Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Karier militer Prabowo Subianto

Karier militer Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia ke-8, diawali pada tahun 1974 sebagai seorang Letnan Dua Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat setelah lulus dari AKABRI Darat di Magelang. Karier militernya sendiri tak lepas dari pengaruh mertuanya, Presiden Soeharto. Sejak saat itu, Prabowo menjadi salah satu Jenderal terkemuka di era Orde Baru, dan kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling kontroversial sepanjang sejarah Indonesia.

Karier militer Menteri Petahanan Indonesia ke-26, Prabowo Subianto.
Diperbarui 27 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Karier militer Prabowo Subianto
Prabowo Subianto
Prabowo ketika menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI, jabatan militer terakhirnya.
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-22
Masa jabatan
20 Maret 1998 – 22 Mei 1998
Sebelum
Pendahulu
Sugiono
Pengganti
Johny Lumintang
Sebelum
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus ke-15
Masa jabatan
1 Desember 1995 – 20 Maret 1998
Sebelum
Pendahulu
Subagyo Hadi Siswoyo
Pengganti
Muchdi Purwoprandjono
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir
Prabowo Subianto Djojohadikusumo

17 Oktober 1951 (umur 74)
Jakarta, Indonesia
Suami/istri
Siti Hediati Hariyadi
​
​
(m. 1983; c. 1998)​
AnakRagowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo (Didit)
Orang tua
  • Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah)
  • Dora Marie Sigar (ibu)
Kerabat
  • Margono Djojohadikoesoemo (kakek)
  • Soebianto Djojohadikoesoemo (paman)
  • Soejono Djojohadikusumo (paman)
  • Hashim Djojohadikusumo (adik)
  • Aryo Djojohadikusumo (keponakan)
  • Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (keponakan)
  • Thomas Djiwandono (keponakan)
  • Budi Djiwandono (keponakan)
  • Soeharto (mertua m. 1983–1998)
PendidikanMiliter
Almamater
  • AKABRI (1974)
Fort Bragg (1980)
Fort Benning (1981)
Penghargaan sipil
  • Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
  • Satyalancana Kesetiaan XVI
  • Satyalancana Seroja Ulangan–III
  • Bintang Yudha Dharma Nararya
Karier militer
PihakIndonesia Indonesia
Dinas/cabang TNI Angkatan Darat
Masa dinas1974—1998
Pangkat Jenderal TNI (Kehormatan)
NRP27082
SatuanInfanteri (Kopassus)
KomandoKopassus, Kostrad
Pertempuran/perang
  • Operasi Teratai
    • Pemberontakan di Timor Timur
  • Pemberontakan di Papua
    • Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Karier militer Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia ke-8, diawali pada tahun 1974 sebagai seorang Letnan Dua Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat setelah lulus dari AKABRI Darat di Magelang. Karier militernya sendiri tak lepas dari pengaruh mertuanya, Presiden Soeharto. Sejak saat itu, Prabowo menjadi salah satu Jenderal terkemuka di era Orde Baru, dan kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling kontroversial sepanjang sejarah Indonesia.

Prajurit Kopassus

Prabowo (barisan depan, kedua dari kiri) saat bertugas sebagai prajurit Kopassus di Timor Timur.

Dari tahun 1976 hingga 1985, Prabowo bertugas di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), pasukan khusus Angkatan Darat pada saat itu. Salah satu penugasan pertamanya adalah sebagai komandan pleton pada Grup I/Para Komando yang menjadi bagian dari pasukan operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Berusia 26 tahun, Prabowo merupakan salah satu komandan pleton termuda dalam operasi tersebut. Ia berperan besar dalam memimpin sebuah misi penangkapan terhadap Nicolau dos Reis Lobato, pemimpin Fretilin yang pada saat Operasi Seroja menjabat sebagai Perdana Menteri. Dengan bantuan adiknya sendiri Antonio Lobato, kompi Prabowo menemukan Lobato di Maubisse, sebuah kota kecil lima puluh kilometer di selatan Dili. Ia tewas tertembak di perut saat bertempur di Lembah Mindelo pada 31 Desember 1978; salah satu peristiwa yang menandai berakhirnya perlawanan terbuka Fretilin terhadap invasi militer Indonesia dan bermulanya pendudukan militer atas bekas wilayah jajahan Portugal tersebut. Pada tahun 1983, Prabowo telah menjabat sebagai wakil komandan pada Detasemen Khusus 81 (Penanggulangan Teror) di Kopassandha.[1]

Komandan

Pada tahun 1985, Prabowo menjadi wakil komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 (Yonif Para Raider 328/Dirgahayu), pasukan para raider di Kostrad. Dua tahun kemudian, setelah menamatkan pelatihan Special Forces Officer Course di Fort Benning ia menjadi komandan batalyon tersebut; jabatan yang dijabatnya selama tiga tahun. Pada 1991, ia menjabat sebagai kepala staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 (Brigif Para Raider 17/Kujang I), yang bermarkas di Cijantung. Dalam kapasitas itu, Prabowo yang saat itu telah berpangkat letnan kolonel terlibat dalam operasi pemburuan dan penangkapan Xanana Gusmão, salah satu tokoh pemimpin gerilyawan Fretilin.

Kembali ke Kopassus

Pada tahun 1993, Prabowo kembali ke pasukan khusus, yang kini dinamai Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ia diangkat menjadi komandan Grup 3/Sandhi Yudha, salah satu komando kontra-insurjensi Kopassus. Ia seterusnya menjabat sebagai wakil komandan komando dan komandan komando, di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Agum Gumelar dan Brigadir Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo.

Komandan Jenderal Kopassus

Prabowo pada saat operasi di Mapenduma.
Prabowo mendampingi misi ekspedisi Everest.

Pada bulan Desember 1995, Prabowo diangkat sebagai komandan jenderal Kopassus dengan pangkat mayor jenderal. Sebagai komandan jenderal, salah satu tugas pertama Prabowo adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma. Kopassus, terutama Sat-81/Gultor yang pernah dipimpin langsung oleh Prabowo, memiliki pengalaman dalam menangani operasi pembebasan sandera; yang paling dikenang adalah keberhasilan menyelamatkan penumpang Garuda DC-9 Woyla di Bangkok pada 1981. Operasi ini berhasil menyelamatkan sepuluh dari dua belas orang peneliti yang tergabung dalam ekspedisi Lorentz 95 dan diculik oleh gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Meskipun diwarnai oleh insiden penembakan komandan Sat-81 oleh anak buahnya sendiri, tetapi operasi ini dianggap berhasil menyelamatkan nyawa para peneliti yang berkebangsaan Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jerman.[1][2][3]

Pada 26 April 1997, tim pendaki Indonesia yang terdiri atas anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI berhasil menaklukkan puncak Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, dan mengibarkan bendera Merah Putih di sana. Misi ini didukung dan diprakarsai langsung oleh Prabowo sebagai komandan jenderal Kopassus.[4]

Panglima Kostrad

Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, jabatan yang pernah disandang ayah mertuanya Presiden Soeharto. Pengangkatan ini terjadi hanya sepuluh hari setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat memilih Soeharto untuk periode kelima sebagai presiden.

Sebagai panglima Kostrad, Prabowo membawahi sekitar sebelas ribu pasukan cadangan ABRI. Sebagai panglima, Prabowo meminta Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto agar diizinkan untuk menggerakkan pasukan cadangannya dari luar Jakarta untuk membantu meredam kerusuhan Mei 1998. Meskipun permintaan ini kemudian ditolak oleh Wiranto, Prabowo diduga menerbangkan ratusan orang yang telah dilatih oleh unit-unit Kopassus di bawah pengawasannya di Timor Timur dari Dili menuju Yogyakarta, kemudian menuju Jakarta menggunakan kereta api. Menurut beberapa sumber, Prabowo juga dimintai pertolongan oleh Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima Komando Operasi Jakarta Raya, untuk ikut mengirimkan pasukannya untuk mengamankan ibu kota. Permintaan ini dipenuhi oleh Prabowo dengan mengirimkan serdadu Kostrad untuk mengamankan beberapa bangunan penting, seperti rumah dinas Wakil Presiden B.J. Habibie di Kuningan.[5][6]

Prabowo berperan membujuk Amien Rais, salah satu tokoh pemimpin gerakan reformasi, untuk membatalkan rencana digelarnya doa bersama di kawasan sekitar Monas untuk alasan keamanan.[7] Pada 14 Mei, ia bertemu dengan beberapa penggerak reformasi seperti Adnan Buyung Nasution dan Bambang Widjojanto untuk mendiskusikan situasi yang tengah genting.[8]

Pemberhentian

Wikisumber memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini:
KEP/03/VIII/1998/DKP

Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Penggantinya, Habibie, dilantik pada hari yang sama. Pada siang harinya, Prabowo menemui Habibie dan meminta agar dirinya ditunjuk sebagai Panglima ABRI menggantikan Wiranto. Justru, Habibie memberhentikan Prabowo dari jabatannya sebagai panglima Kostrad. Prabowo yang berangkat mendatangi Istana Negara, tetapi dihalangi untuk bertemu presiden. Ia kemudian memerintahkan agar istana dikelilingi oleh tank dan serdadu Kostrad. Prabowo digantikan oleh Jenderal Johny Lumintang, yang hanya menjabat selama tujuh belas jam sebelum digantikan oleh Letnan Jenderal Djamari Chaniago.[9]

Setelah diberhentikan, Prabowo menemui ayah mertuanya Soeharto, yang justru tidak mendukungnya.[10][11] Ia akhirnya menerima penugasan sebagai komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI di Bandung, menggantikan Letnan Jenderal Arie Jeffry Kumaat.

Pada 14 Juli 1998, Panglima ABRI membentuk sebuah Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai oleh Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan dianggotai oleh enam orang letnan jenderal: Fachrul Razi (wakil ketua); Djamari Chaniago (sekretaris); Arie J. Kumaat; Agum Gumelar; Susilo Bambang Yudhoyono; dan Yusuf Kartanegara. Dewan ini memeriksa Prabowo dalam tujuh butir tuduhan; salah satunya adalah "sengaja melakukan kesalahan dalam analisis tugas", "melaksanakan dan mengendalikan operasi dalam rangka stabilitas nasional yang bukan menjadi wewenangnya, tetapi menjadi wewenang Pangab", "tidak melibatkan staf organik dalam prosedur staf, pengendalian dan pengawasan", dan "sering ke luar negeri tanpa ijin dari Kasad ataupun Pangab". Selama persidangan, Prabowo mengklaim dirinya sebagai seorang tawanan perang yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa dan kerap menggunakan haknya untuk tidak bicara, sehingga membuat frustrasi para anggota dewan yang sudah harus memakai rompi antipeluru.[12]

Sebagai seorang perwira tinggi militer, Prabowo diadili berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer. Dalam putusannya, DKP memutuskan ia bersalah melakukan tindak pidana "ketidakpatuhan" (pasal 103 KUHPM); "memerintahkan perampasan kemerdekaan orang lain" (pasal 55 (1) ke-2 KUHPM dan pasal 333 KUHP); dan penculikan (pasal 55 (1) ke-2 dan pasal 328 KUHP). Menurut Fahrul Razi, dewan tersebut pada awalnya ingin menggunakan kata "pemecatan" pada putusan akhirnya. Namun, mempertimbangkan status Prabowo sebagai menantu dari mantan presiden, DKP akhirnya menggunakan kata "pemberhentian dari dinas keprajuritan".[13][14]

Pemberhentian Prabowo dari dinas militer menimbulkan kontroversi pada saat pemilihan umum 2009, politikus Gerindra Fadli Zon membantah bahwa Prabowo dipecat, melainkan "diberhentikan dengan hormat"[15][16] berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 62/ABRI/1998 yang ditandatangani oleh Presiden BJ Habibie pada tanggal 20 November 1998.[17][18][19][20] Prabowo juga mendapatkan hak pensiunnya dengan pangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal.[21]

Gelar Jenderal Kehormatan

Prabowo menerima gelar Jenderal Kehormatan dari Presiden Joko Widodo, Februari 2024.

Pada 28 Februari 2024, Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo (Jokowi) memberikan gelar Jenderal kehormatan bagi Prabowo. Menurut Jokowi, Prabowo telah memiliki kontribusi besar bagi negara dan telah menerima Bintang Yudha Dharma.[22] Jokowi menyebut bahwa pemberian gelar ini juga telah melalui verifikasi dari Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Ia menambahkan bahwa usulan kenaikan pangkat Prabowo berasal dari Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto.[23][24][25]

Pemberian gelar Jenderal oleh Jokowi kepada Prabowo ini lantas menjadi perbincangan hangat masyarakat, beberapa orang menyebut bahwa ini merupakan kejadian unik yang menunjukkan keakraban Jokowi dengan Prabowo yang sebelumnya menjadi "rival"-nya pada pilpres 2014 dan pilpres 2019.[26] Meskipun begitu, kenaikan pangkat ini juga dikritik oleh para peneliti, yang membandingkan hal ini dengan SBY atau Luhut Binsar Pandjaitan, karena Prabowo pernah diperiksa karena dugaan pelanggaran HAM, walaupun ia diberhentikan "dengan hormat".[27][28] Prabowo sendiri tampaknya tidak terlalu menanggapi isu-isu ini dengan serius, dan dengan nada bercanda mengatakan “Kayaknya [pangkat ini] berat ya” ketika diwawancarai oleh para wartawan.[29][30] Bahkan dikatakan bahwa Prabowo menggelar acara syukuran dan potong tumpeng di kediamannya setelah kenaikan pangkat tersebut.[31]

Referensi

  1. 1 2 Conboy, Kenneth (2003). Kopassus : inside Indonesia's special forces. Equinox Pub. ISBN 979-95898-8-6. OCLC 51242376. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2024. Diakses tanggal 23 March 2023.
  2. ↑ Mapenduma (12 Januari 2004). "Membebaskan Sandera Cara Mapenduma". Tempo Interaktif. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-01-10. Diakses tanggal 28 Desember 2011.
  3. ↑ Davis, Mark (12 Juli 1999). "Blood on the Cross". Four Corners, Australian Broadcasting Corporation. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-23. Diakses tanggal 2014-04-18.
  4. ↑ "Ekspedisi Mount Everest". Kopassus. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-01-24. Diakses tanggal 18 April 2014.
  5. ↑ Kata Jendral Kepercayaan Prabowo Soal Kerusuhan dan Kudeta 98: Isu Kudeta Prabowo. Diarsipkan 2014-05-17 di Wayback Machine. diakses dari situs berita Merdeka pada 16 Mei 2014
  6. ↑ Kerusuhan mei 1998 Puncak Rivalitas Wiranto dan Prabowo. Diarsipkan 2014-05-17 di Wayback Machine. diakses dari situs berita Yahoo pada 16 Mei 2014
  7. ↑ A. Pambudi (2009). Sintong dan Prabowo. Yogyakarta: Media Pressindo. hlm. 122. ISBN 9789797881146. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-24. Diakses tanggal 2014-05-29. ;
  8. ↑ Kerusuhan Mei 98 dan Pertemuan Prabowo di Makostrad. Diarsipkan 2014-05-05 di Wayback Machine. Diakses dari situs berita merdeka.com pada 5 mei 2014
  9. ↑ Republika: Habibie Jelaskan Pencopotan Prabowo dari Pangkostrad Diarsipkan 2014-04-17 di Wayback Machine., 30 Agustus 2013, diakses 28 Mei 2014
  10. ↑ Didi Syafirdi, Merdeka: Dialog panas saat Habibie copot Prabowo sebagai Pangkostrad Diarsipkan 2014-05-17 di Wayback Machine., 24 Oktober 2013, diakses 28 Mei 2014
  11. ↑ Habibie, Detik-detik yang Menentukan, p. 102, Suara Merdeka: Detik-detik Pertemuan Prabowo-Habibie Diarsipkan 2014-05-10 di Wayback Machine., 2 Oktober 2006, diakses 28 Mei 2014
  12. ↑ "Kisah Menarik Saat Prabowo Hadapi Sidang DKP" Diarsipkan 2018-11-30 di Wayback Machine.. Detik.com, 4 Juli 2014. Diakses 30 November 2018.
  13. ↑ "Pimpinan DKP Benarkan Surat Rekomendasi Pemberhentian Prabowo dari ABRI" Diarsipkan 2018-11-30 di Wayback Machine.. Kompas, 10 Oktober 2014. Diakses 30 November 2018.
  14. ↑ "Prabowo Dipecat atau Diberhentikan? Ini Cerita BJ Habibie" Diarsipkan 2018-11-30 di Wayback Machine.. Detik.com, 31 Juli 2017. Diakses 30 November 2018.
  15. ↑ "Gerindra bantah Prabowo dipecat TNI" Diarsipkan 2014-05-29 di Wayback Machine.. solopos.com, 26 Mei 2009. Diakses 29 Mei 2014
  16. ↑ "Gerindra: Prabowo Diberhentikan TNI dengan Hormat" Diarsipkan 2014-05-29 di Wayback Machine.. Kompas.com, 26 Mei 2009. Diakses 28 Mei 2009
  17. ↑ "Ini Isi Lengkap Keppres Pemberhentian Letjen Prabowo Subianto" Diarsipkan 2019-04-01 di Wayback Machine.. Detik.com, 20 Jun 2014. Diakses 01 April 2014
  18. ↑ "Ini Isi Lengkap Keppres Pemberhentian Letjen Prabowo Subianto" Diarsipkan 2019-04-01 di Wayback Machine.. kbr.com, 20 Jun 2014. Diakses 01 April 2019
  19. ↑ "Syamsu Djalal: Prabowo Diberhentikan dengan Hormat, Tak Usah Lagi Bahas DKP" Diarsipkan 2014-06-30 di Wayback Machine.. Kompas.com, 27 Jun 2014. Diakses 30 Juni 2014
  20. ↑ "Wiranto Buka-bukaan soal Penculikan 1998, Apa Kata Kubu Prabowo-Hatta?" Diarsipkan 2014-06-22 di Wayback Machine.. Kompas.com, 19 Juni 2014. Diakses 22 Jun 2014
  21. ↑ "Beredar Surat Pensiun Prabowo, Pangkat Letjen dapat Rp 330 Ribu Per Bulan" Diarsipkan 2019-04-04 di Wayback Machine.. Merdeka.com,04 April 2019. Diakses 04 April 2019
  22. ↑ "Penjelasan Jokowi Kenapa Prabowo Subianto Naik Pangkat: Supaya Kita Tahu Jasa-jasanya di Pertahanan". Kompas TV. Diakses tanggal 2024-03-01.
  23. ↑ Pradipta. "Alasan Presiden Berikan Gelar Jenderal Kehormatan untuk Prabowo". Radio Republik Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-01.
  24. ↑ Sabki, CNBC Indonesia/Muhammad. "Detik-Detik Jokowi Anugerahkan Jenderal TNI Kehormatan Kepada Prabowo". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2024-03-01.
  25. ↑ Nababan, Willy Medi Christian (2024-02-28). "Disaksikan Para "Bintang", Presiden Angkat Prabowo Jadi Jenderal Kehormatan". Kompas.id. Diakses tanggal 2024-03-01.
  26. ↑ Redaksi. "Viral Prabowo Jadi Jenderal TNI Kehormatan, Netizen Ramai Komen Ini". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2024-03-01.
  27. ↑ "Presiden Jokowi berikan pangkat jenderal kehormatan ke Prabowo, pegiat HAM dan peneliti menentang". BBC News Indonesia. 2024-02-28. Diakses tanggal 2024-03-01.
  28. ↑ Setiawan, Bram (2024-02-28). "Prabowo Mendapat Pangkat Jenderal Bintang 4, Rekam Jejak Militer hingga Dipertanyakan Tolok Ukurnya". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-01.
  29. ↑ Nababan, Willy Medi Christian (2024-02-28). "Pangkat Bintang Empat di Pundaknya, Prabowo Mengatakan: Kayaknya Berat, Ya…". Kompas.id. Diakses tanggal 2024-03-01.
  30. ↑ "Naik pangkat jenderal bintang empat, Prabowo: Kayaknya berat ya". Antara News. 2024-02-28. Diakses tanggal 2024-03-01.
  31. ↑ "Prabowo Syukuran dan Potong Tumpeng Usai Naik Pangkat Jadi Jenderal Bintang 4". Liputan6. 2024-02-28. Diakses tanggal 2024-03-01.
  • l
  • b
  • s
Prabowo Subianto
Presiden Indonesia ke-8
Keluarga
Kakek-nenek
  • Margono Djojohadikoesoemo (kakek pihak ayah)
  • Siti Katoemi Wirodihardjo (nenek pihak ayah)
  • Philip Frederik Laurens Sigar (kakek pihak ibu)
  • Cornelie Emelie Maengkom (nenek pihak ibu)
Orang tua
  • Soemitro Djojohadikoesoemo (ayah) dan Dora Marie Sigar (ibu)
  • Soebianto Djojohadikoesoemo (paman)
  • Soejono Djojohadikusumo (paman)
  • Soekartini Silitonga Djojohadikoesoemo (bibi)
  • Miniati Djojohadikoesoemo (bibi)
Pasangan dan saudara
  • Titiek Soeharto (mantan istri)
  • Biantiningsih Miderawati Djiwandono (kakak)
  • Soedradjad Djiwandono (kakak ipar)
  • Marjani Ekowati Lemaistre (kakak)
  • Hashim Djojohadikusumo (adik)
Generasi ke-2
  • Didit Hediprasetyo (anak)
  • Aryo Djojohadikusumo (keponakan)
  • Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (keponakan)
  • Thomas Djiwandono (keponakan)
  • Budi Djiwandono (keponakan)
Prabowo Subianto
Masa kepresidenan
  • Pemilihan umum 2024
    • Kampanye
    • Pelantikan
  • Makan siang gratis
  • Kabinet
Afiliasi
  • Almamater: Akademi Militer Nasional, Magelang
  • Pangkat dan jabatan militer terakhir: Jenderal TNI, Dansesko ABRI
  • Partai politik: Gerindra
Lainnya
  • Pemilihan umum 2009
    • Kampanye
  • Pemilihan umum 2014
    • Kampanye
  • Pemilihan umum 2019
    • Kampanye
  • Kabinet Indonesia Maju
  • KIM Plus
  • Tim Mawar
  • Kampret
  • Kontroversi yang melibatkan Prabowo Subianto
  • Bobby Kertanegara
← Didahului: Joko Widodo
Petahana

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Prajurit Kopassus
  2. Komandan
  3. Kembali ke Kopassus
  4. Komandan Jenderal Kopassus
  5. Panglima Kostrad
  6. Pemberhentian
  7. Gelar Jenderal Kehormatan
  8. Referensi

Artikel Terkait

Prabowo Subianto

Presiden Indonesia ke-8 (sejak 2024)

Connie Rahakundini Bakrie

Akademisi dan pakar Hubungan Internasional asal Indonesia

Teddy Indra Wijaya

Sekertaris Kabinet Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026