Wilayah metropolitan Jabodetabek dilayani oleh beberapa layanan bus perkotaan sebagai alat transportasi dari/menuju kota-kota disekitarnya. Secara umum, bus perkotaan di Jabodetabek terbagi menurut operator yang mengoperasikan, yakni pemerintah daerah melalui badan layanan umum atau perusahaan daerah, dan swasta. Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek berperan sebagai regulator pelayanan bus perkotaan yang dioperasikan oleh swasta.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bus Perkotaan di Jabodetabek | |
|---|---|
Searah jarum jam: Transjakarta • Metrotrans • Transjabodetabek Reguler • Trans Pakuan • Jabodetabek Residence Conexion • Jabodetabek Airport Conexion • Trans Tangerang Ayo | |
| Info | |
| Wilayah | Jabodetabek |
| Jenis | Bus Raya Terpadu (BRT) Non-BRT Reguler |
| Penumpang tahunan | 280 Juta |
| Operasi | |
| Operator | Transjakarta Mayasari Bakti DAMRI Sinar Jaya Bianglala Metropolitan Pahala Kencana Bayu Holong Persada Agra Mas Kementerian Perhubungan Republik Indonesia |

Wilayah metropolitan Jabodetabek dilayani oleh beberapa layanan bus perkotaan sebagai alat transportasi dari/menuju kota-kota disekitarnya. Secara umum, bus perkotaan di Jabodetabek terbagi menurut operator yang mengoperasikan, yakni pemerintah daerah melalui badan layanan umum atau perusahaan daerah, dan swasta. Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek berperan sebagai regulator pelayanan bus perkotaan yang dioperasikan oleh swasta.[1]
Jauh sebelum bus Transjakarta melalang buana di jalanan Ibukota, bus kota sudah menjadi angkutan umum favorit bagi sebagian besar masyarakat Jakarta. Pada dekade ’50-an, bus merek Robur buatan Jerman Timur dan Ikarus buatan Hongaria terlebih dahulu dipercaya untuk menjadi bus kota. Baru pada tahun 1969, Indonesia mendapatkan bantuan sekitar 4000 unit bus merek Dodge yang merupakan buah bantuan dari Amerika hingga tahun 1974. Bus Dodge ini dikelola oleh Perusahaan Umum Pengangkut Penumpang Djakarta (Perum PPD) dan sejumlah perusahaan operator swasta. Bus ini cukup legendaris lantaran masih mengaplikasi ‘moncong’ atau ‘hidung’ sebagai ruang mesin. Sepak terjang bus Dodge inipun berakhir pada tahun 1980-an dan diganti oleh bus buatan Jepang dan Eropa.[2]
Selain Perum PPD, perusahaan otobus swasta lainnya juga turut mengoperasikan bus kota Jakarta seperti Mayasari Bakti, Metomini, Kopaja, Bianglala Metropolitan, Bayu Holong Persada, dan lain sebagainya. [3]
Setelah beberapa tahun, Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta saat itu mengusulkan pembangunan proyek BRT di Jakarta. Bus kota Jakarta modern pertama dimulai 1 Februari 2004 dengan peluncuran Transjakarta sebagai sistem BRT pertama di Asia Tenggara. Selama beroperasi, sederet inovasi telah dibuat Transjakarta, seperti pembukaan koridor baru maupun penambahan armada. Pada 2017, misalnya, Transjakarta meluncurkan 116 armada bus baru. Transjakarta juga membeli 300 unit bus low entry yang berlantai rendah, sehingga ramah terhadap difabel. Pada tahun yang sama, Transjakarta juga berinovasi dengan menghadirkan Transjakarta Cares yang dapat digunakan penyandang disabilitas secara gratis. [3]

Sebagai layanan bus perkotaan dengan cakupan terbesar se-Jabodetabek, Transjakarta menyediakan layanan pengumpan perbatasan untuk wilayah yang berdekatan dengan DKI Jakarta. Tarif yang dibayar penumpang sama dengan tarif layanan di dalam kota Jakarta dan memungkinkan untuk tidak dikenakan biaya tambahan apabila penumpang berpindah halte.[4] Sejak 2018, Transjakarta mulai menyediakan layanan Royaltrans sebagai layanan premium (non ekonomi) Transjakarta dengan tarif lebih mahal, tetapi dengan fasilitas premium.[5] Di luar angkutan untuk penglaju, Transjakarta juga mengoperasikan layanan bus wisata gratis untuk 4 rute pelayanan.[6]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Swakelola Transjakarta | Bus Besar, Bus Tronton Maxi, Bus Sedang, Bus Dek Rendah dan Bus Gandeng |
| Mayasari Bakti | Bus Besar, Bus Tronton Maxi, Bus Dek Rendah (tenaga listrik) dan Bus Gandeng |
| Perum DAMRI | Bus Besar (tenaga listrik), Bus Dek Rendah (tenaga listrik) dan Bus Gandeng |
| Pahala Kencana | Bus Besar |
| Sinar Jaya | |
| Steady Safe | Bus Tronton Maxi |
| Bianglala Metropolitan | Bus Besar (tenaga listrik), Bus Besar (non-listrik) dan Bus Dek Rendah (tenaga listrik) |
| Bayu Holong Persada | Bus Besar |
Beroperasinya layanan bus Transjakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2004 memacu pemerintah daerah di pinggiran Jakarta untuk menyediakan layanan bus sendiri.[7] Sejak tahun 2021, pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan meluncurkan layanan BisKita sebagai layanan bus perkotaan berbasis pembelian layanan untuk menjangkau wilayah-wilayah di kota penyangga Jabodetabek. Layanan ini tersedia di empat kabupaten/kota, yakni di Kota Bogor,[8] Kota Depok,[9] Kota Bekasi,[10] dan Kabupaten Bekasi.[11]

BisKita Trans Pakuan adalah layanan angkutan umum berbasis bus raya terpadu di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang menerapkan mekanisme subsidi BTS (Buy The Service) oleh Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan.[12]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Kodjari Tata Angkutan | Bus Kecil |

BisKita Trans Bekasi Patriot (atau disingkat TBP) adalah layanan angkutan umum berbasis Bus Raya Terpadu di Kota Bekasi, yang menerapkan mekanisme subsidi BTS (Buy The Service) oleh Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan dan diselenggarakan berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Sinar Jaya | Bus Kecil |

Pemerintah Kota Bekasi resmi mengoperasikan layanan angkutan umum massal Trans Beken pada lintasan Terminal Bekasi–Harapan Indah. Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sebagai bagian dari komitmen menghadirkan sistem transportasi publik yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada kenyamanan warga.[13]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Sinar Jaya | Bus Kecil |

Di wilayah Banten, Pemerintah Kota Tangerang telah mengoperasikan layanan Trans Tangerang Ayo di tiga koridor pelayanan sejak 2016.[14] Layanan serupa juga diluncurkan Pemerintah Kota Tangerang Selatan dengan nama Trans Anggrek sejak 2015,[15] tetapi hingga kini mati suri.[16][17]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Tangerang Nusantara Global | Bus Kecil |

Layanan Transjabodetabek[18][19] adalah pengembangan dari layanan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB) yang sudah dihapus per 1 Juni 2016.[20][21] Layanan ini dioperasikan oleh pemerintah pusat dan daerah seperti Transjakarta dan DAMRI[22] dan operator bus swasta seperti Mayasari Bakti, Lorena, dan Sinar Jaya untuk melayani atau menaikturunkan penumpang dari wilayah pinggiran Jabodetabek menuju pusat Jakarta ataupun melintas kota-kota di Jabodetabek.[23][24] Layanan ini terdiri atas dua jenis, yakni Reguler dan Bisnis.[25]
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menegaskan bahwa ke depannya layanan Transjabodetabek akan memiliki standar yang sama dengan Transjakarta. Bus yang digunakan dalam layanan ini akan dikelola oleh Transjakarta, sehingga pengguna akan mendapatkan pengalaman serupa dengan sistem transportasi dalam kota Jakarta. Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengembangkan konsep Transit Oriented Development (TOD), yang berfokus pada integrasi transportasi publik dengan tata ruang kota.[26]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Agra Mas | Bus Besar |
| Mayasari Bakti | |
| Sinar Jaya |

Jabodetabek Residence Connexion (umum dikenal sebagai JR Connexion)[27] adalah pengembangan dari layanan Transjabodetabek Premium sebagai angkutan permukiman tidak dalam trayek dari kawasan perumahan dan kota mandiri di wilayah Bodetabek menuju Jakarta dan sebaliknya.[28] Layanan yang beroperasi sejak Februari 2017 ini dioperasikan oleh operator bus yang bekerja sama dengan pihak pengembang perumahan yang akan dilayani.[29] Beberapa pemain utama layanan JR Connexion di antaranya seperti operator bus milik BUMN RI seperti DAMRI[22] dan operator bus swasta seperti Mayasari Bakti, Sinar Jaya,[30] Lorena, dan lain sebagainya. Layanan ini memiliki tarif bervariasi dengan fasilitas premium.[31][32]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Perum DAMRI | Bus Besar |
| Sinar Jaya | Bus Kecil |

Jabodetabek Airport Connexion (umum dikenal sebagai JA Connexion)[33] adalah layanan bus yang menyasar pada titik keberangkatan dari kawasan perhotelan dan pusat perbelanjaan di sekitar Jabodetabek menuju Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta[34][35] atau Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma.[36] Layanan yang diluncurkan sejak Mei 2017 ini menjadi alternatif transportasi menuju bandara selain bus bandara DAMRI, taksi, angkutan antar-jemput, atau kereta ekspres bandara.[37]
| Nama Operator | Bus yang dioperasikan |
|---|---|
| Perum DAMRI | Bus Besar |
| Sinar Jaya | Bus Kecil |
Angkutan pengumpan (feeder) adalah layanan transportasi umum yang menghubungkan pemukiman atau area di luar jalur utama dengan halte/stasiun BRT Transjakarta, kereta, atau pusat transfer lainnya. Layanan ini bertujuan memperluas jangkauan transportasi massal, memudahkan mobilitas warga dari rumah, dan meningkatkan konektivitas antarmoda.[38]

Angkutan pengumpan berupa bus di Jabodetabek adalah rute-rute bus pengumpan yang jangkauannya di dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Rute-rute bus pengumpan ini kebanyakan memakai rute-rute bekas bus kota, seperti Kopaja dan Metromini. Penumpang yang akan naik dari kawasan yang tidak ada halte BRT-nya (tidak melalui halte), menunggu di pinggir jalan yang terdapat papan bergambar bus bertuliskan, "STOP, bus pengumpan Transjakarta". Penumpang hanya diizinkan untuk naik dan turun di titik angkut yang telah ditentukan.[39]

Angkutan pengumpan berperan penting dalam mendorong peralihan ke transportasi publik massal di kawasan Jabodetabek. Namun, sebagian besar armada yang digunakan masih berbasis bahan bakar fosil dan berkontribusi terhadap polusi udara yang tinggi. Dengan mempertimbangkan urgensi terhadap polusi udara dan perlunya elektrifikasi transportasi publik, dokumen ini akan mengelaborasi secara lebih mendalam pengembangan peta jalan elektrifikasi transportasi publik di Kota Bogor. Berdasarkan kriteria kesiapan yang dikembangkan oleh ITDP, Kota Bogor merupakan kota yang paling siap untuk melakukan elektrifikasi transportasi publik perkotaan di luar Daerah Khusus Jakarta.[40]