Haria nama negeri adat "Usalo Leiwaka Amapati Palapesi Ruma Toru" disingkat "Leawaka Amapati" merupakan salah satu dari tujuh negeri adat yang berada di wilayah Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia. Negeri ini memiliki nilai sejarah yang signifikan karena menjadi tempat kelahiran Pahlawan Nasional Thomas Matulessy. Selain itu, Haria juga merupakan tanah leluhur bagi Peter Martin Christian, Presiden kedelapan Negara Federasi Mikronesia yang memiliki garis keturunan dari marga Souisa serta Giovanni van Bronckhorst mantan Kapten Tim nasional sepak bola Belanda yang pernah membela klub besar seperti Arsenal F.C. & FC Barcelona, yang kini menjabat sebagai asisten pelatih di Liverpool F.C. memiliki garis keturunan dari marga Manuhutu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Haria Leawaka Amapati | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Maluku |
| Kabupaten | Maluku Tengah |
| Kecamatan | Saparua |
| Kodepos | 97584 |
| Luas | 12,93 km² |
| Jumlah penduduk | 7.374 jiwa |
| Kepadatan | 570,30 jiwa/km² |
| Raja | Nicodemus Sahuleka |
Haria nama negeri adat "Usalo Leiwaka Amapati Palapesi Ruma Toru" disingkat "Leawaka Amapati" merupakan salah satu dari tujuh negeri adat yang berada di wilayah Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia. Negeri ini memiliki nilai sejarah yang signifikan karena menjadi tempat kelahiran Pahlawan Nasional Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura). Selain itu, Haria juga merupakan tanah leluhur bagi Peter Martin Christian, Presiden kedelapan Negara Federasi Mikronesia yang memiliki garis keturunan dari marga Souisa serta Giovanni van Bronckhorst mantan Kapten Tim nasional sepak bola Belanda yang pernah membela klub besar seperti Arsenal F.C. & FC Barcelona, yang kini menjabat sebagai asisten pelatih di Liverpool F.C. memiliki garis keturunan dari marga Manuhutu.[1]
Bangsa portugis pertama kali tiba di maluku pada tahun 1512 di bawah pimpinan Kapten Francisco Serrão setelah penaklukan malaka. di pulau saparua, mereka menjadikan wilayah pesisir seperti Negeri Haria sebagai titik penting untuk aktivitas perdagangan Cengkih dan Pala.
Menurut penuturan sejarah lisan (salah satunya dirujuk dari f. souisa), terdapat dua versi utama yang mengaitkan nama haria dengan Bahasa Portugis. Dikisahkan bahwa pada suatu masa, sebuah kapal portugis sedang berlayar di perairan saparua dan terjebak cuaca buruk hingga kapalnya kandas. untuk menyelamatkan kapal tersebut, para pelaut portugis bekerja keras menarik tali sambil meneriakkan komando "aria!" (yang dalam bahasa portugis arrear atau aria berarti menurunkan, mengulur, atau menarik tali/layar). penduduk lokal yang mendengar teriakan berulang-ulang tersebut kemudian melafalkannya sebagai "Haria", yang lambat laun menjadi nama bagi wilayah pesisir tersebut.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa para pelaut portugis menamai wilayah pelabuhan tersebut sesuai dengan daerah atau istilah yang akrab di telinga mereka di eropa, meskipun secara geografis nama "Haría (municipality)" lebih identik dengan wilayah di Kepulauan Kanaria, Spanyol yang sering menjadi jalur pelayaran bangsa Portugis pada masa itu. dan membuat lambang Negeri Haria dengan gambar seekor singa berdiri dengan dua kaki memegang pedang dan bermahkota.
Selain dari pengaruh portugis, secara linguistik lokal (bahasa tana), kata "aria" juga memiliki arti "Pergi ke Pantai". hal ini bertepatan dengan kebijakan pemindahan penduduk dari negeri gunung (seperti nusahunjo dan amano) menuju pesisir pantai pada masa Pemerintah Gubernur (VOC, Vereenigde Oostindische Compagnie) di Kepulauan Maluku, Arnold de Vlamingh van Oudshoorn yang menjabat selama periode 1650-1660 memerintahkan penduduk di Ambon dan Kepulauan Lease untuk bermukim di pantai. konvergensi (pertemuan) antara istilah portugis dan bahasa lokal inilah yang memperkuat penggunaan nama Haria hingga sekarang.
Permukiman awal Negeri Haria bernama Nusa Hunjo, yang terletak di wilayah pegunungan. Sejarahnya dimulai saat Kapitan Loupatty memimpin perpindahan empat marga (fam) menuju Gunung Hatu-Hahul. Keempat marga tersebut adalah Loupatty, Parinussa, Sarimolle, dan Tamaela.[2]
Pada suatu masa, seorang Kapitan Loupatty yang bernama Pattiiju sedang berjalan-jalan di wilayah Nusahunjo dan berpapasan dengan sosok asing yang juga berpakaian kapitan. Pertemuan itu memicu perkelahian hebat, namun karena keduanya sama-sama kuat dan tidak ada yang mampu mengalahkan satu sama lain, kapitan asing tersebut dijuluki sebagai Kapitan Hattu, yang berarti 'keras seperti batu'.[2]
Lokasi pertarungan mereka kemudian dinamakan Apapa, merujuk pada kata 'apa' yang mereka teriakkan saat saling bersua dan bersiap untuk bertarung. Setelah menyadari kekuatan masing-masing, keduanya sepakat untuk berdamai dan menjalin aliansi. Mereka akhirnya berpisah di sebuah tempat bernama Patae. Kapitan Loupatty meminta Kapitan Hattu untuk menuju ke Nusahunjo, sementara ia sendiri melanjutkan perjalanan untuk menemui rombongan pendatang lain dari Pulau Seram.[2]
Di tengah perjalanan, Kapitan Loupatty berhenti sejenak untuk beristirahat dan menyantap bekal. Namun, saat hendak makan, ia menyadari tidak ada ikan untuk lauknya. Tiba-tiba, seekor burung Goheba terbang melintas dengan seekor ikan di paruhnya. Ikan tersebut jatuh tepat di hadapan Kapitan Loupatty, yang kemudian mengambilnya untuk dimakan. Oleh karena itu, tempat kejadian tersebut dinamai Yano, yang dalam bahasa setempat berarti 'Ikan'.[2]
Seiring bertambahnya jumlah anggota marga, mereka memutuskan untuk berpindah ke lokasi kedua yang bernama Amano. amano dianggap sebagai salah satu "Negeri Lama" di haria yang secara harfiah berarti "tempat yang aman". Negeri Lama di pegunungan ini memiliki nama adat atau teon yaitu Leawaka Amapati, Leawaka berarti datang untuk menjaga, Ama berarti Negeri, dan Patih bermakna Raja atau Pemimpin. dengan demikian, dapat diartikan sebagai Negeri yang dijaga dan diperintah oleh seorang Patih atau Raja.[2]

Pada era Portugis, Kapitan Loupatty bersama rekannya, Patih Sakaroni (Manuhutu), memutuskan untuk turun dari Amano menuju pesisir guna mencari lokasi permukiman baru. Tempat tinggal baru di tepi pantai inilah yang kini menjadi Negeri Haria. Mereka kemudian menyematkan nama adat atau teon bagi Negeri tersebut, yaitu "Leawaka Amapatti".[2]
Sebagai negeri yang baru, "Leawaka Amapati" dipimpin oleh Patih Sakaroni (Manuhutu), yang kekuasaannya kemudian diteruskan oleh keturunannya. Patih Sakaroni merupakan leluhur yang menurunkan Marga Manuhutu salah seorang keturunannya yang bernama Narayai kemudian menyusun struktur Pemerintahan Adat Dalam struktur tersebut.[2]
ditetapkan pembagian wilayah kekuasaan:
Kapitan Loupatty berkuasa sebagai pemimpin di wilayah hutan dan gunung dan Patih Sakaroni (Manuhutu) berkuasa di wilayah pantai/pesisir : Teluk Haria. Setelah pembangunan Negeri Leawaka Amapati di pesisir selesai, dilakukanlah penetapan batas wilayah dengan Negeri-negeri tetangga. Sebagai tanda perbatasan, Kapitan Loupatty menikamkan tombak ke tanah yang menjadi batas antara Haria dengan Porto. Sementara itu, Kapitan Hattu melakukan hal serupa di sekitar Air Salobar, yang lokasinya tidak jauh dari Negeri lama mereka di pegunungan.[2]

Setelah pemukiman di pesisir terbentuk, batu pamali negeri dipindahkan dari Amano ke lokasi baru. Di depan batu tersebut, didirikanlah rumah adat atau baileo yang diberi nama "Palapesi Ruma Toru". Berdasarkan catatan sejarah lisan, baileo ini dibangun pada tahun 1571.[2]
Bersamaan dengan peresmian baileo tersebut, Kapitan Loupatty memanggil tiga marga yang saat itu berdiam di Pulau Molana, yaitu marga Souisa, Kaya, dan Kainama. Memenuhi panggilan tersebut, ketiga marga itu turun dari Molana dan bergabung menjadi bagian dari penduduk Negeri Haria.[2]
Setelah struktur Negeri Haria dianggap sudah mapan dan memiliki kedudukan yang tetap, Kapitan Loupatty melakukan perjalanan mengelilingi wilayah Negeri tersebut. Ia akhirnya tiba di suatu tempat yang kemudian dinamakan Sempurna. Nama ini secara simbolis bermakna "Selesai", yang menandakan tuntasnya seluruh upaya pembangunan Negeri baru di pesisir pantai tersebut.[2]
Negeri Haria terletak di pesisir barat daya Pulau Saparua, Maluku Tengah. Secara astronomis, wilayah ini berada pada koordinat 3°29'17” – 3°37'39” Lintang Selatan dan 128°32'43” – 128°43'49” Bujur Timur. Negeri ini mencakup luas wilayah daratan sekitar 1.900 hektar.[3]
Secara administratif dan geografis, Negeri Haria berbatasan dengan wilayah-wilayah berikut:
| Utara | Negeri Porto |
| Timur | Negeri Tiouw |
| Selatan | Negeri Booi |
| Barat | Teluk Saparua |
Negeri Haria memiliki iklim tropis (klasifikasi Koppen: Af hingga Am) yang dicirikan oleh suhu yang hangat dan curah hujan yang signifikan sepanjang tahun. Sebagaimana wilayah Maluku Tengah lainnya, siklus musim di Haria sangat dipengaruhi oleh sistem angin muson yang menciptakan dua musim utama:
Umumnya berlangsung antara bulan November hingga April. Berdasarkan data klimatologi, periode ini memiliki suhu rata-rata harian tertinggi yang berkisar antara 26°C hingga 31°C, dengan puncaknya terjadi pada bulan Januari.
Berlangsung sekitar bulan Juni hingga September. Selama periode ini, suhu cenderung lebih sejuk dengan rata-rata terendah sekitar 23°C pada bulan Juli. Curah Hujan dan Kelembapan Curah hujan di Haria menunjukkan variasi musiman yang cukup mencolok. Periode paling basah biasanya terjadi antara pertengahan April hingga akhir Agustus, dengan puncak curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juli. Sebaliknya, bulan November sering menjadi periode dengan curah hujan terendah. Tingkat kelembapan udara di wilayah ini relatif tinggi, seringkali berada di atas angka 80%.
Pela adalah ikatan antara dua atau lebih negeri (desa) yang disertai sumpah dan janji yang tidak boleh dilanggar oleh warga Negeri yang mempunyai ikatan tersendiri. Kata Pela berasal dari kata “Pila” yang artinya buatlah sesuatu untuk kita bersama. “Pila” dalam kehidupan sehari-hari ditambah dengan kata “tu” menjadi “Pilatu”. Pilatu artinya menguatkan, mengamankan, dan mengusahakan agar sesuatu tidak mudah rusak dan pecah.[4]
Hubungan pela dijalin dengan Negeri Sirisori Islam, dengan jenis pela minum darah. Pela dengan Sirisori Islam merupakan pela yang paling kuat dan masih lestari. Sejarah pela kedua negeri berasal dari abad ke-19, menyusul terjadinya Perang Thomas Matulessy .[5]
(Negeri Haria) 🐬 MAE NUSU ANAI LEAWAKA AMAPATI Di atas tanah para Kapitan, beta badiri yang paling atas, untuk kasi kanal beta pung Negeri Pusaka Leawaka itu, Haria. dengan Gagah dan Perkasa, mengalir dari lautan, seng pernah taku ombak, seng pernah taku arus. Lautan buka arus par katong. Matahari panggel pulang basudara yang jauh di rantau jang lupa katong pung Sodara, jang lupa Pela deng Gandong. Angin seng bisa kasi patah kapata, seng bisa ero Adat. Adat tetap adat, Negeri tetap negeri. Kas tarang mata rumah, kas manyala obor dari Gunung Saniri. PALAPESI RUMA TORU jang sampe lupa itu katong pung Rumah: tampa kumpul Sodara, tampa biking Adat, tampa kumpul cinta dalam rumah adat. Di bawah langit Negeri, ribuan aksara tertulis dengan Sejarah, dengan Kapitan, dengan Tombak, dengan Pela darah. Karna itu: jang lupa akan Sejarah, jang lupa Ade deng Kaka, Jang lupa mangente Negeri. Inga hati, inga Gunung deng Tanah, inga Tanjong Hatuhalani, inga Haria Anyer. Itu Katong sudah: Leawaka Amapati Tanah dari datuk-datuk yang turun par Anak Cucu Negeri.
Terjadi peperangan yang sangat dahsyat antara dua negeri di Jazirah Leitimur, yaitu antara Negeri Soya dan Negeri Hative Kecil. Peperangan ini dipicu oleh tindakan seorang mongare (pemuda) Soya bernama Rehatta yang membawa lari seorang jujaro (gadis) Hative Kecil bernama Muriani. Akibat peristiwa ini, pecahlah pertempuran di mana Negeri Hative Kecil menggunakan senjata berupa mata kail cakalang dengan tali yang diikat pada sebatang bambu.[6]
Senjata dari Negeri Soya ternyata sangat berbahaya bagi pasukan Negeri Hative Kecil. Dalam pertempuran tersebut, pihak Hative Kecil mengalami banyak kerugian jiwa. Lokasi jatuhnya banyak korban berada di Air Tantui, di mana darah mengalir dengan hebatnya. Akibat sengitnya pertempuran, dua soa dari Negeri Hative Kecil melarikan diri ke Rumah Tiga, kemudian meneruskan perjalanan hingga menetap di Negeri Hative Besar.[7]
Karena peperangan terus berlangsung, Negeri Hative Kecil merasa kecewa dan putus asa. Mereka kemudian berangkat ke Negeri Haria untuk meminta bantuan kepada Kapitan Haria beserta pasukannya, yang dengan rela hati bersedia membantu. Kapitan Haria dan pasukannya segera bersiap menyeberangi lautan menuju Teluk Baguala (Passo) untuk menolong Negeri Hative Kecil.[7]
Namun, dalam perjalanan tersebut, mereka melakukan ritual mencari tahu atau mawe-mawe. Hasil dari mawe tersebut mengatakan bahwa apabila mereka menyeberang dan singgah di Passo, mereka akan diserbu oleh Kapitan Soya beserta pasukannya. Akhirnya, mereka mengalihkan rute perjalanan melalui Negeri Waai dan Liang, terus melewati Tanjung Alang, hingga mencapai Negeri Hative Kecil.[7]
Dalam perjalanan menuju Hative Kecil tersebut, perbekalan mereka habis sehingga terpaksa singgah di Negeri Lilibooi untuk meminta bantuan. Penduduk Negeri Lilibooi membantu dengan sukarela. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka mengangkat sumpah pela dengan Negeri Lilibooi, di mana hubungan pela ini masih terjaga dengan erat hingga sekarang.[7]
Sesudah itu, mereka berangkat menuju Hative Kecil dengan melalui pesisir pantai. Namun, perbekalan mereka kembali habis sehingga terpaksa singgah di Negeri Hative Besar untuk meminta bantuan. Masyarakat Negeri Hative Besar dengan rela hati bersedia membantu dalam bentuk apa saja. Karena bantuan yang diberikan oleh penduduk Negeri Hative Besar sangat banyak untuk menghadapi pasukan Soya, maka sebelum berangkat, mereka mengangkat sumpah pela sebagai orang bersaudara dengan Negeri Hative Besar.[8]
Pela Darah ini terjadi pada tahun 1750. Tempat yang menjadi lokasi terbentuknya hubungan pela adalah Tanjung Batukubur, di atas sebuah batu yang telah disediakan sebuah sempe berisi minuman (arak). Di sana, Kapitan dari Haria beserta pasukannya bersama Kapitan dari Upu Latu, serta semua pihak yang berkepentingan dalam Negeri Hative Besar, bersama-sama naik ke atas Batukubur. Di dalam sempe tersebut telah ditaruh berbagai barang tajam. Kemudian, mereka bersama-sama memasukkan ujung jari yang telah ditusuk duri agar darah masing-masing keluar dan dicelupkan ke dalam minuman tersebut.[8]
Kedua negeri ini, yaitu Negeri Hative Besar dengan Upu Latu serta semua pasukan dari Negeri Haria beserta pimpinannya, berjanji bahwa sumpah ini tidak boleh dirombak oleh turun-temurun. Selama dunia ini masih ada, tidak diperbolehkan terjadi perkawinan antara kedua negeri ini, dan siapa yang melanggar titah ini akan masuk ke kubur. Akibat peristiwa tersebut, tanjung ini dinamakan Tanjung Batukubur. Selain itu, kedua negeri ini sepakat untuk saling membantu dalam bentuk apa saja.[8]
Sesudah perjanjian pela ini selesai, mereka bersiap menuju Hative Kecil. Tetapi sebelum mereka tiba di sana, pertempuran antara Soya dan Hative Kecil telah berakhir. Sebagai tanda perdamaian, Negeri Soya menyerahkan Bia Asuseng-nya yang terdapat pada Pelabuhan Hinipupu sebagai penghasilannya, sedangkan Negeri Hative Kecil menyerahkan hutan damarnya sebagai penghasilan mereka kepada Negeri Soya.[8]

Perayaan Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1912 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Maluku di bawah kepemimpinan Gubernur Maluku, J. Tideman. Untuk memeriahkan suasana, Gubernur menyelenggarakan rangkaian acara besar pada tanggal 2 hingga 3 September 1912. Puncak dari kemeriahan tersebut adalah lomba perahu tradisional atau Arumbai yang diadakan di perairan Teluk Ambon yang tenang namun menantang. Kompetisi bergengsi ini menarik perhatian besar karena melibatkan para pendayung terbaik dari berbagai negeri di penjuru kepulauan Maluku.
Peserta datang membawa kebanggaan negeri masing-masing, mulai dari Ambon, Haruku, Saparua, Seram, hingga Nusalaut. Suasana teluk berubah menjadi arena persaingan sengit yang mempertemukan ketangkasan, kecepatan, dan nyali para pelaut ulung di masa itu. Di tengah persaingan yang ketat, perahu dari Negeri Haria dan Siri-Sori Islam asal Pulau Saparua berhasil mencuri perhatian. Kerja sama antara kedua Negeri ini membuahkan kemenangan gemilang yang mengukuhkan posisi mereka sebagai juara utama dalam ajang tersebut.
Keberhasilan ini pun tercatat secara resmi dalam laporan administrasi Hindia Belanda sebagai salah satu prestasi olahraga air paling mengesankan di masa jabatan Gubernur Tideman.
Kejayaan ini ternyata bukan sekadar keberuntungan sesaat, melainkan awal dari sebuah dominasi panjang yang diakui oleh media masa itu. Laporan surat kabar era 1920-an, seperti Het Nieuws van den Dag. Sering kali mengulas keperkasaan perahu bernama "Grijpvogel". Perahu legendaris milik Negeri Haria ini hampir tidak terkalahkan dalam setiap lomba dayung yang diadakan di Teluk Ambon.[9]

Melalui ajang lomba perahu Manggurebe yang rutin digelar dalam Festival Teluk Ambon 2018, Negeri Haria kembali menunjukkan taringnya. Meskipun negeri kelahiran Thomas Matulessy ini sempat beberapa kali absen dari posisi pertama, dominasi mereka dalam sejarah perlombaan ini sulit terbantahkan. Tercatat, sebanyak tujuh kali kemenangan telah diraih oleh Haria, baik secara mandiri maupun melalui kolaborasi dengan Negeri Siri-Sori Islam. Kali ini, Haria kembali membuktikan julukan mereka sebagai "Sang Raja Lautan".
Dari kejauhan, perahu bernomor lambung 05 awalnya sempat terpaut jauh di belakang dua perahu rivalnya. Riuh suara ribuan warga di pesisir pantai membakar semangat tim yang tengah beradu di tengah lautan. Suasana semakin tegang saat tim Haria mulai melambung perahu milik tim Nolloth ketika jarak tersisa sekitar 600 meter dari garis finish. Gemuruh genderang makin meninggi, memompa adrenalin 29 pendayung yang berjuang sekuat tenaga.
Menjelang detik-detik terakhir, perahu tim Haria melakukan manuver cerdas dengan mengambil jalur membelok, menyusul tim Nohas yang sudah nyaris menyentuh garis akhir. "Katong ambil kanan, perahu Nohas lari lurus. "Katong potong supaya bisa bertemu di depan dan akhirnya masuk finish duluan." ungkap Frans Matulessy, penggebuh tifa Tim Haria, dengan penuh semangat.[10]

Taman Wisata Pantai Batu Pintu Haria merupakan sebuah destinasi wisata bahari yang terletak di Negeri Haria, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Objek wisata ini berada di pesisir barat daya Pulau Saparua dan dikenal karena lokasinya yang menghadap langsung ke laut lepas, menawarkan pemandangan alam yang masih asri dan tenang. Sebagai bagian dari kluster pengembangan pariwisata di Maluku Tengah, tempat ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang mengunjungi Pulau Saparua selain situs sejarah seperti Benteng Duurstede.[11]
Salah satu fitur unik yang membedakan taman wisata ini adalah tradisi pengabadian nama pengunjung melalui ukiran di atas semen yang ditempelkan pada bebatuan di sekitar taman. Pengunjung dapat memesan batu khusus untuk menuliskan nama mereka sebagai kenang-kenangan fisik yang tetap berada di lokasi tersebut. Selain itu, area ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti toilet dan area istirahat, serta sering kali menjadi lokasi bagi aktivitas rekreasi keluarga karena suasananya yang ramah anak.[12]
Akses menuju lokasi dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari pusat Negeri Haria dengan kondisi jalan yang sebagian masih berupa bebatuan. Taman ini beroperasi selama 24 jam setiap harinya, dengan biaya masuk dan parkir yang terjangkau bagi masyarakat lokal maupun turis mancanegara. Selain menikmati pemandangan matahari terbenam, pengunjung juga dapat melakukan aktivitas lain seperti memberi makan ikan di sekitar pantai atau sekadar bersantai menikmati kata-kata mutiara yang dipajang di area taman.[13]

Negeri Haria di Kecamatan Saparua, Maluku Tengah, secara demografis diklasifikasikan sebagai pemukiman dengan tingkat homogenitas relijius yang absolut.[14]
Berdasarkan data kependudukan, seluruh penduduk asli di wilayah administratif ini tercatat sebagai pemeluk agama Kristen Protestan dengan persentase mencapai 100%. Kondisi ini menjadikan variabel agama sebagai identitas tunggal yang mendasari seluruh struktur kependudukan di tingkat Negeri. Secara institusional, kehidupan keagamaan di negeri ini terpusat pada Gereja Protestan Maluku Jemaat Haria. Gereja berfungsi sebagai lembaga sosial utama yang mengintegrasikan fungsi teologis dengan aktivitas kemasyarakatan sehari-hari. Dalam perspektif sosiologi agama, keberadaan institusi tunggal ini menciptakan kohesi sosial yang sangat kuat, di mana nilai-nilai kristiani menjadi standar moral dan etika kolektif bagi seluruh warga.[16]
Negeri Haria di Pulau Saparua dikenal sebagai salah satu pusat kerohanian yang kuat di Maluku Tengah, yang tercermin dari banyaknya rumah ibadah yang berdiri megah di wilayahnya. Keragaman denominasi Protestan di negeri ini sangat menonjol, di mana jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) menjadi yang terbesar dengan memiliki empat gedung gereja sekaligus, yakni Eben-Haezer, Lahatol, Petra, dan Getsemani, guna melayani populasi penduduk yang padat. Kehadiran gedung-gedung ini tidak hanya menjadi simbol arsitektur yang ikonik di pinggir pantai dan pemukiman, tetapi juga menunjukkan efektivitas pelayanan iman bagi ribuan warga Haria yang tersebar di berbagai sektor.[17]

Selain dominasi GPM, dinamika religius di Negeri Haria semakin berwarna dengan hadirnya gereja-gereja protestan dari aliran lain seperti Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), hingga Gereja Pembaruan. Perbedaan waktu ibadah, seperti jemaat Advent yang beribadah di hari Sabtu dan jemaat lainnya di hari Minggu, tidak menghalangi kerukunan hidup masyarakat yang dikenal kental dengan adat dan budaya persaudaraan. Seluruh gereja ini hidup berdampingan secara harmonis, menjadikan Negeri Haria sebagai contoh nyata desa yang religius di mana setiap warganya memiliki akses yang mudah untuk menjalankan keyakinan mereka sesuai dengan aliran Protestanisme yang dianut.[18]

Dalam konteks demografi formal, identitas Kristen Protestan di Negeri Haria telah menjadi bagian integral dari sejarah panjang masyarakatnya sejak masa pemerintahan Inggris dan Belanda. Tradisi keagamaan ini terus diwariskan secara turun-temurun melalui sistem kekerabatan dan marga (matarumah), status Haria sebagai Negeri Kristen tetap terjaga secara konsisten melalui penguatan literasi keagamaan dan fungsi pendidikan gerejawi.[19]
Masa transisi kekuasaan dari VOC ke pemerintahan Inggris menjadi titik balik krusial bagi sejarah spiritualitas di Negeri Haria. Setelah sekian lama jemaat-jemaat di Maluku terlantar akibat kebangkrutan VOC, kehadiran Joseph Kam pada tahun 1815 membawa embusan angin segar bagi restorasi iman Protestan. Dengan dukungan penuh dari Residen Inggris, William Byam Martin, Kam yang merupakan utusan dari London Missionary Society (LMS) segera melakukan kunjungan pastoral ke Saparua, termasuk Haria, untuk melakukan pembaptisan massal serta memulihkan kedisiplinan hidup gerejawi yang sempat memudar.[20]
Restorasi ini tidak hanya menyentuh aspek ritual ibadah, tetapi juga meletakkan fondasi kuat bagi pembangunan literasi keagamaan dan fungsi pendidikan di Negeri Haria. Joseph Kam menekankan pentingnya akses terhadap Alkitab dan pendidikan dasar, yang kemudian menjadi akar dari sistem persekolahan dan pembinaan jemaat yang kita kenal hingga saat ini. Melalui kerja kerasnya di bawah perlindungan administrasi Inggris, identitas Kristen di Haria bertransformasi dari sekadar status administratif menjadi sebuah keyakinan yang terinternalisasi dalam struktur sosial dan budaya masyarakatnya secara mendalam.[21]
Mata pencaharian penduduk Negeri Haria didominasi oleh pemanfaatan sumber daya alam, baik di sektor kelautan maupun daratan. Letak geografisnya di pesisir Pulau Saparua menjadikan sektor perikanan sebagai pilar utama ekonomi masyarakat, yang didukung oleh sektor perkebunan dan perdagangan jasa.
Sektor kelautan merupakan kontributor terbesar bagi pendapatan dan kesejahteraan ekonomi warga Haria, di mana para nelayan mengeksplorasi potensi Laut Banda menggunakan beragam sarana transportasi, mulai dari alat tradisional seperti bodi dan perahu dayung hingga sarana modern berupa motor ikan bermesin untuk jangkauan tangkap yang lebih jauh. Hasil tangkapan tersebut kemudian didistribusikan melalui rantai perdagangan lokal yang melibatkan peran penting perempuan pedagang ikan keliling, atau yang dikenal sebagai papalele dan jibu-jibu. Selain melalui perantara, para nelayan juga memasarkan hasil laut mereka secara langsung ke pasar-pasar di wilayah Kecamatan Saparua hingga menjangkau pusat ekonomi di Kota Ambon.
Selain melaut, masyarakat Haria juga mengelola lahan darat warisan turun-temurun melalui sistem perkebunan tradisional yang menghasilkan berbagai komoditas unggulan. Penopang ekonomi tambahan ini meliputi tanaman rempah seperti cengkih dan pala, yang secara historis telah menempatkan wilayah ini sebagai titik penting perdagangan sejak era kolonial. Di samping itu, terdapat pula tanaman pangan seperti kelapa (kopra), berbagai jenis umbi-umbian seperti kasbi, serta buah-buahan tropis seperti durian dan kenari yang turut memperkuat ketahanan ekonomi warga.

Pelabuhan Haria memegang peranan krusial sebagai pintu masuk utama sekaligus urat nadi transportasi laut yang menghubungkan Pulau Saparua dengan pusat pemerintahan dan ekonomi di Kota Ambon. Melalui Pelabuhan Haria, berbagai jenis armada seperti kapal cepat (speedboat) dan kapal motor kayu beroperasi secara rutin untuk melayani mobilisasi penduduk maupun wisatawan. Keberadaan dermaga ini tidak hanya memfasilitasi pergerakan manusia, tetapi juga menjadi titik sentral bongkar muat barang kebutuhan pokok dan distribusi hasil bumi lokal, sehingga menjadikannya sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi paling sibuk di Kecamatan Saparua.
Selain fungsi logistiknya, sektor jasa di sekitar pelabuhan ini memberikan peluang mata pencaharian yang signifikan bagi warga setempat melalui penyediaan layanan transportasi antarpulau. Integrasi antara transportasi laut dan jasa pendukung di darat telah mendorong pertumbuhan sektor informal di kawasan pesisir Haria, mulai dari jasa angkutan hingga usaha mikro di sekitar terminal penumpang. Upaya pemeliharaan infrastruktur dermaga yang terus dilakukan oleh pemerintah bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa, sekaligus memperkuat konektivitas wilayah Maluku Tengah dalam menghadapi tantangan geografis kepulauan.

| Struktur Pemerintahan Negeri Haria | |||
|---|---|---|---|
| 1. | Raja | Negeri Haria diperintah oleh Raja yang berasal dari matarumah parentah Marga Manuhutu. | |
| 2. | Kapitan | Marga Hattu memegang jabatan sebagai Kapitang di dampingi Mallesy dari Marga Mahakena. | |
| 3. | Maueng | Tuan tanah yang berasal dari Marga Loupatty. | |
| Negeri Haria terdiri dari Enam Soa | |||
| No. | Nama Soa | Kepala Soa | Nama Adat Soa |
| 1. | Soa Titasomi | Manuhutu | (Liliipori) Uku Toru |
| 2. | Soa Tanarisa | Hattu | (Palesi) Uku Toru |
| 3. | Soa Louhatu | Souhoka | (Pawae) Uku Toru |
| 4. | Soa Lounusa | Latupeirisa | (Rosina) Ruhu Toru |
| 5. | Soa Peinimua | Sahuleka | (Soubiasa) Ruhu Toru |
| 6. | Soa Samalohy | Souissa | (sehati) Ruhu Toru |
| No. | Marga Asli Negeri Haria |
|---|---|
| 1. | Manuhutu |
| 2. | Latupeirisa |
| 3. | Loupatty |
| 4. | Hattu |
| 5. | Parinussa |
| 6. | Persulessy |
| 7. | Leihitu |
| 8. | Pauno |
| 9. | Mahakena |
| 10. | Pelamonia |
| 11. | Patileamonia |
| 12. | Komul |
| 13. | Sahuleka |
| 14. | Tamaela |
| 15. | Ruhulesin |
| 16. | Sarimole |
| 17. | Souhoka |
| 18. | Souisa |
| 19. | Kaya |
| 20. | Kainama |
| 21. | Picarima |
| 22. | Samalohy |
| 23. | Leuwol |
| 24. | Waelauru |
| No. | Marga yang berdomisili di Negeri Haria |
|---|---|
| 1. | Matulessy |
| 2. | Putuhena |
| 3. | Takaria |
| 4. | Sialana |
| 5. | Leimena |
| 6. | Tuhumuri |
| 7. | Selano |
| 8. | Resley |
| 9. | Lekransy |
| 10. | Mataheru |
| 11. | Malioy |
| 12. | Sapulette |
| 13. | Lainata |
| 14. | Sihasale |
| 15. | Pattinasarany |