Phra Bat Somdet Phra Poramintharamaha Chulalongkorn Phra Chunla Chom Klao Chao Yu Hua, Phra Chulachomklao Chaoyuhua atau juga disebut Rama V adalah raja ke-5 dinasti Chakri. Ia dianggap sebagai salah satu raja terbesar Siam. Pada kekuasaannya terjadi modernisasi Siam dan reformasi sosial. Karena Siam terancam akan ekspansi Barat, Chulalongkorn, melalui kebijakannya, berhasil menyelamatkan Siam dari kolonisasi. Semua reformasinya dilakukan untuk keselamatan Siam di tengah kolonialisme Barat, sehingga Chulalongkorn memperoleh julukan Phra Piya Maharaj (พระปิยมหาราช), yang artinya 'Raja Agung Tercinta'.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Chulalongkorn จุฬาลงกรณ์ | |
|---|---|
| Raja Rama V | |
| Raja Siam | |
| Berkuasa | 1 Oktober 1868 – 23 Oktober 1910 |
| Penobatan | 11 November 1868 (pertama) 16 November 1873 (ke-2) |
| Pendahulu | Rama IV |
| Penerus | Rama VI |
| Wali | Si Suriyawongse (1868–1873) Saovabha Bongsri (1897) Vajiravudh (1907) |
| Raja Muda | Bovorn Vichaichan (1868–1885) |
| Kelahiran | (1853-09-20)20 September 1853 |
| Kematian | 23 Oktober 1910(1910-10-23) (umur 57) |
| Pasangan | Sunandha Kumariratana Sukhumala Marasri Savang Vadhana Saovabha Bongsri dan 92 permaisuri dan selir lainnya |
| Keturunan | 33 anak laki-laki dan 44 anak perempuan, di antaranya: Pangeran Vajirunhis Raja Vajiravudh (Rama VI) Pangeran Mahidol Adulyadej Raja Prajadhipok (Rama VII) |
| Wangsa | Dinasti Chakri |
| Ayah | Rama IV |
| Ibu | Debsirindra |
| Agama | Buddhisme Theravada |
| Tanda tangan | |
| Chulalongkorn | |
|---|---|
| Cap pribadi | |
| Nama Thai | |
| Thai: | พระบาทสมเด็จพระปรมินทรมหาจุฬาลงกรณ์ พระจุลจอมเกล้าเจ้าอยู่หัวcode: th is deprecated |
| Romanisasi: | Phra Bat Somdet Phra Poramin Maha Chulalongkorn Phra Chunla Chom Klao Chao Yu Huacode: th is deprecated |
Phra Bat Somdet Phra Poramintharamaha Chulalongkorn Phra Chunla Chom Klao Chao Yu Hua, Phra Chulachomklao Chaoyuhua atau juga disebut Rama V (20 September 1853 – 23 Oktober 1910) adalah raja ke-5 dinasti Chakri . Ia dianggap sebagai salah satu raja terbesar Siam. Pada kekuasaannya terjadi modernisasi Siam dan reformasi sosial. Karena Siam terancam akan ekspansi Barat, Chulalongkorn, melalui kebijakannya, berhasil menyelamatkan Siam dari kolonisasi. Semua reformasinya dilakukan untuk keselamatan Siam di tengah kolonialisme Barat, sehingga Chulalongkorn memperoleh julukan Phra Piya Maharaj (พระปิยมหาราช), yang artinya 'Raja Agung Tercinta'.
Raja Chulalongkorn merupakan putra dari Raja Mongkut, raja keempat Siam modern. Pada tahun 1868, saat masih bergelar pangeran, ia melakukan perjalanan bersama ayahnya dan orang-orang Barat yang diundang oleh Raja Mongkut untuk bersama-sama mengamati gerhana matahari pada tanggal 18 Agustus 1868 yang bertempat di Provinsi Prachuap Khiri Khan. Selama perjalanan itu, Chulalongkorn dan ayahnya terserang penyakit malaria yang menyebabkan ayahnya wafat, sehingga membuka jalan untuknya agar naik tahta.
Chulalongkorn lahir pada 20 September 1853 dari pasangan Raja Mongkut dan Ratu Debsirindra. Sepanjang hidupnya, Mongkut memiliki 39 istri dan selir yang memberinya 82 anak. Chulalongkorn bukanlah anak pertama maupun putra pertama Mongkut, namun ia ditetapkan sebagai ahli waris karena merupakan putra pertama yang lahir dari Ratu Debsirindra.[1] Selama masa pemerintahan Mongkut, Siam berada di bawah tekanan ambisi kolonial Eropa yang semakin meningkat, khususnya dari Inggris di Burma dan Malaya, serta Prancis di Indochina. Tekanan-tekanan ini membahayakan kemerdekaan Siam. Meskipun Mongkut mengupayakan reformasi, ia menyadari bahwa sebagian besar tugas tersebut akan dilaksanakan oleh penerusnya. Oleh karena itu, ia mulai mempersiapkan Chulalongkorn untuk menjadi raja yang inovatif.[1]

Sejak usia 7 tahun, pangeran mulai belajar di bawah bimbingan dosen kerajaan yang memberinya pendidikan tradisional. Dalam sistem ini, Chulalongkorn diajarkan Buddhisme, Pali, sejarah kronik, praktik kerajaan, ritual, penulisan Siam, komando militer, dan anggar.[1] Pada tahun 1866, ia menjadi biksu pemula selama enam bulan di Wat Bawonniwet sesuai dengan tradisi kerajaan.[2] Selain itu, ia juga dididik oleh guru-guru Barat yang mengajarinya sains, Bahasa Inggris, dan Bahasa Prancis.[1] Di antara tutor Barat tersebut adalah Anna Leonowens, yang mengajar pangeran dan beberapa saudaranya antara tahun 1862 hingga 1867. Chulalongkorn menjalin persahabatan dengan putra Anna, Louis, yang terus berlanjut hingga mereka dewasa.[3] Mongkut sendiri juga berperan langsung dalam pendidikan Chulalongkorn. Sejak usia 7 tahun, Mongkut selalu melibatkan putranya dalam urusan harian Siam agar Chulalongkorn memahami cara memerintah. Melalui proses ini, Mongkut menurunkan visi reformasinya.[1]
Pada tahun 1868, Chulalongkorn mendampingi ayahnya dalam ekspedisi ke Wa Ko, selatan Distrik Hua Hin, untuk mengamati dan memvalidasi prediksi Mongkut mengenai Gerhana matahari 18 Agustus 1868. Prediksi Mongkut terbukti benar, bahkan lebih akurat dibandingkan beberapa astronom Prancis. Namun, ia dan putranya jatuh sakit karena malaria. Di Bangkok, Mongkut meninggal pada 1 Oktober 1868. Ia belum menunjuk pengganti secara resmi, sehingga pilihan diserahkan kepada dewan yang akhirnya memilih Chulalongkorn. Dewan penobatan tersebut dipimpin oleh Sri Suriyawongse (Chuang Bunnag) dari Keluarga Bunnag, dan terdiri dari Sangharaja, para uskup, pangeran, dan bangsawan. Atas nominasi Pangeran Deves, Chulalongkorn terpilih secara mutlak. Namun, karena usianya baru 15 tahun, Chuang menjabat sebagai wali raja (regent) hingga Chulalongkorn berusia 20 tahun. Selain itu, Wichaichan terpilih sebagai wakil raja (viceroy) – pilihan yang biasanya dibuat oleh raja sendiri. Bagi Chuang, Wichaichan bisa menjadi sekutu jika Chulalongkorn suatu saat menentangnya.[4]
Chulalongkorn muda adalah seorang reformis yang antusias. Ia mengunjungi Singapura dan Jawa pada tahun 1870, serta India Britania pada tahun 1872 untuk mempelajari administrasi koloni Inggris. Ia melakukan perjalanan ke pusat-pusat administrasi di Kalkuta, Delhi, Bombay, dan kembali ke Kalkuta pada awal tahun 1872. Perjalanan ini menjadi sumber ide-idenya di kemudian hari untuk modernisasi Siam. Ia dimahkotai sebagai raja dengan hak penuh sebagai Rama V pada 16 November 1873.[5]
Sri Suriwongse kemudian mengatur agar Istana Depan milik Raja Pinklao (pamannya) diwariskan kepada putra Raja Pinklao, Pangeran Yodyingyot (sepupu Chulalongkorn).
Sebagai wali raja, Sri Suriwongse memiliki pengaruh yang sangat besar. Ia melanjutkan upaya-upaya Raja Mongkut dan mengawasi penggalian beberapa khlong (kanal) penting, seperti Padung Krungkasem dan Damneun Saduak, serta pengaspalan jalan-jalan seperti Charoen Krung dan Silom. Ia juga merupakan pelindung sastra dan seni pertunjukan Thailand.
| Raja Dinasti Chakri | |
|---|---|
| Phutthayotfa Chulalok (Rama I) | |
| Phutthaloetla Naphalai (Rama II) | |
| Nangklao (Rama III) | |
| Mongkut (Rama IV) | |
| Chulalongkorn (Rama V) | |
| Vajiravudh (Rama VI) | |
| Prajadhipok (Rama VII) | |
| Ananda Mahidol (Rama VIII) | |
| Bhumibol Adulyadej (Rama IX) | |
| Vajiralongkorn (Rama X) | |

Di akhir masa perwaliannya, Sri Suriwongse dianugerahi gelar Somdet Chao Phraya, gelar tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang bangsawan. Si Suriyawongse adalah bangsawan paling berpengaruh di abad ke-19. Keluarganya, Wangsa Bunnag, merupakan dinasti bangsawan kuat keturunan Persia yang mendominasi politik Siam sejak masa pemerintahan Rama I.[6] Chulalongkorn kemudian menikahi empat saudara tirinya, yang semuanya adalah putri Mongkut: Savang Vadhana, Saovabha Phongsri, dan Sunanda Kumariratana (anak Mongkut dengan Selir Piam), serta Sukhumala Marasri (anak Mongkut dengan Selir Samli).[butuh rujukan]
Reformasi pertama Chulalongkorn adalah mendirikan "Kantor Audit" (Th: หอรัษฎากรพิพัฒน์) pada 4 Juni 1873,[7] yang bertanggung jawab penuh atas pengumpulan pajak. Langkah ini dilakukan untuk melawan pengaruh Keluarga Bunnag yang telah mengendalikan pengumpulan kekayaan sejak awal Kerajaan Rattanakosin.[8] Karena pengumpul pajak sebelumnya berada di bawah perlindungan berbagai bangsawan dan menjadi sumber kekayaan mereka, reformasi ini menyebabkan kegemparan besar di kalangan bangsawan, terutama di Istana Depan. Chulalongkorn menunjuk Chaturonrasmi sebagai eksekutif organisasi tersebut, yang ia awasi secara ketat.[9] Sejak masa Raja Mongkut, Istana Depan telah menjadi setara dengan "raja kedua", dengan sepertiga pendapatan nasional dialokasikan ke sana. Pangeran Yodyingyot dari Istana Depan dikenal menjalin hubungan baik dengan banyak orang Inggris, pada saat hubungan Siam dengan Kekaisaran Britania sedang tegang.[butuh rujukan]
Pada tahun 1874, Chulalongkorn membentuk Dewan Negara sebagai badan legislatif dan dewan penasihat pribadi sebagai dewan penasihatnya, berdasarkan model privy council Inggris. Anggota dewan tersebut ditunjuk langsung oleh raja.

Pada malam tanggal 28 Desember 1874, kebakaran terjadi di dekat gudang mesiu dan pabrik gas di istana utama. Pasukan Istana Depan segera tiba dengan senjata lengkap "untuk membantu memadamkan api". Namun, mereka dilarang masuk dan api akhirnya berhasil dipadamkan.[10]: 193 Insiden ini menunjukkan besarnya kekuasaan yang dipegang oleh kaum aristokrat dan kerabat kerajaan, yang membuat raja memiliki sedikit otoritas. Mengurangi kekuasaan yang dipegang oleh kaum bangsawan pun menjadi salah satu motif utamanya dalam mereformasi politik feodal Siam.
Ketika Pangeran Yodyingyot wafat pada tahun 1885, Chulalongkorn mengambil kesempatan untuk menghapuskan jabatan Istana Depan dan menciptakan gelar "Putra Mahkota Siam" sesuai dengan adat Barat. Putra Chulalongkorn, Pangeran Vajirunhis, diangkat sebagai Putra Mahkota Siam yang pertama, meskipun ia tidak pernah sempat memerintah. Pada tahun 1895, ketika pangeran tersebut meninggal karena tifus pada usia 16 tahun, ia digantikan oleh saudara tirinya Vajiravudh, yang saat itu sedang bersekolah di sekolah asrama di Inggris.

Di wilayah Laos utara yang berbatasan dengan Tiongkok, para pemberontak dari Pemberontakan Taiping telah mengungsi sejak masa pemerintahan Raja Mongkut. Orang-orang Tiongkok ini disebut Haw dan menjadi bandit yang menjarah desa-desa. Pada tahun 1875, Chulalongkorn mengirim pasukan dari Bangkok untuk menumpas kaum Haw yang telah melakukan perusakan hingga ke Vientiane. Namun, mereka menghadapi perlawanan kuat dari Tiongkok dan mundur ke Isan pada tahun 1885. Pasukan baru yang dimodernisasi dikirim kembali dan dibagi menjadi dua kelompok yang mendekati Haw dari Chiang Kam dan Pichai. Kaum Haw tercerai-berai dan beberapa melarikan diri ke Vietnam. Pasukan Siam kemudian bergerak untuk membasmi sisa-sisa Haw. Kota Nong Khai hingga kini masih memelihara tugu peringatan bagi tentara Siam yang gugur.
Di Burma, ketika Angkatan Darat Inggris berperang melawan Dinasti Konbaung Burma, Siam tetap bersikap netral. Inggris memiliki perjanjian dengan pemerintah Siam yang menyatakan bahwa jika Inggris berkonflik dengan Burma, Siam akan mengirimkan pasokan makanan untuk Angkatan Darat Inggris. Chulalongkorn menghormati perjanjian tersebut. Inggris berharap ia akan mengirimkan pasukan untuk membantu mengalahkan Burma, namun ia tidak melakukannya.
Setelah terbebas dari masalah Istana Depan dan pemberontakan Tiongkok, Chulalongkorn memulai reformasi modernisasi dan sentralisasi.[11] Ia mendirikan Akademi Militer Kerajaan Chulachomklao pada tahun 1887 untuk melatih perwira dengan gaya Barat. Pasukannya yang telah ditingkatkan kekuatannya memberi raja kekuasaan yang jauh lebih besar untuk menyatukan negara di bawah kendali pusat.
Pemerintahan Siam sebagian besar tidak berubah sejak abad ke-15. Pemerintah pusat dipimpin oleh Samuha Nayok (yaitu perdana menteri) yang mengendalikan wilayah utara Siam, dan Samuha Kalahom (yaitu komandan agung) yang mengendalikan wilayah selatan Siam baik dalam urusan sipil maupun militer. Samuha Nayok memimpin Chatu Sadombh (yaitu Empat Pilar). Tanggung jawab setiap pilar saling tumpang tindih dan tidak jelas. Pada tahun 1888, Chulalongkorn bergerak untuk melembagakan pemerintahan kementerian. Para menteri, pada awalnya, adalah anggota keluarga kerajaan. Kementerian-kementerian resmi dibentuk pada tahun 1892, dengan semua kementerian memiliki status yang setara.
Dewan Negara terbukti tidak mampu memveto rancangan undang-undang atau memberikan saran kepada Chulalongkorn karena para anggotanya menganggap Chulalongkorn sebagai raja absolut yang kedudukannya jauh di atas mereka. Chulalongkorn akhirnya membubarkan dewan tersebut sepenuhnya dan menyerahkan tugas-tugas penasihat kepada kabinet pada tahun 1894.
Chulalongkorn menghapuskan metode penyiksaan tradisional Nakorn Bala dalam proses peradilan, yang dianggap tidak manusiawi dan biadab di mata Barat, serta memperkenalkan kode peradilan Barat. Penasihatnya yang berasal dari Belgia, Gustave Rolin-Jaequemyns, memainkan peran besar dalam pengembangan hukum Siam modern dan sistem peradilannya.

Chulalongkorn adalah raja Siam pertama yang mengirim pangeran-pangeran kerajaan ke Eropa untuk menempuh pendidikan. Di Eropa abad ke-19, nasionalisme sedang berkembang pesat dan muncul tuntutan untuk kebebasan yang lebih besar. Para pangeran tersebut terpengaruh oleh gagasan liberal tentang demokrasi dan pemilihan umum yang mereka temui di negara republik seperti Prancis dan monarki konstitusional seperti Britania Raya.[butuh rujukan]
Pada tahun 1884 (tahun 103 Era Rattanakosin), para pejabat Siam di Eropa memperingatkan Chulalongkorn tentang kemungkinan ancaman terhadap kemerdekaan Siam dari kekuatan Eropa. Mereka menyarankan agar Siam melakukan reformasi seperti Jepang era Meiji dan agar Siam menjadi monarki konstitusional. Chulalongkorn berkeberatan, menyatakan bahwa waktunya belum matang dan bahwa ia sendiri sedang melakukan reformasi secara bertahap.
Sepanjang masa pemerintahan Chulalongkorn, para penulis dengan ide-ide radikal mempublikasikan karya-karya mereka untuk pertama kalinya. Yang paling menonjol termasuk Thianwan Wannapho, yang pernah dipenjara selama 17 tahun dan dari dalam penjara menghasilkan banyak karya yang mengkritik masyarakat tradisional Siam.


Pada tahun 1863, Raja Norodom dari Kamboja terpaksa menempatkan negaranya di bawah perlindungan Prancis. Penyerahan Kamboja secara resmi dirumuskan pada tahun 1867. Namun, Kamboja Dalam (sebagaimana disebut di Siam) yang terdiri dari Battambang, Siem Reap, dan Srisopon, tetap menjadi milik Siam. Ini adalah yang pertama dari banyak penyerahan wilayah di masa depan.
Pada tahun 1887, Indochina Prancis dibentuk dari wilayah Vietnam dan Kamboja. Pada tahun 1888, pasukan Prancis menyerbu Laos utara untuk menundukkan pemberontak Heo. Namun, pasukan Prancis tidak pernah pergi, dan Prancis menuntut lebih banyak wilayah Laos. Pada tahun 1893 Auguste Pavie, wakil konsul Prancis di Luang Prabang, meminta penyerahan seluruh wilayah Laos di sebelah timur Sungai Mekong. Siam menolak tuntutan tersebut, yang memicu Krisis Franco-Siamese 1893.
Kapal meriam Prancis Le Lutin memasuki Chao Phraya dan berlabuh di dekat konsulat Prancis dalam posisi siap menyerang. Pertempuran terpantau terjadi di Laos. Kapal Inconstant dan Comete diserang di Chao Phraya, dan Prancis mengirimkan ultimatum: ganti rugi sebesar tiga juta franc, serta penyerahan dan penarikan diri dari Laos. Siam tidak menerima ultimatum tersebut. Pasukan Prancis kemudian memblokade Teluk Siam serta menduduki Chantaburi dan Trat. Chulalongkorn mengirim Rolin-Jacquemyns untuk bernegosiasi. Masalah ini akhirnya diselesaikan dengan penyerahan Laos pada tahun 1893, tetapi pasukan Prancis di Chantaburi dan Trat menolak untuk pergi.
Penyerahan wilayah Laos yang luas berdampak besar pada semangat Chulalongkorn. Pangeran Vajirunhis wafat pada Januari 1895. Pangeran Vajiravudh diangkat menjadi putra mahkota untuk menggantikannya. Chulalongkorn menyadari pentingnya mempertahankan angkatan laut dan mendirikan Akademi Angkatan Laut Kerajaan Thailand pada tahun 1898.
Meskipun Siam telah memberikan konsesi, tentara Prancis melanjutkan pendudukan Chantaburi dan Trat selama 10 tahun berikutnya. Sebuah kesepakatan dicapai pada tahun 1904 bahwa pasukan Prancis akan meninggalkan Chantaburi tetapi tetap menguasai wilayah pesisir dari Trat hingga Provinsi Koh Kong. Pada tahun 1906, kesepakatan akhir dicapai. Trat dikembalikan ke Siam tetapi Prancis tetap memiliki Koh Kong dan menerima Kamboja Dalam.
Melihat seriusnya urusan luar negeri, Chulalongkorn mengunjungi Eropa pada tahun 1897. Ia adalah penguasa Siam pertama yang melakukannya, dan ia menginginkan pengakuan Eropa terhadap Siam sebagai kekuatan yang merdeka sepenuhnya. Ia menunjuk ratunya, Saovabha Phongsri, sebagai wali raja di Siam selama perjalanannya ke Eropa. Selama kunjungan ke Spanyol dan Portugal, pada 26 Oktober, ia mengutuk dan memerintahkan pelayannya untuk dieksekusi karena pelanggaran etiket yang dilakukan di Lisboa, menurut berita telegram dari Zaragoza.[12]
Siam sebelumnya terdiri dari jaringan kota-kota menurut sistem Mandala yang dikodifikasikan oleh Raja Trailokanat pada tahun 1454, dengan penguasa lokal berutang upeti kepada Bangkok. Setiap kota mempertahankan tingkat otonomi yang substansial, karena Siam bukanlah sebuah "negara" melainkan sebuah "jaringan" negara-kota. Dengan bangkitnya kolonialisme Eropa, konsep Barat tentang negara dan pembagian wilayah mulai diperkenalkan. Siam harus menetapkan secara eksplisit wilayah mana yang merupakan "Siam" dan wilayah mana yang "asing". Konflik dengan Prancis pada tahun 1893 adalah salah satu contohnya.
Sukhaphiban (สุขาภิบาลcode: th is deprecated ) atau distrik sanitasi adalah entitas sub-otonom pertama yang didirikan di Thailand. Distrik pertama dibuat di Bangkok melalui dekrit kerajaan Raja Chulalongkorn pada tahun 1897. Selama tur perjalanannya ke Eropa awal tahun itu, ia mempelajari tentang distrik sanitasi di Inggris dan ingin menguji coba unit administrasi lokal ini di ibu kotanya.

Berdasarkan pengalamannya selama perjalanan ke koloni-koloni Inggris dan saran dari Pangeran Damrong, Chulalongkorn mendirikan sistem hierarki monthon pada tahun 1897, yang terdiri dari provinsi, kota, amphoe (distrik), tambon (sub-distrik), dan muban (desa) dalam urutan menurun. (Meskipun seluruh monthon, yakni Provinsi Timur atau Kamboja Dalam, diserahkan kepada Prancis pada tahun 1906). Masing-masing monthon diawasi oleh seorang intendant (komisaris) dari Kementerian Dalam Negeri. Hal ini berdampak besar karena mengakhiri kekuasaan semua dinasti lokal. Otoritas pusat kini menyebar ke seluruh negeri melalui administrasi para intendant. Sebagai contoh, negara-negara bagian Lanna di utara (termasuk Kerajaan Chiangmai, Kepangeranan Lampang, Lamphun, Nan, dan Prae, yang merupakan bawahan Bangkok) dijadikan dua monthon, mengabaikan keberadaan para raja Lanna.
Para penguasa lokal tidak menyerahkan kekuasaan begitu saja secara sukarela. Tiga pemberontakan muncul pada tahun 1901: pemberontakan Ngiao di Phrae, Pemberontakan Orang Suci tahun 1901–1902[13] di Isan, dan Pemberontakan Tujuh Sultan di selatan. Semua pemberontakan ini berhasil ditumpas pada tahun 1902 dengan para penguasa kota dicopot kekuasaannya dan dipenjarakan.[13]

Raja Ayutthaya Ramathibodi II mendirikan sistem corvée (kerja paksa) pada tahun 1518, yang setelah itu kehidupan rakyat jelata dan budak Siam diatur secara ketat oleh pemerintah. Semua laki-laki rakyat jelata Siam (phraicode: th is deprecated ไพร่) tunduk pada sistem corvée Siam. Setiap pria pada saat mencapai usia dewasa harus mendaftar ke biro pemerintah, departemen, atau anggota terkemuka keluarga kerajaan yang disebut kromcode: th is deprecated (กรมcode: th is deprecated ) sebagai Phrai Luangcode: th is deprecated (ไพร่หลวงcode: th is deprecated ) atau di bawah kekuasaan bangsawan (Moon Naicode: th is deprecated atau Chao Khun Moon Naicode: th is deprecated มูลนาย หรือเจ้าขุนมูลนายcode: th is deprecated ) sebagai Phrai Somcode: th is deprecated (ไพร่สมcode: th is deprecated ). Phraicode: th is deprecated berhutang layanan kepada penguasa atau tuan selama tiga bulan dalam setahun. Phrai Suaycode: th is deprecated (ไพร่ส่วยcode: th is deprecated ) adalah mereka yang dapat melakukan pembayaran dalam bentuk barang (ternak) sebagai pengganti layanan. Mereka yang direkrut ke dalam dinas militer disebut Phrai Tahancode: th is deprecated (ไพร่ทหารcode: th is deprecated ).
Chulalongkorn paling dikenal karena penghapusan perbudakan Siam (ทาส.) Ia mengaitkan penghapusan perbudakan di Amerika Serikat dengan pertumpahan darah Perang Saudara Amerika. Chulalongkorn, untuk mencegah pertumpahan darah serupa di Siam, memberikan beberapa langkah menuju penghapusan perbudakan, bukan titik balik ekstrem dari pengabdian ke kebebasan total. Mereka yang mendapati diri mereka tidak mampu hidup sendiri menjual diri mereka menjadi budak oleh bangsawan kaya. Demikian pula, ketika hutang gagal bayar, peminjam akan menjadi budak dari pemberi pinjaman. Jika hutang dilunasi, budak tersebut memperoleh kembali kebebasannya.
Namun, mereka yang orang tuanya adalah budak rumah tangga (ทาสในเรือนเบี้ย) terikat untuk menjadi budak selamanya karena harga penebusan mereka sangat tinggi.
Karena kondisi ekonomi, orang-orang menjual diri mereka ke dalam perbudakan dalam jumlah besar dan pada gilirannya mereka menghasilkan sejumlah besar budak rumah tangga. Pada tahun 1867, mereka menyumbang sepertiga dari populasi Siam. Pada tahun 1874, Chulalongkorn memberlakukan undang-undang yang menurunkan harga penebusan budak rumah tangga yang lahir pada tahun 1867 (tahun kenaikan takhtanya) dan membebaskan mereka semua ketika mereka telah mencapai usia 21 tahun.
Budak yang baru dibebaskan akan memiliki waktu untuk memantapkan diri sebagai petani atau pedagang sehingga mereka tidak menjadi pengangguran. Pada tahun 1905, Undang-Undang Penghapusan Perbudakan mengakhiri perbudakan Siam dalam segala bentuknya. Sisi belakang uang kertas 100 baht yang beredar sejak peringatan seratus tahun tahun 2005 menggambarkan Chulalongkorn dalam seragam angkatan laut yang menghapuskan tradisi budak.
Sistem corvée tradisional menurun setelah Perjanjian Bowring, yang memunculkan kelas baru buruh sewaan yang tidak diatur oleh pemerintah, sementara banyak bangsawan terus memegang kendali atas sejumlah besar Phrai Somcode: th is deprecated . Chulalongkorn membutuhkan kontrol tenaga kerja yang lebih efektif untuk membatalkan kekuasaan bangsawan. Setelah pembentukan sistem monthon, Chulalongkorn melembagakan sensus untuk menghitung semua pria yang tersedia bagi pemerintah. Undang-Undang Pekerjaan tahun 1900 mensyaratkan bahwa semua pekerja harus dibayar, bukan dipaksa bekerja.

Chulalongkorn telah mendirikan kementerian pertahanan pada tahun 1887. Berakhirnya sistem corvée mengharuskan dimulainya wajib militer, maka lahirlah Undang-Undang Wajib Militer tahun 1905 di Siam. Hal ini diikuti pada tahun 1907 oleh undang-undang pertama yang mengatur tentang penerapan hukum darurat, yang tujuh tahun kemudian diubah ke bentuk modernnya oleh putra dan penerusnya, Raja Vajiravudh.[14]
Departemen Survei Kerajaan Thai, sebuah Kelompok Layanan Khusus dari Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand, terlibat dalam survei kadastral, yaitu survei bidang tanah tertentu untuk menentukan kepemilikan guna pendaftaran tanah, dan untuk perpajakan yang adil. Sertifikat hak milik tanah diterbitkan menggunakan sistem Gelar Torrens, meskipun baru pada tahun 1901 hasil pertama dari survei ini diperoleh.[15]
Pada tahun 1873, Berita Negara Kerajaan Siam menerbitkan pengumuman tentang penghapusan bersujud. Di dalamnya, Raja Chulalongkorn menyatakan, "Praktik bersujud di Siam sangat menindas. Para bawahan telah dipaksa untuk bersujud demi mengangkat martabat para phu yai (petinggi). Saya tidak melihat bagaimana praktik bersujud akan memberikan manfaat bagi Siam. Para bawahan merasa pelaksanaan bersujud sebagai praktik fisik yang kasar. Mereka harus berlutut untuk waktu yang lama sampai urusan mereka dengan phu yai berakhir. Mereka baru akan diizinkan berdiri dan mundur. Praktik semacam ini adalah sumber penindasan. Oleh karena itu, saya ingin menghapusnya." Berita Negara tersebut mengarahkan bahwa, "Mulai sekarang, orang Siam diizinkan berdiri di depan para pejabat tinggi. Untuk menunjukkan tindakan hormat, orang Siam dapat membungkuk sebagai gantinya. Membungkuk akan dianggap sebagai bentuk baru dalam memberikan penghormatan."[16]

Pembangunan jalan kereta api di Siam memiliki motivasi politik: untuk menghubungkan seluruh wilayah negara guna mempertahankan kendali yang lebih baik atas wilayah tersebut.
Pada tahun 1901, jalur kereta api pertama dibuka dari Bangkok ke Korat. Pada tahun yang sama, pembangkit listrik pertama di Siam mulai memproduksi listrik dan lampu listrik pertama kali menerangi jalan-jalan raya.
Pada tahun 1906, Raja Chulalongkorn mengadopsi seorang anak yatim piatu suku Semang yang diberi nama Khanung.[17]
Pada tahun 1907, ia mendirikan kompetisi varietas padi kerajaan, yang awalnya hanya untuk distrik Tung Luang dan Kanal Rangsit. Tahun berikutnya, kompetisi tersebut diadakan di Wat Suthat dan sejak saat itu diadakan di berbagai lokasi di seluruh kerajaan oleh Chulalongkorn dan keturunannya.[18][19]
Otoritas Siam telah menjalankan kendali substansial atas kesultanan-kesultanan Melayu sejak zaman Ayutthaya. Para sultan mencari dukungan Inggris sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Siam. Pada tahun 1909, Perjanjian Anglo-Siamese 1909 disepakati. Empat kesultanan (Kedah, Kelantan, Terengganu, dan Perlis) ditempatkan di bawah pengaruh Inggris sebagai imbalan atas hak hukum Siam dan pinjaman untuk membangun jalan kereta api di Siam selatan.


Chulalongkorn mengunjungi Eropa dua kali, pada tahun 1897 dan 1907. Pada tahun 1897, ia melakukan perjalanan luas ke seluruh Eropa, mempelajari segala hal yang ia bisa untuk kemajuan rakyat Siam. Ia mengunjungi banyak keluarga kerajaan Eropa. Ia menghabiskan banyak waktu di Inggris dan terinspirasi untuk meningkatkan kesehatan rakyatnya dengan menciptakan kesehatan masyarakat atau distrik sanitasi. Di Swedia, ia mempelajari sistem kehutanan. Pada tahun 1907, ia mengunjungi sekolah putranya di Inggris dan berkonsultasi dengan dokter-dokter Eropa untuk mencari obat bagi penyakit ginjalnya.
Raja Chulalongkorn mangkat pada 23 Oktober 1910 karena penyakit ginjal di Amphorn Sathan Residential Hall di Istana Dusit, dan digantikan oleh putranya Vajiravudh (Raja Rama VI).[20]
Patung patung berkuda kerajaan Raja Chulalongkorn selesai dibangun pada tahun 1908 untuk merayakan ulang tahun ke-40 masa pemerintahan sang raja. Patung tersebut dicor dari perunggu oleh seorang ahli logam asal Paris.
Universitas Chulalongkorn, yang didirikan pada tahun 1917 sebagai universitas pertama di Thailand, dinamai untuk menghormatinya. Di kampusnya berdiri patung Rama V dan putranya, Rama VI. Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn, yang dioperasikan oleh Palang Merah Thailand, juga dinamai menurut namanya dan merupakan salah satu rumah sakit terbesar di Thailand.
Pada tahun 1997, sebuah paviliun peringatan didirikan untuk menghormati Raja Chulalongkorn di Ragunda, Swedia. Ini dilakukan untuk memperingati kunjungan Raja Chulalongkorn ke Swedia pada tahun 1897 ketika ia juga mengunjungi Pameran Dunia di Brussels.[21] Selama kunjungan tersebut, Chulalongkorn pergi ke utara untuk mempelajari kehutanan. Perjalanannya melalui desa kecil Utanede meninggalkan jejak karena salah satu jalan di sana dinamai menurut nama sang raja.
Uang kertas 100 baht lama Seri 14 (1994–2004) menampilkan patung Rama V dan Rama VI. Pada tahun 2005, uang kertas 100 baht direvisi untuk menggambarkan Raja Chulalongkorn dalam seragam angkatan laut dengan latar belakang penghapusan perbudakan.[22] Uang kertas 1.000 baht Seri 16 (2015) juga menggambarkan monumen Raja Chulalongkorn dan penghapusan perbudakan.[23]
Chulalongkorn dinobatkan sebagai salah satu dari dua puluh "Tokoh Asia Paling Berpengaruh Abad Ini" oleh Majalah Time Asia pada tahun 1999.[24]
Gelar bangsawan untuk
| |
|---|---|
| Gaya referensi | Yang Mulia |
| Gaya penyebutan | Yang Mulia |

Raja Chulalongkorn memiliki banyak keturunan. Ia memiliki 9 permaisuri dan 143 selir selama hidupnya, yang melahirkan 32 putra dan 44 putri.[27]
The Prince...was about ten years old when I was appointed to teach him.
When Thailand was seriously threatened by Western colonialism, his diplomatic policies averted colonial domination and his domestic reforms brought about the modernization of his kingdom.
Latar belakang pemberontakan harus dicari dalam faktor-faktor yang menyebabkan situasi di Mekong Hilir pada pergantian abad. Sebelum reformasi akhir abad kesembilan belas oleh Raja Chulalongkorn, wilayah Kerajaan Siam dibagi menjadi tiga kategori administratif. Pertama adalah provinsi-provinsi dalam yang terbagi dalam empat kelas tergantung pada jaraknya dari Bangkok atau pentingnya rumah tangga penguasa lokal mereka. Kedua adalah provinsi luar, yang terletak di antara provinsi dalam dan negara bagian bawahan yang lebih jauh. Terakhir adalah negara bagian bawahan yang berada di pinggiran....
Referensi ke perundang-undangan Thailand dalam yurisdiksi mana pun hanya merujuk pada versi Thailand. Terjemahan ini dibuat untuk membangun pemahaman yang benar tentang Undang-Undang ini bagi orang asing.
Chulalongkorn (Rama V) Lahir: 20 September 1853 Meninggal: 23 Oktober 1910 | ||
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Mongkut |
Raja Siam 1 Oktober 1868 – 23 Oktober 1910 |
Diteruskan oleh: Vajiravudh |
Chulalongkorn (Rama V dari Siam) Lahir: 20 September 1853 Meninggal: 23 Oktober 1910 | ||
| Didahului oleh: Mongkut |
Raja Siam 1868–1910 |
Diteruskan oleh: Vajiravudh |