Somdet Phra Nong Nang Thoe Chao Fa Chulabhorn Walailak Agrarajakumari, Krom Phra Srisavangavadhana Worakhatiya Rajanari atau Chulabhorn, Sang Putri Srisavangavadhana (bahasa Thai: จุฬาภรณcode: th is deprecated ; Pengucapan Thai: [tɕù.lāː.pʰɔ̄ːn]; RTGS: Chulaphon; adalah seorang putri kerajaan Thailand. Ia adalah anak bungsu dari Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Chulabhorn จุฬาภรณ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Yang Teramat Mulia Putri Chulabhorn Walailak Agrarajakumari, Sang Putri Srisavangavadhana | |||||
Putri Chulabhorn, Sang Putri Srisavangavadhana, pada tahun 2020 | |||||
| Kelahiran | Somdet Phra Chao Luk Thoe Chao Fa Chulabhorn Walailak Agrarajakumari 04 Juli 1957 Bangkok, Thailand | ||||
| Pasangan | Virayudh Tishyasarin (menikah pada 1982, bercerai pada 1984) | ||||
| Keturunan | |||||
| |||||
| Wangsa | Mahidol | ||||
| Dinasti | Chakri | ||||
| Ayah | Raja Rama IX | ||||
| Ibu | Ratu Sirikit | ||||
| Agama | Buddha | ||||
| Tanda tangan | |||||
| Gelar bangsawan untuk Putri Chulabhorn dari Thailand | |
|---|---|
| Gaya referensi | Yang Teramat Mulia |
| Gaya penyebutan | Kebawah Paduka Baginda |
| Gaya alternatif | Chao Fa |
Somdet Phra Nong Nang Thoe Chao Fa Chulabhorn Walailak Agrarajakumari, Krom Phra Srisavangavadhana Worakhatiya Rajanari atau Chulabhorn, Sang Putri Srisavangavadhana (bahasa Thai: จุฬาภรณcode: th is deprecated ; Pengucapan Thai: [tɕù.lāː.pʰɔ̄ːn]; RTGS: Chulaphon; (lahir 4 Juli 1957) adalah seorang putri kerajaan Thailand. Ia adalah anak bungsu dari Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit.
Putri Chulabhorn mempelajari kimia di Fakultas sains Universitas Kasetsart dan lulus pada tahun 1979. Ia melanjutkan studinya di Universitas Mahidol, di mana ia menerima gelar doktoralnya pada tahun 1985. Ia sangat terlibat dalam pelaksanaan pendidikan dan penelitian ilmiah di Thailand. Ia beraktivitas sebagai dosen tamu kimia di Universitas Mahidol. Ia juga menjabat sebagai presiden Institut Riset Chulabhorn. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan Medali Einstein dari UNESCO.[1] untuk usahanya dalam mempromosikan kerja sama ilmiah pada tahun 1986 dan merupakan orang Asia pertama yang diundang untuk bergabung dengan Royal Society bidang kimia di Inggris sebagai anggota kehormatan.[2]
Putri Chulabhorn adalah seorang "Putri Ilmuwan" yang memiliki kontribusi menonjol di tingkat internasional dalam bidang karsinogen kimia dan toksikologi lingkungan. Beliau mendirikan Institut Riset Chulabhorn pada tahun 1987 dan saat ini menjabat sebagai Ketua Akademi Kerajaan Chulabhorn sejak tahun 2018[3] serta Ketua Dewan Institut Pascasarjana Chulabhorn.[4] Beliau juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Kimia Produk Bahan Alam dan Laboratorium Karsinogen Kimia, serta menjabat sebagai Profesor di Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Siriraj, Universitas Mahidol.
Putri Chulabhorn juga dikenal sebagai musisi berbakat yang mewarisi bakat musik dari ayahandanya dan mendapat dukungan dari ibundanya sejak kecil. Beliau mahir memainkan berbagai alat musik seperti piano, gitar, dan instrumen tradisional Tiongkok guzheng, yang mampu beliau mainkan pada tingkat profesional dalam waktu singkat. Pada tahun 2001, beliau menyelenggarakan pertunjukan musik dan budaya "Hubungan Dua Negeri" untuk pertama kalinya di Thailand untuk mempererat persahabatan antara Thailand dan Tiongkok serta menggalang dana untuk bantuan sosial. Beliau dianugerahi gelar Duta Budaya dan terus mendukung pertukaran seni dan budaya.
Pada tahun 2025, Kementerian Kebudayaan (Thailand) menganugerahkan gelar kehormatan "Sirisilpin Seniman Nasional" kepada beliau atas kontribusinya dalam menciptakan karya seni rupa dan lukisan yang berharga bagi masyarakat dan negara, yang diakui secara luas di dunia akademik seni, serta peran penting beliau dalam menjaga identitas bangsa.[5]
Putri Chulabhorn, saat masih bergelar Putri Chulabhorn Walailak Akkra Ratchakumari, menikah dengan Marsekal Pertama Virayudh Tishyasarin pada 7 Januari 1982 di Balairung Chakri Maha Prasat, Istana Besar[6] dan memiliki dua orang putri, yaitu:
Saat lahir, kedua putri tersebut menyandang gelar Phra Chao Lan Thoe Phra Ong Chao atas perintah Raja Bhumibol Adulyadej yang menetapkan gelar bangsawan bagi putra-putri Putri Chulabhorn sebagai Phra Chao Lan Thoe Phra Ong Chao untuk semua keturunannya,[7] yang mana gelar tersebut setara dengan posisi "Phra Chao Worawong Thoe Phra Ong Chao".[8]
Beliau juga menempuh pendidikan tingkat Doktoral dalam program Doktor Filsafat bidang Seni Rupa di Fakultas Seni Lukis, Patung, dan Grafis, Universitas Silpakorn pada tahun akademik 2017.[9]
Karena menyadari masalah kekurangan tenaga medis dan kesehatan serta kesulitan rakyat, beliau mendirikan Dana Chulabhorn yang kemudian terdaftar sebagai Yayasan Chulabhorn dengan tujuan menggunakan sains dan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat Thailand.[10]
Selanjutnya, beliau mendirikan Institut Riset Chulabhorn pada 1 Desember 1987. Beliau menjabat sebagai Ketua Institut yang memiliki tujuan utama mempromosikan pengetahuan dari riset sains, teknologi, teknik, dan ilmu sosial untuk pembangunan negara, serta menjadi pusat pengembangan personel sains dan pertukaran pengetahuan melalui kerjasama internasional.
Untuk menciptakan pengetahuan sains yang berkelanjutan, Putri Chulabhorn memperluas misi ke pendidikan pascasarjana dengan mengusulkan pendirian Institut Pascasarjana Chulabhorn pada tahun 2005.
Selain menjabat sebagai kepala laboratorium kimia sendiri, beliau menemukan bahwa angka penderita kanker di Thailand meningkat pesat. Oleh karena itu, beliau mendirikan Pusat Riset, Studi, dan Terapi Kanker untuk membantu pasien kanker agar memiliki umur panjang dan kualitas hidup yang baik, serta menjadi pusat diagnosis kanker yang paling maju di kawasan ini.
Beliau juga mendirikan Pusat Siklotron dan PET Scan Nasional (Cyclotron and PET Scan),[11] unit layanan pemeriksaan dengan teknologi tinggi yang dapat memantau dan menganalisis fungsi organ pada tingkat sel metabolisme, yang sangat berguna dalam pengobatan kanker, penyakit otak, dan jantung.
Putri Chulabhorn juga sangat mementingkan lingkungan. Beliau adalah pemimpin yang kuat dalam membangun pengetahuan sains lingkungan bagi sumber daya manusia Thailand dan memberikan pelatihan bagi negara-negara tetangga yang sedang berkembang dengan kerjasama dari organisasi lingkungan internasional.
Selain diakui secara internasional di bidang sains, beliau juga menerapkan sains dan teknologi untuk pembangunan negara di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, teknologi pertanian, pengelolaan hutan, manajemen lingkungan, akuakultur, pelestarian sumber daya laut, hingga peningkatan status sosial perempuan Thailand.
Pramong Nom Klao (Pameran Perikanan) adalah kegiatan pameran perikanan di Thailand yang berfokus pada ikan hias.
Acara ini diadakan atas inisiatif Putri Chulabhorn yang meminta Departemen Perikanan bersama Fakultas Kedokteran Siriraj untuk menyelenggarakan acara tersebut pertama kali pada 2 Juli 1986 di area Suan Amporn. Tujuannya adalah untuk memperingati jasa Pangeran Mahidol Adulyadej dalam bidang medis dan perikanan, serta menggalang dana untuk pembangunan Gedung Syamindra dalam rangka HUT ke-100 Rumah Sakit Siriraj.
Setelah itu, beliau memerintahkan agar acara ini diadakan setiap tahun dan pendapatan dari acara tersebut disumbangkan ke Yayasan Chulabhorn. Beliau secara pribadi hadir untuk membuka acara dan menyiapkan akuarium ikan hias untuk diberikan kepada para donatur yang beramal, serta memberikan piala penghargaan bagi pemenang berbagai kompetisi dalam acara tersebut.[12]
Pada 6 September 2014, Putri Chulabhorn dirawat di Rumah Sakit Vichaiyut karena peradangan lambung. Beliau kemudian didiagnosis menderita gastritis dan disarankan untuk menghentikan sementara tugas-tugas kerajaannya.[13]
Pada 9 Oktober 2014, Putri Chulabhorn didiagnosis menderita infeksi parah pada pankreas dan pembengkakan kelenjar getah bening. Dokter menyimpulkan bahwa beliau menderita penyakit autoimun yang disebut lupus eritematosus sistemik, yang sejak saat itu mulai diobati. Dokter menyarankannya untuk menghentikan aktivitas selama tiga bulan. Beliau telah berada di rumah sakit sejak September sebelumnya.[14]
Pada 5 November 2015, Putri Chulabhorn menjalani operasi di rumah sakit Vichaiyut untuk mengangkat tujuh polip dari usus besarnya. Tes darah sebelumnya menunjukkan bahwa sang putri memiliki tingkat antigen karsinoembrionik yang lebih tinggi dari normal, yang mengindikasikan bahwa beliau kemungkinan besar akan terkena kanker.[15]
Pada Mei 2016, sang Putri ditemukan memiliki tumor jinak di lehernya, yang kemudian diangkat di Rumah Sakit Vichaiyut. Beliau harus menangguhkan tugas resminya untuk pulih setelah operasi dan untuk mengobati pankreatitis yang telah dideritanya selama beberapa waktu, yang menyebabkan beberapa masalah kesehatan baginya.[16] Hingga Juli 2016, pankreatitis yang dideritanya menjadi intermiten dan akut, tanda bahwa kondisinya memburuk seiring berjalannya waktu. Untuk menjalani perawatan, sang Putri harus menangguhkan komitmen resminya hingga pulih.[17]
Pada Juni 2017, Putri Chulabhorn didiagnosis menderita peradangan paru-paru, hati, dan otot, serta kadar oksigen darah yang rendah. Beliau pergi ke Rumah Sakit Vichaiyuth karena kelelahan, sesak napas, dan gejala lainnya. Dokter memberikan diagnosis tersebut dan selanjutnya memberikan perawatan medis kepadanya.[18]
Pada Februari 2019, Putri Chulabhorn dirawat di Rumah Sakit Ramathibodi di Bangkok setelah mengalami nyeri punggung dan penglihatan kabur pada kedua matanya. Dokter menyimpulkan bahwa tes lebih lanjut diperlukan dan sang Putri memperpanjang masa tinggalnya di rumah sakit.[19]
Pada April 2019, Putri Chulabhorn menjalani operasi untuk mengangkat katarak (yang menyebabkan penglihatan kabur) dan menjalani perawatan untuk infeksi punggung yang baru didiagnosis (yang menyebabkan nyeri punggung). Kesembuhannya dikonfirmasi beberapa hari kemudian.[20]
Pada 30 September 2019, Putri Chulabhorn pergi ke Rumah Sakit Chulabhorn setelah mengalami mati rasa di tangan kirinya. Hasil MRI menunjukkan bahwa saraf di bawah siku kirinya tertekan, dan akibatnya sang Putri harus tetap berada di rumah sakit untuk perawatan dan menangguhkan tugas-tugas kerajaannya.[21] Akibat mati rasa di tangan kirinya, Putri Chulabhorn harus menjalani mikrobedah untuk mengangkat jaringan yang menyebabkan ketidaknyamanan tersebut dan tetap berada di rumah sakit hingga beliau pulih sepenuhnya.[22]
Pada 16 Juni 2020, Putri Chulabhorn menjalani operasi di Rumah Sakit Chulalongkorn karena mati rasa di ujung jari tangan kanannya, yang disebabkan oleh selaput yang menekan saraf di bawah sikunya. Beliau diperbolehkan pulang sekitar lima belas hari kemudian setelah dinilai telah pulih.[23]
Pada awal Oktober 2024, beliau harus menangguhkan agenda dan aktivitasnya untuk sementara waktu guna menjalani rehabilitasi, setelah operasi yang dijalani dua bulan sebelumnya karena nyeri pada kaki dan pergelangan kaki kiri di Rumah Sakit Chulabhorn di Distrik Lak Si.[24]