Bayinnaung Kyawhtin Nawrahta dengan nama pribadi Maung Yeh Htut (ရှင်ရဲထွတ်) adalah raja Dinasti Toungoo di Burma. Selama 31 tahun kekuasaannya, yang disebut sebagai "ledakan energi manusia terbesar di Burma", Bayinnaung telah membangun kerajaan terbesar dalam sejarah Asia Tenggara, meliputi wilayah yang sekarang ini adalah Burma, Negeri Shan Tiongkok, Lanna, Lan Xang, Manipur, dan Siam. [.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bayinnaung ဘုရင့်နောင် | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Raja Toungoo | |||||||||
Patung Raja Bayinnaung di depan Museum Nasional Myanmar | |||||||||
| |||||||||
| Berkuasa | 30 April 1550 – 10 Oktober 1581 | ||||||||
| Penobatan | 11 Januari 1551 di Toungoo 12 January 1554 di Pegu | ||||||||
| Pendahulu | Tabinshwehti | ||||||||
| Penerus | Nanda Bayin | ||||||||
| Kepala Menteri | Binnya Dala (1559–1573) | ||||||||
| Penguasa Lanna | |||||||||
| Berkuasa | 2 April 1558 – 10 Oktober 1581 | ||||||||
| Pendahulu | Jabatan baru | ||||||||
| Penerus | Nanda Bayin | ||||||||
| Raja | Mekuti (1558–1563) Visuddhadevi (1565–1579) Nawrahta Minsaw (1579–1581) | ||||||||
| Penguasa Siam | |||||||||
| Berkuasa | 18 Februari 1564 – 10 Oktober 1581 | ||||||||
| Pendahulu | Jabatan baru | ||||||||
| Penerus | Nanda Bayin | ||||||||
| Raja | Mahinthrathirat (1564–1568) Maha Thammarachathirat (1569–1581) | ||||||||
| Penguasa Lan Xang | |||||||||
| Berkuasa | 2 Januari 1565 – c. Januari 1568 Februari 1570 – awal 1572 6 Desember 1574 – 10 Oktober 1581 | ||||||||
| Pendahulu | Jabatan baru | ||||||||
| Penerus | Nanda Bayin | ||||||||
| Raja | Maing Pat Sawbwa (1565–1568, 1570–1572) Maha Ouparat (1574–1581) | ||||||||
| Kelahiran | Ye Htut (1516-01-16)16 Januari 1516 Toungoo | ||||||||
| Kematian | 10 Oktober 1581(1581-10-10) (umur 65) Pegu | ||||||||
| Pemakaman | 15 Oktober 1581 | ||||||||
| Permaisuri | Atula Thiri Sanda Dewi Yaza Dewi Suphankanlaya | ||||||||
| Keturunan di antaranya... | Inwa Mibaya Nanda Bayin Nawrahta Minsaw Nyaungyan Min Min Khin Saw Yaza Datu Kalaya Thiri Thudhamma Yaza | ||||||||
| |||||||||
| Wangsa | Toungoo | ||||||||
| Ayah | Mingyi Swe | ||||||||
| Ibu | Shin Myo Myat | ||||||||
| Agama | Buddha Theravāda | ||||||||
Bayinnaung Kyawhtin Nawrahta (bahasa Burma: ဘုရင်နောင်code: my is deprecated ; IPA: [bayìnnaʊ̀n]; bahasa Thai: บุเรงนองกะยอดินนรธาcode: th is deprecated , RTGS: Burengnong Kayodin Noratha; bahasa Portugis: [Braginoco] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan); 16 Januari 1516 – 10 Oktober 1581) dengan nama pribadi Maung Yeh Htut (ရှင်ရဲထွတ်) adalah raja Dinasti Toungoo di Burma. Selama 31 tahun kekuasaannya, yang disebut sebagai "ledakan energi manusia terbesar di Burma", Bayinnaung telah membangun kerajaan terbesar dalam sejarah Asia Tenggara, meliputi wilayah yang sekarang ini adalah Burma, Negeri Shan Tiongkok, Lanna, Lan Xang, Manipur, dan Siam. [.[1]
Melalui pembangunan-kekaisaran yang sangat bagus dan selalu diingat, warisan abadi Raja Bayinnaung adalah penyatuan Negara-negara Shan ke dalam sistem kepengurusan lembah Irrawaddy. Setelah menaklukkan Negara-negara Shan selama periode 1557 hingga 1563, Sang Raja mengadakan pembenahan kepengurusan yang bertujuan mengurangi kekuasaan penguasa secara turun-temurun, yang dikenal sebagai Saopha. Selain itu, misi Sang Raja juga melakukan penyelarasan antara pemerintahan dan adat istiadat Shan dengan norma-norma Burma dataran rendah. Pembenahan ini secara efektif berhasil menghilangkan ancaman serangan Shan yang terus-menerus ke wilayah Burma Hulu, sumber ketidakstabilan sejak abad ke-13. Kebijakan penyatuan Raja Bayinnaung menjadi model bagi kekuasaan para raja Burma setelahnya, yang melanjutkan pendekatannya hingga tahun 1885.
Namun, Raja Bayinnaung sebagian besar mengikuti model pemerintahan Mandala yang berlaku di seluruh kerajaannya yang luas dan memiliki keragaman budaya. Pemerintahannya atas Kekaisaran Toungoo Pertama digambarkan sebagai "seorang raja (kaisar) tanpa negara (kekaisaran)" yang memegang kendali melalui kesetiaan pribadi kepada raja sebagai Cakrawartin (Raja Alam) dari negara-negara bawahannya, bukan kepada lembaga yang lain. Meskipun kesetiaan ini terus bertahan semasa hidupnya, kesetiaan ini runtuh dengan cepat pasca Sang Raja mangkat pada tahun 1581. Kedua kerajaan, Ava dan Ayutthaya memberontak selama kurang-lebih dua tahun, dan pada tahun 1599, semua negara bawahan telah melepaskan diri, yang mengakibatkan runtuhnya Kekaisaran Toungoo Pertama sepenuhnya.
Ia dianggap sebagai salah satu dari tiga Raja Burma terbesar, bersama dengan Anawrahta dan Alaungpaya. Beberapa tempat terkenal di Myanmar sekarang ini diberi nama sesuai dengan namanya. Ia juga terkenal di Thailand sebagai Phra Chao Chana Sip Thit (พระเจ้าชนะสิบทิศ, "Raja Sepuluh Arah").
Sang raja memiliki tiga permaisuri ratu utama dan lebih dari 50 ratu junior lain. Secara keseluruhan, ia memiliki 97 anak.[note 1] Berikut adalah daftar ratu-ratu terkenal dan keturunannya.
| Ratu | Peringkat | Keturunannya |
|---|---|---|
| Atula Thiri | Ratu utama | Inwa Mibaya, Permaisuri ratu Ava (berkuasa 1555–1584) Nanda, Raja Burma (berkuasa 1581–1599) |
| Sanda Dewi | Ratu senior (berkuasa 1553–1568) Ratu utama (berkuasa 1568–1581) |
Min Khin Saw, Permaisuri ratu Toungoo (berkuasa 1584–1609) |
| Yaza Dewi | Ratu senior | Nawrahta Minsaw, Raja Lanna (berkuasa 1579–1607/1608) Yaza Datu Kalaya, Putri Mahkota Burma (1586–1593) Thiri Thudhamma Yaza, Viceroy Martaban (berkuasa 1581–1584) |
| Khin Pyezon | Ratu junior | Shin Ubote, Gubernur Nyaungyan (berkuasa 1573–81) Nyaungyan, Raja Burma (berkuasa 1599–1605) |
Ratu Bayinnaung yang terkenal dalam sejarah Thailand adalah Suphankanlaya, putri Raja Maha Thammarachathirat dari Siam.
| Didahului oleh: Tabinshwehti |
Penguasa Dinasti Toungoo 1551-1581 |
Diteruskan oleh: Nanda Bayin |