Dirgayuza Setiawan saat ini menjabat sebagai Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia. Sejumlah amanah pernah diembannya antara lain Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan Usaha dan Pemasaran PT Angkasa Transportindo Selaras, Ketua Tim Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan, Wakil Direktur Utama PT Agro Industri Nasional, serta konsultan di McKinsey & Company
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Dirgayuza Setiawan | |
|---|---|
| Asisten Khusus Presiden Indonesia Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan | |
| Mulai menjabat 8 Oktober 2025 | |
| Presiden | Prabowo Subianto |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 15 Mei 1989 Jakarta Selatan, Jakarta |
| Suami/istri | Gendis |
| Almamater | Universitas Oxford (2015) |
Dirgayuza Setiawan (lahir 15 Mei 1989) saat ini menjabat sebagai Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia. Sejumlah amanah pernah diembannya antara lain Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan Usaha dan Pemasaran PT Angkasa Transportindo Selaras, Ketua Tim Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan, Wakil Direktur Utama PT Agro Industri Nasional, serta konsultan di McKinsey & Company[1]
Keluarga Dirga berlatar belakang militer dan olahraga. Ayahnya, Kapten CDM. Dr. Boyke Setiawan, adalah pelatih terjun payung militer. Sementara ibunya Jasmin Kartiasa Prawirabisma, merupakan atlet nasional terjun payung dengan lebih dari 3.000 kali lompatan dan lebih dari 100 medali di tingkat nasional dan Asia.
Dirgayuza mengeyam pendidikan S1 di Universitas Melbourne, Australia, dengan jurusan Ilmu Politik dan Media Komunikasi. Ia kemudian melanjutkan studi S2 di Universitas Oxford, Inggris, dengan jurusan Social Science of the Internet, melalui beasiswa dari Jardine Matheson.
Saat kuliah, Dirga aktif sebagai kontributor di ABC Radio Australia dan BBC Inggris, serta memproduksi serial film dokumenter Lingkar Ide PPIA yang menampilkan riset mahasiswa Indonesia di Australia. Ia juga sempat magang sebagai asisten pribadi Telmo Languiller, anggota DPRD Victoria dari Partai Buruh Australia.
Setelah lulus, Dirgayuza terlibat di berbagai kegiatan riset kebijakan publik di Australia dan Amerika Serikat. Selain itu, Dirga juga aktif mengajar di Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada dan berkontribusi di Institut Kajian Strategis Universitas.
Terdorong untuk mandiri secara finansial sejak muda, ia juga mulai rajin menulis buku saat SMA hingga sekarang telah hasilkan lebih dari 10 buku yang dijual di toko buku nasional.[2]
Dirgayuza menempuh kuliah S1 jurusan Ilmu Politik dan Media Komunikasi di Universitas Melbourne, Australia. Sebagai mahasiswa bidang media, ia sempat bekerja sebagai kontributor di ABC Radio Australia dan BBC Inggris.[3] Hobinya menulis naskah dan membuat film membuatnya melahirkan program film dokumenter yang meliput riset unggulan mahasiswa Indonesia di Australia Lingkar Ide PPIA.
Karena rata-rata nilainya masuk ke 10 besar nilai terbaik di jurusan Ilmu Politik kampusnya, ia mendapat kesempatan dari Universitas Melbourne jadi WNI pertama yang magang sebagai asisten pribadi Telmo Languiller MP, seorang anggota DPRD Negara Bagian Victoria dari Partai Buruh Australia atau Australian Labor Party.
Di DPRD Victoria, Dirga belajar langsung bagaimana sebuah negara maju membuat, mengusulkan dan mendebatkan kebijakan yang berdampak positif bagi kemakmuran warganya. Ia juga mengalami langsung bagaimana setelah perdebatan hangat di depan media dan di lantai parlemen, para anggota DPRD dari partai yang berbeda berteman baik di bar / resto parlemen.
Salah satu hal yang paling dibanggakan oleh Dirga dari pengalaman bekerja di DPRD Victoria adalah bagaimana riset kebijakan imigrasi yang dilakukan olehnya di 2011 mendapat pengakuan dari Menteri-Menteri Negara Australia dan Negara Bagian Victoria, dan berkontribusi pada pembentukan kebijakan Pemerintah Australia untuk beri visa bekerja selama 2 tahun setelah lulus untuk pelajar Indonesia dan negara lain.
Selain pengalaman jadi asisten pribadi anggota DPRD Victoria, pengalaman lain yang sangat berkesan bagi Dirga saat studi Ilmu Politik di Australia adalah saat mengambil summer semester bertajuk Searching for the American Dream di Amerika.
Di Amerika, Dirga melihat sendiri kemiskinan dan kesenjangan di kota Boston, kota New York dan kota Washington DC. Ia bekerja paruh waktu di food bank kota Boston yang mengumpulkan makanan masih layak dari swalayan dan membagikan makanan gratis bagi warga miskin. Ia juga berdiskusi dengan beberapa kelompok buruh seperti Teamsters dan merasakan belajar di Universitas Boston, Universitas New York dan American University di Washington.

Pertemuan pertama Dirga dengan Prabowo Subianto terjadi di Cendana tahun 1990. Saat itu ia yang baru berusia 1 tahun dibawa saat kedua orang tuanya bersilaturahmi lebaran dengan Komandan Group 3 Kopassus. Ayah dari Dirga memang sangat akrab dengan Prabowo, karena Dr. Boyke adalah dokter militer pribadi Prabowo sejak 1979.
Dirga secara pribadi mulai akrab dengan Prabowo sejak 2005 setelah Prabowo mengajaknya untuk berlatih polo bersama. Setelah menamatkan SMA di tahun 2007, Dirga pun memilih bekerja untuk Prabowo di Thailand mengurus kuda-kuda polo yang digunakan untuk Sea Games 2007 di Bangkok dan Pattaya.
Setelah kembali ke Tanah Air dari kuliah S1 di Australia, Dirga mendapatkan kepercayaan membantu giat keseharian Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Khususnya, Dirga membantu Prabowo sebagai asisten sorot (asrot) yang menyiapkan dan menampilkan data-data pendukung argumentasi politik yang disampaikan olehnya.
Selama menjadi asisten pak Prabowo, Dirga terlibat aktif dalam persiapan dan pelaksanaan kampanye-kampanye kunci bagi Partai Gerindra seperti Pilkada DKI Jakarta 2012 dengan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama, Pilkada Kota Bandung 2013 dengan Ridwan Kamil, dan Pemilu 2014 dimana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa.
Dirgayuza juga turut membantu Dewan Pakar Partai Gerindra menyiapkan 6 Program Aksi yang diluncurkan ke publik tahun 2013. Beberapa kebijakan Program Aksi yang sekarang sudah dijalankan oleh negara diantaranya adalah alokasi Dana Desa di APBN yang langsung dikirimkan ke desa, pendirian Badan Pangan Nasional sebagai amanat UU Pangan, dan hilirisasi produk sumber daya alam untuk meningkatkan industrialisasi dan nilai tambah SDA bagi negara.
Di 2014, setelah 2 tahun mengikuti keseharian pak Prabowo, Dirgayuza menulis buku pertamanya di luar topik teknologi yaitu.[4] Di buku ini, Dirgayuza mengulas nilai-nilai yang dipercayai, ditekuni dan selalu diajarkan oleh pak Prabowo sehari-hari.

Terdorong untuk menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi agar bisa berkontribusi lebih bagi bangsa, pada tahun 2015 Dirga memilih melanjutkan kuliah S2 jurusan Social Science of the Internet di universitas nomor satu dunia: Universitas Oxford. Gagal mendapatkan beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Dirga malah mendapat tawaran beasiswa dari Jardine Matheson.
Di Oxford, Dirga belajar bagaimana kemajuan teknologi terutama big data dan kecerdasan buatan bisa digunakan untuk menyusun kebijakan publik yang tepat.
Pulang dari Oxford, Dirgayuza membantu Prabowo menuliskan gagasan bagaimana Pemerintah Indonesia bisa mendapatkan pendapatan negara yang cukup untuk biayai berbagai terobosan kebijakan publik dalam buku Paradoks Indonesia. Buku ini menurutnya sangat penting karena Pemerintah tidak akan mampu merealisasikan berbagai ide kebijakan publik jika anggaran negara tidak cukup.
Di awal 2017, kecintaan Dirga untuk terus mempelajari berbagai topik yang berdampak pada masyarakat luas mendorongnya untuk bergabung dengan perusahaan konsultasi manajemen nomor satu dunia McKinsey & Company.
Hampir empat tahun di McKinsey, Dirgayuza berkesempatan bekerja di India, Indonesia, Thailand, Filipina, Singapura, Amerika, Jepang, Italia dan Sri Lanka. Di McKinsey ia juga berkesempatan mengerjakan berbagai inisiatif yang memiliki dampak sangat luas bagi keseharian rakyat Indonesia.
Di Pemilu 2019, Dirgayuza mundur sejenak dari McKinsey untuk membantu Prabowo dan Sandiaga Uno sebagai sekretaris Tim Materi dan Debat pimpinan Sudirman Said. Ia mengorganisasi masukan dari ratusan narasumber, menyiapkan catatan untuk Debat Presiden dan Debat Wakil Presiden, membantu persiapan tampil di Debat Presiden dan Debat Wakil Presiden, serta menyiapkan pidato-pidato kunci calon Presiden dan calon Wakil Presiden.
Di awal 2020, Dirgayuza mendapat tugas membantu Menteri Pertahanan Prabowo Subianto merencanakan dan menyiapkan berbagai inisiatif Menteri Pertahanan terutama di bidang ketahanan pangan.
Di pertengahan 2021, ia mendapat tugas membantu perencanaan berbagai inisiatif Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono diantaranya kebijakan Penangkapan Ikan Terukur yang merupakan implementasi dari Pasal 33 UUD 1945 untuk sumber daya ikan di laut, budidaya berorientasi ekspor, budidaya berbasis kawasan dan pembiayaan industri kelautan dan perikanan.
Rekam jejak kerjanya sebagai konsultan di McKinsey & Company terutama dalam membantu transformasi berbagai BUMN membuatnya mendapat tugas dari Menteri BUMN Erick Thohir dan Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury di Februari 2023 sebagai Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha Holding BUMN Pangan ID Food.
Sebagai Holding BUMN Pangan, ID FOOD memiliki 16 anak perusahaan diantaranya PT. Perikanan Indonesia (Perindo) yang bergerak di perikanan tangkap dan pengelolaan pelabuhan perikanan, PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang sebelum kemerdekaan adalah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), PT. Berdikari yang sejarahnya didirikan oleh Negara dengan modal aset milik penyumbang emas Monas, PT. Garam yang memiliki empat salt estate di Madura, PT. Sang Hyang Seri yang mengelola sentra benih Sukamandi dan perusahaan-perusahaan gula pengelola 6 pabrik gula di Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur seperti Pabrik Gula Rajawali I.
Di ID FOOD, Dirgayuza bertugas membantu Direktur Utama Frans Marganda Tambunan menyusun rencana jangka panjang perusahaan, mengawasi kinerja anak perusahaan, dan pengembangan usaha induk serta anak perusahaan.

Dirgayuza mendapatkan dorongan untuk menulis buku yang berisi 100 ide segar kebijakan publik yang implementatif dan penting untuk Presiden RI dan anggota DPR RI serta DPRD setelah membaca laporan khusus harian KOMPAS berjudul Dinamika pencapresan yang masih sepi dari adu gagasan tanggal 19 Juni 2023.
Berbekal pengalaman kerjanya dan interaksi intensif dengan dua aplikasi kecerdasan buatan: ChatGPT dari Open AI dan Bard dari Google, Dirga menyusun dan menulis buku 100 Ide untuk Presiden & DPR Baru dalam di hari libur dari pekerjaan sehari-harinya. Buku ini diterbitkan dalam bentuk PDF dan bisa diunduh gratis.

Dirgayuza mendirikan Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia (YPKBI) bersama Miftah Sabri. Melalui yayasan ini lahirlah Akademi Kader Bangsa (AKB) dan Akademi Guru Kader Bangsa (AGKB), inisiatif pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan anak-anak berbakat sekaligus menyiapkan guru berkualitas global.
YPKBI berperan sebagai enabler ekosistem pendidikan unggul berbasis boarding school dan kurikulum internasional (International Baccalaureate).[5] Di bawah kepemimpinannya, YPKBI menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai lembaga nasional dan internasional, untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki akses pada pendidikan terbaik yang relevan dengan tuntutan zaman.[6][7][8][9][10][11]

Pada 8 Oktober 2025, Dirgayuza dilantik sebagai Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, berdasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33/M Tahun 2025 tentang Pengangkatan Asisten Khusus Presiden. Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, tugas utamanya adalah membantu Presiden dalam menelaah data kebijakan, menyiapkan dokumen penting, serta menyusun naskah pidato yang mencerminkan arah visi dan misi pemerintahan. [12]
Sebagai penulis buku
Sebagai editor buku-buku Prabowo Subianto