Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu adalah konsep filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:Somba marhulahula Elek marboru Manat mardongan tubu

konsep filosofis atau wawasan sosial-kultural yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak
Diperbarui 5 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dalihan Na Tolu
Untuk kegunaan lain, lihat Dalihan Natolu (disambiguasi).
Salah satu prosesi pernikahan adat Batak. Dalam Dalihan Na Tolu, pihak keluarga suami harus menghormati pihak keluarga istri (somba marhula-hula). Selain itu, seorang suami dituntut mampu mengayomi istri (elek marboru)

Dalihan Na Tolu (Surat Batak: ᯑᯞᯪᯂᯉ᯲ ᯉ ᯖᯬᯞᯮ; terjemahan: "tungku yang tiga") adalah konsep filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak.[1] Dalihan Na Tolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok.[2] Dalam adat batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama. Ketiga tungku tersebut adalah:

  1. Somba marhulahula (sikap sembah/hormat kepada keluarga pihak pemberi istri/ibu)[3]
  2. Elek marboru (sikap membujuk/mengayomi anak perempuan dan pihak yang menerima anak perempuan)[3]
  3. Manat mardongan tubu (sikap berhati-hati kepada teman semarga)[3]

Latar belakang

Dalihan Na Tolu memiliki arti "tungku yang berkaki tiga", bukan berkaki empat atau lima.[3] Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat.[3] Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi.

Inilah yang dipilih leluhur suku Batak sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.

Penjelasan

Dalihan Na Tolu menjadi kerangka hubungan tripartit yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok.[2] Dalam adat Batak, Dalihan Na Tolu ditentukan dengan adanya tiga kedudukan fungsional sebagai suatu konstruksi sosial yang terdiri dari tiga hal yang menjadi dasar bersama, ketiga hal tersebut ialah sebagai berikut.

  1. Somba marhulahula Ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang tekananya pada som berarti menyembah, akan tetapi kata Somba di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula.[1] Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu(istri bapak), kelompok marga istri ompung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu.[3] Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.[3]
  2. Elek marboru Ini berarti rasa sayang yang tidak disertai maksud tersembunyi dan pamrih.[4] Boru adalah anak perempuan kita, atau kelompok marga yang mengambil istri dari anak kita (anak perempuan kita). Sikap lemah lembut terhadap boru perlu, karena dulu borulah yang dapat diharapkan membantu mengerjakan sawah di ladang.[3] Tanpa boru, mengadakan pesta suatu hal yang tidak mungkin dilakukan.
  3. Manat mardongan tubu/sabutuha Ini berarti suatu sikap berhati-hati terhadap sesama marga untuk mencegah salah paham dalam pelaksanaan acara adat. Hati–hati dengan teman semarga. Orang tua-tua berkata, “hau na jonok do na boi marsiogoson,” yang berarti kayu yang dekatlah yang dapat bergesekan. Ini menggambarkan bahwa begitu dekat dan seringnya hubungan terjadi, hingga dimungkinkan terjadi konflik, konflik kepentingan, kedudukan, dan lain-lain.[3]

Inti ajaran Dalihan Na Tolu adalah kaidah moral berisi ajaran saling menghormati (masipasangapon) dengan dukungan kaidah moral: saling menghargai dan menolong.[1] Dalihan Na Tolu menjadi media yang memuat asas hukum yang objektif.

Lembaga adat

Pada daerah Tapanuli, terdapat Perda No. 10 tahun 1990 tentang Lembaga Adat Dalihan Na Tolu, yaitu suatu lembaga adat yang dibentuk Pemda Tingkat II, sebagai lembaga musyawarah yang mengikutsertakan para penatua adat yang benar-benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat di lingkungannya. (Pasal 5 dan 8).[1]

Lembaga ini memiliki tugas untuk melaksanakan berbagai usaha/kegiatan dalam rangka menggali, memelihara, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah termasuk di dalamnya adat-istiadat dan kesenian untuk tujuan pembangunan dan sifatnya konsultatif terhadap pemerintah. (Pasal 6).[5] Lembaga Dalihan Na Tolu adalah lembaga permusyawaratan/pemufakatan adat Batak yang dibentuk berdasarkan peranan adat istiadat, kebudayaan, kesenian daerah, gotong royong dan kekeluargaan (Pasal 1h). Lembaga ini berkedudukan di desa, kelurahan, kecamatan, dan kabupaten (Pasal 5 dan 7).[5]

Keanggotaan dan kepengurusan Lembaga Adat Dalihan Na Tolu adalah para Penatua Adat yang benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat.[butuh rujukan] Selain itu, jelas bahwa anggota dan pengurus harus setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 .Jan. S Aritonang, dkk, Beberapa Pemikiran Menuju Dalihan Natolu, (Jakarta:Dian Utama, 2006).
  2. 1 2 .J.C Vergouwen,Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba,(Yogyakarta: Lkis, 2004).
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 .J. P. Sitanggang, Raja Napogos, Jakarta: Penerbit Jala Permata Aksara, 2010.
  4. ↑ .Batara Sangti,Sejarah Batak,(Balige: Karl Sianipar Company, 1977).
  5. 1 2 3 .H.P. Panggabean,Pembinaan Nilai Adat Budaya Batak Dalihan Natolu,(Jakarta: Dian Utama, 2007).
  • l
  • b
  • s
Batak Toba
Pembagian
  • Humbang
  • Samosir
  • Silindung
  • Toba
Tari Tortor
Sistem kekerabatan
  • Marga
    • Humbang
      • daftar
    • Samosir
      • daftar
    • Silindung
      • daftar
    • Toba
      • daftar
  • Partuturan
  • Tarombo Batak
Bahasa dan
kesusastraan
  • Surat Batak
  • Bahasa Batak Toba
  • Umpasa
  • Umpama
  • Turiturian
Kuliner
  • Arsik
  • Dali ni horbo
  • Dengke naniura
  • Itak gurgur
  • Hasang sihobuk
  • Benti
  • Lampet
  • Ombusombus
  • Pohulpohul
  • Manuk napinadar
  • Mi gomak
  • Na nidugu
  • Na tinombur
  • Saksang
  • Sambal tuktuk
  • Sasagun
  • Tanggotanggo
  • Tipatipa
Falsafah
Dalihan Natolu
Upacara adat
  • Mangalua
  • Mangongkal holi
  • Manulangi Natuatua
  • Manulangi Ompung
  • Manulangi Pahompu
  • Manulangi Tulang
  • Martumpol
  • Perkawinan
  • Tonggo Raja
Seni budaya dan
kerajinan
  • Abalabal
  • Gondang Batak
  • Monsak
  • Pustaha
  • Tortor Batak
  • Ulos
  • Tunggal panaluan
Alat musik
tradisional
  • Garantung
  • Gordang
  • Hasapi
  • Hesek
  • Jenggong
  • Mengmung
  • Odap
  • Ogung
  • Sagasaga
  • Sarune
  • Sordam
  • Sulim
  • Taganing
  • Talatoit
  • Tanggetang
Kepercayaan dan
agama
  • Parbaringin
  • Parhudamdam Siraja Batak
  • Parmalim
  • Kekristenan
    • Alkitab
    • Gereja Suku Batak Toba
    • Misi Katolik di Tanah Batak
    • Zending Protestan di Tanah Batak
Mitologi
  • Banua Ginjang
  • Banua Tonga
  • Banua Toru
  • Boraspati Nitano
  • Boru Saniang Naga
  • Debata Idup
  • Djambu Baros
  • Ilik
  • Mangala Bulan
  • Manuk Patiaraja
  • Mulajadi Nabolon
  • Naga Padoha
  • Pane Nabolon
  • Soripada
  • Tapi Donda
Kekayaan budaya
  • Pusuk Buhit
  • Sopo Guru Tatea Bulan
  • Salib Kasih, Siatas Barita
  • Kampung Ulos Huta Raja
  • Huta Siallagan
  • Museum Batak
    • Balige
    • Tomok
Kategori
  • l
  • b
  • s
Filsafat Indonesia
Jawa & Sansekerta
  • Astabrata
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Empan papan
  • Ing ngarsa sung tuladha
  • Jer basuki mawa béya
  • Gotong royong
  • Manunggaling kawula gusti
  • Memayu hayuning bawana
  • Mikul dhuwur, mendhem jero
  • Ngalah, ngalih, ngamuk
  • Ngunduh wohing pakarti
  • Nrima ing pandum
  • Ojo dumeh
  • Pancasila
  • Rawe-rawe rantas
  • Samadya
  • Sawang sinawang
  • Sura dira jayaningrat
Sunda
  • Cageur, bageur, bener, pinter, singer
  • Nyaah ka indung
  • Silih asah, silih asih, silih asuh
  • Someah hade ka semah
Bali
  • Tri hita karana
  • Tri kaya parisudha
Minangkabau
  • Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah
  • Anak dipangku, kamanakan dibimbiang
  • Hidup segan mati tak mau
  • Telunjuk lurus kelingking berkait
Batak
  • Anakkon hi do hamoraon di au
  • Dalihan na tolu
  • Hamoraon, hagabeon, hasangapon
  • Marsialapari
  • Ugamo Malim
Bugis - Makassar
  • Siri’ na pacce
  • Lempu' na getteng
Banjar
  • Waja sampai kaputing
Madura
  • Lebbi bagus pote tollang
Minahasa
  • Mapalus
Melayu
  • Budi dan bahasa
  • Lempar batu sembunyi tangan
  • Malu itu adalah iman
  • Udang di balik batu
Dayak
  • Belom Bahadat
  • Handep
  • Huma betang
  • Tiwah
Sasak
  • Tarekat Wetu Telu
Lainnya
  • Salam Lintas Agama
  • Hukum kekekalan penderitaan
Lihat pula: Daftar Filsuf Indonesia & Kearifan lokal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Penjelasan
  3. Lembaga adat
  4. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026