Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dinasti Toungoo

Dinasti Toungoo (1486-1752) juga dieja Dinasti Taungoo, juga terkenal dengan sebutan Dinasti Nyaungyan adalah salah satu kerajaan paling kuat di Burma, dengan tujuh raja berkuasa selama 155 tahun. Masa berkuasanya dinasti ini disebut sebagai Kekaisaran Burma Kedua dalam penulisan sejarah Burma. Di puncak kekuasaannya, Toungoo "terbentang wilayahnya dari daerah yang sekarang menjadi Manipur, Assam, hingga perbatasan Kamboja, dan dari daerah Arakan sampai Yunnan" juga dimungkinkan menjadi "kekaisaran terluas dalam sejarah Asia Tenggara." Pemerintahan dinasti ini terbagi menjadi dua periode: Kekaisaran Toungoo Pertama (1510—1599) dan Restorasi Nyaungyan (1599—1752). Adapun yang dibahas di laman ini adalah periode kedua.

Wikipedia article
Diperbarui 1 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dinasti Toungoo (1486-1752) juga dieja Dinasti Taungoo, juga terkenal dengan sebutan Dinasti Nyaungyan adalah salah satu kerajaan paling kuat di Burma, dengan tujuh raja berkuasa selama 155 tahun. Masa berkuasanya dinasti ini disebut sebagai Kekaisaran Burma Kedua dalam penulisan sejarah Burma. Di puncak kekuasaannya, Toungoo "terbentang wilayahnya dari daerah yang sekarang menjadi Manipur, Assam, hingga perbatasan Kamboja, dan dari daerah Arakan sampai Yunnan" juga dimungkinkan menjadi "kekaisaran terluas dalam sejarah Asia Tenggara." Pemerintahan dinasti ini terbagi menjadi dua periode: Kekaisaran Toungoo Pertama (1510—1599) dan Restorasi Nyaungyan (1599—1752). Adapun yang dibahas di laman ini adalah periode kedua (Restorasi Nyaungyan).

Sejarah dan Perkembangan

Kekosongan kekuasaan terjadi saat ambruknya Kerajaan Pagan yang telah berdiri selama lebih dari 250 tahun (1287—1555), juga pada saat runtuhnya Kekaisaran Toungoo Pertama yang berusia cukup singkat. Salah satu putra mendiang Raja Bayinnaung, Pangeran Nyaungyan Min (akhirnya menjadi raja), segera memulai usaha penggabungan kembali (reunifikasi) wilayah, berhasil membangkitkan kembali kekuasaan terpusat di seluruh wilayah Burma Atas dan negara-negara Shan pada tahun 1606.

Pewarisnya, Raja Anaukpetlun, berhasil mengalahkan bangsa Portugis di Thanlyn pada tahun 1613. Dia memulihkan kekuasaan atas pesisir Tanintharyi sampai Dawei dan Lanna dari bangsa Siam pada tahun 1614. Sang raja juga berhasil menaklukkan negara-negara Shan trans-Salween (Kengtung dan Sipsongpanna) pada tahun 1622—26.

Pada saat Raja Thalun (saudara Raja Anaukpetlun) berkuasa, dia membangun kembali negara setelah porak poranda akibat perang. Selain itu, Sang Raja juga memerintahkan pendataan penduduk (sensus penduduk) yang menjadi sensus pertama dalam sejarah Burma pada tahun 1635, yang menghasilkan pendataan bahwa kerajaan dihuni oleh sekitar dua juta orang. Meskipun secara wilayah tidak terlalu luas, tetapi pada tahun 1650, di bawah kepemimpinan tiga raja yang cakap—Nyaungyan, Anaukpetlun, dan Thalun—, pemerintahan Burma sukses terkelola.

Yang lebih penting lagi, dinasti baru ini menciptakan sistem politik yang absah di mana ciri-ciri dasar politiknya diteruskan pada masa pemerintahan Dinasti Konbaung terus sampai abad ke-19. Para raja Toungoo seluruhnya menggantikan jabatan kepala suku lokal yang sudah turun-temurun dengan jabatan pemimpin seluruh lembah Irrawaddy, yang karenanya sangat mengurangi jabatan para kepala negara Shan. Kekuasaan ini termasuk pengekangan pertumbuhan kekayaan dan kewenangan lembaga rohaniawan yang memberikan basis pajak besar secara terus-menerus. Perombakan sistem perdagangan dan pengelolaan sekuler juga telah membangun perekonomian yang makmur selama lebih dari 80 tahun. Namun demikian, terdapat beberapa pengecualian yaitu sesekali terjadi pemberontakan dan perang luar negeri — Burma mengalahkan upaya bangsa Siam merebut Lanna dan Mottama pada tahun 1662—1664—, tetapi di akhir abad ke-17, kondisi negara dalam keadaan cukup damai.

Dinasti Toungoo mengalami kemunduran perlahan pada tahun 1720-an, saat kekuasaan "raja-raja istana" memburuk dengan cepat. Mulai tahun 1724 dan setelahnya, bangsa Meitei mulai menyerang wilayah hulu Sungai Chindwin. Pada tahun 1727, Lanna selatan (Chiang Mai) berhasil memberontak, sehingga hanya Lanna utara (Chiang Saen) yang masih dikuasai meskipun perlahan mulai berkurang. Serangan Meitei semakin meningkat pada tahun 1730-an dan mulai menjangkau Burma bagian dalam.

Pada tahun 1740, bangsa Mon di Burma bawah memulai pemberontakan, dan membangun kembali Kerajaan Hanthawaddy, dan pada tahun 1745 mengendalikan banyak wilayah di Burma bawah. Bangsa Siam juga berhasil meraih kedaulatannya atas pesisir Tanintharyi pada tahun 1752. Kerajaan Hanthawaddy yang sudah dibangun kembali tadi kemudian menduduki wilayah Burma Atas di bulan November 1751, dan merebut wilayah Ava pada tanggal 23 Maret 1752, mengakhiri pemerintahan Dinasti Toungoo selama 266 tahun.



Referensi

  • Victor B. Lieberman, "Burmese Administrative Cycles: Anarchy and Conquest, c. 1580-1760", Princeton University Press, 1984.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah dan Perkembangan
  2. Referensi

Artikel Terkait

Nyaungyan Min

adalah Raja Dinasti Toungoo di Burma (Myanmar) dari tahun 1599 hingga 1605. Ia juga dianggap sebagai pendiri Dinasti Toungoo Baru atau Dinasti Nyaungyan

Naresuan

membebaskan Kerajaan Ayutthaya dari Dinasti Toungoo. Selama masa pemerintahannya, terjadi banyak peperangan melawan Dinasti Toungoo dari Burma. Raja Naresuan juga

Kekaisaran Toungoo Pertama

Kekaisaran Toungoo Pertama (bahasa Burma: တောင်ငူ ခေတ်code: my is deprecated , [tàʊɴŋù kʰɪʔ]; juga dikenal sebagai Dinasti Toungoo Pertama, Kekaisaran

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026