Brenton Harrison Tarrant adalah seorang pria asal Australia yang didakwa sebagai pelaku penembakan masjid Christchurch pada tahun 2019. Ia ditangkap 36 menit setelah panggilan darurat pertama. Jejak telepon genggam menunjukkan bahwa mobilnya dihadang mobil polisi sebelum penangkapannya. Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan bahwa ia berencana meneruskan serangan. Pada 27 Agustus 2020, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mendapatkan pembebasan bersyarat setelah sidang maraton selama 4 hari.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Brenton Tarrant | |
|---|---|
| Lahir | Brenton Harrison Tarrant 27 Oktober 1990 |
| Tempat tinggal | Dunedin, Selandia Baru |
| Kebangsaan | |
| Pekerjaan | Pelatih pribadi |
| Dikenal atas | Pelaku penembakan teroris di masjid Christchurch |
| Gugatan kejahatan | Pembantaian |
| Hukuman kriminal | Penjara seumur hidup tanpa bebas bersyarat[1] |
| Motif | • Ekstremisme kanan jauh • Islamofobia • Supremasi kulit putih • Ekofasisme |
| Perincian | |
| Luka | 40 |
| Senjata |
|
Ditangkap | 15 Maret 2019 (2019-03-15) |
Brenton Harrison Tarrant (lahir 27 Oktober 1990) adalah seorang pria asal Australia yang didakwa sebagai pelaku penembakan masjid Christchurch pada tahun 2019.[2][3][4] Ia ditangkap 36 menit setelah panggilan darurat pertama.[5][6][7] Jejak telepon genggam menunjukkan bahwa mobilnya dihadang mobil polisi sebelum penangkapannya.[8][9] Perdana Menteri Jacinda Ardern menyatakan bahwa ia berencana meneruskan serangan.[6] Pada 27 Agustus 2020, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mendapatkan pembebasan bersyarat setelah sidang maraton selama 4 hari.[10]
Brenton Tarrant tingggal di Andersons Bay, Dunedin. Ia bekerja sebagai pelatih pribadi di Grafton, New South Wales, dari 2009 sampai 2011.[11] Pada sekitar tahun 2012, ia mulai mengunjungi beberapa negara di Asia dan Eropa. Otoritas di Bulgaria dan Turki menyelidiki kunjungan-kunjungannya di negara mereka masing-masing.[12][13] Ia memulai rencana serangan sekitar dua tahun sebelum penembakan, dan memilih target-targetnya menjelang tiga bulan.[14] Para pihak keamanan menduga bahwa ia melakukan kontak dengan organisasi-organisasi sayap kanan jauh sekitar dua tahun sebelum penembakan saat mengunjungi negara-negara Eropa.[15]