingi keluarga korban, dan memberikan dukungan logistik bagi santri dan pengelola pesantren. Sementara itu, RMI NU berfungsi sebagai penghubung kelembagaan pesantren dalam proses mitigasi dan pemulihan pascakejadian. Dalam situasi ini, peran NU menunjukkan peran ormas keagamaan yang tidak hanya melakukan dakwah tetapi juga berfungsi sebagai pilar persatuan sosial dan kemanusiaan[44].
Sebaliknya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan tanggapan secara normatif dan moral. MUI mendorong evaluasi menyeluruh terhadap persyaratan keamanan bangunan pesantren di Indonesia dan menyampaikan doa bersama dan shalat gaib untuk para korban. MUI berperan penting dalam membentuk wacana masyarakat tentang keselamatan lembaga pendidikan keagamaan dan tanggung jawab pengelola pesantren terhadap keamanan santri, meskipun tidak terlibat secara langsung dalam memberikan bantuan materi di lapangan[45].
Tanggapan datang dari aktor sosial-politik selain organisasi keagamaan. Melalui Struktur kepengurusan wilayah Jawa Timur, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengirimkan kader, relawan, dan legislatornya untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban keruntuhan Pondok Pesantren Al-Khoziny. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa organisasi politik juga dapat bertindak sebagai aktor sosial dalam konteks bencana. Namun, perpaduannya lebih fokus pada ajakan solidaritas dan mobilisasi relawan daripada intervensi teknis langsung[46].